spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1686

Tahun Ini, Balon Google Resmi Beroperasi di Langit Indonesia?

0

Telko.id – Balon-balon Google boleh saja sudah bertebaran di beberapa langit di luar sana. Namun tidak demikian dengan langit Indonesia. Nyatanya, meskipun jabat tangan telah terjalin antara Google dan sejumlah operator besar di tanah air, toh komersialisasi balon internet ini belum juga resmi. Lalu kapan?

Sekedar informasi, balon internet Google saat ini masih dalam tahap uji coba di Indonesia. Namun implementasi dari program bernama Project Loon itu sudah mendapat ‘lampu hijau’ dari Menkopolhukam Luhut Panjaitan.

Realisasi dari Project Loon di Indonesia juga diharapkan dapat dilakukan pada tahun 2016 ini. Hal ini dimaksudkan agar balon Google dapat langsung dimanfaatkan operator untuk memancarkan internet ke seluruh masyarakat di daerah rural di Indonesia.

CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli memberikan komentarnya baru-baru ini. Ia menyebut bahwa Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan baru saja memberikan lampu hijau soal mengangkasanya balon internet Google di Indonesia.

“Kemarin Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Pak Luhut memberikan izin agar Project Loon lebih cepat lagi diterbangkan,” ujar Alex.

Ketika disinggung mengenai perkembangannya Project Loon sejauh ini, Alex mengungkapkan saat ini belum selesai masa uji coba. Sebab ada beberapa tes yang harus dilakukan sebelum benar-benar dikomersialkan.

“Belum selesai. Belum semua variabel dites, masih jalan sekarang,” katanya.

Namun, Jika berkaca pada komentar Vice President Google Mike Cassidy yang mengungkapkan bahwa balon-balon saat ini telah terbang hampir 20 juta kilometer di seluruh dunia, beberapa balon sudah mengelilingi dunia sebanyak sembilan belas kali. Hal ini menegaskan bahwa Project Loon akan segera diluncurkan secara komersial tahun ini.

Seperti diketahui, Google menggandeng tiga operator Indonesia untuk pengimplementasian balon internet mereka. Tiga operator tersebut adalah Indosat Ooredoo, XL Axiata dan Telkomsel. Nantinya Project Loon akan berperan sebagai Base Tranceiver Station (BTS) di udara sehingga dapat menjangkau daerah-daerah terpencil.

Kerja sama operator telekomunikasi Indonesia dengan Google ini menggunakan pita frekuensi 900 MHz, di mana nantinya diperuntukkan sebagai penguat layanan Long Term Evolution (LTE) di Tanah Air. [ak/if]

Gandeng Ericsson, Vodafone Belanda Hadirkan VoLTE

0

Telko.id – Ericsson dan Vodafone Belanda telah mengerahkan seluruh kemampuan terbaik mereka untuk menciptakan layanan Voice over LTE (VoLTE) dan Wi-Fi calling yang berbasis cloud dan full virtualized pertama di Belanda.

Dengan Wi-Fi calling, operator dapat memberikan layanan suara di lebih banyak lokasi di dalam ruangan seperti ruang bawah tanah dengan melengkapi cakupan jaringan makro.

Sementara untuk VoLTE, telah bayak dibahas juga jikalau layanan ini menawarkan set-up panggilan cepat dan kualitas suara high-definition (HD) dengan memfasilitasi komunikasi secara lebih luas berbasis IP. seperti panggilan video over LTE dan dukungan multi-perangkat.

Berbicara mengenai inti dari sistem mereka adalah seperangkat VNFs dari Ericsson IP Multimedia Subsystem. Seperti, Ericsson Multimedia Telephony Application Server, Ericsson Call Session Control Function, Ericsson Evolved Packet Core dengan Ericsson Evolved Packet Gateway, Ericsson Wi-Fi Mobility Gateway dan kontrol lainnya yang di deploy oleh Ericsson serta fungsi otentikasi.

Kemitraan ini akan meningkatkan layanan komunikasi mobile video Vodafone Belanda dibandingkan dengan layanan serupa yang dialiri via akses internet. Seperti yang terjadi pada beberapa OTT.

Solusi ini berbasis pada komersial Network Function Virtualization (NFV) melalui penyebaran Ericsson IP Multimedia Subsystem (IMS) dan Ericsson Evolved Packet Core (EPC). Solusi Lengkap berbasis cloud juga termasuk Virtual Network Fungsi (VNF) untuk Wi-Fi calling, policy control dan application server domain.

Mengomentari perkembangan ini, Matthias Sauder, kepala Networks, Vodafone Belanda, mengatakan, “virtualisasi jaringan membawa peluang besar untuk efisiensi dan kelincahan. Ini akan memungkinkan kami untuk memperkenalkan layanan baru yang lebih cepat kepada pelanggan kami. Kami sangat senang dengan dukungan Ericsson dalam deploymen NFV di jaringan kami di Belanda, yang sekarang akan memungkinkan peluncuran cepat dari layanan komunikasi berbasis IP baru bagi pelanggan kami. “Ujarnya seperti dilaporkan TelecomLead(14/3).

Vodafone sekarang akan dapat mengembangkan layanan suara mereka dan bisnis SMS ke arah jaringan komunikasi berbasis all-IP di awan.

Perang Tarif Di Singapura Semakin Memanas

0

Telko.id – Sebuah perang harga telah meletus di Singapura untuk pertama kalinya dalam empat tahun terkahir. Setiap operator berusaha untuk tetap kompetitif dengan mengedepankan tunjangan data mereka.

Dilansir dari TelecomAsia (12/3). SingTel baru-baru ini memperkenalkan rencana baru add-on yang memberikan pelanggan pilihan untuk melipatgandakan mobile data mereka dengan hanya perlu menambah S$ 5.90 per bulan.

Hal serupa juga dilakukan oleh M1 dan StarHub, dengan M1 memperkenalkan opsi simular untuk SingTel.  StarHub menawarkan 3GB tambahan data mobile pada masa promosi dengan hanya mengeluarkan S $ 3 per bulan, dan akan naik menjadi S $ 6 pada bulan April mendatang.

Sekedar informasi, operator di Singapura memang tengah gencar melakukan berbagai macam program penawaran paket data mereka. Dengan masing-masing operator menghadirkan diskon terbesar yang ditujukan untuk segmen high end.

Perang tarif ini sejatinya bermula dari pengumuman MyRepublic, ISP yang berusaha untuk menjadi operator seluler keempat Singapura ini memang berencana untuk memberikan tarif S $ 8 untuk paket data plan sebesar 2GB data, dengan tambahan layanan VAS untuk para pelanggan mereka.

MyRepublic juga berencana untuk menawarkan layanan data plan unlimited dengan tarif S $ 80 per bulan. Sementara Operator incumbent di Singapura saat ini tidak memberikan penawaran paket tersebut.

Gandeng IBM, Lintasarta Hadirkan Solusi Digital Untuk Korporat

0

Telko.id – Anak perusahaan Indosat Ooredoo, Lintasarta, melakukan kerjasama strategis dengan perusahaan teknologi IBM untuk pembangunan infrastruktur data.

Keduanya sepakat untuk memberikan solusi IT berbasis B2B kepada perusahaan di Indonesia. Nantinya, kemitraan yang direncanakan memiliki jangka waktu lima tahun ini akan memasang target sebesar USD 200 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun.

Selain itu, kerjasama ini juga akan memperkuaat posisi kedua perusahaan di pasar untuk membangun dan menyediakan serangkaian solusi IT, sehingga perusahaan bisa meningkatkan produktivitas secara keseluruhan. Lintasarta seendiri memilih IBM sebagai partner lantaran pengalaman dan posisi mereka yang cukup kuat di industri data center saat ini.

Disamping itu, Indosat Ooredoo dan IBM juga akan melakukan investasi guna membangun layanan solusi IT termasuk pemanfaatan data center Lintasarta, jaringan infrastruktur Indosat Ooredoo, tenaga penjualan dan basis pelanggan.

IMG_20160311_36283

Kedua perusahaan akan membangun command center dan Security Operation Center (SOC) terintegrasi untuk melayani perusahaan dengan memonitor dan mengelola operasional IT mereka. Dengan demikian, pelanggan keduanya akan memperoleh akses untuk membangun solusi berbasis data center, cloud, dan akses yang tergabung dalam IBM Cloud global .

CEO sekaligus Presiden Direktur Indosat Ooredoo, Alexander Ruslie menyebut kerjasama ini tidak hanya menguntungkan keduanya, tetapi juga bagi perusahaan bisnis di Indonesia yang ingin meningkatkan kemampuan IT-nya.

“Inisiatif ini sejalan dengan misi kami untuk menjadi perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia. Kami ingin membawa manfaat sebanyak mungkin bagi perusahaan dan bisnis di Indonesia yang memiliki pertumbuhan pesat,” ujar Alex Rusli, di Gedung Indosat, Jakarta, Jumat (11/3).

Nada optimis juga datang dari Chairman dan CEO IBM Asia Pasific, Randy Walker. Ia berharap teknologi yang dimiliki oleh IBM bisa membantu Indosat Ooredoo dan Lintasarta memimpin perubahan pasar di Indonesia.

“Indonesia merupakan salah satu negara yang ekonominya tengah berkembang dan penggunaan perangkat mobile yang pintar menjadi terpadu serta membuka kesempatan luas untuk bisnis. Karenanya, kami ingin membantu memberikan solusi berbasis data center dan cloud serta transformasi digital pada bisnis mereka,” jelasnya.

Sementara President Director Lintasarta, Arya Damar menyebut program ini nantinya ditujukan untuk pemerintah, korporat, serta para pelaku bisnis.

Arya juga menyinggung sedikit mengenai Tier 4 yang digadang-gadang memiliki tingkat keamanan yang sangat kuat. Pun, meski Lintasarta sendiri masih menggunakan Tier 2 dan 3 sebagai platform andalannya. “Yang terpenting Tier 2 dan Tier 3 kami memiliki standar Internasional dan akan memberikan keamanan yang juga kokoh, sehingga kami belum perlu menggunakan Tier 4,” ujarnya.

Harga yang terbilang mahal, sehingga mungkin akan cukup sulit diterima pasar Indonesia, diakuinya sebagai alasan Lintasarta belum menggunakan Tier 4. Namun, pihaknya tidak meutup kemungkinan akan menggunakan Tier 4 di kemudian hari, saat harga dan daya beli perusahaan di Idnonesia sudah semakin memungkinkan. [ak/if]

Kaspersky Lab Tunjuk Managing Director Baru untuk Kawasan APAC

0

Telko.id – Kaspersky Lab mengumumkan penunjukan Maxim Mitrokhin sebagai Managing Director Kaspersky Lab Asia Pasifik. Berbasis di Singapura, Maxim akan menjadi ujung tombak perusahaan dalam menjalankan strategi pertumbuhan yang dinamis di wilayah Asia Pasifik (APAC).

Sebelum bergabung dengan Kaspersky Lab, Maxim pernah menjabat posisi penting di beberapa perusahaan dengan pertumbuhan tinggi, seperti American Power Conversion dan USP CompuLink.

Maxim bergabung dengan perusahaan pada tahun 2008 dan langsung menjabat sebagai Director of Operations di APAC dan kini bertanggung jawab untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis Kaspersky Lab di wilayah ini dengan fokus untuk memperkuat pangsa pasar B2C, serta memimpin channel engagements serta pengembangan di sektor B2B.

Keterampilan kepemimpinan yang kuat, ditambah pengalaman yang luas di bidang tersebut, membuat perusahaan yakin bahwa Maxim adalah pilihan yang tepat untuk menempati posisi ini guna membawa bisnis Kaspersky Lab ke tingkat selanjutnya.

Garry Kondakov, Chief Business Officer, Kaspersky Lab bahkan mengaku optimis dengan dipilihnya Maxim untuk menempati posisi ini. Menurutnya, tim Kaspersky Lab APAC saat ini tengah berada dalam posisi teratas, dengan  banyaknya tantangan yang menanti maka sangat penting bagi perusahaan untuk mempertahankan pertumbuhan perusahaan di pasar B2C serta memperluas portofolio keamanan perusahaan di kawasan APAC.

“Dengan Maxim menjadi pemimpin tim, saya merasa yakin bahwa dengan segala keahlian operasional yang dimilikinya dan pemahaman yang mendalam tentang proposisi Kaspersky Lab akan dapat mengembangkan perusahaan khususnya dipasar UKM dan korporasi, menciptakan inisiatif baru serta memajukan bisnis,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (11/3). 

Maxim sendiri mengaku sangat senang dapat memimpin dan mengembangkan bisnis yang sudah sangat sukses di kawasan Asia Pasifik. Portofolio perusahaan yang terus berkembang baik itu produk B2B dan solusi bisnis yang dikombinasikan dengan keahlian yang mumpuni di channel network dinilainya telah menempatkan perusahaan dalam posisi yang bagus untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan potensi pasar Asia Pasifik secara penuh.

“Saya berharap dapat bekerja sama dengan tim dan mitra bisnis sehingga dapat memberikan yang terbaik kepada pengguna kami.” pungkasnya.

 

Alexander Rusli Amini Network Sharing Dapat Lindungi Devisa

0

Telko.id – CEO Indosat Alexander Rusli seakan mengamini pernyataan Merza Fachys, selaku pakar Telko Indonesia mengenai ‘network sharing’ yang dinilainya dapat memperkecil pengeluaran devisa negara.

Sebelumnya, Merza Fachys mengungkapkan bahwa alasan dibalik implementasi network sharing adalah tak lain karena kebutuhan. Ia menganggap solusi ini dapat melindungi devisa negara yang selama ini banyak terbuang ke luar negeri.

Baca Juga : Merzha Fachyz: Network Sharing Dapat Lindungi Devisa Negara

Ditemui dalam acara pengumuman kerjasama antara Indosat Ooredoo, Lintasarta dan IBM siang ini, Jumat (11/3), Alex Rusli mengungkapkan bahwa dengan diimpelentasikanya network sharing, maka setiap operator akan membeli lebih sedikit produk jaringan dari luar negeri.

“Berarti operator belinya hanya sedikit dan pasti mereka tidak perlu impor. Nah, kalau tidak impor berarti dapat menurunkan devisa yang keluar ke luar negeri,” ucapnya.

CEO Indosat ini juga mengaku sangat setuju apabila peraturan mengenai network sharing segeradisahkan oleh Pemerintah. Pasalnya, dengan adanya peraturan yang lebih kuat, maka Network Sharing dengan beberapa skema bisa segera diimplementasikan di Indonesia.

“Setujulah. Pilihannya adalah mau naikin harga atau menurunkan cost. Dan kami lebih memilih untuk menurunkan cost sehingga pelanggan tidak perlu dibebani oleh kenaikan harga dari tarif operator,” tambahnya.

Sementara itu, ketika disinggung mengenai skema dari Network Sharing yang paling diinginkan dan paling cocok untuk Indosat, Alex menyebut bahwa MOCN lah yang saat ini paling memungkinkan diimplementasikan oleh perusahaan.

“Kita menginginkan skema yang seefisien mungkin, dan yang saat ini paling memungkinkan adalah MOCN,” sebutnya.

Saat ini, seperti diketahui, kerjasama Indosat Ooredoo dan XL Axiata terkait Network Sharing masih mengunakan skema MORAN atau Multi Operator Radio Access Network. Dengan menggunakan skema ini, konon baik Indosat maupun XL hanya bisa menghemat 20 persen saja.

Ke depannya, kedua perusahaan masih memiliki hasrat untuk membangun network sharing di beberapa kota lagi dengan total 15 kota tahui ini. Namun, mereka sangat menginginkan penggunaan skema MOCN dalam penyebaran Network Sharing di kota-kota selanjutnya.

“Kita mau sampe 15 kota lagi. Namun kita inginnya pakai MOCN karena sayang uangnya kalau pakai MORAN,” ujar Alex.

Skema MOCN sendiri, dinilai bagus karena dianggap dapat lebih menghemat dari segi belanja modal maupun belanja operasional. Dengan tingkat efisiensi berkisar antara 40 hingga 50 persen dari biasanya. Sayang, karena hingga saat ini Kominfo belum membuat aturan yang kuat terkait skema ini. Hal inilah yang konon cukup menghambat proses migrasi Indosat dan XL untuk beralih dari MORAN menuju MOCN. [ak/if]

Nelayan Yogya dan Balikpapan Sudah Gunakan XL mFish

0

Telko.id – mFish, adalah aplikasi yang dibuat khusus untuk para nelayan Indonesia. Untuk lebih meningkatkan produktifitasnya. Saat ini, XL mulai mengimplementasikannya kepada para nelayan di Pantai Baron, Gunung Kidul, dan Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta. Pekan sebelumnya, para nelayan di Balikpapan, Kalimantan Timur juga mulai memanfaatkan panduan barbasis teknologi digital tersebut untuk meningkatkan produktivitas dan keamanan selama bekerja di laut.

“Tahun ini kami mulai mengimplementasikan mFish bagi para nelayan di wilayah DI Yogyakarta dengan harapan sarana berteknologi digital yang kaya manfaatkan ini juga bisa dimanfaatkan warga nelayan setempat memang membutuhkan dukungan untuk lebih produktif. Pada tahap awal ini, akan ada 260 paket mFish yang kami bagikan kepada nelayan Yogyakarta,” ujar Bambang Parikesit, Vice Presiden Central Region XL menjelaskan.

Bambang menambahkan, distribusi paket mFish terdiri dari 160 untuk nelayan Pantai Baron, Gunung Kidul. Sementara itu untuk nelayan Pantai Depok, Bantul dialokasikan sebanyak 100 paket mFish. Satu paket mFish terdiri dari handset, kartu SIM XL, pengisi batre tenaga sinar matahari, tas anti air, dan kabel data. Implementasi mFish di Yogyakarta ini sekaligus sebagai upaya XL untuk mensosialisasikan pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan kinerja dan produktivitas warga di berbagai bidang.

Dalam mengimplementasikan mFish ini, XL bekerjasama dengan TONE, yang menjadi partner pengembang aplikasi tersebut. Aplikasi mFish sendiri memiliki fitur yang menyediakan informasi cuaca, lokasi keberadaan plankton, arah dan kecepatan angin, posisi di laut, serta waktu air pasang. Selain itu, melalui aplikasi canggih tersebut, nelayan juga bisa saling berkomunikasi. Tahun lalu, Presiden RI Joko Widodo sempat menyaksikan demonstrasi cara kerja mFish dan memberikan apresiasi atas aplikasi khusus bagi kaum nelayan ini.

Untuk memastikan program implementasi mFish di Yogya ini berjalan seperti yang diharapkan. XL mendapatkan dukungan dari Komunika Mitra Pratama, mitra dealer XL di Yogya, untuk menyediakan pendampingan selama 6 bulan. Selain itu, akan ada petugas yang secara rutin mendatangi nelayan untuk melakukan pendampingan sekalian menjaga tingkat efektifitas.  Sosialisasi program ini sudah dilakukan sejak Desember 2015. Di sisi lain, jaringan di ke dua area tersebut sudah tersedia layanan 3G dengan kualitas yang bagus untuk akses Data.

mFish di Balikpapan

Sementara itu di Balikpapan, XL bekerjasama dengan Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan, dalam mengimplementasikan mFish. Ada total 500 paket perangkat mFish yang telah diserahkan kepada warga nelayan di 2 kampung, yaitu Kampung Baru dan Manggar, masing-masing 250 perangkat. Seiring dengan visi pemerintah untuk menyediakan “Desa Broadband” di berbagai penjuru tanah air, aplikasi mFish dari XL saat ini telah memberikan manfaat bagi masyarakat nelayan di beberapa lokasi di Indonesia, termasuk di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Karena itu, XL berharap manfaat yang sama bisa didapatkan oleh nelayan di wilayah Kawasan Timur Indonesia lainnya.

Dalam kerjasama tersebut, nelayan penerima paket mFish akan mendapatkan gratis biaya paket data selama 1 bulan. Selanjutnya akan terus dilakukan pembinaan dan pendampingan di kampung nelayan ini oleh tim ITK selama 6 bulan, sekaligus untuk menjaga tingkat efektivitasnya. Juga akan dengan menggandeng tim dealer, dimana setiap bulannya akan menyediakan dompul isi ulang atau paket bagi nelayan di area tersebut. Dari sisi jaringan pendukung, XL memiliki jaringan yang sangat memadai di seluruh Kota Balikpapan dan sekitarnya, termasuk di lepas pantai wilayah Kota Industri tersebut. (Icha)

ITU Rangkul Banyak Pihak Untuk Tentukan Standarisasi 5G

0

Telko.id – International Telecommunication Union atau ITU bersama dengan International Mobile Telecommunication (IMT) melakukan pertemuan dalam ITU R Working Party 5D di Beijing, Republik Rakyat Cina beberapa waktu lalu. Pertemuan ini bertujuan untuk melakukan pengembangan IMT 2020, standard untuk sistem mobile 5G.

Ini adalah pertemuan pertama ITU-R Partai Kerja 5D menyusul keputusan dari World Radio Communication Conference 2015 (WRC-2015). Tujuan dari pertemuan ini antara lain untuk mengidentifikasi dan menyelaraskan spektrum dalam mengoperasi sistem IMT di pita frekuensi di bawah 6 GHz. WRC-15 juga meminta ITU-R untuk mempelajari potensi penggunaan spektrum tambahan di atas 6 GHz untuk IMT, dan hasil penelitian tersebut akan dipertimbangkan di WRC berikutnya di tahun 2019.

Saat ini, secara berkesinambungan, ITU mengajak kerjasama dengan banyak pihak. Mulai dari pemerintah, operator jaringan, produsen peralatan hingga organisasi standardisasi nasional dan regional agar memasukkan aktifitas penelitian dan pengembangan tentang IMT 2020, standard untuk sistem mobile 5G yang akan digunakan untuk komunikasi mobile broadband dalam programnya.

“Setelah ditentukan alokasi spektrum saat World Radio Communication Conference di akhir 2015, ITU kini terus bekerja sama dengan pemerintah dan industri ponsel global untuk melakukan percepatan agar visi IMT-2020 membuahkan hasil,” ujar Jenderal Houlin Zhao Sekretaris ITU menjelaskan. Selanjutnya, Houlin juga menyebutkan bahwa langkah ke depan dalam teknologi mobile 5G bertujuan untuk menghadapi paradigma baru tentang konektivitas antar manusia dan device agar lebih cerdas lagi yang meliputi big data, aplikasi, transport systems dan urban centres.”

Kolaborasi ini berhasil, di mana para anggota ITU sama-sama membawa peserta dan ahlinya untuk bekerja melakukan penelitian dan pengembangan tentang IMT-2020 dan tentu saja melakukan koordinasi tentang standarisasi internasional untuk system 5G.

“5G sudah menjadi fokus penelitian dan pengembangan di industri global,” ujar Liu Lihua, Wakil Menteri, Departemen Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) dari Republik Rakyat Cina. “Pengembangan IMT-2020 terjadi begitu cepat dan ITU-R WP5D memainkan peran penting dalam standardisasi internasional dan isu penting lain yang berkaitan dengan spektrum global terkait 5G.” Liu menambahkan bahwa MIIT telah meluncurkan uji coba R & D, yang akan mendukung teknologi kunci 5G, meningkatkan solusi teknis, dan mengembangkan standar internasional. (Icha)

Tele2 Belanda Pilih Nokia Untuk Tingkatkan Kapasitas LTE

0

Telko.id – Fenomena peningkatan kebutuhan akan data selular terjadi di seluruh dunia. Begitu juga di Belanda. Namun, di mana pun operator beroperasi yang dicari adalah efektivitas biaya dalam menggelar biaya tanpa mengorbankan kenyamanan pelanggannya. Di sisi lain, site untuk membangun sebuah BTS sering kali menjadi kendala. Itu sebabnya, small cell menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan data yang terus meningkat.

Tele2, operator di Belanda juga mengalami hal tersebut. Itu sebabnya, operator ini berencana untuk melengkapi base station makro LTE dengan small cell di beberapa hot spot penting. Baik di dalam maupun luar ruang. Terutama untuk memenuhi permintaan akan data yang terus meningkat dalam kondisi normal atau pada momen tertentu. Untuk tujuan itulah, Tele2 memilih Nokia untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Kami terus membangun jaringan LTE-Advanced kami dengan cepat untuk memenuhi permintaan data selular yang terus meningkat, khususnya di lokasi-lokasi sibuk dan di waktu-waktu puncak,” ujar François Mairey, CTIO Tele2 Belanda, menjelaskan.

Lebih lanjut, François menyatakan bahwa hasil yang dicapai selama ujicoba langsung sebelumnya membuktikan bahwa Flexi Zone Nokia dapat menawarkan kapasitas yang sangat cepat dan sesuai target di area-area dalam ruang dengan kepadatan tinggi, membuatnya menjadi solusi ideal untuk toko unggulan kami yang baru.

Tele2 sudah memulai penggelaran komersial base station LTE Flexi Zone untuk memberikan pengalaman pengguna yang sangat beragam di lokasi-lokasi dalam ruang dan hot spot-hot spot, serta memenuhi permintaan data selular yang terus meningkat, ketika dibutuhkan.

Solusi Flexi Zone Nokia telah terpasang di beberapa outlet baru Tele2 di Amsterdam, yang akan segera dibuka, untuk memberikan pengalaman kepada para pelanggannya saat melakukan pengujian smartphone baru dan kinerja jaringan LTE Tele2.

Flexi Zone menciptakan sebuah jaringan akses poin LTE rendah daya yang dapat dengan mudah melengkapi infrastruktur berbasis base station makro, dengan demikian dapat memberikan kecepatan broadband ultra cepat kepada para pelanggan.

Nokia menyediakan beberapa perangkat untuk kebutuhan dari Tele2 ini. Seperti base station piko dan mikro all-in-one terkecil di industri. Produk tersebut diklaim oleh Nokia sebagai satu-satunya small cell dengan kapasitas makro.

Small cell paritas makro adalah atribut unik yang terpasang di Flexi Zone hingga memungkinkan simplifikasi penggelaran HetNet. Kode piranti lunaknya sama seperti base station makro Nokia dan dapat dikelola serta dioptimalkan oleh NetAct.

“Solusi Flexi Zone kami adalah sebuah cara yang sangat hemat biaya untuk melengkapi jaringan-jaringan makro di area-area residensial dan komersial. Hal itu akan memastikan sebuah pengalaman superior saat banyak penggunaan di sebuah area,” ujar Mikko Ylä-Kauttu, Direktur Akun Belanda Nokia menjelaskan. (Icha)

Dukung IoT dan Migrasi 4G ke 5G, F5 Rilis Product Baru

0

Telko.id – Ledakan jumlah perangkat yang terhubung dalam satu waktu menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh penyedia layanan di era Internet of Things dan tentu saja 4G dan (nantinya) 5G. Di tahun 2016 saja, data memprediksi bahwa 2 miliar orang akan mengakses layanan melalui internet. Angka tersebut belum termasuk dengan perangkat dan sensor IoT yang saling berkomunikasi melalui jaringan. Masifnya konektivitas yang terjadi secara bersamaan dalam satu waktu menjadi tantangan yang kian mendesak untuk diatasi.

Menjawab tantangan tersebut, F5 Networks merilis 100 GbE VIPRION® blade Terbaru untuk Mendukung Kebutuhan konektivitas dalam Internet of Things dan Migrasi Jaringan 4G menuju 5G, di mana perangkat tersebut mampu  mengelola lebih dari 1 miliar koneksi atau 100 kali lipat lebih banyak daripada jumlah perangkat yang saat ini terhubung secara bersamaan dalam satu waktu,

Produk ini diluncurkan untuk menjawab kebutuhan perusahaan dalam menghadapi perkembangan Internet of Things (IoT), evolusi penyedia layanan menuju jaringan 5G, dan juga meningkatkan perlindungan terhadap serangan distributed denial of service (DDoS) danmalicious payloads  – serangan yang disembunyikan di dalam trafik – yang semakin masif menargetkan pengguna.

Viprion 4450 blade, mampu menjawab tantangan konektivitas dan concurrency atau mengelola koneksi yang terhubung secara bersamaan di era Internet of Things (IoT). Hal tersebut dimungkinkan karena perangkat tersebut menyediakan kemampuan untuk mengelola lebih dari 1 miliar koneksi yang terhubung secara bersamaan pada satu waktu, ketika diterapkan di sebuah F5 eight-blade chassis, dan berkat fitur dua port 100GbE serta enam port 40GbE yang ditawarkan.

Sebagai tambahan, bagi penyedia layanan khususnya, blade terbaru ini mampu mempermudah proses transisi jaringan mobile dari 4G menuju 5G, serta meningkatkan kinerja elliptic curve cryptography (ECC) dan 2K keys dengan SSL. Singkatnya perangkat ini dapat meningkatkan kinerja jaringan agar mampu menanggulangi ledakan jumlah pelanggan dan penggunaan data, seraya mewujudkan efektivitas dari penerapan DNS, IPv6 migration dan SGi firewall di ekosistem penyedia layanan.

“Portofolio yang luas dari application delivery atau pengiriman aplikasi yang ditawarkan oleh F5, sudah sejalan dengan salah satu prioritas utama dari enterprise dan penyedia layanan di era digital saat ini, yaitu menghubungkan orang, aplikasi, informasi, dan perangkat melalui infrastruktur hybrid yang skalabel dan cerdas. Perkembangan kebutuhan ini tidak hanya didorong oleh permintaan pengguna, tetapi juga didorong oleh kebutuhan dari industri vertikal seperti transportasi, kesehatan, edukasi, layanan finansial, dan bebagai sektor lainnya yang semakin ‘rakus’ dalam mengonsumsi data,” ujar Emmanuel Bonnassie, Senior Vice President, APAC, F5 Networks.

Emmanuel menambahkan, “Berangkat dari meningkatnya ketergantungan akan aplikasi dan kebutuhan untuk mampu menyesuaikan infrastruktur IT dengan kebutuhan yang semakin berkembang secara lebih cepat, F5 memastikan bahwa pengiriman aplikasi di lingkungan yang hyper-connected dapat terlaksana tanpa adanya gangguan.”

Kinerja dan skalabilitas yang tidak tertandingi untuk mendukung serta mengamankan layanan yang krusial. Tuntutan konektivitas yang disebabkan oleh berbagai perangkat yang digunakan oleh perorangan maupun bisnis, dan juga pertumbuhan dari IoT, semakin membebani kinerja jaringan penyedia layanan. Menurut IDC, sebanyak lebih dari 2 miliar orang diprediksi mengakses internet melalui perangkat mobile di tahun 2016.

“IoT mendorong terjadinya ledakan jumlah perangkat yang terhubung dengan jaringan. Oleh karena itu, penyedia layanan semakin didesak untuk mampu mengelola konektivitas yang semakin masif, mengelola ratusan juta koneksi yang terjadi secara bersamaan pada satu waktu, dan juga pertumbuhan non-stop dari signaling traffic,” ujar Robert Pizzari, Senior Director for ANZ at F5 Networks.

“Skalabilitas dan ekstensibilitas sistem, serta ekspansi kapasitas jaringan yang sedemikian besar menjadi jawaban yang dibutuhkan oleh penyedia layanan agar mampu mengelola dinamika pertumbuhan konektivitas tersebut.

VIPRION B4450 blade dan 4800 chassis menawarkan connection setup rate yang superior, mencapai 20 juta koneksi per detik (CPS). Dan, ketika dikombinasikan dengan BIG-IP Local Traffic Manager (LTM) dapat memberikan tingkat skalabilitas yang mempermudah penyedia layanan untuk migrasi jaringan 4G menuju 5G –menyediakan kemampuan untuk mengelola konektivitas yang dibutuhkan di jaringan 5G.

Selain konektivitas, keamanan juga masih menjadi salah satu prioritas utama dari penyedia layanan. Di zaman di mana serangan siber terjadi hampir terjadi setiap waktu, memiliki sistem perlindungan yang dapat berkembang seiring dengan waktu dan mampu mengetahui risiko yang timbul sebelum serangan terjadi menjadi kian krusial. F5 VIPRION 4450 blade dan pendekatanfull-proxy dari F5 BIG-IP Advanced Firewall Manager (AFM) mampu membedakan koneksi yang berpotensi bahaya dan koneksi yang berasal dari pengguna sebenarnya, serta mampu menyerap dan menangkal koneksi yang berbahaya bahkan sebelum menyerang sumber daya jaringan.

F5 memantapkan posisinya sebagai pemimpin industri, dengan menyediakan platform yang mampu menangani tingginya kebutuhan konektivitas yang terjadi secara bersamaan pada satu waktu, seraya semakin memperkuat keamanan di next generation platform, dan tetap menjaga tingginya tingkat ketersediaan, kualitas, kepuasan pengguna. Pada akhirnya, F5 menyediakan perlindungan terhadap investasi yang telah ditanamkan oleh organisasi. Rencananya, VIPRION B4450 hardware blade akan tersedia di kuartal kedua tahun 2016. (Icha)