Telko.id – Dewan Guru Besar BINUS University resmi meluncurkan gagasan AI for Life dalam peringatan 45 tahun perjalanan institusi tersebut.
Konsep ini menekankan bahwa kecerdasan buatan harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan sekadar mengejar kecanggihan teknologi.
Dalam momentum Lustrum IX yang digelar di Tangerang, para Guru Besar BINUS menilai bahwa perkembangan AI saat ini tidak boleh berhenti pada penggunaan tools atau aplikasi semata.
Teknologi ini perlu dipahami secara komprehensif sebagai bagian dari transformasi kehidupan, pendidikan, industri, kreativitas, tata kelola, hukum, hingga strategi nasional.
Ketua Dewan Guru Besar BINUS University, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M., menyampaikan bahwa peringatan 45 tahun menjadi momentum penting bagi para Guru Besar untuk hadir tidak hanya di ruang akademik, tetapi juga menyampaikan kontribusi pemikiran bagi masyarakat luas.
“Di usia 45 tahun BINUS, kami bersyukur atas perjalanan yang telah dilalui dan menghargai seluruh kontribusi yang telah membentuk BINUS hingga hari ini,” kata Harjanto.
Namun, rasa syukur itu juga harus diwujudkan melalui komitmen untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi Indonesia.
“Melalui gagasan AI for Life, Dewan Guru Besar BINUS ingin menegaskan bahwa teknologi, khususnya AI, harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya,” ujar Harjanto.

Gagasan AI for Life dirumuskan melalui pendekatan lintas keilmuan. Pendekatan ini menegaskan bahwa AI bukan hanya isu teknologi, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan, industri, kreativitas, tata kelola, hukum, geopolitik, dan kebijakan nasional.
Para Guru Besar BINUS University menyoroti tiga fokus strategis pemanfaatan AI bagi masa depan Indonesia.
Fokus Pertama: Teknologi, Engineering, dan IT
Subtim A yang terdiri dari Prof. Firdaus Alamsjah, Prof. Widodo Budiharto, dan Prof. Engkos A. Kuncoro menyoroti pentingnya transformasi digital yang tidak berhenti pada penggunaan teknologi.
AI perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat kualitas pengambilan keputusan, membangun kapabilitas baru, serta menciptakan inovasi yang berdampak bagi industri dan masyarakat.
Dalam pandangan subtim ini, tantangan Indonesia bukan sekadar mengadopsi AI, tetapi bagaimana mengubah AI menjadi nilai ekonomi dan sosial yang nyata. Organisasi, industri, dan institusi pendidikan perlu bergerak dari AI adoption menuju AI transformation.
Hal ini membutuhkan kesiapan sumber daya manusia, literasi digital, tata kelola data, perlindungan privasi, etika, dan kepemimpinan yang adaptif.
Fokus Kedua: Bisnis dan Industri Kreatif
Subtim B yang terdiri dari Prof. Harjanto Prabowo, Prof. John Fredy Bobby Saragih, Prof. Mita Purbasari Wahidiyat, dan Prof. Lindrianasari menekankan bahwa AI perlu dipahami bukan sebagai ancaman bagi kreativitas dan dunia usaha.
Sebaliknya, AI adalah peluang untuk memperkuat inovasi, efisiensi, daya saing, dan penciptaan nilai baru dalam ekosistem bisnis dan industri kreatif Indonesia.
Dalam industri kreatif, AI dapat menjadi mitra yang membantu mempercepat eksplorasi ide, memperluas akses produksi, dan membuka peluang ekonomi baru.
Namun, kreativitas tetap membutuhkan rasa, konteks budaya, pengalaman hidup, kepekaan sosial, dan pemaknaan manusia. Karena itu, AI bukan jalan pintas untuk menggantikan kreativitas, melainkan teknologi yang perlu dikelola agar memperkaya proses kreatif dan memperkuat nilai tambah karya manusia.
Fokus Ketiga: Geopolitik Global, Hukum, dan Kebijakan Nasional
Subtim C yang terdiri dari Prof. Mts Arief, Prof. Tirta N. Mursitama, dan Prof. Shidarta menyoroti pentingnya kesiapan Indonesia dalam menghadapi tantangan global yang berkaitan dengan AI.
Hal ini mencakup kedaulatan data, keamanan siber, perang asimetris, regulasi, kepastian hukum, serta arah kebijakan nasional yang adaptif dan berpihak pada kepentingan bangsa.
AI kini telah menjadi bagian dari dinamika global yang memengaruhi daya saing negara, keamanan nasional, tata kelola pemerintahan, hingga posisi Indonesia dalam percaturan internasional.
Oleh karena itu, pemanfaatan AI perlu didukung dengan kebijakan yang konsisten, regulasi yang responsif, perlindungan data pribadi, serta strategi nasional yang mampu melindungi kepentingan publik sekaligus mendorong inovasi.
Baca Juga:
Melalui tiga fokus tersebut, Dewan Guru Besar BINUS University ingin menegaskan bahwa AI perlu dipahami secara menyeluruh. AI bukan hanya tentang kecanggihan teknologi, melainkan tentang bagaimana teknologi dapat diarahkan untuk memperkuat kualitas hidup manusia, memperluas akses, menciptakan peluang, melindungi masyarakat, dan mendukung pembangunan bangsa.
Pemikiran ini juga sejalan dengan orasi ilmiah yang mengangkat tema “Shaping the Next Intelligence Era: Artificial Intelligence, Leadership, and Collaboration.”
Dalam era kecerdasan baru, kepemimpinan dan kolaborasi menjadi kunci agar AI dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Teknologi tidak dapat berdiri sendiri tanpa arah, nilai, dan tanggung jawab. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun literasi, etika, riset, talenta, dan kebijakan yang mampu menjadikan AI sebagai kekuatan untuk kehidupan.
Melalui gagasan AI for Life, BINUS University ingin mendorong pemanfaatan AI yang berpusat pada manusia. AI perlu menjadi bagian dari solusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat industri, mendukung pengambilan kebijakan, memperluas akses terhadap peluang, serta menciptakan dampak sosial yang lebih merata.
“BINUS lahir dengan semangat Bina Nusantara. Karena itu, setiap pemikiran dan inovasi yang kami hadirkan harus kembali kepada kontribusi bagi bangsa. AI for Life adalah ajakan agar kita tidak hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut membawa manfaat nyata bagi manusia dan Indonesia,” tambah Prof. Harjanto.
Momentum 45 tahun BINUS juga menjadi pengingat bahwa kontribusi perguruan tinggi tidak hanya diukur dari pencapaian institusional, tetapi juga dari sejauh mana ilmu pengetahuan, riset, dan kepakaran dapat memberikan jawaban bagi kebutuhan masyarakat. Melalui peran Dewan Guru Besar, BINUS University terus memperkuat komitmennya untuk menjadi bagian dari percakapan nasional mengenai masa depan pendidikan, teknologi, industri, hukum, dan kebijakan publik.
Dengan semangat BINUS Berkarya dan Co-Creating the Intelligent Society, BINUS University berharap gagasan ini dapat menjadi kontribusi bagi masyarakat, pemerintah, industri, dunia pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih adaptif, kolaboratif, inklusif, dan berdampak.
Melalui AI for Life, BINUS mengajak seluruh pihak untuk melihat kecerdasan artifisial bukan hanya sebagai simbol kemajuan teknologi, tetapi sebagai sarana untuk memperkuat kehidupan, memberdayakan manusia, dan membangun Indonesia yang lebih siap menghadapi masa depan.
Perkembangan AI yang pesat juga mendorong berbagai pihak untuk terus berinovasi. Beberapa waktu lalu, MediaTek juga memperluas inovasi AI untuk memperkaya kehidupan. Sementara itu, trafik internet global kini didominasi oleh bot dan agen AI, menunjukkan betapa masifnya penetrasi teknologi ini.
Di sisi lain, ancaman siber juga meningkat seiring adopsi AI. Laporan terbaru menunjukkan bahwa serangan password stealer di Asia Tenggara naik 18 persen, menjadi pengingat akan pentingnya keamanan data di era digital.


