Kategori: IoT

  • MediaTek Kerja Bareng Microsoft Azure Demi Kembangkan IoT

    MediaTek Kerja Bareng Microsoft Azure Demi Kembangkan IoT

    Telko.id – MediaTek hari ini mengumumkan bahwa banyak peminat dari kalangan para pembuat perangkat IoT terhadap produknya MT3620. Sebuah chip microcontroller unit (MCU) yang dirancang dalam kerja sama erat dengan Microsoft untuk integrasi langsung dari solusi keamanan Microsoft Azure.

    MCU ini memungkinkan para produsen untuk mengembangkan perangkat-perangkat IoT yang aman dan terhubung dengan layanan-layanan Microsoft Azure Cloud. Sebagai MCU pertama di industri yang langsung terintegrasi dengan Microsoft Azure Sphere dalam perangkat kerasnya, solusi Azure Sphere ini telah berhasil diadopsi oleh berbagai merek dan perusahaan global utama seperti Starbucks, Leoni, e.on dan Gojo.

    MT3620 merupakan MCU berkinerja tinggi dan sepenuhnya terintegrasi yang menyediakan tingkat keamanan tertinggi untuk perangkat-perangkat edge modern dan kokoh yang terkoneksi internet.

    Permintaan untuk MT3620 terjadi karena subsistem peripheral input/input (I/O) yang ekstensif, yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan bagi para pembuat perangkat dalam rancangan perancang, sehingga bisa digunakan dalam berbagai aplikasi IoT termasuk rumah cerdas, komersial dan industri. MT3620 sekarang tersedia secara komersial dalam bentuk chipset, modul dan kit pengembangan.

    “MediaTek bangga dengan adopsi platform MT3620, seiring dengan upaya kami untuk membuka jalan bagi aplikasi-aplikasi Azure Sphere, chipset SoC berbasis MPU dan bagi bagi para OEM untuk menyediakan teknologi canggih bagi siapa saja,” kata Mohit Bhusham, VP dan GM, US Business Development, MediaTek.

    Baca juga : MediaTek Bermitra Dengan Intel Untuk Buat Modem 5G di Laptop

    Lebih lanjut, Mohit menyatakan bahwa “Keamanan merupakan sebuah isu paling penting yang dihadapi pengadopsian luas dari berbagai layanan IoT berbasis cloud, khususnya untuk industri-industri penting. Kami percaya Microsoft Azure Sphere merupakan solusi untuk penggunaan cloud yang aman.”

    MT3620 merupakan satu-satunya MCU yang tersedia di pasar saat ini yang menggabungkan keamanan end-to-end yang lengkap dari Azure Sphere, memungkinkan para pembuat perangkat untuk mengembangkan berbagai perangkat IoT yang sangat aman dan mudah terhubung ke Microsoft Azure Cloud Services.

    Solusi aman ini menyediakan otentikasi dan atestasi perangkat, mendukung pembaruan perangkat lunak lewat over-the-air untuk menjaga keamanan terhadap serangan yang terus berevolusi, dan mengotomatisasi pencatatan kesalahan dan pelaporan.

    “Keamanan IoT dimulai di silikon. MT3620 merupakan cip pertama yang disertifikasi untuk Azure Sphere, dirancang untuk menghasilkan keamanan perangkat IoT tanpa tanding yang menjaga perangkat tetap aman sepanjang waktu. Cip ini menjalankan sistem operasi Azure Sphere dan langsung terhubung ke Azure Sphere Security Service,” kata Anita Rao, Principal Program Lead, Azure Sphere, Microsoft.

    Menurut Anita, sekarang, para pelanggan dari berbagai industri mengadopsi MT3620 untuk merancang dan memproduksi apa pun dari perangkat konsumen hingga peralatan ritel dan manufaktur – seluruhnya juga digunakan untuk menjalankan serangkaian modul penjaga untuk dengan aman menghubungkan dan menjaga peralatan-peralatan penting. (Icha)

     

     

  • Huawei Luncurkan Jam Pintar Lengkap Dengan Teknologi AI

    Huawei Luncurkan Jam Pintar Lengkap Dengan Teknologi AI

    Telko.id – Huawei kembali mengeluarkan jam pintar, Huawei Watch GT2 setelah ‘merasa’ sukses dengan seri  Huawei Watch GT. Yang berdasarkan data dari Huawei, sudah terkirim secara global sebanyak 3 juta unit. Akankah seri terbarunya ini bisa ikut sukses?

    “Pasar smart watch ini masih besar. Bukan saja di dunia tapi juga di Indonesia. Itu sebabnya, kami meluncurkan Huawei Watch GT 2 ini. Lagi pula, positioning kami atau Huawei adalah mengedepan kan teknologi terbaru. Jadi, kami yakin produk ini dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Terutama yang smart, young dan active consumer,” ungkap Lo Khing Seng, Deputy Country Director Huawei Device menjelaskan saat peluncuran Huawei Watch GT 2.

    Hal itu juga diamini oleh Gabrielle Halim, Management Gadgets Accessories Erajaya. “Kami optimis Huawei Watch GT 2 karena memiliki fitur yang dibutuhkan oleh konsumen Indonesia”.

    Huawei Watch GT 2 ini sudah dibenamkan teknologi Artificial Inteligent yang mampu menganalisa kebiasaan dari para penggunanya dan memberikan saran-saran terbaiknya, terutama tentang kesehatan.

    Misalnya, ada fasilitas HUAWEI TruSleep ™ 2.0, di mana Huawei Watch GT 2 ini dapat secara ilmiah melacak dan mendiagnosis 6 jenis masalah tidur yang umum sambil memberikan saran untuk istirahat yang lebih baik. Dan, saat Anda tidur, arloji ini memantau detak jantung Anda, menganalisis pernapasan Anda dan memberikan skor pada kualitas tidur Anda secara keseluruhan.

    Lalu, ada juga HUAWEI TruRelax yang akan mendeteksi tingkat stress Anda. Dan, akan memberikan saran-saran agar tingkat stress Anda tetap dalam kondisi yang baik.

    “Huawei Watch GT 2 juga dilengkapi dengan playback music. Fitur ini dapat menemani Anda ketika sedang berolah raga,” ungkapEddy Supartono, Training Director Huawei Indonesia menjelaskan. Bahkan, bisa sampai 500 lagu bisa ditranfer ke jam pintar ini.

    Selain tentu saja fitur lain yang terkait dengan aktifitas olah raga lainnya. Baik untuk olah raga dalam ruangan maupun outdoor. Oh iya, jam pintar ini tahan dibawa berenang juga lho. Yang penting bukan di laut atau air asin. Bisa tahan sampai kedalaman 50 meter, selama 10 menit.

    Dan yang terpenting, Huawei Watch GT 2 ini mampu bertahan selama 14 hari jika digunakan secara normal. Jadi, tidak perlu terlalu sering melakukan charging. Hal ini bisa dilakukan oleh Huawei Watch GT 2 karena di dalamnya terdapat chipset Kirin A1 yang memungkinkan kinerja jam pintar ini lebih efisien dan mampu bertahan selama dua minggu.

    Menariknya lagi, Huawei Watch GT 2 ini memiliki fitur untuk memberikan notifikasi jika ada pesan masuk. Hanya saja, Anda bisa memilih, notifikasi dari siapa saja yang akan muncul di jam pintar ini. Jadi, waktu olah raga atau saat bekerja Anda tidak banyak diganggu oleh pesan-pesan yang tidak penting. (Icha)

     

     

  • Hai Para Startup! Kamu Butuh Duit? Hubungi Saja Operator Ini

    Hai Para Startup! Kamu Butuh Duit? Hubungi Saja Operator Ini

    Telko.id – Salah satu yang membuat startup tidak bisa tumbuh dan berkembang adalah duit. Ya, duit atau dana atau pembiayaan untuk membuat perusahaan rintisan tersebut bisa berjalan. Itu sebabnya, Telkomsel memulai aksi di bidang strategic investments menyentuh perkembangan ekosistem teknologi Indonesia pada sektor teknologi, media dan telekomunikasi. Tak tanggung-tanggung, dana awal yang dipersiapkan adalah USD 40 juta.

    Menurut pernyataan yang dikeluarkan, Dana tersebut akan menjadi dana invetasi baru untuk menemukan, melakukan pendanaan strategis dan kemudian bekerjasama dengan berbagai startup yang berada di tahap pertumbuhan awal (early-growth stage).

    Yang melakukan penilaian juga banyak. Bukan hanya Telkomsel saja. Operator ini melakukan secara bersama-sama dengan MDI Ventures Telkom dan Singtel Innov8, sebuah corporate venture capital (CVC) milik Singtel.

    Telkomsel juga tidak akan turun langsung, operator ini akan melibatkan anak perusahaan baru yang dimiliki 100% oleh Telkomsel bernama Telkomsel Mitra Inovasi (TMI). TMI bertugas melakukan aktivitas investasi serta proses sinergi dan kolaborasi di berbagai unit bisnis Telkomsel untuk mendorong aspek transformasi digital perusahaan dalam rangka mengakselerasi pengembangan berbagai layanan baru, meningkatkan pengalaman pelanggan dan optimalisasi proses bisnis perusahaan.

    TMI inilah nanti yang akan melakukan invetasi pada perusahaan baru yang menjanjikan dan memiliki potensi bekerjasama secara sinergis dalam mengakselerasi pertumbuhan perusahaan tersebut dengan memanfaatkan akses pada ekosistem, aset, dan kompetensi yang dimiliki Telkomsel.

    “Kami menyadari bahwa Asia Tenggara merupakan kawasan yang berkembang dengan sangat cepat, kolaborasi kami bersama MDI Ventures Telkom dan Singtel Innov8 melalui TMI akan  memberikan Telkomsel kemampuan untuk menghadirkan engagement model yang lebih fleksibel, responsif dan dapat diandalkan bagi startup yang mencari akses ke permodalan strategis kami, dan di saat bersamaan juga dapat menghadirkan user experience yang lebih baik dengan kerjasama yang saling menguntungkan dalam jangka panjang,” ujar Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel.

    Ririek kemudian menambahkan bahwa TMI diharapkan dapat berperan sebagai sarana untuk mengakses berbagai peluang baru yang menarik di sektor teknologi.

    “Kami bekerja sama dengan startup dalam membangun rencana strategis dan eksekusi operasional untuk memaksimalkan nilai jangka panjang. Kami selalu mencari cara untuk memanfaatkan aset Telkomsel dan memposisikannya untuk bisa dikembangkan dengan cara yang berbeda. Banyak market insights yang dapat kami berikan dari perspektif enterprise dan consumer di Indonesia. Kami juga dapat membantu meningkatkan corporate awareness dalam ekosistem bisnis digital,” ujar Andi Kristianto, Chief Executive Officer (CEO) TMI.

    “Dalam tiga tahun terakhir, kami berkembang dari sebuah CVC eksperimental menjadi kendaraan pertumbuhan untuk Telkom Indonesia. Kami memiliki satu exit IPO di TSE (Tokyo Stock Exchange), dan dua trade sales exit dalam jangka waktu tiga tahun, selain berkontribusi pada top line dan bottom line bagi Telkom Metra Holding. Kami antusias dapat berkolaborasi dengan TMI untuk berpartisipasi dalam pendanaan ini dan bekerja dalam berbagai sektor telekomunikasi digital,” kata Nicko Widjadja, CEO MDI Ventures.

    Sedangkan CEO Singtel Innov8, Edgar Hardless mengatakan, “Secara global, Innov8 hadir guna mencari berbagai startup dengan teknologi dan solusi yang mutakhir dan disruptif. Kami melihat bahwa dalam perjalanan mereka, banyak startup yang memiliki ketertarikan yang semakin besar untuk dapat mengembangkan bisnisnya ke Asia Tenggara, mengingat ukuran dan potensi pertumbuhan di kawasan ini. Telkomsel, dengan kehadirannya yang kuat di pasar Indonesia, memiliki posisi yang tepat untuk membantu startup agar mendapatkan akses ke Indonesia. Kami menantikan untuk dapat bekerja sama dengan TMI.”

    Berkolaborasi dengan startup bukanlah hal yang baru bagi Telkomsel. Sejak 2015, lebih dari 5.000 startup dari 20 kota di Indonesia telah mendapatkan akses kepada sumber daya Telkomsel melalui program The NextDev. Pada tahun 2018, Telkomsel juga meluncurkan program inkubasi untuk internet of things (IoT) bernama Telkomsel Innovation Center (TINC), yang bertujuan untuk  membantu mereka mengeksekusi strategi go-to-market dan meningkatkan kapabilitas teknis produk mereka. (Icha)

  • IoT INTANK Solusi Monitoring bahan Bakar Jarak Jauh

    IoT INTANK Solusi Monitoring bahan Bakar Jarak Jauh

    Telko.id – Bagi beberapa industry, masalah monitoring bahan bakar menjadi perhatian khusus. Pasalnya, bahan bakar (fuel) telah menjadi komoditas utama yang sangat menentukan proses bisnis berbagai perusahaan. Itu sebabnya, Pertamina Patra Niaga dan Mitratel bekerjasama dengan Telkomsel luncurkan INTANK atau  IoT Intelligent Tank Monitoring System, solusi berbasis IoT untuk Fuel managamen.

    Di mana, INTANK ini berfungsi untuk memonitor tangki dari jarak jauh (remote tank monitoring) yang memungkinkan pemantauan inventaris dan konsumsi bahan bakar secara intensif kapanpun, dari manapun.

    Dengan menggunakan INTANK, harapannya, biaya operasi pengelolaan bahan baku bernilai tinggi ini bisa turun. Masalah tentang keterbatasan akses pada situs tangki bahan bakar, pengukuran manual, akurasi rendah, inefisiensi rantai pasokan, biaya pemeliharaan yang tinggi, hingga kehilangan inventori bisa diatasi.

    “Tren IoT sekarang ini tengah berkembang secara global. Oleh karenanya, Telkomsel secara konsisten meningkatkan kesiapan teknologi dan jaringan sebagai bagian dari upaya mengakselerasi terbentuknya ekosistem IoT di Indonesia. Upaya ini merupakan salah satu bentuk dukungan Telkomsel bagi roadmap pemerintah Indonesia yaitu ‘Making Indonesia 4.0’ dalam rangka memasuki era ‘Industry 4.0’, dimana aspek penguasaan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi menjadi kunci penentu daya saing Indonesia,” ungkap Dharma Simorangkir, SVP Enterprise Account Management Telkomsel.

    Solusi INTANK akan membantu Pertamina Patra Niaga dan  Mitratel dalam berbagai use case yang berbeda. Pertamina Patra Niaga (PPN) adalah anak perusahaan Pertamina yang menjalankan dan mengembangkan kegiatan usaha di sektor hilir industri minyak dan gas bumi (migas) Indonesia yang mencakup kegiatan pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, dan niaga migas.

    Perusahaan ini mengimplementasikan INTANK untuk memonitor persediaan bahan bakar pada tangki penyimpanan terminal (terminal storage), sensor meter pada jalur distribusi, serta CCTV pada titik transfer kustodi.

    PPN sendiri telah mengembangkan solusi digital bernama Pertamina Smart MT (mobil tangki). Implementasi layanan IOT INTANK & Fleetsight dari Telkomsel  telah menjadi lokomotif inovasi bagi Pertamina Smart MT, menjadikannya lebih optimal dalam menjaga persediaan dan melakukan distribusi bahan bakar minyak bagi para konsumennya.

    Sedangkan Mitratel merupakan anak perusahaan Telkom yang bergerak dalam bisnis penyediaan menara pemancar telekomunikasi dan infrastruktur terkait. Mitratel memanfaatkan sensor INTANK untuk memonitor konsumsi dan persediaan bahan bakar pada site infrastruktur telekomunikasi yang menggunakan genset sebagai cadangan energi.

    Hal ini sangat penting untuk menjaga agar infrastruktur telekomunikasi pelanggan Mitratel dapat beroperasi dengan optimal tanpa terhambat pasokan energi. Implementasi INTANK oleh Mitratel juga menandai proses digitalisasi operasional bisnis Mitratel, menjadikan Mitratel sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi paling inovatif di kelasnya.

    Layanan INTANK juga telah memasuki tahap uji implementasi di perusahaan lain yang berasal dari berbagai industri berbeda, yaitu Semen Merah Putih (industri semen), Pamapersada Nusantara (industri kontraktor pertambangan), dan Kapuas Prima Coal Tbk (industri pertambangan).

    Produsen semen premium, Semen Merah Putih, mengimplementasikan INTANK untuk memonitor persediaan bahan bakar dari jarak jauh pada terminal storage dan tangki bahan bakar truk pencampur semen secara real-time.

    Pamapersada Nusantara, perusahaan yang bergerak dalam bisnis kontraktor pertambangan, solusi INTANK diimplementasikan untuk memonitor ketersediaan bahan bakar pada storage tank yang akan didistribusikan untuk operasional, memonitor lokasi kapal distribusi bahan bakar, dan juga untuk memonitor ketinggian air sungai yang dilalui oleh kapal tersebut.

    Sedangkan Kapuas Prima Coal TBK, perusahaan yang bergerak dalam bidang penambangan Galena (PbS), melakukan implementasi INTANK untuk memonitor volume bahan bakar pada mobil truk yang mendistribusikan bahan bakar dari pelabuhan ke site pertambangan dan juga memonitor ketersediaan bahan bakar pada storage tank di pelabuhan.

    Dharma kemudian menjelaskan bahwa pemanfaatan solusi IoT INTANK diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi ketiga perusahaan tersebut untuk menjadi pemain terdepan di industrinya masing-masing, sekaligus mengakselerasi perkembangan ekosistem IoT di Indonesia.

    “Telkomsel sangat bangga akan kepercayaan yang telah diberikan oleh berbagai perusahaan atas layanan solusi digital inovatif dari Telkomsel untuk membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi dan kinerja bisnis perusahaan mitra bisnis Telkomsel. Solusi IoT Telkomsel selama ini telah dipercaya untuk melayani mitra dari berbagai industri. Hal ini menjadi bukti kapabilitas Telkomsel sebagai  digital telco company yang senantiasa menghadirkan layanan dan solusi digital terkini bagi semua lapisan masyarakat, termasuk pebisnis.”, tutup Dharma. (Icha)

  • Advan Siap Masuk Ke Pasar IoT Pada Semester Satu 2019

    Advan Siap Masuk Ke Pasar IoT Pada Semester Satu 2019

    Telko.id – Internet of Things mulai menjadi trend saat ini. Semakin banyak perusahaan maupun smart city yang membutuhkan. Di Indonesia sendiri IoT ini diperkirakan akan menjadi pasar yang besar. Tak pelak, Advan pun tergiur untuk masuk ke bisnis ini.

    Berdasarkan informasi dari IoT Forum Indonesia, pangsa pasar IoT di Indonesia diprediksi mencapai Rp 444 triliun pada 2022, dengan lebih dari 400 juta perangkat sensor terpasang.

    Secara rinci, angka ini terdiri dari konten dan aplikasi sebesar Rp 192,1 triliun, disusul platform sebesar Rp 156,8 triliun, perangkat IoT sebesar Rp56 triliun, serta network dan gateway sebesar Rp 39,1 triliun.

    Berdasarkan itu juga, Advan melihat bahwa peluang untuk masuk ke pasar IoT ini akan menjanjikan. Bahkan, saat ini vendor smartphone lokal yang sempat berada di posisi ketiga besar tahun lalu itu sudah menggodok secara bisnis untuk masuk ke IoT.

    “Kira-kira tahun ini kita akan masuk ke bisnis IoT. Tapi masih dalam penggodokan,” ujar Andy Gusena, Managing Director dan Pendiri Endee Communication yang juga menjadi konsultan marketing nya Advan.

    Andy melanjutkan bahwa saat ini masih melihat-melihat juga produk IoT apa yang berkembang di Cina. Pasalnya, produksi produk-produk IoT di Cina juga sudah mulai berkembang pesat. Tapi mungkin tidak semua nya cocok atau pas dipasarkan di Indonesia.

    “Kami juga masih mempertimbangkan, apakah akan menggunakan brand yang sama, Advan, atau menggunakan brand lain. Jangan sampai, bisnis baru ini mengganggu bisnis yang sudah ada atau bahkan menarik ke bawah,” ujar Andy.  (Icha)

     

     

     

     

  • Belanja IoT Dunia Pada 2019 Akan Mencapai $ 745 Miliar

    Belanja IoT Dunia Pada 2019 Akan Mencapai $ 745 Miliar

    Telko.id – Berdasarkan laporan dari Internasional Data Corporation (IDC) bertajuk Worldwide Semiannual Internet of Things Spending Guide, pengeluaran seluruh dunia untuk Internet of Things (IoT) diperkirakan akan mencapai $ 745 miliar pada tahun 2019, meningkat 15,4% dari $ 646 miliar yang dihabiskan pada tahun 2018.

    Kondisi tersebut akan didominasi oleh Sektor Manufaktur, Konsumen, Transportasi, dan Utilitas.

    “Adopsi IoT terjadi di berbagai industri, di pemerintahan, dan dalam kehidupan sehari-hari konsumen. Kami semakin mengamati bagaimana data yang dihasilkan oleh perangkat yang terhubung membantu bisnis berjalan lebih efisien, mendapatkan wawasan tentang proses bisnis, dan membuat keputusan waktu nyata. Untuk konsumen, akses ke data mengubah cara mereka untuk mengetahui status rumah tangga, kendaraan, dan anggota keluarga serta kesehatan dan kebugaran mereka sendiri, “kata Carrie MacGillivray, Vice President Internet of Things and Mobility IDC.

    Carrie menambahkan bahwa “saat ini merupakan mulainya babak baru dari IoT. Di mana kita melihat peralihan dari secara digital yang memungkinkan fisik menjadi otomatisasi dan menambah pengalaman manusia yang terhubung dengan dunia.”

    Pada tahun 2019 ini, industri yang diperkirakan menghabiskan paling banyak untuk solusi IoT adalah produksi diskrit ($ 119 miliar), proses manufaktur ($ 78 miliar), transportasi ($ 71 miliar), dan utilitas ($ 61 miliar).

    Pengeluaran IoT di antara produsen sebagian besar akan difokuskan pada solusi yang mendukung operasi manufaktur dan manajemen aset produksi.

    Sedangkan pada transportasi, lebih dari setengah pengeluaran IoT akan digunakan untuk pengawasan pengiriman, diikuti oleh manajemen armada.

    Dalam industry utilitas, pengeluaran IoT akan didominasi untuk smart grid listrik, gas, dan air.

    Namun, industri ini yang memiliki tingkat pertumbuhan tahunan gabungan tercepat (CAGR) selama periode perkiraan lima tahun adalah asuransi (17,1%), pemerintah federal / pusat (16,1%), dan perawatan kesehatan (15,4%).

    “Pengeluaran konsumen IoT akan mencapai $ 108 miliar pada tahun 2019, menjadikannya segmen industri terbesar kedua. Kasus penggunaan pada konsumen terutama yang terkait dengan rumah pintar, kesehatan pribadi, dan infotainment kendaraan yang terhubung,” kata Marcus Torchia, direktur riset, Customer Insights & Analisis.

    “Di dalam rumah pintar, otomatisasi rumah dan peralatan pintar akan mengalami pertumbuhan pengeluaran yang kuat selama periode perkiraan dan akan membantu menjadikan konsumen segmen industri yang tumbuh tercepat secara keseluruhan dengan CAGR lima tahun sebesar 17,8%,” ujar Marcus menambahkan.

    Kasus penggunaan IoT yang memiliki tingkat investasi terbesar pada 2019 didorong oleh pengeluaran industri: operasi manufaktur ($ 100 miliar), manajemen aset produksi ($ 44,2 miliar), rumah pintar ($ 44,1 miliar), dan pemantauan pengiriman barang ($ 41,7 miliar) ).

    Kasus penggunaan IoT yang diharapkan memberikan pertumbuhan belanja tercepat selama periode perkiraan 2017-2022 memberikan gambaran di mana industri lain melakukan investasi IoT. Hal ini termasuk otomatisasi fasilitas bandara (transportasi), pengisian kendaraan listrik (utilitas), pemantauan bidang pertanian (sumber daya), bedside telemetry (Healthcare), dan pemasaran kontekstual di dalam toko (ritel).

    Layanan IoT akan menjadi kategori teknologi terbesar pada 2019 dengan $ 258 miliar digunakan untuk layanan TI dan instalasi tradisional serta perangkat non-tradisional dan layanan operasional.

    Pengeluaran perangkat keras akan mendekati $ 250 miliar dipimpin oleh lebih dari $ 200 miliar dalam pembelian modul / sensor. Pengeluaran perangkat lunak IoT akan berjumlah $ 154 miliar pada 2019 dan akan melihat pertumbuhan tercepat selama periode perkiraan lima tahun dengan CAGR 16,6%. Pengeluaran layanan juga akan tumbuh lebih cepat daripada pengeluaran IoT keseluruhan dengan CAGR 14,2%. Pengeluaran konektivitas IoT akan berjumlah $ 83 miliar pada tahun 2019.

    IDC juga melaporkan bahwa Amerika Serikat dan Cina akan menjadi pemimpin global untuk pengeluaran IoT pada 2019 masing-masing dengan $ 194 miliar dan $ 182 miliar. Dikuti oleh Jepang ($ 65,4 miliar), Jerman ($ 35,5 miliar), Korea ($ 25,7 miliar), Prancis ($ 25,6 miliar), dan Inggris ($ 25,5 miliar).

    Sedangkan negara-negara yang akan melihat pertumbuhan pengeluaran IoT tercepat selama periode perkiraan semuanya berada di Amerika Latin: Meksiko (28,3% CAGR), Kolombia (24,9% CAGR), dan Chili (23,3% CAGR).

    Internet Semiannual Worldwide of Spending Guide Internet juga meramalkan pengeluaran IoT untuk 14 kategori teknologi dan 82 kasus penggunaan di 20 industri di sembilan wilayah dan 53 negara. Tidak seperti penelitian lain di industri ini, panduan belanja komprehensif dirancang untuk membantu vendor memahami dengan jelas peluang spesifik industri untuk teknologi IoT saat ini. (Icha)

     

  • Konsultasi Publik RPM Untuk Dukung Internet of Things Di Indonesia

    Konsultasi Publik RPM Untuk Dukung Internet of Things Di Indonesia

    Telko.id – Akhirnya, ancang-ancang regulasi pemerintah yang mendukung internet of things keluar juga. Walaupun baru dalam tahap konsultasi Rancangan Peraturan Menteri, paling tidak memberikan angin segar bagi pemain IoT di Indonesia.

    Salah satu teknologi yang dipilih oleh pemerintah untuk mendukung implementasi IoT di Indonesia adalah Low Power Wide Area (LPWA). Jadi dalam pengumuman konsultasi Rancangan Peraturan Menteri berisikan tentang Persyaratan Teknis Alat dan/atau Perangkat Telekomunikasi LPWA.

    Mulai dari persyaratan teknis alat dan/atau perangkat LPWA yang berbasis pita frekuensi non seluler; dan berbasis pita frekuensi seluler. Sampai peraturan tentang alat dan perangkat telekomunikasi LPWA wajib factory lock hanya pada pita frekuensi kerja yang diperbolehkan, dan factory lock wajib permanen/tidak bisa dihilangkan.

    Dalam Rancangan Peraturan Menteri ini memiliki 3 Lampiran yaitu Lampiran I mengenai persyaratan teknis Alat dan/atau Perangkat Low Power Wide Area berbasis pita frekuensi non seluler; Lampiran II mengenai persyaratan teknis Alat dan/atau Perangkat subcriber station Low Power Wide Area berbasis pita frekuensi seluler; dan Lampiran III mengenai persyaratan teknis Alat dan/atau Perangkat base station Low Power Wide Area berbasis pita frekuensi seluler.

    Kementerian Kominfo memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan tanggapan atas Rancangan Peraturan dimaksud. Adapun tanggapan dan masukan dapat disampaikan melalui email siti008@kominfo.go.id,  adem001@kominfo.go.idfaja001@kominfo.go.idaria001@kominfo.go.id.  Batas waktu akhir untuk tanggapan dan masukan pada hari Rabu tanggal 9 Januari 2019. (Icha)

     

     

  • Potensi dan Pernak-pernik IoT di Indonesia

    Potensi dan Pernak-pernik IoT di Indonesia

    Telko.id – Internet of Things atau IoT, memang digadang-gadang bakal banyak yang menggunakan. Apalagi dalam industry 4.0. Di mana, IoT ini menjadi salah satu teknologi digital yang akan banyak dipakai.

    Bagaimana dengan potensi pasar IoT di Indonesia? Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, pangsa pasar Internet of Things (IoT) di Indonesia diperkirakan berkembang pesat dan nilainya bakal mencapai Rp 444 triliun pada tahun 2022. Dari total potensi infrastruktur digital di Indonesia yang akan menciptakan peluang bisnis baru hingga USD150-200 miliar pada tahun 2025-2030 (McKinsey & Company).

    Nilai tersebut disumbang dari konten dan aplikasi sebesar Rp 192,1 triliun, disusul platform Rp 156,8 triliun, perangkat IoT Rp 56 triliun, serta network dan gateway Rp 39,1 triliun.

    Menperin menjelaskan, terdapat lima teknologi digital sebagai fundamental dalam penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia, yaitu IoT, artificial intelligence, wearables (augmented reality dan virtual reality), advanced robotics, dan 3D printing. “Jadi, hari ini kita fokus pada internet of everythings. Ini yang harus dikuasai oleh generasi muda kita,” ujarnya.

    Airlangga menuturkan, IoT merujuk pada jaringan perangkat fisik, kendaraan, peralatan rumah tangga, dan barang-barang lainnya yang ditanami perangkat elektronik, perangkat lunak, sensor, aktuator, dan konektivitas.

    “Semuanya memungkinkan untuk terhubung dengan jaringan internet maupun mengumpulkan dan bertukar data,” ujarnya di Jakarta.

    Pada periode yang sama, berdasarkan data Indonesia IoT Forum, kemungkinan ada sekitar 400 juta perangkat sensor yang terpasang, sebesar 16 persen di antaranya terdapat pada industri manufaktur, 15% persen di sektor kesehatan, 11% asuransi, 10% perbankan dan sekuritas, serta sektor ritel, gosir, perbaikan komputer masing-masing 8%.

    Selanjutnya, sekitar 7% di pemerintahan, 6% transportasi, 5% utilities, serta real estate and business services and agriculture masing-masing 4%, dan sisanya 3% untuk perumahan dan lain sebagainya.

    Dilihat dari potensi nya memang sangat besar IoT di Indonesia ini. Sayang, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terkait regulasi agar ekosistem teknologi ini pun dapat terbentuk, berkembang dan tumbuh.

    Regulasi Yang mengatur Spektrum Frekuensi dan Standar IoT Belum Keluar Juga

    Regulasi untuk spectrum frekuensi dan standarisasi IoT sudah cukup lama digodok oleh pemeritah. Setidaknya, 2 tahun belakang, kerap dilakukan diskusi sebagai bahan refernsi pemerintah dalam melakukan penggodokan.

    Pemerintah sendiri berjanji, tidak akan lama lagi, aturan tentang spectrum frekuensi dan standar IoT di Indonesia akan dikeluarkan. Setidaknya, tahun ini sudah keluar dalam bentuk Peraturan Menteri.

    Menurut Direktur Standardisasi Perangkat Pos dan Informatika Mochamad Hadiyana mengatakan beleid tersebut ditargetkan bisa dirilis pada tahun ini karena proses pembahasan telah selesai.

    Sebagai gambaran, dari sisi spektrum frekuensi terdapat dua kategori yakni berizin dan tak berizin.

    Untuk kategori berizin, Band 1 yakni di 2.100 MHz, Band 3 yaitu 1.800 MHz, Band 5 dengan 800 MHz, Band 8 dengan 900 MHz juga Band 31 di 450 MHz dan Band 40 di 2.300 MHz.

    Sementara itu, untuk kategori tak berizin terdapat 2,4 GHz, 5,8 GHz dan di rentang  919—925 MHz yang masih dalam kajian karena dikhawatirkan mengganggu operasi di jaringan seluler.

    “Kami segera mengeluarkan frekuensinya. Untuk perangkat LPWA (low power wide area) kami bagi dua, ada yang di-support jaringan seluler. Kalau untuk perangkat non-3GPP bisa menggunakan frekuensi yang tidak berizin. Tahun ini, Insyaallah kami ingin menyelesaikan sesegera mungkin,” ujar Hadiyana beberapa waktu lalu.

    Menurutnya, frekuensi berizin adalah merupakan frekuensi eksis sehingga operator seluler bisa menggunakan frekuensi yang dimiliki. Adapun, pengaturan spektrum frekuensi tersebut diatur mengikuti dengan peranti IoT yang beredar di pasar.

    Untuk peranti yang menggunakan jarak jauh terdapat standar 3GPP dan non-3GPP. Peranti dengan standar 3GPP di antaranya adalah LTE Advanced, LTE M, dan NB IoT. Sementara itu, untuk kategori non-3GPP, Lora dan Sigfox.

    Khusus frekuensi tak berizin, dia menyebut akan dilakukan uji coba dalam waktu dekat untuk penggunaan spektrum frekuensi 919 MHz hingga 925 MHz. Jika ternyata terdapat gangguan, maka pihaknya harus mengubah menjadi 919 MHz hingga 924 MHz atau 919 MHz hingga 923 MHz.

    Palapa Ring Jadi Backbone Tumbuhnya IoT dan Industri Nasional

    Tidak lama lagi, proyek Palapa Ring yang digarap pemerintah akan selesai. Untuk Palapa Ring Barat sudah selesai tinggal digunakna. Sedangkan Palapa Ring Tengah dan Timur tahun depan siap digunakan.

    Proyek Palapa Ring atau sebuah proyek serat optik sepanjang 36 ribu kilometer di 440 kota di Indonesia. Menurut Airlangga, ini dilakukan demi mendukung tercapainya akses internet berkecepatan tinggi yang merata di tahun 2019.

    Dengan selesainya Palapa Ring di 2019, diharapkan permasalahan konektivitas di Indonesia bisa terselesaikan. Dengan begitu, tidak akan ada permasalahan dalam konektivitas IoT baik dengan konektivitas langsung dari end device ke server/cloud atau dari gateway ke server atau cloud.

    Airlangga mengatakan, teknologi IoT memang menjadi solusi. Bahkan, pengelola kawasan industri sudah memikirkan untuk segera mengembangkan teknologi ini sebagai pilot plant. “Dan, tentunya ini akan menjadi backbone untuk industri nasional ke depan,” katanya.

    IoT, Perlu SDM Seperti Apa?

    Pemerintah dalam mendorong bertumbuhnya IoT ini juga melihat kebutuhan akan SDMnya. Itu sebabnya, pemerintah terus berupaya memfasilitasi dan mengakselerasi peningkatan kualitas SDM guna menyesuaikan dengan dinamika IoT.

    Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika menjelaskan, pemerintah membutuhkan keterlibatan dan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk dari dunia usaha, akademisi dan masyarakat. Sebab, tantangan yang dihadapi beberapa tahun mendatang terkait IoT sangat beragam.

    “IoT ini membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni dan keahlian baru secara berkelanjutan,” ujarnya.

    Lalu, sebenarnya SDM seperti apa yang dibutuhkan? Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asia IoT Business Platform, menunjukkan 70% perusahaan besar dan perusahaan organisasi lokal bedang mengekplorasi penerapa IoT. Artinya, SDM yang memiliki kemampuan berkaitan dengen sistem atar teknologi IoT akan banyak dibutuhkan. Namun, kemampuan seperti apa yang dibutuhkan untuk berkolaborasi dalam IoT?

    IoT terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari hardware, jaringan, aplikasi dan software. Hardware merupakan komponen penting dalam IoT. Kemampuan untuk mengoperasikan hardware menjadi kemampuan yang penting. Kemampuan tersebut termasuk sensor, mikrokontroler, sistem embedded, dan sistem operasi.

    Dalam sistem IoT ini nantinya akan banyak sekali menggunakan sensor. Bahkan, dalam satu sistem akan menggunakan lebih dari satu buah sensor yang akan dikendalikan oleh mikrokontroler.

    Jadi, tenaga kerja dengan kemampuan menggunakan dan mendesain sistem operasi juga diperlukan karena pengguna akan banyak berhadapan dengan handphone.

    Bagaimana komponen berkomunikasi dan bertukar data merupakan proses yang penting pula. Dalam proses komunikasi data diperlukan orang-orang yang ahli dalam hal jaringan dan penyimpanan data.

    Jaringan yang tersedia juga harus bisa menghubungkan banyak perangkat ke Internet. Jaringan yang handal harus dapat mendesain sistem yang bebas dari kemacetan, kehilangan data, dan dengan kualitas pengiriman yang baik. Keahlian dalam big data, database, dan clouding pun dibutuhkan. Dan, tenaga ahli dibidang keamanan data pun menjadi faktor penting.

    Software dan aplikasi atau interface dengan pengguna juga merupakan komponen penting. Kedua hal ini mencakup computer science dan web design ntuk membuat interface yang user friendly dan mudah digunakan oleh pengguna. Diperlukan orang-orang yang berpotensi dalam bidang tersebut.

    Di samping kemampuan hardskill, tentu dibutuhkan kemampuan softskill. Kemampuan softskill seperti apakah yang dibutuhkan?

    Pertama dibutuhkan kemampuan kerja sama dalam tim. Karena IoT terdiri dari beberapa disiplin ilmu, dibutuhkan sebuah tim untuk mengembangkan IoT. Akan ada bermacam-macam orang dari latar belakang disiplin ilmu yang berbeda dalam sebuah tim. Toleransi, saling memahami, saling menghargai, dan empati dibutuhkan untuk membentuk sebuah tim yang baik.

    Kemampuan komunikasi yang baik juga diperlukan. Kemampuan tersebut termasuk di dalamnya komunikasi antar individu dalam satu tim dan public speaking. Ide yang bagus perlu dituangkan dan disampaikan dengan baik agar maksud dan tujuan dari ide tersebut dapat diterima dan dimengerti dengan baik pula, baik dengan tulisan maupun lisan.

    Terlebih, IoT merupakan teknologi yang membutuhkan berbagai disiplin ilmu. Dibutuhkan pula kemampuan yang bermacam-macam, baik hardskill maupun softskill. Dengan menguasai kemampuan tersebut, sumber daya manusia Indonesia dapat bersaing dalam mengembangkan IoT.

    7 Tantangan IoT di Indonesia

    Ada beberapa tantangan yang mungkin akan dihadapi ketika sebuah industri akan terjun pada produk berbasis IoT. Apa saja?

    1. Saat ini, pemahaman mengenai faktor keamanan dan privasi sangat rendah, padahal IoT ini memungkinkan setiap perangkat saling terhubung dan menjadi titik masuk yang rentan untuk berbagai serangan. Misalnya perangkat-perangkat yang harganya lebih murah bisa dipastikan lebih sensitif terhadap penyadapan yang melanggar aspek keamanan dan privasi.
    2. Integrasi yang sulit, dikarenakan keberagaman perangkat, platform, protokol yang berbeda-beda, dan ketiadaan standar untuk interkonektivitas.
    3. Kesulitan mengembangkan model bisnis atau solusi-solusi berbasis IoT yang menarik konsumen dan menguntungkan bagi pemain IoT.
    4. Ketersediaan infrastruktur jaringan yang berkualitas dan terjangkau yang jarang terdapat di Indonesia sangat membatasi penerapan IoT.
    5. Perangkat-perangkat IoT juga rawan dicuri di Indonesia, sehingga membutuhkan pengamanan ekstra, atau peletakan di tempat-tempat yang keamanannya tinggi.
    6. Ketersediaan catu daya yang handal juga membatasi pemanfaatan IoT, alternatifnya adalah dengan menambahkan baterai dan sel surya.
    7. Kebutuhan analisis data-data IoT yang berkapasitas besar, hal ini bisa jadi kendala besar, namun sekarang sudah ada solusi cloud yang mampu melakukan pemrosesan dan analisis data-data IoT.

    (Icha)

  • Melirik Tantangan Dan Kesiapan IOT Indonesia

    Melirik Tantangan Dan Kesiapan IOT Indonesia

    Telko.id – Perhelatan Asia IoT Business Platform 2016 resmi digelar. Bertempat di JW Marriot Hotel Jakarta, kegiatan yang berlangsung selama dua hari yakni pada tanggal 15-16 Agustus ini membahas tentang berbagai peluang serta tantangan dalam pengadopsian IoT di Indonesia.

    Indonesia yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 235 juta jiwa dan 297 juta pelanggan seluler. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara keempat di dunia jika dilihat dari segi populasi. Dengan banyaknya penduduk, hadirnya IOT bisa menjadi sebuah solusi besar terhadap setiap permasalahan yang kerap terjadi di masyarakat seperti kemacetan lalu lintas, kriminalitas, hingga konektivitas.

    Asia IoT Business Platform 2016 merupakan suatu perhelatan konferensi dan pameran tertutup, dan suatu platform bagi para pengambil keputusan, baik dari pihak penyedia layanan maupun perusahaan, untuk bertemu dan bertukar pikiran dalam rangka mendorong dan membangun solusi-solusi teknologi cerdas demi mengatasi tantangan bisnis dan masalah-masalah sosial.

    Pertemuan ini diharapkan memberi dampak nyata bagi produktivitas dan pertumbuhan teknologi di ASEAN. Hal ini termasuk peningkatan produktivitas perusahaan-perusahaan swasta dan publik, serta pemanfaatan TIK dan jaringan untuk mengatasi permasalahan di kota-kota besar.

    Oleh karena itu, pertemuan strategis ini akan berfokus pada perusahaan telekomunikasi lokal, lembaga pemerintahan, pelaku usaha, serta para pengguna akhir.

    “IOT terlalu besar untuk selektif di beberapa sektor saja. Kita percaya, dengan menghadirkan IOT ke pada masyarakat, akan mampu meningkatkan digital ekonomi dan itu menjadi tujuan XL dalam menghadirkan IOT, ” ujar Arifa Febriyanti, Kepala Divisi IOT XL Axiata.

    Sementara itu, Marina Kacaribu selaku VP Enterprise Digital Service Telkomsel mengungkapkan, smart city menjadi sebuah peluang, namun perlu diperhatikan juga bahwa setiap kota memiliki permasalahan yang berbeda. IOT merupakan sebuah peluang mulai dari productivity, solusi hingga smart city.

    DSC_0194

    Tantangan

    Sementara berbicara mengenai tantangan, Hendra Sumiarsa selaku Head of M2M Indosat perwakilan Indosat Ooredoo menjelaskan bahwa tantangan mereka adalah bagaimana menemukan model bisnis yang tepat untuk IOT.

    “Tantangan kami adalah bagaimana menemukan bisnis model yang tepat dan menemukan klien yang tepat. Kami harus kerja bersama dengan berbagai stakeholder dan berkolaborasi agar semuanya bersinergi,” ujar Hendra.

    Sementara itu, Marina menegaskan, bahwa tantangan terbesar adalah merubah pola pikir dan bisnis model darti tiap perusahaan yang bermain di ranah IOT.

    “Tantangan terbesar menurut kami adalah merubah pola pikir dan juga merubah bisnis model karena jika melihat bisnis model dari sektor telko, anda tidak hanya membeli sebuah volume, melainkan performance dari solusi yang anda gunakan,” ujar Marina.

    Sementara bagi Arifa Febriyanti, Kepala Divisi IoT XL Axiata menekankan bahwa solusi Telco memainkan peran yang sangat penting dalam dunia IOT.

    “Kita bisa menyediakan solusi untuk layanan IoT. Untuk pelanggan, tidak ada kerumitan bagi mereka saat menggunakan solusi IoT karena perusahaan telekomunikasi sebagai penyedia solusi untuk IoT telah menyediakan segala sesuatu mulai dari konektivitas, aplikasi dan perangkat, serta semua sensor yang menyediakan layanan secara total,” tambah Arifa

    Sejak tahun 2015, Industri TIK di Indonesia masih di dominasi oleh sektor telekomunikasi, namun sejatinya TIK bukan hanya dari telko semata, melainkan juga banyak sektor seperti aplikasi dan industri kreatif dengan startup digital mereka. Kominfo sendiri selaku pihak regulator saat ini mereka tengah membentuk startup digital yang ada di berbagai sektor untuk menunjang IOT.

    Produk

    Indosat menyediakan produk horizontal seperti platform IOT, engine big data analitik, Cloud. Sementara produk vertical, mereka melihat growth nya dimana dan key sektornya dimana. Sampai dengan saat ini ada di sektor transportasi, utilitas dan konsumer. Sementara mengenai pertumbuhan, Indosat menargetkan pertumbuhan IOT diatas jasa layanan yang lain.

    Sementara XL, mereka tengah membangun ekosistemnya, selain menyediakan vertical produk. Mereka membangun ekosistem ini secara berkesinambungan.

    Sedangkan untuk Telkomsel, mereka juga sama seperti kedua operator tadi, namun mereka lebih menggali lebih dalam dengan para konsumer untuk mendeliver apa yang mereka inginkan.

    “Kita percaya, potensi besar ada di Indonesia, tapi again, bagaimana kita bisa mengaggregasikannnya dan memberikan manfaat bagi para pelanggan,” ujar Marina.

  • Dampak IoT Terhadap Ekonomi Regional

    Dampak IoT Terhadap Ekonomi Regional

    Telko.id – Internet of Things menjanjikan akan saling menghubungkan 20 miliar object pada tahun 2020 mendatang. Dilihat dari angka nya saja, tentu sangat menjanjikan. Namun, keberhasilan dari IoT ini tergantung berbagai aspek. Salah satu yang menjadi kunci sukses dan akan memberikan dampak terhadap ekonomi regional adalah perencanaan yang dipimpin pemerintah. Hal ini akan menjadi kekuatan besar dan dominan dalam perencanaan IoT dalam sebuah negara. Sambil, saat ini IoT pun mencari bentuk.

    Hal ini juga didukung oleh berbagai riset yang sudah banyak dilakukan tentang IoT ini. Misalnya, McKinsey & Company, menganalisa bahwa bisnis IOT itu akan mampu memberikan dampak ekonomi tahunan antara $ 4 Triliun hingga $ 11 Triliun pada tahun 2025 mendatang. Dalam penelitinya McKinsey mengurutkan secara vertikal industri yang memberikan nilai paling ekonomi: pabrik, kota, manusia, ritel, transportasi logistik, manajemen proyek, kendaraan, rumah dan kantor.

    Markets and Markets menganalisa bahwa kawasan Asia-Pacific akan terus menjadi memimpin, seperti juga pada tahun 2014 lalu. “Hal ini juga diprediksi akan terus terjadi dan akan terlihat pada sektor manufaktur, pertambangan, kesehatan, dan energi dan power. Di kawasan APAC ini, Cina akan memegang peranan penting dalam pengembangan IoT karena pangsa pasar nya besar. Diikuti oleh India yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan tertinggi,” ujar Analis dari Market and Markets menjelaskan.

    Beberapa kelompok yang akan banyak muncul pada era IoT ini adalah perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat. Dan, akan menjadi pemimpin juga diindutsri IoT di kawasan APAC. Perusahaan tersebut diantaranya adalah General Electric, Cisco, Intel, Rockwell Automation, ARM, ABB, Siemens, Honeywell International, Dassault, Huawei, Zebra Technologies, IBM dan Robert Bosch.

    Lalu, mengapa Cina akan memimpin IoT? Banyak pengamat industri melihat bahwa program pemerintah ‘Made in China 2025” yang dicanangkan dan dirancang untuk mendorong inovasi menjadi point penting. Diperkirakan, ada 10 manufaktur yang masuk dalam rancangan tersebut. Seperti advanced IT, automated machines and robotics, aerospace, maritime, rail, new energy, power, agriculture, new materials, dan biopharma/medicine.

    Program ‘Made in China 2025 ini diresmikan oleh Departemen Perindustrian dan Teknologi Telekomunikasi sejak 2013. “Jika kita tidak bisa membuat produk dengan kualitas yang baik dan merek, Cina tidak akan bisa menjadi lokomotif manufaktur seperti yang kita harapkan,” jelas Sha Nansheng, MIIT Departemen wakil direktur Sains dan Teknologi dalam sebuah wawancara tahun lalu.

    Salah satu point dalam program pemerintah Cina tersebut adalah peningkatan konten dalam negeri dalam komponen inti dan bahan barang yang diperoduksi mencapai 40% pada tahun 2020. Dan akan terus ditingkatkan sehingga mampu mencapai 70% pada tahun 2025.

    Target pemerintah Cina dari program tersebut, seperti yang dilansir dari The New York Times, adalah untuk mendorong terjadinya transformasi ekonomi. Ada dua bidang yang menjadi fokus dari pemerintah Cina ini. Pertama adalah Internet Plus untuk insentif internet dan e-Commerce yang berhungan bisnis dan Made in China 2025 untuk meningkatkan fasilitas manufaktur Cina. Agar lebih fokus, pada tahun lalu, Cina telah memotong jutaan ton kapasitas produksi berlebih dalam baja, kaca dan aluminium dan tidak efisien industri berat lainnya.

    Seperti China di wilayah APAC, Jerman di kawasan Europe, Middle East and Africa atau EMEA juga memiliki posisi terdepan untuk urusan IoT ini, terutama dalam mengotomisasi manufaktur.

    Jerman sendiri memiliki Industrie 4.0 Initiative. Program pemerintah yang merencanakan Revolusi Industri ke empat. “Awal, yang menjadi fokus adalah semikonduktor ditingkat sistem elektronik mikro. Kini, Jerman Industrie 4.0 adalah program untuk memanfaatkan basis manufaktur yang ada di negara itu untuk menjadi episentrum produksi “pabrik pintar,” ujar Angela Merkel, Kanselir Jerman menjelaskan.

    Jerman, dan Eropa pun pada umumnya juga memiliki jaringan IoT yang kuat. Hal ini terjadi berkat perusahaan Sigfox yang membawa Low power, wide-area network ke Jerman untuk mendukung Industrie 4.0. Jaringan Sigfox ini sendiri aktif dan akan dikembangkan lagi di 13 negara lain, termasuk Amerika Serikat.

    “Jerman merupakan pasar yang sangat penting bagi Sigfox dan komitmen kami untuk menyebarkan jaringan nasional mencerminkan ini,” kata Stuart Lodge, EVP untuk penjualan global dan mitra di Sigfox. “Sigfox adalah membangun ekosistem yang kuat dari mitra di seluruh rantai nilai IOT dan Jerman memiliki banyak perusahaan yang memimpin pasar yang pengaruhnya meluas di seluruh dunia,” sahut Stuart menambahkan.

    Dalam laporannya, IDC melihat prospektif lanskap IoT secara global di 2016, menyatakan bahwa APAC akan menguasai 5.4 juta peralatan yang terinstall IoT. Di Amerika Utama akan mencapai 5.2 juta dan di Eropa Barat akan mencapai 4.5 juta.

    Tim riset IDC mengindifikasikan bahwa pasar utama yang kini sedang dalam pengembangan berkelanjutan adalah smart cities, smart houses dan smart cars, connectivity infrastructure, connected culture, dan lainnya.

    45130451_l-1

    Salah satu yang menjadi kunci agar IoT ini dapat sukses adalah standarisasi global yang sampai saat ini masih belum terbentuk. Untuk penentuan standarisasi ini perlu beberapa poin sehingga akhirnya akan membentu ekosistem. Pertama adalah global scalability, ekosistem untuk pengembangan aplikasi, prioritas dalam mengembangkan daerah bersaing dan masalah keamanan / privasi.

    Dari sisi ekosistem itu sendiri, IDC memberikan catatan bahwa ada beberapa kendala yang membuat ekosistem belum terbentuk. Pertama adalah protokol konektifitas standar yang resmi dan dapat diterima oleh semua kalangan. Kedua adalah masalah privasi dan keamanan yang saat ini sangat memprihatinkan.

    Di sisi lain, pasar juga sedang mengalami proses pengembangan. Di mana, dulu pasar dikendalikan oleh supply driven sedang kini harus dikembangkan berdasarkan demand driven. Sehingga, apapun yang diproduksi oleh IoT ini memang sesuai dengan kebutuhan pada konsumen. (Icha)