Kategori: OTT

  • Aplikasi “Peta Jelajah Nusantara” Permudah Pemudik Pulang Kampung

    Aplikasi “Peta Jelajah Nusantara” Permudah Pemudik Pulang Kampung

    Telko.id – XL Axiata bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub) meluncurkan aplikasi navigasi digital “Peta Jelajah Nusantara”.  Aplikasi ini dibangun sebagai sarana pemandu bagi masyarakat yang melakukan perjalanan darat di wilayah Indonesia dengan sejumlah fitur yang memudahkan pengguna menemukan rute perjalanan dan berbagai informasi yang paling dibutuhkan.

    “Peta navigasi digital sudah menjadi kebutuhan masyarakat pengguna jalan secara umum. Peta dalam lembaran tercetak sudah mulai ditinggalkan karena peta peta digital memang lebih fleksibel dalam penggunaannya, berbagai informasi juga bisa dimasukkan tanpa khawatir dengan ruang yang tersedia. Kementerian Perhubungan mengapresiasi kerjasama dengan XL Axiata dan instansi pemerintah lainnya untuk pembangunan aplikasi Peta Jelajah Nusantara ini. Semoga bisa bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan saat peluncuran.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi menambahkan, aplikasi Peta Jelajah Nusantara sengaja diluncurkan bertepatan pada masa mudik lebaran untuk menambah referensi masyarakat yang membutuhkan sarana navigasi untuk pulang ke kampung halaman atau sekadar mengisi liburan panjang.

    Yang membedakan aplikasi ini dengan aplikasi navigasi yang sudah ada adalah sejumlah informasi tambahan yang dibutuhkan selama perjalanan, seperti keberadaan dan info mengenai posko mudik, posko kesehatan, terminal hingga informasi mengenai area rawan kecelakaan dan jalur alternatif.

    Pada kesempatan yang sama, Rudy Afandi, Chief Human Capital XL Axiata, menyebut bahwa aplikasi Peta Jelajah Nusantara merupakan hasil tindak lanjut dari kerjasama kedua pihak dalam digitalisasi informasi layanan Kemenhub kepada masyarakat.

    Menurutnya, XL Axiata siap untuk mendukung upaya pengembangannya lebih lanjut. Masih perlu penyempurnaan untuk aplikasi ini agar lebih kaya dengan informasi dan data yang dibutuhkan pengguna jalan.

    “Kami melihat banyak hal positif jika suatu aplikasi navigasi ini dibuat oleh pemerintah. Sebagai pengelola dan pembuat kebijakan atas layanan transportasi, maka tentunya banyak informasi yang bisa dituangkan dalam aplikasi Peta Jelajah Nusantara ini. Misalnya mengenai peraturan dan tata tertib berkendara, kondisi jalan, potensi gangguan yang terjadi karena misalnya ada perbaikan jalan, daerah rawan bencana, hingga jalur alternatif,” lanjut Rudy.

    Informasi dan data yang tersaji di dalam aplilkasi Peta Jelajah Nusantara merupakan data resmi yang ter-update dari sejumlah instansi yang terkait dengan pelayanan transportasi (Kemenhub), Kesehatan (Kementerian Kesehatan), sarana dan prasarana jalan (Bina Marga, Kementrian PUPR), serta keamanan dan ketertiban (Korlantas Polri).

    Untuk kebutuhan mudik Lebaran 2019, informasi yang tersaji di dalam aplikasi Peta Jelajah Nusantara adalah navigasi jalur mudik di semua wilayah tujuan mudik di seluruh Indonesia. Peta navigasi yang tersaji terhubung dengan aplikasi Google Map. Masyarakat luas bisa secara mudah mendapatkan aplikasi ini dari Google Play Store untuk smartphone Android.

    Selanjutnya informasi keberadaan posko-posko di sepanjang jalur utama, termasuk posko informasi jalan, posko mudik, posko kesehatan, juga terminal bus. Selain letak posko, pengguna juga bisa mengetahui nama dan nomor kontak petugas di setiap posko.

    Kemudian juga ada informasi pengaturan jalur lalu lintas, misalnya jalur satu arah, ganjil genap, dan jalur alternatif. Demi keamanan dan keselamatan pelanggan, aplikasi Peta Jelajah Nusantara juga dilengkapi dengan informasi mengenai letak titik-titik  rawan kecelakaan di jalur mudik. Dengan pengaturan, pengguna akan bisa mendapatkan notifikasi setiap mencapai daerah titik rawan kecelakaan sejak radius 2,5 km.

    XL Axiata berkomitmen untuk terus membantu Kementerian Perhubungan dan sejumlah instansi pemerintah lainnya dalam memaksimalkan layanan penyampaikan informasi kepada masyarakat luas.  Kerjasama XL Axiata dengan Kemenhub sudah terjalin sejak Maret 2018 untuk berbagai program layanan kepada masyarakat. (Icha)

     

     

  • Saat Mudik Lebaran pun, Kominfo Tetap Pantau Media Sosial

    Saat Mudik Lebaran pun, Kominfo Tetap Pantau Media Sosial

     

    Telko.id, Jakarta – Menjelang hari raya Idul Fitri 1440 Hijriah, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tetap memantau aktivitas media sosial. Melalui Tim AIS Kominfo, mereka bekerja kerja untuk memberikan informasi seputar konten hoaks di media sosial (medsos).

    Menurut Plt. Kabiro Humas Kominfo, Ferdinandus Setu  pemantauan konten-konten negatif dan sebaran berita bohong tersebut didukung oleh 100 tim verifikator yang berkomitmen untuk senantiasa memantau dan memverifikasi informasi yang tersebar di berbagai platform media sosial.

    “Mereka (Tim Verifikator) terus bekerja 24 jam. Jadi, meskipun kita liburan, teman-teman di Tim AIS itu tidak libur, sudah diatur jadwal mereka masing-masing,” kata Ferdinandus pada Selasa (28/05/2019) siang.

    {Baca juga: Kominfo Resmi Cabut Pembatasan Akses Media Sosial}

    Dilansir Telko.id dari laman resmi Kominfo pada Rabu (29/05/2019)   lebih lanjut, Ferdinandus menjelaskan, pembagian jadwal para verifikator yang bertugas telah diatur oleh tim. Tim Verifikator Mesin AIS yang bekerja di masa Lebaran nanti dibagi menjadi tiga Shift.

    “Ini artinya apa? Kominfo tidak libur sama sekali (khusus untuk Tim Verifikator AIS. Jadi, kami mengawasi isu medsos melalui mesin AIS,” ucap Ferdinandus.

    “Mereka yang nanti bekerja di hari Lebaran itu pada umumnya yang non-muslim. Teman-teman yang Kristiani, yang non-muslim itu datang bekerja seperti biasa,” imbuhnya.

    Selain itu, kata Ferdinandus, selama mudik lebaran. Kominfo juga telah mendorong operator telekomunikasi untuk melakukan berbagai upaya meningkatkan kualitas layanan internet kepada para pemudik.

    {Baca juga: Kominfo Temukan 486 Konten Hoaks, Mayoritas Isu Politik}

    Kominfo telah mengoperasikan mesin pengais (crawling) atau Mesin AIS konten negatif sebagai langkah untuk menangkal konten-konten negatif di internet sejak tahun 2018 lalu. Mesin sensor internet senilai Rp 200 miliar ini siap menghalau konten-konten seperti pornografi yang menyebar luas di dunia maya. [NM/HBS]

  • Biar Mudik Nyaman, Pakai “Peta Digital” Jelajah Nusantara

    Biar Mudik Nyaman, Pakai “Peta Digital” Jelajah Nusantara

    Telko.id, Jakarta – Menjelang musim mudik Lebaran, PT XL Axiata bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meluncurkan aplikasi peta digital bertajuk “Peta Jelajah Nusantara”. Peta digital ini akan membantu masyarakat mendapatkan infomasi jalur mudik.

    Aplikasi ini dibangun sebagai sarana pemandu bagi masyarakat yang melakukan perjalanan darat di wilayah Indonesia dengan sejumlah fitur yang memudahkan pengguna menemukan rute perjalanan dan berbagai informasi yang paling dibutuhkan.

    Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa peta navigasi digital sudah menjadi kebutuhan masyarakat pengguna jalan secara umum, karena peta dalam lembaran tercetak sudah mulai ditinggalkan,” kata Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dalam keterangannya, Selasa (28/5/2019).

    “Peta digital memang lebih fleksibel dalam penggunaannya, berbagai informasi juga bisa dimasukkan tanpa khawatir dengan ruang yang tersedia. Budi Karya Sumadi, dalam keterangan pers, Selasa (28/5/2019).

    Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi menambahkan, aplikasi Peta Jelajah Nusantara sengaja diluncurkan bertepatan pada masa mudik lebaran untuk menambah referensi masyarakat yang membutuhkan sarana navigasi untuk pulang ke kampung halaman.

    {Baca juga: Hore! XL Axiata Bagi-bagi THR Lewat Paket Xtra Rejeki}

    Yang membedakan aplikasi ini dengan aplikasi navigasi yang sudah ada adalah sejumlah informasi tambahan yang dibutuhkan selama perjalanan, seperti keberadaan dan info mengenai posko mudik, posko kesehatan, terminal hingga informasi mengenai area rawan kecelakaan dan jalur alternatif.

    Pada kesempatan yang sama, Chief Human Capital XL Axiata, Rudy Afandi menyebut bahwa aplikasi Peta Jelajah Nusantara merupakan hasil tindak lanjut dari kerjasama kedua pihak dalam digitalisasi informasi layanan Kemenhub kepada masyarakat.

    Menurutnya, XL siap untuk mendukung upaya pengembangannya lebih lanjut. Masih perlu penyempurnaan untuk aplikasi ini agar lebih kaya dengan informasi dan data yang dibutuhkan pengguna jalan.

    “Kami melihat banyak hal positif jika suatu aplikasi navigasi ini dibuat oleh pemerintah. Sebagai pengelola dan pembuat kebijakan atas layanan transportasi, maka tentunya banyak informasi yang bisa dituangkan dalam aplikasi Peta Jelajah Nusantara ini,” ujar Rudy.

    Beberapa informasi yang bisa didapat misalnya, mengenai peraturan dan tata tertib berkendara, kondisi jalan, potensi gangguan yang terjadi karena misalnya ada perbaikan jalan, daerah rawan bencana, hingga jalur alternatif.

    {Baca juga: Pendapatan XL Axiata di Q1 2019 Naik 9%}

    Informasi dan data yang tersaji di dalam aplilkasi Peta Jelajah Nusantara merupakan data resmi yang ter-update dari sejumlah instansi yang terkait dengan pelayanan transportasi (Kemenhub), Kesehatan (Kementerian Kesehatan), sarana dan prasarana jalan (Bina Marga, Kementrian PUPR), serta keamanan dan ketertiban (Korlantas Polri).

    Untuk kebutuhan mudik Lebaran 2019, informasi yang tersaji di dalam aplikasi Peta Jelajah Nusantara adalah navigasi jalur mudik di semua wilayah tujuan mudik di seluruh Indonesia.

    Peta navigasi yang tersaji terhubung dengan aplikasi Google Map. Masyarakat luas bisa secara mudah mendapatkan aplikasi ini dari Google Play Store untuk smartphone Android.

    Selanjutnya informasi keberadaan posko-posko di sepanjang jalur utama, termasuk posko informasi jalan, posko mudik, posko kesehatan, juga terminal bus. Selain letak posko, pengguna juga bisa mengetahui nama dan nomor kontak petugas di setiap posko.

    {Baca juga: XL Axiata Kenalkan “Laut Nusantara” ke Nelayan Banyuwangi}

    Kemudian juga ada informasi pengaturan jalur lalu lintas, misalnya jalur satu arah, ganjil genap, dan jalur alternatif. Peta digital ini juga dilengkapi dengan informasi mengenai letak titik-titik  rawan kecelakaan di jalur mudik. Dengan pengaturan, pengguna akan bisa mendapatkan notifikasi setiap mencapai daerah titik rawan kecelakaan sejak radius 2,5 km. [HBS]

  • Wow! BRI Siap Investasi Rp 300 Miliar Untuk LinkAja

    Wow! BRI Siap Investasi Rp 300 Miliar Untuk LinkAja

    Telko.id – BRI berencana untuk berinvestasi Rp 300 miliar atau $ 20 juta di Fintek Karya Nusantara (Finarya), yang mengoperasikan platform pembayaran mobile LinkAja.

    Sebagai informasi, LinkAja adalah layanan e-wallet terintegrasi, yang mengelola aplikasi pembayaran yang ada dari perusahaan telekomunikasi terbesar negara itu Telkomsel, dan tiga pemberi pinjaman yang dikendalikan negara, Bank Mandiri, BNI, dan BRI

    “Dengan setoran itu, maka Bank milik negara ini pun akan menguasai 19% saham di Finarya,” ujar Suprajarto, Presiden Direktur BRI usai Rapat Umum Pemegang Saham.

    BRI akan menyuntikkan dana di Finarya melalui lengan investasinya sendiri BRI Ventures.

    Suprajarto mengatakan bahwa Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mengharapkan perusahaan milik negara lain untuk bergabung dan memiliki saham di Finarya, terutama perusahaan yang berfokus pada transportasi, seperti Kereta Api Indonesia atau KAI, Damri, dan Jasamarga. Hanya saja, masih belum terdengar, kapan hal itu akan direalisasikan.

    Finarya sendiri, selain akan mendapatkan dana dari BRI, akan menerima juga kucuran dari Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia (BNI) yang besarannya sama dengan BRI yakni Rp 300 miliar.

    Berdasarkan pernyataan dari Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo,  yang dikutip dari kontan.id, sebelumnya mengatakan bahwa Finarya menargetkan menghimpun dana Rp 1,5 triliun dari para pemegang sahamnya.

    Nantinya, BRI, Mandiri dan BRI akan mengempit saham sekitar 20%. Sementara BTN dan Pertamina masing-masing 7% serta Asuransi Jiwasraya 1%. Sisanya akan dimiliki Telkomsel sebesar 25%.

    Saat ini Telkomsel masih menjadi pemegang saham penuh Finarya.

    LinkAja saat ini memiliki sekitar 40 juta pengguna. Ini bersaing dengan layanan seperti Go-Pay, dioperasikan oleh platform naik-panggilan GOJEK, dan OVO, layanan e-wallet yang didukung Lippo.

    Sekarang sistem pembayaran elektronik di mana-mana, GO-PAY dan OVO telah diinstal di jutaan perangkat seluler. Ini dapat digunakan untuk membayar hampir semua hal, termasuk pengiriman makanan, asuransi, layanan perjalanan, transaksi e-commerce, dan bahkan membayar tagihan listrik.

    Pemerintah, pada bagiannya, mendorong perusahaan untuk bekerja sama dan membangun platform pembayaran listrik sendiri untuk terjun ke segmen tersebut dan memperkuat kehadirannya.

    BRI Ventura

    Menurut Suprajarto, BRI akan menggunakan entitas anaknya, yaitu PT BRI Ventura Investasma untuk masuk ke Finarya. Tahun ini, BRI juga telah siap menyuntik dana Rp 1 triliun kepada BRI Ventura terkait rencana masuk ke Finarya.

    BRI Ventures adalah perusahaan VC ketiga yang didirikan dan dioperasikan oleh perusahaan milik negara di Indonesia. Yang lain di segmen ini adalah Telkom Indonesia (MDI Ventures) dan Mandiri Capital Indonesia milik Bank Mandiri.

    Selain BRI, pemberi pinjaman lain yang dikendalikan negara adalah BNI. Rencananya, BNI akan mulai memasuki ruang VC ini dengan mendirikan perusahaan modal ventura, yang dijadwalkan untuk diluncurkan Juni ini.

    “Modal ventura akan membantu investasi masa depan kami di banyak startup fintech dan juga memenuhi rencana aksi korporasi kami,” ungkap wakil direktur utama BNI Herry Sidarta, seperti dikutip dari Deal Street Asia. (Icha)

  • Wow! Potensi Bisnis IoT Indonesia Bisa Capai Rp 444 Triliun

    Wow! Potensi Bisnis IoT Indonesia Bisa Capai Rp 444 Triliun

    Telko.id, Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia (RI) khususnya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong perkembangan Internet of Things (IoT) di Indonesia. Pasalnya, melalui teknologi tersebut, Indonesia bakal bertransformasi menjadi ekosistem bisnis IoT bernilai Rp 444 triliun pada tahun 2022.

    Menurut Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin, R. Janu Suryanto penguatan struktur teknologi digital diperlukan dalam upaya menuju, implementasi Revolusi Industri 4.0. Indonesia dikatakan memiliki peluang yang besar untuk menjadi ekosistem IoT.

    “Potensi ini juga bisa dilihat dari jumlah pengguna internet di Tanah Air yang lebih dari 140 juta orang. Intinya, transformasi industri 4.0 adalah kunci sukses pembangunan Indonesia pada masa mendatang,” ujar Janu di Jakarta, Senin (06/05/2019).

    Implementasi industri 4.0 juga dinilai akan mendorong peningkatan investasi oleh perusahaan, terutama yang terkait dengan penggunaan teknologi terkini seperti IoT. Langkah tersebut diyakini mendukung peningkatan pada produktivitas dan daya saing di sektor manufaktur serta dapat menciptakan ekosistem inovasi.

    {Baca juga: Hadapi Revolusi Industri 4.0, Indosat Luncurkan Lab IoT}

    “Oleh karena itu, Indonesia jangan hanya jadi pasar dari ekonomi digital, tetapi juga memanfaatkan pengembangan ekonomi digital tersebut sehingga industrinya semakin tumbuh dan berdaya saing,” ujarnya.

    Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem industri 4.0, yaitu IoT, artificial intelligence (AI), human–machine interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D printing.

    Janu menambahkan, penerapan industri 4.0 merupakan upaya untuk melakukan otomatisasi dan digitalisasi pada proses produksi, dengan ditandai meningkatnya konektivitas, interaksi, serta batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi.

    {Baca juga: IoT Salah Satu Backbone Revolusi Industri 4.0}

    “Digitalisasi di sektor industri akan membawa perubahan terhadap sistem manufaktur, dengan dipengaruhi oleh gelombang teknologi baru,” jelas Janu.

    Guna memaksimalkan pemanfaatan teknologi terkini, perlu mengidentifikasi keterampilan baru yang dibutuhkan. Untuk itu, penting melakukan upaya peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM) industri. “Pada era transformasi ini, pemerintah telah berusaha keras menyiapkan SDM yang mumpuni dalam menyongsong industri 4.0,” tutupnya. [NM/HBS]

  • Bingung Cari Travel Umrah? Pakai Satu Aplikasi Ini Bisa Langsung Cek 11 Travel

    Bingung Cari Travel Umrah? Pakai Satu Aplikasi Ini Bisa Langsung Cek 11 Travel

    Telko.id – Anda cari travel umrah? Pasti bingung, karena begitu banyak. Bisanya, cari referensi dari temen-teman yang sudah pernah berangkat atau lihat iklan. Tapi untuk mnegkomparasi pasti tidak mudah juga. Sekarang ada aplikasi Safar. Aplikasi online marketplace untuk perjalanan umrah.

    Perusahaan travel technology, Safar Anugerah Indonesia (Safar) ini dilakukan dengan dukungan dari salah satu anak perusahaan Telkom Group,  Metranet yang memiliki fokus bisnis monetisasi industri online seperti konten mobile, commerce, online ticketing, dan social network game.

    Setyo Budianto Digital Consumer Director Metranet mengungkapkan,  Metranet memiliki komitmen besar untuk mengembangan industri digital di Indonesia. “Kami melihat Safar memiliki potensi growth yang cukup tinggi. Dalam kemitraan ini, Metranet berperan sebagai partner untuk pengembangan strategi pemasaran dan sosialisasi produk Safar ke berbagai calon mitra serta calon konsumen. Kami optimis melalui platform digital advertising andalan kami, pendistribusian iklan digital Safar dapat menyasar ke target audiens yang tepat sesuai dengan profil Safar.”

    Bersama dengan  Metranet, Safar juga akan fokus melakukan pengembangan bisnis ke depannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam lingkungan bisnis industri umrah yang nantinya akan meningkatkan value chain ke semua pelaku bisnis di industri ini.

    Berdasarkan data Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi tahun 2018, negara di Asia menempati posisi teratas dalam hal jumlah jemaah umrah. Pakistan menempati urutan pertama, disusul oleh Indonesia di urutan kedua.

    Berdasarkan data dari World Travel and Tourism tentang bisnis wisata Islami, bisnis umrah di Indonesia sampai tahun 2018 bisa meraup keuntungan Rp 3,16 triliun. Angka ini didukung catatan Kementerian Agama Republik Indonesia tentang kenaikan jumlah jemaah umrah yang mencapai 1.100.000 orang di tahun 2018.

    Aplikasi untuk perjalanan umrah ini dinilai Andang Sentanu CEO Safar sebagai bentuk kontribusi perusahaan untuk membantu para calon jemaah Indonesia yang hendak merencanakan perjalanan umrah dengan lebih gampang dan aman.

    “Gampang, yakni pengguna dapat mencari paket umrah melalui langkah yang mudah, serta proses pembelian yang ringkas dan cepat. Aman, di mana dana dari jemaah akan tersimpan dengan aman di joint account dan hanya bisa dicairkan ketika mitra travel telah menyelesaikan tanggung jawabnya pada jemaah,” tutur Andang.

    Safar berkomitmen untuk memberikan nilai tambah kepada calon jemaah dan jemaah umrah melalui tiga jenis layanannya, yaitu online marketplace sebagai penyedia ragam biro perjalanan umrah secara online, travel management system yang mengelola data ketersediaan paket umrah secara lengkap, dan travel assistance yang merupakan pendampingan kepada calon jemaah selama proses perjalanan umrah.

    Mengusung tagline “Satu aplikasi untuk perjalanan umrah Anda”, pengguna juga akan menikmati fitur-fitur berikut:

    1.     Kepraktisan calon jemaah dalam mencari paket dan membeli paket umrah.

    2.    Kemudahan submit dokumen calon jemaah kepada mitra travel untuk proses persiapan perjalanan umrah.

    3. Keamanan dana jemaah dengan penerapan dan pemanfaatan teknologi transaksi terkini.

    4.     Kenyamanan bagi jemaah dengan informasi pendampingan langsung dari aplikasi selama ibadah umrah.

    5.     Komunikasi dan update informasi antara jemaah, Safar, dan mitra travel melalui aplikasi.

    6.     Pengembangan fitur aplikasi untuk meningkatkan kenyamanan calon jemaah dalam menjalankan ibadah umrah baik sebelum, selama perjalanan umrah dan hingga setelah kembali ke Tanah Air.

    7.     Kerjasama intensif dengan mitra travel untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan proses umrah.

    “Sebagai penghubung antara mitra travel umrah dengan publik, kami ingin terus menjaga kualitas dan kontrol layanan agar benar-benar menghadirkan nilai tambah dari segi kemudahan dan keamanan bagi para peminat umrah. Terlebih umrah adalah perjalanan religius dimana kami ingin pengguna Safar bisa fokus beribadah tanpa memikirkan hal-hal teknis selama perjalanannya. Karenanya kami memiliki tiga fase pendampingan dan monitoring selama umrah,” tambah Andang.

    Pada fase persiapan, Safar dan mitra travel umrah yang dipilih akan mendata kelengkapan berkas jemaah, seperti tiket, paspor, visa, vaksinasi dan lainnya. Fase keberangkatan, jemaah dapat menggunakan aplikasi Safar untuk memantau jarak dengan masjid, penginapan, dan pusat perbelanjaan. Fase kedatangan merupakan bagian terakhir dari perjalanan, Safar menyediakan opsi dokumentasi, memorabilia bahkan pencatatan alumni perjalanan untuk menjaga silaturahmi.

    Semakin tinggi animo masyarakat muslim untuk beribadah ke tanah suci, semakin besar pula dampaknya pada kemunculan pelaku bisnis di industri ini. Terlebih di era digital, masyarakat akan semakin terdorong untuk membandingkan biro travel yang satu dengan yang lainnya melalui internet, selain tentu masih mengandalkan testimoni atau pengalaman dari kerabat atau teman.

    Proses screening mitra travel Safar dilakukan secara internal mulai dari pengecekan data di Kementerian Agama, penetapan kandidat (shortlisting) dan pendekatan langsung ke mitra potensial. Sampai saat ini Safar sudah memiliki 11 mitra travel dan sampai akhir tahun 2019 perusahaan menargetkan untuk memiliki 50 mitra travel dari seluruh Indonesia.

    “Kami menyadari industri ini sangat mengutamakan kepercayaan. Sebagai middle man, kami perlu menjaga kepercayaan dari sisi jemaah dan mitra travel. Karenanya, fokus kami saat ini adalah menjalin komunikasi personal kepada calon mitra-mitra travel dan masyarakat tentang layanan kami. Kedepan, Safar akan mengadakan roadshow ke kota-kota lain, baik dalam usaha untuk menjalin hubungan kerjasama dengan calon-calon mitra travel, dan sekaligus juga untuk memperkenalkan Safar secara langsung kepada pasar dan calon-calon jemaah,” tutup Andang. (Icha)

     

     

  • UKM Indonesia Ternyata Banyak Yang Belum Siap Go Digital, Kenapa?

    Telko.id – Usaha kecil Menengah di Indonesia saat ini peran nya terus meningkat terhadap produk domestik bruto. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, dalam lima tahun terakhir ini saja meningkat menjadi 60.34% dari jumlah sebelumnya yaitu sekitar 57.84%. Mirisnya, ternyata masih banyak UKM yang belum siap Go Digital.

    Hal ini terungkap dalam Mekari Conference yang mengakat tema Powering Indonesia SMEs with Technology”. Dimana, acara ini digelar dengan dukungan dari Bank Mandiri dan XL Axiata yang bertujuan untuk mendorong adopsi teknologi digital bagi UKM di Indonesia, sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing UKM Indonesia di masa yang akan datang. 

    Berdasarkan data dari CISCO APAC SMB Digital Maturity Index tahun 2019 pun ternyata Indonesia masih menjadi negara yang menduduki peringkat dua terakhir dari 14 negara Asia Pasifik terkait kesiapannya dalam transformasi digital.

    Padahal menurut riset yang dilakukan oleh McKinsey, adopsi teknologi dapat mendorong pertumbuhan UKM hingga dua kali lipat. Adapun, sektor usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Indonesia memang memegang peranan penting pada perekonomian negara.

    Jadi, UKM harus tanggap dalam menghadapi perubahan tren yang sangat cepat, tidak hanya di perubahan tren pasar namun juga perkembangan teknologi. Adopsi teknologi digital yang maksimum dapat mendorong UKM untuk berinovasi dalam menghadirkan produk dan servis baru hingga peningkatan produtivitas proses bisnis.

    Hal ini tentunya menjadikan transformasi digital pada bisnis UKM semakin krusial dan patut untuk diperhatikan. Terlebih lagi pesatnya perkembangan teknologi ini telah mengubah perilaku masyarakat yang semakin mengarah ke digitalisasi.

    Menanggapi hal tersebut, Suwandi Soh, CEO dari Mekari, menyampaikan , “Kami percaya bahwa setiap bisnis UKM memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk tumbuh. Namun, di era digital saat ini maupun masa depan, literasi dan tingkat adopsi teknologi yang akan menjadi penentu seberapa jauh bisnis dapat melangkah”.

    Hanya saja, hasil studi menunjukkan UKM Indonesia masih relatif tertinggal dan belum siap untuk go digital. Itu sebabnya, Mekari berusaha menyuarakan pentingnya memulai transformasi digital, karena melihat bahwa pemanfaatan teknologi dapat meningkatkan produktivitas dan meningkatkan daya saing UKM Indonesia.

    Hal yang sama juga diperhatikan oleh Bank Mandiri sebagai salah satu institusi keuangan terkemuka di Indonesia. Menurut Senior Vice President Retail Deposit Product & Solution Bank Mandiri, Muhamad Gumilang M, “Perkembangan teknologi informasi saat ini, yang kemudian diikuti proses digitalisasi dan otomasi dalam berbagai aspek kehidupan sebagai sebuah opportunity bagi dunia usaha,”.

    Mandiri sendiri,  hingga Desember 2018, telah menyalurkan pembiayaan kepada lebih dari 27 ribu nasabah UKM dengan nilai mencapai Rp 55 Triliun.

    Berdasarkan tahapannya, transformasi digital sendiri dibagi menjadi empat fase menurut CISCO APAC SMB Digital Maturity Index tahun 2019,  yang pertama adalah Digital Indifferent dimana bisnis sudah mulai tanggap terhadap perubahan pasar, namun belum memanfaatkan teknologi digital apapun.

    Fase berikutnya adalah Digital Observer, yang merupakan fase dimana bisnis sudah mulai menggunakan teknologi digital secara taktis, dan lebih fokus pada proses otomatisasi untuk menghasilkan efisiensi.

    Fase ketiga adalah Digital Challenger, yakni dimana bisnis sudah menggunakan teknologi digital secara strategis dan proses utama dalam pengoperasian bisnis sudah terotomatisasi dengan baik. Puncaknya adalah fase dimana bisnis sudah didukung dengan kemampuan analitik yang mumpuni dan terotomatisasi secara keseluruhan dalam pengoperasian bisnisnya.

    Terakhir adalah fase yang disebut dengan Digital Native ini. Bisnis telah siap untuk menciptakan inovasi yang berkelanjutan dengan strategi digitalisasi yang terintegrasi.

    Yang tidak boleh dilupakan, dalam mewujudkan transformasi digital ini, masalah konektivitas menjadi salah satu aspek yang paling berpengaruh. Saat ini, pengguna internet di Indonesia sudah menembus angka sekitar 150 juta atau sekitar 56% dari jumlah penduduk total. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu yang hanya berkisar 147 juta. Angka ini terus menunjukkan pertumbuhan yang positif setiap tahunnya.

    “Kami setuju bahwa UMKM memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia dan kami yakin jika rekan UMKM didukung oleh konektivitas digital yang tinggi, UMKM dapat berkembang lebih pesat untuk mendongkrak perekonomian nasional. XL Axiata juga terus berinovasi dalam memberikan akses konektivitas yang baik bagi rekan UMKM. Tidak hanya itu, wujud nyata kami lainnya adalah turut berpartisipasi aktif mendukung transformasi digital ini melalui rangkaian kegiatan kolaboratif langsung dengan UMKM didalam #aslijago dan beragam workshop lainnya. Salah satunya melalui Mekari Conference ini,” ucap Sharif Lukman Mahfoedz, Group Head Enterprise Product and Marketing XL Axiata.

    Mekari Conference, didukung oleh Bank Mandiri & XL Axiata, menghadirkan lebih dari 35 pembicara berlatarbelakang CEO, Founders, Executives dari sektor pemerintah, UKM, startup, korporasi, hingga investor di Indonesia. Konferensi ini memiliki misi untuk meningkatkan daya saing UKM Indonesia melalui teknologi, karena melihat minimnya adopsi teknologi pada industri UKM Indonesia dan ketertinggalan dalam pemanfaatan teknologi dibandingkan dengan negara lain. (Icha)

     

     

  • Grab Luncurkan Dua Inovasi Keamanan Penumpang dan Pengemudi

    Grab Luncurkan Dua Inovasi Keamanan Penumpang dan Pengemudi

    Telko.id – Grab memiliki “Roadmap Teknologi Keselamatan”, untuk mencapai “nol insiden” pada jumlah kecelakaan yang dapat dicegah dan menciptakan keseharian yang lebih aman. Untuk mendukung itu semua, perusahaan ride hailling ini pun meluncurkan dua inovasi keamanan untuk penumpang dan pengemudi yakni layanan telepon cuma-cuma dalam aplikasi (VoIP) dan teknologi pengenalan wajah bagi pelanggan (Passenger Selfie Verification).

    “Kedua layanan tersebut kami luncurkan karena Grab tidak pernah berkompromi tentang keamanan dan keselamatan. Keamanan telah menjadi dasar saat Grab didirikan 7 tahun yang lalu. Hal ini adalah masalah pertama yang ingin kami pecahkan dalam keamanan transportasi,” ujar Neneng Goenadi, Managing Director Grab Indonesia menjelaskan.

    Fasilitas Free Call (VoIP) memberikan kemudahan untuk melakukan panggilan antar aplikasi tanpa biaya bagi mitra pengemudi dan penumpang, yang juga akan menjaga privasi dan keamanan mereka.

    Sedangkan, verifikasi wajah penumpang merupakan teknologi pengenalan wajah terdepan, yang menangkap identitas pengguna saat pertama kali menggunakan aplikasi melalui swafoto (selfie) secara langsung.

    Inovasi ini meningkatkan perlindungan dari kejahatan terhadap mitra pengemudi dan berfungsi sebagai sebuah pencegahan.

    Sejak peluncurannya di awal tahun ini, tren kasus kriminal yang melibatkan pengguna platform; baik pengemudi maupun penumpang, menurun sekitar 45%. Hal ini memberikan ketenangan dan keamanan bagi mitra pengemudi dan pelanggan kami.

    Menurut Neneng aplikasi (VoIP) dan teknologi pengenalan wajah bagi pelanggan (Passenger Selfie Verification) bukan inovasi pertama yang dikeluarkan oleh Grab. Karena sebelumnya, Grab juga miliki layanan Bagikan Tujuan (Share My Ride), Tombol Darurat (SOS Button) dan penyamaran nomor telepon pribadi. (Icha)

  • Bisnis Go-Food Sumbang Rp 18 triliun Pada Perekonomian Indonesia

    Bisnis Go-Food Sumbang Rp 18 triliun Pada Perekonomian Indonesia

    Telko.id – Laper, Go-Food aja. Itu kalimat yang sering terdengar saat ini. Maklum saja, Go-Food sebagai salah online food delivery di Indonesia sudah berkembang pesar. Bagaimana tidak, bukan saja mitra Go-Food yang diuntungkan, tetapi juga merchant dan juga masyarat.

    Sampai saat ini di Indonesia dan Asia Tenggara sudah menggandeng lebih dari 400.000 mitra merchant, dimana 96% diantaranya merupakan UMKM kuliner. Dan sudah menguasai pangsa pasar online food delivery di Indonesia yang mencapai 80% atau minimal 4 kali lipat lebih besar dari penyedia layanan sejenis. Hal ini juga didukung kuat oleh jumlah order Go-Food yang tumbuh tujuh kali lipat dalam 2 (dua) tahun terakhir.

    Tidak hanya menjadi andalan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan kuliner, Go-Food juga memberikan kontribusi yang signifikan pada perekonomian Indonesia, yaitu sebesar Rp 18 triliun, menurut hasil riset Lembaga Demografi FEB UI (LD FEB UI) baru-baru ini.

    Riset ini juga melansir bahwa peningkatan volume dan omzet bisnis memacu mitra UMKM untuk terus mengembangkan usahanya. Hal ini ditunjukkan dari 85% responden UMKM yang menginvestasikan kembali pendapatannya dari Go-Food ke dalam usaha mereka.

    Merayakan keberhasilan ini, Go-Food kembali menggelar Hari Kuliner Nasional (HARKULNAS) Go-Food untuk mengapresiasi puluhan ribu merchant, jutaan driver dan puluhan juta pelanggan setia Go-Food yang turut berperan dalam mendorong kontribusi ekosistem Go-Food kepada perekonomian Indonesia.

    Program HARKULNAS Go-Food tahun kedua ini dilakukan selama 20 hari, di 16 kota di seluruh Indonesia, lebih panjang periode dan cakupan kotanya dibandingkan dengan tahun lalu.

    Berkat teknologi GOJEK, mitra merchant Go-Food dapat terus mengembangkan skala bisnisnya. Mitra UMKM Go-Food rata-rata mengalami peningkatan omzet 3,5 kali lipat sejak mereka bergabung.

    “Bukan tidak mungkin, usaha mitra merchant yang terus berkembang ini akan menciptakan lapangan kerja baru yang mampu menyerap ribuan bahkan jutaan tenaga kerja,” ujar  Catherine Hindra Sutjahyo, Chief Food Officer GOJEK Group.

    Keandalan teknologi jadi alasan utama merchant bermitra dengan Go-Food dibanding dengan penyedia layanan sejenis.

    Kepemimpinan pasar Go-Food di industri pesan-antar makanan online diperkuat oleh preferensi merchant terhadap kemitraan Go-Food yang dinilai paling menguntungkan karena keandalan teknologinya.

    Hal ini tercermin dari hasil riset LD FEB UI yang menyatakan bahwa 92% merchant bergabung dengan Go-Food karena adanya aplikasi manajemen merchant yang memudahkan bisnis mereka, serta karena ada kemudahan teknologi non-tunai GO-PAY.

    Selain itu, 87% merchant bergabung karena teknologi keamanan Go-Food yang canggih, khususnya dengan menjamin transaksi dengan PIN antara mitra restoran dan mitra driver.

    Lebih jauh lagi, hasil riset ini mengatakan bahwa 87% merchant menilai layanan Go-Food lebih terpercaya dan lebih aman dibandingkan dengan kompetitor. Bahkan 90% merchant bergabung dengan Go-Food karena Go-Food sudah hadir lebih lama di Indonesia.

    “Kami bersyukur data riset ini membuktikan tingkat kepercayaan mitra merchant kepada Go-Food sebagai fitur aplikasi terpercaya dan dapat diandalkan,” kata Catherine.

    Selain itu, Go-Food juga memprioritaskan masalah keamanan dan kenyamanan mitra merchant. Keseriusan ini tercermin dari upaya berkelanjutan mengembangkan ekosistem pengelolaan bisnis yang lengkap dan menyeluruh dan dapat dikelola secara mandiri oleh mitra merchant melalui aplikasi Go-Biz.

    GO-BIZ merupakan aplikasi khusus bagi mitra Go-Food yang dulunya dikenal sebagai Go-Resto. Melalui Go-Biz, mitra merchant dapat memanfaatkan fitur-fitur unggulan, seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran, memanfaatkan fitur e-wallet Go-Pay, mengatur ketersediaan menu, mengatur jam operasional, melihat detail daftar pesanan dan fitur-fitur lainnya. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur verifikasi PIN untuk memastikan keamanan bagi para merchant.

    Hampir seluruh mitra merchant Go-Food merasakan manfaat dan efektifitas aplikasi ini dalam mengelola dan meningkatkan bisnis mereka. Data riset LD FEB UI menyatakan 93% merchant  mengalami peningkatan volume transaksi setelah mereka menggunakan aplikasi khusus manajemen merchant Go-Food.

    “Melihat kepercayaan mitra dan konsumen dalam memanfaatkan teknologi, kami yakin GO-FOOD tidak hanya dapat terus memimpin pasar Indonesia, tapi juga memperkuat posisinya di Asia Tenggara,” tutup Catherine. (Icha)

  • Habis Nyoblos, Makan dan Minum Kopi Cash Back 50% Pakai DANA

    Habis Nyoblos, Makan dan Minum Kopi Cash Back 50% Pakai DANA

    Telko.id – Hampir semua masyarakat Indonesia menunggu Pemilu 2019. Sayang, kabar beredar bakal banyak yang ‘Golput’. Nah, dalam upaya menarik masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam pesta demokrasi tahun ini dan mengajak masyarakat tidak ‘golput’, DANA, dompet digital Indonesia memberikan penawaran menarik bagi yang sudah ‘nyoblos’. Diskon 50% buat makan dan ngopi.

    Ada 1 (Satu) gerai kopi dan 7 (tujuh) mitra merchant yang terdiri dari gerai makanan cepat saji dan restoran. Kenapa 1 dan 7, ya, supaya masyarakat ingat bahwa 17 itu adalah tanggal penting untuk melakukan ‘penyoblosan’ pada pesta demokrasi tahun ini.

    Penawaran menarik itu berupa program pemberian cashback dan voucher ekstra bagi para pengguna dompet digital DANA yang bertransaksi pada tanggal 17 April tersebut.

    “Pesta Demokrasi yang setiap 5 (lima) tahun kita rayakan adalah untuk masa depan Indonesia. DANA dikembangkan untuk tujuan yang sama, yaitu menjadikan masa depan Indonesia yang cemerlang.

    Sebagai dompet digital yang dibangun serta dikembangkan oleh talenta-talenta terbaik Indonesia, DANA mendorong Indonesia menjadi lebih kompetitif dengan dompet digital yang praktis, efisien, dan terjamin keamanannya,” ujar Chrisma Albandjar, Chief Communication Officer DANA.

    Selain itu, untuk mendorong keturutsertaan masyarakat dan mengingatkan tanggal penting pemilihan umum dan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 17 April 2019, maka DANA memberikan cashback sebesar 50% atau maksimal Rp25.000, serta tambahan voucher senilai Rp17.000 bagi para pengguna DANA yang bertransaksi di 1+7 mitra merchant yang sudah kerjasama.

    Mitra merchant tersebut adalah 1 (satu) coffee shop Kopi Kenangan dan 7 (tujuh) tempat makan favorit, yakni KFC, HokBen, Bakmi GM, Wendy’s, Domino’s Pizza, Sate Khas Senayan, dan Kafe Betawi.

    Chrisma menambahkan, pada tanggal 17 April 2019 bukan saja kita mendapatkan pengalaman untuk merayakan Pesta Demokrasi melalui Pemilu dan Pilpres, tapi juga mendapatkan pengalaman mengesankan yang mampu mendorong masyarakat Indonesia makin beralih ke budaya bertransaksi nontunai dan nonkartu demi peningkatan ekonomi yang lebih besar.

    “Siapa pun yang nanti terpilih, tetap saja, dompet digital seperti DANA harus tetap tumbuh dan berkembang karena akan mendukung revolusi industry 4.0 yang sudah dicanangkan pemerintah,” tutup Chrisma.

    Sebagai infrastruktur pembayaran digital berplatform terbuka, dompet digital DANA memiliki kemampuan dan manfaat untuk setiap pelaku usaha online dan offline, termasuk startup,” jelasnya.

    Sebagai contoh, berbagai jenis pengusaha baik offline maupun online, dapat langsung melakukan semua transaksi secara digital, non tunai dan non kartu. Pengusaha offline diantaranya adalah para pedagang di pasar tradisional, pengemudi jasa transportasi umum, pemilik toko individual hingga gerai-gerai yang memiliki ratusan cabang.

    Sementara, pengusaha online seperti para pelaku bisnis e-commerce dan media sosial, atau startup individual, dapat siap melayani transaksi nontunai dan nonkartu dengan memanfaatkan layanan-layanan yang tersedia pada dompet digital DANA. (Icha)