spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1588

Indosat Kerjasama Direct Carrier Billing Dengan Fortumo

0

Telko.id – Fortumo dan Indosat Ooredoo, hari ini mengumumkan peluncuran direct carrier billing.  Kemitraan ini akan membuka kesempatan bagi 69.800.000 pelanggan Indosat Ooredoo untuk melakukan pembayaran online dengan mengisi rekening mobile nya tanpa perlu menggunakan kartu kredit.

“Kami sangat senang untuk membangun kerjasama ini strategis dengan Fortumo. Kerjasama ini memberikan banyak manfaat bagi  pelanggan Indosat Ooredoo dan memungkinkan transaksi di jaringan yang lebih luas lagi,” ujar Prashant Gokarn, Chief New Business & Innovation Officer Indosat Ooredoo menjelaskan. Gokarn pun menambahkan bahwa langkah ini menjadi inovasi dari Indosat Ooredo yang bertujuan untuk menjadi telco digital terkemuka.

Platform direct carrier billing Fortumo ini sudah digunakan oleh beberapa toko aplikasi terkemuka. Seperti Google Play dan Windows Phone Store. Lalu sudah digunakan juga oleh perusahaan digital media seperti Sony, HOOQ dan Gaana. Platform ini pun sudah digunakan para perusahaan game seperti EA Mobile, Gameloft, Kinguin dan Rovio). Fortumo pun sudah kerjasama dengan 350 operator seluler di seluruh dunia.

“Dengan menggunakan platform Fortumo akan memberikan tambahan pendapatan bagi operator seluler dari semua segmen industri digital secara langsung. Itu sebabnya, Kami sangat antusias untuk bermitra dengan Indosat Ooredoo dan berharap ada pertumbuhan pendapatan dari operator karena metode pembayaran ini, ” ujar Siddharth Sahi, Vice President Carrier Sales – Asia Fortumo menjelaskan. (Icha)

Trend Pasar Mobile dan Komputasi Akan Mengarah ke Pasar 60 GHz WiGig Pada 2017

Telko.id – Industri mobile dan komputasi pada 2017 diperkirakan akan bergeser ke pasar 802.11ad atau lebih dikenal dengan WiGig. Di mana, pada saat itu, adopsi terhadap teknologi mobile maupun komputasi sudah semakin tinggi lagi.

ABI Research memperkirakan akan beredar 180 juta chipset WiGig yang dikirim ke pasar smartphone pada tahun 2017. Jumlahnya akan terus meningkat hingga tahun 2021 akan mencapai total 1,5 miliar chipset. Chipset WiGig ini sendiri akan secara signifikan meningkatkan Wi-Fi throughput, meningkatkan efisiensi, dan memperluas penggunaan produk pada kebutuhan lain yang potensial.

“Produk yang berbasis Tri-band, di mana produk tersebut menggabungkan 2.4GHz, 5GHz, dan teknologi 60GHz akan mengangkat Wi-Fi ke tingkat berikutnya, memberikan keseimbangan yang lebih baik antara keandalan dan kinerja dari sebelumnya,” kata Andrew Zignani, Industri Analyst di ABI Research menjelaskan.

Zignani menambahkan bahwa sebelum pick up, pasar WiFi ini masih memiliki kendala utama yakni ekosistem perangkat yang ada untuk membangun ke arah band 60 GHz belum terbangun. Kenapa?

Pasalnya, sampai saat ini saja, para OEM masih banyak yang belum menemukan pasar yang cukup menarik sehingga 802.11ad  atau WiGig ini layak dan membenarkan ada biaya tambahan yang muncul saat produksi. Ditambah lagi akan muncul  kompleksitas dalam mengadopsi standar.

Namun industri ini membuat gairah baru di pasar dengan adanya kolaborasi terbaru dari Intel dan Qualcomm. Hal ini akan merangsang pertumbuhan dan mempengaruhi perusahaan lain untuk bermain di lahan yang sama. Seperti Broadcom, MediaTek, Nitero, Peraso, dan SiBEAM yang sudah siap juga merangsek ke pasar menyuplai chipset WiGig.

Gelombang pertama WiGig-enabled smartphone diperkirakan bakal hadir akhir tahun ini, meskipun dalam jumlah terbatas. Produk tersebut sudah dibenamkan teknologi WiGig 802.11ad dalam chipset Snapdragon 820 platform keluaran Qualcomm. Hal ini menjadi tanda awal dari gelombang yang lebih besar lagi dari Qualcomm dan pemasok IC lainnya untuk mendorong teknologi maju.

Teknologi baru ini membuka peluang bagi OEM untuk lebih membedakan produk andalan nya pada segmen menengah dengan dan perangkat pada segmen yang lebih rendah. Selain itu juga akan memaksimalkan kinerja saat streaming dari access points dan mendorong kelancaran transfer konten antar perangkat.

“WiGig memiliki masa depan cerah di industri ponsel, PC, nnetwork dan lainnya. Tahun 2017 menjadi titik kritis dalam pengembangan dan keberhasilan WiGig,” kata Zignani menyimpulkan. Zignani pun berharap tahun ini mulai banyak pemasok IC melakukan kegiatan promosi dalam skala besar.  (Icha)

Telefonica Jadi Operator Pertama di Organisasi Keamanan Cyber Eropa

0

Telko.id – Telefonica terpilih sebagai satu-satunya perusahaan telekomunikasi yang akan bergabung dengan dewan Organisasi Keamanan Cyber Eropa (ECSO).

ECSO sendiri merupakan organisasi yang dipimpin setengahnya oleh kemitraan antara publik dan swasta (cPPP) dengan Komisi Eropa. Didirikan belum lama ini, dengan anggta lebih dari 130 negara, organisasi ini bertugas untuk mempromosikan pengembangan strategi dan teknologi keamanan cyber.

Inisiatif ini bertujuan untuk merangsang investasi hingga €1.8 miliar dalam penelitian keamanan cyber, lapor Totaltele, Kamis (4/8).

“Kita harus beranjak dari solusi keamanan terisolasi yang difokuskan pada perlindungan aset ke solusi yang mampu menganalisis informasi perangkat, jaringan, peralatan teknologi dan pengguna, menggabungkan ini dengan intelijen eksternal pada kerentanan, ancaman dan agen lainnya,” kata Pedro Pablo Pérez García, direktur divisi keamanan global Telefonica sekaligus CEO unit keamanan sibernya, ElevenPaths dalam sebuah pernyataan.

García dan Cristina Vela, penasihat senior Telefonica di kantor Brussel akan mewakili operator Spanyol ini di ECSO.

Telefonica menekankan pentingnya pendekatan berkelompok untuk keamanan siber dalam era internet of things yang semakin berkembang belakangan ini, dimana itu juga menunjang pengembangan bisnis baru.

“Kepercayaan antara industri dan administrasi publik dari negara-negara anggota sangat penting untuk pelaksanaan yang efektif dari pendekatan ini dan dalam pengertian ini, peran yang harus dimainkan oleh cPPP penting,” kata García.

Lanjutkan transformasi digital, AXA Life Luncurkan Solusi Secure Payment

0

Telko.id – AXA Life sebuah perusahaan asuransi baru saja mendapatkan penghargaan bergengsi untuk transformasi digital yang mereka lakukan.

Sekadar informasi, AXA Life memulai transformasi digital sejak 2014, dengan bertransformasi dari sisi services dan meluncurkan beberapa fitur seperti e-duplicate, e-policy yang dikirim via email dan hardcopy, AXA direct yang merupakan customer portal, hingga e-claim untuk mengklaim rumah sakit melalui email.

AXA Life kembali melakukan terobosan baru dalam transformasi digital untuk secure payment dengan meluncurkan Interactive Voice Response (IVR). IVR ini berguna dalam transaksi pembelian produk asuransi jiwa dan kesehatan dari AXA melalui jalur telemarketing yang menjamin keamanan dalam hal pembayaran.

Sekadar informasi, layanan IVR atau interactive Voice Response merupakan teknologi yang memudahkan telemarketing dalam proses penjualan, dimana nasabah tidak perlu menyebutkan nomor kartu kredit. Nasabah cukup menginput sendiri dengan menekan 16 angka nomor kartu kredit serta expire date kartu pada keypad ponsel atau pesawat telepon.

“Sebenarnya sistem ini sudah kita implementasi pada bulan mei lalu, tapi kita ingin melakukan grand launch ke media. Sistem ini, begitu nasabah sudah setuju dengan penawaran yang kita berikan, nasabah langsung dihubungkan oleh sistem ini dan nasabah tinggal menginput nomor kartu kredit mereka pada dial pad ponsel mereka kemudian sistem tinggal melakukan check dan selesai,” ucap Hengky Djojosantoso di Jakarta (4/8).

“Kita bisa mengklaim, Kita merupakan perusahaan asuransi pertama yang menggunakan sistem ini di Indonesia, security data dari nasabah kita selalu jadi prioritas dari Kita,” tambah Hengky.

DSC_0174

Sementara itu, disinggung mengenai security pada sistem mereka, Hengky berani menjamin keamanan data pengguna dengan sistem ini.

“Semua proses yg kita lakukan itu ada guideline dari Id Security dan kita akan mengenkrip data kartu kredit nasabah ketika memasuki back end dari sistem kita. Seluruh nasabah yang bertransaksi melalui telemarketing telah menggunakan sistem ini diseluruh Indonesia,” ujarnya.

Berbicara mengenai transformasi digital kedepan, Mereka masih melihat teknologi sebagai pendukung dari bisnis mereka, namun mereka juga melihat tingginya peluang untuk penjualan asuransi melalui digital. Hal tersebut terlihat dari berbagai value yang ditawarkan ketika nasabah membeli produk melalui jalur digital.

“Inovasi digital menjadi salah satu bisnis strategi utama AXA Life Indonesia, mengingat masyarakat Indonesia sudah semakin dekat dengan dunia digital saat ini, AXA di Indonesia juga sidah mengedepankan transformasi digital untuk menyempurnakan layanan bisnis,” tukas Hengky.

Jepang Puncaki Klasemen untuk Penetrasi Mobile Broadband di OECD

0

Telko.id – Menurut statistik baru yang diterbitkan oleh badan internal OECD (Organization for Economic Cooperation and Development), penetrasi mobile broadband di organisasi tersebut mencapai 90,3% pada akhir 2015.

Ada sekitar 1,15 miliar pelanggan mobile broadband di 35 negara anggota di organisasi tersebut pada akhir tahun, yang bersama-sama memiliki populasi 1,27 miliar. Itu merupakan peningkatan dari 117 juta pelanggan pada tahun sebelumnya, ketika penetrasi mencapai 81,6%.

Menurut laporan Totaltele, Kamis (4/8), Jepang berada di barisan terdepan dalam peringkat OECD, setelah menyalip Finlandia. Negara sakura itu memiliki 176 juta pelanggan, dengan tingkat penetrasi 138,8%, sementara Finlandia 7,4 juta pelanggan dengan penetrasi 135,4%.

Di peringkat ketiga, ada Swedia, dengan penetrasi mobile broadband sebesar 120,8%, sementara sembilan negara secara total memiliki tingkat di atas 100%. Enam negara lainnya adalah AS, Denmark, Australia, Estonia, Selandia Baru dan Korea Selatan.

Lima negara lainnya menyusul di belakang, meliputi Norwegia, Swiss, Irlandia, Islandia dan Inggris – datang pada atau di atas rata-rata OECD.

OECD juga mengungkapkan bahwa pelanggan broadband tetap mencapai 371 juta pada akhir Desember, naik dari 356 juta pada akhir tahun 2014, dengan tingkat penetrasi 29%.

Untuk urusan koneksi, diketahui bahwa 45,6% melalui DSL, 19,4% berasal dari serat – naik dari 16,2% dari 12 bulan sebelumnya – dan 32% adalah kabel.

Swiss memuncaki klasemen untuk penetrasi fixed broadband dengan 51,9%, diikuti oleh Denmark dengan 42,4% dan Belanda dengan 41,3%.

Sekedar informasi, OECD atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi sendiri merupakan sebuah organisasi internasional dengan lebih dari tiga puluh negara yang menerima prinsip demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas. Sebelumnya, organisasi ini dipanggil OEEC (Organisation for European Economic Co-operation).

Teknologi Mobile Financial Rangsang Percepatan Gerakan Nasional Non-Tunai

0

Telko.id – Saat ini, pemerintah sangat giat melakukan berbagai program guna mendorong percepatan keuangan inklusif (financial inclusion) dan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT). Salah satu alternatif nya adalah melalui teknologi informasi, khususnya dengan pengembangan layanan uang digital.

Layanan uang digital tidak menjadi dominasi perbankan saja karena operator seluler pun memiliki kemampuan secara teknologi maupun jangkauan atau coverage yang luas. Itu sebabnya, Telkomsel, sebagai salah satu operator besar di Indonesia cukup agresif mengembangkan layanan keuangan digitalnya yakni TCash. Selain melakukan pengembangan produk, Telkomsel menjalin kemitraan dengan berbagai institusi dan perusahaan, sehingga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat dalam menikmati layanan keuangan, termasuk membantu sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“TCASH adalah layanan keuangan digital Telkomsel yang dapat mendukung laju pertumbuhan ekonomi nasional. Kami cukup yakin bahwa TCASH dapat menjadi media yang efektif untuk mewujudkan percepatan inklusi layanan keuangan digital untuk semua masyarakat Indonesia,” kata Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel di sela-sela berlangsungnya World Islamic Economic Forum (WIEF) ke-12 di Jakarta.

Ririek menjelaskan bahwa di Indonesia layanan telekomunikasi seluler telah berkembang dengan pesat selama beberapa tahun terakhir, dimana penetrasi seluler mencapai 130% dari total populasi. Hal ini menjadi modal awal yang baik untuk perkembangan mobile financial service di Indonesia. Terlebih lagi dengan jumlah pengguna Telkomsel yang mencapai 157 juta pelanggan, jaringan distribusi yang tersebar di lebih dari 400.000 outlet, dan jangkauan network hingga ke pelosok yang mencakup 95% wilayah populasi Indonesia.

Saat ini Telkomsel pun telah bekerja sama dengan pemerintah untuk melakukan uji-coba pemanfaatan TCASH sebagai alternatif solusi mekanisme penyaluran non-tunai bantuan pangan dan sosial bersama Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) di Jakarta, Solo, Medan dan Bogor selama bulan Agustus – September 2016 dengan total penerima bantuan sebanyak 1500 orang. Hal ini merupakan bagian dari persiapan implementasi penyaluran non-tunai bantuan pangan dan sosial tahun 2017 oleh pemerintah kepada 15 juta penerima manfaat. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan distribusi bantuan sosial secara non-tunai menjadi lebih tepat sasaran, tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat administrasi.

Di sisi lain, melihat masih tingginya angka populasi masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan (unbanked), Telkomsel juga telah menjalin kerjasama dengan BTPN untuk menghadirkan layanan keuangan terbaru berupa layanan ketersambungan antara uang elektronik TCASH dengan tabungan BTPN Wow! Layanan keuangan terhubung pertama di Indonesia ini hadir untuk memberikan kemudahan bertransaksi dan menabung melalui ponsel, mengkombinasikan kekuatan produk dan jaringan telekomunikasi dengan produk dan jaringan perbankan.

Selain itu  Telkomsel juga aktif bekerja sama dengan komunitas-komunitas untuk mengembangkan cash-less ecosystem, seperti dengan Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU) untuk memfasilitasi kebutuhan transaksi jual-beli dan pembayaran secara non tunai melalui layanan TCASH bagi 30.000 anggota komunitas Perempuan Nusantara (Penara), dan dengan komunitas Daarut Tauhid. Ke depannya, layanan ini berpotensi untuk dikembangkan di 3.000 pesantren di Indonesia, serta berbagai komunitas petani maupun komunitas ekonomi menengah ke bawah lain yang belum terjangkau layanan keuangan formal.

Untuk mendukung hadirnya layanan keuangan digital yang prima, Telkomsel terus meningkatkan kualitas dan sebaran jaringannya. Saat ini pelanggan Telkomsel dilayani oleh  118.000 BTS yang hadir di berbagai penjuru negeri, dimana sekitar 57% diantaranya merupakan BTS broadband (3G dan 4G). Tidak lupa penggelaran jaringan Internet cepat 4G juga sudah dapat dirasakan di 116 kota di seluruh Indonesia.

“Kami meyakini bahwa teknologi seluler dapat memberikan manfaat yang positif kepada masyarakat. Melalui TCASH kami ingin memberikan akses keuangan ke masyarakat luas dengan berbagai kemudahan dan manfaat.  Kami akan terus melakukan pengembangan sehingga produk ini senantiasa memberikan solusi yang tepat, mendorong laju pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah, berdampak sosial yang positif dan pada akhirnya memberi kontribusi bagi Indonesia”, tutup Ririek.

Peran TCASH dalam percepatan keuangan inklusif dan GNNT di Indonesia ini ditampilkan di acara WIEF ke-12 yang bertemakan ‘Decentralizing Growth, Empowering Future Business’ yang berlangsung 2-4 Agustus di Jakarta. Mengusung visi untuk mengeksplorasi dan mengembangkan peran kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai Negara, WIEF akan dihadiri sekitar 2.500 peserta dari 60 negara.

Untuk menjamin kenyamanan berkomunikasi para delegasi dan peserta WIEF, khususnya ketika mengakses  Mobile Broadband menggunakan jaringan 4G LTE Telkomsel, di lokasi tempat acara berlangsung (khususnya di area indoor Jakarta Convention Center), Telkomsel juga telah melakukan sejumlah penguatan baik infrastruktur maupun pengamanan kualitas jaringan. Disamping mengandalkan kekuatan 12 BTS Node B jaringan 3G, Telkomsel juga sudah mempersiapkan 5 eNode B jaringan 4G LTE, dan tambahan 19 titik BTS Lampsite yang tersebar di area indoor JCC. (Icha)

Lebih dari 700 Juta Orang Online di China

0

Telko.id – Jumlah pengguna web di Cina, yang sebelumnya sudah menjadi yang terbesar di dunia – dilaporkan regulator setempat telah meningkat lebih dari 700 juta. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengubah internet menjadi pendorong pertumbuhan baru.

Cina telah memiliki 710 juta pengguna internet, dalam artian mereka yang sudah online setidaknya sekali dalam enam bulan terakhir, naik 3,1 persen dari akhir Desember. Demikian disampaikan China Internet Network Information Center (CNNIC) dalam sebuah pernyataan.

Jumlah ini lebih dari dua kali lipat jumlah orang di Amerika Serikat dan berarti lebih dari setengah dari populasi nasional terbesar di dunia kini menggunakan internet.

Menurut laporan Phys, Kamis (4/8), Beijing memberlakukan kontrol ketat pada konten online, sementara e-commerce adalah bagian penting dari upaya untuk mengubah ekonomi menjadi salah satu yang lebih didorong oleh permintaan konsumen.

Pemerintah mendorong apa yang disebut “internet plus” yang bertujuan untuk memperluas penerapan teknologi secara online di industri sebagai bagian dari upaya untuk modernisasi.

CNNIC mengatakan bahwa 92,5 persen pengguna Cina online melalui ponsel mereka.

“Gaya hidup sosial yang dibentuk oleh mobile internet dikembangkan lebih lanjut dan proyek internet plus memfasilitasi pemerintah dan perusahaan dalam diversifikasi dan mobilisasi layanan mereka,” kata CNNIC.

Namun jumlah pengguna pedesaan tetap rendah, yakni kurang dari sepertiga dari total, mengingat penduduk di pedesaan tidak memiliki pengetahuan tentang komputer atau internet, atau tidak tertarik.

Beberapa perusahaan teknologi Cina, seperti Alibaba, telah menjadi raksasa multi-miliar dolar dalam beberapa tahun terakhir menyusul pesatnya kemajuan populasi online di negara itu. Pada saat yang sama Beijing memblokir situs yang dianggap sensitif secara politik dalam sistem yang dijuluki “Great Firewall of China”, dan perusahaan media sosial menyensor konten yang dibuat pengguna.

Q2, Laba Link Net Meningkat 26%

0

Telko.id – PT Link Net Tbk penyedia layanan via kabel yang menyediakan layanan televisi berbayar dengan kualitas tinggi, koneksi broadband berkecepatan tinggi dan komunikasi data mencatatkan laba yang meningkat hingga 26% pada kuartal kedua kali ini.

Berdasarkan keterangan pers yang diterima oleh tim Telko.id (4/8), Link Net mengalami peningkatan dalam hal pendapatan sekira 13% menjadi Rp. 1.393 miliar. Sementara untuk laba bersih, mereka memperoleh peningkatan sebesar 26% menjadi Rp. 397 miliar.

Selama kuartal kedua kali ini, tercatat sebanyak 1,74 juta rumah telah terkoneksi ke jaringan mereka, dengan 966 ribu pelanggan broadband dan TV berbayar.

Perseroan secara berkelanjutan memperluas jaringannya di tiga area cakupan yaitu Jakarta dan sekitarnya, Surabaya dan sekitarnya, dan Bandung.
Pada kuartal kedua tahun ini, Perseroaan menambah jangkauan layanannya ke kota metropolitan Malang. Pada akhir Juni 2016, Perseroan telah mencapai 1,74 juta rumah terkoneksi (homes passed).

Perseroan secara berkelanjutan melihat peningkatan permintaan atas paket layanan internet dan TV berbayar dan berhasil menambah net 76 ribu unit pelanggan (Revenue Generating Units) baru, sehingga per akhir Juni 2016 total pelanggan Perseroan telah mencapai 966 ribu pelanggan.

Sementara untuk Average Revenue per User (ARPU) tetap dipertahankan pada level premium yaitu sebesar Rp 402 ribu. Link Net terus menambah lini produk yang ada melalui perluasan layanan FTTH, dan peluncuran internet dengan kecepatan 1Gbps, set top box 4K Ultra HD, dan layanan First Media Experience atau FMX TV Anywhere.

Lebih lanjut,Pada bulan Mei 2016, Perseroan melakukan pembayaran dividen untuk tahun buku 2015 sebesar total Rp 127,8 miliar atau Rp 42 per lembar saham. Atas pencapaian ini, Irwan Djaja, Direktur Utama dan CEO, mengatakan, bahwa pencapaian semester ini menunjukan bukti pertumbuhan fundamental perusahaan mereka.

“Hal ini didukung oleh kemampuan tim yang baik di dalam menjabarkan strategi berorientasi pertumbuhan dan laba, ditengah-tengah kondisi pasar yang penuh tantangan,” ujarnya.

Sekadar informasi, Link Net memiliki dan mengoperasikan jaringan kabel Hybrid Fibel Coaxial (HFC) dan Fiber-to-the Home (FTTH) yang menyediakan layanan akses internet berkecepatan tinggi untuk pelanggan-pelanggan ritel dan korporasi. Link Net juga mengoperasikan layanan televisi berbayar dengan berkolaborasi dengan PT First Media Television.

“Tentunya masih banyak hal-hal yang perlu dikerjakan namun kami mempunyai pandangan yang sangat positif untuk kelanjutan peningkatan pencapaian kinerja perusahaan hingga akhir tahun,” tutup Irwan.

Laba Nokia di Raport Kuartalan Turun 38%

0

Telko.id – Medio April 2015 lalu, Nokia membeli Alcatel Lucent senilai Rp214 Triliun. Sayang, sudah lebih dari setahun aksi korporate tersebut belum mampu mengangkat perolehan laba dari perusahaan asal Finlandia ini. Padahal, setelah aksi tersebut, Nokia sudah melakukan pemutusan hubungan kerja hingga ribuan karyawan di seluruh dunia yang tujuannya untuk mampu bersaing dengan Ericsson dan Huawei ditengah kompetisi pasar yang demikian ketat.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh analis Reuters menunjukan bahwa laba non-IFRS kuartalan Nokia sebelum bunga dan pajak (EBIT) turun menjadi 400 juta Euro atau sekitar Rp 5.6 Triliun dari 649 juta Euro atau sekitar Rp 9 Triliun pada tahun sebelumnya. Laba yang diperoleh Nokia ini, 90% berasal dari bisnis jaringannya. Di mana unit bisnis ini hanya memperoleh sekitar 366 juta Euro saja, padahal pada periode yang sama tahun lalu mampu meraih hingga 511 juta Euro.

“Sinergi dengan Alcatel-Lucent dan program tabungan lainnya ternyata masih belum dapat mendukung profitabilitas, sehingga kondisi ini menekan kondisi Nokia di pasar saham menjadi lemah,” ujar Mikael Rautanen, analis dari Inderes Equity Research seperti yang dikutip dari Reuters. Rautanen juga menambahkan bahwa kondisi ini mengurangi rating saham Nokia. Namun, Nokia tetap memiliki peluang seperti Ericsson.

Sebagai informasi, Ericsson bulan lalu melaporkan keuntungan lebih kecil dari yang diperkirakan dan mengatakan akan meningkatkan pemotongan biaya. Nokia pun akan melakukan pemotongan biaya hingga mampu saving lebih dari 900 juta Euro untuki menghadapi 2018 mendatang, Namun, Nokia masih belum terbuka tentang rencananya dalam menjaga laba yang diperolehnya agar tidak turun terus pada tahun-tahun mendatang.

Tapi yang pasti, setelah sempat menjual bisnis ponselnya pada Microsoft pada tahun 2014 lalu, Nokia akan memasuki bisnis yang sama, hanya saja ada beberapa pola strategic yang berbeda. Di mana, Nokia belum lama ini mengumumkan kesepakatan lisensi yang diharapkan dapat ‘mengharumkan’ kembali nama Nokia di pasar ponsel. (Icha)

Tarif Interkoneksi Turun, Operator Janji Pangkas Tarif Offnet 25%

0

Telko.id – Keputusan pemerintah, dalam hal ini melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) untuk menurunkan tarif interkoneksi sebesar 25% ditanggapi positif oleh sejumlah operator. Langkah ini dinilai bagus karena selain dapat meningkatkan efisiensi di kubu penyedia layanan, beban masyarakat dalam menggunakan layanan seluler juga akan berkurang.

“Dengan penurunan tarif interkoneksi, artinya operator akan dapat menawarkan tarif offnet (telpon ke operator lain) yang lebih kompetitif,” kata General Manager Corporate Communication PT. XL Axiata Tbk, Tri Wahyuningsih saat dihubungi tim Telko.id di Jakarta, Rabu (3/8).

Dengan turunnya tarif interkoneksi, Ia menambahkan, akan ada lebih banyak operator yang dapat menawarkan layanannya di suatu daerah, dan pelanggan pun akhirnya akan mendapatkan keuntungan dari ini, yakni berupa tarif yang lebih murah. “Dan tidak perlu lagi menggunakan nomor yg berbeda untuk memanggil nomor operator lain,” lanjutnya.

Sambutan yang tidak jauh berbeda diutarakan M.Danny Buldansyah, selaku Wakil Presiden Direktur Hutchison 3 Indonesia. Dihubungi melalui pesan singkat, Danny mengaku cukup puas dengan Permen tarif interkoneksi yang akan diimplementasikan Septenber nanti itu.

“Kami melihatnya juga sudah fair terlebih presentase penurunannya beragam disesuaikan dengan layanannya,” katanya.

Terkait penyesuaian tarif di ritel sendiri, Danny menyebut, perusahaan masih harus mengkaji lebih lanjut sambil mempersiapkan beberapa program serta tarif produk agar daoat memberikan lebih banyak lagi manfaat bagi pelanggan.

Sementara itu, XL memilih untuk menyesuaikan penurunan di ritel dengan aturan yang baru. “Kami akan melakukan penyesuaian tariff off net sampai dengan 25% tersebut,” pungkas Ayu.

Sekedar informasi, biaya interkoneksi sendiri merupakan biaya yang harus dibayar oleh sebuah operator kepada operator lain yang menjadi tujuan panggilan. Tarif interkoneksi adalah salah satu komponen yang vital dalam penghitungan biaya sambungan jika menelpon lintas operator.

Selain interkoneksi, selama ini pelanggan juga dibebankan biaya lain untuk tarif retail semisal untuk biaya aktivitas bisnis operator dan margin keuntungan.