spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1635

Soal Turunnya Tarif Interkoneksi, Ini Tanggapan Pengamat

0

Telko.id – Pemerintah memang belum mengetuk palu terkait dengan besaran penurunan tarif interkoneksi antar operator di Indonesia. Namun, beberapa operator telah mengungkapkan harapan mereka terkait besaran penurunan tarif interkoneksi ini.

Penurunan tarif interkoneksi sebesar 20% saat ini juga masih digodok oleh Pemerintah, dalam hal ini Kominfo selaku regulator. Namun, beberapa operator sebelumnya mengutarakan keinginan mereka agar tarif interkoneksi dapat turun hingga 40%, mengingat dampaknya yang bisa dirasakan oleh masyarakat secara signifikan.

Lantas, bagaimana menurut pengamat dan pakar telekomunikasi? Di temui pada   salah konferensi pers di Jakarta (17/5), Hasnul Suhaimi selaku pakar telekomunikasi yang juga pernah menjabat sebagai Presiden Direktur XL ini mengungkapkan pentingnya penurunan tarif interkoneksi agar tidak ada batasan bagi setiap orang untuk melakukan panggilan dari satu operator ke operator lainnya.

“Secara prinsip, interkoneksi itu diupayakan agar serendah mungkin supaya tidak ada batasan orang untuk menelpon dari satu operator ke operator lainnya. Sekarang kalau kita lihat, orang telpon ke sesama operator itu murah, tapi ketika ke operator lain mahalnya minta ampun,” ujar pria yang dulu kerap memegang peranan penting di industri telekomunikasi Indonesia.

Ia menambahkan, pentingnya penurunan tarif interkoneksi adalah agar menjadikan industri telekomunikasi di Indonesia menjadi sehat, karena tidak adanya subsidi silang antar operator ketika melakukan panggilan dengan operator lainnya.

Lebih lanjut, Pria asal Bukittinggi, Sumatera Barat ini memaparkan jika memang ada tarif tambahan ketika menelepon ke operator lainnya, setidaknya tidak terlampau jauh dibandingkan dengan sesama operator, agar lebih murah.

Disinggung mengenai pemerintah yang akan menurunkan tarif interkoneksi sebesar 20%,  Hasnul mengaku tidak bisa berbicara banyak lantaran Ia bukan pemain di industri ini lagi.

“Jika dilihat dari prinsipnya, semakin kecil tarif interkoneksi akan semakin baik sehingga tidak ada batas bagi seseorsng untuk melakukan panggilan,” ucap Hasnul.

Ia juga berujar, seharusnya jika memang tarif interkoneksi turun maka operator juga harus menurunkan tarif panggilan ke operator lain dan jangan sampai nanti, interkoneksinya diturunkan tetapi tarif dari operator tetap saja segitu. Hal ini juga bertujuan agar masyarakat bisa merasakan bahwa tarif antar operator juga ikut turun.

Sementara itu, ketika ditanya mengenai jumlah ideal dari penurunan tarif interkoneksi ini sendiri, Hasnul menjawab, “sebagai pengamat, saya hanya bisa mengatakan sebisa mungkin serendah mungkin tarif interkoneksi yang berlaku, agar masyarakat menelepon benar-benar dengan cost dan bukan lagi cross subsidi. Saya fikir, kalau bisa turunnya berkisar antara 40-50% dari tarif saat ini,” tutup Hasnul.

Sekadar informasi, Hasnul Suhaimi merupakan seorang pakar telekomunikasi yang pernah bekerja di berbagai operator di Indonesia. Mulai dari jajaran direksi PT. IM3, kemudian sempat merasakan sebagai Direktur Utama PT. Indosat pada 2005 hingga memutuskan untuk pensiun dan mengakhiri jabatannya sebagai Presiden Direktur XL pada April 2015 silam.

Softbank & Alibaba Group Bikin Usaha Patungan untuk Cloud

0

Telko.id – Alibaba Group telah bekerja sama dengan pemegang saham terbesarnya, Softbank Group untuk menyediakan layanan komputasi awan publik di Jepang.

Kedua perusahaan mengumumkan pekan lalu bahwa mereka telah membentuk perusahaan patungan, yang disebut SB Cloud Corp. Perusahaan ini didirikan untuk memberikan teknologi dan layanan Alibaba Cloud untuk perusahaan Jepang, mulai dari startup hingga perusahaan multinasional.

Menurut laporan Telecomasia, Selasa (17/5), Softbank Corp, yang tak lain merupakan anak perusahaan Softbank Group di bidang telekomunikasi, memiliki 60% saham di perusahaan dan Alibaba Group memegang saham sisanya.

Perusahaan patungan yang bermarkas di Tokyo ini – didirikan pada bulan Januari – akan membuka pusat data baru di Jepang dan menyediakan layanan data storage serta pengolahan, middleware tingkat perusahaan dan layanan keamanan awan.

Perusahaan mengatakan SB Cloud akan memainkan peran kunci dalam mendukung kehadiran bisnis Alibaba Cloud di pasar Jepang di mana permintaan untuk layanan komputasi awan publik berkembang dengan pesat.

Kedua perusahaan menambahkan bahwa kesepakatan ini memungkinkan Alibaba Cloud untuk lebih memperluas layanan platform komputasi awannya dengan basis pelanggan bisnis SoftBank yang luas di Jepang, yang terdiri dari berbagai organisasi global.

“Kami bangga bahwa Alibaba Cloud dapat memanfaatkan keahlian komputasi awan dalam usaha patungan dengan SoftBank ini,” Sicheng Yu, wakil presiden Alibaba Cloud mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Kami berharap dapat membantu lebih banyak perusahaan Jepang untuk mengembangkan bisnis mereka dengan layanan komputasi awan kami yang aman, scalable dan inovatif.”

Gandeng Pakar Telko, Advan Akan Hadirkan Smartphone Unggulan

0

Telko.id – Vendor lokal untuk smartphone dan tablet yakni Advan, telah berencana untuk membuat sebuah produk smartphone yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Jika melihat dari persaingan yang ada, Advan memang terlihat menjadi satu-satu nya brand lokal yang paling menonjol di tengah himpitan persaingan dengan brand raksasa semacam Samsung dan Apple.

Indonesia sendiri merupakan pasar yang sangat besar dan seakan menjadi ladang penjualan bagi para vendor smartphone, hal ini terlihat dari 60% pangsa pasar gadget di Asia Tenggara adalah Indonesia.

Berkaca dari hal tersebut, Advan menciptakan sebuah terobosan dengan menggandeng Hasnul Suhaimi selaku pakar telekomunikasi di Indonesia untuk menghadirkan sebuah produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Nantinya, Advan bersama dengan tim R&D dan dibantu oleh tim riset MARS akan melakukan riset kepada perwakilan masyarakat Indonesia di beberapa wilayah untuk mendapatkan sebuah insight mengenai produk apa yang sesuai dengan keinginan pasar.

Chandra Tansri, Sales Director Advan mengungkapkan, “Advan sudah 18 tahun hadir di Indonesia, mulai dari komputer dan sampai dengan saat ini lebih berfokus pada tablet dan smartphone, dan pola R&D terbuka seperti ini merupakan sebuah solusi untuk menghadirkan smartphone yang diinginkan oleh pasar,” ujarnya ketika jumpa media di Jakarta (17/5).

Ia menambahkan, bahwa mereka sejatinya terbuka untuk mendapatkan input terkait dengan perkembangan smartphone dan tablet. Dengan memahami kondisi market, setiap perubahan akan terus dilakukan dan akan lebih memahami kebutuhan pasar di Indonesia sendiri.

Sementara itu, sebagai seorang pakar, Hasnul Suhaimi mengatakan bahwa kecenderungan masyarakat itu terbagi menjadi dua, ada yang melek teknologi seperti sudah mengetahui kehandalan dari smartphone tersebut hanya dengan melihat spesifikasi smartphone nya, ada juga yang setelah menggunakan baru mengetahui kehandalan dari smartphone tersebut, sehingga Advan perlu menghadirkan sebuah smartphone yang bukan hanya dari spesifikasi yang mumpuni, melainkan juga kualitas yang bisa terjamin.

“Advan harus menciptakan smartphone yang memiliki spesifikasi tinggi namun dengan harga yang cukup bersahabat. Berbicara mengenai spesifikasi yang dimaksud seperti kamera, baterai, memori serta lebar layar yang sesuai dengan keinginan pengguna di Indonesia,” ucapnya.

Selain itu, disinggung mengenai pengguna yang sering ‘kapok’ menggunakan smartphone lokal karena kualitasnya yang buruk, pihak Advan mengungkapkan bahwa terdapat sekitar satu persen dari jumlah produksi di pabrik yang tidak berjalan baik dan hal inilah yang menyebabkan stigma tersebut beredar. Namun, mereka mengklaim kalau itu adalah sebuah hal yang wajar.

“Kualitas adalah harga mati bagi kami, hanya saja terdapat 1-2 % produk yang tidak berjalan maksimal, dan itu masih masuk akal jika ada yang komplain terkait barang yang cacat tadi. Hal ini menjadi standar dalam industri, dan jika memang ada komplain, maka itu adalah komplain yang wajar,” ucap Andi Gusena selaku Brand Director Advan.

Kembali ke riset yang dihadirkan, saat ini mereka sedang menjalankan survey melalui online, dan secara tatap muka serta memberikan user experience di beberapa kota yang mewakili semua wilayah Indonesia. Sedangkan untuk produksi sendiri, ketika riset sudah diselesaikan, maka akan segera mereka produksi. Mereka juga menargetkan hanya akan memakan waktu selama tiga bulan setelah riset untuk menghasilkan produk baru.

Mengenai harga, Advan juga akan kompetitif, dengan mematok harga yang berkisar antara 1,5 juta hingga 2 juta rupiah sehingga mampu menjangkau daya beli masyarakat Indonesia. Setidaknya, mereka menargetkan produk barunya nanti akan menyasar sekitar 1 persen dari 250 juta pengguna di Indonesia.

Batal Dipinang Hutchison Three, O2 Mulai Dilirik Investor

0

Telko.id – Beberapa perusahaan ekuitas swasta di Inggris dikabarkan tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk membeli O2. Isyarat ini hadir menyusul ditolaknya penawaran CK Hutchison Three Inggris oleh Komisi Eropa belum lama ini.

Menurut sebuah laporan di Daily Telegraph, perusahaan ekuitas swasta Apax dan CVC Capital Partners bekerjasama dengan Tom Alexander, yang menciptakan Virgin Mobile sebagai operator jaringan virtual mobile pertama (MVNO) di akhir 1990-an dan kemudian menjadi CEO pertama EE ketika Orange dan Deutsche Telekom menggabungkan usahanya di Inggris.

Namun pembicaraan tidak bisa dimulai secara resmi sampai 15 Juli, mengingat ‘sangkutan’ yang tersisa. Seperti diketahui, Telefónica sebagai pemilik O2 Inggris masih memiliki perjanjian eksklusivitas dengan Hutchison – meskipun sekarang merger tidak bisa berlangsung.

Menurut Telegraph, sponsor ekuitas swasta yang potensial telah mendekati CEO O2 Inggris, Ronan Dunne. Konon, sang CEO menunjukkan tanda-tanda bersedia untuk mempertimbangkan proposal pembelian dengan atau tanpa keterlibatan Alexander. “Dalam setiap skenario manajemen pembelian ia akan cenderung dihargai dengan baik,” kata laporan tersebut.

Kandidat lainnya yang muncul sebagai calon pemilik baru O2 Inggris adalah Liberty Global, perusahaan AS yang memiliki Virgin Media, yang meliputi Virgin Mobile lama. Sky mungkin bersedia untuk berinvestasi, kata Telegraph lagi.

Sebelumnya, Komisi Eropa melarang akuisisi Hutchison atas O2 Inggris lantaran hal ini “akan menyebabkan penurunan dalam hal pilihan dan harga yang lebih tinggi serta kualitas layanan yang lebih rendah bagi konsumen Inggris daripada tanpa kesepakatan tersebut.”

Menurut Komisi, seperti dilansir GTB, Selasa (17/5), merger akan mengurangi pilihan penyedia jaringan untuk MVNO.

IDC: Pengiriman Wearable Device Melonjak 67,2% di Kuartal 1 2016

Telko.id – Pasar wearable device semakin matang dan berkembang. Kondisi ini diperlihatkan oleh hasil analisa dari IDC yang menyebutkan bahwa dalam kuartal 1 tahun ini saja terjadi lonjalan dalam pengiriman. Setidaknya, yang dicatat oleh IDC mencapai 67,2%, mencapai 19,7 juta unit dibandingkan dengan 11,8 juta unit pada kuartal yang sama tahun lalu.

Berdasarkan pengamatan IDC, vendor yang paling banyak mengeluarkan produk wearable device adalah Fitbit, Xiaomi, Apple, Garmin, Samsung, dan BBK.

Lonjakan pengiriman ini, dinilai IDC dikarenakan oleh kombinasi rilis perangkat baru, penurunan harga dan rasionalisasi perusahaan.

“Kabar baiknya adalah bahwa pasar weareble device ini semakin matang dan berkembang. Produk yang saat ini kita lihat adalah pengembangan dari produk terdahulu. Baik dalam bentuk, fungsi dan fashion. Semua itu membuat device tersebut semakin revelant dengan kondisi saat ini. Di sisi lain, kondisi ini juga membuat pasar semakin ramai. Namun, tidak menjamin semua perusahaan yang turun ke bisnis ini akan sukses,” ujar Ramon Llamas, manajer riset wearable device IDC menjelaskan.

Pada saat ini, smartwatch memberikan pengalaman yang menarik bagi para konsumen karena dikaitkan dengan fungsi kebugaran sehingga lebih diminati. Selanjutnya diikui dengan pakaian yang bisa terhubung dan heables. “Fungsi yang sangat dekat dengan kebutuhan konsumen ini menjadi pendorong pengiriman wearebles device ini meningkat tajam,” ujar Jitesh Ibrani, analis senior Mobile Device Trackers IDC menjelaskan.

Seperti juga IDC, Tratica juga menganalisa bahwa wearables device akan meningkat. Dari 2,3 juta tahun lalu akan menjadi 66,4 juta pada tahun 2012. Jika diakumilatif kan dari tahun 2015 hingga tahun 2012 akan mencapai 171,9 juta unit yang akan terkirim. (Icha)

 

XL Raih Predikat Best Telco Cloud Partnership

0

Telko.id – Kinerja PT XL Axiata Tbk (XL) kembali memperoleh pengakuan dari publik. Kali ini XL meraih Telco Cloud Award 2016 kategori Best Telco Cloud Partnership.

Pengumuman penghargaan dilakukan bersamaan dengan penyelenggaraan 7th Annual Telco Cloud di London, Inggris, pekan lalu.

Telco Cloud Award 2016 sendiri merupakan ajang bergensi di dunia Cloud yang menjadikan para pakar di bidang cloud sebagai juri independen. Dan adalah proyek Xmart Village 2.0 XL yang didukung dengan layanan XCloud lah yang membuat para juri terkesan.

“XL merupakan satu-satunya pemenang dari Indonesia,” demikian bunyi keterangan tertulis dari XL.

Pihak penyelenggara menyebutkan bahwa kompetisi di industri layanan cloud kini menjadi semakin intens. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi perusahaan telekomunikasi di seluruh dunia untuk selalu mengaplikasikan kemajuan teknologi cloud dan aktif dalam pengembangan layanan ini.

Perusahaan telko di seluruh dunia kini berfokus pada menciptakan layanan baru dan model bisnis yang mendukung transformasi digital sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Mereka terus mencari cara baru dan kesempatan untuk membantu usaha mencapai efisiensi proses dan memberikan pengurangan biaya melalui migrasi solusi cloud.
XL_2
Dian Siswarini dan Career Woman of The Year
Selain predikat Best Telco Cloud Partnership, penghargaan juga diraih oleh Presiden Direkatur sekaligus CEO XL, Dian Siswarini. Pimpinan XL ini meraih penghargaan sebagai Career Woman of The Year dari majalah Elle.

Digelar dalam rangka memperingati hari jadi ELLE yang ke-8, penghargaan ini merupakan penghargaan yang diberikan kepada sejumlah figur yang telah memberikan kontribusi pada dunia fashion, kecantikan, entertainment, dan profesional.

Penghargaan juga ditujukan kepada insan kreatif dan profesional, sebagai suatu apresiasi atas karya dan kontribusi mereka dalam menginspirasi gaya hidup perempuan Indonesia.

Kriteria penilaian untuk setiap kategori adalah dari karya dan nama yang mampu dikenal secara luas, serta sesuai dengan karakter majalah ELLE.

Vodafone Kembangkan IoT Dengan Narrowband Bersama Huawei

0

Telko.id – Semua operator di dunia sedang bersiap menghadapi era internet of things. Namun, cara yang ditempuh beragam. Salah satunya adalah memanfaatkan Narrowband atau sering di sebut NB. Vodafone adalah salah satu operator di Australia yang mencoba teknologi Narrowband untuk IoT ini bersama dengan Huawei. Rencananya, NB-IoT ini akan diujicoba di Melbourne.

NB-IoT ini dikembangkan pada jaringan 4G standar untuk koneksi ke beragam device dan sering disebut dengan Internet of Things.

NB-IoT di Vodafone ini rencananya akan selesai pada akhir tahun ini. Kekuatannya adalah ultra low power standar yang akan memungkinkan untuk koneksi dengan berbagai device dengan menggunakan baterai yang kecil.

Keunggulan lain dari NB-IoT ini adalah mampu menerima sinyak jarak jauh dan melewati berbagai rintangan yang sering dihadapi di perkotaan.

“Berdasarkan pengujian kami di Melbourne CBD, NB-IOT mampu menembus 2 : 58 dinding ganda, bahkan mampu melakukan koneksi dengan objek yang berada di parkiran bawah tanah dan ruang bawah tanah,” ujar Benoit Hanssen, Vodafone CTO, seperti dilansir dari Computer World.

Selain itu, Hanssen juga menambahkan bahwa uji coba juga dilakukan sepanjang jalan di pinggiran kota Melbourne, dengan jarak hingga 30 km.

Yang menarik, Hanssen menyebutkan bahwa NB-IoT ini juga memiliki daya tahan baterai yang cukup lama, bahkan bisa mencapai 10 tahun. Dengan skalabilitas hingga 100 ribu perangkat per sel. Tentu, hal ini akan menghemat biaya dari chipset yang diperkirakan akan kurang dari 5 dolar Australia.

Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan oleh NB-IoT ini, Vodafone pun akan berencana untuk melanjutkan uji cobanya dalam beberapa bulan mendatang. (Icha)

Nokia Hadirkan Terobosan Baru Untuk Industri Kabel

0

Telko.id – Nokia Bell Labs telah mengatakan bahwa telah menghadirkan kecepatan 10 Gbps simetris yang pertama di dunia. Simetris disini merupakan kecepatan download dan upload data berkecepatan lebih dari jaringan Hybrid Fiber Coax (HFC).

Berbasis di Espoo, Finlandia , proof of concept Nokia Bell Labs XG-CABLE menunjukkan kelayakan Full Duplex DOCSIS 3.1 yang ditata oleh CableLabs.

Dilaporkan TelecomLead (17/5), tes laboratorium pertama di dunia ini menggunakan teknologi prototipe yang disebut XG-CABLE, menunjukkan bagaimana penyedia layanan kabel dapat menggunakan sistem kabel yang ada untuk memberikan layanan akses ultra-broadband simetris.

Fakta bahwa jaringan secara bersamaan dapat mendukung kecepatan data hingga 10 Gbps untuk upload dan download konten akan menjadi terobosan besar untuk industri kabel kedepannya.

Tes XG-CABLE menggunakan point-to-point topologi kabel untuk memberikan kecepatan data simetris sebesar 10 Gbps melalui kabel koaksial menggunakan spektrum dengan lebar 1.2 Ghz.

XG-CABLE dapat mengintegrasikan ke dalam konsep CableLabs baru Full Duplex DOSCIS 3.1. Dengan memanfaatkan teknologi XG-CABLE, operator dapat secara efektif menggunakan kabel HFC yang ada lebih dari 200 meter terakhir untuk memberikan kecepatan upstream yang sebelumnya tidak dapat dicapai karena keterbatasan spektrum.

Hal ini akan memungkinkan operator kabel untuk secara efektif membawa layanan ultra-broadband ke lokasi konsumen yang tidak secara fisik atau ekonomis kecuali serat dibawa sampai ke kediaman mereka. XG-CABLE akan memberikan operator sebuah ‘kelincahan’ yang lebih besar dan lebih leluasa dalam menggunakan dan mengelola spektrum mereka.

Robert Howald, wakil presiden Jaringan Arsitektur di Comcast Cable, mengatakan, ” proof of concept XG Kabel milik Nokia menunjukkan bahwa kecepatan simetris multi-Gigabit melebihi kecepatan yang dapat dihasilkan oleh HFC, hal ini sesuai dengan yang ditargetkan dalam inisiatif CableLabs FDX,” tukasnya.

Sebuah terobosan dari Nokia ini tentunya memberikan peluang baru bagi industri kabel, dengan hadirnya solusi ini, diharapkan mampu menjadikan pasar kabel di seluruh dunia menjadi lebih bergairah.

Inilah Jumlah TKDN Coolpad Jika Jadi Rakit Smartphone di Indonesia

0

Telko.id – Coolpad baru saja meluncurkan  smartphone 4G ber ‘lebel’ 3G mereka bernama Coolpad Max dan Coolpad Max Lite.  Namun, yang menjadi permasalahan adalah sampai dengan saat ini mereka belum memenuhi batas minimal TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) di tahun 2016 sebesar 20%.

Alasan itulah yang menjadikan mereka enggan mengaktifkan fitur konektivitas 4G pada smartphone terbaru mereka. Adalah Jevees Jiang selaku CEO Coolpad Indonesia yang mengungkapkan hal tersebut di sela peluncuran handset terbaru mereka yakni Coolpad Max dan Coolpad Max Lite.

“Untuk saat ini Coolpad Max dan Coolpad Max Lite masih menggunakan konektivitas 3G dikarenakan kami belum mendapatkan izin dari pemerintah Indonesia untuk menghadirkan smartphone 4G, namun kedua smartphone ini sudah 4G ready,” ucap Jiang (16/5).

Jiang juga berjanji dalam beberapa bulan kedepan mereka akan segera melakukan kerjasama untuk perakitan smartphone ini di Indonesia, sehingga akan tersedia dalam versi 4G nya secara langsung dan pengguna tidak perlu melakukan update firmware terlebih dahulu.

“Untuk pabrik, rencananya akan berada di kota Surabaya sekitar bulan ke 6 di tahun 2016 ini dan saat ini kami sedang melakukan persiapan guna merealisasikannya,” ucap Jiang menambahkan.

Jika berkaca dari pernyataan tersebut, dapat ditaksir bahwa jumlah TKDN mereka setelah berhasil merakit smartphone di Indonesia adalah sekitar 20%. Hal ini tentunya berdasarkan perhitungan skema 100% hardware yang telah digagas oleh Kemenperin beberapa waktu yang lalu.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, jumlah minimal TKDN hingga tahun ini adalah 20%, baik itu berbentuk hardware ataupun software, jadi jika mereka ingin menghadirkan handset 4G dengan aman, maka mereka harus memenuhi tingkat 20% tadi.

Selain itu, Jiang juga mengungkapkan, bahwa pihaknya akan segera membangun pusat Research and Development (R&D) di Indonesia, meskipun ia tidak menjelaskan secara detail, kapan dan dimana pusat penelitian tersebut berada.

Belum Penuhi TKDN, Smartphone Coolpad Hadir dalam Versi 3G

0

Telko.id – Salah satu vendor smartphone asal China, Coolpad akhirnya menghadirkan dua varian smartphone terbaru di Indonesia. Kedua smartphone ini adalah Coolpad Max dan Coolpad Max Lite, hadir dengan konektivitas 3G namun memiliki harga mulai dari 3 juta Rupiah hingga 5 juta Rupiah. Tentunya harga ini terkesan mahal untuk sebuah handset 3G.

Mengapa demikian? Coolpad seakan mengikuti jejak OnePlus untuk ‘mengakali’ peraturan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) yang berlaku untuk smartphone 4G di Indonesia.

Pasalnya, kedua smartphone terbaru Coolpad ini sudah 4G ready jika menilik dari komponen yang terdapat pada kedua handset tersebut.

Sekadar mengingatkan, beberapa waktu lalu OnePlus X yang merupakan produk handset besutan OnePlus hadir di Indonesia dan mendukung jaringan 4G, hanya saja perangkat tersebut terkesan di “lock” oleh pihak OnePlus dan membalutnya dengan konektivitas 3G.

 “Untuk yang hadir di Indonesia adalah produk 3G, sehingga kami tidak ikut tersangkut mengenai urusan TKDN, namun kami yakin komunitas kami lebih cerdas ketimbang kami,” ujar Shinta Hawa Thandari, Community Manager OnePlus Indonesia pada saat peluncuran handset ini beberapa waktu lalu.

Namun, nampaknya Coolpad lebih ‘gentle’ ketimbang OnePlus. Lewat pernyataan CEO Coolpad Indonesia, Jevees Jiang yang mengaku belum akan membuka akses 4G, dikarenakan belum memenuhi standar minimal TKDN untuk tahun ini.

“Untuk saat ini kita memang belum memberikan akses 4G, karena pemerintah belum memberikan izin untuk membuka akses 4G di kedua handset ini, namun untuk beberapa bulan kedepan, kedua smartphone terbaru kami ini sudah mendukung jaringan 4G,” ujar Jiang disela peluncuran Coolpad Max dan Coolpad Max Lite di Jakarta (16/5).

Jiang juga mengungkapkan bahwa pada bulan keenam di tahun ini, mereka akan mulai merakit smartphone 4G di Indonesia dan saat ini hanya tinggal proses persiapannya saja.

“Untuk pabrik, rencananya akan berada di kota Surabaya sekitar bulan ke 6 di tahun 2016 ini dan saat ini kami sedang melakukan persiapan guna merealisasikannya,” tambah Jiang.

Sekilas mengenai spesifikasi, Coolpad Max dan Coolpad Max Lite.

Untuk Coolpad Max, memiliki dimensi cukup tipis yakni 7,6mm dan bobot 170 gram. Ukuran layarnya 5,5 inch FHD, dengan Corning Gorilla Glass 4 untuk melindungi layar Curved Glass 2.5D. Terdapat pula sensor sidik jari pada bagian belakangnya.

Coolpad Max yang dirilis di Indonesia menggunakan SoC Snapdragon 617 octa core 1,5 GHz, bukan Snapdragon 615 seperti yang ada di Tiongkok. Perbedaan ini membuat core prosesor-nya yang disebut benar-benar berjumlah delapan, bukan dua quad core.

Ponsel dengan tampilan Full Metal Unibody ini juga dilengkapi dengan fitur Qualcomm Quick Charge 3.0 untuk pengisian baterai yang lebih cepat. Warna yang dihadirkan yakni Golda dan Rose Gold.

Sementara Coolpad Max Lite ditenagai prosesor MSM8929 1,4GHz 64bit Octa Core. Ponsel ini disokong layar 2,5D HD 5,5 inch yang dilengkapi kaca tahan gores.

Meski begitu, smartphone ini belum didukung teknologi 4G LTE. Namun dengan prosesor octacore snapdragon 617 dan RAM seluas 4GB yang ditanamkan, pengguna dipastikan akan mendapat performa yang optimal.

Coolpad Max mulai tersedia secara pre-order mulai 10 Juni 2016 dengan harga Rp 4.999.000. Untuk pemesanan pre-order dengan paket menarik, bisa dilakukan di Blibli.com. Usai masa pre-order, pembelian bisa dilakukan di seluruh toko retail ponsel di Indonesia. Sementara Coolpad Max Lite, tersedia mulai 16 Mei 2016 dengan harga Rp 2.999.000.

Menariknya, kedua handset Coolpad ini dilengkapi dengan fitur dual space membuat pengguna bisa memisahkan kehidupan personal dan profesionalnya (pekerjaan/bisnis). Pasalnya, fitur tersebut memungkinkan pemakainya mengaktifkan dua akun media sosial secara bersamaan.

Selain itu, Coolpad juga telah menggunakan teknologi enkripsi yang mampu menghadirkan perlindungan pada kedua akun serta ponsel tersebut. Dengan begitu, setiap data, kontak, foto, video serta aplikasi yang tersimpan pada smartphone, dapat terlindungi dan terhindar dari kebocoran data.