Telko.id – Pesatnya pembangunan pusat data (data center) di Inggris memunculkan kekhawatiran baru terkait ketersediaan air bersih. Sejumlah pihak menilai meningkatnya kebutuhan pendinginan data center, terutama untuk mendukung layanan kecerdasan buatan (AI), berpotensi memperburuk risiko krisis air yang diperkirakan akan dihadapi negara tersebut dalam beberapa tahun mendatang.
Peringatan itu disampaikan Water UK, organisasi yang mewakili perusahaan penyedia air di Inggris dan Irlandia Utara, dalam dokumen yang diserahkan kepada anggota parlemen.
Water UK menilai proyeksi kebutuhan air pemerintah “sangat keliru” karena tidak memasukkan kebutuhan air pusat data. Organisasi tersebut juga menyebut berbagai kebijakan pemerintah terkait pertumbuhan AI tidak menyinggung persoalan pasokan air.
Menurut mereka, pusat data membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan server yang menghasilkan panas.
Air digunakan secara langsung pada sistem pendingin, chiller, dan pengatur kelembapan, sementara konsumsi air juga meningkat secara tidak langsung akibat tingginya kebutuhan listrik fasilitas tersebut.
Organisasi itu juga menyoroti kerangka nasional sumber daya air yang diterbitkan Badan Lingkungan Inggris pada Juni 2025 karena belum memperkirakan kebutuhan air pusat data.
Baca Juga:
- Warga AS Gelar Tolak Pembangunan Data Center AI
- Indonet Perkuat Jaringan Fiber dan Data Center untuk Dukung AI
“Tampaknya ada asumsi bahwa negara akan selalu memiliki cukup air untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Kenyataannya justru jauh dari itu,” tulis Water UK, dikutip dari The Guardian, Selasa (21/7).
Meski demikian, pemerintah Inggris tetap memandang data center sebagai infrastruktur penting bagi transformasi digital dan pengembangan AI nasional. Di sisi lain, pemerintah didorong untuk memastikan setiap proyek baru menerapkan teknologi pendinginan yang lebih efisien serta pengelolaan air yang berkelanjutan agar dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
Sejumlah perusahaan teknologi juga mulai mengembangkan sistem pendingin yang lebih hemat air dan energi sebagai upaya mengurangi jejak lingkungan dari pusat data.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat dalam beberapa tahun ke depan.
Perdebatan ini menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya bergantung pada kemampuan teknologi, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur dan pengelolaan sumber daya alam. Ke depan, tantangan terbesar bagi industri data center adalah memenuhi kebutuhan komputasi AI tanpa memperburuk tekanan terhadap lingkungan khususnya ketersediaan air bersih.
Juru bicara pemerintah mengatakan pemerintah akan tetap melindungi pasokan air sembari mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk mencari alternatif untuk mengurangi dampak pusat data terhadap konsumsi air dan limbah yang dihasilkan.
“Kami juga mengambil langkah-langkah tegas untuk menjamin pasokan air dan memenuhi permintaan yang semakin tinggi, termasuk investasi infrastruktur dalam jumlah yang mencapai rekor tertinggi serta pembangunan sembilan bendungan baru,” ujar Juru Bicara tersebut.


