spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1699

Ericsson Beberkan Revenue Mereka di Tahun Lalu

0

Telko.id – Ericsson telah memberikan laporan mengenai peningkatan laba bersih mereka untuk tahun 2015 sebesar 23,4% dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi 13,7 miliar kronor atau setara dengan $ 1.61 miliar, peningkatan ini disinyalir berkat berkat kuartal keempat yang kuat dan dampak dari upaya pemotongan biaya yang sedang mereka jalankan.

Dilansir dari Telecom Asia, Penjualan untuk tahun ini meningkat sekitar 8% menjadi 246, 9 miliar kronor, dengan pertumbuhan di India, Cina dan Amerika Utara yang mengkompensasi penurunan di Jepang, Rusia dan Brasil.

Pendapatan lisensi kekayaan intelektual dari kesepakatan lisensi global Ericsson dengan Apple juga membantu berkontribusi keuntungan tahun ini. Total pendapatan IPR mereka  14,4 miliar kronor, dan lebih tinggi dari kisaran perkiraan sebelumnya yakni dari 13 miliar -14 miliar kronor.

Sementara itu, masih di kuartal keempat, penjualan mereka tumbuh sebesar 8% dari tahun-ke-tahun menjadi 73,6 miliar kronor.

Tapi kesepakatan dengan Apple dan pertumbuhan dalam pasar peralatan 4G di China tidak berkontribusi banyak pada kuartal tiga, pasalnya pada kuartal ini pendapatan mereka sedikit melemah menyusul kuartal ketiga lemah dan hanya menyumbang laba sekitar 7,06 miliar kronor.

CEO Ericsson, Hans Vestberg berkomentar bahwa segmen jaringan perusahaan pulih pada kuartal tersebut. “Peningkatan operator berkat investasi mereka dalam jaringan inti telekomunikasi, didorong oleh penyebaran penawaran layanan baru seperti VoLTE,” katanya.

“Pada 2015, kami memiliki kemajuan yang baik dalam semua bidang pertumbuhan yang kami targetkan dan kami terus berinvestasi untuk membangun kepemimpinan dalam pasar,  selain itu, kemitraan strategis dengan Cisco, yang kami umumkan pada kuartal terakhir, akan memberi kita solusi jaringan yang kuat secara end-to-end dengan portofolio IP yang lengkap,” tuturnya.

Hans Vestberg juga menyebut bahwa sementara kinerja mereka membaik pada Q4, dan terdapat ruang untuk perbaikan lebih lanjut. Pada tahun 2016 vendor berencana untuk fokus pada peluang bisnis 4G and 5G, kemudian memnentukan daerah pertumbuhan yang ditargetkan seperti penjualan perangkat lunak serta penyesuaian biaya dan efisiensi.

Konsolidasi Menjadi Jalan Keluar Bagi dua Operator Ini

0

Telko.id – Axiata Group dan Bharti Airtel telah menandatangani kesepakatan untuk menggabungkan operasi mereka di Bangladesh untuk menciptakan operator dengan basis pelanggan gabungan menjadi sekitar 40 juta pelanggan.

Berdasarkan kesepakatan itu, Robi Axiata dan Airtel Bangladesh akan menggabungkan aset mereka untuk menciptakan operator terbesar kedua di Bangladesh setelah Grameenphone.

Perusahaan gabungan ini akan memiliki jangkauan jaringan terluas dibandingkan dengan operator manapun di bangladesh dan memiliki posisi yang lebih kuat di segmen mobile internet, seperti dilansir dari Telecom Asia (29/1).

Axiata akan memiliki pengendalian sekitar 68,3% di perusahaan gabungan, sementara Bharti Airtel akan memegang 25% dan 6,7% sisanya akan dimiliki oleh pemegang saham yang ada yakni NTT DoCoMo dari Jepang.

Sekedar informasi, Airtel dan Axiata pertama kali memasuki negosiasi mengenai merger potensial di Bangladesh pada bulan September tahun lalu.

“Sektor Bangladesh sangat kompetitif dan penuh sesak dengan perusahaan telekomunikasi, dan konsolidasi menjadi salah satu jalan keluarnya, kami percaya merger ini akan membentuk skala ekonomi yang lebih besar untuk kedua kelompok,” kata CEO Robi Axiata, Supun Weerasinghe.

Supun menambahkan, konsolidasi ini juga akan menghasilkan kapasitas investasi bersama dari dua pemain industri terkemuka untuk mengoptimalkan strategi dan memberikan nilai tambah bagi konsumen dan memberikan manfaat industri pada umumnya.

Di Indonesia sendiri, sejatinya konsolidasi ini juga menjadi salah satu cara dan target dari Menkominfo Rudiantara pada tahun 2019 mendatang untuk mencapai skala ekonomi di Industri Telekomunikasi.

Faktor efisiensi juga menjadi salah satu alasan dari keinginan Chief RA untuk menyelenggarakan konsolidasi antar operator seluler. Menurut rumor yang beredar, Indosat Ooredoo dan Hutchison 3 adalah dua operator yang akan melakukan konsolidasi. Namun, baik Indosat dan 3 masih bungkam mengenai hal ini.

Terinspirasi dari Xiaomi, Polytron Kembangkan Fira OS

Telko.id – Fira OS merupakan sebuah UI yang dikembangkan oleh Polytron dan PT. Fira sebagai perusahaan IT sejak tahun lalu. Adalah Roberto Setiabudi Hartono selaku founder dari Fira OS yang menyebutkan inspirasi awal dalam membuat UI ini di Indonesia.

“Pada tahun 2014, kita bertemu dengan Polytron dan melihat smartphone Xiaomi dan kita tidak menyangka jika ternyata di China terdapat smartphone yang keren banget yang kita belum pernah lihat sebelumnya dan akhirnya kita melihat bahwa kita punya kekuatan di segi programming, kita punya ke kuatan di UX dan kita paling tahu bagaimana keadaan di Indonesia,”ucap Roberto.

Melihat dari hal tersebut, itu adalah sebuah kesempatan bagi Fira untuk membuat UI ini.Berbicara mengenai fitur yang terdapat di dalam Fira OS, Roberto menyebut terdapat beberapa fitur unik seperti Fira UI dengan Smart Directory, Call Dialing yang mempermudah pengguna dalam mengangkat telepon ketika sedang bermain games atau menjalankan aplikasi lain. Kemudian hadir juga fitur Fira Store, yang akan mempermudah pengguna dalam melakukan pembayaran seperti voucher pulsa, voucher games dan token listrik secara online dengan menggunakan credit card. FiraOS juga menyediakan Fira Pay, Fira Id dan yang sedang dikembangkan adalah Fira TV.

IMG-20160128-WA0000

Mengenai Fira Pay, Roberto menyebut hal ini yang menjadi salah satu senjata andalah dari Fira OS. Kepada tim Telko.id, Roberto mengungkapkan, “Kita bekerjasama dengan Veritrans untuk mendukung Fira Pay, Fira Pay sendiri merupakan dasar semua payment online yang ada di smartphone kita,” ucapnya.

Hadirnya Fira Pay, sejatinya menjadi alternatif bagus untuk para pengembang konten lokal yang tidak mendaftar di toko aplikasi google play store. Hadirnya Fira Pay mamungkinkan Polytron dapat bekerjasama secara langsung dengan pemilik aplikasi untuk langsung didaftarkan ke Fira OS dan pembayarannya bisa langsung ke Fira Pay. Hal ini berlaku untuk aplikasi apapun, sebagai contoh, apabila aplikasi yang saat ini sedang Populer seperti Gojek, bisa daftarkan ke Fira OS dan mengenai payment bisa melalui Fira Pay, mengenai pembayaran juga, kedepannya Fira Pay bisa menggunakan kartu debit, hal tersebut dikarenakan tidak semua orang di Indonesia yang menggunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran mereka.

Mengenai kerjasama dengan developer lokal, Roberto mengungkapkan sudah berbicara dengan pemilik konten lokal untuk bekerjasama.

“Kita sudah mulai melakukan pembicaraan dan dalam kurun waktu setengah tahun lagi seharusnya kita sudah menyediakan beberapa produk lagi untuk sektor payment,” Ucap Roberto pada acara peluncuran Polytron ZAP.

Mereka juga akan bekerjasama dengan 7Eleven untuk urusan pembayaran yang akan memungkinkan para pengguna melakukan pembayaran di perusahaan retail ini, sebagai alternatif pembayaran selain kartu kredit.

Fitur lainnya yang disediakan oleh Fira OS adalah fitur Smart directory yang tentunya akan sangat menunjang aktivitas sehari-hari pengguna. Fitur ini juga dapat melihat pulsa si pengguna dalam bentuk launcher.

Hadir juga fitur Fira Store, fitur ini juga masih termasuk kedalam fitur pembayaran dan fitur ini dapat digunakan untuk membeli pulsa, token listrik serta voucher games. Kedepannya, fitur ini juga akan tersedia untuk pemesanan tiket pesawat, kereta api serta penginapan.

Hadir juga fitur yang tak kalah seru yakni Fira TV. Sejatinya fitur ini masih dalam tahap pengembangan, namun Fira TV sudah menyediakan program acara dari Super Soccer. Fitur ini juga tersedia dalam konten berbayar dan gratis. Untuk konten gratis, sejatinya yang dapat digunakan oleh pengguna adalah acara di berbagai stasiun TV di Indonesia secara streaming.

User Interface ini juga memungkinkan digunakan pada smartphone lain selain Polytron, walaupun Polytron sebagai investor dan developer dari Fira, namun sejatinya FiraOS dan Polytron berdiri sendiri. Namun, dalam waktu dekat hal tersebut belum bisa direalisasikan karena masih belum mengantongi izin dari Polytron.

Sampai dengan saat ini, Fira OS sendiri dibangun dan berjalan di Sistem Operasi Android Kitkat dan Lollipop. Disinggung mengenai konsumsi RAM, Roberto menyebut bahwa antarmuka mereka tidak menyedot banyak RAM yang ada di smartphone, karena sifat dari Fira OS yang tidak seperti launcher biasa.

Berbicara mengenai peran Kementrian sebagai regulasi, Roberto menyebut bahwa mereka memberikan apresiasi kepada Fira. Hal tersebut tergambar dari komentar Roberto yang berbunyi, “Menurut info yang kami dengar, standar yang ada di Fira akan dijadikan sebagai contoh untuk software developer yang ada di Indonesia yang berhubungan dengan TKDN,”ucapnya.

Berbicara mengenai infrastruktur server, Roberto menjelaskan saat ini mereka sudah menggunakan Private Cloud. Ia juga mengungkapkan peran Polytron dalam hal ini.

“Kita beruntung dengan adanya Grup besar Polytron yang memiliki private cloud sendiri, yang pada akhirnya kita diperbolehkan untuk menggunakannya,” Ia menambahkan, sampai dengan saat ini belum banyak orang tahu bahwa grup Polytron memiliki private cloud sendiri dan berada di Indonesia.

Roberto melihat, kedepannya launcher ini akan memiliki potensi yang sangat besar. Pasalnya, Polytron sebagai pihak developer sangat fokus sekali dalam mengembangkan launcher ini.

FastMile Nokia hubungkan area rural dengan broadband

0

Telko.id – Pada ajang Mobile World Congress (MWC) tahun 2016 di Barcelona, Nokia Solution menghadirkan solusi baru untuk menjangkau daerah rural diseluruh dunia.

Solusi yang diberinama FastMile merupakan solusi untuk mengaliri daerah rural tersebut dengan broadband. FastMile sendiri mampu memberikan konektivitas broadband perumahan di area-area di mana koneksi internet lambat atau tidak tersedia sambil membantu operator mengoptimalkan aset-aset spektrum mereka.

Menurut keterangan pers yang diterima tim Telko.id, FastMile Menawarkan tingkat data tinggi yakni 2,5 kali throughput dan 12 kali area coverage dari jaringan selular pembanding untuk koneksi-koneksi telefon residensial, TV and  broadband menggunakan LTE yang diperkuat pada ‘mil terakhir’ sebelum masuk ke rumah-rumah di area ini.

Nantinya, FastMile juga akan memungkinkan operator selular membangun jaringan-jaringan makro radio yang telah terpasang secara menguntungkan serta menawarkan broadband rumah sebagai carrier alternatif.

Perangkat ini juga sejatinya sangat user friendly, karena mudah diinstall dengan penggelaran yang cepat dan berbiaya rendah dan mampu meningkatkan adopsi konsumen.

Sekedar informasi, Saat ini, masih ada jutaan orang yang tidak memiliki akses berkecepatan tinggi ke jaringan-jaringan informasi dan komunikasi. Di area-area terpencil, jaringan-jaringan broadband selular mungkin tidak dapat mencapai seluruh rumah karena sinyal dari base station LTE terdekat seringkali tidak cukup untuk memberikan kapasitas throughput di dalam ruangan. Area-area yang sama juga biasanya mengalami kekurangan coverage broadband kabel atau DSL.

Thorsten Robrecht, pimpinan Advanced Mobile Network Solutions di Nokia, mengatakan, “FastMile Nokia memberikan peluang menarik bagi para operator untuk mendapatkan basis konsumen baru serta membawa Internet ke jutaan pengguna yang saat ini tidak memiliki akses ke jaringan komunikasi global,” ucapnya.

Ia menambahkan, Solusi ini juga merupakan cara yang hemat biaya untuk memanfaatkan spektrum yang kurang terpakai di area-area pedesaan.

Nokia FastMile sejatinya dirancang untuk mengatasi kesenjangan konektivitas dan membawa broadband berkecepatan tinggi yang sangat dibutuhkan kepada konsumen residensial di area-area rural.

Pendekatan end-to-end solution yang dihadirkan memastikan tingkat data yang tinggi serta throughput minimum yang terjamin, selain dari memberikan kapasitas yang lebih tinggi dengan menggunakan teknologi-teknologi mitigasi interferensi dan antena topologi yang canggih.

Bagi para operator selular, ini adalah peluang untuk menangani basis konsumen baru mereka dengan bantuan dari jaringan LTE yang telah ada juga dari aset-aset spektrum mereka, sementara operator kabel dapat memperluas lebih lanjut jangkauan layanannya.

Perangkat FastMile terdiri dari sebuah router dalam ruang yang mudah diinstall dan antena luar- ruang, sebuah portfolio aplikasi smartphone untuk konsumen, ditambah sebuah konfigurasi makro (yang mendukung small cell) RAN (Radio Access Network) dan controller berbasis cloud yang dijalankan pada Nokia AirFrame untuk jaringannya sendiri.

Sekedar informasi, menurut data terakhir dari ITU, sekitar 20% rumah tangga di negara-negara maju dan 66% rumah tangga di negara-negara berkembang tidak memiliki akses Internet, dengan lebih dari 4 juta orang di negara-negara berkembang masih offline.

Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah, apakah Operator mau melakukan investasi di wilayah ini. Mengingat total volume data yang digunakan di daerah rural juga nampaknya tidak sebesar investasi yang mereka keluarkan.

Untuk Percepatan Penetrasi 4G Indosat Ooredoo Gadeng EraJaya

0

Telko.id – Penambahan jumlah pelanggan adalah salah satu target bagi semua operator. Maklum saja, dengan adanya penambahan jumlah pelanggan maka revenue pun diharapkan meningkat. Apalagi, untuk meningkatkan penetrasi 4G, dibutuhkan bukan hanya penambahan pelanggan tetapi juga untuk ketersediaan handset berbasis 4G. Untuk itu, Indosat Ooredoo menggandeng Erajaya dengan membuat Gerai Indosat Ooredoo. Soalnya, Indosat Ooredoo tidak boleh jualan handset.

“Hal ini merupakan wujud nyata kami untuk menjadi leader layanan digital bagi masyarakat. Kami ingin memberikan pengalaman baru bagi pelanggan untuk mendapatkan berbagai pilihan smartphone, paket data yang transparan dan menarik, berbagai aplikasi konten digital yang semakin memudahkan pelanggan mengakses dunia digital. Kedepannya akan ada lebih dari 300 Gerai Indosat Ooredoo sebagai hasil dari kerjasama ini ini di seluruh Indonesia,” Joy Wahjudi, Director and Chief Sales & Distribution Officer Indosat Ooredoo menjelaskan.

Gerai Indosat Ooreedoo yang pertama ada di Mall Ciputra Citra Gran Cibubur. Langkah ini merupakan salah satu strategi Indosat Ooredoo untuk semakin dekat dengan pelanggan, sehingga pelanggan dapat berinteraksi langsung untuk mendapatkan solusi dan informasi tentang layanan selular secara menyeluruh di tempat-tempat yang strategis dan mudah dijangkau.

Kehadiran Gerai Indosat Ooredoo baru ini merupakan salah satu strategi Indosat Ooredoo untuk semakin dekat dengan pelanggan, sehingga pelanggan dapat berinteraksi langsung untuk mendapatkan solusi dan informasi tentang layanan selular secara menyeluruh di tempat-tempat yang strategis dan mudah dijangkau.

Gerai Indosat Ooredoo ini menghadirkan layanan-layanan one stop service dalam menyediakan layanan telekomunikasi dan handset terkini dari berbagai merek sekaligus, sehingga pelanggan dapat menikmati pengalaman baru untuk mendapatkan solusi telekomunikasi dalam satu atap.

Di Gerai Indosat Ooredoo ini, pelanggan tidak hanya dapat membeli handset terbaru bergaransi saja, akan tetapi juga telah dilengkapi dengan layanan asuransi perlindungan, sekaligus pelanggan dapat memilih paket bundling dengan smartphone 4G dengan harga terjangkau dan sesuai kebutuhan. Terdapat berbagai pilihan smartphone dari berbagai merek terkemuka baik lokal maupun global brand seperti Samsung, Sony, Asus, Lenovo, Polytron, Microsoft, dan lain sebagainya. (Icha)

Melantai di Bursa Saham Amerika, KinerjaPay Siap Ekspansi

0

Telko.id – Tumbuhnya jumlah pengguna internet dan media sosial tak bisa dipungkiri lagi menjadi faktor pendorong utama tumbuhnya e-commerce di tanah air. Berdasarkan hasil riset DS Annual Startup Report 2015, penjualan e-commerce di Indonesia bahkan menjadi yang terbesar di dunia, dengan pencapaian 45% di tahun 2014 dan 37% di tahun 2015.

Salah satu platform e-commerce asli Indonesia yang baru-baru ini menorehkan prestasi adalah KinerjaPay, yang diluncurkan oleh PT Kinerja Indonesia. Telah menjadi penyedia jasa Teknologi Informatika dan Komunikasi sejak 2007, hingga kini KinerjaPay telah berhasil menarik lebih dari 13.000 pelanggan aktif dan menjadi pasar untuk lebih dari 10.000 produk sejak diluncurkan bulan Februari 2015.

Tak hanya itu, KinerjaPay kini bahkan telah siap untuk Go Public di Bursa Efek Amerika Serikat bernama OTC Markets (QTC.QB board).

Langkah ini akan menjadikan KinerjaPay perusahaan e-commerce Indonesia pertama yang Go Public di Bursa Efek Amerika Serikat.

“Di tahun 2015, berbagai indikator e-commerce Indonesia menunjukkan potensi yang semakin cerah. Walaupun masih harus membuktikan kemampuan dalam menghadapi berbagai tantangan, ekosistem e-commerce di Indonesia tumbuh semakin menarik dan perlahan-lahan mulai membuktikan diri mampu membawa dampak yang luas bagi masyarakat. Itulah sebabnya, tim KinerjaPay merasa bahwa tahun ini adalah saat yang tepat untuk kami melebarkan sayap ke mancanegara,” ungkap Edwin Witarsa, Chairman PT Kinerja Indonesia dalam keterangan resminya, Jumat (29/1).

Produk yang populer diperjualbelikan di platform KinerjaPay adalah pulsa telepon (HP) dan eVoucher (makanan, hotel, travel, dan lain-lain). Selain itu, KinerjaPay juga telah membantu ribuan UKM (Usaha Kecil Menengah) melalui program Kinerja GO ONLINE untuk bisa menjangkau lebih banyak pelanggan dengan menjual produk secara online di KinerjaPay.

Melalui penawaran saham perdananya ini, KinerjaPay menawarkan harga di kisaran Rp.7.000 per lembar atau US$0.50 per lembar. Jumlah saham perdana yang ditawarkan adalah sebanyak 5.000.000 saham biasa. Masa penawaran awal dimulai dari tanggal 18 Januari sampai dengan 15 Februari 2016.

Chief Executive Officer of Kinerja International Pte. Ltd. Deny Rahardjo menyebutkan bahwa dana hasil Go Public ini akan digunakan sekitar 50% untuk pengembangan pasar Indonesia dan sekitar 50% untuk memperkuat tim operasional serta tim IT.

“Tim manajement KinerjaPay dan PT Kinerja Indonesia akan membagikan rencana detail pengembangan perusahaan dan produk termasuk rencana jangka menengah adalah melebarkan sayap KinerjaPay ke negara berkembang lain terutama di Asia melalui Kinerja International Pte Ltd yang berpusat di Singapura,” katanya.

 

Fira OS Dipersiapkan Polytron Hadapi Era Internet Of Things

Telko.id – Polytron boleh berbangga karena menjadi merek lokal yang pertama kali menggunakan user interface sendiri yakni Fira OS. Yang bekerja di atas operating system Android. Bisa dibilang, langkah ini menjadikan Polytron sejajar dengan merek global.

“Jika saat ini baru digunakan pada smartphone Polytron, ke depan Fira OS ini juga akan ditanamkan pada perangkat lain keluaran Polytron untuk menghadapi era Internet Of Things,” ujar Tekno Wibowo, Marketing Director PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) menjelaskan.

Selanjutnya, Tekno juga mengharapkan bahwa Polytron akan siap sekitar 2 -3 tahun mendatang. Hal ini dapat dilakukan Polytron karena selain smartphone, Polytron juga merupakan produsen dari home appliances.

Pada era Internet of Things, prinsipnya adalah saling terhubung dan Cloud. Dari semua sisi, Polytron mulai mempersiapkan. Salah satunya adalah kepemilikian Cloud sendiri dan Fira OS ini. Sehingga sangat memungkinkan untuk perangkat produksi sendiri dapat saling terhubung dan juga terhubung dengan internet. Seperti pada AC dan TV.

“Terlebih, kami ini adalah pemain lokal dan kenal seperti apa masyakarat Indonesia. Dengan demikian, kami dapat memberikan solusi sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan menjadi pembeda dibandingkan dengan merek lain. Baik yang lokal maupun global,” ujar Tekno menjelaskan.

Untuk smartphone sendiri, revenue yang disumbangkan untuk bisnis Polytron secara keseluruhan masih kecil. Pada tahun 2015 baru sebesar 5%. Ke depan diharapkan bisa mencapai 10%.

Target pada tahun 2016 sendiri, Polytron berharap mampu meningkatkan penjualan sekitar 5% dari tahun 2015 lalu yang mencapai 100 ribu unit per bulan. Atau sekitar 2 juta smartphone per tahun. Bahkan, Polytron sangat optimis bahwa 3 hingga 4 tahun ke depan akan menjadi merek lokal yang berjaya di negeri sendiri mengalahkan global brand dan menjadi nomor 1 di Indonesia.

Setelah 6 produk diawal tahun ini yang sudah diluncurkan, masih ada 8 sampai 10 tipe lagi hingga akhir tahun. Sekitar 75% merupakan smartphone yang mampu bekerja di jaringan 4G dan sisanya merupakan smartphone 3G.

Dengan adanya Fira OS ini, diperkirakan komponen TKDN dari smartphone Polytron akan bertambah 5 -10% lagi. Padahal, saat ini saja, TKDN smartphone dari Polytron sudah mencapai 35%. (Icha)

 

Situs Pencari Kerja Glints Hadir untuk Lulusan Baru Indonesia

0

Telko.id – Kabar baik mereka-mereka yang baru lulus di luar sana, yang mendambakan sebuah pekerjaan menjanjikan di sebuah perusahaan yang diimpikan. Kemarin, sebuah situs pencari kerja, bertajuk Glints telah hadir di Indonesia.

Platform yang dikhususkan untuk profesional muda dan lulusan baru ini mengklaim dapat membantu anak muda dalam menemukan passion mereka, serta mengembangkan keahlian khusus yang dibutuhkan untuk meniti karier yang diinginkan.

“Setiap tahunnya, Indonesia memiliki lebih dari 2 juta lulusan baru yang mencari kerja. Namun, hal ini menjadi tantangan berat karena adanya jurang pemisah yang semakin melebar antara keahlian yang dibutuhkan sebagai pekerja dan pendidikan yang dikenyam. Pada saat yang sama, perusahaan juga dihadapkan pada kesulitan untuk mendapatkan kandidat muda yang memiliki pengalaman serta keahlian yang relevan dengan bidang pekerjaan yang sedang dibutuhkan,” ungkap CEO Glints, Oswald Yeo.

Glints berasal dari Singapura dan dibuat serta dikembangkan oleh tiga orang anak muda (berusia 22 tahun) berkebangsaan Indonesia dan Singapura. Sejak didirikan, Glints telah meraih pendanaan yang hampir mencapai Rp 5,4 miliar dari para investor.

Hingga saat ini, Glints memiliki lebih dari 20.000 kandidat muda dan 2.000 perusahaan pemberi kerja yang tergabung di dalamnya. Tokopedia, Happyfresh, hingga perusahaan multinasional seperti Adidas dan Puma adalah beberapa diantaranya.

“Platform ini telah memudahkan saya untuk menemukan banyak talenta muda berkualitas, yang memiliki passion serta keahlian yang sesuai dengan bidangnya,” jelas Risky Dwi Nugroho, Recruitment Specialist, Tokopedia.

Di Indonesia, Glints sudah mulai menjalin kemitraan dengan banyak universitas dan perusahaan. Salah satunya adalah kerjasama dengan banyak perusahaan startup yang bermarkas di East Ventures Hive untuk menyelenggarakan sebuah startup career fair.

 

Ecommerce Indonesia Capai USD 3.8 Juta pada 2019, Transaksi Online Geser COD

0

Telkoid – Laporan terbaru Frost & Sullivan mengatakan bahwa pasar Ecommerce Indonesia akan tumbuh 31,1 persen CAGR mencapai USD 3,8 juta pada tahun 2019, naik dari USD 1,35 juta di tahun 2015.

Beberapa hal disebut-sebut menjadi alasan, diantaranya profil demografis Indonesia yang positif, pertumbuhan ekonomi yang kuat, adopsi ponsel yang tinggi dan banyaknya pemain Ecommerce yang menawarkan berbagai macam produk online untuk konsumen Indonesia.

Ecommerce di Indonesia sangat mirip dengan China pada tahun-tahun awal. Potensi untuk tumbuh didorong oleh kenaikan pendapatan, populasi anak muda yang bertambah dan tawaran ecommerce yang kian matang,” ungkap Spike Choo, Country Director Frost & Sullivan Indonesia.

Namun, beberapa kendala pun bukannya tidak menjadi hambatan. Infrastruktur logistik yang buruk dan kesulitan mengakses layanan perbankan adalah beberapa diantaranya yang masih membutuhkan tambahan investasi dan waktu sebelum Ecommerce di tanah air benar-benar bisa lepas landas.

Untuk mode pembayaran, Frost & Sullivan mencatat bahwa uang tunai masih akan dominan untuk transaksi offline, sementara pembayaran lewat kartu kredit dan debit serta e-money akan terus tumbuh sebagai akibat dari upaya terus menerus yang dilakukan oleh bank dan penyedia telekomunikasi dalam mendorong adopsi oleh end-user.

Di akhir tahun 2015 saja, diperkirakan 113 juta ATM+kartu Debit dan 17 juta kartu kredit beredar. Kartu debit melebihi jumlah kartu kredit sekitar 6,7 banding 1. Total nilai transaksi kartu kredit tahunan adalah 1,3 kali lebih tinggi dari kartu debit, nilai rata-rata transaksi per kartu kredit adalah 16, sementara kartu debit adalah 3, nilai transaksi rata-rata per kartu kredit adalah sekitar Rp 1 juta, sementara kartu debit Rp 605.000.

Choo memprediksi bahwa transaksi online, entah itu menggunakan kartu kredit, kartu debit ataupun e-banking akan melampaui COD dan OTC sebagai modus pembayaran pilihan untuk transaksi pada akhir 2016.

Masuk Indonesia, Netflix Harus Buat Bentuk Usaha Tetap

0

 

Telko.id – Telkom melakukan pemblokiran situs video streaming Netflix. Menurut Telkom, Netflix tidak memenuhi regulasi yang ada di Indonesia karena tidak memiliki iin atau tidak sesuai aturan di Indonesia. Selain itu, banyak memuat konten yang tidak diperbolehkan di Indonesia. Terutama yang bersifat kekerasan dan pornografi.

“Pemblokiran ini untuk melindungi pelanggan dari content-content yang tidak pantas,” ujar Arif Prabowo Vice President Corporate Communication Telkom.

Aturan yang dimaksud antara lain Undang-Undang No. 33 tahun 2009 tentang Perfilman khususnya Pasal 57,, disebutkan bahwa “Setiap film dan iklan film yang akan diedarkan dan/atau dipertunjukkan wajib memperoleh surat tanda lulus sensor”.

Di samping itu langkah yang dilakukan Telkom ini mengacu kepada Undang-UndangNo. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi Pasal 21, yang menyatakan bahwa Penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan usaha penyelenggaraan telekomunikasi yang bertentangan dengan kepentingan umum, kesusilaan atau ketertiban umum.

Langkah ini juga merupakan dukungan Telkom selaku BUMN kepada Pemerintah selaku regulator agar Netflix segera melakukan pembicaraan dengan Regulator ataupun operator untuk memberikan kepastian layanannya kepada masyarakat Indonesia

“Langkah yang kami ambil dilatarbelakangi untuk melakukan perlindungan dan kepastian layanan kepada masyarakat Indonesia, sekaligus menegakan kedaulatan Indonesia dari pemain asing,” tegas Arif Prabowo.

Dengan ramainya perbincangan tentang Netflix ini, Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika berkicau di Twitter. Dalam kicauannya, Chief RA, begitu sering dipanggil, kasus Netflix ini membuka diskusi tentang bisnis Penyelenggaraan Sistem Elektronik (PSE) asing yang buka layanan di Indonesia dan perusahaan ini memenuhi katagori sebagai PSE yang artinya harus mengikuti kebijakan yang ada di Indonesia.

Salah satu kebijakan yang paling pokok diikuti oleh PSE adalah keharusan membuat Bentuk Usaha Tetap atau BUT. Dengan BUT maka perusahaan tersebut akan memenuhi unsur legalitas, hak atau kewajiban secara hukum, regulasi fiscal, kepastian perlindungan konsumen dan lainnya.

Selain pendekatan bisnis dan legal, kehadiran PSE juga harus dilihat dari aspek kontennya. Di mana, dinamika perkembangan teknologi yang sangat kencang menjadi tantangan utama terhadap kebijakan manajemen konten. Check and Balance pun harus diterapkan bergantung pada karakteristik.

Rudiantara pun menyebutkan dalam twit nya bahwa untuk konten yang bersifat siaran atau hiburan, misalnya, ada pedomanPerilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) dari KPI. Untuk yang berkaitan dengan pornografi sudah ada UU Pornografi dan UU Perlindungan Anak. Untuk radikalisme, bisa digunakan UU Terorisme. Sedangakn untuk film, ada LSF. Hanya saja, seperti dalam kasus Netflix, mekanisme sensor ini belum bisa mewadahi kecepatan perkembangan teknologi.

Menkominfo pun sudah berkoordinasi dengan Mendikbud, Anies Baswedan dan sepakat untuk memberdayakan lembaga yang ada di Kemdikbud dalam membuat koridor sensor yang mekanismennya sesuai perkembangan teknologi. Jika pun nanti muncul Netflix-Netflix lain yang akan memasuki pasar Indonesia, harus disikapi secara seragam dengan regulasi yang memberi Level Playing Field. (Icha)