Telko.id – Google tengah menyiapkan fitur baru di Google Messages yang mampu mendeteksi foto hasil rekayasa AI atau gambar yang telah dimanipulasi secara digital.
Kehadiran fitur ini menjadi respons atas semakin banyaknya konten visual berbasis AI yang beredar di internet dan platform komunikasi, yang sering kali sulit dibedakan dari foto asli.
Temuan ini berasal dari analisis kode aplikasi yang dilakukan oleh pakar pembongkaran kode, AssembleDebug, yang menunjukkan bahwa Google Messages bersiap membaca sertifikat C2PA (Coalition for Content Provenance and Authenticity), sebuah standar digital yang mencatat riwayat pembuatan dan pengeditan sebuah file gambar.
Menurut laporan yang dirilis, fitur pendeteksi ini akan ditempatkan di menu overflow gambar, tepatnya pada opsi View details.
Panel informasi yang muncul nantinya tidak hanya memberikan label “ya” atau “tidak” secara sederhana.
Google menyiapkan sekitar 18 deskripsi berbeda, mulai dari “Media captured with a camera” hingga “Parts of this media may have been made with AI.”
Tingkat detail ini menunjukkan Google ingin memberikan informasi yang lebih bernuansa kepada pengguna.
Baca Juga:
- Google Sewa Kapasitas Data Center SpaceX untuk infrastruktur AI
- Eropa Kurangi Ketergantungan pada Google, Beralih ke Qwant
Fitur deteksi ini menjadi langkah penting karena penyebaran foto palsu kini tidak hanya terjadi di media sosial, tetapi juga melalui percakapan pribadi dan grup.
Teknologi AI generatif modern mampu menghasilkan gambar yang realistis, sehingga berpotensi dimanfaatkan untuk penipuan, penyebaran hoaks, hingga manipulasi informasi.
Kekhawatiran ini sudah disuarakan oleh pengguna di forum Reddit. Seorang pengguna dengan nama manav_yantra di subreddit r/infp berargumen bahwa gambar AI hiper-realistis mulai berbahaya dan bahkan orang yang paham teknologi pun mulai tertipu.
Meskipun hanya anekdot, sentimen ini mencerminkan keresahan yang dirasakan banyak orang belakangan ini.
Bagi pengguna, fitur ini dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan saat menerima foto dari orang lain. Alih-alih langsung mempercayai sebuah gambar, pengguna nantinya bis amengetahui apakah konten tersebut kemungkinan dibuat oleh AI atau telah dimodifikasi.
Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi penyebaran informasi palsu di era ketika batas antara foto asli dan hasil AI semakin sulit dikenali.


