spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1672

Menginjakan Kaki di Indonesia, Cloudera Sasar Industri Telko

0

Telko.id – Salah satu penyedia solusi pengelolaan dan analisis big data menggunakan platform hadoop yakni Cloudera mulai menjajaki bisnis mereka di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung mereka langsung menyasar tiga industri besr di Indonesia seperti Telekomunikasi, Keuangan serta Retail.

Dengan hadirnya fenomena big data di seluruh dunia termasuk Indonesia, Cloudera mengungkapkan optimisme mereka untuk menyasar tiga sektor bisnis tersebut. terutama sektor Telko, yang mana industri ini terkait dalam pengolahan data dalam jumlah besar dan juga kebutuhan data analitik serta user profiling.

Di Temui pada Jumpa Pers di salah Grand Hyatt, Jakarta, Joseph lee selaku Managing Director Asean & India Cloudera mengugkapkan bahwa bukan hanya Industri telko saja yang menjadi sasaran market mereka, hadirnya fenomena smart city di Indonesia juga akan dimanfaatkan oleh Cloudera untuk mulai memperkenalan diri di Indonesia. Ia juga menyebut bahwa Industri Telko adalah pelanggan nomor satu dari cloudera dengan top 3 telko global di dunia menggunakan jasa dari Cloudera.

Sementara itu, Cloudera juga sejatinya telah berpartner dengan salah satu operator terbesar di Indonesia  yakni Telkomsel. Lee menyebut, “Telkomsel juga merupakan klien kami dan menggunakan jasa kami untuk mendukung perkembangan perusahaan melalui layanan voice dan SMS untuk memberikan penawaran kepada pelangan terkait layanan broadband terbaru, ” ujarnya kepada tim Telko.id (15/3).

Telkomsel awalnya menerapkan Cloudera Enterprise untuk melaukan extract, transform, dan load (ETL) data operasi dari data warehouse mereka untuk diolah. Cloudera juga memberikan efisiensi dari segi biaya dan waktu untuk mewujudkan sebuah wawasan tentang bisnis Telkomsel.

Namun, ketika disinggung lebih dalam mengenai kerjasama ini serta keterkaitan Telkom Group dalam kerjasama dengan Telkomsel, Joseph Lee tidak mau berkomentar lebih dalam terkit hal tersebut.

Sekedar informasi, Hadoop sendiri merupakan sebuah ekosistem komponen open source yang secara fundamental merubah cara perusahaan dalam menyiman, memproses serta menganalisis data dalam jumlah besar. Tidak seperti sistem traisional, Hadoop memungkinkan beberapa jenis beban kerja analitik pada data yang sama secara realtime.

Sementara itu, yang menjadi perbedaan antara Cloudera dengan penyedia solusi serupa adalah Cloudera Enterprise membuat Hadoop menjadi lebih cepat, mudah dan aman sehingga para pelanggan dapat berfokus pada hasil, tentunya dengan biaya kepemilikan platform yang lebih terjankau oleh kalangan bisnis.

Cloudera juga telah berpartner dengan beberapa raksasa telko di luar negeri. Sebut saja True dan British telecom (BT), dengan BT akhirnya mendeploy Cludera data Hub untuk meningkatkan kecepatan data serta memberikan nilai lebih kepada pelanggan.

Dengan membawa manajemen data ke dalam multi-tenant lingkungan produksi dalam Hadoop, BT sekarang dapat memiliki pandangan terpadu dari pelanggan dan secara signifikan mengurangi jangka waktu pengolahan data.

Well, Kita tunggu saja bagaimana sepak terjang mereka, menghadapi persaingan dari penyedia sejenis lainnya yang sudah lebih dulu ada disini.

Sprint Jajaki Wireless Backhaul Untuk Potong Biaya

0

Telko.id – Setiap operator pasti selalu memutar otak membangun arsitektur jaringannya agar dapat efisiensi biaya. Namun di sisi lain, kenyaman pelanggan harus tetap nomor satu. Hal ini juga dilakukan oleh Sprint. Di mana, operator ini akan melakukan penjajak untuk melakukan perubahan besar yakni dengan melakukan upgrade jaringan. Diharapkan dengan langkah ini dapat memotong biaya perusahaan secara keseluruhan.

Salah satu biaya terbesar yang dikeluarkan oleh Sprint saat ini adalah biaya yang terkait dengan penyebaran small cell adalah backhaul, koneksi yang membawa lalu lintas jaringan mobile dari situs sel kembali ke inti jaringan. Itu sebabnya, Sprint akan mengurangi biaya tersebut untuk sejumlah situs dengan menggunakan wireless backhaul.

Backhaul ini sangat banyak berfungsi, terutama ketika akan melakukan perubahan pada jaringan,” ujar Tarek Robbiati, CFO Sprint menjelaskan. Lebih lanjut, Tarek menyatakan bahwa Sprint akan memiliki jaringan yang begitu pada. Tapi dibagian lain, untuk mencapai kapasitas yang dibutuhkan, maka kami juga harus memikirkan kembali strategi backhaul yang diterapkan. Dan itu akan menggunakan mix ethernet, fiber dan wireless backhaul agar kami tetap dapat menurunkan biaya.

Biasanya, operator menggunakan line-of-sight wireless backhaul. Terutama untuk memenuhi kebutuhan di wilayah pedesaan yang jaringan tidak terjangkau oleh Fiber. Padahal, yang ingin dilakukan oleh Sprint adalah menyebarkan puluhan ribu small cell. Yang rata-rata area yang disasar tidak memilki akses fiber yang sudah pastinya akan menambah biaya setiap penyebarannya secara signifikan. Itu sebabnya, Sprint harus melakukan atur ulang arsitektur jaringannya dengan mengimplementasikan wireless backhaul. Langkah ini akan menghemat biaya yang dikeluarkan oleh Sprint hingga 1 miliar US$ setiap tahunnya, seperti yang diungkapkan oleh Walter Piecyk, analis dari BTIG Research

“Sprint bisa menghemat 600 juta US$ hingga 1,2 miliar US$ untuk penambahan jaringan setiap tahunnya jika menggunakan wireless, bukan fiber,” tulis Piecyk dalam sebuah catatan penelitian yang dilansir dari RCR Wireless. Lebih lanjut, Pieck menjelaskan bahwa angka tersebut berdasarkan asumsi penggunaan backhaul tradisional yang membutuhkan biaya 1000 US$ per bulan dan Sprint membutuhkan backhaul untuk yang bisa menangani 50.000 sampai 100.000 small cell. Namun sejauh ini, masih sedikit laporan yang menyebutkan penyebaran small cell oleh Sprint.

Hanya saja, Softbank sebagai pemilik Sprint dari Jepang menyebutkan bahwa operator ini akan melakukan penggunaan spektrum 2.5 GHz yang sebelumnya digunakan untuk jaringan WiMAX.

Selanjutnya muncul pertanyaan, siapa yang akan menjadi vendor Sprint untuk melakukan perubahan ke wireless backhaul? Kemungkinan jawaban tersebut datang dari Jepang, di mana Softbank sudah melakukan ujicoba teknologi small cell dengan Airspan, perusahaan dari Florida. Ke dua perusahaan tersebut sudah melakukan uji coba dengan koordinasi multipoint technology untuk LTE small cell dan rencananya, untuk implementasi tersebut akan menggunakan Airspan wireless Ibridge backhaul solutions.

Airspan pun sudah memiliki produk yang disebut AirSynergy yang dirancang untuk mendukung wireless backhaul. Sayang, perusahaan belum menanggapi informasi tentang produk yang akan digunakan dan vendor yang dipilih untuk mengimplementasi kebutuhannya.

Piecyk melihat bahwa radio untuk wireless backhaul yang digunakan oleh Sprint harus dapat di dedikasikan ke dalam spektrum 2.5 GHz ke backhaul. Dan, hal itu tidak dapat dilakukan oleh operator lain karena Sprint memiliki spektrum yang cukup. Lebih lanjut Piecyk menilai bahwa apa yang dilakukan Sprint ini, selain akan mengurangi biaya, wireless backhaul juga akan mempercepat implementasi small cell ke pasar.

“Dari sudut pandang Sprint, jika akan menempatkan puluhan ribu small cell akan membutuhkan waktu untuk menemukan perusahaan telepon atau perusahaan kabel atau Zayo atau Crown Castle atau siapa pun itu untuk mendapatkan fiber atau tipe lain untuk koneksi fixed,” ujar Piecyk menjelaskan. Namun, ke depan ketika lalu lintas sudah bertambah, Sprint juga akan membutuhkan fiber backhaul. Namun, untuk saat ini, wireless backhaul bisa menjadi langkah yang cerdas. Langkah inipun akan memungkinkan Sprint mendapatkan perhatian dan memberikan kecepatan yang dibutuhkan oleh para pelanggan mereka.

Untuk saat ini saja, beberapa analis melihat bahwa Sprint sudah memiliki potensi yang baik dan terlihat juga progress ke depannya yang menjanjikan. Seperti yang dikatakan oleh Roger Entner dari Recon Analytics yang mengatakan Sprint sudah menawarkan koneksi lebih cepat dari pesaingnya di pasar. Di mana Sprint Spark telah dikerahkan. Entner berpikir kecepatan jaringan akan menjadi fokus utama untuk Sprint tahun ini.

Tetapi fokus Sprint pada kecepatan jaringan telah diimbangi oleh dorongan berkelanjutan untuk memotong biaya. Saat ini, Sprint masih memiliki hutang lebih dari 30 miliar US$ dan belum berubah sejak 2014. (Icha)

 

F5 Networks: 42% Kekhawatiran Pengguna Aplikasi Datang dari Keamanan

Telko.id – Meningkatnya penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, yang salah satunya ditandai dengan semakin luasnya penggunaan aplikasi – apapun aktivitas yang dilakukan – secara tidak langsung memunculkan kekhawatiran tersediri di benak pengguna aplikasi. Salah satunya, terkait isu keamanan.

Menurut hasil survei yang dilakukan F5 Networks terhadap sejumlah perusahaan di dunia, dimana 53 persen diantaranya berasal dari Asia Pasifik, diketahui bahwa kekahwatiran utama dari perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut dalam menerapkan aplikasi adalah berasal dari faktor keamanan.

“Dari beberapa hal yang dikhawatirkan perusahaan di Asia Pasifik ketika menerapkan aplikasi, 42 persen diantaranya adalah soal keamanan,” ungkap Andre Iswanto, Manager Field System Engineer F5 Netwoks saat ditemui tim Telko.id di Jakarta, Selasa (15/3).

Kekhawatiran lainnya, seperti ditambahkan Andre, datang dari berbagai sumber, diantaranya ketersediaan, yang menempati posisi kedua dengan 30 persen; identitas/akses, yakni sebanyak 13 persen; kinerja, dengan persentase 10 persen; dan terakhir mobilitas, dengan angka terendah 6 persen.

“Dengan segala sesuatunya terkoneksi seperti sekarang ini, tantangan terbesar buat kita adalah bagaimana melindungi data itu agar selalu aman, dan tidak sampai diakses oleh orang-orang yang tidak berkepentingan,” lanjut Andre.

Selain mengungkap data-data di atas, survei yang dilakukan F5 Networks ini juga menyingung soal titik akses mana saja dalam perusahaan yang paling sering mendapatkan serangan, entah itu client, inbound request, ataupun outbound traffic.

Sekitar seperempat responsen mengatakan bahwa mereka hanya ‘kadang-kadang’ saja melindungi ketiga titik akses tersebut. Kondisi yang identik juga terjadi di wilayah Amerika Utara, ketika disinggung dengan masalah serupa. Data juga mengungkapkan bahwa lebih dari setengah responden menyatakan bahwa mereka selalu melindungi client dan inbound request. Selain itu, data juga mengungkapkan bahwa 12 persen dari perusahaan-perusahaan di wilayah Asia Pasifik tidak pernah melindungi outbound traffic.

San Miguel – Telstra Batal Joint Venture

0

Telko.id – Bulan Agustus tahun lalu, antara San Miguel Corp, dan perusahaan telekomunikasi terbesar Australia, Telstra Corp telah melakukan pembicaraan untuk melakukan kerjasama joint venture di Filipan. Sayang, dengan berjalannya waktu, rencana investasi sebesar 1 miliar US$ yang sempat disampaikan untuk usaha patungan tersebut pun kandas ditengah jalan.

“Kami berdua, SMC dan Telstra sudah berusaha kerja keras agar kerjasama tersebut dapat terwujud. Namun ada beberapa masalah yang kami hadapi sehingga, kami sepakat untuk tidak melanjutkan pembicaraan. Namun, saya yakin, langkah ini adalah yang terbaik untuk semua pihak,” kata Ramon Ang, Presiden dan COO SMC dalam penyataannya yang dilansir dari Phillipine Star.

“Meskipun jumlah investasi yang akan ditanamkan besar dan sudah ada niat baik dari semua pihak, namun, kami hanya mampu sampai di sini dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya,” kata Andrew Penn, Chief Executive Officer Telstra dalam sebuah pernyataannya.

Walau demikian, Ang mengatakan bahwa SMC masih berniat untuk menggelar jaringan telekomunikasi bersama dengan int4ernet kecepatan tinggi. “Dengan masuknya SMC dalam pasar telekomunikasi pasti akan menjadi sesuatu yang menggairahkan indutsri karena ketika kami meluncurkan layanan atau produk, konsumen akan mendapatkan keuntungan dari yang lebih baik, layanan yang lebih murah, “kata Ang.

Lebih lanjut, Ang juga menyatakan bahwa SMC tetap akan membuka peluang untuk usaha patungan lainnya. Perusahaan pun tidak terburu-buru untuk dapat menjalin kesepakatan dalam bisnis telekomunikasi yang baru. “Yang penting adalah bahwa kita memberikan masyarakat Filipina pilihan yang lebih baik kata Ang lebih lanjut.

Sementara itu, Philippine Long Distance Telephone Co (PLDT) dan Globe Telecom Inc berharap untuk mendapatkan dorongan masuknya pemain ketiga dalam industri,” kata Fitch Ratings.

Dalam jangka menengah hingga jangka panjang, Fitch mengatakan ancaman persaingan yang lebih besar tetap datang dari SMC. Apakah nantinya akan membangun jaringan sendiri, seperti yang sudah dijadwalkan atau dengan melakukan peluang kerjasama lain di masa depan.

Saat ini, SMC memegang sebagian besar spektrum 700 Megahertz (Mhz) yang sebenarnya sangat diincar oleh pemain lainnya yang sudah ada karena karena cakupannya lebih luas dan kemampuan untuk penetrasi ke gedung lebih baik.

Fitch mengatakan masuknya konglomerat di pasar diharapkan memiliki dampak yang lebih besar terhadap profitabilitas industri dalam jangka panjang. (Icha)

Kerjasama Dengan Globe, Airtel Jangkau Pelanggan Filipina

0

Telko.id – Operator jaringan telekomunikasi Bharti Airtel telah menjalin kerjasama dengan Globe Telecom untuk memungkinkan pelanggan Airtel dari seluruh dunia untuk melakukan panggilan VoIP dengan tarif terjangkau dan bahkan unlimited ke Filipina.

Untuk membuat panggilan VoIP ke nomor Globe di Filipina, pengguna Airtel harus men-download aplikasi Airtel talk, dan menggunakan aplikasi Airtel talk untuk memanggil teman-teman mereka di Filipina.

Pengguna Airtel talk dapat melakukan panggilan unlimited VoIP kepada rekan mereka yang menggunakan sim card Globe dan TM di negara ini dengan hanya perlu mengeluarkan $ 14,99 atau 700 Peso untuk jangka waktu 30 hari, atau 23.30 Peso per hari.

Aplikasi Airtel Talk tersedia di kedua platform terbesar yakni Apple IOS dan Google Android. Dilansir dari TelecomLead(15/3), Airtel Talk menawarkan kualitas panggilan unggul, seperti layanan eksklusif ‘Call Me Free’,  multi conferencing, pesan voice chat, akses multi-perangkat, berkirim audio / video dari aplikasi ke aplikasi panggilan secara gratis dan akses buku telepon instan.

Ajay Chitkara, direktur dan CEO Global Voice & Bisnis Data, Airtel, mengatakan, “Kemitraan ini menandai sebuah tonggak penting yang akan memungkinkan diaspora Filipina yang berada di seluruh dunia untuk terhubung dengan orang yang dicintai kembali di Filipina menggunakan Airtel Talk dengan harga terjangkau,”

Airtel Talk juga telah meluncurkan fitur seperti Share Kredit dengan Teman yang memungkinkan pengguna untuk berbagi saldo panggilan dengan orang-orang yang tidak mampu untuk membeli pulsa karena alasan apapun. Hadirnya  Call Me free yang memungkinkan teman dan keluarga melakukan panggilan melalui Airtel Talk secara gratis menggunakan Airtel mobile .

NTT DoCoMo Tunjuk Ericsson dan NEC Untuk Implementasi Multivendor NFV

0

Telko.id – Untuk memberikan layanan yang lebih baik pada para pelanggannya, NTT DoCoMo akan melakukan pengembangan jaringan dengan menggunakan multivendor NFV atau Network Function Virtualization. Dalam merealisasikan langkah strategisnya ini, operator di Jepang ini memilih Ericsson dan NEC sebagai mitra vendornya.

Ericsson mengatakan bahwa platform untuk arsitektur open platform jaringan NFV di NTT DoCoMo yang sudah diluncurkan secara komersial beberapa waktu lalu adalah pertama kali pola ini digunakan. Di mana, platform ini menyediakan interoperabilitas dan konektivitas dengan “kelas carrier NFV” dan solusi software-defined networking. Ericsson mengatakan juga menyediakan integrasi sistem dan layanan dukungan untuk penyebaran, seperti yang dilansir dari RCR Wireless.

Anders Lindblad, Wakil Presiden Senior dan Kepala Unit Bisnis Cloud & IP di Ericsson, mengatakan: “Kami percaya pengalaman bersama kami dari (OPNFV) arsitektur jaringan akan mempercepat standarisasi global dan interoperabilitas,” jelas Anders Lindblad, SVP dan Kepala Bisnis Ericsson Unit Cloud dan IP. “Kami akan terus membawa biaya operasi jaringan yang efektif dan fleksibel, manajemen sumber daya dinamis untuk mereka.”

NEC mengatakan langkah yang dilakukan oleh NTT tersebut termasuk juga solusi NFV yang terdiri Virtualized Evolved Packet Core atau VEPC dan Virtual Network Function (VNF) manager . VEPC ini diklaim oleh NEC sebagai virtualisasi jaringan inti LTE, termasuk mobility management entity, serving gateway dan packet data network gateway. Dan, VNF manager yang digunakan adalah ‘milik’ NEC yang disebut dengan NetCracker yang mampu handling creation, activation, termination dan updating dari VNFs.

NTT DoCoMo sebelumnya juga menyatakan bahwa peluncuran NFV tersebut akan memberikan mendukung operasi jaringan yang stabil dengan meningkatkan konektivitas ketika volume data semakin tinggi. Bahkan saat terjadi bencana alam atau terjadi kegagalan hardware. Teknologi ini juga diharapkan dapat mempercepat pemberian layanan baru dengan memungkinkan perangkat lunak dari beberapa vendor dan hardware untuk digabungkan secara terbuka dalam jaringan mobile.

“Untuk memaksimalkan manfaat dari NFV, DoCoMo mengharapkan agar dapat melakukan virtualisasi banyak komponen penting lainnya dari jaringan mobile. Tujuannya adalah untuk membangun jaringan sepenuhnya virtual,” jelas Seizo Onoe, EVP dan CTO NTT. Lebih lanjut, Seizo menyatakan bahwa NTT DoCoMo yakin bahwa langkah multivendor NFV ini adalah langkah pertama untuk memenuhi target tersebut. (Icha)

Dompetku+ Kini Bisa Digunakan Oleh Semua Pelanggan Operator

0

Telko.id – Kini hampir setiap orang yang memiliki akses dengan internet punya alamat email. Bak, sebuah nomor ponsel, email pun jadi identitas diri di dunia maya. Dengan adanya fenomena ini, Indosat Ooredo pun mengkomodir fenomena tersebut dengan menjadikan alamat email sebagai pengenal untuk layanan pembayarannya, yakni Dompetku+. Jadi, sekarang bukan hanya dapat digunakan oleh para pelanggan Indosat Ooredoo saja, tetapi pelanggan operator lain pun bisa menikmati kemudahan dalam melakukan pembayaran digital.

“Teknologi digital telah memberi berbagai solusi yang semakin memudahkan semua kegiatan manusia di era digital saat ini. Indosat Ooredoo sekali lagi menjadi pelopor dalam membawa manfaat dunia digital bagi masyarakat Indonesia dengan menghadirkan Dompetku+ sebagai layanan pembayaran yang menggunakan email sebagai identitas akun untuk bertransaksi,” Alexander Rusli, President Director & CEO Indosat Ooredoo menjelaskan.

Lebih lanjut, Alex juga menyebutkan bahwa langkah Indosat Ooredoo meluncurkan Dompetku+ ini sejalan dengan visi perusahaan dalam mewujudkan Indonesia Digital Nation. “Kami akan terus berupaya mencari terobosan dan inovasi secara digital yang membuat semua kegiatan masyarakat semakin aman dan mudah melalui teknologi digital,” sahut Alex menjelaskan.

Indosat Ooredoo mengklaim bahwa Dompetku+ ini adalah layanan yang sangat aman karena notifikasi akan dikirimkan oleh Indosat Ooredoo untuk setiap transaksi. Untuk pilihan mekanisme pembayaran dengan kartu kredit, Dompetku+ menggunakan verifikasi keamanan 3D dan data kartu kredit yang digunakan tidak akan terpampang di website dimana transaksi online dilakukan.

Dompetku+ ini juga akan memberi berbagai kemudahan untuk transaksi online ke berbagai merchant online. Selain dapat menggunakan kartu kredit sebagai mekanisme pembayaran, semua transaksi tersebut cukup dilakukan menggunakan akun email. Pelanggan juga tidak perlu memasukkan berbagai data personal setiap melakukan transaksi karena data cukup dimasukkan sekali saja saat melakukan registrasi.

Belanja online sebagai fungsi utama pemanfaatan Dompetku+ pun menjadi sangat mudah di berbagai toko online seperti di MatahariMall.com, Cipika.co.id, foodpanda.co.id, elevenia.co.id, dan wellcommshop.com. Selain itu Dompetku+ juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan transaksi pengiriman uang baik ke akun Dompetku+ maupun ke rekening perbankan. Tidak hanya itu, transaksi tarik tunai juga bisa dilakukan di merchant-merchant Dompetku.

Untuk dapat menikmati Dompetku+ cukup mudah, pelanggan cukup melakukan registrasi secara online, kemudian aktifkan akun. Lakukan transaksi pada website belanja online, pilih mekanisme pembayaran dengan Dompetku+, kemudian konfirmasi transaksi. Anda pun akan mendapatkan bukti transaksi segera setelah konfirmasi transaksi dilakukan.

Dalam mekanisme pembayaran, ada dua pilihan. Pertama menggunakan saldo Dompetku+ atau menggunakan kartu kredit yang telah didaftarkan pada akun Dompetku+. Pengisian saldo Dompetku+ dapat dilakukan di Alfamart seluruh Indonesia, transfer melalui jaringan ATM Bersama dan melalui aplikasi mobile dari bank dengan jaringan ATM Bersama.

Merchant Terbaru : MatahariMall.com

Dalam kesempatan yang sama, Indosat Ooredoo juga meresmikan bergabungnya MatahariMall.com sebagai salah satu merchant layanan Dompetku+ sehingga menambah pilihan toko online bagi pelanggan Dompetku+ untuk melakukan belanja online.

“Melalui Dompetku+, Indosat Ooredoo telah mengambil langkah yang tepat untuk mendukung dan mendorong Indonesia menuju masyarakat digital,” kata Hadi Wenas, CEO MatahariMall.com. “Kerjasama ini berdampak positif bagi MatahariMall.com, sejalan dengan komitmen kami untuk memberikan opsi sebanyak mungkin bagi konsumen, termasuk metode pembayaran barang. Selain itu, kami ingin agar pelanggan kami lebih akrab dengan metode pembayaran non-transfer yang lebih aman, nyaman, dan mudah.”

Pengguna Dompetku+ yang sekaligus menjadi pelanggan MatahariMall.com sudah dapat menikmati program cashback sebesar Rp 100.000 untuk pembelanjaan minimal Rp 300.000 di MatahariMall yang dibayar dengan menggunakan Dompetku+. Serta tambahan Voucher dari MatahariMall untuk semua pengguna baru Dompetku+ sebesar Rp 50.000 untuk minimal pembelian Rp 250.000 (Syarat dan ketentuan Berlaku).

Sebuah studi memperkirakan bahwa pada tahun 2020, 47% populasi Indonesia akan berusia di bawah 30 tahun. 87% pengguna layanan mobile akan menggunakan device-nya untuk melakukan belanja secara online, namun 89% masih menggunakan ATM sebagai alat pembayaran. Sehingga kehadiran alat pembayaran dengan menggunakan identitas akun email seperti Dompetku+ akan menjadi pilihan yang akan memberikan banyak kemudahan dan keamanan bertransaksi. (Icha)

TM Tandatangani Perjanjian Roaming WiFi Dengan British Telecommunications

0

Telko.id – Belum banyak operator yang melakukan kerjasama roaming untuk WiFi. Biasanya yang dilakukan adalah kerjasama roaming hanya untuk call, sms dan data saja. Namun, Telekom Malaysia melakukan hal ini demi kenyaman para pelanggannya yang untuk akses data melalui WiFi. Demikian juga sebaliknya.

“Kami memahami bahwa infrastruktur telekomunikasi sangat penting dalam memberikan solusi dan layanan berkualitas kepada pelanggan kami di seluruh dunia. Sebagai penyedia komunikasi terkemuka Malaysia dan Convergence Champion, TM berkomitmen untuk memberikan kenyamanan pada para pelanggan. Untuk itu, kami terus menjelajah ke kolaborasi strategis dengan pemain telekomunikasi lainnya, termasuk pemain regional dan global, ” ujara Mohamad Rozaimy Abd Rahman, Executive Vice President for global and wholesale TM, seperti di lansir dari The Star.

Lebih lanjut, Mohamad menjelaskan bahwa dengan adanya kerjasama ini maka jaringan WiFi milik TM dapat dimanfaatkan oleh para pelanggan saat bepergian ke luar negeri dan di Inggris. Demikian juga sebaliknya, ketika pelanggan BT sedang berada di Malaysia, dapat memanfaatkan jaringan TM.

“Inggris adalah tujuan jelajah kunci untuk Malaysia dan dengan adanya kerjasama ini maka akan membedakan TM dengan kompetitor yang ada. Dan bagi BT sebagai peningkatan layanannya secara global, terutama untuk di kawasan Asia Tenggara. Hal ini juga menjadi memperpanjang hubungan kerjasama kami dengan operator besar di Malaysia,” ujar Andrew Dodsworth, Vice president for Global Telecom Markets BT menjelaskan.

Jika dibandingkan dengan menggelar jaringan, tentu kerjasama ini memberikan efisiensi belanja modal yang cukup berarti bagi kedua belah pihak. Terlebih dengan adanya kerjasama roaming maka otentikasi standar mobile yang terjadi juga akan mulus. Selain itu, langkah ini juga lebih cepat dan murah.

TM mengklaim bahwa di Malaysia sudah memiliki lebih dari 4600 titik hotspot. Mulai dari bandara, hotel, pusat konvensi dan kafe. Sedangkan para pelanggan TM dapat menggunakan hotspot milik BT di Inggris yang diklaim memiliki lebih dari 400 ribu hotspot. Jaringan tersebut juga didukung oleh otentikasi dari Wireless Internet Service roaming (WiSPr). Termasuk 12.000 untuk kedua WisPr dan otentikasi Extensible Authentication Protocol (EAP) yang akan memberikan daya jelajah yang mulus bagi pelanggan dari ke dua operator ini.(Icha)

LTE-M Solusi Pas Untuk IoT?

0

Telko.id – Penyedia layanan cloud dan IoT, Sierra Wireless mengatakan bahwa LTE-M memiliki potensi untuk menjaga perusahaan telekomunikasi yang relevan di era IOT ketika teknologi bersaing dan mengancam untuk merusak keberadaan mereka.

Seperti dilaporkan oleh Telecoms(14/3), Sierra mengatakan LTE-M akan menjaga lalu lintas IOT pada jaringan selular, yang berarti operator akan tetap terus terlibat, atau disebut sebagai evolusi industri. Sementara para operator juga mendapatkan manfaat komersial.

Bersama produsen semikonduktor Altair, SVP Sierra untuk Cloud dan Konektivitas, Emmanuel Walckenaer, mengatakan daya rendah Platform seluler-IOT adalah game-changer.

“Ini adalah game-changer, dalam hal konsumsi daya dan dalam hal cakupan. LTE-M merupakan teknologi yang menarik yang dapat memungkinkan kita untuk memajukan pasar IOT. Kami benar-benar difokuskan pada standarisasi dan keterbukaan LTE-M bukan platform hak milik seperti Lora dan Sigfox,” tuturnya.

Memang, dua platform yang disinggung telah mendapatkan traksi yang signifikan di industri sebagai sarana penghubung sensor.  Walckenaer juga percaya ada beberapa alasan mengapa LTE-M akan menjadi platform ‘de facto’  untuk era IoT. Yakni, daya rendah dan memberikan kapabilitas pada bandwidth untuk mengalirkan ke sensor, chip dan modul.

“Saya pikir LTE-M, secara khusus, cukup relevan untuk daya rendah,” katanya. “Saya percaya salah satu manfaat besar lainnya dari LTE-M adalah fleksibilitas dalam bandwidth, yakni gagasan untuk mengalirkan bandwidth mulai dari jumlah rendah sampai sangat tinggi.”

Walckenaer menyebutkan, end user nantinya dapat mengunduh beberapa perangkat lunak dasar sambil mengirimkan tweet atau bersosial media dengan lancar.

Konsumsi daya adalah salah satu tantangan besar dalam industri IOT, dan sementara ini, LTE-M akan membantu memperpanjang umur atau daya tahan sebuah perangkat karena efisiensi daya tadi. Sebuah demonstrasi di stand Sierra pada ajang MWC menggambarkan  rintangan seperti itu. Sebagai contoh, menggunakan baterai AA 2500mAh dengan transmisi 670 byte dan menerima 350 byte, Sierra mengatakan bahwa dengan transmisi seperti itu, akan menjaga daya tahan baterai selama 19 tahun. Dengan ekstensi, salah satu transmisi setiap enam jam dan satu transmisi satu jam membawa hidup baterai ke lima tahun dan satu tahun masing-masing.

LTE-M sendiri merupakan pemanfaatan layanan LTE untuk era Internet Of Things. LTE-M nyatanya lebih mengarah ke sektor Machine-to-Machine, namun nantinya pemanfaatan dari LTE-M ini dapat juga dirasakan untuk end user.

Saluran LTE terdiri dari blok resource dari sekitar 230 kHz spektrum, dan LTE-M merupakan bagian dari blok 1,4 MHz, terdiri dari enam blok resource. LTE-M lebih hemat energi karena discontinuous repetition cycle (DRX)-nya yang diperpanjang, yang berarti endpoint dapat berkomunikasi dengan menara atau jaringan terkait seberapa sering menciptakan arus downlink.

Walckenaer mengakui ada banyak persaingan industri di pasar LTE-M muncul untuk IOT, tetapi berharap beberapa terobosan dan fitur Smart SIM yang mereka hadirkan akan menjadi pembeda dari pemain lain di pasar.

Sierra pun menyarankan contoh LTE-M untuk dapat berada dalam gerakan, yang tentunya dapat menambahkan intelijen ke dalam sepatu lari. Dengan demikian, potensi LTE-M dapat merusak persaingan teknologi dalam jangka pendek dan 5G dalam jangka panjang.

Huawei Rajai Pasar VoIP dan IMS

0

Telko.id – Perusahaan jaringan telekomunikasi asal China yakni Huawei memimpin dalam pasar VoIP dan pasar IMS secara global dengan 28 persen pangsa pada tahun 2015. Sementara Ericsson berada di peringkat kedua dengan 20 persen market share.

Diperingkat ketiga, bercokol Alcatel-Lucent yang memiliki 19 persen pangsa pasar. Sementara Genband memiliki 6 persen dan Nokia memiliki 5 persen saham dari pasar VoIP dan IMS di seluruh dunia.

Dilaprokan TelecomLead (14/3). Penyedia layanan voice over IP (VoIP) dan IP multimedia subsystem (IMS) memiliki kenaikan dari segi pendapatan mereka. Menurut IHS Inc, terjadi kenaikan sekitar 31 persen menjadi $ 5,5 miliar pada tahun 2015.

-03-14-12-24-09_1

Sekedar informasi, VoLTE menjadi pemicu pertumbuhan investasi ini, yang dilakukan oleh 48 operator telekomunikasi berbasis LTE. Dengan 23 di Asia Pasifik, 20 di EMEA (Eropa, Timur Tengah dan Afrika) dan 5 di Amerika Utara yang telah meluncurkan layanan VoLTE komersial sejak Januari 2016.

“Pada tahun lalu, pembawa VoIP global dan pasar IMS mempublikasikan hasil yang terbaik dengan meluncurkan VoLTE  di EMEA dan Asia Pasifik untuk mendukung aktivitas pengguna,” kata Diane Myers, direktur riset senior untuk VoIP, UC dan IMS di IHS.

Di Asia Pasifik, volume penyebaran VoLTE didorong oleh operator telekomunikasi Cina yang membangun infrastruktur untuk peluncuran VoLTE  serta operator di India yang tengah bersiap untuk peluncuran di tahun ini.

Hasil riset tersebut juga mengungkapkan, sekitar 22% dari semua share yang ada di miliki oleh beberapa penyedia yang persentase nya kurang dari 5 persen.

Sementara Session border controllers (SBCs), server aplikasi suara dan elemen inti IMS mencatat pertumbuhan yang solid secara year-on-year.

Untuk pendapatan peralatan IMS (tidak termasuk SBC) menyumbang sekitar 65 persen dari pendapatan VoIP dan IMS di Q4.

Ericsson, Alcatel-Lucent, Huawei, ZTE dan Broadsoft mencapai 35 persen pertumbuhan pendapatan year-on-year pada tahun 2015.