Kategori: Edutech

  • GREDU Raih Pendanaan Seri A Senilai 58 miliar Rupiah

    GREDU Raih Pendanaan Seri A Senilai 58 miliar Rupiah

    Telko.id – GREDU raih pendanaan seri A senilai Rp.58 miliar. Putaran ini dipimpin oleh Intudo Ventures, dengan partisipasi dari investor sebelumnya yaitu Vertex Ventures.

    Rencananya, dana tersebut akan digunakan oleh GREDU untuk mengekspansi pasar ke luar wilayah Jabodetabek, khususnya kota-kota besar yang ada di seluruh Indonesia.

    GREDU raih pendanaan ini juga untuk mengakselerasi pengembangan produk yang dapat dipersonalisasi guna memenuhi kebutuhan para pendidik dan tim administrasi sekolah, serta perekrutan talenta baru di semua fungsi demi mendukung digitalisasi sektor pendidikan Indonesia.

    “Di masa yang penuh tantangan ini, digitalisasi sudah menjadi kebutuhan bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Dengan pendanaan kali ini, kami ingin lebih meningkatkan produk dan jangkauan, mengurangi gesekan dan memudahkan proses digitalisasi dengan menawarkan solusi yang intuitif dan menarik, sehingga digitalisasi dalam kegiatan persekolahan dapat dilakukan dengan benar dan efektif bagi semua pihak yang terlibat,” ungkap Rizky Anies, Co-Founder CEO GREDU.

    Baca juga : Gredu Update Fitur Dan Layanan Agar lebih Aman dan Nyaman

    Ia pun yakin terhadap pasar dan pertumbuhan digitalisasi dalam pendidikan, sehingga menargetkan untuk memperluas bisnis nya secara nasional dan regional sepanjang tahun depan

    Didirikan pada September 2016, GREDU menyediakan aplikasi yang terdiri dari empat komponen utama, yaitu GREDU School Management System, seperangkat alat administratif yang dirancang untuk meningkatkan pengelolaan sekolah. Lalu untuk guru ada GREDU Teacher yang memungkinkan guru untuk melacak kehadiran siswa, membuat dan menilai ujian, menjalin komunikasi antara administrator dengan orang tua, dan mengatur kegiatan kelas.

    Sedangkan untuk orang tua ada GREDU Parent. Sebuah portal yang dirancang untuk membantu orang tua dan wali memantau kinerja anak-anak mereka dan kehadiran. Terakhir adalah untuk siswa yakni GREDU Student yang memungkinkan siswa untuk melihat nilai ujian, kehadiran, dan kegiatan sekolah mereka, serta mengakses berbagai konten untuk siswa dan berbagai fungsi pendukung lainnya.

    Dengan menerapkan skema berlangganan untuk keempat layanan GREDU tersebut memungkinkan bagi sekolah dan guru untuk melacak kinerja dan kemajuan siswa sesuai dengan kurikulum nasional untuk meningkatkan pengawasan dan efektivitas instruksi. Saat ini, GREDU bekerja sama dengan lebih dari 400 sekolah, dengan jumlah pengguna lebih dari 400.000, dan terus bertambah.

    “Bekerja sama dengan civitas dan administrator sekolah, GREDU memberikan solusi inovatif yang dirancang khusus untuk meningkatkan kualitas, transparansi, dan efektivitas sistem pendidikan Indonesia. Kami bangga mendukung GREDU pada saat kritis ini karena mereka membantu lebih banyak sekolah dalam melakukan digitalisasi operasional dan menciptakan dampak positif bagi siswa di seluruh Indonesia,” tutur Patrick Yip, Founding Partner Intudo Ventures.

    Sementara itu, Joo Hock Chua, Managing Partner di Vertex Ventures menyatakan, “Pandemi saat ini telah mempercepat kebutuhan digitalisasi dan transformasi dalam industri pendidikan. Kami percaya bahwa GREDU, dengan pendekatan holistiknya untuk melayani semua pemangku kepentingan dan rantai nilai sekolah, berada dalam posisi yang bagus untuk memanfaatkan perubahan ini serta membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.”

    Saat ini, GREDU sedang mengembangkan produk vertikal baru, termasuk di antaranya program untuk prasekolah dan universitas. Di masa mendatang, GREDU juga berencana untuk meningkatkan keterlibatan pengguna melalui fitur interaktif, seperti konten tambahan dan gamification. (Icha)

  • Pahamify Siap Temani Siswa Persiapkan Diri Hadapi UTBK 2021

    Pahamify Siap Temani Siswa Persiapkan Diri Hadapi UTBK 2021

    Telko.id – Pahamify siap temani siswa persiapkan diri hadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer UTBK – SBMPTN 2021. Aplikasi education technology ini menyakini bahwa siswa perlu pendamping atau teman untuk tetap semangat mengahadapi UTBK ini.

    Pasalnya, kini siswa tidak ke sekolah untuk belajar. Tetapi melakukannya di rumah. Sehingga supaya tetap semangat perlu teman juga dalam belajar. Nah, Pahamify siap menemani dan membantu para siswa.

    Apalagi, UTBK ini sudah tidak lama lagi. Rencananya akan berlangsung mulai 12 April 2021 mendatang.

    Chief Technology Officer, Edria Albert, mengatakan bahwa selama dua bulan terakhir ini mereka sangat concern terhadap persiapan jelang UTBK 2021. Termasuk dalam menghadirkan layanan produk dan jasa.

    “Kita setiap hari bikin sesi live streaming belajar jam 6 pagi. Karena kita melihat anak-anak ini lagi butuh-butuhnya nih tambahan semangat, butuh teman belajar buat mengarahkan mereka,” ujar Edria, saat diskusi media secara virtual, Senin (5/4/2021).

    Apalagi, dikatakannya, metode pembelajaran jarak jauh yang saat ini diterapkan menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang butuh pendampingan belajar.

    “Dengan format pembelajaran jarak jauh seperti ini kadang bingung juga apa yang mau difokusin. Dari pihak sekolah juga tidak se-control dulu waktu siswanya masih di sekolah. Makanya kita mau maksimalin ke arah sana,” imbuh Edria.

    Pahamify juga rutin memberikan try out kepada siswa yang akan mengikuti ujian dalam waktu dekat. Bila sebelumnya sesi ini diadakan satu minggu sekali, namun mendekati hari pelaksanaan UTBK, jadwal try out online bakal digelar dua kali dalam seminggu.

    Try out online ini bisa diakses melalui smartphone berbasis Android dan iOS, dan juga web.

    “Kita masih coba terus berinovasi apa sih yang dibutuhkan sekarang, kita coba provide ke siswa-siswa supaya mereka bisa tercapai tujuannya,” jelasnya.

    Sementara itu, Syarif Rousyan Fikri, Chief Education Officer (CEO) Pahamify menuturkan akan senantiasa melakukan monitoring dan evaluasi terhadap sistem, layanan, dan konten-konten agar tetap relevan dengan kebutuhan pelajar yang terus berubah.

    “Hal ini selaras dengan visi dan misi kami yaitu kami ingin menjadi pemimpin dalam membangun masa depan pendidikan melalui riset dan pengembangan produk serta jasa berbasis teknologi sesuai kebutuhan masyarakat luas,” tandasnya.

    Sejak Juli 2019, aplikasi Pahamify telah diunduh 1 juta kali di App Store dan Google Play yang menjangkau pelanggan di 34 provinsi di Indonesia, dengan menghadirkan lebih dari 20 ribu konten pembelajaran.

    Konten pembelajaran di Pahamify masih menyasar untuk siswa SMA saja. Ke depannya mereka juga akan menyediakan materi pembelajaran bagi siswa SD dan SMP. (Icha)

  • Mengenal Fitur Terbaru Koin Virtual Kelas Pintar

    Mengenal Fitur Terbaru Koin Virtual Kelas Pintar

    Telko.id, Jakarta – Kelas Pintar menghadirkan inovasi menarik kepada para pengguna. Bersamaan dengan peluncuran Paket Extra Pintar, penyedia solusi pembelajaran ini juga meluncurkan Koin Kelas Pintar. Lalu apa itu Koin Kelas Pintar?

    Menurut CEO dan Founder Kelas Pintar Fernando Uffie, Koin Kelas Pintar merupakan koin virtual yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi di platform Kelas Pintar baik di aplikasi ataupun website.

    “Bersamaan dengan peluncuran Paket Extra Pintar ini, kami juga memperkenalkan Koin Kelas Pintar, yang merupakan alat tukar berupa koin virtual yang digunakan untuk melakukan transaksi di platform Kelas Pintar,” jelas Uffie.

    {Baca juga: Bantu Siswa Persiapkan Ujian, Kelas Pintar Rilis Paket Extra Pintar}

    Uffie menyatakan bahwa seluruh pengguna Kelas Pintar setiap harinya bisa mendapatkan koin tersebut secara gratis, untuk selanjutnya digunakan saat mengajukan pertanyaan yang dikirimkan melalui fitur TANYA.

    Adapun jumlah koin yang bisa didapatkan secara gratis akan berbeda, sesuai dengan tipe akses fitur TANYA yang dimiliki oleh pengguna.

    Untuk pengguna akses fitur TANYA Regular, setiap harinya akan mendapatkan 6 koin gratis dan pengguna akses fitur TANYA Prioritas mendapatkan 10 koin gratis setiap harinya, sedangkan pengguna akses fitur TANYA Plus mendapatkan koin sesuai dengan status berlangganan paket yang dimiliki.

    Dengan membeli Paket Extra Pintar, pelanggan akan mendapatkan 50 Koin Kelas Pintar setiap bulan yang secara otomatis meng-upgrade akses fitur TANYA apapun yang dimiliki pelanggan menjadi TANYA Plus, sehingga pertanyaan yang diajukan akan didahulukan untuk dijawab oleh Guru Ahli Kelas Pintar

    “Bagi pelanggan yang memiliki akses fitur TANYA Plus, mereka bisa mengajukan pertanyaan tanpa batasan kuota,” ucap Uffie.

    “Jadi selama memiliki Koin Kelas Pintar, mereka bisa bertanya di dua sesi TANYA yang disediakan, yaitu jam 9 pagi sampai 12 siang dan 6 sore sampai 9 malam, mulai dari hari Senin sampai Jumat,” terang Uffie.

    Koin Kelas Pintar itu sendiri dapat dibeli oleh semua pengguna Kelas Pintar dengan harga Rp 5.000/koin melalui website dan aplikasi Kelas Pintar.

    Koin tersebut berlaku selama satu tahun sejak pembelian Koin Kelas Pintar yang terakhir, jika masa aktif berakhir, maka Koin Kelas Pintar yang tersisa akan otomatis hangus.

    Namun, masa aktif koin bisa diperpanjang jika pelanggan melakukan pembelian Koin Kelas Pintar sebelum masa aktifnya berakhir. Hingga 30 Juni 2021, pembelian minimal 20 Koin Kelas Pintar mendapatkan diskon 50%.

    Terakhir saat ini Koin Kelas Pintar hanya bisa digunakan untuk melakukan transaksi di fitur TANYA Plus saja namun tidak menutup kemungkinan jika Koin akan hadir di fitur-fitur Kelas Pintar lainnya.

    {Baca juga: Kelas Pintar Luncurkan Aplikasi Khusus Android TV}

    “Saat ini Koin hanya untuk Tanya Plus tapi nanti dalam jangka panjang kita punya Guru, Kelas semua akan diintegrasikan di Kelas Pintar,” tutup Uffie.

    Sebelumnya Kelas Pintar resmi merilis Paket Extra Pintar yang merupakan paket belajar yang dapat membantu siswa melakukan pembelajaran dan persiapan ujian hingga 18 bulan kedepan.

    Melalui Paket Extra Pintar, para siswa bisa mengakses layanan Kelas Pintar Regular selama 18 bulan, mendapatkan 50 Koin Kelas Pintar setiap bulan selama 18 bulan serta akses fitur TANYA Plus selama 18 bulan. Semua itu dapat diperoleh hanya dengan harga Rp.990.000. [NM/IF]

  • Bantu Siswa Persiapkan Ujian, Kelas Pintar Rilis Paket Extra Pintar

    Bantu Siswa Persiapkan Ujian, Kelas Pintar Rilis Paket Extra Pintar

    Telko.id,Jakarta – Para siswa selalu dihadapkan dengan berbagai penilaian akademik atau ujian. Untuk mendukung siswa dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian Kelas Pintar resmi merilis Paket Extra Pintar.

    Menurut CEO dan Founder Kelas Pintar Fernando Uffie Paket Extra Pintar hadir untuk membantu siswa dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai ujian atau penilaian mulai dari Penilaian Harian hingga Penilaian Akhir Tahun (PAT).

    “Bulan lalu kami meluncurkan aplikasi Kelas Pintar khusus untuk perangkat Android TV sebagai sebuah solusi dalam menjawab kebutuhan siswa dan orang tua akan kemudahan perangkat akses,” kata Uffie melalui konferensi pers virtual pada Rabu (17/03/2021).

    {Baca juga: Kelas Pintar Luncurkan Aplikasi Khusus Android TV}

    “Kini, untuk membantu siswa mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai ujian sekolah, kami menghadirkan Paket Extra Pintar,” tambahnya.

    Paket Extra Pintar

    Paket Extra Pintar sendiri merupakan sebuah paket belajar yang tidak hanya didedikasikan untuk persiapan ujian semester tahun ini saja tapi juga untuk pembelajaran dan persiapan ujian hingga 18 bulan kedepan.

    Melalui paket ini, para siswa bisa mengakses layanan Kelas Pintar Regular selama 18 bulan, mendapatkan 50 Koin Kelas Pintar setiap bulan selama 18 bulan serta akses fitur TANYA Plus selama 18 bulan. Semua itu dapat diperoleh hanya dengan harga Rp.990.000.

    “Dan untuk semua benefit tersebut, para orang tua tidak harus membayar mahal.” ujar Uffie.

    Melalui paket ini, siswa dapat melakukan pembelajaran secara mandiri menggunakan layanan Kelas Pintar Regular dan ketika siswa menghadapi kesulitan mereka dapat langsung mengirimkan pertanyaan melalui fitur TANYA Plus yang akan selalu didahulukan untuk dijawab oleh guru ahli dari Kelas Pintar.

    {Baca juga: Cek, Ini Daftar Paket Layanan GURU dari Kelas Pintar!}

    “Bagi pelanggan yang memiliki akses fitur TANYA Plus, mereka bisa mengajukan pertanyaan tanpa batasan kuota. Jadi selama memiliki Koin Kelas Pintar, mereka bisa bertanya di dua sesi TANYA yang disediakan, yaitu jam 9 pagi sampai 12 siang dan 6 sore sampai 9 malam, mulai dari hari Senin sampai Jumat,” terang Uffie.

    Dengan hadirnya paket ini beserta fitur TANYA Plus ini, diharapkan akan meningkatkan kepercayaan diri siswa dan siap dalam menghadapi berbagai ujian di sekolah.

    Untuk memperoleh Paket Extra Pintar ini, siswa dapat mengakses laman https://www.kelaspintar.id/ atau melalui aplikasi Kelas Pintar yang tersedia di Google Play Store dan juga Apple Apps Store.

  • PJJ dan Pengaruhnya Terhadap Psikologi Anak Jelang Ujian Sekolah

    PJJ dan Pengaruhnya Terhadap Psikologi Anak Jelang Ujian Sekolah

    Telko.id – Salah satu hal yang dikemukakan oleh Kemendikbud terkait dampak dari pembelajaran jarak jauh (PJJ) adalah adanya tekanan psikologis pada anak. Dimana, itu bisa berupa stress lantaran minimnya interaksi dengan guru, teman dan lingkungan, bisa juga dikarenakan tekanan akibat sulitnya pembelajaran jarak jauh itu sendiri.

    Bagi anak yang cepat atau mudah beradaptasi, PJJ mungkin bukan sebuah masalah. Namun tidak demikian bagi anak yang sulit atau tidak cepat beradaptasi. Alih-alih efektif, PJJ justru dapat mendatangkan tekanan. Terlebih saat menghadapi ujian.

    Ya, ketidaksiapan menghadapi ujian tak dimungkiri dapat menjadi pemicu stress lainnya pada anak. Bukan saja membuat anak kurang termotivasi belajar, ada juga yang stress karena memiliki target yang tinggi tetapi bingung untuk mencapainya karena tidak ada guru yang mendampingi secara fisik.

    Lantas, bagaimana caranya agar psikologi anak tetap stabil/terjaga selama pembelajaran jarak jauh? Termasuk juga menjaga agar tetap stabil menjelang ujian sekolah?

    Tentu bukan perkara mudah. Karena bagaimanapun ada begitu banyak perbedaan yang harus dihadapi antara sebelum dan selama pandemi. Sebagai contoh, jika sebelum pandemi dulu pembelajaran 100% dilakukan di sekolah. Dimana siswa memiliki atau membentuk pola belajar yang umumnya sama. Misalnya belajar berkelompok, belajar dengan teman sebaya, mandiri, atau dengan guru sebagai fasilitator yang dapat memantau maksimal pembelajaran siswa.

    Setelah pandemi, pembelajaran dilakukan dari rumah, jarak jauh, sehingga rangkaian prosedur belajar yang dilakukan pun ikut berubah. Lebih banyak mandiri. Kalaupun ada belajar berkelompok, itu dilakukan secara virtual, sehingga tentunya ada perbedaan. Peran guru dalam proses pembelajaran pun demikian, menjadi sangat berkurang. Sebagai gantinya, orang tua mengambil alih.

    Sekali lagi, ini tidak mudah. Bukan saja bagi orang tua, tetapi juga si anak. Dari sini, berbagai tekanan psikologis mulai berdatangan. Pada level tertentu, bahkan membuat anak menjadi kurang termotivasi dalam aktivitas pembelajaran.

    Hal tersebut disampaikan Psikolog Intan Erlita, M.Psi, dalam acara PODCAST Telset TV. Menurutnya, ini semua tak terlepas dari kedudukan anak itu sendiri sebagai makhluk sosial. Dimana mereka butuh untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Dalam hal ini bukan saja orang tua, tetapi juga teman seusianya, gurunya dan lingkungannya.

    “Karena logikanya anak-anak itu, baik TK, SD, SMP, maupun SMA, membutuhkan kontak atau sosialisasi yang cukup tinggi. Dimana mereka belajar mengenali lingkungan, belajar mengenali bagaimana ngobrol dengan guru, orang yang lebih tua, serta bagaimana beradaptasi dengan teman-teman seumurannya. Pandemi ini membuat mereka kehilangan masa-masa yang dikatakan sebagai hubungan manusianya itu. Hubungan bagaimana dia beradaptasi. Nah ini menimbulkan stress tersendiri,” jelas Intan.

    Kondisi ini diperburuk dengan tuntutan belajar yang tinggi, tugas-tugas yang banyak namun waktu yang tersedia untuk mengerjakan sedikit, serta tidak adanya waktu untuk mengaktualisasikan diri.

    Di level ini, Intan menyebut bahwa banyak anak akhirnya merasa jenuh dan lelah. Ini kemudian tidak hanya berdampak pada nilai yang turun, tetapi juga emosi yang tidak terkontrol. Dimana anak mudah marah.

    “Jadi mereka gampang marah, gampang seolah-olah kayak ngelawan sama orang tuanya. Kayak dia ngga nyaman dengan kondisinya. Nah itulah yang terjadi dengan anak-anak kita saat ini, kalau kita bicara mengenai efek negatif dari PJJ,” tambahnya.

    Saat kita mengaitkan ini dengan ujian, tekanannya pun menjadi semakin tinggi. Di satu sisi, mereka masih harus beradaptasi. Di sisi lain, ada target-target yang mungkin tetap harus diwujudkan.

    “Jadi kondisi memasuki ujian ini ada dua, ada siswa yang ‘Ok I’m ready’, ada juga yang konteksnya nggak siap, akhirnya stress,” kata Intan.

    Disinilah peran orang tua sangat dibutuhkan, bukan saja sebagai supporter, yang memberi dukungan pada anak dalam proses belajarnya, tetapi juga seseorang yang bisa diajak berdiskusi, menjadi pendengar yang baik, dan tentu saja memberi motivasi.

    “Jadi sekarang ini bisa dibilang merupakan saatnya bagi kita untuk lebih mengenal anak kita. Cobalah untuk mendengarkan mereka. Dengan begitu mereka bisa berpikir, ‘saya bisa datang ke orang tua saya kapanpun saya ada masalah, karena orang tua saya mau mendengarkan.’ Karena adakalanya anak kita juga ngga butuh solusi dari kita. Mereka cuma butuh didengarkan,” lanjut Intan.

    Hal yang tak jauh berbeda diungkap Maryam Mursadi, M.Pd, pemerhati dunia Pendidikan sekaligus Head of Academic KELAS PINTAR. Meski menyebut demotivasi pada anak, khususnya menjelang ujian, kerap terjadi. Namun ini bukan berarti tak bisa diatasi apalagi dihindari.  

    Sederhananya, bicara mengenai ujian berarti bicara mengenai readiness, atau kesiapan. Jika anak siap menghadapi ujian, dalam arti paham dengan materi yang akan diujikan, berlatih dengan baik, dan rutin, maka kekhawatiran akan gagal pun bisa dihindari. Sebaliknya, bagi anak yang tidak siap, menghadapi ujian dapat mendatangkan kecemasan, dan akhirnya stress.

    “Nah, demotivasi muncul karena siswa belum siap menghadapi ujian, atau dia tahu dia belum paham atau tidak siap ujian, tapi tidak tahu bagaimana menghadapinya atau mencari jalan keluarnya,” ungkap Maryam. “Inilah mengapa mempersiapkan diri sejak awal sangatlah penting.”

    Untuk mengatasi permasalahan yang muncul karena PJJ ini, KELAS PINTAR memiliki solusinya. Misalnya ketika mengajarkan materi secara virtual, tidak semua siswa dapat memahami. Mungkin hanya 40% saja yang dipahami, bisa karena koneksi yang terputus atau sebab lainnya dan tidak bisa masuk lagi dalam kelas virtual. Kendala teknis ini bisa terjadi.

    Menurut Maryam, siswa perlu memperpanjang waktu belajarnya. Sebagai contoh, ketika terlewat atau belum paham materi pelajaran tertentu, menggunakan fitur GURU dari KELAS PINTAR siswa bisa mendapatkan penjelasan menyeluruh. 

    Pun demikian ketika siswa kurang paham dengan soal latihan yang diberikan oleh guru di sekolah, fitur Tanya dari KELAS PINTAR, ada untuk menjawab setiap soal yang ditanyakan.

    “Berdasarkan data, menjelang ujian, baik itu saat jelang PTS (Penilaian Tengah Semester) maupun PAS (Penilaian Akhir Semester), aktivitas siswa di aplikasi KELAS PINTAR sangat meningkat. Misalnya di TANYA, begitu sesi dibuka, langsung pertanyaan itu berdatangan. Baik pada sesi pagi dari pukul 09.00 – 12.00 maupun sesi malam dari pukul 18.00 – 21.00. Secara tidak langsung menunjukkan ada beberapa materi yang belum mereka pahami, dan tidak mungkin semua dijawab oleh gurunya di sekolah,” ungkap Maryam.

    Dengan demikian, belajar selama PJJ tidak akan menjadi beban, karena didukung dan difasilitasi, bukan saja oleh orang tua, ataupun lingkungan, tetapi juga platform yang tepat.

    “Kami pun di Kelas Pintar selalu mencoba untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan siswa. Bahwa siswa membutuhkan materi pembelajaran yang jelas dan lengkap, bervariasi serta relevan dengan kondisi mereka. Materi pembelajaran yang mereka inginkan juga haruslah mudah dipahami, praktis serta menyenangkan,” pungkas Maryam.

    Terlepas dari sejumlah dampak negatif yang muncul sebagai akibat diterapkannya metode pembelajaran jarak jauh (PJJ), Intan juga tidak menampik adanya dampak positif dari PJJ.  Diakuinya, momen ini menjadi saat yang tepat untuk melatih kemandirian anak. 

    Disini, Ia mengungkap tentang satu persepsi yang sejatinya harus sama-sama dimiliki orang tua saat ini: membantu tapi bukan membantu secara harfiah.

    “Biarkan anak mengurus bukunya sendiri, mengerjakan PR-nya sendiri, dan sebagainya. Jadi sudah bukan saatnya kita ngomong, ah ngga tega. Karena kadang-kadang merasa tidak tega itu membuat si anak tidak menjadi sosok yang mandiri,” tegas Intan.

    Ia menambahkan, orang tua cukup membantu sesuai porsinya. Biarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri, semaksimal yang dia bisa. “Yang penting ada usahanya, karena ini akan mempengaruhi karakternya saat dewasa,” katanya.

    Hal yang sama diamini Maryam. Menurutnya, sisi positif dari PJJ adalah siswa berlatih untuk menjadi pembelajar yang mandiri. Dimana karena keterbatasan interaksi dengan guru di sekolah, mereka mau tidak mau mencari tahu sendiri materi yang belum mereka pahami dari sumber lain. Namun, tidak bisa dipungkiri, pada era digital seperti sekarang ini, banyak konten yang belum tentu bisa dipertanggung jawabkan kebenaran. Jadi alangkah baiknya, siswa pun mencari melalui platform yang memang terbukti kredibilitas nya seperti KELAS PINTAR.

  • Kelas Pintar Luncurkan Aplikasi Khusus Android TV

    Kelas Pintar Luncurkan Aplikasi Khusus Android TV

    Telko.id – Memasuki paruh kedua tahun ajaran 2020-2021, Kelas Pintar memperkenalkan aplikasi Kelas Pintar khusus dimana pengguna dapat mengakses layanan Kelas Pintar menggunakan Android TV.

    Menurut Group Head of Product, Academic & Technology Kelas Pintar, Dedy Ariansyah
    aplikasi Kelas Pintar versi Android TV ini juga ditujukan untuk memberikan keleluasaan kepada orang tua maupun siswa dalam memaksimalkan gadget yang mereka punya untuk keperluan pembelajaran secara online.

    Melalui aplikasi ini pengguna Kelas Pintar kini bisa belajar dan latihan SOAL menggunakan Android TV.

    “Kini Kelas Pintar juga bisa diakses melalui TV Android dengan tampilan yang sudah disesuaikan agar para siswa lebih nyaman mengakses Kelas Pintar melalui layar yang lebih lebar,” ujar Dedy.

    Melalui acara virtual launching pada Rabu (17/02/2021) keberadaan aplikasi Kelas Pintar versi Android TV, diharapkan interaksi antara anak dan orang tua pada saat proses pendampingan bisa lebih intim dan nyaman sehingga belajar lebih maksimal.

    “Proses belajar dan pendampingan bisa jadi lebih intim. Selain tentu saja, ini adalah jawaban untuk para orang tua yang khawatir akan kesehatan mata putra-putrinya lantaran terlalu sering melihat layar HP maupun laptop dari jarak yang relatif dekat,” tutur Dedy.

    Sebagai informasi, aplikasi Kelas Pintar versi Android TV saat ini masih terbatas untuk produk layanan SOAL dari Kelas Pintar.

    Untuk mengaksesnya pengguna terlebih dulu harus mengunduh aplikasi Kelas Pintar melalui Google Play Store di Android TV, lalu melakukan sign in bagi yang sudah terdaftar atau pilih daftar bagi yang belum.

    Selanjutnya, di aplikasi Kelas Pintar Android TV tersebut, para siswa bisa belajar sesuai kelas masing-masing melalui materi video maupun presentasi yang ada di layanan SOAL dari Kelas Pintar.

    Para siswa juga bisa berlatih soal-soal pilihan ganda yang dilengkapi dengan penjelasan untuk memahami materi dari soal tersebut. Tak cukup sampai disitu, para siswa maupun orang tua juga bisa melihat rapor siswa, langsung dari Android TV.

    Kolaborasi Kelas Pintar dan Oxygen.id
    Selain memperkenalkan cara baru mengakses layanan SOAL melalui Android TV, Kelas Pintar juga mengumumkan kolaborasinya dengan penyedia akses internet cepat Oxygen.id untuk menyediakan paket belajar pintar dengan internet lancar.

    Melalui paket belajar tersebut, para siswa, guru, maupun orang tua bisa menikmati solusi pembelajaran jarak jauh dari Kelas Pintar secara cepat dan lancar tanpa batasan kuota internet.

    Kolaborasi dua perusahaan tersebut sekaligus bertujuan untuk menjawab kebutuhan stakeholder pendidikan akan solusi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang bisa diakses secara mudah, berkualitas, dan terjangkau.

    “Bagi kami, ini lebih dari sekadar memberikan keleluasaan bagi siswa untuk bisa mengakses Kelas Pintar, tapi juga menjadi solusi untuk menghadirkan suasana yang nyaman untuk belajar secara online,” kata Dedy.

    “Kami berharap, inisiatif ini dapat memberikan sejuta semangat pagi para siswa untuk tetap berprestasi, serta menjadi solusi bagi sekolah dan institusi Pendidikan untuk melakukan aktivitas belajar mengajar secara efektif dan efisien,” sambungnya.

    Pernyataan serupa juga dikatakan oleh Head of Product & Solution Dept. Moratelindo, Mauldi Wirastomo. Menurutnya, kolaborasi antara penyedia akses dan konten penting untuk dunia pendidikan Indonesia saat ini maupun dimasa yang akan datang.

    Terlebih kala pandemi Covid-19 memaksa dunia pendidikan tanah air untuk bertransformasi lebih cepat.

    “Akses internet dan dunia pendidikan saat ini adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Dan sebagai bentuk dukungan kami terhadap dunia pendidikan, melalui kolaborasi dengan Kelas Pintar Oxygen.id menyediakan akses internet yang cepat dan lancar,” tutur Mauldi.

    Melalui kolaborasi ini Kelas Pintar memberikan paket penawaran spesial untuk seluruh pelanggan Oxygen.id.
    Untuk paket Kelas Pintar 1 bulan misalnya, dari harga normal Rp 825 ribu/bulan, pelanggan Oxygen.id kini bisa menikmati Paket Kelas Pintar Regular dan Soal hanya dengan Rp 55.000,/bulan (Termasuk PPN 10%).

    Sedangkan Paket Kelas Pintar 1 Tahun dapat diperoleh siswa hanya dengan harga Rp.550.000,-/tahun. Harga khusus tersebut bisa diperoleh dengan cara mengakses laman http://home.oxygen.id/promo/kelas-pintar.

    Selain menggunakan Android TV, Kelas Pintar juga bisa diakses melalui laman https://kelaspintar.id menggunakan browser internet menggunakan perangkat digital lainnya seperti PC, Laptop, Tablet PC, untuk dapat memaksimalkan beragam produk dan fitur yang tersedia di Kelas Pintar.

  • Belajar Online Ideal Menurut Guru dan Orang Tua Siswa

    Belajar Online Ideal Menurut Guru dan Orang Tua Siswa

    Jakarta, 28 Januari 2021 – Belajar online ideal itu, guru harus bisa memberikan materi yang menarik sehingga tidak membuat bosan siswa. Itu yang diharapkan oleh orang tua siswa. Pasalnya, walaupun sudah ada Surat Keputusan Bersama 4 Menteri yang diumumkan pada akhir November tahun lalu, yang memperbolehkan atau memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah daerah untuk memutuskan boleh tidaknya dilakukan pembelajaran tatap muka. 

    Pun begitu, menurut Nadiem Makarim, orang tua memiliki hak penuh untuk menentukan. Bagi orang tua yang tidak menyetujui anaknya melakukan pembelajaran tatap muka, peserta didik dapat melanjutkan pembelajaran dari rumah secara penuh. Apalagi, kondisi saat ini masih belum memungkinkan untuk diadakannya pembelajaran tatap muka, sehingga belajar online yang ideal pun sangat diharapkan oleh banyak pihak.

    Sayang nya, dengan tidak adanya pembelajaran tatap muka ini banyak pihak yang mengkhawatirkan dampak negatif nya. Pemerintah sendiri melihat ada tiga kategori dampak negatif dari pembelajaran jarak jauh atau belajar online ini. 

    Kategori pertama adalah ada ancaman anak putus sekolah. Di mana anak terpaksa bekerja membantu orang tua nya yang terdampak pandemi. Lalu ada juga orang tua yang tidak melihat peran guru kalau tidak ada pembelajaran tatap muka. 

    Lalu kategori ke dua adalah kendala tumbuh kembang anak. Mulai dari ada nya kesenjangan capaian belajar anak, ketidakoptimalan pertumbuhan terutama di usia-usia emas seperti PAUD. Sampai kekhawatiran adanya resiko learning loss.

    Pada kategori ketiga, pembelajaran jarak jauh ini berdampak pada tekanan psikososial dan kekerasan dalam rumah tangga. Terjadi nya anak stress karena tidak dapat berinteraksi dengan guru, teman dan lingkungannya. Lalu, tanpa sekolah, banyak anak yang terjebak kekerasan dalam rumah tangga yang tidak diketahui oleh guru. 

    Walau pun banyak dampak negatif yang muncul, menurut pengakuan Rifal Rinaldi, salah seorang guru di SMA YWKA Bandung, secara keseluruhan yang ia lihat, capaian akademis tidak ada penurunan signifikan. Nilai para siswa didik tidak jeblok. Ini dibandingkan dengan sebelum pandemi. “Penurunan nilai tidak terjadi secara signifikan,” ungkapnya. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya siswa dapat beradaptasi dengan kondisi PJJ ini. 

    Memang diakuinya, ada dampak lain yang muncul dengan adanya PJJ ini yang bukan berkenaan dengan nilai. Tapi lebih pada karakter siswa. Rifal mengakui bahwa adanya penurunan respect atau rasa hormat siswa terhadap gurunya karena memang kuantitas pertemuan yang sangat minim. Hal ini kemudian yang membuat, ia sering ‘kehilangan’ fokus siswa nya saat PJJ. 

    Hal itu juga yang dilihat dan dirasakan oleh Meilin, orang tua siswa SMP di Jakarta Timur. Menurut nya, sekolah dalam proses pembelajaran jarak jauh atau belajar online ideal itu adalah dapat memberikan motivasi pada murid agar tidak malas belajar dan tidak membosankan. 

    “Saya melihat, anak saya dengan PJJ ini tambah malas, malah ibu nya yang tambah rajin, tambah pintar. Kalau pun ada kelas virtual, tidak sepenuh nya anak itu fokus mengikuti pelajaran. Terkadang sibuk dengan smartphone nya sehingga kurang memperhatikan guru yang sedang menjelaskan,” ungkap Meilin. 

    Ditambah lagi, sering kali putri nya malas untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Sampai dirinya sering mendapatkan teguran dari wali kelas karena putrinya belum menyerahkan tugas. “Setelah dapat teguran, baru deh, anak saya mengerjakan tugasnya. Kadang bertumpuk sampai 4-5 tugas,” cerita Meilin dalam Podcast Telset yang digelar pada Selasa, 26 Januari 2021. 

    Meilin berharap, belajar online ideal selama PJJ ini, guru dapat memberikan materi pelajaran dengan lebih interaktif dan tidak membuat bosan sehingga siswa pun dapat lebih bersemangat dan fokus ketika belajar.

    Hal yang sama juga disampaikan oleh Rifal, “Kami sebagai guru, sudah berusaha maksimal agar siswa memperhatikan materi yang kami ajar kan. Namun, tetap sulit untuk bisa mendisiplinkan siswa ketika melakukan pembelajaran secara virtual. Yang bisa kami lakukan hanya coba berkoordinasi dengan orang tua untuk bisa melakukan pendampingan belajar mulai dari jam 7 sampai jam 11. Boleh orang tua, kakak, saudara atau siapapun saja. Yang penting ada yang mendampingi sehingga siswa pun dapat mengikuti pelajaran dan memahami materi”.

    Rifal juga menambahkan bahwa sekitar 60% siswa yang melakukan PJJ tidak fokus, seperti yang dikeluhkan oleh Meilin. Walau demikian, guru juga terus mencari formula yang tepat agar siswa bertambah fokus dan maksimal dalam belajar jarak jauh ini. 

    Untuk mengurangi dampak negatif tersebut, Rifal menyebutkan bahwa sekolah nya melakukan home visitHome visit ini dilakukan oleh wali kelas atau guru BK untuk mencari tahu dan melakukan pemantauan terhadap perkembangan siswa. Masalahnya, untuk siswa SMA, agak sulit juga kalau orang tua harus membantu putra putri nya untuk belajar. Maklum saja, materi yang dipelajari juga jauh lebih sulit ketimbang untuk siswa SD maupun SMP. “Jadi, home visit ini, bagi kami sangat bermanfaat”.

    Menurut Maryam Mursadi, Head of Academic dari KELAS PINTAR, memang dampak negatif dari pembelajaran jarak jauh atau e-learning ini tidak bisa dihindari. “Kondisi sarana dan prasarana yang tidak merata disetiap daerah, juga menjadi penyebab munculnya dampak negatif tersebut,” ungkap Maryam. 

    Yang penting menurut Maryam adalah guru dan orang tua harus re-orientasi tentang pembelajaran jarak jauh ini. Guru dan orang tua harus paham bahwa, PJJ ini tidak sama dengan pembelajaran tatap muka, bahkan sangat berbeda. Ini yang perlu dipahami. 

    Misalnya, jika sekolah normal, ketika siswa ada yang tidak mengerti dengan materi pelajaran, bisa langsung bertanya pada gurunya atau diskusi dengan temannya. Nah, saat PJJ, hal ini tidak bisa dilakukan. 

    Untuk mengatasi permasalahan yang muncul karena PJJ ini, KELAS PINTAR memiliki solusinya. Misalnya ketika mengajarkan materi secara virtual, tidak semua siswa dapat memahami. Mungkin hanya 30% saja yang dipahami, bisa karena koneksi yang terputus atau sebab lainnya dan tidak bisa masuk lagi dalam kelas virtual. Kendala teknis ini bisa terjadi. 

    Lalu yang 70% nya bagaimana? Menurut Maryam, guru dapat mengarahkan siswa untuk mempelajari materi yang ada dalam KELAS PINTAR sesuai dengan pelajaran dan kelas nya. Baik itu yang berbentuk ebook, animasi atau video yang berisikan materi pelajaran yang diberikan oleh guru dari KELAS PINTAR. Dengan demikian, siswa dapat mencapai pemahamannya secara utuh dengan belajar mandiri melalui konten yang ada didalam KELAS PINTAR. 

     “Ini yang kami sebut dengan Scaffolding. Di mana anak belajar bukan hanya dari 1 sumber saja, dari guru saja, tetapi bisa juga dari teman, orang tua dan sumber lain-lain,” ujar Maryam. 

    Guru juga bisa membuatkan kelompok, jadi siswa bisa belajar secara kelompok. Ini juga akan meningkatkan pencapaian dalam pehaman pada materi pelajaran. 

    Hal ini juga yang dilakukan oleh Rifal. Ketika melakukan video conference yang disebut KELAS dalam layanan SEKOLAH dari KELAS PINTAR, ia dapat mengarahkan siswa nya untuk mengekplorasi materi pelajarannya atau memberi tugas. Semua nya terintegrasi. 

    Untuk mengatasi anak malas, atau tidak termotivasi. Biasa nya anak itu akan termotivasi itu jika ada reward dan punishment. “Lalu kalau guru, kita nih lagi jaman susah nih, internet susah, kita maklumin saja. Nah, itu tidak boleh. Ini merupakan bagian dari pembanguna karakter. Ini pun dapat menjadi motivasi bagi siswa dan membiasakan siswa untuk belajar secara mandiri,” ujar Maryam menegaskan. 

    Sedangkan untuk pembangunan karakter siswa, menurut Maryam, dengan adanya reward and punishment bisa membantu masalah tersebut. 

    “Guru harus cukup tegas memberlakukannya. Cara tersebut juga dapat memotivasi siswa untuk bisa belajar mandiri. Walaupun, pembangunan karakter ini tidak dapat serta merta terbentuk, tetapi dapat membentuk karakter siswa dikemudian hari,” ujar Maryam. 

    Dalam KELAS PINTAR sendiri, untuk pembangunan karakter ini ada dalam latihan soal atau test. Terutama dalam soal-soal yang masuk dalam katagori HOTS atau High Order Thinking Skill. Jadi bukan sekedar soal essay atau pilihan ganda saja. Tetapi juga studi kasus yang bisa disampaikan guru dalam tugas pada siswa dan dikerjakan secara berkelompok. 

    “Jadi proses pembelajaran jarak jauh ini tidak hanya satu arah saja, bisa lebih interaktif dan tentu nya akan membantu guru karena penyerahan hasil tugas juga jumlah nya berkurang, tetapi siswa semua nya bisa mendapatkan nilai. Yang lebih penting, siswa dapat ”, ujar Maryam menambahkan.

    Selain itu, KELAS PINTAR juga memiliki layanan TANYA. Di mana layanan ini akan membantu siswa ketika mendapatan soal yang sulit. Guru Ahli dari KELAS PINTAR akan membantu. Nah, saat PJJ ini, KELAS PINTAR pun menambah jam operasional layanan TANYA. Yang dulu hanya malam saja, sekarang ditambah dengan pagi hari. Harapannya, ketika siswa diberi tugas oleh gurunya dan kesulitan dalam pengerjaan, bisa bertanya pada guru dari KELAS PINTAR. 

  • Gredu Update Fitur Dan Layanan Agar lebih Aman dan Nyaman

    Gredu Update Fitur Dan Layanan Agar lebih Aman dan Nyaman

    Telko.id – Gredu update fitur dan layanan dalam aplikasinya agar semakin aman dan nyaman untuk mendukung sistem pembelajaran daring. Hal ini dilakukan untuk turut mendukung digitalisasi sekolah terbukti yang telah membantu proses belajar dan mengajar yang lebih efisien, efektif, transparan, dan terukur.

    “Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi dunia pendidikan di Indonesia karena harus melakukan migrasi secara cepat ke sistem online. Bagi sekolah yang sudah bekerja sama dengan Gredu, migrasi mendadak bukan menjadi kendala lagi karena Gredu telah menyediakan sistem manajemen sekolah, kegiatan belajar-mengajar hingga administrasi sekolah,” tutur Rizki Anies, CEO Gredu.

    Rizki menambahkan bahwa di tahun yang baru ini, Gredu membawa semangat baru pula dengan memperkaya aplikasi Gredu melalui sejumlah pembaruan aplikasi agar kian mudah digunakan oleh para pengguna yakni sekolah, guru, orang tua, dan siswa.

    Update atau pembaruan aplikasi Gredu mencakup dua sisi yakni fitur dan layanan. Gredu melakukan penambahan serangkaian fitur seperti bank soal, remedial, resubmisi, kelas interaktif yang dilengkapi indikator pemahaman siswa, serta rapor yang mencakup rekapitulasi nilai, informasi ekstrakurikuler, serta kolom deskripsi dan komentar.

    Gredu update
    Contoh aplikasi Gredu update awal tahun 2021

    Sementara itu di sisi servis, Gredu melakukan pembaruan sistem training, pengadaan Posko Bantuan Gredu, merilis laman FAQ dan penyediaan customer support, membuat video tutorial yang dapat diakses melalui kanal Youtube Gredu, dan rutin melangsungkan webinar serta survei terkait isu pendidikan.

    Pembaruan aplikasi yang dilakukan Gredu merupakan upaya untuk mendukung semua kegiatan belajar-mengajar secara daring. Dengan pembenahan tersebut, sejak Juni 2020 Gredu justru mengalami kenaikan jumlah pengguna.

    Pada November-Desember lalu, Gredu meraih tingkat kesuksesan sebesar 84% terkait pelaksanaan Penilaian Akhir Semester (PAS) menggunakan platform Gredu. Dalam situasi pandemi, Gredu terus melakukan pembenahan agar sekolah digital bisa dilakukan dari mana saja dengan aman, mudah, dan nyaman.

    Untuk menunjang pembaruan aplikasi dan ekspansi bisnis, Gredu juga berencana mengajukan pendanaan seri A pada pertengahan tahun 2021.

    Memasuki semester genap Tahun Ajaran 2020/2021, Gredu tetap fokus untuk mengedepankan digitalisasi sekolah agar pembelajaran jarak jauh dapat dilakukan secara mudah dan terintegrasi dalam satu wadah. Melalui platform dan aplikasi yang dimilikinya, Gredu juga turut mendukung keberlangsungan sistem pembelajaran nasional dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) baik secara online maupun offline.

    “Sesuai dengan misinya dan update yang terus berkesinambungan, Gredu selalu memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan di Indonesia agar sistem belajar-mengajar tetap berjalan dengan aman karena dapat dilakukan di rumah masing-masing serta memiliki sistem keamanan yang terjamin oleh GREDU, serta nyaman dan mudah karena platform kami yang user friendly,” ungkap Bravo Dahono, Lead Product Manager Gredu. (Icha)

  • Belajar Online Hadirkan Harmonisasi Antara Sekolah dan Orang Tua

    Belajar Online Hadirkan Harmonisasi Antara Sekolah dan Orang Tua

    Telko.id – Belajar online hadirkan harmonisasi antara sekolah dan orang tua. Demikian yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta, Nahdiana saat melakukan Podcast Bersama Telset TV.

    Pada awal, memang kegiatan belajar online menjadi tantangan bagi guru, siswa atau orang tua. Pasalnya mereka harus beradaptasi untuk mengubah kebiasaan dari belajar secara tatap muka menjadi secara online melalui perangkat smartphone, laptopdan aplikasi.

    Adaptasi tersebut sepintas memang menjadi tantangan bahkan kesulitan namun secara perlahan kegiatan belajar online hadirkan harmonisasi yang semakin kuat antara antara sekolah, guru, pemerintah dan orangtua di masa pandemi ini.

    Namun ternyata kegiatan belajar online hadirkan harmonisasi antara stakeholder semakin kuat. Bahkan hal ini yang menjadi “hikmah” di masa pandemi.

    Menurut Nahdiana selama ini peran sekolah dan orangtua seperti ada pembatas. Ketika anak  masuk ke sekolah, orangtua seolah-olah melepas tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah.

    “Barangkali ada hikmahnya. Hadirnya pandemi itu ada hikmahnya. Kalau dahulu sekolah mungkin sebagian mengatakan sudah selesai anak-anaknya sudah diantar ke sekolah. Kegiatan pembelajaran itu ada di sekolah. Seolah-olah ada pembatas,” ungkap Nahdiana.

    Saat pandemi semua berubah. Sekolah dan orangtua harus berkolaborasi supaya kegiatan belajar online bisa maksimal. Guru harus memberikan materi pembelajaran yang maksimal kepada anak secara online, sedangkan orangtua harus mendampingi anak saat belajar di rumah.

    Hasilnya muncul harmonisasi antar stakeholder pendidikan yang bertujuan untuk memberikan pendidikan secara maksimal kepada anak.

    “Jadi bagaimana harmonisasi antara sekolah, orangtua, guru dengan dinas pendidikan tapi fokusnya pada anak bukan pada ego sektoral masing-masing,” tutur Nahdiana.

    Pendapat serupa juga dikatakan oleh Founder dan CEO Kelas Pintar, Fernando Uffie. Menurut Uffie harmonisasi antar stakeholder semakin kuat ketika didukung oleh teknologi seperti Kelas Pintar.

    Kelas Pintar adalah solusi belajar berbasiskan teknologi yang berperan sebagai pendamping belajar siswa dengan berbagai fitur unggulan seperti Kelas, Guru, Tanya dan Sekolah.

    “Kelas pintar dihadirkan sebagai solusi belajar berbasiskan teknologi dan peran kita sebagai pendamping belajar. Pendamping belajar itu sendiri baik itu belajar di sekolah maupun di luar jam sekolah,” kata Uffie.

    Di masa pandemi, Kelas Pintar sendiri menghadirkan fitur bernama Sekolah. Fitur ini telah lama dikembangkan sebelum pandemi Covid-19 dan hadir untuk mendukung siswa belajar di rumah.

    Melalui Sekolah, guru dan siswa dapat terhubung dalam kelas virtual sehingga pembelajaran dapat dilakukan maksimal walaupun secara virtual.

    Apalagi terdapat menu Project, Tugas dan Monitoring sehingga kegiatan belajar layaknya berada di ruang kelas sungguhan.  Fitur Sekolah sendiri telah diluncurkan pada Juli 2020 lalu.

    Teknologi Dukung Kegiatan Belajar Online 

    Kegiatan belajar online atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memerlukan teknologi dalam menunjang kegiatan belajar. Masyarakat yang awalnya kesulitan untuk menggunakan teknologi untuk PJJ secara perlahan mulai beradaptasi dengan teknologi.

    Uffie telah melakukan diskusi kepada pengguna Kelas Pintar mengenai penggunaan teknologi Kelas Pintar dalam kegiatan pembelajaran.

    Penelitian dilakukan sejak bulan Juli sampai Desember 2020 berkaitan dengan adaptasi penggunaan teknologi di sebuah wilayah di Jawa Barat.

    “Data yang kita punya terhadap suatu daerah di Jawa Barat yang terdiri dari 356 SD dan 49  SMP itu terdiri dari 172 ribu siswa. Hasilnya kita melihat grafik kenaikan dari penggunaan teknologi,” jelas Uffie.

    Awalnya adaptasi penggunaan teknologi hanya 20% sampai 30% saja. Tetapi di bulan Agustus 2020 terjadi kenaikan sampai 50% dan puncaknya mencapai 60% di bulan Oktober 2020.

    “Awalnya mereka bertanya-tanya apakah teknologi ini ancaman tidak. Tetapi saat kita melakukan sosialisasi, hasilnya mereka memahami bahwa teknologi ini justru sangat membantu bagi mereka,” tutur Uffie.

    Berdasarkan data tersebut itu juga menunjukan bahwa teknologi merupakan elemen penting bagi masyarakat untuk dapat bertahan di masa pandemi sekaligus sebagai pendorong mereka untuk terus maju.

    “Pendidikan berbasis teknologi ini yang membuat masyarakat bertahan dan dapat membantu semua stakeholder untuk maju ke depan,” tambah Uffie dalam acara Podcast Bersama Telset TV.

    Kesiapan Sekolah Hadapi Pembelajaran Tatap Muka

    Pemerintah Indonesia menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri Tentang Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi.

    Melalui kebijakan tersebut daerah-daerah yang berada di zona kuning dan hijau menurut Satgas Penanganan Covid-19 dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran tatap muka secara bertahap.

    SKB 4 Menteri disikapi Pemprov DKI Jakarta dengan menyeluruh. Menurut Nahdiana, kesiapan sekolah untuk menghadapi pembelajaran tatap muka bukan hanya kesiapan satu sisi saja tetapi menyeluruh.

    Hal ini karena sekolah menjadi tempat yang memiliki mobilitas yang tinggi sehingga perlu dipersiapkan dengan matang.

    “Jadi Kami bukan hanya menyiapkan infrastruktur saja tetapi juga menyiapkan guru dan stakeholder-stakeholder lainnya di sekolah. Karena ini bukan cuma buka sekolah terus anak-anak masuk,” jelas Nahdiana.

    Nahdiana mengatakan bahwa Pemprov DKI akan mengukur dan melakukan evaluasi sekolah dengan ketat terkait sekolah mana saja yang bisa melakukan pembelajaran tatap muka.

    “Siap sekolah bukan sekedar siap saja. Kita mengukur dengan assessmentyang kita berikan. Saat ini sekolah telah mengisi persyaratan-persyaratan sekolah dan ini kita sedang evaluasi. Jadi kesiapan bukan asal tunjuk,” tutur Nahdiana.

    Sedangkan menurut Uffie, teknologi pendidikan seperti Kelas Pintar justru akan mendukung pembelajaran tatap muka di masa pandemi baik di saat jam sekolah maupun di luar jam sekolah.

    “Kelas Pintar merupakan Solusi Pendidikan Berbasis Teknologi, dan teknologi sendiri tidak terbatas dengan adanya pandemi atau berakhirnya pandemi. Sehingga pandemi bukan menjadi indikator hadirnya teknologi dalam dunia pendidikan. Pendidikan Berbasis Teknologi sudah menjadi bagian dari siswa dalam dunia pendidikan Indonesia dan telah dijalankan sampai dengan saat ini.”

     

     

     

  • Sekolah Tatap Muka, GREDU Usulkan Blended Learning

    Sekolah Tatap Muka, GREDU Usulkan Blended Learning

    Telko.id – Gredu Usulkan Blended Learning terkait adanya Surat Keputusan Bersama 4 Menteri yang baru saja dikeluarkan dan mengizinkan sekolah tatap muka di seluruh Indonesia mulai Semester Genap Tahun Ajaran 2020-2021.

    Memang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memberikan wewenang kepada Pemerintah Daerah, Kantor Wilayah (Kanwil), dan Kementerian Agama untuk menentukan sekolah mana saja yang bisa melakukan kegiatan belajar tatap muka ini.

    “Sebagai bagian dari ekosistem pendidikan di Indonesia, Gredu siap untuk selalu mendukung kebijakan dari pemerintah termasuk untuk pembelajaran tatap muka. Meski demikian perlu untuk tetap mempertimbangkan para siswa yang tidak dapat hadir di sekolah karena berbagai kendala. Oleh karena itu Gredu usulkan Blended Learning atau Sistem Belajar Campuran (SBC) untuk membantu pembelajaran tetap berlangsung secara efisien dan efektif,” ujar Rizky Anies, CEO Gredu.

    Gredu usulkan Blended Learning ini karena masih ada sejumlah kendala yang akan dihadapi oleh sekolah yang membuka kelas tatap muka di awal tahun depan. Selain harus ketat dalam mengedepankan protokol kesehatan, sekolah perlu mengantongi izin dari Kepala Sekolah dan orang tua murid melalui komite sekolah.

    Beberapa ketentuan lainnya yakni  sekolah hanya dapat diisi oleh maksimum 50% dari kapasitas dengan sistem rotasi atau shifting, orang tua memiliki hak untuk tidak mengizinkan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah. Sementara itu, belum ada kepastian terkait status kehadiran bagi tenaga pendidik pada pembelajaran tatap muka.

    Untuk itulah Gredu lebih mengandalkan Sistem Belajar Campuran (SBC) sebagai jembatan awal agar jadwal belajar dapat dilaksanakan bergiliran seperti piket. Sistem ini juga memastikan peserta didik akan memperoleh kualitas pembelajaran yang setara secara daring (online) atau luring (offline).

    Dengan adanya SBC, Gredu berharap para tenaga pendidik tidak perlu harus mengajar dua kali atau kebingungan dalam menyeimbangkan kualitas pembelajaran ke siswa.

    Selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejak April hingga Desember 2020, GREDU telah menambah kerja sama dengan lebih dari 300 sekolah di tanah air. Hal ini menunjukkan bahwa online platform yang mendukung terlaksananya PJJ memang dibutuhkan selama kondisi pandemi dan terbukti cukup efektif khususnya bagi masyarakat perkotaan. Di sisi lain, masyarakat mulai terbuka untuk belajar melek teknologi.

    Gredu mengakui bahwa proses transisi untuk mengubah kebiasaan bersekolah secara konvensional menuju digital tidaklah mudah. Berdasar hasil penelusuran, kendala utama proses digitalisasi dipicu karena ketimpangan tingkat literasi digital dan kepemilikan gawai. Problem seperti ini terasa ketika Penilaian Tengah Semester (PTS) pada September 2020 silam.

    Gawai yang tidak kompatibel, isu kuota dan kecepatan internet, serta pemahaman tentang aplikasi Gredu yang masih belum maksimal, menyebabkan proses PTS menjadi sedikit terhambat.

    Guna mengatasi hambatan yang terjadi saat PTS berlangsung, Gredu telah melakukan penggalangan donasi gawai bagi peserta didik yang tidak mampu. Bersama Kitabisa.com dan Kumparan Derma, Gredu menggelar kampanye #UnitGawaiDarurat untuk meningkatkan kemampuan dalam menjalankan aplikasi belajar online. Selain itu, Gredu juga mendirikan posko secara berkala untuk mengatasi permasalahan yang dialami pengguna, hingga membantu menyediakan materi cetak bagi sekolah yang mayoritas peserta didiknya belum memiliki gawai.

    Pada Rabu (2/12), Gredu kembali menguji platformpendidikannya selama pelaksanaan Penilaian Akhir Semester (PAS). Di dua hari pertama, jumlah peserta didik yang mengerjakan PAS melalui platform Gredu tercatat mengalami kenaikan signifikan dibandingkan saat Penilaian Tengah Semester (PTS).

    “Kondisi di lapangan sangat beragam sehingga masalah yang muncul pun pasti berbeda antara satu sekolah dengan lainnya. Namun kebanyakan berhubungan dengan problem infrastruktur, sehingga perlu adanya dukungan dari seluruh stakeholderdi dunia pendidikan agar kita tetap bisa menyelanggarakan sistem belajar-mengajar yang berkelanjutan dengan sekolah tatap muka atau sistem belajar campuran, demi masa depan bangsa Indonesia,” tambah Rizky. (Icha)