Telko.id – Nvidia dikabarkan menginvestasikan US$300 juta (sekitar Rp 5 triliun) ke Corning Incorporated, perusahaan pembuat Gorilla Glass, untuk memperkuat infrastruktur pendukung industri AI.
Investasi ini tidak berkaitan langsung dengan layar smartphone, melainkan fokus pada pengembangan teknologi kaca optik dan serat fiber yang menjadi fondasi utama pusat data AI modern.
Langkah ini tidak hanya memastikan pasokan perangkat keras Nvidia berjalan mulus, tetapi juga memberikan Nvidia kendali atas porsi dari produksi serat optik di wilayah AS.
Melalui perjanjian kerja sama jangka panjang ini, tiga pabrik baru tersebut akan didirikan di negara bagian Carolina Utara dan Texas. Proyek ini diproyeksikan bakal menyerap hingga 3.000 tenaga kerja.
Suntikan dana dari Nvidia ini dipastikan akan melipatgandakan hasil produksi serat optik Corning di AS hingga 10 kali lipat. Secara keseluruhan, kapasitas produksi serat optik domestik AS juga akan terdongkrak lebih dari 50 persen.
Baca Juga:
- Dominasi Nvidia di China Mulai Tergerus Chip Lokal
- Nvidia & MediaTek Kembangkan Chip N1, Setara RTX 5070!
Corning sendiri dikenal luas lewat Gorilla Glass di smartphone, namun perusahaan ini juga merupakan pemain penting dalam industri fiber optik dan material kaca khusus untuk jaringan data center.
Infrastruktur semacam ini menjadi sangat krusial karena model AI modern membutuhkan pertukuran data dalam jumlah masif antar chip dan server secara real-time.
Langkah Nvidia menunjukkan bahwa persaingan Ai kini tidak lagi hanya soal chip dan model AI, tetapi juga menyangkut seluruh rantai infrastruktur pendukung.
Semakin besar model AI yang dikembangkan, semakin tinggi pula kebutuhan bandwidth dan efisiensi jaringan antar server. Tanpa koneksi data yang memadai, performa GPU AI tidak bisa dimaksimalkan sepenuhnya.
Investasi ini juga menandakan perubahan arah industri teknologi, di mana perusahaan AI mulai masuk ke sektor infrastruktur fisik seperti jaringan optik, pendinginan data center, hingga pasokan energi.
Artinya, perang AI global kini berkembang menjadi persaingan membangun ekosistem teknologi secara menyuluruh.
Namun, ada satu catatan yang patut digarisbawahi dari kesepakatan ini. Dalam siaran persnya, dijelaskan bahwa pabrik-pabrik baru ini hanya akan memasok konektivitas optik ke pusat data hyperscale yang menggunakan “komputasi berakselerasi Nvidia” saja.
Artinya, alih-alih membantu mengatasi krisis pasokan kabel optik untuk seluruh industri, Nvidia merancang kesepakatan ini untuk secara eksklusif melayani klien yang menggunakan perangkat keras AI buatannya.
CEO sekaligus pendiri Nvidia, Jensen Huang, menyebut langkah ini sebagai fondasi penting bagi pergerakan industri AI di masa depan yang berjalan dengan sangat cepat.
“AI mendorong pembangunan infrastruktur terbesar di zaman kita, dan ini menjadi peluang sekali dalam satu generasi untuk menghidupkan kembali manufaktur serta rantai pasokan Amerika,” ujar Huang, dilansir dari Toms Hardware.
Huang menambahkan bahwa kolaborasi bersama Corning ini bertujuan untuk menciptakan masa depan komputasi melalui teknologi optik tingkat lanjut.
“Membangun fondasi bagi infrastruktur AI di mana kecerdasan bergerak secepat kecepatan cahaya, sambil memajukan tradisi kebanggaan Made in America,” pungkasnya.
Kerja sama ini dapat mempercepat pembangunan pusat data AI generasi baru dengan kapasitas lebih besar dan efisiensi lebih tinggi.
Sementara bagi pengguna, dampaknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi infrastruktur seperti ini menjadi fondasi penting agar layanan AI masa depan bisa berjalan lebih cepat, stabil, dan responsive.


