spot_img
Latest Phone

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

Garmin Kampanye Women of Endurance: Ibu Rumah Tangga Bisa Setara HIIT

Telko.id - Aktivitas sehari-hari seorang ibu rumah tangga ternyata...

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

ARTIKEL TERKAIT

Huawei Masih Pakai Chipset Jadul, Ini Bukan Cuma Soal Sanksi AS

Telko.id – Setiap kali Huawei meluncurkan smartphone flagship baru, pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah mengapa chipset yang digunakan masih terlihat tertinggal dibandingkan Snapdragon terbaru dari Qualcomm, Dimensity dari MediaTek, atau Apple A-series. Banyak yang berasumsi Huawei sudah tidak mampu mengembangkan chipset kelas atas, padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Huawei sebenarnya masih memiliki kemampuan merancang chipset premium melalui anak usahanya, HiSilicon. Kendala terbesar justru berada pada proses produksi yang hingga kini masih dibayangi dampak perang teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kebijakan sanksi yang dijatuhkan sejak 2019 telah memutus rantai pasok semikonduktor global bagi Huawei.

Konflik ini bermula ketika pemerintah AS memasukkan Huawei ke dalam Entity List yang dikelola Bureau of Industry and Security (BIS), U.S. Department of Commerce. Melalui kebijakan tersebut, perusahaan yang menggunakan teknologi asal Amerika wajib memperoleh izin khusus sebelum menjual produk atau teknologi kepada Huawei. Pemerintah AS beralasan langkah ini diambil demi menjaga keamanan nasional, sementara Huawei secara konsisten membantah tuduhan tersebut.

Kehilangan TSMC Jadi Pukulan Terbesar

Banyak pengguna hanya melihat dampak sanksi AS dari hilangnya Google Mobile Services (GMS) pada smartphone Huawei. Padahal, kehilangan akses terhadap Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) justru menjadi pukulan yang jauh lebih besar. Sebelum 2020, seluruh chipset flagship Kirin diproduksi oleh TSMC, perusahaan manufaktur semikonduktor terbesar di dunia yang juga memproduksi chip untuk Apple, Qualcomm, NVIDIA, AMD, dan MediaTek.

Masalahnya, meskipun berbasis di Taiwan, TSMC menggunakan berbagai mesin produksi, perangkat lunak desain chip (EDA), serta teknologi yang berasal dari AS. Akibat regulasi ekspor tersebut, TSMC tidak lagi dapat menerima pesanan chipset Huawei. Reuters dalam laporannya menyebut pembatasan itu secara efektif memutus akses Huawei terhadap fasilitas produksi chip paling canggih di dunia.

Mengapa Huawei Tidak Bisa Mengejar Teknologi Chip Terbaru?

Performa sebuah chipset tidak hanya ditentukan oleh desain CPU atau GPU, tetapi juga oleh teknologi manufaktur yang digunakan. Semakin kecil ukuran fabrikasi—misalnya 3 nanometer (nm) atau 2 nm—semakin banyak transistor yang dapat ditanam dalam satu chip. Hasilnya adalah performa lebih tinggi, konsumsi daya lebih rendah, dan suhu operasi lebih dingin.

Saat ini, TSMC dan Samsung Foundry telah memproduksi chipset dengan proses fabrikasi paling mutakhir. Sebaliknya, Huawei harus mengandalkan Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), produsen chip terbesar di China. Namun, SMIC juga menghadapi pembatasan serupa. Perusahaan tersebut tidak dapat memperoleh mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV) terbaru dari ASML, perusahaan Belanda, karena kebijakan pembatasan ekspor yang didukung AS dan sekutunya.

Tanpa mesin EUV, SMIC masih dapat memproduksi chipset canggih menggunakan mesin Deep Ultraviolet (DUV), tetapi prosesnya jauh lebih rumit, biaya produksi meningkat, dan tingkat keberhasilan produksi (yield) lebih rendah. Lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai pembatasan terhadap akses teknologi semikonduktor merupakan bagian dari strategi jangka panjang AS untuk memperlambat perkembangan industri chip China.

Kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa Huawei sudah tidak mampu membuat chipset premium. Faktanya, Huawei masih memiliki tim desain HiSilicon yang selama bertahun-tahun mengembangkan lini Kirin. Hal ini terbukti ketika Huawei memperkenalkan Kirin 9000S melalui Mate 60 Pro pada 2023. Perusahaan riset TechInsights, yang pertama kali melakukan pembongkaran (teardown) terhadap perangkat tersebut, menemukan bahwa Huawei berhasil menghadirkan kembali chipset dengan dukungan 5G hasil produksi SMIC.

Menurut Dan Hutcheson, Vice Chairman TechInsights, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan desain chip Huawei masih sangat kompetitif. Tantangan utamanya bukan pada desain, melainkan keterbatasan proses manufaktur yang belum mampu menyamai teknologi TSMC.

Performa Huawei Tetap Terasa Cepat

Meskipun secara benchmark masih berada di bawah chipset flagship terbaru Qualcomm atau Apple, pengalaman menggunakan smartphone Huawei tetap terasa mulus. Huawei mengompensasi keterbatasan hardware melalui optimalisasi HarmonyOS yang mencakup pengelolaan memori, penjadwalan CPU, kecerdasan buatan (AI), Neural Processing Unit (NPU), hingga Image Signal Processor (ISP). Pendekatan ini mirip dengan strategi Apple yang lebih mengutamakan integrasi perangkat keras dan perangkat lunak dibanding sekadar mengejar angka benchmark.

Pendiri SemiAnalysis, Dylan Patel, bahkan menyebut keberhasilan Huawei memproduksi chipset modern melalui SMIC sebagai pencapaian teknologi yang mengesankan. Namun, ia juga menilai biaya produksi dan efisiensi manufakturnya masih belum dapat menandingi TSMC maupun Samsung Foundry. Huawei diketahui terus menginvestasikan miliaran dolar AS untuk pengembangan semikonduktor, kecerdasan buatan, serta teknologi manufaktur dalam negeri China.

Meski demikian, selama pembatasan terhadap akses mesin EUV, perangkat lunak EDA, dan teknologi manufaktur tercanggih masih berlaku, sebagian besar analis memprediksi Huawei akan tetap berada sekitar satu hingga dua generasi di belakang para pemimpin industri dalam hal proses fabrikasi. Artinya, Huawei kemungkinan masih mampu menghadirkan smartphone premium dengan pengalaman penggunaan yang sangat baik, tetapi akan lebih sulit menjadi yang terdepan dalam efisiensi daya maupun performa mentah.

Jadi, alasan smartphone Huawei masih menggunakan chipset yang terlihat lebih lama bukan karena perusahaan kehilangan kemampuan berinovasi. Sebaliknya, Huawei masih memiliki salah satu tim desain semikonduktor terbaik di dunia. Tantangan sebenarnya berasal dari pembatasan geopolitik yang memutus akses terhadap rantai pasok chip global, mulai dari manufaktur TSMC, mesin litografi EUV milik ASML, hingga berbagai teknologi Amerika yang menjadi fondasi industri semikonduktor modern.

Meski berada di bawah tekanan selama lebih dari enam tahun, Huawei justru berhasil menunjukkan ketahanan melalui pengembangan chipset Kirin bersama SMIC dan optimalisasi HarmonyOS. Langkah tersebut membuktikan bahwa perang teknologi bukan hanya soal siapa yang mampu merancang chip terbaik, tetapi juga siapa yang menguasai teknologi manufaktur paling canggih. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan Huawei, kamu bisa membaca artikel tentang Chipset AI Terkuat dari Huawei atau Harga Terbaru perangkat mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU