Telko.id – YouTube memperbarui kebijakan monetisasi bagi kreator dengan memperketat aturan terhadap konten yang dinilai tidak orisinal atau diproduksi secara massal.
Mulai pertengahan Juli 2026, video yang hanya mengandalkan AI, menggunakan ulang konten orang lain, atau dibuat secara berulang tanpa nilai tambah berisiko tidak lagi memenuhi syarat untuk memperoleh pendapatan dari program monetisasi YouTube.
“Terkadang video-video itu bagus dan benar-benar meningkatkan kreativitas. Dan Anda bisa membuat konten berkualitas tinggi dalam jumlah lebih banyak. Ini yang ingin kami dorong dan miliki di YouTube Partner Program (YPP),” jelas Kepala Kepercayaan dan Keamanan YouTube, Matt Halprin dikutip dari Tech Crunch, Rabu (22/7/2026).
“Namun alat baru yang sama itu juga memungkinkan membuat video dengan cepat yang sangat mirip. Video itu sangat umum dan tidak punya alur naratif serta tidak menunjukkan kreativitas. Jadi teknologi yang sama memungkinkan hal-hal hebat, namun juga memungkinkan hal-hal bersifat penambangan konten dan itu yang tidak kami inginkan di YPP,” dia menambahkan.
Lalu apa saja materi konten yang tidak masuk dalam kategori YPP? Salah satunya adalah konten berulang, seperti materi yang dibuat dengan AI, CGI atau templat.
Platform menilai jenis konten seperti ini dapat menurunkan kualitas pengalaman pengguna dan mengurangi kepercayaan pengiklan.
Meski demikian, kreator yang membuat video reaksi, ulasan, edukasi, atau komentar tetap dapat memperoleh monetisasi selama kontennya memiliki analisis, opini, atau nilai tambah yang jelas.
Baca Juga:
- Google AI Mode Kini Bisa Terhubung ke Canva dan YouTube Music
- Youtube Shorts Hadirkan Fitur Kloning Kreator Berbasis AI
Dengan kata lain, yang menjadi fokus YouTube bukan penggunaan AI saja, melainkan tingkat keaslian dan kualitas konten yang dihasilkan.
Kebijakan ini menunjukkan semakin banyak platform digital yang berupaya menekan penyebaran konten AI berkualitas rendah (AI slop) sekaligus menjaga ekosistem kreator yang menghasilkan karya orisinal.
YouTube tidak akan memberikan insentif pada kreator dengan persona AI untuk membahas topik yang lebih sensitif, misalnya keuangan, hukum, perawatan kesehatan serta medis.
Bagi para kreator, pembaruan tersebut menjadi pengingat bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung kreativitas, bukan sebagai pengganti proses berkarya.


