Telko.id – Samsung semakin memperluas akses terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan menghadirkan berbagai fitur yang sebelumnya hanya tersedia di smartphone flagship ke lini ponsel kelas menengah.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi ‘demokratisasi AI’, yaitu membuat teknologi AI premium dapat dinikmati oleh lebih banyak pengguna tanpa harus membeli perangkat dengan harga tinggi.
Dilansir dari laman resmi Counterpoint, Selasa (5/5/2026), average selling price ponsel pintar global melonjak 12 persen secara tahunan pada kuartal I 2026.
Smartphone kelas entry-level merasakan dampak yang cukup signifikan. Biaya bill of materials (BoM) untuk kelas ini naik 20-30 persen, sebagaimana dikutip dari laman Counterpoint, Selasa (16/12/2025). Sementara, segmen mid-end dan flagship naik lebih rendah, yakni di rentang 10-15 persen.
Di tengah kenaikan harga komponen seperti chipset dan memori yang mendorong harga smartphone terus meningkat, Samsung justru mempertahankan nilai tambah pada perangkat kelas menengah melalui kehadiran fitur-fitur seperti Voice Transcription, on-device AI, serta jaminan pembaruan sistem operasi hingga enam generasi dan pembaruan keamanan selama enam tahun.
Head of MX Business Samsung Electronics Indonesia (SEIN) Yadi Prayitno mengatakan, perubahan AI yang terjadi saat ini bahkan melampaui gelombang transformasi digital yang pernah dialami industri sebelumnya.
“Kata inovasi saja tidak lagi cukup untuk menggambarkan apa yang terjadi saat ini. Perkembangannya bahkan melampaui apa yang pernah kita bayangkan,” tutur Yadi.
Dilansir dari hasil riset Counterpoint, Rabu (19/11/2025), siklus pergantian smartphone mencapai 43 bulan atau 3,6 tahun pada 2023 dan 2024. Artinya, upgrade smartphone tidak lagi dilakukan dalam jangka waktu 1,5-2 tahun seperti periode sebelumnya. Keputusan membeli smartphone pun kini semakin mirip keputusan investasi.
Konsumen tidak lagi hanya membandingkan spesifikasi kamera atau kecepatan prosesor, tetapi juga mempertimbangkan empat hal berikut.
- Usia pakai perangkat
- Keamanan data
- Dukungan perangkat lunak
- Biaya kepemilikan dalam jangka panjang (total cost of ownership)
Yadi mengatakan, smartphone saat ini harus mampu memberikan nilai lebih dalam jangka panjang, tidak sekadar menawarkan teknologi terbaru saat pertama kali dibeli.
“(Oleh karena itu) kami ingin smartphone Samsung dipandang (konsumen) sebagai investasi jangka panjang,” kata Yadi.
Samsung turut memperluas dukungan Bahasa Indonesia pada berbagai fitur Galaxy AI. Menurut perusahaan, lokalisasi menjadi faktor penting agar teknologi AI benar-benar relevan dan mudah dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, bukan sekedar menjadi fitur tambahan.
Baca Juga:
- Samsung Solve for Tomorrow 2026 Latih 2.600 Peserta dengan Design Thinking
- Anthropic Gandeng Samsung untuk Kembangkan Chip AI Sendiri
Kehadiran on-device AI di smartphone Samsung kelas menengah menjadi jawaban atas kebutuhan kalangan profesional yang ingin meningkatkan produktivitas kerja, tanpa khawatir soal koneksi internet dan privasi.
Yadi menjelaskan, on-device AI merupakan masa depan AI untuk smartphone yang tidak bergantung sepenuhnya dengan cloud.
“Kami ingin pemrosesan dilakukan di sini, di perangkat pengguna. Kami tidak ingin semuanya bergantung pada cloud,” ujar Yadi.
Karena data tidak perlu dikirim ke cloud, pengguna juga memperoleh lapisan keamanan tambahan untuk dokumen ataupun percakapan yang bersifat sensitif.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap internet, pendekatan ini juga memberikan keamanan yang lebih baik karena data pengguna tetap berada di perangkat.
“On-device AI merupakan arah pengembangan Samsung. Kami ingin menghadirkan perangkat yang siap untuk era agentic AI,” kata Yadi.
Yadi menyatakan, demokratisasi AI yang dilakukan Samsung bukan hanya soal menghadirkan fitur premium pada smartphone yang lebih terjangkau.
Lebih dari itu, upaya itu juga dilakukan dengan memastikan manfaat teknologi dapat diakses lebih banyak orang secara aman, relevan, dan berkelanjutan.
Dengan dukungan pembaruan software jangka panjang serta jaringan 165 service center yang tersebar di 133 kota di Indonesia, Samsung ingin memastikan bahwa investasi pengguna terhadap smartphone kelas menengah tetap terjaga hingga bertahun-tahun ke depan.
Terlebih, Samsung juga punya keunggulan karena menguasai rantai pasok perangkat keras secara besar. Hal ini memungkinkan perusahaan mengamankan pasokan komponen atau hardware untuk kebutuhan produksi smartphone Samsung hingga 2026 demi menjaga kestabilan harga dan ketersediaan produk.


