Telko.id – Kebutuhan infrastruktur AI yang terus meningkat mulai mendorong munculnya konsep pusat data generasi baru. Salah satunya datang dari startup bernama Panthalassa, yang mengembangkan data center AI di tengah laut dengan memanfaatkan tenaga ombak sebagai sumber listrik utama.
Energi laut lepas dan komputasi lepas pantai akan berkembang lebih cepat daripada pusat data di darat membuat perusahaan ini berhasil mengantongi pendanaan Seri B sebesar US$140 juta (sekitar Rp 2,2 triliun). Dana ini akan digunakan untuk mengubah prototipe mereka menjadi perangkat keras komersial perdana.
Panthalassa menghadirkan konsep pusat data terapung yang bekerja secara mandiri di laut lepas. Sistem ini menggunakan platform khusus bernama nodes, yaitu struktur baja besar yang bergerak mengikuti gelombang laut untuk menghasilkan energi listrik.
Energi tersebut kemudian langsung digunakan untuk menjalankan chip dan server AI di dalam kapsul komputasi yang tertutup rapat.
Menariknya, listrik yang dihasilkan tidak dialirkan ke darat. Seluruh energi dipakai langsung di lokasi untuk menjalankan proses komputasi AI, sementara hasil pengolahan data dikirim melalui koneksi internet satelit seperti Starlink.
Baca Juga:
- Singapore Airlines Adopsi Starlink di Pesawat
- Telkomsat Perkuat Konektivitas Digital di Wilayah 3T Indonesia Timur
Pendekatan ini dianggap lebih efisien karena mengurangi kebutuhan transmisi listrik jarak jauh yang selama ini menjadi tantangan proyek energi laut.
Selain memanfaatkan ombak sebagai sumber energi, laut juga digunakan sebagai sistem pendingin alami bagi server AI.
Pendinginan menjadi salah satu tantangan terbesar data center modern karena beban kerja AI menghasilkan panas yang sangat tinggi.
Dengan memanfaatkan suhu laut yang stabil, perusahaan mengklaim konsumsi energi pendingin bisa ditekan sekaligus membantu memperpanjang umur perangkat keras.
“Salah satu wawasan utama yang kami miliki adalah sangat penting untuk menggunakan listrik di tempat,” ungkap CEO dan salah satu pendiri Panthalassa, Garth Sheldon-Coulson. “Kami tidak akan pernah mentransmisikan listrik kembali ke pantai. Itulah yang membuat kami sangat berbeda dari semua proyek energi laut yang pernah dicoba di masa lalu.”
Suntikan dana segar ini akan digunakan untuk menyelesaikan fasilitas manufaktur percontohan di dekat Portland, Oregon. Proyek ambisius ini turut menarik perhatian sejumlah investor kelas kakap, termasuk Peter Thiel, Marc Benioff (TIME Ventures), dan Max Levchin (SciFi Ventures).
Setelah sukses menguji prototipe awal (Ocean-1, Ocean-2, dan Wavehopper), Panthalassa kini bersiap meluncurkan seri Ocean-3 di Pasifik Utara mulai tahun 2026, dengan target ekspansi komersial pada tahun 2027.
Sheldon-Coulson, yang juga mantan peneliti energi dan AI, meyakini bahwa ombak pada dasarnya adalah bentuk energi matahari yang tersimpan.
“Ombak diciptakan oleh angin, dan angin diciptakan oleh panas dari matahari. Jadi ombak adalah sinar matahari yang terkonsentrasi dua kali lipat, dan mereka terus bergerak bahkan saat angin berhenti. Ombak seperti baterai untuk sinar matahari, dan kita bisa memanfaatkannya 24/7,” pungkasnya, dikutip dari Financial Times, Kamis (7/5/2026).
Jika konsep ini berhasil diterapkan dalam skala besar, data center masa depan kemungkinan tidak lagi sepenuhnya dibangun di daratan.
Infrastruktur AI bisa mulai bergerak ke laut demi mendapatkan sumber energi yang lebih stabil, pendinginan alami, dan efisiensi operasional yang lebih tinggi.


