Telko.id – Samsung Solve for Tomorrow 2026 memasuki babak semifinal dengan melibatkan 296 peserta dari 80 tim. Mereka mengikuti pelatihan teknis AI Amplification yang berlangsung pada 14, 15, 22, dan 23 Agustus 2026 secara hybrid, menggabungkan sesi langsung dari kantor Samsung Indonesia dan pembelajaran daring.
Program berbasis Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM) ini menekankan bahwa kemampuan menggunakan AI saja tidak cukup. Tantangan sesungguhnya bagi generasi muda adalah menentukan masalah yang tepat untuk diselesaikan, memahami siapa yang membutuhkan solusinya, serta memilih teknologi yang relevan.
Rahmat Fajri, AI Engineer sekaligus pengajar Technical AI Amplification Samsung Solve for Tomorrow 2026, menegaskan bahwa teknologi bukanlah titik awal dalam pengembangan solusi.
“Mereka perlu terlebih dahulu mengidentifikasi masalah, memahami kebutuhan pengguna, dan melihat data yang tersedia. Dari sana, peserta dapat menentukan apakah AI memang dibutuhkan dan pendekatan apa yang paling sesuai,” ujarnya.
Proses seleksi program ini cukup ketat. Dari sekitar 4.000 pendaftar awal dan 2.600 peserta Design Thinking Workshop, akhirnya terpilih 80 tim yang berhak melaju ke tahap semifinal. Angka ini menunjukkan antusiasme generasi muda terhadap pengembangan solusi berbasis teknologi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) turut mendorong pemanfaatan AI dan coding dalam dunia pendidikan. Dalam Pertemuan Menteri Pendidikan ASEAN ke-14, Kemendikdasmen menyampaikan bahwa AI dan coding telah diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas lima SD, dengan penguatan melalui pelatihan guru serta penyediaan sarana dan prasarana.

Mengubah Pola Pikir dari Ide Menjadi Solusi
Salah satu fokus utama dalam AI Amplification adalah mengubah cara pandang peserta. Banyak di antara mereka datang dengan ide dan langsung ingin menggunakan teknologi AI tertentu. Namun, proses pengembangan solusi yang relevan perlu dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar: masalah apa yang ingin diselesaikan?
Peserta tidak langsung diarahkan untuk memilih teknologi AI. Mereka terlebih dahulu belajar mengidentifikasi permasalahan, memahami pengguna yang terdampak, menentukan kebutuhan data, memilih pendekatan AI, serta menetapkan tujuan dan output solusi. Pendekatan ini membantu peserta melihat inovasi dari perspektif yang berbeda.
“Di awal, banyak peserta datang dengan ide dan langsung ingin menggunakan teknologi AI tertentu. Setelah mengikuti pembelajaran, mereka mulai memahami pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu: apa masalahnya, siapa penggunanya, data apa yang tersedia, dan apakah AI merupakan solusi yang tepat. Perubahan mindset ini sangat penting dalam mengembangkan solusi berbasis AI,” tambah Rahmat.
Setelah memahami permasalahan dan cakupan solusi, peserta mempelajari AI development pipeline untuk mengembangkan prototype AI. Materinya mencakup pengolahan data, pemilihan dan pengembangan model, evaluasi hasil, fine-tuning, serta transfer learning. Peserta juga mempelajari integrasi AI ke dalam produk melalui pendekatan Edge AI dan Cloud AI.
Pada sesi pertama, peserta diperkenalkan pada berbagai teknologi dan pendekatan AI, mulai dari Artificial Intelligence, Machine Learning, Deep Learning, Generative AI, Computer Vision, Natural Language Processing (NLP), predictive AI, hingga sensor-based AI. Materi ini membantu mereka memahami penerapan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Keterampilan AI Lebih dari Sekadar Teknologi
Kemampuan mengembangkan solusi berbasis AI membutuhkan perpaduan antara keterampilan teknis dan kemampuan memahami permasalahan. Seorang inovator perlu mampu melihat kebutuhan pengguna, bekerja dengan data, memilih pendekatan teknologi, serta mengkomunikasikan solusi yang dikembangkan.
Samsung Solve for Tomorrow juga mendorong pengembangan problem solving, kolaborasi, kreativitas, dan komunikasi, selain keterampilan teknis. Peserta tidak hanya mengembangkan ide berbasis teknologi, tetapi juga memahami bagaimana inovasi dapat memberikan manfaat bagi pengguna dan lingkungan di sekitarnya.
Anggi Paramita, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, menyampaikan bahwa generasi muda memiliki potensi besar. “Tugas kami adalah memberi mereka ruang, keterampilan STEM dan AI, dan kesempatan untuk menjawab tantangan nyata. Karena kami percaya, inovasi tidak lahir dari teknologi semata, tetapi dari keberanian untuk melihat masalah dengan cara yang berbeda,” ujarnya.
“Bukan sekadar bisa membuat, tapi tahu apa yang perlu dibuat. Melalui tahap semifinal ini, kami tidak hanya mematangkan ide para peserta, tetapi juga menyiapkan mereka menjadi penggerak inovasi masa depan,” tambahnya.
Setelah menyelesaikan AI Amplification, para semifinalis akan mengikuti sesi mentoring bersama para mentor untuk menyempurnakan solusi mereka. Peserta kemudian mengembangkan final paper, prototype, dan pitch video sebelum Samsung mengumumkan 10 tim terbaik dari masing-masing kategori Siswa dan Mahasiswa pada 7 Oktober 2026 untuk melaju ke babak final.
Program ini sejalan dengan berbagai inisiatif Samsung lainnya dalam mengembangkan ekosistem teknologi di Indonesia. Sebelumnya, Samsung juga mengumumkan dua tim terbaik SIC Batch 7 yang fokus pada pengembangan solusi AI dan IoT. Kompetisi semacam ini semakin memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap teknologi regional.
Melalui perjalanan panjang Samsung Solve for Tomorrow, generasi muda didorong untuk tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi. Lebih dari itu, peserta diajak untuk lebih peka melihat masalah, memahami kebutuhan pengguna, mengolah data, dan menentukan teknologi yang tepat untuk menghasilkan solusi yang memberikan dampak nyata.
Dengan mindset tersebut, AI bukan lagi sekadar teknologi yang digunakan karena sedang berkembang, tetapi menjadi alat untuk mengubah masalah yang ditemukan di sekitar menjadi inovasi yang relevan. Pendekatan ini diharapkan melahirkan generasi inovator yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu memberikan solusi bagi tantangan masyarakat.


