Kategori: TREND&TECHNOLOGY

  • NetGuard Portfolio Sekuriti Kini dan Nanti dari Nokia

    NetGuard Portfolio Sekuriti Kini dan Nanti dari Nokia

    Telko.id – Serangan cyber di jaman digital ini tidak akan pandang bulu. Perlu keamanan yang super agar setiap serangan dapat ‘ditangkis’. Tapi dengan mudah juga di monitor. Itu sebabnya, banyak perusahaan yang mencoba berbagai kemampuannya untuk melakukan system monitoring dan analisis keamanan. Salah satunya adalah Nokia. Perusahaan asal Finland ini meluncurkan NetGuard Security Managemen Center pada ajang Mobile World Congres 2016.

    “Saat ini jaringan-jaringan menjadi semakin heterogen dan terbuka, membuat mereka rentan terhadap serangan siber. Setiap degradasi lanjutan dari kinerja jaringan, apakah mati sebagian atau seluruhnya, adalah salah satu dari ancaman terbesar bagi para operator. Dampak dari kejadian sejenis dapat berkisar dari beberapa konsumen yang tidak puas hingga kerusakan pada keseluruhan bisnis. NetGuard Security Management Center kami memberikan operator keyakinan bahwa seluruh jaringan mereka aman, bukan hanya beberapa bagian individual saja yang terlindungi,” ujar Guiseppe Targia, pimpinan Security Nokia menjelaskan.

    NetGuard Security Management Center dari Nokia ini akan memberikan kontrol single point untuk jaringan multi-vendor. Selain itu juga menyederhanakan dan mengakselerasi deteksi dan respon serangan bagi para operator.

    Seperti diketahui, masalah keamanan, saat ini menjadi perhatian utama dalam pengembangan Internet of Things. Pasalnya, setiap perangkat dengan IP address rentan terhadap serangan-serangan berbahaya. Dalam Vodafone Barometer 2015, 64% bisnis merespon bahwa sekuriti dan privasi adalah kendala paling umum dalam adopsi machine-to-machine.

    “Kami di Deutsche Telekom sangat mengapresiasi pendekatan Nokia, yang secara komprehensif menangani masalah sekuriti dengan solusi terkonsolidasi yang membawa nilai lebih besar daripada jumlah modul sekuriti individual. Sebagai contohnya, dengan audit sekuriti otomatis bersama dengan korelasi alarm sekuriti, kami akan dapat menemukan serangan-serangan yang tidak dapat dideteksi jaringan-jaringan saat ini,” ujar Dr. Stefan Pütz, Wakil Presiden Network and Infrastructure Security, Group Security Services, di Deutsche Telekom (DT) menjelaskan.

    Dengan adanya solusi dari Nokia ini maka akan memperkuat lagi keamanan di saat serangan-serangan terjadi. NetGuard Security Management Center adalah sebuah platform piranti lunak terkonsolidasi serta mudah digunakan yang akan membantu para operator memonitor dan mengontrol seluruh system sekuriti multi-vendor yang digelar di seluruh jaringan telekomunikasi mereka. Selain itu juga mengkombinasi sistem-sistem monitoring dan konfigurasi berbeda dalam satu tempat sehingga akan meningkatkan sekuriti karena insiden-insiden dapat dianalisa serta dikorelasikan secara terpusat untuk perlindungan terhadap serangan yang mungkin saja tidak terdeteksi oleh sistem-sistem sekuriti yang terisolasi.

    Selain dari pendeteksian dan pencegahan cepat dan mudah terhadap serangan-serangan, NetGuard Security Management Center juga meningkatkan efisiensi operasional serta menurunkan total biaya sekuriti para operator melalui konfigurasi massal otomatis dan konsisten dari kebijakan-kebijakan sekuriti, upgrade bulk firmware dan verifikasi seting-seting penguatan sekuriti dari vendor tertentu.

    Kelebihan dari Security Management Center adalah mampu mengintegrasi seluruh sistem-sistem sekuriti jaringan, terlepas dari manapun vendornya, untuk memonitor status sekuriti serta mengelola insiden, kerentanan, kebijakan sekuriti dan akses jaringan.

    Solusi ini juga akan mengawasi serangan-serangan di jaringan dengan secara proaktif mendeteksi kelemahan-kelemahan sekuriti dan mengkorelasi mereka sesuai dengan basis data internal.

    Selain itu, analisis sekuriti yang diperoleh akan diterapkan oleh mesin pembuat keputusan yang dapat dikonfigurasi serta berbasis peraturan yang akan memicu langkah korektif otomatis atau membantu operator mengimplementasi sebuah respon manual. NetGuard juga akan mengoptimalkan konfigurasi parameter-parameter sekuriti dan menurunkan resiko serangan-serangan pada infrastruktur jaringan.

    Berbeda dengan solusi vertical, untuk melindungi elemen-elemen jaringan, Security Management Center menawarkan sebuah gambaran lengkap dari keseluruhan jaringan, mengkorelasi kejadian-kejadian yang berasal dari lapisan-lapisan yang biasanya terisolasi seperti radio access, transport, core dan operasi-operasi untuk mendeteksi dan memitigasi serangan-serangan yang lebih luas. (Icha)

     

     

  • Microsoft Ujicoba Data Center di Bawah Laut

    Microsoft Ujicoba Data Center di Bawah Laut

    Telko.id – Apakah ada terpikir untuk membangun data center di lautan bebas? Microsoft sudah memikirkan hal itu. Itu sebabnya, Microsoft melakukan percobaan untuk mengaplikasikannya. Tentu sebuah pemikiran yang radikal untuk saat ini. Tapi nanti? Siapa tahu memang dibutuhkan. Dan, Microsoft sudah pernah mencoba.

    Sebenarnya, teknologi untuk menyimpan komputer di bawah air bukan hal baru. Pada kenyataannya, ada beberapa karyawan Microsoft pernah melakukannya. Hal itu juga yang melahirkan ide untuk menyimpan data center di dalam laut. Dengan melakukan percobaan ini, maka ada beberapa persoalan yang dipecahkan. Misalnya, memperkenalkan sumber tenaga baru, bagaimana melakukan penurunan biaya untuk pendinginan, mendekatkan jarak dengan populasi yang akan dihubungkan serta membuatnya lebih mudah dan lebih cepat untuk pusat data set-up.

    Sebagai background, pusat data adalah tulang punggung dari komputasi awan, dan banyak di dalamnya jaringan antar komputer. Tentu hal ini membutuhkan daya yang besar untuk melakukan tugasnya. Seperti penyimpanan, pengolahan dan / atau mendistribusikan jumlah informasi yang banyak. Untuk itu semua, dibutuhkan kekuatan listrik yang besar pula yang dapat dihasilkan dari sumber daya terbarukan seperti angin dan matahari, atau, dalam hal ini, mungkin gelombang atau energi pasang surut.

    Ketika pusat data yang lebih dekat ke populasi yang dituju, seperti tempat orang tinggal dan bekerja, maka “latency” akan berkurang. Itu artinya, download, web browsing dan game semua lebih cepat. Dengan organisasi yang lebih mengandalkan awan, permintaan untuk pusat data pun menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya. Tentu, membutuhkan biaya untuk membangun dan memeliharanya.

    Semua itu menjadi tantangan yang menarik bagi tim Microsoft Research yang cukup piawai menyadiakan solusi yang out-of-the-box.

    Ben Cutler, manajer proyek yang memimpin tim di belakang percobaan ini, menjuluki tim nya sebagai Project Natick yang merupakan bagian dari kelompok dalam Microsoft Research yang berfokus pada proyek-proyek khusus. “Kami lihat sesuatu permasalahan dari sudut pandang baru, perspektif yang berbeda, dengan kemauan untuk menantang kebijaksanaan konvensional. Hal itu terlihat ketika ada sebuah makalah tentang menempatkan pusat data di dalam air yang diberikan oleh Norm Whitaker, yang kini mengepalai proyek khusus untuk Microsoft dalam penelitian selanjutnya,” ujar Ben Cutker, Manajer Proyek Microsoft menjelaskan.

    Salah satu yang menjadi tantangan adalah bagaimana menempatkan peralatan elektronik dari serangan air laut yang kadar garamnya sangat tinggi. Tentu, hal ini membutuhkan proses pengujian dan desain yang sangat ketat. Hal ini juga mengingatkan bagaimana fiber optic ditemukan. Dan berdasarkan itulah maka ada optimistis bahwa menyimpan data center di bawah laut pun dapat dilakukan.

    Untuk merealisasikan mimpi menyimpan data center di bawah laut pun terinspirasi dari kapal selam. Dimana desain kapal selam yang bulat adalah bentuk yang terbaik agar terhindar dari benturan dan tekanan.

    Pada tahap awal ujicoba, data center tidak akan ditempatkan jauh dari pantai. Hal ini untuk mempermudah dalam memperoleh jaringan listrik yang ada. Baru nantinya akan menggunakan energi HYDROKINETICT yang berasal dari gelombang laut untuk daya. Ini bisa membuat pusat data bekerja secara independen dari sumber energi yang ada, terletak dekat dengan kota-kota pesisir, didukung oleh energi laut terbarukan. Itulah salah satu keuntungan besar dari skema datacenter di bawah air – mengurangi latency dengan mengurangi jarak ke populasi dan akan mempercepat transmisi data.

    Proyek ini menunjukkan hal itu mungkin dilakukan untuk menyebarkan data center dengan lebih cepat karena mengubahnya dari proyek konstruksi yang tentu saja membutuhkan beragam ijin dan memakan waktu. Sebagai perbandingan, untuk membangun kapal tempat ujicoba data center ini hanya membutuhkan waktu 90 hari saja. Padahal, jika data center di bangun di daratan, membutuhkan penyesuaian dengan lingkungan, medan dan tentu akan berbeda-beda untuk setiap lokasinya. Sedangkan untuk dibawah laut, dapat diproduksi secara masal karena kondisi di bawah air relatif sama dan konsisten.

    Apalagi, untuk data center, masalah pendinginan merupakan hal penting. Biasanya, dijalankan dengan menggunakan chiller agar tidak terjadi overheating. Lingkungan dingin di dalam laut, secara otomatis membuat pendinginan data center menjadi lebih murah dan lebih hemat energi. Terlebih lagi, data center itu akan dipantau secara jarak jauh dengan menggunakan kamera dan sensor lainnya. Sehingga pencatatan data seperti suhu, kelembaban, jumlah daya yang digunakan untuk sistem, bahkan kecepatan arus, tetap dapat dilakukan. Walau demikian, sebulan sekali, tetap aka nada penyelam yang turun untuk memeriksa. Sampai saat ini, tim masih menganalisis data dari percobaan tersebut, namun sejauh ini, hasil yang diperoleh cukup menjanjikan.

    Saat ini, Microsoft sedang merencanakan tahap berikutnya dari proyek ini. Dengan menggunakan kapal yang berukuran empat kali dari wadah yang saat ini digunakan. Selain itu juga memiliki 20 kali kekuatan komputasi. Tim ini juga menguji kapal yang bisa di dalam air selama setidaknya satu tahun dan mengerahkan sumber energi laut terbarukan. Termasuk juga belajar melakukan konfigurasi ulang firmware dan driver untuk disk drive, agar dapat bertahan lebih lama. (Icha)

  • Nokia XG-Fast, Masa Depan Fixed Ultra Broadband

    Nokia XG-Fast, Masa Depan Fixed Ultra Broadband

    Telko.id – Masalah akses internet saat ini tidak hanya diminati untuk koneksi mobile saja. Di perumahan pun sudah dibutuhkan. Apalagi nanti, ketika era smart home, koneksi di perumahan maupun gedung menjadi sangat dibutuhkan melalui jaringan fiber to home.

    Salah satu vendor yang cukup agresif di teknologi ini adalah Nokia. Dan teknologi yang kini sedang dikembangkan, salah satunya adalah XG-FAST. XG-FAST ini adalah lanjutan dari pengembangan yang dilakukan oleh Bell Labs atas teknologi G.fast Nokia yang sudah tersedia secara komersial. Ujicoba ini dilaksanakan di laboratorium kabel Deutsche Telekom di Darmstadt, Jerman pada ahir 2015 lalu oleh anak perusahaan Nokia, Alcatel-Lucent.

    ”Sebagai pimpinan global akses fixed ultra-broadband kami menawarkan kepada para operator sebuah paduan teknologi serat dan tembaga untuk menggelar layanan berkualitas tinggi dengan lebih cepat serta lebih hemat biaya. Ujicoba XG-FAST bersama Deutsche Telekom mewakili sebuah tonggak penting dalam upaya kami memperluas potensi tembaga mengirimkan kecepatan ultra-tinggi, sambil juga membawa serat lebih dekat kepada pengguna residensial dan bisnis,” sahut Federico Guillén, Presiden Fixed Networks, Nokia, menjelaskan.

    Ujicoba tersebut menghasilkan kecepatan throughput data sebesar lebih dari 10 gigabit per detik (Gbps), sekitar 200 kali lebih cepat daripada kecepatan koneksi broadband residensial rata-rata saat ini. Dengan kecepatan yang dihasilkan tersebut, teknologi berbasis tembaga ini memungkinkan sebuah film HD berdurasi dua jam diunduh dalam kurang dari 10 detik, atau 1.000 foto diunggah dalam kurang dari dua detik.

    Saat ini, jaringan Deutsche Telekom yang menggunakan VDSL2 Vectoring dan juga teknologi FTTH (fiber-to-the-home) baru mampu menawarkan kecepatan akses hingga 100 megabit per detik (Mbps) kepada konsumen. Dengan adanya teknologi XG-FAST yang inovatif memugkinkan Deutsche Telekom mengefisienkan penggunaan infrastruktur jaringan tembaganya. Selain itu juga, operator ini mampu memenuhi komitmennya terhadap target-target broadband nasional Jerman dengan memberikan lebih banyak bandwidth kepada lebih banyak pengguna.

    “Dengan demonstrasi ini kami dapat melihat peluang-peluang masa depan XG-FAST dalam memaksimalkan aset-aset yang ada. Hal ini memberi opsi teknologi lain yang dapat memungkinkan kami menawarkan konektivitas kecepatan tinggi kepada konsumen kami secara cepat serta hemat biaya, dan pada saat yang sama, membawa infrastruktur serat kami lebih dekat kepada konsumen kami,” ujar Bruno Jacobfeuerborn, CTO Deutsche Telkom menjelaskan.

    Teknologi seperti G.fast dan XG-FAST merupakan bagian terakhir jaringan tembaga yang telah ada untuk memberikan kecepatan seperti serat ke rumah-rumah dan perkantoran. XG-FAST masih dalam tahap awal pengujian lab, tetapi sejauh ini telah melampaui ekspektasi dalam ujicoba dengan beberapa konsumen.

    Ujicoba XG-FAST bersama Deutsche Telekom menunjukkan bandwdith agregat melampaui 11 Gbps pada dua pasang ikatan kabel Kategori 6 sepanjang 50 meter. Pengujian serupa menggunakan kabel drop standar menggambarkan XG-FAST layak untuk aplikasi fiber-to-the-front door dan mampu mencapai tingkat agregat melampaui 8 Gbps pada kabel sepanjang 50 meter. Seluruh ujicoba dilaksanakan dengan menggunakan perangkat purwarupa dari Bell Labs pada kondisi laboratorium.

    XG-FAST juga mampu mengirimkan layanan simetris 1 Gbps pada jarak 70 meter sehingga memungkinkan operator memberikan kecepatan seperti serat di dalam gedung dengan menggunakan jalur-jalur telefon yang ada serta mampu mengeliminasi kebutuhan untuk pemasangan kabel baru. Hal ini memungkinkan waktu instalasi lebih cepat serta mengurangi kerepotan pengguna akhir. (Icha)

  • Google Fiber Uji  Layanan Telepon dengan Kecepatan Internet Ultra

    Google Fiber Uji Layanan Telepon dengan Kecepatan Internet Ultra

    Telko.id – Google tampaknya sangat serius dengan peluncuran Google Fiber, sebuah inisiatif dari raksasa pencari untuk memberikan kota dengan akses internet berkecepatan tinggi agar dapat meningkatkan layanan telepon mereka seperti menghadirkan layanan call screening.

    Selain menghadirkan layanan call screening, Google Fiber juga nantinya akan menyediakan fitur do not distrub dan filterisasi terhadap spam.

    Saat ini, Google Fiber tersedia di Atlanta, Austin, Charlotte, North Carolina, Kansas City, Missouri, Nashville, Provo, Utah, Raleigh-Durham, Salt Lake City dan San Antonio.

    Dilansir dari laman Mashable, Senin (1/2), para undangan yang ditunjuk untuk menjajal teknologi ini adalah anggota program “Fiber Trusted Tester” Google, yang muncul pada hari Jumat lalu.

    Menggambarkan Fiber Phone sebagai layanan telepon rumah, Google mengatakan layanan ini memiliki fitur pesan suara, nomor telepon yang berada di cloud dan mengakhiri kekhawatiran pengguna dalam hal baterai. Sekedar informasi, saat ini banyak pengguna yang telah menggunakan ponsel mereka sebagai telepon rumah.

    Seperti Google Voice, Fiber Phone juga memungkinkan Anda untuk mendapatkan nomor telepon baru atau mentransfer nomor yang sudah ada (ponsel atau telepon rumah) untuk Fiber Phone pengguna. Layanan ini juga duplikat dari layanan pesan suara transkripsi Google Voice.

    Fiber Phone juga sejatinya masih seperti layanan VoIP (Voice over IP), yakni solusi yang telah ada selama bertahun-tahun. Untuk berpartisipasi dalam program ini, pengguna Google Fiber perlu untuk memungkinkan pekerja ke rumah mereka untuk menginstal beberapa tambahan peralatan.

    Namun, yang perlu diingat adalah kecepatan Google Fiber yang konon katanya mencapai 100 kali lebih cepat bila dibandingkan dengan kecepatan broadband saat ini dari ISP lain, dengan kecepatan seperti itu, bisa terbayangkan akan kualitas panggilan yang tentunya bisa lebih baik dari layanan VoIP saat ini.

    Sekedar informasi, beberapa kota-kota berikutnya yang dijadwalkan untuk mendapatkan layanan Google Fiber adalah Chicago, Los Angeles, Oklahoma City, Tampa, Jacksonville, Florida, Louisville, Kentucky, Portland, Oregon, Phoenix, Arizona, San Diego, San Jose dan Irvine, California.

    Apakah layanan Google Fiber ini sama seperti layanan VoLte yang saat ini sedang dipersiapkan oleh para operator di dunia, kita tunggu saja. [ak/if]

  • Terinspirasi dari Xiaomi, Polytron Kembangkan Fira OS

    Terinspirasi dari Xiaomi, Polytron Kembangkan Fira OS

    Telko.id – Fira OS merupakan sebuah UI yang dikembangkan oleh Polytron dan PT. Fira sebagai perusahaan IT sejak tahun lalu. Adalah Roberto Setiabudi Hartono selaku founder dari Fira OS yang menyebutkan inspirasi awal dalam membuat UI ini di Indonesia.

    “Pada tahun 2014, kita bertemu dengan Polytron dan melihat smartphone Xiaomi dan kita tidak menyangka jika ternyata di China terdapat smartphone yang keren banget yang kita belum pernah lihat sebelumnya dan akhirnya kita melihat bahwa kita punya kekuatan di segi programming, kita punya ke kuatan di UX dan kita paling tahu bagaimana keadaan di Indonesia,”ucap Roberto.

    Melihat dari hal tersebut, itu adalah sebuah kesempatan bagi Fira untuk membuat UI ini.Berbicara mengenai fitur yang terdapat di dalam Fira OS, Roberto menyebut terdapat beberapa fitur unik seperti Fira UI dengan Smart Directory, Call Dialing yang mempermudah pengguna dalam mengangkat telepon ketika sedang bermain games atau menjalankan aplikasi lain. Kemudian hadir juga fitur Fira Store, yang akan mempermudah pengguna dalam melakukan pembayaran seperti voucher pulsa, voucher games dan token listrik secara online dengan menggunakan credit card. FiraOS juga menyediakan Fira Pay, Fira Id dan yang sedang dikembangkan adalah Fira TV.

    IMG-20160128-WA0000

    Mengenai Fira Pay, Roberto menyebut hal ini yang menjadi salah satu senjata andalah dari Fira OS. Kepada tim Telko.id, Roberto mengungkapkan, “Kita bekerjasama dengan Veritrans untuk mendukung Fira Pay, Fira Pay sendiri merupakan dasar semua payment online yang ada di smartphone kita,” ucapnya.

    Hadirnya Fira Pay, sejatinya menjadi alternatif bagus untuk para pengembang konten lokal yang tidak mendaftar di toko aplikasi google play store. Hadirnya Fira Pay mamungkinkan Polytron dapat bekerjasama secara langsung dengan pemilik aplikasi untuk langsung didaftarkan ke Fira OS dan pembayarannya bisa langsung ke Fira Pay. Hal ini berlaku untuk aplikasi apapun, sebagai contoh, apabila aplikasi yang saat ini sedang Populer seperti Gojek, bisa daftarkan ke Fira OS dan mengenai payment bisa melalui Fira Pay, mengenai pembayaran juga, kedepannya Fira Pay bisa menggunakan kartu debit, hal tersebut dikarenakan tidak semua orang di Indonesia yang menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran mereka.

    Mengenai kerjasama dengan developer lokal, Roberto mengungkapkan sudah berbicara dengan pemilik konten lokal untuk bekerjasama.

    “Kita sudah mulai melakukan pembicaraan dan dalam kurun waktu setengah tahun lagi seharusnya kita sudah menyediakan beberapa produk lagi untuk sektor payment,” Ucap Roberto pada acara peluncuran Polytron ZAP.

    Mereka juga akan bekerjasama dengan 7Eleven untuk urusan pembayaran yang akan memungkinkan para pengguna melakukan pembayaran di perusahaan retail ini, sebagai alternatif pembayaran selain kartu kredit.

    Fitur lainnya yang disediakan oleh Fira OS adalah fitur Smart directory yang tentunya akan sangat menunjang aktivitas sehari-hari pengguna. Fitur ini juga dapat melihat pulsa si pengguna dalam bentuk launcher.

    Hadir juga fitur Fira Store, fitur ini juga masih termasuk kedalam fitur pembayaran dan fitur ini dapat digunakan untuk membeli pulsa, token listrik serta voucher games. Kedepannya, fitur ini juga akan tersedia untuk pemesanan tiket pesawat, kereta api serta penginapan.

    Hadir juga fitur yang tak kalah seru yakni Fira TV. Sejatinya fitur ini masih dalam tahap pengembangan, namun Fira TV sudah menyediakan program acara dari Super Soccer. Fitur ini juga tersedia dalam konten berbayar dan gratis. Untuk konten gratis, sejatinya yang dapat digunakan oleh pengguna adalah acara di berbagai stasiun TV di Indonesia secara streaming.

    User Interface ini juga memungkinkan digunakan pada smartphone lain selain Polytron, walaupun Polytron sebagai investor dan developer dari Fira, namun sejatinya FiraOS dan Polytron berdiri sendiri. Namun, dalam waktu dekat hal tersebut belum bisa direalisasikan karena masih belum mengantongi izin dari Polytron.

    Sampai dengan saat ini, Fira OS sendiri dibangun dan berjalan di Sistem Operasi Android Kitkat dan Lollipop. Disinggung mengenai konsumsi RAM, Roberto menyebut bahwa antarmuka mereka tidak menyedot banyak RAM yang ada di smartphone, karena sifat dari Fira OS yang tidak seperti launcher biasa.

    Berbicara mengenai peran Kementrian sebagai regulasi, Roberto menyebut bahwa mereka memberikan apresiasi kepada Fira. Hal tersebut tergambar dari komentar Roberto yang berbunyi, “Menurut info yang kami dengar, standar yang ada di Fira akan dijadikan sebagai contoh untuk software developer yang ada di Indonesia yang berhubungan dengan TKDN,”ucapnya.

    Berbicara mengenai infrastruktur server, Roberto menjelaskan saat ini mereka sudah menggunakan Private Cloud. Ia juga mengungkapkan peran Polytron dalam hal ini.

    “Kita beruntung dengan adanya Grup besar Polytron yang memiliki private cloud sendiri, yang pada akhirnya kita diperbolehkan untuk menggunakannya,” Ia menambahkan, sampai dengan saat ini belum banyak orang tahu bahwa grup Polytron memiliki private cloud sendiri dan berada di Indonesia.

    Roberto melihat, kedepannya launcher ini akan memiliki potensi yang sangat besar. Pasalnya, Polytron sebagai pihak developer sangat fokus sekali dalam mengembangkan launcher ini.

  • Fira OS Dipersiapkan Polytron Hadapi Era Internet Of Things

    Fira OS Dipersiapkan Polytron Hadapi Era Internet Of Things

    Telko.id – Polytron boleh berbangga karena menjadi merek lokal yang pertama kali menggunakan user interface sendiri yakni Fira OS. Yang bekerja di atas operating system Android. Bisa dibilang, langkah ini menjadikan Polytron sejajar dengan merek global.

    “Jika saat ini baru digunakan pada smartphone Polytron, ke depan Fira OS ini juga akan ditanamkan pada perangkat lain keluaran Polytron untuk menghadapi era Internet Of Things,” ujar Tekno Wibowo, Marketing Director PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) menjelaskan.

    Selanjutnya, Tekno juga mengharapkan bahwa Polytron akan siap sekitar 2 -3 tahun mendatang. Hal ini dapat dilakukan Polytron karena selain smartphone, Polytron juga merupakan produsen dari home appliances.

    Pada era Internet of Things, prinsipnya adalah saling terhubung dan Cloud. Dari semua sisi, Polytron mulai mempersiapkan. Salah satunya adalah kepemilikian Cloud sendiri dan Fira OS ini. Sehingga sangat memungkinkan untuk perangkat produksi sendiri dapat saling terhubung dan juga terhubung dengan internet. Seperti pada AC dan TV.

    “Terlebih, kami ini adalah pemain lokal dan kenal seperti apa masyakarat Indonesia. Dengan demikian, kami dapat memberikan solusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan menjadi pembeda dibandingkan dengan merek lain. Baik yang lokal maupun global,” ujar Tekno menjelaskan.

    Untuk smartphone sendiri, revenue yang disumbangkan untuk bisnis Polytron secara keseluruhan masih kecil. Pada tahun 2015 baru sebesar 5%. Ke depan diharapkan bisa mencapai 10%.

    Target pada tahun 2016 sendiri, Polytron berharap mampu meningkatkan penjualan sekitar 5% dari tahun 2015 lalu yang mencapai 100 ribu unit per bulan. Atau sekitar 2 juta smartphone per tahun. Bahkan, Polytron sangat optimis bahwa 3 hingga 4 tahun ke depan akan menjadi merek lokal yang berjaya di negeri sendiri mengalahkan global brand dan menjadi nomor 1 di Indonesia.

    Setelah 6 produk diawal tahun ini yang sudah diluncurkan, masih ada 8 sampai 10 tipe lagi hingga akhir tahun. Sekitar 75% merupakan smartphone yang mampu bekerja di jaringan 4G dan sisanya merupakan smartphone 3G.

    Dengan adanya Fira OS ini, diperkirakan komponen TKDN dari smartphone Polytron akan bertambah 5 -10% lagi. Padahal, saat ini saja, TKDN smartphone dari Polytron sudah mencapai 35%. (Icha)

     

  • Ecommerce Indonesia Capai USD 3.8 Juta pada 2019, Transaksi Online Geser COD

    Ecommerce Indonesia Capai USD 3.8 Juta pada 2019, Transaksi Online Geser COD

    Telkoid – Laporan terbaru Frost & Sullivan mengatakan bahwa pasar Ecommerce Indonesia akan tumbuh 31,1 persen CAGR mencapai USD 3,8 juta pada tahun 2019, naik dari USD 1,35 juta di tahun 2015.

    Beberapa hal disebut-sebut menjadi alasan, diantaranya profil demografis Indonesia yang positif, pertumbuhan ekonomi yang kuat, adopsi ponsel yang tinggi dan banyaknya pemain Ecommerce yang menawarkan berbagai macam produk online untuk konsumen Indonesia.

    Ecommerce di Indonesia sangat mirip dengan China pada tahun-tahun awal. Potensi untuk tumbuh didorong oleh kenaikan pendapatan, populasi anak muda yang bertambah dan tawaran ecommerce yang kian matang,” ungkap Spike Choo, Country Director Frost & Sullivan Indonesia.

    Namun, beberapa kendala pun bukannya tidak menjadi hambatan. Infrastruktur logistik yang buruk dan kesulitan mengakses layanan perbankan adalah beberapa diantaranya yang masih membutuhkan tambahan investasi dan waktu sebelum Ecommerce di tanah air benar-benar bisa lepas landas.

    Untuk mode pembayaran, Frost & Sullivan mencatat bahwa uang tunai masih akan dominan untuk transaksi offline, sementara pembayaran lewat kartu kredit dan debit serta e-money akan terus tumbuh sebagai akibat dari upaya terus menerus yang dilakukan oleh bank dan penyedia telekomunikasi dalam mendorong adopsi oleh end-user.

    Di akhir tahun 2015 saja, diperkirakan 113 juta ATM+kartu Debit dan 17 juta kartu kredit beredar. Kartu debit melebihi jumlah kartu kredit sekitar 6,7 banding 1. Total nilai transaksi kartu kredit tahunan adalah 1,3 kali lebih tinggi dari kartu debit, nilai rata-rata transaksi per kartu kredit adalah 16, sementara kartu debit adalah 3, nilai transaksi rata-rata per kartu kredit adalah sekitar Rp 1 juta, sementara kartu debit Rp 605.000.

    Choo memprediksi bahwa transaksi online, entah itu menggunakan kartu kredit, kartu debit ataupun e-banking akan melampaui COD dan OTC sebagai modus pembayaran pilihan untuk transaksi pada akhir 2016.

  • Perangkat Pendukung Small Cell Jenis Baru ala Nokia

    Perangkat Pendukung Small Cell Jenis Baru ala Nokia

    Telko.id – Small Cell adalah salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan kapasitas koneksi di wilayah padat. Yang sangat cocok untuk di dalam gedung atau indoor. Wajar jika para pengusaha teknologi seperti Nokia pun giat meluncurkan produk untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ada beberapa perangkat pendukung small cell yang diluncurkan oleh Nokia, antara lain Nokia Flexi Zone Mini-Macro Base Station.

    “Kami sangat fokus untuk mendorong evolusi jaringan kearah Ultra Dense, Multi koneksi HetNets yang akan sangat mudah untuk dibangun dan juga dapat memenuhi kebutuhan pengalaman pelanggan para operator,” ujar Randy Cox, head of Small Cells Product Management Nokia menjelaskan.

    Selanjutnya, Randy juga menambahkan bahwa dengan inovasi solusi Flexi Zona small cell ini membuat daya RF yang belum pernah terjadi sebelumnya ditingkatkan kemampuan jangkauannya. Produk SC ini merupakan jalan baru bagi operator untuk menggunakan teknologi small cell untuk memenuhi kebutuhan atas coverage dan capacity yang dibutuhkan oleh para pelanggan operator yang terus bertumbuh terutama yang berada di daerah perkotaan, perumahan dan pedesaan.

    Nokia Flexi Mini-Macro Base Station ini sangat kompak dan mudah untuk dipasang seperti small cell. Namun, mampu mengirim 2 x 20W daya yang membuat operator dengan cepat dan biaya yang efektif untuk memenuhi kebutuhan seluruh coverage nya. Inovasi ini diperkenalkan oleh Nokia pada ajang Mobile World Congress 2016 di Barcelona, Amerika.

    flexizone_mini_macro_bts_d817536_copy_original

    Pada kesempatan tu, Nokia juga memperkenalkan LTE-Advanced Pro LWA yang dapat diintegrasikan dengan small cells. Yang dapat digunakan pada unlicensed spectrum dalam pengiriman data yang besar dengan cepat kepada pelanggan. Dan merupakan pilihan sinkronisasi baru yang memberikan penurunan biaya secara signifikan dalam penyembaran small cell.

    Selain itu, Nokia juga memperkenalkan Nokia Flexi Zona multiband BTS G2. Sebuah perangkat yang pertama dengan kemampuan mendukung LWA 80MHz small cell secara terpadu dengan LTE-Advanced standar Pro. Perangkat ini memungkinkan operator memberikan layanan yang unggul karena mampu menggunakan WiFi pada spektrum tak berlisensi tetapi tetap memberikan kecepatan data yang tinggi pada pelanggan. Paling tidak, hingga kecepatan tertinggi lebih dari 1Gbps.

    Produk sejenis sudah diluncurkan tahun lalu namun sudah ditingkatkan kemampuannya dengan kemampuan multiband. Lalu, produk yang baru ini mampu mendukung juga teknologi akses tiga radio dalam satu unit.

    Nokia juga melakukan demostrasi inovasi teknologi interference mitigation yakni Flexi Zone Controller. Perangkat ini mampu melakukan penjadwalan untuk downlink dan uplink Coordinated Multi-Point atau (CoMP) yang akan meningkatkan performance sampai ujung jaringan lebih dari 150%. Manajemen interfernsi inter-cell yang otomatis membuat teknologi ini dapat dibangun dengan menekan biaya karena kebutuhan akan indoor radio network dapat dikurangi dan bahkan pengurangan pada rencana ke depannya.

    Nokia juga memperkenalkan SCORE (Site Certified for Overall Relative Efficiency) yang berguna untuk mencari lokasi terbaik dalam penyebaran small cell. Nokia menggunakan data GIS dan alat lokasi Geo yang memenuhi syarat untuk menilai site dan menentukan biaya pembangunan, kinerja jaringan dan biaya pemeliharaan, serta menentukan nilai relatif dari satu ke 100. Hal ini memungkinkan operator untuk membandingkan site dengan mudah dan mempercepat pembangunan. Tentu nya dengan biaya terendah. Nokia sendiri memiliki database lebih dari 1 juta site berkualitas yang dapat dijadikan acuan bagi operator. (Icha)

  • ITU: Perlu Aturan Tentang ‘Privacy dan Security’ di Era Internet of Things

    ITU: Perlu Aturan Tentang ‘Privacy dan Security’ di Era Internet of Things

    Telko.id – Era Internet of Things yang akan menghubungkan satu perangkat terhubung dengan perangkat lain dan melahirkan banyak kemudahan bagi manusia sangat ditunggu-tunggu. Pada era itu, berbagai industry akan saling terhubung dan begitu banyak data yang lalu lalang. Lalu bagaimana dengan keamanan data-data tersebut dan tentu saja interoperability antar perangkat? Hal ini menjadi perhatian International Telecommunication Union atau ITU.

    ITU meliris laporan “Harnessing the Internet of Things for Global Development,” yang merupakan hasil kerjasama dengan Cysco Sytem. Pada laporan tersebut terlihat bahwa dengan menggunakan teknologi Internet of Things (IOT) untuk memecahkan berbagai masalah yang mendesak di Negara berkembang. Seperti masalah pertanian, pengelolaan ternak, deteksi dan pencegahan bencana alam dan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih efisien sehingga mampu meningkatkan pelayanan.

    Menurut laporan itu, ada sejumlah definisi dari IOT. ITU Mendefinisikan sebagai “infrastruktur global untuk informasi masyarakat yang memungkinkan dilayani secara canggih dengan menggunakan interkoneksi, baik secara physical maupun virtual. Dan berdasarkan interoperability teknologi informasi dan komunikasi yang sudah ada maupun yang akan dikembangkan.

    IOT dapat digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti monitoring pemberian vaksin dan penyimpanan secara real time dengan menggunakan thermometer, kamera maupun sensor yang terhubung dengan smartphone dan tablet yang dimiliki oleh petugas. Dengan demikian petugas pun mampu melakukan diagnosis jarak jauh dan menentukan tindakan yang akan dilakukan.

    Laporan itu juga menyebutkan bahwa IOT ini dapat digunakan untuk mencerminkan kondisi masyarakat di suatu daerah dengan menggunakan social media. Hal ini akan mempercepat penanganan ketika ada wabah atau potensi kekerasan yang mungkin akan timbul.

    Di sisi lain, dengan infrastruktur yang sama di mana setiap orang membuat, menyimpan dan berbagai informasi terdapat celah yang membahayakan untuk privasi dan keamanan masyarakat. Apalagi, kita bicara tentang data dalam jumlah besar dan banyak.

    Untuk itu, dalam pengembangan IoT ini diperlukan peraturan, termasuk perijinan, standard, keamanan dan privasi. Menurut laporan tersebut, strategi untuk melindungi privasi adalah wajib memperhitungkan berbagai risiko dari berbagai sumber yang berbeda serta beradaptasi dengan peraturan daerah. (Icha)

  • Arab Wajibkan Pengguna Selular Rekam Sidik Jari Untuk Dapat Simcard

    Arab Wajibkan Pengguna Selular Rekam Sidik Jari Untuk Dapat Simcard

    Telko.id – Communications and Information Technology Commission (CITC) Arab memberlakukan para pelanggan telekomunikasi untuk mendaftarkan sidik jarinya. Peraturan tersebut berlaku juga bagi pengunjung, warga teluk, haji dan umrah, seperti yang dikutip dari arabnews.com.

    Sebenarnya, keputusan tersebut sudah diumumkan tahun lalu, tetapi implementasi ditunda karena beberapa operator layanan seluler di kawasan tersebut masih memerlukan waktu untuk mendapatkan perangkat pendaftaran sidik jari. Beberapa peralatan dicoba tetapi masih belum bekerja optimal jadi memerlukan waktu. Baru sekarang bisa diaplikasikan.

    Pada tahap pertama dari keputusan baru akan mencakup pelanggan baru. Di mana para pelanggan baru akan didaftarkan sidik jarinya untuk mendapatkan Simcard baru. Alat deteksi sidik jari tersebut akan terhubung dengan Pusat Informasi Nasional untuk Memastikan identitas pemilik sim akurat. Di sisi lain, pemerintah Arab juga memastikan bahwa informasi pemegang SImcard akan dilindungi dan akan digunakan untuk mencegah kepemilikan ponsel dengan identitas palsu.

    Sebelumnya, pihak The CITC sudah memberlakukan persyaratan yang ketat untuk Mendapatkan pra-bayar kartu SIM, termasuk kontrak tertulis yang membutuhkan nama lengkap pemohon, nomor identitas nasional, kebangsaan, nomor telepon, rincian tentang layanan yang diminta, tanggal dan tanda tangan.

    Menurut Abdur Rahman al-Mazi, seorang ahli komunikasi dan teknologi informasi menyatakan bahwa perusahaan telekomunikasi berpotensi kehilangan 18 juta pelanggan karena adanya peraturan baru ini. Dan tentu saja akan mengurangi pendapatannya.

    Dikawasan Arab ini terdapat 53 juta pelanggan yang populasinya hanya 30 juta. Hal ini disebabkan karena banyak orang yang memiliki dua Simcard atau lebih dan tidak dapat teridentifikasi data nya. Itulah sebabnya, peraturan ini diberlakukan. (Icha)