spot_img
Latest Phone

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

Garmin Kampanye Women of Endurance: Ibu Rumah Tangga Bisa Setara HIIT

Telko.id - Aktivitas sehari-hari seorang ibu rumah tangga ternyata...

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

ARTIKEL TERKAIT

YouTube Perketat Monetisasi, Konten AI Terancam Tak Dibayar

Telko.id – YouTube memperbarui kebijakan monetisasi bagi kreator dengan memperketat aturan terhadap konten yang dinilai tidak orisinal atau diproduksi secara massal.

Mulai pertengahan Juli 2026, video yang hanya mengandalkan AI, menggunakan ulang konten orang lain, atau dibuat secara berulang tanpa nilai tambah berisiko tidak lagi memenuhi syarat untuk memperoleh pendapatan dari program monetisasi YouTube.

“Terkadang video-video itu bagus dan benar-benar meningkatkan kreativitas. Dan Anda bisa membuat konten berkualitas tinggi dalam jumlah lebih banyak. Ini yang ingin kami dorong dan miliki di YouTube Partner Program (YPP),” jelas Kepala Kepercayaan dan Keamanan YouTube, Matt Halprin dikutip dari Tech Crunch, Rabu (22/7/2026).

“Namun alat baru yang sama itu juga memungkinkan membuat video dengan cepat yang sangat mirip. Video itu sangat umum dan tidak punya alur naratif serta tidak menunjukkan kreativitas. Jadi teknologi yang sama memungkinkan hal-hal hebat, namun juga memungkinkan hal-hal bersifat penambangan konten dan itu yang tidak kami inginkan di YPP,” dia menambahkan.

Lalu apa saja materi konten yang tidak masuk dalam kategori YPP? Salah satunya adalah konten berulang, seperti materi yang dibuat dengan AI, CGI atau templat.

Platform menilai jenis konten seperti ini dapat menurunkan kualitas pengalaman pengguna dan mengurangi kepercayaan pengiklan.

Meski demikian, kreator yang membuat video reaksi, ulasan, edukasi, atau komentar tetap dapat memperoleh monetisasi selama kontennya memiliki analisis, opini, atau nilai tambah yang jelas.

Baca Juga:

Dengan kata lain, yang menjadi fokus YouTube bukan penggunaan AI saja, melainkan tingkat keaslian dan kualitas konten yang dihasilkan.

Kebijakan ini menunjukkan semakin banyak platform digital yang berupaya menekan penyebaran konten AI berkualitas rendah (AI slop) sekaligus menjaga ekosistem kreator yang menghasilkan karya orisinal.

YouTube tidak akan memberikan insentif pada kreator dengan persona AI untuk membahas topik yang lebih sensitif, misalnya keuangan, hukum, perawatan kesehatan serta medis.

Bagi para kreator, pembaruan tersebut menjadi pengingat bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung kreativitas, bukan sebagai pengganti proses berkarya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU