spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1713

ITU : Internet of Things Bisa Tingkatkan Taraf Hidup Banyak Orang

0

Telko.id – Sebuah laporan dari ITU dan Cisco mengatakan bahwa Internet of Things (IOT) dapat meningkatkan taraf hidup jutaan orang serta dapat mempercepat kemajuan menuju tujuan pembangunan berkelanjutan PBB, seperti kesehatan masyarakat dan pendidikan.

Merujuk pada laporan yang diluncurkan pada pertemuan tahunan Dewan Pacific Telecommunications di Hawaii, laporan yang bertajuk ‘Memanfaatkan Internet of Things untuk pembangunan global’ ini mencatat bahwa ada tiga penggerak utama yang jika didukung, bisa membuat ‘revolusi IOT’ di negara berkembang.

Pertama adalah perangkat IOT yang sudah umum, hadir dengan harga yang relatif murah dan mudah diganti dalam mengembangkan pasar. Infrastruktur dasar untuk mendukung IOT, seperti Wi-Fi dan kafe internet sudah tersebar luas dengan konektivitas dasar ke jangkauan ponsel di sekitarnya.

Terlebih lagi, perangkat IOT yang saat ini banyak digunakan dapat bertahan dalam kondisi ekstrim.

Kedua, biaya R&D IOT yang diserap oleh permintaan yang kuat di pasar dunia terus berkembang, dan ada sedikit biaya yang terkait dengan adopsi mereka untuk negara berkembang.

Terakhir, perangkat IOT menawarkan instalasi yang sederhana dan banyak juga yang memiliki fungsi ‘plug & play’ yang tentunya tidak memerlukan keahlian khusus, serta pasokan listrik seperti tenaga matahari dapat mempertahankan sensor dan jaringan di saat tidak ada pasokan listrik yang konsisten.

Studi ini merekomendasikan bahwa pemerintah dan bisnis seharusnya mendukung start-up teknologi, inkubator ICT dan pusat data lokal, dan bekerja untuk mengembangkan kebijakan dan kerangka peraturan yang akan menciptakan sebuah ekosistem yang memungkinkan untuk penyebaran IOT di seluruh dunia.

Dilansir dari mobile world live (21/1), ITU melihat komunikasi M2M melalui jaringan mobile seluler sebagai layanan ICT yang tumbuh paling cepat dalam hal lalu lintas. Mereka juga memperkirakan bahwa ada lebih dari satu miliar perangkat IOT nirkabel yang dikirimkan pada tahun 2015, naik 60 persen dibandingkan dengan tahun lalu dan diperkirakan telah terpasang sebanyak 2,8 miliar produk.

Sekedar informasi, awal pekan ini Sigfox meluncurkan Sigfox Foundation, yang bertujuan untuk membawa manfaat dari IOT. [ak/if]

Kombinasikan DSL dan LTE, Swisscom Kebut Internet Rumah

0

Telko.id – Sebagai bagian dari investasi yang signifikan untuk memperluas jaringan broadband canggih miliknya, Swisscom telah mengumumkan akan menkombinasikan jaringan tetap dan jaringan bergeraknya dengan menggunakan teknologi DSL + LTE.

Uji coba awal dijadwalkan akan dimulai perusahaan bulan ini, dengan menargetkan sejumlah kecil pelanggan perumahan dan memberikan bandwidth hingga 20Mbps selama tahap pertama. Kecepatan broadband yang lebih tinggi sendiri direncanakan Swisscom untuk pengujian tahap selanjutnya. Demikian diwartakan Telecomtech, Kamis (21/1).

Saat ini, uji coba Swisscom sedang dalam persiapan untuk mengatasi semakin tingginya tingkat lalu lintas yang ditempatkan pada jaringan tetap; yang saat ini menjadi dua kali lipat setiap 16 bulan. Menggabungkan bandwidth mobile dengan jaringan tetap – menggunakan teknologi ikatan LTE + DSL – akan memungkinkan lebih banyak data melewati jaringan tanpa memiliki dampak pada pengalaman pelanggan.

Untuk memuluskan niatnya, sebuah receiver LTE baru juga telah dikembangkan oleh perusahaan yang berbasis di Swiss ini. Perangkat ini akan menjemput aliran data mobile dan menghantarkannya melalui WLAN ke router DSL. Router ini sendiri dilengkapi dengan perangkat lunak cerdas yang menggabungkan aliran data mobile dan jaringan tetap.

Dalam keterangan resminya, Swisscom mengatakan bahwa ketersediaan ikatan DSL + LTE dan bandwidth yang sebenarnya ditentukan oleh panjang tembaga jaringan tetap dan cakupan 3G atau 4G di rumah pelanggan. Swisscom bertujuan untuk menggunakan uji coba ini untuk menentukan apakah peluncuran pasar layak dilakukan.

Swisscom bertujuan untuk menyediakan broadband ultra-cepat hingga 85 persen di semua rumah dan kawasan bisnis di Swiss pada akhir 2020. Pada 2015 saja, penyedia layanan ini menginvestasikan lebih dari CHF 1,75 miliar atau sekitar Rp 24 triliun untuk memperluas infrastruktur jaringan dan IT. Dengan diperkenalkannya standar transmisi baru G.fast, Swisscom percaya dapat memberikan kecepatan hingga 500Mbps dari akhir tahun ini.

Sebagai informasi, DSL, yang merupakan singkatan dari Digital Subscriber Line ini sendiri merupakan koneksi internet broadband yang menggunakan kabel jaringan telepon untuk memberikan sinyal internet kecepatan tinggi. Kecepatan download DSL dapat berkisar dari 256 kbps hingga 24 Mbps, meskipun kecepatan dapat bervariasi tergantung pada kualitas saluran telepon, jarak dari ISP atau jenis langganan DSL. Instalasi DSL umumnya dapat dilakukan tanpa pengeboran lubang tambahan atau menginstal outlet ekstra; asalkan rumah Anda telah memiliki kabel telepon yang terpasang, semua yang perlu Anda lakukan adalah menghubungkan modem DSL.

Pemerintah Korea Uji Coba 5G

0

 

Telko.id – Teknologi 5G saat ini masih dalam diskusi yang sangat dini. Apalagi, ITU (International Telecommunication Union) juga masih belum menentukan standarisasinya untuk 5G ini. Hanya saja, ketika mulai tahun 2020 setelah ITU menentukan standarisasinya maka akan terlambat. Itu sebabnya, banyak pihak yang sudah melakukan pendalaman bahkan pemerintah Korea pada tahun 2016 ini sudah mulai akan menggelar jaringan 5G, walaupun baru untuk keperluan uji coba, seperti yang dilansir oleh Business Korea.

Departemen Science, ICT dan Perencanaan Masa Depan Korea membangun jaringan telekomunikasi 5G pertama di dunia yang bertujuan untuk uji coba di Provinsi Gangwon dan Seoul pada semester kedua tahun ini. Investasi yang ditanamkan sebesar 34 miliar won. Tes ini dilakukan untuk mengetahui apakah dalam band frekuensi tinggi, minimal 6 GHz dapat benar-benar memberikan kecepatan, setidaknya 1 Gbps melalui jaringan telekomunikasi yang sedang digunakan.

Untuk tujuan ini, pada tahap awal, frekuensi dan standar teknis akan disusun. Demikian juga untuk Chips terminal dan BTS akan dikembangkan. Proyek percontohan ini akan selesai pada tahun 2018 melalui investasi 15 miliar won dan masing-masing sekitar 8 miliar won pada tahun 2017 dan 2018.

Pemerintah berencana untuk memasok dua atau tiga dari enam band yakni dari 27 GHz sampai 29,5 GHz, 31,8 GHz sampai 33,4 GHz, 37 GHz sampai 42,5 GHz, 45,5 GHz sampai 50,2 GHz, dari 50,4 GHz sampai 52,6 GHz dan 66 GHz sampai 74 GHz sebagai frekuensi yang disiapkan untuk uji coba. Pada frekuensi Mhz akan digunakan untuk operator selular pada jangka waktu tertentu di semester kedua tahun ini.

Negara dan perusahaan di seluruh dunia memperhatikan langkah dari rencana pemerintah Korea ini. International Telecommunication Union (ITU) memutuskan untuk menyelesaikan point penting 5G di 2020. Jadi saat ini masih dalam tahap awal diskusi untuk 5G ini.

Di sisi lain, beberapa Negara juga masih menemui jalan buntuk untuk mencapai kesepakatan mengenai frekuensi. Amerika Serikat, Korea dan Jepang bersikeras pada standarisasi frekuensi, minimal di 6 GHz digunakan untuk kepentingan layanan mobile broadband. Sedangkan beberapa Negara di Eropa dan Cina mengklaim bahwa standarisasi 6 GHz atau kurang dari itu lebih baik digunakan untuk menjangkau wilayah yang lebih panjang.

Dalam sejarah telekomunikasi, frekuensi 6 GHz belum pernah dimanfaatkan sama sekali. Jadi, menurut pemerintah Korea, Layanan 5G yang dilakukan ini, setidaknya mampu mencapai kecepatan 1Gbps dapat berhasil dan memberikan efek ekonomi yang besar. (Icha)

Terkait Data Pribadi, Cuma 18% Orang Eropa Percaya Operator

0

Telko.id – Fenomena big data tampaknya belum sepenuhnya dianggap sebagai solusi yang baik oleh kebanyakan orang. Tak terkecuali mereka yang berada di negara-negara maju. Di Eropa misalnya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh TNS Infratest atas nama Vodafone Institute belum lama ini mengungkap betapa big data masih menjadi tanda tanya tersendiri bagi pengguna.

Menurut studi tersebut, kurang dari sepertiga (32 persen) orang Eropa percaya bahwa big data memiliki keuntungan. Kedua, hanya sekitar 26 persen dari pengguna digital di Eropa percaya bahwa perusahaan menghormati privasi data pribadi mereka, sementara 29 persen diantaranya merasa memiliki kontrol atas informasi yang dikumpulkan tentang mereka.

Terkait jenis perusahaan yang dipercaya orang Eropa menangani data pribadi mereka dengan benar, operator telekomunikasi dipercaya oleh hanya 18 persen responden, sedikit lebih baik di atas perusahaan media sosial, yang mengantongi angka 11 persen, serta penyedia messaging dan perusahaan mesin pencari yang masing-masing dipercaya oleh 14 persen dan 16 persen orang Eropa.

Semantara bank dan lembaga kesehatan yang terpercaya menempati posisi teratas dalam hal menjaga kepercayaan konsumen dengan masing-masing menorehkan angka 36 persen dan 33 persen. Demikian dilaporkan Telecompaper, Kamis (21/1).

Temuan lain yang ikut terungkap dalam laporan mengenai pandangan publik tentang big data dan privasi ini termasuk fakta bahwa 55 responden mengatakan bahwa mereka akan lebih memilih untuk membayar layanan daripada memberikan data pribadi mereka sebagai ganti untuk layanan internet gratis, sementara 53 persen mengatakan bahwa mereka takkan keberatan jika datanya dianalisis untuk membantu mereka ataupun orang lain meningkatkan kesehatannya.

Studi yang dilakukan atas 8000 responden di delapan negara Eropa ini menyimpulkan bahwa pengguna begitu skeptis terhadap fenomena Big Data karena organisasi publik dan swasta gagal untuk menjelaskan secara jelas bagaimana dan mengapa data mereka dianalisis, dan tidak memberi mereka kontrol yang memadai atas bagaimana data mereka sedang digunakan. Terkait hal itu, hanya 20 persen responden mengatakan bahwa mereka tahu di mana dan bagaimana data pribadi mereka dikumpulkan dan disimpan.

 

Kelompok Koalisi AS Minta FCC Agar Lindungi Data Pengguna

0

Telko.id – Sebuah kelompok koalisi di AS baru-baru ini mendesak Komisi Komunikasi Federal (FCC) untuk melakukan sweeping terkait perlindungan privasi kepada pengguna broadband nasional.

Dilansir dari Reuters (21/1), koalisi ini ingin penyedia layanan internet broadband termasuk perusahaan mobile dan telepon rumah, TV kabel dan satelit untuk tunduk pada peraturan privasi ini.

Di antara perusahaan-perusahaan yang akan terpengaruh adalah AT&T Inc, Comcast Corp, Verizon Communications Inc dan Cablevision Systems Corp.

“Peran internet dalam kehidupan sehari-hari konsumen meningkat. Ini berarti diperlukan peningkatan untuk pengawasan,” ungkap sebuah surat yang ditujukan kepada Ketua FCC Tom Wheeler dan ditandatangani oleh para koalisi tersebut.

Sebagai informasi, kelompok koalisi ini diantaranya American Civil Liberties Union, yakni Pusat Digital Demokrasi, Consumer Watchdog Electronic Frontier Foundation, Public Citizen dan 54 kelompok lain.

Koalisi ini mengatakan dalam surat tersebut bahwa penyedia broadband sudah ‘panen’ dalam jumlah besar dalam hal data analitik konsumen untuk digunakan dalam iklan. “Hal ini dapat membuat efek yang mengerikan dan meningkatkan potensi praktik diskriminatif yang berasal dari penggunaan data,” kata surat itu.

Sementara itu, Wheeler mengatakan penyedia layanan broadband harus memastikan bahwa data yang mereka kumpulkan tentang konsumen aman dan tentunya harus ada persetujuan dari konsumen tersebut untuk berpartisipasi dalam riset analitik yang diadakan oleh penyedia broadband.

Pada bulan November lalu, Wheeler mengatakan bahwa FCC akan mengatasi praktik privasi ini dalam beberapa bulan ke depan, dari perusahaan yang menyediakan layanan jaringan dan konsumen harus tahu apa yang sedang dikumpulkan tentang penggunaan internet mereka.

Pada bulan yang sama, FCC menolak petisi dari kelompok Consumer Watchdog untuk menuntut perusahaan internet yang disebut ‘edge provider’ seperti Google, Facebook, YouTube, Pandora, Netflix, dan LinkedIn untuk menghormati permintaan dari konsumen yang tidak ingin terlacak oleh mereka.

Sejatinya, FCC telah berulang kali mengatakan tidak memiliki niat untuk mengatur perusahaan-perusahaan ini bahkan juru bicara FCC menolak mengomentari pengumuman apapun. Seorang juru bicara USTelecom, menolak berkomentar terkait FCC yang belum mengusulkan peraturan privasi.

Langkah ‘kurang berani’ dari FCC selama inilah yang akhirnya membuat kelompok konsumen tersebut berkoalisi untuk terus menekan FCC agar mau bertindak tegas mengenai data pengguna ini. Data pengguna yang seharusnya menjadi privasi pengguna dalam berinternet, justru menjadi sebuah ladang bisnis baru untuk memberikan analisa baru kepada pihak lain agar dapat memberikan iklan yang tertarget.

Rudiantara: Tenaga Pemantau Akun Radikal Akan Ditambah

0

 

Telko.id – Situs-situs teroris itu ‘mati satu tumbuh seribu’. Jadi pemantauannya tidak akan pernah berhenti. Itu sebabnya, pemerintah melalui Kominfo juga membuka layanan pengaduan situs berbau radikalisme melalui aduankonten@mail.kominfo.go.id.

“Kominfo juga membuak akses bagi penegak keamanan Negara juga untuk dapat menutup akun-akun yang dirasakan memang harus ditutup,” ujar Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Infromasi Republik Indonesia menjelaskan. Hal ini diambil agar tidak perlu waktu lama untuk melakukan pemblokiran. Hanya saja, tentu ada aturannya dan siapa-siapa saja yang diberikan wewenang tersebut. Itu sebabnya, Kominfo secara terus menerus melakukan pemantauan dan pemblokiran.

Terkadang, akun radikal masih saja muncul, walaupun sebenarnya sudah diblokir. Menurut Rudiantara, hal tersebut dapat terjadi karena, nama akunnya saja yang sama, tetapi si pembuat bukan orang yang sama. Itu sebabnya, akun atau situs radikal itu tidak pernah habis. Muncul lagi, muncul lagi. Bahkan untuk menanggapi masalah ini, Kominfo akan menambah tenaga untuk melakukan pemantauan.

Rudiantara juga menyebutkan bahwa, bisa saja, akun atau situs yang sudah dilaporkan belum ditutup karena diperlukan untuk menggali lagi informasi lebih dalam, sehingga akar nya dapat dibasmi.

Setelah melakukan pengawasan dan menerima laporan dari masyarakat terkait pemilik akun media sosial dan situs yang mendukung aksi pemboman di Jalan MH Thamrin, 14 Januari 2016 kemarin, Kementerian Kominfo memblokir beberapa akun. Akun facebook atas nama Muhammad Subkhan Khalid, Batalion Inghimasi dan Mujahidah Sungai Eufrat sudah diblokir. Ada 11 akun-akun media sosial yang secara jelas mendukung aksi-aksi teror tersebut.

Kominfo sendiri, sampai Desember 2015 sudah menutup 1580 situs. Khusus terkait dengan akun dan video bahrunnaim, sejak Bulan November 2015, Kementerian Kominfo telah menghapusnya sesuai dgn nama : Muhammad Bahrunnaim Anggih Tantomo.
Selain itu, Kominfo juga memblokir akun twitter @kdmedia16 (radikal) dan @globalkdi (radikal). Adapun video-video radikal yg telah diblokir sampai dengan tahun 2015 sebanyak 78 video radikalisme ISIS. (Icha)

Device Wi-Fi Akan Lampaui 15 Miliar di Akhir 2016

0

Telko.id – Wi Fi Alliance mengumumkan Bahwa pengiriman Wi Fi telah Mencapai 12 miliar unit saat ini dan diperkirakan pada akhir 2016 akan mencapai

Berdasarkan jumah perangkat yang sudah terinstal WiFi saat ini sudah lebih dari 6,8 miliar. Hal ini menunjukan bahwa Wi-Fi telah menjadi salah satu teknologi yang paling produktif di seluruh dunia. Untuk mendukung adopsi Wi-Fi ini, Aliansi Wi-Fi memasukan program untuk meningkatkan kinerja dan kapasitas jaringan WiFi dalam roadmap teknologinya di 2016.

Dan akan menyediakan kemampuan unik untuk memenuhi tuntutan konektifitas yang berbeda di berbagai aplikasi dan yang ada di apsar.

“Pertumbuhan industri Wi-Fi Telah disejajarkan dengan pertumbuhan program sertifikasi Wi-Fi Alliance,” kata direktur riset Phil Solis, ABI Research. “Dengan adanya pengiriman device WiFi yang saat ini mencapai 12 miliar dan 3 miliar lagi hingga akhir 2016, akan didominasi oleh perangkat WiFi yang dapat beroperasi di frekuensi 2.4 GHz dan 5 GHz dan akan terus meningkat dari waktu ke waktunya. Fenomena ini tidak menunjukan perlambatan sama sekali”.

“Landasan untuk sukses Wi-Fi adalah seperangkat teknologi inti yang terus berkembang untuk memenuhi tuntutan pasar konektivitas,” kata Edgar Figueroa, presiden dan CEO dari Wi-Fi Alliance. “Teknologi Wi-Fi terus mendapatkan yang lebih baik, dan peningkatan pada kapasitas jaringan, kinerja yang lebih tinggi, dan kemampuan ditingkatkan akan memungkinkan Wi-Fi untuk terus memenuhi kebutuhan yang ada dan negara berkembang, dan terus memberikan yang terbaik mungkin pengalaman pengguna.” (Icha)

Pemerintah Uji Publik Rancangan Permen untuk Maksimalkan Emergency Call 112

0

Telko.id – di luar negeri, jika ada kondisi darurat dengan cepat akan menghubungi 911 secara refleks. Angka yang mudah diingat dan tentu nya akan sangat membantu ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat. Namun, ada Negara-negara lain juga yang menggunakan panggilan 112. Di Indonesia, juga menggunakan emergency call 112.

Untuk memaksimalkan layanan darurat 112, Kementerian Kominfo saat ini sedang melakukan uji publik Rancangan Peraturan Menteri Kominfo mengenai Penyelenggaraan Layanan Panggilan Tunggal Darurat. Rancangan Peraturan Menteri ini sesuai dengan ketentuan Pasal 20 UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang isinya adalah penyelenggara telekomunikasi wajib memberikan prioritas untuk pengiriman, penyaluran, dan penyampaian informasi penting yang terkait keamanan negara, keselamatan jiwa manusia dan harta benda, bencana alam, marabahaya, dan/atau wabah penyakit, sehingga diperlukan pengaturan penyelenggaraan layanan panggilan tunggal darurat untuk penanganan keadaan darurat.

Uji publik ini akan dilakukan dari 20 januari hingga 3 Februari.

Apa saja yang masuk dalam Rancangan Peraturan Menteri ini?

Penanggulangan nomor panggilan darurat 112 untuk layanan panggilan tunggal darurat yang dilaksanakan untuk penanganan keadaan darurat yang meliputi, kebakaran, kerusuhan, kecelakaan, bencana alam, penanganan masalah kesehatan, gangguan keamanan dan ketertiban umum dan/atau keadaan darurat lainnya yang disepakati oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Layanan panggilan tunggal darurat ini akan diselenggarakan secara tingkat daerah dan nasional. Pada tingkat nasional, Kementerian Kominfo menyediakan sistem panggilan darurat di tingkat nasional dengan fungsi sebagai pusat data nasional, sementara di tingkat daerah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

Dalam penyelenggaraan layanan panggilan tunggal darurat, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bertugas untuk menyediakan sarana dan/atau prasarana pendukung untuk Pusat Panggilan Darurat. Kemudian melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam tindak lanjut penanganan layanan panggilan tunggal darurat dan melakukan pengawasan pelaksanaan layanan panggilan darurat di daerahnya.

Kementerian Kominfo sendiri akan menyediakan infrastruktur sistem Pusat Panggilan Darurat yang berupa Sistem call center layanan panggilan tunggal darurat dan

Sarana telekomunikasi layanan panggilan tunggal darurat.

Penyelenggara jaringan telekomunikasi (penyelenggara jaringan bergerak seluler, penyelenggara jaringan bergerak satelit, dan penyelenggara jaringan tetap lokal berbasis circuit-switched) wajib menyambungkan panggilan keadaan darurat yang diterima dari masyarakat ke Pusat Panggilan Darurat, menyediakan jaringan dan infrastruktur yang terhubung dengan Pusat Panggilan Darurat dan menginformasikan lokasi dan nomor telepon pemanggil ke Pusat Panggilan Darurat.

Kementerian Kominfo melakukan evaluasi terhadap kinerja Pusat Panggilan Darurat di daerah dan atau penyelenggara jaringan telekomunikasi untuk meningkatkan layanan Pusat Panggilan Gawat Darurat kepada masyarakat.

Akan ada pengenaan sanksi administratif terhadap penyelenggara jaringan telekomunikasi yang melanggar ketentuan dalam Rancangan Peraturan Menteri ini. (Icha)

 

Manfaatkan Popularitas Internet, eSynchrony Sambangi Indonesia

0

Telko.id – Tingginya penetrasi internet di Indonesia, tak bisa dipungkiri lagi menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah pemain yang berkaitan dengan industri ini. Salah satunya adalah mereka yang bergerak di ranah online dating. Memahami potensi ini, biro jodoh terbesar Asia Tenggara yang berasal dari Singapura Lunch Actually Group pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk meluncurkan layanan terbarunya, yakni eSynchrony.

eSynchrony sendiri merupakan platform yang membantu para membernya untuk memilah dan menyetujui siapa saja yang berhak mengakses data pribadinya sebelum mereka bertemu secara langsung. Konsultan dari eSynchrony nantinya akan membantu untuk mengatur waktu pertemuan perdana atau kencan mereka.

Salah satu keunggulan kompetitif yang ditawarkan eSynchrony kepada calon kliennya adalah dari sisi data anggota yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan akun palsu, serta memberikan potensi kecocokan hingga mencapai 70 persen.

“Layanan kami hanya untuk mereka yang benar-benar serius mencari pasangan hidup. Kami meminimalisir sekecil mungkin potensi fake profile. Apalagi nantinya, mereka yang sudah cocok melalui dunia maya akan kami pertemukan dalam kencan nyata. Bisa dibayangkan kalau pertemuan pertama ini tidak didahului dengan proses yang terverifikasi sejak awal,” ungkap Violet Liem, Co-Founder dan CEO Lunch Actually Group, Selasa (19/1).

Dengan 11 tahun pengalaman dalam jasa perjodohan offline melalui Lunch Actually (yang resmi beroperasi di Indonesia sejak akhir tahun 2014), eSynchrony membuat proses pencarian pasangan jauh lebih mudah.

Adanya proses verifikasi data di setiap profil member yang bergabung bersama eSynchrony memberikan jaminan kepada para member bahwa mereka memilki keaslian data profil serta serius ingin mencari pasangan.

Setelah Singapura, Kuala Lumpur, Penang, Hong Kong, dan Bangkok, Jakarta menjadi kota kelima yang menyediakan layanan ini. Bahkan di Singapura sendiri eSynchrony sudah mendapat akreditasi dari SDN dari pemerintah Singapura

“Pengalaman Lunch Actually di berbagai negara selama ini membuat kami menerima banyak masukan untuk menambah layanan baru, agar calon klien kami benar-benar bisa lebih mudah mencari pasangan hidupnya. Kami memadukan antara proses pencarian offline dengan intelligent profiling dalam dunia maya,” tambah Violet Liem.

Nah, lalu bagaimana caranya untuk mendaftar di eSynchrony? Tidak mudah, calon anggota harus melewati 16 tes kompatibiltas. Ini merupakan tes kepribadian yang didesain  untuk mengungkap profil calon member berdasarkan 16 kunci kompatibiltas. Setelah itu, eSynchrony akan menghubungi membernya dan melakukan verifikasi data sekaligus juga bisa untuk berkonsultasi dengan dating consultant. Ketika akun sudah terverifiasi, mereka dapat melihat siapa saja member lain yang memiliki kecocokan dengan mereka berdasarkan kuis yang sudah mereka isi.

Hingga saat ini, ada setidaknya 200 orang telah menjadi member eSynchrony  di Indonesia. Ini merupakan sebuah pencapaian yang baik, mengingat layanan ini sendiri baru diperkenalkan tahun 2015 lalu.

Microsoft Donasikan USD 1 Miliar untuk Layanan Komputasi Awan

0

Telko.id – Sebuah inisiatif baru kembali dibesut oleh Microsoft. Melalui sang CEO, Satya Nadella, raksasa teknologi ini memastikan bahwa komputasi awan Microsoft dapat mendukung kesejahteraan publik. Sebagai bagian dari inisiatif ini, Microsoft Philanthropies yang baru saja terbentuk akan menyumbangkan USD 1 miliar di bidang layanan komputasi awan Microsoft untuk mendukung organisasi nirlaba serta peneliti dari berbagai universitas selama tiga tahun ke depan.

Tiga fokus yang menjadi bagian dalam komitmen ini, yakni memastikan bahwa komputasi awan dapat mendukung kesejahteraan publik luas melalui penyediaan sumber daya komputasi awan tambahan bagi organisasi nirlaba, meningkatkan akses bagi para peneliti dari berbagai universitas, dan membantu memecahkan tantangan terhadap akses internet.

“Microsoft memberdayakan organisasi-organisasi berbasis misi di seluruh dunia melalui donasi terhadap layanan komputasi awan – teknologi paling transformatif dalam generasi kita,” tutur CEO Microsoft, Satya Nadella melalui keterangan resminya, Rabu (20/1).

Ia menambahkan, lebih dari 70.000 organisasi kini akan memiliki akses ke teknologi yang dapat membantu mengatasi tantangan-tantangan sosial terbesar dan pada akhirnya meningkatkan kondisi masyarakat serta mendorong pertumbuhannya.

Komputasi awan telah muncul sebagai sebuah sumber daya penting untuk menggali data secara lebih mendalam dengan cara-cara yang mampu menciptakan wawasan baru sehingga menghasilkan terobosan bukan hanya untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga untuk berbagai tantangan ekonomi dan sosial, serta untuk memberikan layanan yang lebih baik. Hal ini selanjutnya dapat meningkatkan komunikasi dan kemampuan pemecahan masalah, serta membantu organisasi untuk bekerja secara lebih produktif dan efisien.

Pada bulan September 2015 lalu, 193 kepala negara dan para pemimpin dunia lainnya mengadopsi 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang perlu dicapai pada tahun 2030. Agenda ini mencakup beberapa hal seperti mengakhiri kemiskinan, mengakhiri kelaparan, dan memastikan ketersediaan energi yang terjangkau serta dapat diandalkan oleh semua orang – hal-hal yang hanya dapat dicapai dengan memanfaatkan penemuan signifikan serta inovasi teknologi. Skala dan kemampuan komputasi yang diaktifkan oleh sistem komputasi awan akan menjadi penting untuk menemukan solusi bagi beberapa masalah di dunia yang tampaknya belum terpecahkan.

“Kami berkomitmen untuk membantu organisasi nirlaba dan universitas agar dapat menggunakan komputasi awan dalam mengatasi tantangan mendasar manusia,” tambah President Microsoft, Brad Smith. “Salah satu keinginan kami adalah agar Microsoft Philanthropies dapat bermitra dengan kelompok-kelompok ini dan memastikan bahwa komputasi awan mampu menjangkau lebih banyak orang dan melayani kebutuhan masyarakat luas.”

Adapun elemen dari inisiatif baru ini meliputi:

1. Melayani kebutuhan komunitas nirlaba yang beragam.
Sebuah program donasi global yang baru akan membuat layanan komputasi awan Microsoft, termasuk Microsoft Azure, Power BI, CRM Online dan Enterprise Mobility Suite, lebih tersedia untuk organisasi nirlaba melalui Microsoft Philanthropies. Program ini dibangun berdasarkan program lain yang telah sukses dalam menyediakan akses serupa bagi Office 365 untuk organisasi nirlaba. Program nirlaba untuk layanan komputasi awan Microsoft akan mulai diluncurkan pada kisaran Maret-Juni 2016 ini. Microsoft Philanthropies bertujuan untuk melayani 70.000 organisasi nirlaba dalam tiga tahun ke depan dengan layanan komputasi awan Microsoft.

2. Memperluas akses cloud bagi fakultas penelitian di berbagai universitas.
Microsoft Research dan Microsoft Philanthropies akan memperluas penggunaan Microsoft Azure di berbagai program penelitian hingga 50% dengan memberikan tambahan kapasitas penyimpanan Azure dan sumber daya komputasi. Perluasan ini diharapkan dapat membantu fakultas untuk mempercepat penelitian yang berkaitan dengan tantangan-tantangan masa kini. Saat ini, program ini telah menyediakan layanan komputasi awan untuk lebih dari 600 proyek penelitian di enam benua secara gratis.

3. Merangkul komunitas baru dengan konektivitas dan layanan cloud terkini.
Microsoft Philanthropies dan Microsoft Business Development akan mengombinasikan donasi akses untuk layanan cloud Microsoft dengan investasi terhadap teknologi internet berbiaya rendah terkini serta pelatihan komunitas. Melalui kombinasi antara layanan cloud dengan konektivitas serta pelatihan, juga melalui fokus kerjasama antara swasta dengan pemerintah, Microsoft Philanthropies bermaksud untuk mendukung 20 proyek di 15 negara dari berbagai belahan dunia pada pertengahan 2017.