Telko.id – Dominasi Nvidia di industri kecerdasan buatan mulai mendapat tantangan baru dari Alphabet, induk perusahaan Google, yang kini semakin agresif mengembangkan ekosistem AI miliknya sendiri.
Hal ini menunjukkan upaya Alphabet untuk tetap relevan merajai sektor teknologi, ketika lanskap industri sudah bertransformasi ke era kecerdasan buatan (AI).
Alphabet mulai mengejar ketinggalan dalam perlombaan AI, sahamnya melonjak dan memecahkan rekor gara-gara ledakan bisnis cloud dan upaya pengembangan AI.
Alphabet menjadi salah satu perusahaan yang paling serius membangun jalur alternatif tersebut melalui pengembangan Tensor Processing Unit (TPU), yaitu chip AI buatan Google sendiri yang dirancang khusus untuk kebutuhan machine learning dan AI generatif.
TPU ini kini digunakan secara luas di layanan Google Cloud maupun berbagai produk AI internal Google, termasuk Gemini.
Dengan strategi tersebut, Google mulai mengurangi ketergantungannya terhadap GPU Nvidia yang selama ini mendominasi pasar AI global.
Baca Juga:
- Nvidia Suntik Rp 5 Triliun ke Produsen Gorilla Glass
- Google Cloud Hadirkan AI untuk Bantu Produksi Konten
Selain mengembangkan chip sendiri, Alphabet juga memperkuat posisi cloud AI mereka agar dapat bersaing langsung dengan ekosistem Nvidia.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi besar mulai menyadari bahwa biaya penggunaan GPU AI premium sangat tinggi, sementara permintaan terus meningkat drastis.
Karena itu, pengembangan chip internal menjadi langkah strategis untuk menekan biaya sekaligus menjaga kontrol terhadap infrastruktur AI mereka sendiri.
Dalam beberapa bulan terakhir, Alphabet mampu membuat Wall Street terkagum-kagum berkat pertumbuhan bisnis cloud yang jauh melampaui ekspektasi pasar, serta mengalahkan pesaing-pesaing besar lainnya seperti Amazon dan Microsoft.
Kinerja Alphabet ini memberikan investor rasa percaya diri bahwa investasi ratusan miliar dolar yang dikeluarkan untuk AI akan memberikan imbalan nyata.
“Ini sebenarnya tentang pengeluaran modal (capex) dari perusahaan komputasi cloud berskala besar dan, sampai batas tertentu, tanda-tanda awal monetisasi yang lebih baik, khususnya untuk Alphabet, dibandingkan dengan ‘rantai makanan’ AI yang lebih luas, yang mencakup pusat data, jaringan listrik, dan energi,” kata Stephanie Link, kepala strategi investasi di Hightower Advisors, dikutip dari Reuters, Senin (11/5/2026).
Meski Nvidia masih memimpin pasar AI saat ini, munculnya chip alternatif dari perusahaan seperti Alphabet menunjukkan bahwa industri mulai bergerak menuju ekosistem yang lebih beragam.
Kondisi ini berpotensi mengurangi dominasi tunggal Nvidia dalam jangka panjang, terutama jika perusahaan teknologi besar berhasil mengoptimalkan hardware mereka sendiri untuk kebutuhan AI.


