Telko.id, Jakarta – Acara Mobile World Congress (MWC) 2019 menjadi ajangnya bagi smartphone dengan kemampuan berbeda. Baru-baru ini, muncul smartphone dengan baterai terbesar di dunia, yakni Energizer Power Max P18K Pop di acara yang digelar di di Barcelona, Spanyol itu.
Dilansir Telko.id dari phoneArena, Selasa (26/02/2019), kapasitas baterai smartphone ini mencapai 18,000 mAh! Jika dihitung, maka baterainya berkapasitas 4,5 kali lebih besar dari baterai Samsung Galaxy S10+ atau Galaxy Note 9.
Dengan baterai berkapasitas sebesar itu, Energizer Power Max P18K Pop mampu digunakan selama 90 jam untuk menerima panggilan telepon, dan akan bertahan hingga 50 hari dalam mode siaga.
{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}
Sementara untuk pemutaran video, smartphone bisa memutar tayangan video selama 2 hari tanpa henti. Smartphone ini juga dapat berfungsi sebagai powerbank bagi smartphone lainnya.
Akan tetapi, besarnya kapasitas baterai pada Energizer Power Max P18K Pop membuat waktu pengisian dayanya juga menjadi super lama. Sebab, dibutuhkan waktu ngecas hingga 9 jam hingga baterainya penuh 100%.
Secara tampilan, smartphone tersebut punya body yang sangat besar dibandingkan smartphone terbaru dari produsen lain. Energizen Power tampak lebih tebal, sehingga membuat penggunanya kesulitan ketika ingin memasukan smartphone ke dalam kantung celananya.
Untuk spesifikasinya, Energizer Power Max P18K Pop mengusung layar berukuran 6,2 inci dengan resolusi 2160×1080. Smartphone itu ditopang oleh prosesor MediaTek Helio P70, RAM 6 GB, ROM 128 GB, dan sistem operasi berbasis Android 9 Pie.
{Baca juga: Mengenal 9 Inovasi Oppo Dalam Memperkaya Ranah Fotografi}
Terdapat juga 3 kamera utama di bagian belakangnya, dan 2 kamera depan mekanik yang akan muncul dari dalam body-nya ketika fitur kamera selfie diaktifkan. Sayangnya saat dipamerkan, belum dijelaskan terkait jenis lensa, resolusi sensor, dan fitur dari kamera tersebut.
Energizer juga belum mengungkapkan soal harga dari perangkat barunya ini. Namun, bagi Anda yang berminat membelinya, smartphone itu akan diluncurkan pada bulan September 2019 mendatang. (NM/FHP)
Telko.id,Jakarta – Sony mencoba membuat terobosan baru lewat smartphone anyarnya, Sony Xperia 1. Smartphone ini mengusung layar berukuran besar dengan aspek rasio 21 : 9. Dimensi atau rasio tersebut biasanya digunakan dalam pembuatan film blockbuster.
Xperia 1 diperkenalkan Sony di ajang Mobile World Congress (MWC) 2019, di Barcelona, Spanyol. Smartphone ini mengusung layar berjenis HDR OLED berukuran 6,5 inci dengan teknologi yang biasanya disematkan pada seri TV Sony Bravia.
Sony Xperia 1 juga memiliki kemampuan handal dalam menangkap foto dan merekam video 4K dalam rasio 21 : 9.
{Baca juga: 5 Smartphone Lipat yang Diperkenalkan Tahun Ini}
Sebab, smartphone ini disematkan juga dengan tiga kamera utama dengan resolusi masing-masing 12MP lensa wide-angle, lena telephoto 52mm, dan lensa superwide 16mm.
Presiden Sony Mobile Communications, Mitsuya Kishida mengatakan Sony memiliki warisan yang kaya untuk memenuhi tuntutan teknologi dari para pembuat film profesional, baik dalam hal suara maupun tampilan.
“Xperia baru kami akan menghadirkan teknologi asli dengan banyak fitur kelas profesional untuk menciptakan pengalaman hiburan yang hanya mungkin dilakukan oleh Sony,” kata Kishida, seperti dikutip dari The Star Online, Selasa (26/02/2019).
Selain Xperia 1, perusahaan yang didirikan pada 2001 ini juga membawa layar dengan rasio 21 : 9 ke dua smartphone kelas menengah, yakni Xperia 10 dan Xperia 10 plus. Meski memiliki terobosan baru, namun menurut Ben Wood dari CCS Insight, perangkat Sony ini akan sulit untuk menonjol dari kerumunan industri smartphone sekarang.
“Kami tidak yakin bahwa rasio 21 : 9 cukup membawa perbedaan, meskipun kredensial kuat Sony dalam konten,” ungkapnya.
{Baca juga: Waduh, Nokia 9 PureView Bikin Penderita Trypophobia Ketakutan}
Sementara itu, analis industri Paolo Pescatore dari PP Foresight mengatakan, perangkat baru ini merupakan strategi tepat yang dilakukan oleh Sony. Akan tetapi, mereka akan terus menghadapi tantangan monumental dalam bersaing dengan para pesaingnya yang terus meluncurkan perangkat baru dengan fitur-fitur baru, dan dibanderol dengan harga mahal.
“Terutama produsen smartphone asal Asia yang bergerak dan meningkatkan pangsa pasar dengan sangat cepat, seperti yang dilakukan Huawei dan Xiaomi,” jelasnya.
Sekadar informasi, Huawei dan Xiaomi sama-sama mengumumkan perangkat 5G di MWC 2019. Huawei juga merupakan brand asal China yang sukses menggeser Apple dari posisi nomor dua dalam penjualan smartphone. Mereka juga berhasil membuat gebrakan dengan merilis smartphone lipat, Huawei Mate X. (BA/FHP)
Telko.id – Di tahun ini, sejumlah brand smartphone tidak hanya berlomba-lomba untuk merilis smartphone dengan layar fullscreen dengan bezel yang jauh lebih tipis, tapi juga saling meluncurkan smartphone lipat. Terbukti dengan cukup banyaknya smartphone atau perangkat lipat yang diluncurkan tahun ini.
Nah, membahas smartphone lipat, kali ini tim Telko.id mau merangkum 5 smartphone lipat yang melenggang di tahun ini.
Kelimanya adalah Samsung Galaxy Fold, Huawei Mate X, Nubia Alpha, LG V50 ThinQ, dan smartphone lipat buatan TCL.
Hampir semuanya dirilis di ajang Mobile World Congress (MWC) 2019. Hampir semuanya juga merupakan produk yang benar-benar akan dijual tak lama lagi. So, yuk simak!
Samsung Galaxy Fold
Samsung mengawali acara Galaxy Unpacked 2019 dengan sebuah kejutan. Perusahaan asal Korea Selatan ini memperkenalkan smartphone lipat yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya, yakni Samsung Galaxy Fold.
Pertama kali diperlihatkan di acara Samsung Developer Conference pada tahun lalu, Galaxy Fold punya dua layar yang dikemas dalam body berbentuk tablet masa kini.
Samsung Galaxy Fold punya layar utama berjenis AMOLED fleksibel dengan ukuran 7,3 inci dan beresolusi 1536 x 2152 piksel. Samsung mendesain Galaxy Fold agar dapat dilipat ke dalam, sehingga ketika dilipat, layar sekunder atau layar luarnya yang berukuran 4,6 inci yang akan aktif.
Smartphone ini memiliki notch atau poni di sisi kanan layarnya ketika berada di mode tablet. Notch tersebut merupakan frame untuk kamera yang berguna bagi pengguna untuk melakukan video call dalam mode layar penuh.
{Baca juga: Harga Samsung Galaxy Fold Nyaris Rp 30 Juta!}
Untuk dapur pacunya, Samsung Galaxy Fold ditopang oleh prosesor berbasis 7nm, yang diprediksi merupakan Snapdragon 855, RAM 12 GB, ROM 512 GB, dan baterai berkapasitas 4,380 mAh. Smartphone ini memiliki sejumlah fitur andalan, salah satunya adalah App Continuity.
Fitur tersebut memungkinkan pengguna untuk menampilkan aplikasi secara berkelanjutan, dari smartphone ke mode tablet. Juga, pengguna dapat menjalankan tiga aplikasi secara bersamaan dengan pengalaman yang smooth.
Di sektor kamera, Galaxy Fold punya enam kamera. Tiga kamera utama yang bisa diakses pada mode smartphone atau tablet dengan resolusi 12 MP lensa wide-angle, 12 MP lensa telephoto, dan 16 MP lensa ultra-wide.
Lalu, ada dua kamera di bagian dalam atau pada mode tablet dengan resolusi 10 MP dan 8 MP lensa RGB depth, dan satu kamera depan 10 MP pada mode smartphone. Samsung Galaxy Fold akan tersedia dalam dua versi, yakni 5G dan 4G LTE. Smartphone ini akan dijual mulai dari USD 1.980 atau setara Rp 27,7 jutaan pada 26 April mendatang.
Huawei Mate X
Kurang dari seminggu setelah Samsung merilis Galaxy Fold, Huawei langsung meluncurkan smartphone lipat andalannya di ajang MWC 2019. Smartphone bernama Huawei Mate X ini mengusung konsep desain berbeda daripada Galaxy Fold.
Huawei Mate X menggunakan layar berjenis AMOLED fleksibel berukuran 8 inci dengan resolusi 2480 x 2200 piksel. Huawei mendesain smartphone ini agar dapat dilipat ke luar.
Sehingga ketika dilipat, layar bagian depan berukuran 6,6 inci dan aspek rasio 19,5 : 9 akan aktif, sementara layar yang berada di bagian belakang dengan ukuran 6,38 inci dan aspek rasio 25 : 9 akan mati.
Tidak seperti Galaxy Fold yang punya notch saat berada dalam mode tablet, Mate X justru terlihat lebih bezel-less karena tidak memiliki ornamen atau komponen apapun yang mengganggu tampilan layar. Untuk dapur pacunya, digunakan prosesor Kirin 980 berbasis 7nm, RAM 8 GB, ROM 512 GB, dan baterai berkapasitas 4,500 mAh.
Huawei Mate X memiliki tiga kamera utama, yang diklaim memiliki kemampuan setara dengan kamera Huawei Mate 20 Pro. Ketiga kamera ini mengusung konfigurasi lensa utama RGB, lensa telephoto, dan lensa ultra-wide.
Untuk harganya, Huawei membanderol Mate X seharga USD 2600 atau sekitar Rp 36,5 juta dengan 8GB RAM dan 512GB penyimpanan. Huawei menjanjikan akan melepaskan Mate X ke pasaran pada pertengahan tahun ini.
Nubia Alpha
Wait, ini kan smartwatch lipat, bukan smartphone lipat? Memang, Nubia Alpha merupakan smartwatch lipat yang diluncurkan di MWC 2019. Akan tetapi, perangkat ini memiliki fungsi yang terbilang hampir sama dengan sebuah smartphone.
Sebab, Nubia menghadirkan versi perangkat dengan teknologi eSIM yang memudahkan pengguna melakukan panggilan suara dan dapat mengakses internet dalam jaringan 4G LTE. Secara spesifikasi, Alpha mengusung layar berjenis OLED fleksibel buatan Visionox dengan ukuran 4 inci beraspek rasio 36 : 9 dan beresolusi 960 x 192 piksel.
Nubia Alpha menggunakan mesin utama berupa prosesor Snapdragon Wear 2100, RAM 1 GB, ROM 8 GB, dan baterai 500 mAh. Nubia mengklaim, perangkat barunya ini mampu menyimpan 1.000 lagu di dalamnya.
Selayaknya sebuah smartwatch, terdapat beberapa fungsi menarik di dalamnya, seperti motion gestures, AIM (Air Interaction Mechanics), monitor detak jantung, sampai monitor tidur pengguna. Terdapat juga kamera utama dengan sensor beresolusi 5 MP aperture f/2.2 untuk keperluan video call atau mengambil foto.
Nubia Alpha dikemas dengan body berbahan dasar stainless steel dengan layar yang dilapisi oleh polimida tahan panas. Nubia juga menyediakan versi bahan dasar emas 18K. Keduanya, sama-sama sudah memiliki sertifikasi tahan air.
Nubia Alpha akan dijual secara resmi pada bulan April mendatang, dengan harga mulai dari €450 atau sekitar Rp 7,1 jutaan untuk versi Bluetooth, €550 atau Rp 8,7 jutaan untuk versi eSIM, dan €650 atau Rp 10,3 jutaan untuk versi emas 18K.
LG V50 ThinQ
Foto: 9to5Google
LG V50 ThinQ memang bukanlah smartphone lipat dengan layar fleksibel, seperti Samsung Galaxy Fold maupun Huawei Mate X. Akan tetapi, berkat adanya aksesoris Dual Screen yang disediakan LG, smartphone ini pun layak disebut sebagai smartphone lipat.
Ya, di ajang MWC 2019, LG meluncurkan V50 ThinQ dengan konsep desain yang hampir sama dengan LG V40 ThinQ. Smartphone ini mengusung layar berukuran 6,4 inci berjenis OLED FullVision Display beresolusi 3120 x 1440 piksel.
LG V50 ThinQ ditenagai oleh prosesor Snapdragon 855, dan sudah disematkan juga chip modem Snapdragon X50 yang membuatnya punya kemampuan untuk berjalan di jaringan super cepat, 5G yang diklaim punya kecepatan 20x lebih baik dari 4G LTE.
{Baca juga: LG Masih “Galau” akan Rilis Ponsel Layar Lipat}
LG V50 ThinQ secara total punya lima kamera. Tiga kamera di belakang dengan resolusi masing-masing 12 MP aperture f/1.5 lensa standar, 12 MP aperture f/2.4 lensa telephoto, dan 16 MP aperture f/1.9 lensa ultrawide. Sementara kamera depan, beresolusi 8 MP dan 5 MP wide-angle.
Nah berbicara soal aksesoris Dual Screen, perangkat ini disematkan layar berjenis OLED dengan resolusi 2160 x 1080 piksel. Aksesoris tersebut bisa dihubungkan dengan smartphone lewat pogo pins di bagian belakang body.
Ketika digunakan, smartphone pun akan terlihat seperti smartphone lipat dengan adanya engsel di bagian tengahnya. Dilansir dari GSMArena, Selasa (26/02/2019), Dual Screen akan meningkatkan multitasking pengguna, dan memudahkan para gamers untuk memiliki gamepad yang mendukungnya ketika bermain game.
Smartphone Lipat TCL
Foto: TechRadar
Perusahaan asal China, TCL juga tak mau kalah dengan memamerkan prototype dari smartphone lipatnya di MWC 2019. Smartphone TCL itu diklaim merupakan smartphone lipat dengan harga yang terjangkau, ketika resmi diluncurkan nanti.
Smartphone ini punya layar fleksibel berukuran 7,2 inci dengan konsep desain DragonHinge yang dipatenkan perusahaan sebagai konstruksi bagi perangkat lipat di masa depan.
Melansir dari The Verge, Selasa (26/02/2019), DragonHinge menggunakan perpaduan antara frame berbahan dasar logam dengan serangkaian gear kecil untuk melindungi layar lipatnya. TCL memfokuskan diri akan merilis smartphone lipatnya tersebut pada pertengahan 2020 mendatang.
Untuk harganya, kemungkinan smartphone tersebut berada di kisaran harga USD 1000 atau Rp 13,9 jutaan, jauh lebih murah dibandingkan Galaxy Fold yang dibanderol Rp 27,7 jutaan ketika dijual resmi nanti. (FHP)
Telko.id, Jakarta – Di ajang Mobile World Congress (MWC) 2019, Nubia turut merilis perangkat lipatnya. Namun, bukan smartphone lipat seperti Samsung Galaxy Fold atau Huawei Mate X, perusahaan asal China ini meluncurkan smartwatch lipat bernama Nubia Alpha.
Smartwatch yang juga dikenal sebagai Nubia α ini mengusung layar berjenis OLED fleksibel buatan Visionox dengan ukuran 4 inci.
Smartwatch yang lebih cocok disebut sebagai “gelang pintar” ini punya layar relatif tinggi, dengan aspek rasio 36 : 9 dan beresolusi 960 x 192 piksel.
Melansir dari GSMArena, Selasa (26/02/2019), Nubia Alpha menggunakan mesin utama prosesor Snapdragon Wear 2100, RAM 1 GB, dan ROM 8 GB. Nubia mengklaim, smartwatch-nya mampu menyimpan 1.000 lagu di dalamnya.
Terdapat juga baterai berkapasitas 500 mAh yang menopang sistem operasi custom dengan beberapa fitur di dalamnya. Seperti, motion gestures, AIM (Air Interaction Mechanics), monitor detak jantung, monitor tidur, dan lainnya.
“Baterai bisa bertahan seharian hingga maksimal dua hari,” klaim Nubia.
Smartwatch ini juga punya kamera utama dengan sensor beresolusi 5 MP aperture f/2.2 untuk keperluan video call atau mengambil foto. Selain itu, Nubia juga menghadirkan versi dengan fitur eSIM pada Nubia Alpha, untuk memudahkan pengguna melakukan panggilan suara dan dapat mengakses internet dalam jaringan 4G LTE.
Sehingga bisa dikatakan, smartwatch inipun layar disebut sebagai smartphone lipat. Sementara untuk versi standar, smartwatch lipat tersebut bisa terhubung ke smartphone melalui Bluetooth dan ke internet melalui Wi-Fi.
Nubia Alpha dikemas dengan body berbahan dasar stainless steel dengan layar yang dilapisi oleh polimida tahan panas. Nubia juga menyediakan smartwatch dengan bahan dasar emas 18K. Keduanya, sama-sama sudah memiliki sertifikasi tahan air.
Nubia Alpha akan dijual secara resmi pada bulan April mendatang, dengan harga mulai dari €450 atau sekitar Rp 7,1 jutaan untuk versi Bluetooth, €550 atau Rp 8,7 jutaan untuk versi eSIM, dan €650 atau Rp 10,3 jutaan untuk versi emas 18K. (FHP)
Telko.id, Jakarta – Para penderita trypophobia atau ketakutan terhadap lubang mengklaim bahwa smartphone terbaru Nokia, Nokia 9 PureView telah memicu kondisi atau respon trypophobic mereka.
Hal itu disebabkan karena smartphone memiliki fitur penta-lens atau lima lensa kamera, dan dua lubang tambahan untuk lensa ToF yang membantu kamera utama mendapatkan informasi kedalaman pada foto, serta dual-tone LED Flash.
Ketujuh lubang di body belakang Nokia 9 PureView inilah yang membuat orang yang mengidap trypophobia merasa tidak nyaman.
{Baca juga: Nokia 9 PureView, Ponsel 5 Kamera Pertama di Dunia}
Sejumlah orang mengunggah tweet tentang dampak mengejutkan yang dimiliki smartphone Nokia itu terhadap mereka, dan seorang psikolog mengatakan bahwa gadget itu dapat “memicu respon trypophobic” pada seseorang yang berpose untuk difoto menggunakan smartphone ini.
Satu di antaranya mengklaim, perangkat terbaru Nokia tersebut membuat mereka merasa diserang secara pribadi.
“Smartphone ini membuat saya merinding, “tulis netizen bernama Deanna Williams di Twitter.
Sementara itu, Noel R. Mayer, pemilik akun Twitter Noel The Walrus meminta agar Nokia melakukan pencarian tentang trypophobia sebelum merancang smartphone baru.
“Yo, @NokiaMobile! Google trypophobia sebelum Anda merancang smartphone baru, silakan. Itu ada di seluruh situs teknologi, memicu serangan panik. Jangan mencari Nokia baru! #MentalHealth,” tulisnya.
Pengalaman kurang menyenangkan juga dialami oleh seorang desainer game, Ishan Manjrekar yang merasa tidak nyaman melihat foto-foto unit dari Nokia 9 PureView.
{Baca juga: Menakjubkan! Ini Hasil Lima Kamera Nokia 9 PureView}
“Gambar foto-foto Nokia 9 ini harus disertai dengan peringatan trypophobia! Aku merasa sedikit tidak enak melihat mereka,” tulisnya.
Seorang dosen senior di Pusat Penelitian Otak di Universitas Essex, Dr Geoff Cole mengatakan kepada Metro, seperti diikutip Telko.id pada Selasa (26/02/2019), bahwa ia menerbitkan makalah akademis pertama tentang trypophobia. Ia mengatakan, pola kamera Nokia 9 PureView memiliki struktur yang menyebabkan trypophobia.
“Ketika seseorang mengambil gambar Anda, kamera pada smartphone ini dapat memicu respon trypophobia,” katanya.
Ia percaya bahwa pola lubang yang memicu trypophobia memiliki struktur matematika yang mirip dengan pengaturan warna atau tanda pada predator atau hewan dan tanaman beracun.
{Baca juga: Nokia 9 PureView akan Diluncurkan di Indonesia?}
“Saya banyak menerima surat dan email yang mengatakan mereka tidak bisa bekerja selama tiga hari ketika melihat gambar seperti itu,” jelasnya.
Ada sebagian orang yang mengaku merasa sulit berkonsentrasi setelah melihatnya. Bagi sebagian besar orang, mereka merasa melihat sesuatu yang buruk dan terus muncul di pikiran mereka. (BA/FHP)
Telko.id – Tol Langit adalah istilah yang digunakan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk infrastruktur telekomunikasi broadband yang menggunakan fiber optik dan satelit.
Untuk fiber optik, yang disebut sebagai proyek Palapa Ring sudah hampir selesai semua. Tinggal Paket Timur, yang rencananya bakal selesai tahun ini juga.
Sedangkan untuk satelit yang diberi nama Satelit Republik Indonesia (Satria), nantinya akan menjangkau daerah pelosok yang berada di wilayah 3T (Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) yang tidak terjangkau oleh fiber optic sehingga nantinya masyarakat dapat mengakses internet cepat atau 4G bukan lagi 2G.
Namun, saat ini masih tahap tender yang rencananya akan selesai pada April 2019. Setelah itu, baru pengerjaannya mulai tahun 2020 dan di akhir 2022 diharapkan dapat meluncur ke luar angkasa. Baru pada tahun berikutnya, layanan akses internet melalui satelit sudah bisa dirasakan.
Pengadaan satelit itu sendiri akan dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI). Di mana, satelit yang akan diorbitkan itu berbasis High Throughput (HTS).
Menurut Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementrian Kominfo, Anang Latif, Satelit Satria yang berbasis satelit High Throughput ini memiliki keunggulan yaitu biayanya yang efisien dan cakupan jangkauan Internetnya yang luas.
Sebagai perbandingan, satelit konvensional mengharuskan BAKTI menggelontorkan uang sewa sebesar Rp18 juta untuk setiap megabite per detik (Mbps).
Sedangkan, satelit multifungsi berbiaya per Mbps, dapat menjadi lebih murah yaitu Rp1 juta per Mbps.
Satria ini sendiri, nantinya akan memberikan sinyal broadband ke daerah terluar Indonesia khususnya di Kalimantan dan Papua.
Setidaknya ada 140 ribu titik yang tidak dapat diakses oleh fiber optik. Satelit ini akan mendukung jaringan komunikasi untuk 93.900 sekolah, 47.900 kantor pemerintahan, 3.700 puskesmas, dan 3.900 markas polisi dan TNI yang sulit dijangkau kabel optik.
Namun, dikarenakan beroperasinya Satria masih lama, maka pemerintah pun memutuskan untuk melakukan penyewaan satelit.
“Sembari menunggu penyelesaian Satria (Satelit Indonesia Raya) yang ditargetkan selesai 2023, kita menyediakan akses internet cepat untuk kebutuhan layanan pendidikan, kesehatan dan pertahanan keamanan dengan kerja ini dengan melakukan penyewaan satelit,” ungkap Anang.
Setelah melalui proses lelang, ada lima perusahaan terpilih untuk kerja sama dan akan menyediakan kapasistas satelit sebesar 21 Gbps, yaitu PT Aplikasinusa Lintasarta, PT Indo Pratama Teleglobal, Konsorsium iforte HTS, PT Pasifik Satelit Nusantara dan PT Telekomunikasi Indonesia dalam kurun waktu lima tahun dengan memperhatikan Service Level Agreement (SLA).
Mengenai sewanya, kata Anang, BAKTI mengalokasikan anggaran sebesar Rp 7,5 triliun untuk ‘nebeng’ satelit kelima operator itu sampai lima tahun, terhitung tahun 2019 – 2024.
“Dengan penyewaan ini, target kita bisa melayani 5.000 BTS (Base Transceiver Station) dengan titik internet juga 5.000, jadi 10.000 titik,” ungkap Anang menambahkan.
Anang menyebutkan sewa dari kelima operator satelit turut memperhatikan Service Level Agreement (SLA). Ditambahkannya, penyediaan kapasitas satelit ini juga untuk mengejar target upaya pemerataan akses internet di seluruh Indonesia atau merdeka sinyal pada tahun 2020.
PSN sebagai salah satu mitra pemerintah yang menyediakan satelit nya untuk disewa, baru saja meluncurkan Satelit nya yakni Nusantara 1 dari Stasiun Angkatan Udara Cape Caneveral, Florida, Amerika Serikat (22/02).
Direktur Utama Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Adi Rahman Adiwoso mengatakan, satelit Nusantara Satu ini akan mulai beroperasi pada bulan April 2019 mendatang. Adi berharap, satelit ini sebagai upaya dalam mengurangi kesenjangan jaringan komunikasi internet cepat di Tanah Air.
“Kebutuhan internet atau broadband sangat tinggi, kami memperkirakan ada 25 ribu desa yang tidak memiliki koneksi komunikasi internet memadai. Jadi, target kami untuk membantu mencakup mereka,” kata Adi sebelum proses peluncuran dilakukan, seperti dikuti dari Berita Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Nusantara Satu merupakan satelit Indonesia pertama yang menggunakan teknologi High Throughput Satellite (HTS) berkapasitas hingga 15 Gbps. Teknologi ini, diyakini mampu memberikan layanan internet broadband dengan kapasitas jauh lebih besar dibandingkan satelit konvensional yang saat ini ada di Indonesia.
Dan, mulai Mei 2019 akan dimulai penyediaan kapasitas satelit komunikasi dengan melakukan penambahan 2000 BTS menjadi total 3010 titik ditahun 2019 dan tahun 2020 ditargetkan bisa bertambah hingga 5000 titik. Akhirnya, diharapkan Indonesia merdeka sinyal pun akan terwujud. (RIZ/Icha)
Telko.id – Nokia 9 PureView kali pertama diperkenalkan pada 2019, February 24. Perangkat bermesin Snapdragon 845 ini hadir dengan sistem operasi Android 9.0 (Pie), upgradable to Android 10, Android One dan dibekali dengan RAM berkapasitas 6 GB.
Sampai berita ini diturunkan, Nokia memang belum secara resmi merilis harga Nokia 9 PureView. Tapi jika melihat dari spesifikasi yang ditawarkan, perangkat ini diperkirakan akan dibandrol dengan harga yang kurang lebih sama dengan seri sebelumnya (Nokia 8 Sirocco).
Perangkat cerdas ini hadir dengan beberapa pilihan warna (Midnight Blue) dan memiliki body berdimensi 155 x 75 x 8 mm (6.10 x 2.95 x 0.31 in) dengan berat 172 g (6.07 oz). Desainnya dibangun dari komponen Glass front (Gorilla Glass 5), glass back, aluminum frame, dengan slot SIM card yang diletakkan pada sisi body, support Single SIM (Nano-SIM) or Hybrid Dual SIM (Nano-SIM, dual stand-by).
Kamera Nokia 9 PureView
Sejak kemunculan media sosial dan platform berbagi lainnya, kamera jadi salah satu fitur penting dari sebuah perangkat cerdas. Tak terkecuali perangkat yang satu ini. Ya, berikut adalah sensor kamera utama yang dibenamkan ke dalam body belakang Nokia 9 PureView :
Sensor kamera tersebut tidak hanya bisa digunakan untuk menghasilkan foto dengan resolusi maksimal 12 MP tapi juga untuk merekam video dengan resolusi maksimal 2160p. Lalu bagaimana dengan kamera depannya?
Well, untuk kamera depan, perangkat ini mengandalkan sensor 20 MP, f/2.0, (wide), 1/2.8″, 1.0μm yang tidak hanya penting untuk selfie, tapi juga bisa diandalkan saat melakukan video call ataupun video conference. Kamera tersebut dilengkapi dengan fitur HDR dan bisa digunakan untuk merekam video dengan resolusi maksimal 2160p@30fps, 1080p@30fps, HDR.
Spesifikasi Nokia 9 PureView
Pada sektor performa, perangkat ini mengandalkan chipset Snapdragon 845 yang ditopang Central Processing Unit atau CPU Octa-core (4×2.8 GHz Kryo 385 Gold & 4×1.7 GHz Kryo 385 Silver) dan prosesor grafis / GPU Adreno 630. Komponen pemrosesan tersebut didukung dengan RAM berkapasitas 6 GB. Lengkap dengan opsi penyimpanan internal / ROM berkapasitas 128GB storage, no card slot dan baterai berjenis Li-Po dengan kapasitas 3320 mAh.
Beralih ke bagian multimedia, ada layar berukuran 5.99″ Inch dengan jenis P-OLED capacitive touchscreen, 16M colors. Resolusi layarnya 1440×2880 pixels dan telah dilengkapi dengan Corning Gorilla Glass 5, Always-on display
HDR10. Layar tersebut jadi viewfinder yang cukup nyaman untuk menampilkan beragam fungsi yang dibawanya. Termasuk untuk menonton video dan bermain game tentunya.
Dan layaknya sebuah perangkat cerdas, Nokia 9 PureView sudah dibekali konektifitas yang terbilang lengkap. Untuk konektifitas jaringan seluler misalnya. Perangkat ini support teknologi GSM / HSPA / LTE yang bisa digunakan untuk melakukan komunikasi data dengan kecepatan maksimal HSPA 42.2/5.76 Mbps, LTE-A (5CA) Cat16 1024/150 Mbps.
Selain itu ada juga konektifitas USB 3.1, Type-C 1.0 reversible connector, GPS(Yes, with A-GPS, GLONASS, BDS), Wi-Fi 802.11 a/b/g/n/ac, dual-band, Wi-Fi Direct, hotspot, dan bluetooth (5.0, A2DP, LE, aptX). Tak ketinggalan fitur lainnya seperti Fingerprint (under display, optical), accelerometer, gyro, proximity, compass, barometer, ANT+.
Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah spesifikasi Nokia 9 PureView :
Telko.id, Jakarta – Ada kabar gembira bagi Anda yang masih berstatus pelajar atau berprofesi sebagai guru. Pasalnya, Samsung akan memberikan diskon khusus hingga 40% bagi keduanya untuk berbagai teknologi yang dihasilkan Samsung, termasuk jajaran smartphone terbaru, Samsung Galaxy S10.
Dilansir Telko.id dari Ubergizmo pada Senin (25/02/2019), untuk jajaran Samsung Galaxy S10 pihak Samsung akan memberi potongan harga sebesar 8% kepada guru dan pelajar.
Untuk mendapatkan diskon tersebut, baik siswa maupun guru harus memiliki alamat email edu. yang valid, sebelum dapat mendaftar program Diskon Siswa dan Guru Samsung. Nantinya dari program tersebut, mereka bisa mendapat potongan harga hingga 40% saat membeli perangkat di laman Samsung.com.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, diskon ini hanya dapat diperoleh saat membeli produk melalui situs web Samsung sendiri. Jika Anda berencana membeli Galaxy S10 dari toko retail, Anda akan kurang beruntung.
Untuk Galaxy S10, pihak samsung menawarkan diskon 8% untuk ketiga model yang ada. Anda juga dapat mengambil keuntungan dari potongan harga ini dan mendapatkan kesepakatan pre-order Samsung untuk Galaxy S10 yang menyediakan sepasang Galaxy Buds gratis kepada pelanggan yang melakukan pre-order flagship terbaru perusahaan.
Sebelumnya, Samsung resmi meluncurkan trio smartphone flagship-nya, termasuk Samsung Galaxy S10, Galaxy S10+, dan Galaxy S10e dalam event khusus bertajuk “Galaxy Unpacked 2019” di Bill Graham Civic Auditorium, San Francisco, California, Amerika Serikat, Rabu (20/2/2019) waktu setempat.
{Baca juga: Trio Samsung Galaxy S10 Resmi Diperkenalkan}
Sesuai banyak bocoran sebelumnya yang banyak beredar, suksesor Samsung Galaxy S9 ini mengusung desain, teknologi serta fitur yang benar-benar berbeda. Seperti layar misalnya, Samsung mengimplementasikan desain Infinity O pada ketiga smartphone barunya. Khusus untuk Samsung Galaxy S10 standar dan S10+, perusahaan asal Korea Selatan ini menggunakan layar yang melengkung di sisi kiri dan kanannya. [NM/IF]
Telko.id, Jakarta – Sony dilaporkan bakal ikut meramaikan ajang Mobile World Congress (MWC) tahun ini. Usut punya usut, perusahaan asal Jepang ini akan memperkenalkan seri terbaru dari Sony Xperia.
Dilansir Telko.id dari GSMArena pada Senin (25/02/2019), ada 4 rumor yang muncul terkait empat smarpthone Sony tersebut. Walaupun bukan dari informasi resmi pihak Sony, tetapi rumor ini tampaknya patut kita simak sebelum peluncuran benar-benar terjadi.
Panjang Layar
Sony memakai merek dagang moniker CinemaWide untuk tampilan smartphone miliknya. Konon katanya, tampilan layar memiliki bentuk memanjang dengan rasio 21: 9 dan menggunakan POLED. Sayang, pemindai sidik jari akan tetap berada di samping, dan bukannya di layar.
Tiga ponsel dengan Nama Baru
Kabar lainnya adalah adanya 3 ponsel yang memiliki nama baru. Secara logika, jika penerus Sony Xperia XZ3 seharusnya bernama Xperia XZ4 atau Xperia XZ3 Premium, banyak rumor menunjukkan bahwa seri terbaru akan bernama Sony Xperia 1.
{Baca juga : Sony Xperia XZ4 Punya Kamera 52 Megapiksel?}
Selain Xperia X1, seri XA juga tak luput dar perhatian. Dimana kehadirannya sangat diharapkan sebagai bagian dari perayaan 10 tahun smartphone seri Xperia, yaitu Sony Xperia 10 dan Xperia 10 Plus. Selain itu, ada juga harapan terkait kehadiran ponsel terjangkau bernama Sony Xperia L3.
Kamera dan Chipset
Sony biasanya meluncurkan smartphone Xperia teranyarnya di acara tahunan MWC dengan chipset Qualcomm terbaru dan kabarnya hal itu akan terjadi juga tahun ini. Sony juga siap dengan pengaturan tiga kamera di bagian belakang, yang akan menjadi kali pertama bagi pabrikan Jepang tersebut.
Kabarnya, Xperia 10 dan 10 Plus kemungkinan akan datang dengan Snapdragon 630 dan Snapdragon 660, masing-masing. RAM bisa 3 GB atau 4 GB, dengan penyimpanan hanya 64 GB. Sebagai tambahan, kedua perangkat akan memiliki slot microSD.
{Baca juga: Duo Sony Xperia XZ2 Terima Update Android 9 Pie}
Harga dan Ketersediaan
Rumor lainnya adalah terkait harga, dimana Sony dikabarkan akan membanderol Xperia XZ4 di harga €950 atau Rp 15,1 jutaan. Sementara untuk Sony Xperia XA3, rumor beredar akan dibanderol di harga €350 atau Rp 5,5 juta. Sony Xperia L3 sesuai segmentasinya, dijual di harga terjangkau sekitar €200 atau Rp 4,7 juta.
Sekali lagi, ini baru rumor, yang kebenarannya baru bisa kita buktikan saat pihak Sony benar-benar mengumumkan smartphone terbarunya ajang di MWC 2019. [NM/IF]
Telko.id, Jakarta – Alcatel tak mau ketinggalan untuk ikut bergabung ke ranah ponsel lipat dan menggunakan panel layar fleksibel di perangkatnya. Sejumlah teaser dari teknologi besutannya, Dragonhinge, yang mulai wara-wiri menjadi bukti.
Teknologi tersebut memungkinkan panel layar fleksibel terlipat tanpa merusak komponen internal. Menurut siaran pers, Alcatel ingin Dragonhinge ada di rangkaian ponsel berdesain lipat miliknya, termasuk perangkat yang juga berfungsi sebagai tablet.
Dilansir Gizmodo, informasi serupa juga diunggah oleh Evan Blass, yang menampilkan petunjuk terkait sejumlah perangkat yang difoto oleh Alcatel dalam posisi berbeda.
Mengingat yang diumumkan Alcatel adalah teknologi, dan bukannya ponsel, maka perangkat pada foto ini pun masih merupakan perangkat konsep dan bukan perwakilan perangkat konsumen yang sebenarnya.
Sayang, berdasarkan gambar yang diunggah Blass via akun Twitter miliknya tersebut, sejumlah pihak menilai desain yang diusung perangkat tidak menarik. Permasalahan utama yang dikeluhkan masyarakat adalah ukuran engsel yang dinilai terlalu besar sehingga menyisakan celah cukup lebar.
Celah ini menjadikan tampilan perangkat kurang menarik jika dibandingkan perangkat karya perusahaan asal Tiongkok bertajuk Royole Flexpai. Kedua sisi perangkat tidak simetris, menyisakan bagian layar cukup besar yang tidak terlindung.
{Baca juga: LG Masih “Galau” akan Rilis Ponsel Layar Lipat}
Saat dibentangkan sebagai tablet, perangkat ini hadir dengan tampilan lebih menarik serupa tablet karya produsen ponsel lipat lainnya. Salah satunya menawarkan tampilan eksterior serupa dengan Galaxy Fold.
Hingga saat ini, masih belum diketahui pasti apakah desain yang diusung perangkat merupakan desain akhir atau tidak Namun berbagai pihak berharap desain masih akan mengalami perubahan dan akan hadir dengan celah antara engsel yang lebih sempit dari desain saat ini. [BA/IF]