Telko.id – Seri Xiaomi YU7 resmi menjadi jajaran kendaraan listrik (EV) paling populer perusahaan, mengungguli model lainnya di tengah tekanan finansial yang signifikan.
Meskipun meraih sukses di segmen EV, Xiaomi justru melaporkan penurunan laba yang tajam pada kuartal pertama tahun fiskal 2026.
Secara keseluruhan, Xiaomi membukukan laba sebesar CNY 6,1 miliar pada Q1 2026 dengan pendapatan mencapai CNY 99,1 miliar.
Angka ini menunjukkan penurunan drastis sebesar 43,1% dibandingkan laba CNY 10,7 miliar yang diraih pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan pun turun dari posisi CNY 111,3 miliar pada Q1 2025.
Penurunan ini terjadi di tengah menurunnya pengiriman ponsel pintar Xiaomi secara volume. Namun, kabar baiknya adalah harga jual rata-rata (average selling price/ASP) perangkat justru meningkat. Strategi premiumisasi yang diusung Xiaomi mulai membuahkan hasil, meskipun belum mampu menopang laba secara keseluruhan.
Baca Juga:

Keberhasilan seri YU7 menjadi titik terang di tengah laporan keuangan yang lesu. Model EV andalan Xiaomi ini berhasil menarik minat konsumen di pasar domestik, China, yang merupakan medan pertempuran paling sengit bagi industri mobil listrik dunia. Popularitas YU7 disebut-sebut melampaui ekspektasi awal analis.
Meski demikian, peningkatan biaya riset dan pengembangan, serta investasi besar-besaran di sektor manufaktur EV, diperkirakan menjadi faktor utama yang menggerus margin keuntungan Xiaomi secara keseluruhan.
Perusahaan harus menyeimbangkan antara pertumbuhan agresif di segmen baru dengan profitabilitas bisnis inti.

Dari sisi ponsel, Xiaomi melaporkan volume pengiriman yang lebih rendah pada Q1 2026. Namun, tren premiumisasi terlihat jelas. Konsumen mulai beralih ke model-model flagship yang lebih mahal, seperti seri Xiaomi 17.
Hal ini membantu meningkatkan pendapatan per unit yang terjual.
Lonjakan penjualan seri Xiaomi 17 sebelumnya telah tercatat pada kuartal sebelumnya. Bahkan, Xiaomi 17 Pro Max mencetak rekor pre-order berkat fitur Magic Back Screen yang inovatif. Momentum ini diharapkan dapat berlanjut untuk menopang pendapatan perusahaan ke depannya.
Secara historis, Xiaomi telah menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang impresif. Pada Q2 2025, perusahaan mencatatkan pendapatan Rp261 triliun dengan lonjakan laba bersih hingga 75,4%.

Namun, fluktuasi ini menunjukkan betapa dinamisnya industri teknologi, terutama ketika perusahaan melakukan diversifikasi besar-besaran ke sektor otomotif.
Komitmen Xiaomi terhadap keberlanjutan juga terus berjalan. Laporan ESG 2025 yang baru dirilis menekankan integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam seluruh lini produk dan proses produksi. Langkah ini sejalan dengan strategi jangka panjang Xiaomi untuk menjadi pemain global yang bertanggung jawab.

Kendati laba menurun, Xiaomi masih memiliki kas yang cukup besar untuk mendanai ekspansi. Investor akan mencermati apakah perusahaan dapat mengubah popularitas YU7 menjadi profitabilitas yang berkelanjutan dalam waktu dekat.

Persaingan di pasar EV China yang dipimpin oleh BYD dan Tesla membuat margin keuntungan semakin tipis.
Analis memperkirakan bahwa kuartal-kuartal mendatang akan menjadi ujian bagi Xiaomi. Jika perusahaan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan menekan biaya rantai pasok, bukan tidak mungkin laba akan kembali pulih. Kunci utamanya ada pada keberhasilan monetisasi basis pengguna setia Xiaomi di segmen ponsel dan ekosistem.

Sementara itu, pasar global ponsel pintar masih menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lambat. Tekanan inflasi di berbagai negara membuat daya beli konsumen menurun. Xiaomi harus pintar-pintar menyusun strategi harga dan distribusi untuk mempertahankan pangsa pasarnya.
Kesuksesan Xiaomi YU7 menjadi bukti bahwa merek asal Beijing ini mampu bersaing di industri yang sama sekali baru. Dengan rekam jejak inovasi yang kuat, Xiaomi berpotensi mengulangi kesuksesan yang pernah diraihnya di pasar ponsel. Namun, jalan menuju profitabilitas di sektor EV masih panjang dan penuh tantangan. (Icha)


