spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1770

Rupiah Melemah, Industri Telekomunikasi Masih Aman

1

JAKARTA – Melemahnya nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat tak bisa dipungkiri telah berimbas pada stabilitas perekonomian Indonesia. Sejumlah sektor industri di tanah air pun terpukul. Tak terkecuali industri Teknologi Informasi dan Komunikasi. Namun, seperti diakui ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Indonesia (ATSI), Alexander Rusli, pegaruhnya lebih bersifat jangka panjang.

Salah satu alasannya, seperti diungkapkan Alex, adalah dikarenakan investasi yang dilakukan di industri telekomunikasi biasanya tidak langsung terasa di tahun yang sama dengan ketika investasi itu baru dimulai, melainkan baru terasa pada tahun-tahun berikutnya.

“Jadi kalau dibilang ada pengaruh jangka pendek, itu memang tidak ada. Namun jangka panjang pasti. Mungkin 1,5 atau 2 tahun ke depan,” katanya dalam acara Focus Group Discussion “Industri Telko di Tengah Turbulensi Mata Uang” yang diadakan di Kementrian Komunikasi dan Informasi, Jakarta hari ini (7/9/2015).

Hal yang tak jauh berbeda diakui Henri Saparini. Ekonom ECONIT ini bahkan menganjurkan pada para pelaku industri telekomunikasi agar menyiapkan diri untuk jangka panjang.

“Jadi berpikirnya jangan jangka pendek lagi, tetapi sebaliknya. Karena industri ini adalah industri dengan pertumbuhan yang sangat tinggi,” ungkapnya.

Henri menyebutkan, dari sisi sektoral saja industri Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia masih tumbuh di atas 9 persen, sementara dari segi investasi termasuk yang pertumbuhannya paling tinggi.

“Dengan adanya pelemahan nilai tukar rupiah ini, revenue di TIK kemungkinan masih naik, namun tidak demikian dengan nett profit,” pungkasnya, seraya menyebut ongkos produksi yang meningkat sebagai alasan. [IF]

Penetrasi Smartphone 4G Capai 59% Pada Q4 2015

0

JAKARTA – Menurut data penjualan smartphone global yang dirilis Gfk baru-baru ini, lebih dari 50% smartphone yang dijual di Q1 2015 adalah smartphone dengan kemampuan 4G. Dan dengan operator utama meluncurkan layanan 4G di Indonesia pada awal bulan lalu, serta India pada awal bulan ini, 4G kini bisa dikatakan telah tersedia di semua negara kunci.

GfK memperkirakan penetrasi smartphone 4G akan terus tumbuh pada tahun 2015, mencapai 59% pada kuartal keempat.

Di Indonesia sendiri, pertumbuhan smartphone diharapkan akan dibantu oleh perkembangan jaringan 4G. Di Q1 2015, penetrasi 4G di Indonesia berada jauh di bawah rata-rata global, yakni 7% (atau 3% lebih tinggi dari India yang berada di angka 4%). Menurut Gfk, pangsa 4G di tanah air akan meningkat menjadi 10% pada akhir 2015.

Guntur Sanjoyo, Managing Director GfK Indonesia mengungkapkan, “Secara umum pertumbuhan pasar smartphone 4G diawali dengan mulai dibangunnya jaringan 4G di Indonesia oleh Top 3 operator sejak akhir tahun lalu. Meskipun smartphone berbasis 4G sendiri sebenarnya telah ada di pasar Indonesia sebelum itu. Sejak saat itu, komunikasi yang cukup intens dilakukan oleh para operator melalui bermacam campaign di berbagai media untuk mensosialisasikan jaringan 4G di masyarakat.”

Dan kampanye sejumlah operator di berbagai media ini pun tampaknya tak menjadi satu-satunya pendorong. Semaraknya komunikasi 4G yang dilakukan operator juga diikuti dengan masuknya produk-produk smartphone berbasis 4G dari berbagai merek.

Saat ini, seperti diutarakan Guntur lagi, sudah tersedia lebih dari 100 model smartphone dari berbagai merek yang disertai dengan kemampuan 4G di Indonesia. “Walaupun demikian, saat ini lebih dari 90% penjualan smartphone 4G terfokus di kota besar saja,” katanya.

Pada akhir tahun 2015, Gfk memperkirakan smartphone dengan basis 4G akan memberikan kontribusi sebesar 15% – 20% dari total unit penjualan smartphone di Indonesia jika dapat disertai dengan penambahan variasi jumlah model smartphone 4G di segment menengah.

“Jelas ke depannya smartphone berbasis 4G akan mendominasi pasar seiring penurunan porsi teknologi yang ada dibawahnya, walaupun kami percaya bahwa hal ini tidak akan terjadi dengan instant,” ungkap Guntur.

Sebagai contoh, walaupun kita melihat percepatan pertumbuhan smartphone yang fenomenal di Indonesia, namun GfK memperkirakan bahwa ponsel non smartphone (Feature Phone) masih akan memberikan kontribusi yang cukup besar, yakni sekitar 35% dari total unit penjulan ponsel di tanah air.

Asia Tenggara Terus Tumbuh

Pertumbuhan penjualan smartphone boleh saja menyusut di seluruh dunia tapi tidak demikian dengan di Asia Tenggara. Menurut data GfK, wilayah ini unjuk gigi dengan penjualan regional tumbuh 9% menjadi hampir 40 juta unit untuk semester pertama tahun ini.

Angka yang disebutkan GfK ini menunjukkan bahwa telah terjadi lonjakan permintaan, sekitar 3,2 juta smartphone dibandingkan kuartal pertama tahun lalu.

Secara total, pertumbuhan pasar smartphone di Asia Tenggara menghasilkan lebih dari USD 8 miliar dalam penjualan untuk periode enam bulan.

Penjualan smartphone meningkat dari tahun ke tahun di setiap pasar utama, kecuali Singapura dan Malaysia. Pasar smartphone terbesar di kawasan itu adalah Indonesia, di mana volume penjualan melonjak menjadi 14,9 juta, diikuti Thailand (6,6 juta) dan Vietnam (6 juta).

Vietnam juga merupakan pasar dengan pertumbuhan paling cepat, dengan permintaan naik 27%, disusul Thailand di tempat kedua dengan 13% dan Filipina di urutan ketiga dengan 10%. [IF]

Populerkan Teknologi Mobile Internet, Google Gandeng Provider Rusia

0

JAKARTA – Banyak cara dilakukan perusahaan untuk membuat produknya dikenal oleh orang banyak. Google, dalam hal ini tak terkecuali. Dengan alasan mempopulerkan ‘produk’-nya, raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini menggandeng penyedia layanan telekomunikasi Rusia, Mobile Telesystems PJSC (MTS) untuk mempromosikan teknologi internet mobile dan layanan pencarian Google di negara Vladimir Putin tersebut.

Berdasarkan perjanjian tersebut, MTS akan mempopulerkan Google OK, fasilitas pencarian suara Google dalam kampanye iklan dan tokonya. Pencarian Google Voice juga akan pra-instal pada setiap smartphone Android yang dijual melalui toko MTS.

“Kami percaya bahwa kerjasama yang erat antara operator dan perusahaan-perusahaan Internet akan mengarah pada pembangunan telekomunikasi yang efisien dan dinamis. Yang paling penting, pelanggan kami akan mendapatkan keuntungan dari kemitraan ini,” ungkap Vasyl Latsanych, Vice President Marketing MTS seperti dilansir dari Telecomtalk, 92/9/2015).

Beberapa alasan pun diutarakan Latsanych, mulai mulai dari ini merupakan pembesut OS paling populer untuk smartphone, memiliki pencarian interaktif hingga layanan layanan transmisi data yang canggih, yang disinyalir akan membawa perubahan nyata bagi kehidupan pelanggan MTS. “Kami ingin membuat mereka nyaman dan bebas repot,” lanjut Latsanych.

Kemitraan dengan MTS ini sebenarnya bukan hal baru bagi Google. Tahun 2013 lalu, Google juga sempat bermitra dengan MTS untuk mengembangkan solusi untuk pasar korporat. MTS menawarkan pelanggan B2B-nya Google Apps for Business sebagai hasil dari kemitraan ini. [IF]

SK Telecom & Samsung Electronics Berkolaborasi Kembangkan mmWave

0

JAKARTA – Dua raksasa teknologi Korea, yakni SK Telecom dan Samsung Electronics baru-baru ini mengumumkan kolaborasinya dalam mendukung pengembangan teknologi gelombang milimeter (mmWave). Teknologi ini dianggap kedua perusahaan sebagai kunci untuk terwujudnya 5G.

Dipandang sebagai kandidat yang menjanjikan untuk kapasitas baru yang luar biasa untuk jaringan komunikasi nirkabel di masa depan, mmWave menggunakan frekuensi yang lebih tinggi (30GHz +) dari spektrum berlisensi saat ini, yang menawarkan kecepatan data yang lebih cepat. Sisi lainnya adalah bahwa frekuensi tersebut memiliki jangkauan cukup untuk digunakan dalam sel makro dan akan perlu digunakan pada sel dasarl – terutama untuk gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan lain-lain.

Kedua perusahaan telah berkolaborasi untuk teknologi pra-5G selama beberapa waktu, setelah mendemonstrasikan 3D Beamforming di MWC tahun ini dan penyebaran NFV untuk internet of Things sebelumnya.

SK Telecom sebenarnya telah membangun sistem mmWave di pusat R&D-nya, sehingga sah-sah saja jika mereka mengklaim sebagai operator seluler pertama di Korea yang memasang peralatan 5G di gedung. Demikian dikutip Telko.id dari telecoms, (2/9/2015).

“Melalui kerjasama erat dengan pemain ICT global Samsung Electronics, SK Telecom dengan bangga meluncurkan sistem mmWave di mana kita dapat mengembangkan dan memverifikasi teknologi mmWave,” kata Alex Jinsung Choi, CTO dan Kepala R&D SK Telecom. “SK Telecom dan Samsung Electronics akan lebih memperkuat upaya R&D bersama untuk memimpin era 5G mendatang.”

Hal yang tak jauh berbeda diungkapkan pewakilan Samsung, Cheun Kyung-whoon, Executive Vice DMC R&D Center Samsung Electronics. “Melalui kerjasama ini, Samsung Electronics telah mengembangkan sistem telekomunikasi yang paling maju. Dan kami akan terus bekerja sama dengan SK Telecom untuk memimpin pengembangan teknologi 5G,” pungkasnya.

Sebagai salah satu negara yang telah ‘mendaftarkan’ dirinya dalam hegemoni teknologi 5G, Korea Selatan jelas sangat tertarik untuk mempertahankan posisinya dalam hal penggunaan teknologi jaringan mobile terbaru. Hal ini, konon juga menjadi salah satu pendorong dari terciptanya banyak kegiatan dan kolaborasi di area ini dari perusahaan besar Korea. [IF]

Survei Membuktikan, Orang Lebih Suka Wi-Fi Ketimbang Sarapan Gratis

0

JAKARTA – Sebagian besar dari Anda, khususnya yang hobi traveller tentu tidak asing lagi dengan nama Agoda.com. Baru-baru ini, salah satu situs akomodasi terkemuka di dunia itu mengumumkan hasil survei Smarts Travel yang digelarnya beberapa waktu lalu. Menurut hasil, diketahui bahwa wisatawan lebih memilih gratis Wi-Fi di kamar ketimbang gratis sarapan.

Survei yang dilakukan pada bulan Juli 2015 lalu itu diiuti lebih dari 5.000 pelanggan Agoda.com dari seluruh dunia yang menguraikan apa yang mereka inginkan di kamar hotel.

Ketika ditanya mana yang lebih mereka suka untuk digratiskan, wisatawan lebih memilih Wi-Fi daripada sarapan. Wi-Fi mendapat 55% suara dan sarapan 45%.

“Kami tahu keduanya penting untuk pelanggan kami,” kata John Brown,Chief Operating Officer Agoda.com seperti dilansir dari Telecomasia. “Kebanyakan pelaku bisnis perhotelan memahami itu, dan sebagian besar properti di Agoda.com menawarkan harga kamar termasuk Wi-Fi, sarapan atau keduanya,” katanya.

Namun wisatawan memiliki preferensi yang jelas ketika bicara tentang tempat tidur yang besar. Ketika ditanya apakah mereka lebih memilih tempat tidur lebih besar atau kamar mandi besar, 75% memilih tempat tidur lebih besar. [IF]

Multi-Cloud Connect, Integrasikan Cloud Publik dengan MPLS

0

JAKARTA – NTT Com, sebuah perusahaan telekomunikasi asal Jepang baru-baru ini telah meluncurkan sebuah fitur opsional untuk layanan Arcstar Universal One miliknya. Mengusung nama Multi-Cloud Connect, fitur ini memungkinkan perusahaan untuk mengakses layanan cloud publik pihak ketiga melalui jaringan MPLS berkinerja tinggi untuk meningkatkan keamanan dan konektivitas.

Sementara perusahaan terus mempercepat adopsi layanan cloud, di mana sebagian besar layanan ini berbasis cloud publik dan harus diakses melalui internet, kinerja internet yang tidak konsisten menjadi hambatan utama untuk melakukan aktivitas ini. Terutama untuk perusahaan-perusahaan multinasional dengan pengguna akhir yang sangat terdistribusi.

Multi-Cloud Connect akan mengatasi masalah kinerja tersebut dengan menghubungkan jaringan MPLS Arcstar Universal One langsung ke platform penyedia layanan cloud publik, seperti Microsoft Azure dan Amazon Web Services (AWS).

Di sini, seperti disampaikan NTT Com dalam keterangan tertulisnya, Multi-Cloud Connect dihubungkan ke Microsoft Azure dan platform cloud AWS melalui keamanan yang ditingkatkan, koneksi private Layer 3, dan bukannya melalui internet.

Tak hanya itu, dengan memanfaatkan 130 pusat data yang dimilikinya di seluruh dunia, NTT Com juga dapat menyediakan pelangan solusi hibrid yang sesuai dengan kebutuhan aplikasi yang berbeda: entah itu campuran on-premise, cloud private (Enterprise Cloud) dan/atau cloud publik.

Saat ini Multi-Cloud Connect telah menawarkan akses langsung ke Microsoft Azure dan platform cloud AWS di Tokyo, dan rencananya akan diikuti oleh London akhir tahun ini. Sebelum akhirnya terus berkembang secara global ke bagian lain dari Asia dan Amerika Utara. [IF]

Pelanggan 4G Global  Sentuh Angka 740 juta pada Q2 2015

0

JAKARTA – Tumbuhnya pangsa pasar smartphone dengan kemampuan 4G – lebih dari 50% pada kuartal pertama 2015 menurut data Gfk – secara tidak langsung berimbas pada meningkatnya jumlah pelanggan 4G. Menurut data Ericsson, pelanggan global 4G mencapai 740 juta pada akhir kuartal kedua, atau naik 460 juta dari total 280 juta pelanggan di tahun sebelumnya.

Sementara jumlah pelanggan mobile di seluruh dunia mencapai 7,2 miliar pada akhir Juni, naik dari 6,8 miliar di tahun sebelumnya. Dengan jumlah sebenarnya pelanggan individu naik menjadi 4,9 miliar dari 4,6 miliar.

Pelanggan global mobile broadband tumbuh sebesar 140 juta pada kuartal kedua mencapai 3,1 miliar, naik 25% pada Q2 2014, kata Ericsson, seperti dikutip Telko.id dari Totaltele.

Pelanggan 3G meningkat 50 juta dalam tiga bulan sampai 30 Juni, sedangkan pelanggan 4G naik 115 juta. Pelanggan GSM turun 80 juta.

Secara regional, Asia Pasifik – tidak termasuk China dan India – menyumbang 1,42 miliar pelanggan mobile dunia, diikuti oleh China dengan 1,30 miliar dan India dengan 985 juta.

Yang agak mengherankan adalah tingkat pertumbuhan data mobile yang mengalami sedikit perlambatan menjadi 55% dalam 12 bulan antara Q2 2014 dan Q2 2015, dari 60% antara Q2 2013 dan Q2 2014.

“Pertumbuhan trafik data didorong oleh munculnya pelagganan data mobile, bersama dengan terus meningkatnya rata-rata volume data per pelanggan,” pungkas Ericsson, dalam laporannya. [IF]

Intel: Dengan 5G, Semua Orang Bisa Jadi Terminator

0

JAKARTA – Di saat sebagian orang – termasuk kita di Indonesia – belum bisa merasakan seutuhnya kenikmatan teknologi 4G LTE, beberapa orang di luar sana telah dihadapkan pada teknologi 5G. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, China dan Korea Selatan bahkan telah memberikan sinyal untuk menggelar secara komersial terbatas teknologi tersebut.

Intel, dalam Forum Developer tahunan yang digelar baru-baru ini menyoal sedikit gambaran tentang teknologi 5G. Menurut perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini, seluruh 5G nantinya akan bekerja seperti jaringan besar dan bahkan benda-benda seperti mobil, skuter serta lemari es akan bekerja pada 5G.

5G sendiri, seperti diungkapkan eksekutif Intel, berarti kecepatan data yang lebih tinggi – setidaknya 100 kali dan kadang-kadang 1.000 kali lebih tinggi – dengan latensitas ultra-rendah dan faktor bentuk yang benar-benar berbeda.

Dalam hal ini, mereka menggambarkan 5G sebagai sesuatu yang akan didorong oleh ‘Internet of Things’ (IOT). Dengan versi yang lebih canggih dari augmented reality, virtual reality, real-time, streaming video Ultra HD dan lain-lain menjadi hal lainnya yang ditawarkan.

Paul McNamara, Wakil Presiden Ericsson Corporate Strategy Group menggambarkan 5G dengan aktivitas mengemudi mobil di jalanan dan memanggang roti. “Bayangkan bahwa kita sedang mengemudi mobil dan jaringan mendeteksi bahwa satu detik di depan kita, ada perlambatan tiba-tiba dan airbag menggelembung. Jaringan ini memiliki 20 milidetik untuk mengirim pesan ke mobil kita yang mengatakan bahwa kita harus menginjak rem. Di saat yang bersamaan, pemanggang roti yang terkoneksi mendeteksi bahwa roti telah matang. Kedua hal yang sangat, sangat berbeda dan mereka membutuhkan jenis karakteristik jaringan yang sangat, sangat berbeda,” katanya.

Sementara petinggi Intel Sandra Rivera memprediksi bahwa perangkat wearable, chip yang tertanam di dalam tubuh dan lain-lain dapat menjadi tren seiring dengan hadirnya 5G nantinya. “Siapapun bisa menjadi Terminator,” ungkapnya.

Saat ini, selain memperkenalkan sebuah program bertajuk Intel Networks Builders Fast Track untuk mempercepat inovasi jaringan dan interoperabilitas, Intel juga disebut-sebut telah bekerja sama dengan Nokia Networks, NTT DoCoMo dan SK Telecom, serta institusi akademik untuk pengembangan standar 5G.

Singkat kata, IDF 2015 melihat 5G sebagai jaringan ‘cerdas’, di mana jaringan akan memungkinkan perangkat untuk terhubung dan berkomunikasi dengan lebih efisien. Jaringan akan memprioritaskan tindakan berdasarkan tingkat kepentingan dan akan mampu untuk mengakomodasi sejumlah perangkat. Perangkat juga akan berkembang dalam hal ukuran, bentuk dan fungsi. Agar hal ini bisa terjadi, perubahan harus terjadi di jaringan inti, yang akan dirancang untuk menjadi lebih fleksibel dan bisa diukur. “Jaringan akan lebih virtual dan interaktif,” pungkas Intel seperti dilansir telecomtalk, Senin (31/8/2015). [IF]

Indosat Ajak Programer “Cilik” untuk Kembangkan Aplikasi

0

JAKARTA – Indosat kembali menunjukkan komitmennya dalam dunia teknologi. Kali ini, dengan menggelar Kids & Teens Hackathon, sebuah coding competition sebagai bagian dari rangkaian Indosat Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-9. Penyelenggaraan coding competition yang pesertanya berusia 7 hingga 15 tahun ini bertujuan untuk mendorong lahirnya para developer aplikasi mobile cilik di Indonesia.

“Indosat menyadari bahwa teknologi kini sudah diperkenalkan kepada anak sejak usia dini sebagai alat yang mendidik serta sebagai sumber informasi. Dengan diadakannya coding competition ini, kami berharap dapat mempercepat terciptanya ekosistem digital Indonesia yang dibesarkan oleh anak bangsa sendiri. Pada akhirnya semua upaya tersebut akan dapat meningkatkan  kualitas hidup masyarakat dan mendorong kemajuan bangsa kita,” demikian diungkapkan Trisula Dewantara, Group Head Corporate Communications Indosat dalam keterangan tertulisnya, Minggu (30/8/2015).

Pada pelaksanaan Kids & Teens Hackathon, Indosat bekerja sama dengan Cody’s App Academy yang merupakan tempat belajar pemrograman komputer yang difokuskan untuk anak-anak usia sekolah dasar dan menengah pertama.

Ada dua kategori yang diperlombakan pada hackathon ini, yaitu Pro yang ditujukan untuk murid-murid Cody’s App Academy, dan kategori Rookie yang ditujukan untuk pemula selain murid Cody’s App Academy. Para peserta akan memperebutkan hadiah berupa laptop, smartphone, dan voucher untuk kursus di Cody’s App Academy. Sementara juara pertama juga akan mendapatkan piala dari Walikota Tangerang Selatan.

IWIC adalah ajang kompetisi inovasi teknologi di bidang wireless yang diselenggarakan Indosat sejak tahun 2006 yang merupakan program tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat (Corporate Social Responsibility) dengan pilar Inovasi.

Kompetisi tahunan ini hadir kembali dengan menawarkan konsep unik dan berbeda dalam penyelenggaraannya. Selain penajaman kepada inovasi, IWIC ke-9 juga secara konsisten akan mengasah jiwa entrepreneurship peserta dengan menggandeng Jakarta Founder Institute dan Crowdtivate sebagai mitra. Tak hanya itu, penyelenggaraan IWIC ke-9 juga didukung oleh Internet.org by Facebook, Founder Institute, Kompas Gramedia, Harukaedu, Crowdtivate, i Aplikazone, Yayasan Cendekia Indosat, dan Dicoding. [IF]

UCWeb Pilih Indonesia Sebagai Markas Besar Wilayah Asia Tenggara

0

JAKARTA – Dalam Global Mobile Internet Conference yang berlangsung di Jakarta baru-baru ini, UCWeb Inc., pemimpin penyedia layanan mobile dunia dan anak perusahaan Alibaba Group, Indonesia menyatakan ketertarikannya untuk menjadikan Indonesia sebagai markas besar UCWeb untuk wilayah Asia Tenggara.

Menurut Director, International Business Development, UCWeb, Kenny YE, faktor utama yang menentukan pilihan ini adalah popularitas UC Browser yang kian meningkat pesat.

Tercatat popularitas browser mobile ini di Indonesia yang berhasil mendapatkan pangsa pasar sebesar 38% per bulan Juli 2015, menurut layanan analisa lalu lintas pihak ketiga StatCounter.

Kenny YE menghubungkan peningkatan pesat UCWeb di pasar ini dengan kombinasi yang luar biasa akan berbagai kekuatan UCWeb, termasuk kekuatan teknologi, mentalitas “Going Glocal” dan juga sebuah platform ekosistem yang terus berkembang, menarik bagi para mitra lokal.

UC Browser dikenal dengan fitur cloud browsing yang khas, tersedia lewat percepatanpageload dan teknologi kompresi data, menjadikan browsing web mobile lebih cepat dan ekonomis. Di saat yang sama, mentalitas “Going Glocal” UCWeb untuk ekspansi internasionalnya juga berkontribusi dalam peningkatan populeritasnya di pasar-pasar seperti India dan Indonesia.

“Glocal” merefleksikan pola pikir UCWeb dalam maju ke dunia (global) dan bekerja secara lokal di negara-negara tempatnya beroperasi. Dibimbing strategi ini, UCWeb telah mengumpulkan tim staf lokal untuk menyediakan pengetahuan dan wawasan lokal serta berpartisipasi dalam keputusan-keputusan penting dari operasional harian di Indonesia. UCWeb juga bekerja sama dengan para penyedia konten dan layanan lokal untuk melengkapi UC Browser dengan informasi lokal yang kaya dan beragam.

Jonathan ZHONG, Managing Director, UCWeb Indonesia, juga berbicara di GMIC, memperkenalkan Open Platform UCWeb di pasar-pasar Asia Tenggara. UC Open Platform pertama kali diperkenalkan tahun lalu di India, dan mendapatkan respon hangat dari para pengembang India.

“Kami senang bisa memperkenalkan platform ini di sini untuk melayani para pengembang Indonesia,” kata Jonathan ZHONG dalam keterangan pers-nya hari ini, (24/8/2015). “Selain UC Browser, browser mobile kami, yang membantu para mitra kami menjangkau para pengguna, kami juga memiliki UC Union, sebuah platform komersialisasi dan promosi bagi para pengembang aplikasi.”

Diperkenalkannya platform ini ke pasar Indonesia memperlihatkan komitmen UCWeb dalam upayanya untuk meningkatkan kehadirannya di pasar internet mobile Indonesia. [IF]