spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1573

Kantongi Izin Regulator, Dua Operator Nepal Siap Gelar 4G

0

Telko.id – Regulator telekomunikasi Nepal akan segera menyetujui dua dari tiga aplikasi yang diterimanya dari operator terkait pengoperasian layanan 4G.

Departemen Manajemen Frekuensi Otoritas Telekomunikasi Nepal (NTA) telah merekomendasikan bahwa regulator memungkinkan kedua operator tersebut, yakni Nepal Telecom dan Ncell untuk meluncurkan layanan 4G.

Namun, seperti dilaporkan Himalaya Times, departemen menolak proposal dari operator ketiga, yakni Smart Telecom, setelah menemukan bahwa operator tersebut gagal memenuhi prasyarat tertentu. Kelayakan sendiri ditentukan berdasarkan faktor layanan operator saat ini dan kinerjanya di bawah Unified Lisence yang dikeluarkan untuk itu.

Tak lama setelah NTA menyetujui rekomendasi itu, Nepal Telecom dan Ncell pun akan dapat meluncurkan layanan 4G, lapor Telecomasia, Rabu (28/9).

Baik Nepal Telecom maupun Ncell sendiri sebenarnya telah meminta untuk meluncurkan 4G sejak beberapa bulan lalu, dengan menggunakan spektrum 1800 MHz yang saat ini sedang digunakan untuk memberikan layanan 3G.

Tapi NTA tidak dapat menyetujui proposal sampai pemerintah mengeluarkan amandemen kebijakan frekuensi radio yang ada. Kementerian ICT sekarang telah mengesahkan amandemen kebijakan itu.

Menurut laporan yang sama, Nepal Telecom telah menegaskan bahwa perusahaan akan dapat meluncurkan layanan 4G dalam waktu dua bulan setelah menerima lisensi.

Inilah Prediksi Analis Tentang Network Sharing

0

Telko.id – Rencana pemerintah untuk mempercepat penyebaran layanan telekomunikasi hingga pelosok Indonesia melalui network sharing dalam revisi PP No. 52 dan No. 53/2000 mendapat tanggapan dari para analis.

Menurut Chief Economist Danareksa Research Institute, Kahlil Rowter, pemerintah harusnya bisa lebih bijak mengatur mekanisme pemberian kompensasi yang wajar sesuai dengan nilai ekonominya bagi operator yang telah lebih dulu membangun.

Dalam analisanya, kompensasi yang wajar sesuai dengan nilai keekonomian mutlak diperlukan agar keberlangsungan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia dapat terus terjaga.

“Jadi pemerintah tak bisa semena-mena menetapkan kewajiban network sharing dan penetapan biaya interkoneksi tanpa adanya kompensasi secara komersial kepada operator yang telah membangun jaringan,” ujar Kahlil di Jakarta, Selasa (27/9).

Penetapan berbagi jaringan melalui mekanisme komersial dinilai Kahlil perlu diberikan pemerintah kepada penyelenggara jaringan telekomunikasi yang telah lebih dulu bersusah payah membangun jaringan.

Jika tidak ada insentif dan kompensasi yang wajar sesuai dengan nilai ekonominya, maka bisa dipastikan tidak ada operator yang akan mau menambah dan memelihara jaringan telekomunikasi. Padahal, menurutnya, masih banyak wilayah di Indonesia yang belum terjangkau telekomunikasi.

Sementara itu, Perhitungan yang wajar menurut Leonardo Henry Gavaza CFA, analis saham Bahana Securities, yakni dengan menghitung nilai investasi yang telah dikeluarkan oleh operator penyelenggara jaringan ditambah dengan internal rate of return (IRR) atau economic rate of return (ERR).

Jika pemerintah tak memasukkan komponen IRR dalam penetapan network sharing, Leonardo menilai kebijakan itu justru akan mengganggu keberlangsungan pembangunan jaringan telekomunikasi.

Hal ini tentunya akan mengakibatkan operator yang telah lebih dulu membangun, jadi tak memiliki competitive advantage lagi dikarenakan mereka hanya dipaksa membangun infrastruktur jaringan telekomunikasi untuk operator lain.

Leonardo menambahkan, membangun infrastruktur telekomunikasi seperti backbone memiliki risiko yang tinggi, memakan investasi yang besar dengan imbal hasilnya yang sangat kecil.

“Dengan adanya kewajiban berbagi jaringan, biaya investasi atau capital expenditure yang biasanya dikeluarkan oleh operator dalam jumlah besar akan berkurang sangat signifikan,” sebut Leonardo.

Dengan adanya network sharing ini, operator lain juga bisa lebih fokus untuk mengembangkan jasa layanan telekomunikasi saja ketimbang repot-repot membangun jaringan infrastrktur.

Kondisi ini dinilai bisa memicu persaingan tidak sehat. Alih-alih bersaing membangun jaringan, operator yang baru masuk dengan cara hanya menumpang jaringan saja, bisa tiba-tiba merusak pasar dengan cara membanting harga.

“Kita sebagai analis pasar modal tak menyukai jika terjadi perang harga karena membuat margin perusahaan turun,” sambung Leonardo.

Sebagai analis pasar modal, Leonardo melihat adanya kewajiban berbagi jaringan ini berpotensi menggerus marjin Earnings Before Interest Depreciation and Amortization Taxes (EBITDA) PT. Telkom yang sebagian besar kepemilikan saham dimiliki oleh negara.

Prediksi Leonardo, EBITDA margin Telkom bisa terpangkas hingga 40%. Padahal EBITDA margin Telkom saat ini diatas 50%. Berapapun penurunan EBITDA margin akan berdampak kepada valuasi Telkom. Jika pendapatan Telkom turun, maka pajak dan deviden yang harus dibayarkan kepada pemerintah juga berpotensi tergerus.

Sekadar informasi, sebelumnya Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengaku telah menerima surat tembusan dari Menko Perekonomian terkait revisi PP No. 52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan perubahan terhadap PP No. 53/2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

Kedua PP ini merupakan turunan dari UU No. 36/1999 tentang Telekomunikasi. Pokok perubahan terhadap kedua PP tersebut intinya mengatur masalah backbone network (jaringan) sharing dan akses (spektrum) jaringan antar operator.

Revisi kedua PP ini kabarnya telah berada di Sekretariat Negara untuk dilakukan pemeriksaan terakhir sebelum diajukan ke Presiden Joko Widodo untuk ditandatangani.

Seperti dijelaskan Rudiantara, dalam surat tembusan itu menyatakan perlunya sharing atas infrastuktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang mencakup backbone dan jaringan.

Sharing atas backbone bersifat mandatory (wajib) sedangkan sharing atas jaringan telekomunikasi bersifat business to business (B2B) dalam keadaan tertentu yang didasarkan atas penciptaan persaingan usaha yang sehat, pencapaian efisiensi, dan perwujudan keberlanjutan penyelenggaraan jaringan.

Menteri yang akrab disapa Chief RA itu juga menjelaskan bahwa pemerintah akan menghitung nilai investasi dan nilai kompensasi atas pelaksanaan sharing per wilayah dan dalam pelaksanaan perhitungan dapat menugaskan auditor independen seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Aturan tersebut nantinya akan dituangkan ke dalam peraturan menteri,” kata Rudiantara usai rapat dengan Komisi I DPR RI di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta.

HiCore Siap Penuhi Aturan TKDN 30%

0

Telko.id – Masalah Tingkat Komponen Dalam Negeri untuk produk seluler memang menjadi aturan yang ngeri-ngeri sedap. Bukan hanya bagi pemain lokal, bagi pemain atau merek global pun bukan persoalan mudah untuk bisa menerapkan kandungan lokal 30% pada awal 2017 mendatang jika ingin tetap memasarkan produk 4G LTE nya di Indonesia. Namun, dengan adanya Peraturan Menteri Perindustiran (Permenperin) Nomor 65 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet, sekarang menjadi lebih jelas. Itu sebabnya, HiCore komitmen untuk mendukung aturan TKDN tersebut.

“Kami menyambut baik peraturan TKDN yang mewajibkan kandungan lokal hingga 30% dalam smartphone 4G. Kami juga yakin akan mampu memenuhi aturan tersebut pada awal 2017 mendatang,” ujar Herman Zhou, Presiden Direktur HiCore menyambut baik.

Dalam rangka pemenuhan kandungan lokal hingga 30% tersebut, HiCore sudah melakukannya penyesuaian secara bertahap dan menyesuaikan beberapa aspek yang dikembangkan agar sesuai. Mulai dari aspek manufaktur, pengembangan dan aspek aplikasi.

“Kami sudah siap memproduksi smartphone dengan teknologi 4G LTE. Untuk kapasitas produksi pabrik akan disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan permintaan smartphone HiCore di pasar,” kata Herman optimis.

Persiapan pembangunan pabrik ini sudah cukup lama dilakukan oleh HiCore. Bahkan sebelum meluncurkan produk perdananya. Bukan hanya lahan, gedung serta perangkat untuk produksi saja yang dipersiapkan. Karyawan pun menjadi perhatian bagi HiCore karena yang harus diproduksi oleh pabrik HiCore adalah produk yang berkualitas sehingga training terus menerus dilakukan secara berkesinambungan agar mampu menenuhi standar HiCore.

“Keberadaan pabrik ini tak hanya sekedar untuk memenuhi persyarataan TKDN saja, namun kami memang bertekad untuk mengurangi ketergantungan impor produk,” tegas Herman Zhou.

HiCore sangat yakin, pada akhirnya Indonesia akan mampu untuk memproduksi sendiri smartphone 4G. Tidak hanya 30% namun juga 100%. Baik dalam soal hardware maupun software. ”Asal semua berkomitmen. Baik dari pemerintah maupun pelaku industri. Semuanya harus bersinergi dengan baik. Dengan demikian, import smartphone dapat dikurangi,” tambah Herman.

Herman menambahkan juga bahwa “HiCore melihat ke depan, peraturan pemerintah sangat bagus karena akan merangsang tumbuhnya industri smartphone di Indonesia”.

Namun demikian HiCore berharap agar ekosistem industri di Indonesia dapat tumbuh juga dengan baik untuk mendukung produksi smartphone di Indonesia. Misalnya industri manufaktur dan juga aplikasi yang nantinya akan mengisi konten di smartphone dapat tumbuh dan berkembang juga. (Icha)

Thailand Tegaskan Rencananya untuk Perketat Pajak ICT

0

Telko.id – Pemerintah Thailand berencana untuk memperketat aturan pajak untuk perusahaan internet dan teknologi internasional, termasuk perusahaan mobile dan internet commerce.

Hal ini diungkapkan Kepala Departemen Pendapatan Thailand belum lama ini, yang mengatakan bahwa pemerintah telah membentuk sebuah komite yang bekerja untuk menemukan solusi untuk mengumpulkan pajak dari Google dan raksasa teknologi lainnya.

Menurut laporan Reuters, seperti disadur Telecomasia, Selasa (27/9), hukum dan peraturan yang belum diperbarui dalam 50 tahun ini bisa diubah untuk mengatasi ekonomi digital. Komisi yang bertugas ini diharapkan akan memberi laporan pada akhir tahun.

Thailand menjadi satu dari banyak negara-negara di Asia Tenggara yang semakin mengejar pajak yang lebih tinggi dari perusahaan internet dan teknologi besar, menyusul Indonesia yang mengejar perusahaan untuk pajaknya selama lima tahun ke belakang, dan Australia yang baru-baru ini semakin ketat pada perusahaan dengan pendapatan tahunan lebih dari A$ 100 juta atau setara US$76.4 juta.

Perusahaan multinasional besar telah membukukan keuntungan regionalnya di Singapura untuk mengambil keuntungan dari program tarif pajak dan insentif yang lebih rendah dari negara tersebut. Tapi kementerian keuangan Singapura baru-baru ini menyatakan bahwa negara tidak membenarkan pergeseran keuntungan buatan.

Mahasiswa Gunadarma Jadi Runner-Up CanSat International Competition 2016

0

Telko.id – Prestasi yang cukup membanggakan untuk Indonesia diukir oleh mahasiswa Universitas Gunadarma yang tergabung dalam tim Garuda setelah berhasil menjuarai kompetisi CanSat International Competition 2016.

Kompetisi yang diselenggarakan pada 21-22 September 2016 di UlaanBaatar, Mongolia, ini diorganisir oleh Asia-Pasific Space Cooperation Organization (APSCO) yang bekerja sama dengan Information Technology, Post and Telecommunication Mongolia (ITPTA Mongolia).

Kompetisi CanSat ini merupakan kompetisi rancang bangun dan implementasi satelit kecil berukuran kaleng minuman standard Eropa. Kompetisi ini diikuti oleh Perguruan Tinggi dari berbagai negara termasuk Mongolia yang menjadi tuan rumah dari kompetisi ini.

Seperti dikutip dari situs LAPAN, Selasa (27/9/2016), Gunadarma merupakan salah satu dari dua belas Perguruan Tinggi yang dinominasikan oleh LAPAN untuk mengikuti kompetisi CanSat 2016.

Namun hanya Gunadarma yang menjadi tim yang terpilih untuk mengikuti kompetisi CanSat 2016 mewakili Indonesia. Sebelumnya, Universitas Gunadarma telah mengikuti kompetisi serupa dalam tingkat nasional.

Tim Garuda, yang beranggotakan tujuh mahasiswa universitas gunadarma yang diketuai oleh Dennis Aprilla Christie, telah mendapat pembekalan materi di Kantor Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) LAPAN, di Rancabungur, Bogor.

Selama dua hari, 7-8 September 2016, tim Garuda diberikan bimbingan teknis tentang ruang lingkup dari pengenalan hingga mensimulasikan satelit seperti desain, Assembly, Integration, and Test (AIT), dan operasi satelit.

Terdapat sepuluh tim yang terdaftar dan ikut serta dalam kompetisi CanSat 2016 ini. Setelah CanSat diluncurkan oleh roket, CanSat harus mampu mengambil data atmosfer, seperti ketinggian, temperatur, tekanan udara, kelembaban, dan lainnya, kemudian mengirimkannya ke ground station.

Lantas, Tim Garuda akan mengobservasi data yang diperoleh, mengolah serta menganalisanya, kemudian mempresentasikan model CanSat dan hasil analisa mereka di penghujung acara.

Tim Garuda juga menanamkan beberapa sensor dalam CanSat mereka sehingga mampu mengambil data atmosfer, seperti temperatur, tekanan udara, kelembaban.

Selain data atmosfer, tim Garuda juga mampu mengolah data sikap CanSat terhadap bumi, seperti posisi bujur, lintang, ketinggian, dan orientasi.

CanSat tim Garuda juga dilengkapi kamera untuk mengambil citra objek yang sebelumnya ditentukan panitia. Ini ditujukan agar peserta mampu menyimulasikan tugas satelit sesungguhnya yang mampu mengambil dan mengirimkan citra bagian bumi.

Setelah melalui proses penjururian, dewan juri memutuskan juara runner-up diberikan kepada tim Garuda Universitas Gunadarma, Indonesia.

Juara ketiga diraih oleh tim Sky Defender dari Military and Defence University, Mongolia. Sementara, juara pertama diraih oleh tim APIS dari Istanbul Technical University, Turki, yang hanya berbeda satu skor dari tim Garuda.

“Ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan bagi kami dan warga Indonesia pada umumnya, mengingat Gunadarma baru kali ini mengikuti ajang kompetisi CanSat tingkat internasional,” kata Purnawarman Musa, dosen pembimbing tim Garuda.

Argentina Bidik US$ 20 Miliar Investasi dari Reformasi Telekomunikasi

0

Telko.id – Dalam sebuah pernyataan yang diungkapkannya baru-baru ini, Menteri komunikasi Argentina mengatakan bahwa reformasi pada pasar telekomunikasi negara itu akan menarik setidaknya US$ 20 miliar investasi selama empat tahun ke depan.

Menteri Komunikasi Oscar Aguad mengatakan pada Reuters, bahwa termasuk Motorola dan AT&T telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Argentina, sementara Telecom Argentina dan Telefónica de Argentina telah lebih dulu mengumumkan investasinya dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut laporan GTB, Selasa (27/9), reformasi tersebut diumumkan tahun lalu dan akan memungkinkan perusahaan telekomunikasi untuk memasuki pasar TV kabel, yang secara tradisional telah didominasi oleh Cablevision. Pemerintah juga telah mengumumkan rencananya untuk mensponsori undang-undang komunikasi baru tahun lalu yang bertujuan untuk mendorong pengembangan dan persaingan di industri teknologi.

“Selama kita mampu mendikte norma dengan aturan yang jelas, saya pikir angka US$ 5 miliar per tahun adalah mungkin,” kata Aguad, seraya menambahkan bahwa investasi harus terus dilakukan selama empat tahun.

Telecom Argentina berjanji pada bulan Juli bahwa mereka akan menginvestasikan US$ 2.6 miliar antara sekarang dan 2018, sementara Telefónica dilaporkan telah menginvestasikan US$330 juta tahun ini. Awal tahun ini, Fintech membeli saham Telecom Italia di Telecom Argentina seharga US$960 juta.

India Siapkan Rp 2 Triliun untuk Proyek Kabel Bawah Laut Andaman

0

Telko.id – Perdana Menteri India telah setuju untuk merogoh kocek sebesar Rp 2 Triliun untuk kabel bawah laut yang menghubungkan daratan dan pulau-pulau Andaman, sebuah kelompok yang terisolasi dari beberapa ratus pulau di Teluk Benggala.

Kabel itu akan membentang dari kota Chennai ke Port Blair, ibukota dari kumpulan pulau itu, dan ke lima pulau-pulau terdekat.

Perdana Menteri Narendra Modi dan kabinetnya telah menyetujui proyek ini, yang diperkirakan akan menelan biaya sekitar Rs 11 miliar (Rp 2 Triliun) dan kemungkinan akan selesai pada Desember 2018. Jumlah tersebut termasuk biaya operasi selama lima tahun.

Dilaporkan GTB, Selasa (27/9), keputusan itu diambil sebagai bagian dari proyek pengembangan pulau-pulau, yang dipandang memiliki potensi pariwisata.

Kantor perdana menteri mengatakan kabel ini akan “melengkapi pulau Andaman & Nicobar dengan bandwidth dan konektivitas telekomunikasi yang sesuai untuk pelaksanaan inisiatif e-governance; pendirian perusahaan dan fasilitas e-commerce.”

“Ini juga akan memungkinkan penyediaan dukungan yang memadai untuk lembaga pendidikan untuk berbagi pengetahuan, ketersediaan lapangan kerja dan memenuhi visi Digital India,” lanjut kantor perdana menteri lagi.

Selama ini, pulau-pulau tersebut, yang memiliki penduduk hanya 340.000, terhubung ke India dan seluruh dunia hanya dengan satelit, dengan bandwidth terbatas.

Pulau-pulau yang akan dihubungkan ke Port Blair dan Chennai adalah Little Andaman, Car Nicobar, Havelock, Kamorta dan Great Nicobar.

“Penyediaan fasilitas telekomunikasi yang aman, handal, kuat, dan terjangkau di pulau-pulau ini sangat penting dari sudut pandang strategis untuk negara dan juga merupakan syarat penting bagi pembangunan sosial-ekonomi dari pulau-pulau,” kata kantor Modi.

Pemerintah India sejauh ini tidak memberi informasi tentang perusahaan mana yang akan terlibat dalam pembangunan.

FCC Denda AT&T Karena Penyalahgunaan Spektrum

0

Telko.id – Federal Communications Commission atau FCC sudah menjatuhkan sangsi pada AT&T karena melakukan penyalahgunaan spektrum. Untuk itu AT&T harus membayar $ 450,000, seperti dilansir dari Kaman RCR Wireless.

FCC mengaku sudah mulai melakukan penyelidiki masalah tersebut sejak 2012 lalu dan bersama operator pelapor pada 2014. Hasilnya, banyak ditemukan inkonsistensi antara parameter berlisensi dengan fasilitas microwave berdasarkan ijin lisensi yang diperoleh operator tersebut mulai dari 2009 sampai 2012.

Fasilitas tersebut yang dioperasikan oleh operator, anak perusahaan baru Cingular Wireless PCS and AT&T Mobility Puerto Rico. Akibatnya, FCC pun melakukan penyitaan aset AT&T berupa 250 stasiun dalam rangka penegakan hukum pada 2015 lalu.

AT&T pun mengatakan telah setuju untuk menerapkan kepatuhannya dan berencana untuk melakukan review pada site microwave stasiun yang compliments serta yang akan dibangun. FCC pun menerapkan wajib lapor bagi AT&T secara periodik tentang kemampuan atas upaya irritants dalam 60 hari ke depan.

“Kami berharap setiap orang atau perusahaan yang menerima lisensi dari Komisi akan beroperasi dalam parameter yang sesuai dengan otorisasinya,” kata Travis LeBlanc, Kepala Biro Penegakan Hukum FCC menjelaskan.

Travis juga menambahkan bahwa, “Setiap pemegang lisensi yang beroperasi di luar parameter akan mengancam integritas jaringan komunikasi, meningkatkan risiko gangguan yang membahayakan dan melanggar hukum.”

AT&T baru-baru ini juga harus mengirimkan sejumlah documen pada FCC guna diperiksa yang terindikasi sebagai pelanggaran. Pada Juli lalu pun, operator ini diharuskan membayar denda sebesar lebih dari $ 170,000 dan kompensasi, terkait dengan overcharges pada sebuah sekolah di distrik Florida. Hal tersebut berkait dengan program pemerintah e-Rate dan penyalahgunaan dari pelayanan dana subsidi.

Tak lama setelah itu, AT&T mengatakan akan memberikan $ 6.8 juta sebagai pengembalian dana dan membayar hampir $ 1 juta sebagai denda karena penagihan tidak sah ke pihak ketiga untuk bisnis operator telekomunikasi berbasis kabel. (Icha)

3UK Inginkan Regulator Inggris Pisahkan BT dan Openreach

0

Telko.id – 3UK pada minggu ini mulai bergabung dengan kampanye ‘Fix Britain’s Internet’, yang melobi regulator telekomunikasi Ofcom untuk pemisahan penuh antara BT dan Unit infrastruktur Openreach.

CEO 3UK, Dave Dyson menyerukan Ofcom untuk mengambil keputusan berani pada pemisahan BT  dan Openreach split, seperti dilaporkan TotalTelecom (27/9).

Seperti diketahui, Kampanye ini diluncurkan pada akhir Juli lalu yang diprakarsai oleh Sky, TalkTalk, Vodafone, dan Federation of Communication Service (FCS).

Fix Britain’s Internet mendesak konsumen untuk menanggapi konsultasi Ofcom mengenai rencana untuk membuat Openreach lebih mandiri dari induknya, rencana yang dalam bentuk saat ini adalah sepenuhnya membelah dua. Sejauh ini, telah terdapat 75.000 orang merespon.

“Keberhasilan lanjutan dari Internet mobile bergantung pada pasar infrastruktur broadband kompetitif yang menyediakan pilihan dan kebebasan. Namun, sistem yang sekarang tidak memberikan ini,” kata 3UK, dalam sebuah pernyataan pada hari Senin waktu setempat.

Operator seluler yang bermarkas di Hong Kong ini menyatakan bahwa secara struktural memisahkan BT dan Openreach merupakan satu-satunya ukuran yang akan memberikan kompetisi asli dan mencegah BT dari menguntungkan dirinya sendiri.

Merasa terganggu, BT baru-baru ini menanggapi kampanye tersebut dan bekerja sama dengan cableco Virgin Media untuk mempertahankan track record Openreach dalam berinvestasi di bidang infrastruktur, dan menuduh kampanye Fix Britain’s Internet menggambarkan pandangan yang tidak adil atas berkurangnya konektivitas di Inggris.

Sementara itu, CEO 3UK Dave Dyson tidak hanya menginginkan Ofcom memisahkan BT dan Openreach. Dia juga ingin pengawas untuk menghentikan perusahaan seperti BT dari penimbunan spektrum seluler, dan untuk mempermudah pelanggan dalam beralih provider.

“Konsumen menginginkan pilihan asli dan sangat penting mereka membuat ini jelas untuk Ofcom, sehingga dapat membuat keputusan yang berani pada isu-isu seperti Openreach, spektrum dan switching dalam menghadapi tekanan besar dari para pemain lama yang besar untuk menjaga status quo,” katanya.

Kejadian di Inggris ini sejatinya mirip dengan yang tengah dialami di Indonesia. Ketika tiga Operator besar Tanah Air berebut ‘kue’ yang selama ini dimiliki oleh satu operator saja melalui jalur Network Sharing. Well, kita tunggu saja.

Lelang Spektrum di Mesir Sepi Peminat?

0

Telko.id – Mesir nampaknya akan mengundang pemain internasional untuk mengambil bagian dalam lelang spektrum 4G, setelah tiga dari empat operator seluler di negara tersebut menolak lisensi yang ditawarkan kepada mereka oleh regulator.

Seperti dilaporkan TotalTelecom (26/9), dua operator di negeri Piramida yakni Vodafone dan Orange telah mengklaim bahwa spektrum yang ditawarkan pemerintah tidak cukup untuk menjalankan layanan 4G yang maksimal.

Vodafone dan Orange mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa kuantitas spektrum yang diusulkan oleh National Telecom Regulatory Authority (NTRA) dibawah ekspektasi mereka dan akan menghasilkan pengalaman pelanggan 4G yang tidak terlalu berbeda dengan 3G.

“Pihak regulator tidak menawarkan lisensi spektrum yang cukup untuk mengoperasikan layanan 4G secara efisien dan dengan cara yang akan memungkinkan pengguna Mesir untuk mengalami kecepatan lebih tinggi secara signifikan,” kata Vodafone.

Senada dengan Vodafone, Orange juga mengungkapkan bahwa kuantitas spektrum yang ditawarkan masih kurang dari harapan mereka.

“Orange Mesir menganggap bahwa kuantitas spektrum yang ditawarkan tidak cukup untuk menawarkan pelanggan Mesir kualitas layanan 4G yang layak untuk mereka,” kata Orange.

Lebih lanjut, selain dua operator tadi Reuters melaporkan pada pekan lalu bahwa Etisalat Mesir juga telah menolak untuk ikut dalam perburuan lisensi 4G; Namun rumor ini masih belum mendapatkan konfirmasi resmi dari Etisalat.

NTRA saat ini akan mempertimbangkan untuk melelang lisensi 4G dengan mengundang operator internasional untuk berpartisipasi. Tercatat ada beberapa operator internasional yang cukup tertarik. Seperti, China Telecom, Lebara Arab Saudi, Saudi Telecom, dan operator yang berbasis di Kuwait, Zain.

“Pilihan akan disampaikan kepada dewan direksi pada pertemuan berikutnya, pada awal Oktober,” kata NTRA, dalam laporan.

Sedangkan, operator Incumbent Telecom Mesir adalah satu-satunya operator yang menyetujui persyaratan dari NTRA pada akhir Agustus dan setuju untuk membayar 7,08 miliar pound Mesir untuk lisensi 4G.

Sekadar informasi, pemerintah Mesir memberikan izin lisensi kepada operator fixed-line ini untuk menggunakan 2×5 MHz spektrum 1800 MHz dan 2×10 MHz spektrum 700-MHz untuk 15 tahun ke depan.