Telko.id – China menenggelamkan data center berisi sekitar 2.000 server ke dasar laut, meneruskan konsep yang sebelumnya sempat dijajaki lalu ditinggalkan Microsoft, melansir dari Kompas pada Selasa, 15 September 2026. Fasilitas ini kini sudah beroperasi penuh di lepas pantai Shanghai, tepatnya 35 meter di bawah permukaan laut di kawasan khusus Lingang, sekitar 9,7 kilometer dari garis pantai, dengan kapasitas listrik mencapai 24 megawatt.
Prinsip Pendinginan Alami dari Air Laut
Prinsip kerja data center ini terbilang sederhana: air laut yang dingin dipakai untuk membuang panas dari server, sehingga mesin pendingin raksasa seperti yang biasa digunakan pada data center di daratan tidak lagi diperlukan. Kumpulan kartu grafis (GPU) di dalam fasilitas ini dioperasikan oleh China Telecom dan LinkWise, sementara bangunannya sendiri digarap bersama HiCloud Technology, yang juga dikenal dengan nama Hailanyun.
Hasil dari pendekatan ini terlihat pada angka Power Usage Effectiveness (PUE), yakni ukuran seberapa boros sebuah data center — nilai PUE fasilitas Shanghai diklaim berada di bawah 1,15, jauh lebih efisien dibanding rata-rata industri yang berkisar di angka 1,5.
Meneruskan Konsep yang Ditinggalkan Microsoft
Konsep data center bawah laut ini sebetulnya bukan hal baru. Microsoft sudah lebih dulu menguji ide serupa lewat Project Natick pada 2018, saat perusahaan menurunkan 855 server dengan kapasitas 27,6 petabyte ke kedalaman 117 kaki di Laut Utara, dengan memompa keluar udara di dalam kapsul dan menggantinya dengan nitrogen kering. Noelle Walsh, kepala divisi Cloud Operations + Innovation (CO+I) Microsoft, menegaskan percobaan tersebut sebenarnya berhasil.
Baca Juga:
- Data Center AI Dinilai Perparah Ancaman Krisis Air di Inggris
- Startup Bangun Data Center AI di Tengah LautChina Tenggelamkan 2.000 Server, Lanjutkan Ide Microsoft
“Tim saya mengerjakannya, dan itu berhasil. Kami belajar banyak soal pengoperasian di bawah permukaan laut, juga soal getaran dan dampaknya ke server,” ujar Walsh. Meski begitu, Microsoft tidak pernah merinci alasan pasti di balik keputusan menghentikan proyek tersebut, dan hanya menegaskan bahwa riset Natick tidak dibuang seluruhnya, melainkan tetap dipakai sebagai wadah riset untuk konsep-konsep baru seperti perendaman cairan.
Kecepatan Jadi Pembeda Utama
Yang membedakan proyek China dengan Project Natick milik Microsoft justru soal kecepatan eksekusinya. Peneliti dari University of California, Davis, Zhang Ning, mencatat bahwa Hailanyun hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 bulan untuk melompat dari tahap uji coba ke pemakaian komersial penuh — langkah yang menurut Zhang tidak pernah ditempuh Microsoft lewat Project Natick. Beban kerja yang ditangani data center Shanghai ini mencakup pemrosesan AI, layanan 5G, dan pelabelan data skala besar, dengan kemampuan komputasi yang disebut setara dengan melatih model GPT-3.5 dalam waktu satu hari saja.
Kekhawatiran Dampak terhadap Lingkungan Laut
Meski menawarkan efisiensi energi, tidak semua pihak sepakat bahwa cara ini aman bagi ekosistem laut. Insinyur Cadence Design Systems, Mark Seymour, menyoroti masalah perawatan sebagai kendala utama, mengingat server yang sudah tersegel di dasar laut akan sulit diperbarui atau ditingkatkan spesifikasinya. Selain itu, riset pada 2022 memperingatkan bahwa air buangan dari data center bisa menjadi lebih hangat dan miskin oksigen saat terjadi gelombang panas laut, kondisi yang berisiko mengganggu biota laut di sekitar fasilitas tersebut.


