Kategori: OTT

  • Stop Kecurangan, Grab Luncurkan ‘Grab Defence’

    Stop Kecurangan, Grab Luncurkan ‘Grab Defence’

    Telko.id – Bukan rahasia lagi, bahwa dalam dunia digital ini, transaksi palsu dan manipulasi sering terjadi. Bukan hanya pada platform e-commerce, tetapi juga di ride-hailing maupun di pemesanan perjalanan. Tentu hal ini memberikan pengaruh nagtif pada ekonomi digital yang sedang digalakan oleh pemerintah. Itu sebabnya, Grab meluncurkan Grab Defence. Perangkat teknologi anti kecurangan terbaru untuk bantu mitra atasi tindak kecurangan.

    Apalagi, berdasarkan sebuah riset, bisnis e-Commerce di Asia Tenggara rata-rata kehilangan sekitar 1,6% dari pendapatan mereka akibat tindak kecurangan. Itu sebabnya, Grab melakukan investasi besar untuk pengembangan sistem yang lebih kuat untuk tangkal berbagai tindakan kecurangan yang saat ini marak terjadi.

    Salah satu teknologi yang digunakan adalah machine learning serta kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi dan mencegah kecurangan pada platform Grab.  Hasilnya, penelitian independen oleh Spire Research and Consultingmenemukan bahwa tingkat penipuan pada layanan pemesanan transportasi Grab hanya sebesar 1 per enam saja dibanding pesaing utamanya.

    Rangkaian perangkat Grab Defence itu sendiri akan menjadi bagian dari strategi GrabPlatform, sebuah platform terbuka milik Grab dan serangkaian API (application programming interface) untuk membantu mitra mengintegrasikan layanan mereka dengan Grab. Untuk saat ini, rangkaian perangkat Grab Defence baru tersedia untuk mitra strategis terpilih di Indonesia. Baru pada kuartal kedua dan akan diluncurkan ke seluruh mitra pada akhir tahun ini.

    “Setiap hari machine learning kami menganalisis jutaan data secara real-time untuk mendeteksi pola kecurangan, baik yang telah ada maupun yang baru. Tindak kecurangan akan terus berevolusi, oleh karena itu kami membangun algoritma yang juga dapat berevolusi dan mempelajari polanya sehingga kita bisa selangkah lebih maju dari pelaku kejahatan,” ujar Wui Ngiap Foo, Head of User Trust at Grab menjelaskan.

    Wui juga menambahkan bahwa kecurangan itu tidak hanya terjadi di industri ride-hailing, tapi sudah menjadi masalah besar bagi pemain ekonomi digital secara keseluruhan. Itu sebabnya, Grab juga ingin berbagi keahliannya dengan para mitra yang mungkin menghadapi masalah yang sama. Kita harus bahu-membahu mengatasi masalah ini demi tercapainya ekosistem teknologi yang lebih kuat dan terpercaya di Asia Tenggara.

    Di Indonesia, Grab sudah melihat bagaimana sindikat kejahatan mendapatkan keuntungan secara ilegal dengan menggunakan aplikasi GPS palsu, atau aplikasi yang telah dimodifikasi serta metode lainnya untuk mencuri insentif hasil kerja keras mitra pengemudi dan menciptakan pengalaman buruk bagi pengguna di platform Grab.

    “Itu sebabnya, Kami telah meluncurkan kampanye Grab Lawan Opik! tahun lalu di Indonesia untuk memerangi order fiktif dan mencanangkan Grab FairPlay yang mendorong mitra pengemudi kami untuk melaporkan tindak kecurangan yang terjadi dalam ekosistem Grab,” ujar Ridzki Kramadibrata, President of Grab Indonesia menjelaskan.

    Bahkan, Rizky menambahkan juga, Grab sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menangkap puluhan orang yang terbukti melakukan kecurangan di platform nya.

    Di tengah upaya untuk mengurangi tingkat kecurangan di platform itulah Grab Defence hadir bagi para mitra stretgis. “Tentu hal ini akan lebih menciptakan perkembangan ekositem teknologi yang sehat di Indonesia,” ujar Rizky optimis.

    Layanan Grab Defence terdiri dari tiga fitur utama dan masing-masing fitur dapat berfungsi secara terpisah:

    Event Risk Management Suite

    Ini merupakan paket komprehensif yang akan memungkinkan pelaku bisnis untuk menilai risiko dari suatu peristiwa atau transaksi. Terdiri dari serangkaian API untuk mengevaluasi risiko yang didukung oleh machine learning yang dapat digunakan kalangan pebisnis untuk memprediksi risiko secara real-time; menetapkan sejumlah tolok ukur kecurangan (Rules Engine) sesuai dengan model bisnis dan kebutuhan; perangkat investigasi dan analisis perilaku untuk menyelidiki perilaku-perilaku mencurigakan sekaligus meningkatkan kebijakan dan aturan.

    Entity Intelligence Services

    Layanan ini menggunakan database Grab serta keahlian dalam mengidentifikasi berbagai jenis entitas pelaku kejahatan (seperti nomor telepon, alamat e-mail, dan lain-lain) untuk memprediksi potensi risiko kepada semua pengguna yang berinteraksi dengan platform tersebut. Sebagai contoh, pelaku bisnis dapat menggunakan layanan ini untuk mendapat informasi nilai risiko dari pengguna baru. Jika angka prediksi risikonya rendah, mereka bisa memilih untuk mengizinkan pengguna masuk ke aplikasi tanpa harus melalui sejumlah langkah tambahan, atau menawarkan promo/insentif tertentu.

    Device & Network Intelligence Services

    Layanan ini bisa mendeteksi pelaku kejahatan dengan menggunakan data dari perangkat pengguna. Manfaat lainnya adalah layanan ini bisa membantu pelaku bisnis menjaga diri mereka dari pembuatan akun palsu akibat perangkat yang berpindah tangan, dan bahkan mendeteksi jika aplikasi mereka telah terdampak serangan siber.

    Layanan Grab Defence bekerja berdasarkan grafik informasi risiko dan kecurangan Grab. Miliaran transaksi terjadi setiap tahunnya dalam berbagai vertikal di bawah platform Grab. Transaksi yang terjadi ini memberi gambaran dan pemahaman lebih baik bagi Grab mengenai pelaku kejahatan di Asia Tenggara, dan bagaimana tindak kecurangan bekerja.

    “Setiap bisnis yang melakukan transaksi online akan diuntungkan dengan adanya Grab Defence. Teknologi unik yang kami bangun, berikut grafik informasi yang kami miliki, dapat menjadi tambahan berharga meskipun telah ada sistem anti-fraud/anti kecurangan sebelumnya. Kita semua memiliki peran penting dalam menurunkan tingkat kecurangan di Asia Tenggara. Kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak akan membantu kita mencapai hal tersebut lebih cepat,” tutup Wui Ngiap Foo. (Icha)

  • Hai Gamer, Hati-hati ya Anda Jadi Target Penjahat Siber lho!

    Hai Gamer, Hati-hati ya Anda Jadi Target Penjahat Siber lho!

    Telko.id – Game memang membuat candu bagi siapa saja. Tidak pandang umur dan strata sosial. Setiap orang suka bermain game, tua muda, besar kecil semua menyukainya. Apalagi dengan adanya smartphone, semakin memudahkan orang untuk bermain game secara online dan terhubung dengan banyak orang dari berbagai negara. Tak heran, penciuman tajam para penjahat siber, juga menyasar para gamer. Jadi tidak aneh jika kemudian game jadi alat untuk melakukan kejahatan.

    Seperti yang ESET lihat bahwa pengembang game Asia terus menjadi target dengan serangan rantai pasokan yang mendistribusikan malware yang ditandatangani secara sah ke semua pengguna mereka. Ini bukan pertama kalinya industri game menjadi sasaran peretas yang mengkompromikan pengembang game, memasukkan backdoor ke dalam game, dan kemudian menyebarkan malware mereka sebagai perangkat lunak yang sah.

    Peneliti ESET baru-baru ini menemukan dua game dan satu aplikasi platform game yang berhasil dioprek untuk memasukkan backdoor. Mengingat bahwa serangan-serangan ini sebagian besar ditargetkan terhadap industri game Asia maka sudah sepatutnya para gamer yang doyan mengunduh game lebih berhati-hati jika tidak mau jadi korban.

    Target dan Distribusi

    Meskipun malware menggunakan konfigurasi yang berbeda di setiap kasus, tiga produk perangkat lunak yang terkena dampak mempunyai kode backdoor yang sama dan diluncurkan menggunakan mekanisme yang serupa. Namun, sampai saat ini, dua produk sudah tidak lagi menyertakan backdoor, sementara salah satu developer masih mendistribusikan versi yang sudah diretas.

    Berdasarkan telemetri ESET diketahui bahwa para korban sebagian besar berlokasi di Asia, dengan Thailand sebagai korban terbesar. Mengingat popularitas aplikasi yang sudah diracuni oleh peretas masih didistribusikan oleh pengembangnya, tidak mengherankan jika jumlah korbannya mencapai puluhan bahkan ratusan ribu.

    Game tersebut bernama Infestation, dan diproduksi oleh pengembang game Thailand, Electronics Extreme. ESET telah mencoba memberi tahu mereka beberapa kali, melalui berbagai cara sejak awal Februari, tetapi tidak berhasil. Masalahnya Infestation yang sukses di Thailand memiliki lisensi untuk membawa game ini secara global. Bahkan portal game di Indonesia pernah ikut mengulas game ini.

    Yang menarik dari temuan ESET lainnya adalah saat malware diperiksa untuk mengetahui apakah bahasa sistemnya menggunakan Rusia atau Tiongkok, diketahui bahwa malware didesain oleh pengembangnya untuk tidak menyerang pada komputer yang dikonfigurasi menggunakan dua bahasa tersebut.

    Technical Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, Yudhi Kukuh melihat fenomena serangan ini mengatakan “Penggunaan backdoor menimbulkan banyak dugaan karena fungsinya yang luas. Salah satunya adalah spionase atau alasan lainnya, seperti mencari keuntungan finansial. Apa pun alasan di balik serangan tersebut, jelas jika pasar Asia menjadi target mereka yang ke depan mungkin bisa digunakan untuk pekerjaan yang lebih besar”.

    Sulit dipungkiri jika Asia memang memiliki potensi yang sangat besar mengingat banyak negara Asia memiliki jumlah penduduk dan pemain game yang besar, menurut perusahaan riset Niko Partners memperkirakan bahwa jumlah gabungan dari gamer PC dan seluler di Asia Tenggara akan meningkat hingga 400 juta, yang mengumpulkan pendapatan gabungan sebesar $4,4 miliar USD pada tahun 2021.

    Sementara menurut Newzoo diketahui bahwa penggunaan ponsel di Asia Tenggara telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa, terus tumbuh pada tingkat lebih dari 3,5 juta pengguna per bulan, dan dengan meningkatnya penetrasi kartu kredit di kawasan ini, dapat diperkirakan bahwa game digital akan terus marak berlanjut.

    Besarnya pasar ini tentu menggiurkan bagi para penjahat siber untuk memanfaatkannya untuk banyak hal dan kepentingan. Mengatasi masalah ini ESET memiliki beberapa tips bagi pengguna agar terhindar dari ancaman seperti ini:

    1. Sebelum mengunduh apa pun di toko resmi aplikasi, biasakan untuk membaca review atau ulasan pada game yang ingin diunduh.
    2. Selalu melakukan update
    3. Selalu mengunduh dan update melalui situs resmi pengembang
    4. Bagi gamer yang sudah mengunduh game Infestation sebaiknya segera melakukan uninstal sesegera mungkin.
    5. Segera lakukan deteksi dengan solusi keamanan yang dimiliki.
    6. Gunakan antivirus yang komprehensif.

    ESET sendiri mendeteksi ada ancaman tiga malware sebagai Win32/HackedApp.Winnti.A, Win32/HackedApp.Winnti.B, & sebagai payload  Win32/Winnti.AG, dan tahap kedua sebagai Win64/Winnti.BN. (Icha)

     

  • Platform Video Streaming ini Pun Sudah Blokir 200 Ribu Konten Negatif

    Platform Video Streaming ini Pun Sudah Blokir 200 Ribu Konten Negatif

    Telko.id – Mati satu tumbuh seribu, itu memang terjadi pada bermunculannya konten negative. Tapi tanpa lelah, Bigo Live secara terus menerus melakukan pemantauan. Bahkan sejak Januari 2017 sampai dengan Februari 2019 sudah ada 200 ribu konten negative yang diblokir.

    Data ini diperoleh merupakan hasil pantauan dan pengawasan Subdit Pengendalian Konten Internet Ditjen Aptika ke kantor perwakilan Bigo Live Indonesia pada Rabu (6/3). Ini merupakan bentuk pengawasan dan pemantauan terhadap kinerja platform media sosial yang beroperasi di Indonesia oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, termasuk juga pada platform video streaming Bigo Live.

    Menurut Ferdinandus Setu, Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo, dalam pernyataan tertulisnya, jenis konten yang diblokir antara lain konten streaming yg menampilkan pakaian tidak senonoh, tarian tidak senonoh, serta pembicaraan yang tidak senonoh.

    Pemblokiran ini juga dilakukan berdasarkan temuan tim monitoring dan laporan dari pengguna Bigo Live.

    Berdasarkan pantauan dan pengawasan Subdit Pengendalian Konten Internet Ditjen Aptika, pemblokiran konten negatif pada platform Bigo Live diklasifikasikan menjadi dua yakni pemblokiran device (banned permanent) dan non device (pemblokiran berjangka waktu).

    Kementerian Kominfo RI mengapresiasi setiap langkah positif yang dilakukan oleh platform media sosial yang beroperasi di Indonesia, termasuk langkah Bigo memblokir 200 ribu konten negatif pada platformnya.

    Sebelumnya, pada 14 Januari 2019, Dirjen Aplikasi informatika bersama Pimpinan Bigo Live Indonesia telah melakukan penandatangan MoU tentang penanganan konten pornografi secara bersama-sama menggunakan sistem Artificial Intelegence (AI).

    Untuk diketahui, Bigo Live adalah perusahaan internet asal Singapura yg mulai beroperasi di Indonesia sejak 2016 akhir. Pada Desember 2016 Kemkominfo pernah melakukan pemutusan akses Bigo Live dari Indonesia namun setelah Bigo memperbaiki SOP dan mekanisme streaming, blokir dibuka kembali pada 13 Januari 2017. Saat ini terdapat sekitar 20 juta warga Indonesia tercatat sebagai pengguna Bigo Live. (Icha)

     

  • Grab Kini Bernilai $ 14 miliar Setelah Dapat ‘Suntikan Maut’ Dari Softbank

    Grab Kini Bernilai $ 14 miliar Setelah Dapat ‘Suntikan Maut’ Dari Softbank

    Telko.id – Grab Holdings Inc. (“Grab”), everyday super app terkemuka di Asia Tenggara, baru saja mengumumkan telah menerima pendanaan dari Softbank Vision Fund (“SVF”) senilai USD1,46 miliar. Dengan putaran pendanaan Series H kali ini, Grab telah menerima total pendanaan senilai lebih dari USD4,5 miliar.

    Sebelumnya, putaran pendanaan Series H ini, Grab juga telah menerima invetasi dari perusahaan pembuat mobil yakni Toyota Motor Corporation dan  Hyundai Motor Group, raksasa teknologi Microsoft, Ping An Capital, perusahaan manajemen aset Oppenheimer Funds yang berbasis di A.S, Booking Holdings dan Yamaha Motor. Dengan adanya pembiayaan baru ini, valuasi Grab sekarang mencapai $ 14 miliar.

    “SoftBank dan the Vision Fund adalah investor strategis jangka panjang bagi Grab dan kami berterima kasih atas dukungan berkelanjutan mereka bagi pertumbuhan Grab. Investasi ini merupakan salah satu bentuk nyata dari visi Grab sebagai super app nomor satu di Asia Tenggara dalam mengembangkan ekosistem teknologi di kawasan ini,” ungkap Anthony Tan, Grab’s Co-Founder and CEO.

    Anthony menambahkan bahwa kedepannya, kita berharap dapat terus meningkatkan taraf kehidupan jutaan masyarakat di Asia Tenggara dengan menyediakan peluang yang dapat meningkatkan penghasilan mereka melalui platform Grab, dan memberikan berbagai pilihan serta kenyamanan untuk para pengguna.”

    David Thevenon, Partner at SoftBank Investment Advisers, mengatakan bahwa Investasi ini akan membantu Grab mengeksplorasi peluang baru yang menarik dalam memenuhi seluruh kebutuhan mobilitas berdasarkan permintaan pengguna (on-demand mobility), layanan pengiriman, dan layanan keuangan sehingga perusahaan ini bisa terus mengembangkan platform offline-to-online di seluruh Asia Tenggara.

    Aliran dana yang sudah cukup besar masuk ke Grab ini tidak kemudian perusahaan everyday super app ini kemudian menutup pintu penerimaan investasi lainnya

    “Kami terus menerima minat dari investor baru dan berharap dapat menyambut lebih banyak pemimpin industri global sebagai mitra kami di tahun 2019,” ungkap Ming Maa, Presiden Grab.

    Grab akan menggunakan investasi ini untuk mengembangkan visi perusahaan sebagai super app di Asia Tenggara, dengan tujuan menghadirkan lebih banyak layanan harian, aksesibilitas yang lebih besar dan kenyamanan untuk para penggunanya.

    Selain itu, Grab juga berencana untuk terus memperluas layanannya, seperti layanan keuangan, pengiriman makanan, pengiriman barang, konten dan pembayaran digital, serta meluncurkan beberapa layanan baru yang telah diumumkan sebelumnya pada tahun 2018.

    Beberapa layanan yang telah tersedia di open platform Grab, GrabPlatform, termasuk diantaranya layanan video on-demand yang bekerja sama dengan HOOQ, layanan kesehatan digital, penyediaan jasa asuransi; dan layanan reservasi hotel melalui kerja sama dengan Booking Holdings.

    Secara khusus, Grab berencana untuk menginvestasikan sebagian besar dari dana yang diperolehnya di Indonesia, dimana Grab menjadi pemimpin dalam layanan transportasi on-demand yang menguasai 60 persen pangsa pasar roda dua dan menguasai 70 persen pangsa pasar roda empat.

    Bisnis Grab di Indonesia berkembang pesat, dengan pendapatan dua kali lipat di tahun 2018. Grab akan menggunakan pendanaan ini untuk mempercepat perluasan GrabFood dan GrabExpress serta menjalankan bisnis layanan baru di Indonesia. Grab merupakan bagian dari ekosistem pembayaran digital terbesar di Indonesia melalui kerjasamanya dengan Tokopedia dan OVO.

    Saat ini, GrabFood berkembang pesat di Indonesia, beroperasi di 178 kota di Indonesia dari hanya 13 kota pada tahun sebelumnya, dengan volume pengiriman hampir tumbuh 10 kali lipat di tahun 2018.

    Secara grup, bisnis transportasi Grab telah tumbuh dengan pesat semenjak akuisisi Uber di Asia Tenggara, dengan pendapatan naik hampir dua kali lipat dari Maret 2018 hingga Desember 2018. Pendapatan GrabFood tumbuh 45 kali lipat pada periode waktu tersebut. GrabFood, satu-satunya pemain dalam layanan pengiriman makanan di tingkat regional, hadir di 199 kota di enam negara.

    Pada tahun 2018, Grab Financial Group telah menjadi satu-satunya platform yang memiliki akses ke lisensi e- money di enam negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Sejak diluncurkan di bulan Maret 2019, Grab Financial Group telah melihat pertumbuhan transaksi bulanannya hampir lima kali lipat hingga Desember 2018. Pada periode yang sama, volume instant delivery dan same-day delivery dari GrabExpress juga telah meningkat lebih dari tiga kali lipat di tingkat regional, dan kini telah tersedia di 150 kota.

    Tahun lalu, pertumbuhan ekosistem Grab telah tumbuh secara signifikan melalui kerjasama dengan pemimpin industri global, seperti Toyota, Hyundai, Microsoft, dan Mastercard. Grab juga menjalin kemitraan dengan para pemimpin industri nasional maupun regional diantaranya Central Group dan Kasikornbank di Thailand; OVO, Bank BTN, dan Bank Mandiri di Indonesia; United Overseas Bank di Singapura; SM Investment Corporation di Filipina; Moca di Vietnam, dan Maybank di Malaysia. (Icha)

  • Astra Bersama GOJEK Bentuk JV dan Tambah Investasi US$ 100 Juta

    Astra Bersama GOJEK Bentuk JV dan Tambah Investasi US$ 100 Juta

    Telko.id – Astra International dan GOJEK sepakat membentuk perusahaan patungan atau joint venture (JV). Targetnya untuk mendorong pengembangan bisnis ride hailing roda empat yang diharapkan dapat membantu meningkatkan ketersediaan layanan transportasi online pintu ke pintu bagi masyarakat.

    Selain itu, Astra juga menambah partisipasi dalam tahap pertama pendanaan seri F GOJEK dengan investasi sebesar US$ 100 juta. Dengan tambahan investasi tersebut, total investasi Astra pada GOJEK kini mencapai US$ 250 juta.

    “Pembentukan perusahaan patungan dan partisipasi Astra dalam pendanaan seri F menunjukkan kepercayaan kami kepada GOJEK sekaligus wujud nyata dari eksplorasi kerjasama kami untuk menciptakan sinergi dengan bisnis otomotif Astra,” ujar Prijono Sugiarto, Presiden Direktur  Astra International.

    Prijono juga berharap bahwa kerjasama tersebut dapat membantu masyarakat luas masuk ke sektor ekonomi formal, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa.

    Saat ini Indonesia tercatat memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi digital paling pesat di Asia Tenggara. Dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) sebesar 49% pada periode tahun 2015-2018, sektor ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan mencapai US$ 100 miliar pada tahun 2025 dari US$ 27 miliar pada tahun 2018.

    Kemitraan strategis yang terjalin antara Astra dan GOJEK diharapkan dapat memaksimalkan potensi Indonesia untuk terus menjadi pelopor ekonomi digital yang terdepan di kawasan Asia Tenggara.

    “Potensi perekonomian digital di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, harus dimaksimalkan oleh para pelaku bisnis dengan menggabungkan kekuatan di masing-masing industri. Gabungan kekuatan Astra di bidang otomotif dan GOJEK di bidang teknologi melalui kerja sama ini diharapkan akan membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk memiliki sumber penghasilan, sehingga mampu untuk meningkatkan kesejahteraan,” ungkap Nadiem Makarim, Chief Executive Officer dan Founder GOJEK.

    Diluncurkan pada Januari 2015, GOJEK kini menjadi salah satu pemain terdepan di Asia Tenggara untuk sektor digital and mobile consumption. GOJEK saat ini telah berkembang menjadi superapp yang membentuk sebuah ekosistem untuk kemudahan bertransaksi, menghubungkan jutaan konsumen dengan jutaan mitra pengemudi, mitra usaha (merchant) dan penyedia layanan (service provider).

    Sediakan Ribuan Unit Armada

    Perusahaan patungan yang sepakat dibentuk Astra dan GOJEK direncanakan akan menyediakan ribuan unit armada dengan sistem pengelolaan operasional kendaraan yang didukung oleh Astra FMS (Fleet Management System) dan teknologi ride hailing pada aplikasi GOJEK, khususnya layanan GO-CAR.

    Perusahaan ini akan memberikan kesempatan kepada mitra untuk memberikan layanan transportasi online pintu ke pintu dengan kualitas prima kepada pelanggan sekaligus meraih pendapatan yang layak melalui layanan GO-CAR.

  • Lika-liku Perjalanan Grab Menjadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara

    Lika-liku Perjalanan Grab Menjadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara

    Telko.id – Siapa menyangka, jika aplikasi transportasi berbasis internet bisa berjaya seperti sekarang ini. Sudah banyak masyarakat yang bergantung setiap kegiatan kesehariannya. Apakah pergi bekerja, ke kantor, ke sekolah maupun kegiatan lainnya. Termasuk juga kegiatan lainnya, antar jemput dokumen atau barang, bahkan untuk makan pun bergantung pada aplikasi transportasi. Salah satunya adalah Grab.

    Grab, sendiri baru dinobatkan menjadi decacorn belum lama ini. Dan, menjadikannya transportasi online di Asia Tenggara pertama yang menyandang status ini. Status ini pun diraih hanya dalam jangka waktu tujuh tahun saja.

    Laporan Grab yang sudah berstatus decacorn ini tertuang dalam riset Google Temasek bertajuk e-Conomy Sea 2018 yang resmi dipublikasikan 19 November 2018.

    Dari riset ini, Grab dilaporkan berhasil mengumpulkan lebih dari USD6 miliar dan membukukan valuasi sebesar USD11 miliar, yang menjadikannya sebagai decacorn pertama dan satu-satunya dari Asia Tenggara.

    Lalu, siapa dibalik kesuksesan Grab ini? Sepak terjang apa saja yang dilakukan sehingga mampu mencapai posisi ini?

    2011

    Anthony Tan ialah sosok pendiri transportasi online asal Malaysia ini, beliau lulusan MBA Harvard Business School. Sebelumnya, pria ini bekerja sebagai kepala marketing di perusahaan ayahnya, Tan Heng Chew sang konglomerat Malaysia yang memiliki Tan Chong & Sons Motor Company yang merupakan distributor tunggal mobil Nissan di Malaysia.

    Ide pembuatan transportasi online inipun muncul ketika sedang kuliah di Harvard Business School, Amerika Serikat yang mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan taksi di Malaysia.

    Seperti dilansir dari Bloomberg. “Apa yang salah dengan sistem taksi?”, kata Anthony, mengenang perkataan temannya tentang masalah transportasi umum di negarannya tiga tahun lalu. Temannya menegaskan, “Kakek buyut mu adalah seorang supir taksi, kakekmu memlulai industri otomotif Jepang di Malaysia, ayo lakukan sesuatu tentang ini.”

    Berbekal konsep ride sharing milik Garrett Camp, Anthony memutuskan menjadikan masalah tersebut sebagai proyeknya saat kuliah di Harvard Business School.

    Ketika ia mempresentasikan proyek tersebut kepada para profesor pengajarnya, mulanya mereka menilai proyek itu sulit untuk diimplementasikan, meskipun ada bukti keberhasilan dari layanan ride hailing lain di Amerika Serikat (AS) seperti Uber.

    Tapi ternyata, proyek tersebut akhirnya memenangkan posisi kedua dalam Business Plan Contest di Hardvard Business School. Kemudian juga terpilih sebagai finalis pada penghargaan Minimum Viable Product Funding Hardvard.

    2012

    Hingga akhirnya Anthony bersama rekannya sesama lulusan Hardvard, Tan Hooi Ling, meluncurkan aplikasi My Teksi di Malaysia, atau yang dikenal sebagai GrabTaxi di beberapa negara lain pada 2012. Bersaing dengan Uber yang sudah duluan hadir.

    Tan bertugas membuat perencanaan bisnis untuk mempromosikan aplikasi tersebut, sementara Anthony menjadi CEO perusahaan. GrabTaxi diluncurkan dengan dana awal sebesar US$ 25 ribu dari Hardvard Business School dan modal pribadi Anthony.

    2013

    Pada Juni 2013, My Teksi ini sudah mampu mendapatkan booking setiap 8 menit atau 10 ribu booking setiap harinya. Pada bulan Agustus, My Teksi ekspansi ke Filipina dengan brand GrabTaxi. Brand ini juga akan dipakai setiap ekspansi di luar Malaysia.

    Pada bulan Oktober 2013, langkah ekspansi ini berlanjut ke Singapur dan Thailand.

    2014

    Pada bulan Februari GrabTaxi masuk ke Ho  Chi Minh, Vietnam. Kembali pada bulan April, GrabCar memperoleh pendanaan seri A dari Vertex Ventures sebesar US$10M.

    Lalu, pada bulan Mei, GrabTaxi berubah nama menjadi GrabCar. Di Malaysia dan Singapura duluan mengubah brand. Pada bulan yang sama, GrabCar memperoleh pendanaan seri B yang dikepalai oleh GGV Capital sebesar US$15M.

    Baru pada bulan Juni, GrabCar ini masuk ke Indonesia. Sebulan berikutnya, Juli mulai aktif di Cebu, Filipina.

    Masuk bulan ke 10, Oktober, GrabTaxi memperoleh kembali pendaan seri C dari Tiger Global, Vertexs Ventures, GGC dan Qunar, perusahaan travel besar dari Cina. Pada bulan yang bersamaan juga Grac Taxi meluncurkan versi beta di Davao City, Filipina dan Pattaya, Thailand.

    Dengan banyak nya pendanaan yang masuk, Grab bertambah agresif dan pada bulan November meluncurkan GrabBike, on demand taksi motor di Ho Chi Minh, Vietnam sebagai service tambahan.

    Menutup tahun yang agresif ini, Grab pun mendapatkan pendanaan lagi seri D dari Softbank sebesar US$250 M. Sebuah pendanaan terbesar di Asia Tenggara untuk startup. Total, hanya dalam 12 bulan saja, Grab memperoleh pendanaan sebesar US$340M.

    Pada Desember tahun ini juga, Grab dinobatkan menjadi Billion Dolar Startup Club oleh Wall Street Journal. Sekaligus membuatnya menjadi satu dari unicorn yang waktu itu jumlah nya masih sedikit di Asia Tenggara.

    2015

    Pada bulan Februari, GrabTaxi masuk ke kota Lloillo, sebagai kota ke empat di Filipina.

    Lanjut pada bulan Maret, GrabCar meluncurkan GrabCar+ yang menawarkan kepastian kualitas layanan mulai dari mitra pengemudi, tarif, kemudahan proses pemesanan, jalur perjalanan hingga kenyamanan ekstra saat berkendara. Kendaraan pun premium, bisa midsize sedan atau SUV seperti Camry maupun Fortuner bahkan bisa Mini Cooper juga. Layanan ini pertama kali diperkenalkan di Filipina.

    Pada bulan Maret, GrabTaxi masuk juga ke Surabaya, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia. Dua bulan kemudian, GrabBike masuk ke Jakarta sebagai kompetitor aplikasi yang sama dari lokal yakni Gojek.

    2016

    Pada bulan Januari 2016, GrabTaxi diganti nama menjadi “Grab” yang mencakup semua produk perusahaan di bawah satu atap yakni GrabCar (mobil pribadi), GrabBike (taksi motor), GrabHitch (carpooling) dan GrabExpress (pengiriman).

    Pada tahun ini juga Grab mandapatkan dana US$ 750 juta di pendanaan seri F dari Softbank, Didi Chuxing dan produsen otomotif Jepang Honda. Pendanaan ini didapatkan pada September 2016.

    Lalu, pada Oktober Grab meluncurkan logo baru yang dirancang ulang. Sekaligus juga meluncurkan layanan baru yakni “GrabChat” yang diharapkan dapat memudahkan komunikasi sederhana antara pengendara dan pengemudi. GrabChat bahkan dapat menerjemahkan pesan jika bahasa yang digunakan pengemudi dan penumpang berbeda.

    Pada bulan November, Grab meluncurkan GrabPay, yang memberikan opsi pembayaran tanpa uang tunai baru yang memungkinkan pengisian ulang melalui berbagai sumber pendanaan lokal yang tersedia luas untuk solusi pembayaran mobile dalam aplikasi GrabPay.

    Pada akhir tahun, Desember 2016, Grab layanan yang inovatif yakni memperkenalkan “GrabShare” yang menawarkan layanan berbagi taksi dan mobil.

    2017

    Pendanaan Grab berlanjut pada seri G senilai US$ 2,5 miliar. Kerja sama pendanaan didapatkan pada Agustus 2017 dari Softbank, Didi Chuxing dan Toyota.

    2018
    Pada Maret 2018 Grab memperoleh pendanaan sekitar US$ 3 miliar dari Toyota, Microsoft, Booking Holdings dan Yamaha Motors. Namun, beberapa media seperti TechCrunch telah melaporkan Grab meningkatkan target pendanaan jadi US$ 5 miliar.

    Pada bulan Maret ini juga, Grab mengakuisisi Uber, di mana berdasarkan kesepakatan tersebut, Uber tetap akan memiliki 27,5 persen saham di Grab dan CEO Uber Dara Khosrowshahi akan bergabung dengan dewan direksi Grab. Saat diakuisisi tersebut, nilai Uber sebesar US$6 M.

    Pada bulan April, GrabPay menjalin kemitraan dengan Visionet International (PT VI), perusahaan platform pembayaran dan keuangan lokal di Indonesia dengan merek OVO.

    Pada bulan oktober, kembali Grab memperoleh pendanaan dari Booking Holdings atau sering kenal juga dengan Priceline sebesar $200 million.

    TechCrunch melaporkan perusahaan ini terakhir kali bernilai US$ 11 miliar, ketika Toyota menginvestasikan US$ 1 miliar di Seri H ini pada Juli 2017. Namun belum jelas berapa peningkatan valuasi Grab ketika putaran seri H tersebut selesai.

    Pada bulan November, Hyundai Motor Company (“Hyundai”) dan Kia Motors Corporation (“Kia”) akan memberikan investasi tambahan sebesartambahan US$250M ke Grab dan membangun kemitraan untuk mengujicobakan program EV di seluruh Asia Tenggara.

    Pada akhir 2018 ini, Grab yang sudah berstatus decacorn. Hal ini tertuang dalam riset Google Temasek bertajuk e-Conomy Sea 2018 yang resmi dipublikasikan 19 November 2018. Artinya, valuasi dari Grab sudah berada di atas US$10 miliar atau setara Rp 140 triliun (asumsi US$1 = Rp 14.000).

    2019

    Menutup tahun 2018 dengan mencatatkan pendapatan sekitar US$ 1 miliar. Sama seperti perusahaan lain, Grab juga memiliki target agar pendapatan tersebut naik di tahun 2019 ini.

    Menurut Co-founder Grab Tan Hooi Ling, pada 2019 Grab menargetkan pendapatan perusahaan naik dua kali lipat dari tahun ini. Dengan kata lain, perusahaan ingin menaikkan pendapatan menjadi US$ 2 miliar.

    “Kami sudah mencatatkan pendapatan US$ 1 miliar di 2018 dan akan menggandakannya di tahun depan,” tuturnya saat bertemu dengan awak media di Jakarta, Selasa (11/12/2018).

    Kendati demikian, Ling tidak merinci lebih lanjut layanan Grab mana yang akan menjadi andalan di tahun depan agar target tersebut dapat terpenuhi. Namun, dia memastikan seluruh layanan Grab hingga sekarang masih terus bertumbuh. (RIZ/Icha)

  • Cerita Dibalik Unicorn, Decacorn dan Hectocorn di Indonesia

    Cerita Dibalik Unicorn, Decacorn dan Hectocorn di Indonesia

    Telko.id – Ekonomi digital saat ini menjadi salah satu fokus pemerintah. Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Menkominfo) Rudiantara memasang target ada 20 Unicorn hingga tahun 2025 mendatang.

    “Startup dan Unicorn tumbuh begitu cepat, kita bisa melihat bahwa mereka bisa membantu menyelesaikan banyak permasalahan yang ada di masyarakat Indonesia. Contohnya Go-Jek dan Traveloka. Apakah kita mau mereka ditutup? Jawabannya tidak. Karena justru mereka hadir untuk masyarakat,” kata Rudiantara pada diskusi media, di Jakarta, Selasa (26/02/2019).

    “Jadi aplikasi yang dikembangkan itu bukan teknologinya, tapi pola pikirnya. Kalau ditanyakan unicorn untuk siapa? Ya, kita harus mendorong startup di Indonesia menjadi Unicorn karena dari sini tumbuh pemikiran baru. Kalau startup divaluasi secara bisnis, barulah kita bicara Unicorn,” ungkap Rudiantara.

    Bahkan, Chief RA, begitu pria ini sering disebut, selain Unicorn, juga ada Decacorn dan Hectocorn. Beberapa Startup, menurutnya sudah masuk dalam kategori Decacorn dan Hectocorn, hanya saja beberapa startup tersebut belum terdaftar.

    Sebelum itu mari mengenal apa itu istilah Unicorn, Decacorn dan Hectocorn dalam dunia startup.

    Pertama adalah Unicorn, istilah ini mengacu kepada startup yang memiliki valuasi senilai USD 1 miliar (sekitar Rp 13,1 triliun) atau lebih. Berikutnya ada Decacorn, yaitu startup yang telah memiki valuasi sebesar USD 10 miliar. Lalu terakhir ada Hectocorn yang biasa disebut juga dengan Super Unicorn adalah startup yang telah memiliki valuasi sebesar USD 100 miliar.

    Untuk Asia Tenggara saat ini ada tujuh startup Unicorn. Empat diantarannya merupakan startup Indonesia yakni Go-jek, Bukalapak, Traveloka dan Tokopedia. Dan, ada satu perusahaan yang baru saja menyandang status Decacorn beberapa hari lalu yakni Grab.

    Salah satu startup Indonesia, yang ‘digadang-gadang’ siap menjadi startup Decacorn yaitu Go-jek. Dengan pendanaan terbarunya dari Google, Tencent dan JD.Com, valuasi Go-jek saat ini mencapai USD 9,5 miliar, siap menyusul Grab.

    Untuk mencapai gelar Unicorn bukan lah hal yang mudah, dengan kerja keras menghasilkan sebuah hasil yang memuaskan dan menarik bagi investor untuk mendanai para startup ini. Berikut daftar startup Unicorn yang mendapatkan suntikan dana :

    • Bukalapak. Sejauh ini situs marketplace ini mendapatkan investasi sebesar USD 50 Juta dari Mirae Asset-Naver
    • Tokopedia. Mendapatkan investasi sebesar USD 1 miliar dari Alibaba dan Softbank.
    • Traveloka. Mendapatkan investasi sebesar USD 500 Juta dari Expedia Group
    • Go-jek. Perusahaan ini yang paling banyak mendapatkan suntikan dana hingga sekarang total nilai investasinya sebesar USD 9,5 miliar, perusahaan yang investasi ke go-jek diantarannya. Tencent Holdings, Google, JD.Com, Astra Internasional, Grup Djarum,KKR, Warburg Pincus, Farallon Capital, dan Capital Group Markets.

    Pemerintah sendiri cukup agresif mendorong para stratup untuk tumbuh dan berkembang menjadi unicorn baru. Salah satu upayanya adalah memberikan dukungan roadshow ke luar negeri, seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Amerika Serikat untuk mempertemukan bisnis dengan modal ventura.

    Di dalam negeri sendiri, pemerintah membantu dari sisi regulator untuk mempermudah Startup di Indonesia. Misalnya, untuk membuat stratup tidak perlu minta izin, cukup registrasi saja, itupun dapat dilakukan secara online.

    Selain sebagai regulator, pemerintah juga mempunyai peran sebagai fasilitator dan akselerator. Setelah memberikan kemudahan proses perijinan Startup, Kementerian Kominfo juga berupaya mendorong Startup yang memiliki kualitas namun minim pendanaan dengan menginisiasi program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Termasuk juga membentuk komunitas dengan founder dari semua startup agar bisa mengakselesari pertumbuhannya supaya menjadi Unicorn. (RIZ/Icha)

     

  • Grab ‘Memproklamasikan’ Diri Jadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara.

    Grab ‘Memproklamasikan’ Diri Jadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara.

    Telko.id– Tetiba, pada 27 Februari lalu, Grab ‘Memproklamasikan’ diri menjadi Decacorn pertama di Asia Tenggara. Itu terlihat ketika masuk ke website nya, yang pertama kali adalah tulisan “Terima Kasih Telah Jadikan Grab Decacorn Pertama”.

    Selanjutnya, tertulis juga tentang latarbelakang tentang apa itu Unicorn dan ungkapan terimakasih Grab pada para pelanggannya dengan memberikan diskon#LEVELDECACORN hingga 70% untuk semua layanan Grab, berlaku di seluruh Indonesia dari 28 Februari – 14 Maret 2019 selama promo tersedia setiap harinya.

    Memang belakangan ini, banyak startup yang mengejar ‘label’ decacorn ini. Setelah melewati level Unicorn terlebih dahulu. Dimana untuk dapat disebu unicorn, sebuah perusahaan dengan penilaian lebih dari US $ 1 miliar, atau bahkan decacorn, yang memerintahkan penilaian setidaknya $ 10 miliar.

    Jadi wajar, jika Grab begitu  ‘senang’ sampai-sampai mengumumkan pencapaiannya dan memberikan promo bagi para penggunannya.

    Grab merupakan aplikasi yang menawarkan berbagai layanan, mulai dari transportasi, pengiriman makanan, pengiriman paket, pembayaran dan layanan keuangan hingga streaming video, melalui penawarannya seperti GrabBike, GrabCar, GrabFood, GrabPay, GrabTaxi, GrabRewards, GrabExpress, GrabFresh, GrabShuttle , GrabWheels, dan GrabDaily. Ke depan, ia juga bertujuan untuk menciptakan 100 juta pengusaha mikro melalui ekosistemnya.

    Sekarang, Grab telah menjadi pemimpin pasar di Asia Tenggara dan telah melampaui decacorn, melayani jutaan orang di seluruh Asia Tenggara. Ini membanggakan strategi platform terbuka yang membantu berbagi manfaat dan penghargaan dengan semua pihak.

    Misalnya, dengan bermitar dengan OVO untuk pembayaran digital, membuatnya lebih mudah untuk membayar wahana Grab, serta dengan HOOQ, menawarkan hiburan berkualitas untuk pengguna platinum tepat di aplikasi.

    Keberhasilan Grab naik level ini tidak lepas dari banyak nya investor yang bergabung. Seperti Temasek, Qunar, Tiger Global, Softbank, China Investment Corporation dan Toyota Motor Corp.

    Grab melihat Asia sebagai peluang pasar besar dengan potensi pasar $ 25 miliar untuk transportasi dan pasar $ 500 miliar untuk pembayaran.

    Asia Tenggara juga memiliki potensi luar biasa untuk bisnis ridesharing. Dengan populasi gabungan 640 juta, kepemilikan mobil di wilayah ini termasuk yang terendah di dunia yaitu 70 mobil per 1.000 orang, dibandingkan dengan 103 mobil per 1.000 orang di Cina dan 574 di AS.

    Data Grab menunjukkan bahwa penetrasi smartphone dapat berlipat dua dalam lima tahun ke depan di Indonesia, Myanmar dan Filipina, sementara itu telah melampaui 100 persen di Malaysia, Thailand dan Singapura. Antara 2014 dan 2015, transaksi non tunai di Asia melonjak 43,4 persen. Untuk mendukung operasi bisnisnya, Grab memiliki pusat penelitian dan pengembangan di Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, Beijing, Kota Ho Chi Minh, Seattle dan Bangalore. (Icha)

  • GET, GO-JEK Versi Thailand Meluncur di Bangkok

    GET, GO-JEK Versi Thailand Meluncur di Bangkok

    Telko.id – GO-JEK kembali melakukan ekspansi. Kini Thailand jadi tujuannya sebagai negara ke 4 setelah di Singapura, Filipina dan Vietnam dengan Go-Viet nya.

    Di Thailand, GO-JEK menggunakan nama GET, hasil kolaborasi dengan mitra lokal. Seperti juga di GoJek di Indonesia, di Bangkok pun layanan yang tawarkan bukan hanya terkait dengan layanan transportasi roda dua saja GET Win, tetapi juga layanan kiriman barang GET Delivery dan layanan antar makanan atau GET Food.

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan kebanggaan dan apresiasi atas pencapaian ekspansi GO-JEK ke sejumlah negara.

    “Saya atas nama pemerintah itu bangga, bahwa ada perusahaan Indonesia yang menjadi multinational company (MNC). Ada di Vietnam, ada di Thailand, ada di Singapura, mungkin segera negara-negara lain di ASEAN,” ungkapnya saat menghadiri langsung Peluncuran resmi GO-JEK di di Bangkok, Thailand, Rabu (27/02/2019).

    Apresiasi diberikan oleh Menteri Kominfo karena GO-JEK mampu menjadi multinational company dengan merambah pasar Asia Tenggara.

    “Di Indonesia banyak ada perusahaan besar tapi boleh dikatakan hampir tidak ada yang menjadi MNC, multinational company. Mereka jago kandang semua,” kata Rudiantara.

    Menurut Rudiantara, ekspansi GO-JEK menunjukkan perusahaan Indonesia telah semakin dipercaya di level regional dan internasional. Dan keberhasilan GO-JEK tidak lepas dari model bisnis yang tidak konvensional serta tidak berbasis aset. “Model bisnis ini lebih memudahkan perusahaan seperti GO-JEK untuk melakukan “leapfrog”,” ungkapnya.

    Founder dan CEO Grup GO-JEK, Nadiem Makarim mengatakan pihaknya memilih Thailand karena negara ini memiliki beberapa kesamaan dengan Indonesia, seperti dalam hal passion atas makanan.

    “Kami juga telah menemukan tim yang bagus di Thailand. Mereka memiliki pengalaman yang baik di industri ini,” ujarnya.

    Setelah fase beta dimulai pada Desember 2018 di 3 distrik, GET telah memperluas jangkauan layanan hingga menjangkau 80% atau 41 distrik di Bangkok dan memperkenalkan layanan pesan-antar makanan Get-Food.

    Co-Founder dan Chief Executive Officer GET, Pinya Nittayakasetwat mengatakan telah berhasil menyelesaikan 2 juta perjalanan, hanya dalam 2 bulan sejak peluncuran fase beta, yang hanya menjangkau lokasi terbatas di Kota Bangkok.

    Sebelumnya, GO-JEK telah resmi masuk ke Vietnam dengan meluncurkan GO-Viet. Kini GO-JEK tengah melakukan riset pasar di tiga negara yakni Malaysia, Myanmar, dan Kamboja selain tetap berupaya untuk masuk ke Filipina.

    Selain Menteri Kominfo Rudiantara, acara peluncuruan juga dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Thailand Ahmad Rusdi serta Wakil Menteri Ekonomi Digital dan Masyarakat Thailand, Pansak Siriruchatapong. (Icha)

  • Apex Legends Kini Jadi Game Andalan Skyegrid Yang Baru

    Apex Legends Kini Jadi Game Andalan Skyegrid Yang Baru

    Telko.id – Skyegrid, platform Cloud Gaming asal Indonesia, telah menambah sejumlah judul game populer terbaru di dalam layanannya. Game-game tersebut di antaranya Apex Legends, Resident Evil 2 (Remake), Dead by Daylight, Divinity: Original Sin 2, dan Two Point Hospital.

    Apex Legends game pamungkas andalan Skyegrid pada awal tahun 2019 ini, yang merupakan game ber-genre Battle Royale terbaru dan gratis hasil kolaborasi Respawn Entertainment sebagai pengembang game dan Electronic Arts selaku penerbit game.

    Dengan tersedianya Apex Legends di platform Cloud Gaming milik Skyegrid, maka seluruh pelanggan dapat memainkan game multiplayer tersebut pada berbagai platform, termasuk di PC dan laptop Windows dengan spek rendah, Macbook, hingga ponsel dan tablet berbasis OS Android.

    “Saya kira semua gamer setuju, Apex Legends adalah game yang fenomenal sekarang ini. Respawn Entertainment mencatat rekor 7,6 juta total pemain Apex online selama tiga hari berturut-turut pada saat peluncurannya. Ini sangatlah fantastis,” ujar Rolly Edward, CEO Skyegrid.

    “Setiap hari, tim kami menerima permintaan pelanggan (Skyegrid) untuk segera memasukkan Apex Legends. Dan, saya pastikan sekarang game ini bisa dimainkan di Skyegrid.”

    “Hal ini tak lepas dari kerja keras tim Skyegrid serta dukungan seluruh mitra kami. Sekali lagi, kami membuktikan bahwa Skyegrid adalah layanan Cloud Gaming terdepan di Tanah Air,” tegasnya.

    Selain Apex Legends, Skyegrid juga menambahkan satu judul populer lainnya yang tak kalah dinanti-nanti oleh para gamer, yakni Resident Evil 2 (Remake)—yakni edisi remaster dari game Resident Evil 2 besutan Capcom tahun 1998 silam.

    “Reimagine adalah kata yang lebih tepat untuk menggambarkan Resident Evil 2 Remake. Tidak hanya menampilkan kualitas grafis yang lebih tajam, tapi game ini menawarkan experience baru yang sesuai dengan ekspektasi pengembang dan gamer seperti saya,” tutur Rolly.

    Sejatinya, Rolly mengakui, bahwa Resident Evil 2 (Remake) tidak masuk dalam daftar game yang akan tersedia di Skyegrid pada awal tahun ini. “Namun, para gamer kami meminta RE2 Remake segera dimasukkan (ke Skyegrid), karena saya tahu, ini bukanlah sekadar game yang baru rilis, tetapi memainkan RE2 Remake di ponsel atau tablet Android adalah redefinisi memainkan game horor penyintas,” ujar Rolly.

    Dengan tambahan Apex dan RE2 (Remake), serta beberapa judul game lainnya, hingga per Februari 2019, Skyegrid telah mempunyai total 82 judul game, dengan komposisi 50-50 untuk game berbayar via akun Steam dan game Free-to-Play.

    Selain menambah judul game baru, Skyegrid juga fokus mengoptimalkan product experience agar pengalaman bermain game-game PC bisa lebih nyaman dan lancar kendati dengan latensi yang rendah.

    “Cita-cita kami masih sama, yakni menjadi Cloud Gaming terdepan di Indonesia, terbaik untuk para gamer dan developer lokal, serta turut membangun ekosistem game lokal yang maju dan mapan hingga kita semua dikenal luas di kancah global,” tutup Rolly. (Icha)