Kategori: IoT

  • Jaringan Masih Belum Dapat Penuhi Kebutuhan IoT di 2020

    Jaringan Masih Belum Dapat Penuhi Kebutuhan IoT di 2020

    Telko.id – Lonjakan kebutuhan konsumen dan bisnis akan konten selular, baik untuk penggunaan di rumah maupun bergerak, akan mengalahkan kemampuan para service provider memenuhi kebutuhan tersebut kecuali jika investasi di bidang-bidang seperti 5G dan cloud dipercepat, menurut laporan Bell Labs Consulting, sebuah divisi dari Nokia Bell Labs. Laporan fokus pada masa depan jejaring nirkabel untuk era digital baru dengan menawarkan sebuah perspektif unik dari kebutuhan intrinsik akan kapasitas nirkabel hingga tahun 2020. Laporan menganalisa kebutuhan layanan-layanan dan konten digital masa depan, daripada hanya melihat ke masa lalu dan trend-trend traffic selular saat ini.

    Laporan ini mengidentifikasi lima area aplikasi: – streaming, computing, storing, gaming dan communicating – Bell Labs Consulting menemukan bahwa streaming audio dan video adalah kontributor tertinggi terhadap peningkatan kebutuhan traffic di tahun-tahun mendatang, mewakili 79 persen dari total kenaikan di tahun 2020.

    Model-model dari Bell Labs Consulting menunjukkan bahwa di tahun 2020, 67 persen dari perkiraan kebutuhan konsumsi di seluruh dunia akan dipenuhi oleh Wi-Fi. 14 persen dapat dipenuhi oleh adopsi saat ini seperti 3G, LTE, small cell dan teknologi-teknologi baru seperti 5G. Dari saat ini hingga 2020, sisa 19 persen dari kebutuhan tidak dapat dipenuhi berdasarkan proyeksi ekonomi saat ini dan tahun 2020. Maka dari itu, para operator jaringan harus mempercepat langkah mereka menuju teknologi-teknologi 5G dan cloud, seperti contohnya network function virtualization (NFV) dan software-defined networking (SDN),serta mengadopsi model-model bisnis baru untuk memenuhi kesenjangan kebutuhan.

    Kemunculan misterius di ranah jaringan adalah IoT. Jumlah perangkat terkoneksi IoT diperkirakan akan meningkat dari 1,6 miliar di tahun 2014 menjadi antara 20 dan 46 miliar di tahun 2020. Dari jumlah ini, perangkat-perangkat IoT selular akan berjumlah antara 1,6 miliar dan 4,6 miliar di tahun 2020. Terlepas dari adopsi besar-besaran ini, keseluruhan traffic selular yang dihasilkan oleh perangkat-perangkat IoT hanya mewakili 2 persen dari total traffic selular di tahun 2020 hingga sensor-sensor video dan kamera mulai mendominasi.

    Namun demikian, traffic IoT dalam waktu dekat akan menghasilkan volume traffic sinyal yang lebih tinggi secara substansial dibanding traffic data. Sebagai contohnya, sebuah perangkat khas IoT mungkin membutuhkan 2.500 transaksi atau koneksi untuk menghabiskan 1 MB data, sementara jumlah data yang sama dapat dikonsumsi oleh sebuah koneksi video selular saja. Sebagai akibatnya, koneksi jaringan harian dari perangkat-perangkat IoT selular akan meningkat 16 hingga 135 kali di tahun 2020 dan akan tiga kali lebih tinggi dari koneksi-koneksi traffic yang dihasilkan manusia.

    Ada beberapa point penting dalam penemuan penting lain dalam laporan tersebut, di mana pada tahun 2020, kebutuhan konsumsi global akan layanan dan konten digital untuk perangkat portabel dan selular akan mengalami kenaikan rata-rata 30 hingga 45 kali mulai dari 2014 – di mana beberapa pasar mengalami lonjakan hingga 98 kali.

    Lalu, berdasarkan wilayah, kebutuhan konsumsi yang tidak terpenuhi berkisar dari 3 hingga 36 persen, dengan rata-rata global sekitar 19 persen. Di Amerika Utara, traffic komunikasi video akan meningkat dari 47 hingga 86 persen, didorong oleh kalangan remaja milenial dan dewasa muda. Di saat panggilan dan konferensi video mulai meningkat, traffic surat elektronik akan turun, dari 47 persen traffic komunikasi di 2014 hingga menjadi sekitar 7 persen di 2020. Sementara aplikasi pesan akan menjadi bentuk komunikasi yang lebih dominan.

    Dari Mayoritas streaming, sekitar 66 sampai 74 persen, berasal dari jaringan-jaringan rumah – didorong oleh penggunaan perangkat-perangkat beresolusi lebih tinggi, lebih besar serta lebih banyak konten. Lalu, akan terjadi pertumbuhan signifikan di streaming video IoT upstream setelah 2020.

    Layanan-layanan berbasis realitas virtual tidak akan menjadi komponen besar dari pertumbuhan traffic di lima tahun mendatang, walaupun hal tesebut diperkirakan akan memberikan kontribusi secara signifikan terhadap kebutuhan antara 2020 dan 2015.

    Nokia Bell Labs meluncurkan divisi konsultasinya di bulan Maret 2015, agar dapat mengaplikasikan analisis mendalam, pengalaman langsung dan peralatan modeling tekno-ekonomi canggih terhadap beberapa tantangan utama yang sedang dihadapi oleh industri jejaring komunikasi dan TI. Dalam penelitian ini, daripada memperkirakan kebutuhan traffic selular masa depan berdasarkan baseline dan tingkat pertumbuhan saat ini, Bell Labs Consulting menyajikan model-model kebutuhan mulai dari nol berdasarkan penelitiannya sendiri serta data-data eksternal yang tersedia.

    Nokia akan mendiskusikan hasil-hasil laporan mobility Bell Labs Consulting dan inovasi-inovasi teknologinya yang mendukung jaringan 5G dan IoT di Brooklyn 5G Summit, pada 20 – 22 April.

    Marcus Weldon, presiden Nokia Bell Labs dan CTO mengatakan: “Evolusi berikut manusia akan melibatkan ‘otomatisasi kehidupan’, dan penciptaan sebuah dunia di mana miliaran objek terkoneksi Internet termasuk objek-objek cerdas, kamera, robot, sensor dan aliran data serta proses pertukaran video real time – tidak hanya dengan sesama manusia, tetapi dengan sistem-sistem berbasis cloud yang meng-ekstrak pengetahuan dari data-data ini serta melaksanakan tugas-tugas untuk membuat kehidupan dan pekerjaan kita lebih mudah dan lingkungan kita lebih cerdas. Era digital baru ini akan menghasilkan sebuah pergeseran dramatis, menantang operator selular untuk mencapai kinerja tertinggi dengan biaya per bit terendah sambil mendukung personalisasi ekstensif.” (Icha)

  • Schneider Lakukan Studi Global Tentang IoT. Apa Hasilnya?

    Schneider Lakukan Studi Global Tentang IoT. Apa Hasilnya?

    Telko.id – Era Internet of Things atau IoT memang sudah di depan mata. Bahkan beberapa perusahaan sudah mulai menjajakinya. Shneider Electric merilis kasih Studi Global nya tentang era IoT 2020 ini yang termuat dalam IoT 2020 Business Report.

    IoT ini dipercaya akan memicu gelombang transformasi digital sebuah perusahaan di masa depan. Dalam report schneider ini dipaparkan seberapa besar organisasi di berbagai belahan dunia akan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) sebagai perangkat bisnis yang kritikal hingga tahun 2020 nanti.

    Kita sudah tidak perlu mempertanyakan apakah IoT akan membawa nilai terhadap sebuah perusahaan. Saat ini dunia bisnis perlu mengambil keputusan tentang bagaimana memosisikan diri dalam memalksimalkan nilai IoT dalam organisasi mereka, ujar Dr. Prith Banerjee, Chief Technology Officer, Schneider Electric dalam rilis tertulisnya. Lebih lanjut, Banerjee juga menyatakan bahwa IoT 2020 Business Report ini didesain sebagai panduan bagi implementasi dan inovasi di bidang IoT untuk membantu konsumen menikmati manfaatnya di tengah evolusi pasar yang akan terus terjadi selama lima tahun mendatang. Hal itu juga menjadi refleksi komitmen Schneider untuk menghadirkan teknologi yang memastikan bahwa Life Is On di manapun, bagi siapapun dan kapanpun.

    Survei global mengenai IoT tersebut melibatkan 3.000 pemimpin perusahaan di 12 negara, termasuk juga di dalamnya pelanggan dan mitra kerja Schneider Electric. Berdasarkan survery tersebut, memaparkan pentingnya IoT untuk langsung diaplikasikan dalam sektor public maupun swasta.

    Banerjee juga menambahkan bahwa Internet of Things telah berada di puncak Hype Curve selama beberapa waktu, namun hasil survei menunjukkan teknologi IoT mampu dan akan terus mendorong nilai bisnis secara nyata, lintas industri maupun batasan geografis.

    Dari survey tersebut juga memperlihatkan bahwa ada 5 poin penting yang dapat dijadikan acuan para pemimpin perusahaan dalam mengantisipasi perkembangan pasar.

    Poin pertama adalah IoT ini merupakan gelombang transformasi digital masa depan. Di mana, IoT ini akan memicu gelombang transformasi digital perusahaan di masa depan, memadukan dunia OT dan IT serta mendorong dunia kerja yang mobile dan diaktifkan secara digital. Ketika semakin banyak perusahaan memperluas dan memperdalam program digitalisasi perusahaan mereka, IoT akan semakin menjadi pusat perhatian. Gelombang baru transformasi ini akan terjadi berkat alat sensor dan kontrol yang semakin terjangkau dan cerdas. Lalu dipengaruhi juga oleh jaringan komunikasi yang lebih cepat dan lebih menyebar, infrastruktur cloud dan kemampuan data analisis canggih.

    Point ke dua adalah Data yang berguna. Di mana, IoT akan menerjemahkan data yang belum dimanfaatkan sebelumnya sebagai informasi yang memungkinkan perusahaan membawa pengalaman pelanggan ke level berikutnya. Ketika berpikir tentang proposisi nilai IoT, sebagian besar bisnis akan merujuk kepada efisiensi dan penghematan biaya sebagai manfaat utama. Namun, akses ke data termasuk data yang belum dimanfaatkan tersebut dan kemampuan untuk menerjemahkannya ke bentuk informasi yang bisa ditindaklanjuti, yang merupakan ciri khas IoT, akan memacu transformasi layanan pelanggan yang lebih besar dan membuka kesempatan baru untuk membangun loyalitas terhadap merek atau jasa dan kepuasan pelanggan.

    Point ke tiga adalah Keyakinan pada premise-to-cloud. Di mana, IoT akan mendorong pendekatan komputasi yang terbuka, inteoperable dan hybrid serta menumbuhkan kolaborasi antara industri dan pemerintah pada standar arsitektur global yang mampu mengatasi masalah keamanan cyber. Sementara solusi IoT berbasis cloud meraih kepopuleran, tidak ada satu pun arsitek komputasi yang memonopoli. IoT justru akan berkembang di seluruh sistem, baik di komputasi edge dan on-premise, sebagai bagian dari cloud pribadi atau cloud umum. Hal ini, membuat IoT hadir di lingkungan komputasi yang heterogen dan akan membantu pengguna akhir untuk mengadopsi solusi IoT dengan cara yang paling sesuai dengan keamanan serta kebutuhan mission-critical mereka, sekaligus menawarkan jalan yang logis dan mudah untuk memungkinkan konsumen yang memiliki infrastruktur teknologi generasi terdahulu bertransformasi dari waktu ke waktu.

    Point ke empat adalah Inovasi yang melampaui infrastruktur yang ada. Di mana, IoT akan berfungsi sebagai sumber inovasi, terobosan model bisnis, dan pertumbuhan ekonomi bagi bisnis, pemerintah dan negara berkembang. Sama seperti Revolusi Industri, kelahiran internet dan revolusi selular telah mendorong kemajuan, inovasi dan kemakmuran, begitu pula IoT. Perusahaan dan juga sebuah kota akan memperkenalkan pelayanan berbasis IoT. Ini akan menjadi model bisnis baru yang berkembang. Lalu, perekonomian negara berkembang juga akan memiliki kesempatan yang signifikan untuk memanfaatkan IoT tanpa terkendala infrastruktur generasi terdahulu, atau dengan kata lain melampaui cara-cara lama. Bahkan, McKinsey meramalkan 40 persen pasar dunia untuk solusi IoT akan dihasilkan oleh negara-negara berkembang.

    Point ke lima adalah Planet yang lebih baik. Di mana, solusi-solusi IoT akan dimanfaatkan untuk menjawab berbagai permasalahan besar sosial dan lingkungan. IoT akan membantu negara berkembang dan ekonominya untuk merespon tantangan-tantangan terbesar yang dihadapi planet kita, termasuk pemanasan global, kelangkaan air dan polusi. Bahkan, responden survei mengidentifikasi penggunaan sumber daya yang lebih baik sebagai manfaat utama IoT terhadap masyarakat secara keseluruhan.

    Sejalan dengan sektor swasta, pemerintah lokal dan nasional akan menyambut IoT untuk mempercepat dan mengoptimalkan inisiatif saat ini untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sesuai dengan kesepakatan iklim COP21, dimana 196 negara berjanji untuk menjaga pemanasan global tetap di bawah ambang batas 2 derajat Celsius.

    Hasil dari survei tersebut memprediksikan bahwa 75% perusahaan yang terlibat dalam survei merasa optimis bahwa kehadiran IoT akan menumbuhkan. Lalu, 63% perusahaan berencana menggunakan IoT untuk menganalisa perilaku konsumen di tahun 2016. Tercetus juga 5 potensi manfaat bisnis paling besar karena IoT, diantaranya penyelesaian masalah yang lebih cepat, pelayanan pelanggan yang lebih baik dan tingkat kepuasan pelanggan yang lebih tinggi.

    Hasil survei itu juga menunjukan bahwa akan terjadi penghematan biaya di automasi. Di mana, automasi gedung dan industri mewakili potensi penghematan biaya tahunan tertinggi. Masing-masing 63% dan 62%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa teknologi automasi akan menjadi masa depan IoT, dimana hampir setengah atau 42% responden mengindikasikan bahwa mereka berencana untuk mengimplementasikan sistem automasi gedung berbasis IoT dalam dua tahun ke depan.

    Dipaparkan juga bahwa teknologi selular akan memberikan nilai tambah pada IoT. Sekitar 67% perusahaan berencana untuk mengimplementasikan IoT melalui aplikasi selular di tahun 2016. Sisanya atau 32% bahkan sudah memiliki rencana untuk memanfaatkan IoT pada aplikasi selular dalam waktu 6 bulan, dengan menyebutkan potensi penghematan hingga 59% sebagai pendorong utama dalam melakukan implementasi.

    Dengan adanya IoT ini pun, 81% responden merasa bahwa pengetahuan yang diperoleh dari data dan atau informasi yang dihasilkan oleh IoT tersalurkan secara efektif ke seluruh organisasi. Namun, disisi lain, masih ada yang khawatir tentang ancaman keamanan cyber yang berhubungan dengan IoT dan merasa sebagai tantangan yang serius dalam bisnis mereka. Setidaknya 41% masih merasa khawatir.

    Dengan melihat hasil survei tersebut, sangat terlihat bahwa era internet of things ini sudah di depan mata. Tinggal bagaimana menyikapinya sehingga mampu memberikan dampak yang positif bagi perusahaan dan perekonomian negara. (Icha)

  • Kenapa Operator Investasi di Non-Cellular Untuk IoT?

    Kenapa Operator Investasi di Non-Cellular Untuk IoT?

    Telko.id – Operator diseluruh dunia banyak yang sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran era Internet of Things. Berbeda-beda caranya untuk menghadapi ‘serbuan’ dari berbagai device yang akan saling terhubung itu. Operator di Perancis menyikapinya dengan berkomitmen untuk mengimplementasikan teknologi jaringan non-cellular untuk Internet of Things tersebut. Yang digunakan adalah low bandwidth. Tapi beberapa masih menunggu perkembangnya hingga 2017 mendatang, seperti yang disampaikan oleh Keith Dyer dari the mobile network.

    Operator SFR/ Altice baru saja menandatangani kerjasama dengan Sigfox untuk di Perancis dan negara lainnya. Itu artinya empat operator besar di negara tersebut komitmen untuk menggunakan teknologi non-cellular menghadapi era IoT. Orange dan Bouygues sudah duluan dengan berkomitmen melayani menggunakan LoRa-based Network.

    Operator ini akan menggunakan Sigfox untuk masuk ke pasar, walaupun tidak sesuai untuk LTE atau 2G atau 3G, dilihat dari kebutuhan M2M, tetapi aplikasi yang ada menggunakan low power dan akses low bandwidth.

    “Kami memilih Sigfox karena mampu menawarkan tahapan yang terbaik saat ini dan sudah terbangun,” ujara Michel Combes, CEO SFR menjelaskan. Memang, Sigfox bukan yang terbaik, tetapi untuk saat ini sudah sesuai. Terlebih, saat ini Sigfox sudah mengimplementasikan LoRa.

    Saat ini, Sigfox sudah mengklai bahwa jaringannya sudah mencakup 92% di seluruh Perancis. Hal itu, bukan menjadi pesaing cellular IoT tetapi akan lebih menjadi komplemen dari layanan IoT.

    Beberapa pihak menilai bahwa investasi di IoT non-Cellular akan menghalangi investasi di EC-GSMand NB-IOT, teknologi 3GPP R13 untuk daya rendah IOT seluler. Tapi operator tidak selalu melihatnya seperti itu. Orange Yves Bellego, misalnya, mengatakan bahwa oranye melihat LoRa sebagai solusi yang baik untuk mendapatkan ke pasar dengan cepat, tetapi operator juga cenderung untuk berinvestasi di setara seluler, ketika mereka siap. Itu berarti mungkin ada yang sudah dipasang perangkat LoRa untuk mendukung masa depan. Dan Bellego menilai bahwa ke depan akan membuat Opex lebih rendah. Ide dasarnya adalah untuk memiliki platform inti untuk layanan umum. Tidak peduli, teknologi akses radio apa yang dipakai di akhirnya.

    Meskipun Orange akan memiliki beberapa capex untuk implementasi di LoRa, namun SFR tidak demikian karena hanya bertindak sebagai reseller konektivitas dri Sigfor ini. Sehingga tidak akan mempengaruhi Capex nya. Secara teori pun, SFR dapat berpindah platform teknologi jika menginginkan.

    Selain itu, situasi di Perancis berbeda dengan pasar di Jerman dan Inggris, di mana operator besar tidak membuat pilihan yang cocok. Di pasar Inggris, Sigfox masuk melalui kemitraan dengan Arqiva, pemilik infrastruktur jaringan. Arqiva pun bertanggung jawab untuk melakukan penandatanganan dengan mitra lainnya. Dan, belum lama ini, Arqiva melakukan penandatangan dengan Wireless Logic sebagai reseller pertamanya.

    Vodafone, sebagai operator utama di Inggris dan Jerman, menjadi pemain terdepan dalam mengembangkan NB-IOT tech. Sudah melakukan kemitraan dengan pemasok seperti Huawei, dan juga menjadi anggota pendiri serta ketua Forum NB-IOT. Alasannya utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar. Di mana, ke depan ada pasar yang sangat besar. Seperti memenuhi kebutuhan pemerintah untuk melakukan smart metering. Dan operator harus melakukan sesuatu untuk itu. Sedangkan saat ini, pilihan teknologi yang ada tidak banyak. Jadi, wajar jika non- cellular network ini digunakan.

    Alasan lainnya adalah operator melihat bahwa NB-IOT dan yang 2G setara EC-GSM menawarkan lebih banyak kontrol dan kinerja yang lebih baik. Namun, ketika melihat kebutuhan akan kecepatan maka kecepatan yang ditawarkan oleh 3GPP telah berpindah ke standarisasi dengan varian low power dalam satu tahun terakhir ini.

    Menjawab pertanyaan dari TMN, Eric Parsons dari Ericsson mengatakan bahwa operator telah menginvestasikan dananya untuk non- cellular Low Power Wide Area (LPWA) karena sampai sekarang baru teknologi itu yang tersedia. “Teknologi ini ada dan kebutuhan sudah mendesak sehingga wajak jika bisnis tersebut direalisasikan secara positif. Hal itu yang membuat komunitas 3GPP langsung menanggapi solusi tersebut untuk jangka panjang.

    Lebih lanjut, Eric menambahkan bahwa “Operator dapat mengambil jaringan yang mereka miliki saat ini dan hanya mengaktifkan kemampuan dalam jaringan dengan grid yang sudah ada, sungguh sebuah langkah aktivasi yang sangat sederhana. Penyebaran pun dapat dilakukan dengan cepat. Ini menjadi aspek yang penting,”

    Nokia mengatakan bahwa interoperabilitas dan ketersediaan ekosistem di mana pengembang dapat membangun aplikasi akan menjadi keuntungan inti untuk IOT seluler. “Kami harus menunjukkan pada pelanggan kami bahwa ini adalah pilihan yang tepat atas teknologi lainnya, sehingga harus menunjukkan ekosistem yang luas, dan menunjukkan interoperabilitas,” ujar Eric menambahkan.

    Namun, dengan adanya Non-cellular IoT ini tidak semua setuju. Nokia misalnya, melihat bahwa kehandalan dari IoT seluler penggunaan spektrum berlisensi. Seperti yang diungkapkan oleh Ulrich Dropmann dari Nokia yang mengatakan bahwa ada salah satu pengembang yang mendapatkan komplain dari perusahaan karena peralatannya berhenti bekerja beberapa hari setelah ada ‘site’ yang dibangun di dekat kantornya dan menggunakan ISM band yang sama. Hal ini perlu dihindari karena jika menggunakan spektrum yang berlisensi maka kasus tersebut tidak akan terjadi. “Operator itu perlu menjaga kehandalan dan keamanan dari layanan yang diberikan,” sahut Ulrich menjelaskan.

    Tentu saja ada beberapa rencana besar untuk membangun IoT seluler. Seperti yang diungkapkan oleh Huang Yuhong, Deputy General Manager China Mobile Research Institute. Yunghong mengatakan bahwa China Mobile akan memiliki penyebaran pada akhir 2016, dengan “sangat besar” dan akan dikomersialkan pada tahun 2017. Lalu, Yunghong juga menjelaskan bahwa tahun 2020, akan ada 10 miliar perangkat IoT seluler di Cina. China Mobile sendiri pun berharap bahwa pada skala tertentu, akan sangat membantu mendewasakan pasar untuk semua orang.

    China-MObile-vision

    Untuk itu perlu melakukan pergerakan yang cepat. Operator menginginkan chipset yang terintegrasi pada stadar API yang rencananya akan siap dikomersialkan pada akhir 2016. Dengan demikian akan memberikan kemudahan bagi operator untuk menyelaraskan semuanya.

    Tentu hal itu menjadi tantangan bagi Semtech dan orang-orang di LoRa camp, dan juga untuk Sigfox, untuk sigap memanfaatkan 12 – 18 bulan yang ada untuk memperoleh keuntungan sebanyak mungkin. Kemudian mempertahankan karena akan ada ‘serangan’ dari standar teknologi spektrum berlisensi.

    Saat ini, tantangan bagi teknologi spektrum berlisensi adalah membangun manfaat sebenarnya dari ekosistem 3GPP. Di mana akan ada standarisasi dengan spesifikasi baru. Tetapi banyak juga kalangan yang melihat lebih tegas. Apakah mau memilih selular atau non selular, operator pasti akan mendapatkan keuntungan. Terutama dari fleksibilitas yang ditawarkan pada pasar mereka.

    Lagi pula, yang terjadi pada era IoT itu adalah memperebutkan pasar yang sangat besar. Bayangkan saja, miliaran device akan saling terhubung pada era itu. Demikian juga variasinya yang banyak. Jadi, operator dapat lebih santai memilih teknologi yang akan digunakan. Namun, berbeda dengan Vodafone dan China Mobile yang melihat bahwa kebutuhannya sudah sangat mendesak sehingga perlu membawa standar seluler untuk LPWA IoT ke pasar sekarang. (Icha)

  • 4 Aspek Penting Dalam Keamanan IoT

    4 Aspek Penting Dalam Keamanan IoT

    Telko.id – Internet of Thing memang membawa angin segar dihampir semua aspek. Terutama aspek bisnis. Di mana jumlah perangkat yang akan saling terhubung akan meningkat sangat signifikan jika IoT ini mulai tumbuh.

    Berdasarkan riset yang dilakukan Gartner, akan ada 26 miliar perangkat yang akan saling terkoneksi di tahun 2020. Meningkat sangat tajam dibandingkan dengan tahun ini yang diperkirakan hanya 4.9 miliar perangkat saja. Seiring dengan pertumbuhan yang fenomenal itu maka paling sedikit ada 26 miliar jalan juga untuk hacker menyusup dan jaringan pun akan lebih rapuh. Sayang nya, masalah keamanan ini tidak dibangun dari awal sehingga semakin membuka peluang bagi para hacker untuk mengeksploitasi. Padahal, dalam mengembangan IoT artinya juga mengamankan sejumlah data yang diterima maupun dikirim. Bukan sekedar menciptakan sensor dan menghubungkan beberapa sistem saja.

    Kenali Lawan Sebelum Perang, perumpaan Sun Tzu art of war memang dapat diterapkan dalam menghadapai IoT ini. Dan ini menjadi tahap awal sebelum bicara masalah keamanan di IoT. Harus mengenali bagaimana kemungkinan ancaman akan dating dan siapa penyerangnya. Ancaman ini perlu diperhatikan bagi perusahaan. Di mana penyerangan dapat secara pasif terjadi dan mengambil keuntungan dari kelemahan keamanan di perangkat IoT dan jaringan untuk mencuri data rahasia. Serangan seperti itu tidak mudah untuk dideteksi karena banyak jalan dan celah untuk masuk. Namun, perlu diwaspadai juga adalah aktifitas internal.

    Ancaman berat lainnya yang mungkin terjadi adalah penyerangan secara aktif yang menjadikan perangkat IoT sebagai sasaran dengan melakukan upaya remote access atau IoT network dengan teknik Sybil atau menyerang DDoS yang akan mengakibarkan kegagalan operasional dan kerusakan.

    Serangan seperti ini, konsekuensi nya sangat parah. Misalnya, di rumah sakit dapat menyebabkan peralatan medis tidak beroperasi dengan baik atau bahkan mati. Bagaimana jika sedang ada tindakan di ruang operasi? Saat ini, ada beberapa kasus yang dipublikasikan oleh hacker yang mengeksploitasi kerentanan webcam nirkabel, kamera CCTV dan bahkan monitor bayi untuk memata-matai orang. Ketika eksploitasi ini ditingkatkan dan dilakukan terhadap jaringan perusahaan maka dapat dipastikan resiko gangguan akan sangat besar.

    Lalu apa yang harus dilakukan untuk melawan itu semua?

    Perusahaan akan mencari berbagai cara untuk meningkatkan keamanan system yang dimilikinya. Untuk itu, diperlukan kerangka kerja keamanan baru yang dapat menjangkau seluruh kemungkinan hacker bermain. Dimulai dari otentikasi level device, application security dan perlindungan bank data yang sangat kuat. Memang untuk setiap perusahaan kebutuhannya akan berbeda-beda. Tergantung level keamanan yang dibutuhkan dan besaran skala perusahaan itu sendiri. Jadi, tidak ada yang satu ukuran yang sama untuk membuat aturan IoT security. Tetapi paling tidak ada beberapa aspek kunci yang perlu diperhatikan. Menurut Sukamal Banerjee, EVP, engineering and R&D services dari HCL Technologies ada 4 kunci penting dalam keamanan IoT ini.

    Secure development

    Pada perangkat Io Tada beberapa fungsi yang tidak aman. Termasuk juga program yang berada di dalamnya. Semua itu menciptakan link yang melemahkan rantai keamanan. Untuk itu tim pengembangan IT di perusahaan harus meninjau ulang kode dalam aplikasi IOT mereka agar dapat mengidentifikasi ketidakamanan. Dengan demikian dapat menambal tempat-tempat yang ditemukan sebagai sumber kerentanan jaringan. Termasuk juga dengan laptop dan smartphone.

    Data encryption

    Kebanyakan wireless communications dan protocols di IoT itu terbuka dan sumber daya yang terbatas untuk mengamankan sensor dan perangkat yang lebih kecil dengan algoritma enkripsi yang kuat untuk transmisi data. Hal itu lah yang menimbulkan kerentanan terhadap serangan. Konsep pendekatan secara hati-hati akan sangat diperlukan untuk keamanan IoT itu sendiri. Berdasarkan laporan terbaru, 70 persen dari perangkat internet menggunakan layanan jaringan tidak terenkripsi. Itu sebabnya, data sensitif harus dienkripsi terlebih dahulu sebelum digunakan oleh siapa saja yang akan melewati jaringan.

    Privacy protection

    Beberapa orang cukup perhatian dengan data-data pribadi yang mungkin sedang diserang oleh mesin atau perangkat pengumpul data. Baik yang merupakan kegiatan maupun data-data lainnya. Untuk itu perlu dipastikan bahwa perangkat yang ada mampu menahan dari invasi tersebut. Salah satu pendekatan yang terbaik adalah de-identify semua data yang tertangkap sebagai suspect untuk di remove dan menghilangkan PII yang tidak perlu sehingga secara individual juga lebih terjaga privasinya.

    Access management

    Ketika sebuah device IOt dan sensor deprogram secara over the air maka perangkat tersebut menjadi suspect untuk dijebol keamanannya. Itu sebabnya, sebuah organisasi atau perusahaan perlu membangun mekanisme identifikasi yang optimal, menggunakan tanda pengenal digital yang memastikan hanya yang berkepentingan dan dengan code khusus sebagai tanda diterimanya akses oleh IoT device dan sensor. Hal ini akan mengurangi resiko ancaman insider dari karyawan, mitra dan pemasuk yang mengakses perangkat dan sensor diluar kewenangannya.

    Dengan ke empat aspek diatas maka sangat jelas bahwa dibutuhkan solusi yang inovasi karena standar keamanan jaringan yang ada belum tentu cukup kuat diaplikasikan ke semua perangkat. Supaya lebih efektis yang optimal, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak karena tidak mungkin entitas tunggal dapat memecahkan masalah keamanan sendiri. Itu sebabnya, Instansi pemerintah, akademisi dan perusahaan global harus berkolaborasi dan menanggapi dengan cepat untuk membangun keamanan yang kuat, termasuk infrastrukturnya.

    Keamanan adalah salah satu tantangan yang harus cepat dipenuhi dan difokuskan agar potensi IoT pun dapat direalisasikan. Apalagi, potensi manfaat IoT ini sangat besar. (Icha)

  • Strategi Apple di Internet of Things

    Strategi Apple di Internet of Things

    Jakarta – Begitu disebut, nama Apple begitu menggetarkan para pemain device saat ini. Bagaimana tidak, setiap produk yang bakal diluncurkan pasti saja banyak menunggu, bahkan rela antri untuk mendapatkannya. Siapa yang tidak iri? Lalu, bagaimana Apple melihat masa depannya? Terutama yang berkenaan dengan Internet of Things?

    Saat ini Apple sudah mulai perlahan bergeser ke Internet of Things. Perusahaan Amerika ini melihat ada 3 peluang besar yang akan menjadi sumber pemasukan barunya.

    Jika melihat masa depan Internet of Things, Apple juga sudah mengetahui hal tersebut. Seperti yang diperkirakan oleh Cisco bahwa pada 2025 akan terdapat 50 milliar device yang memiliki kemampuan Internet of Things. Bahkan IDC research memperkirakan pada 5 tahun mendatang, Internet of Things ini akan memberikan pemasukan hingga $ 7 Triliun. Paling tidak, Apple sendiri akan memiliki 1.9 miliar device yang saling terhubung dan akan menghadilkan revenue $490 miliar pada tahun 2019 mendatang.

    Lalu, tiga peluang besar seperti apa yang menjadi perhatian Apple?

    Apple Connected Home

    Salah satu strategi Apple adalah Connected Home. Saat ini, diperkirakan ada sekitar 200 juta rumah yang saling terhubung di seluruh dunia. Kondisi ini akan meningkat tajam hingga akan mencapai 700 juta rumah yang terhubung pad atahun 2020.

    Apple memiliki Homekit yang akan mampu melakukan control secara otomatis pengaturan suhu, lampu, keamanan, kunci pintu, dan lainnya. Kontrol tersebut dapat dilakukan semuanya melalui iPhone atau iPad.

    Hanya saja diperlukan platform tertentu yang mampu dibaca oleh semua device yang terhubung terssebut. Nah, Apple saat ini sedang menggodok plaftorm tersebut. Perusahaan ini masih belum membuka pada public tentang platform tersebut. Yang pasti, Apple berjanji bahwa device akan tetap menjadi komponen utama dalam layanan Apple Connected Home ini.

    Apple on The Road

    Jumlah kendaraan roda empat di dunia saat ini begitu banyak sehingga membuat macet jalanan. Dan jumlah tersebut akan terus meningkat. Diperkirakan pad tahun 2020 akan terdapat 200 juta mobil di jalanan. Di mana satu dengan yang lain akan share informasi tentang kondisi jalan atau mengirimkan data.

    Apple sebenarnya sudah mulai ‘menyentuh’ indutsri otomotif ini. Hanya saja masih belum terekplorasi lebih dalam. Apple masuk melalui Car Play. Berdasarkan informasi yang dikutip dari The Street Journal, Apple akan memiliki produk mobil sendiri pada tahun 2019.

    Saat ini, Apple sudah mulai melakukan recruitment para ahli otomotif untuk dimasukan dalam jajaran karyawannya. Bahkan, Apple sendiri saat ini sudah membeli bangunan seharga $ 138.000.000 di wilayah San Jose. lokasi ini akan menjadi tempat perakitan Apple. Bahkan sudah dilengkapi dengan garasi yang akan dipenuhi oleh kendaraan test. Bangunan baru ini pun akan dihuni oleh ratusan karyawannya yang bekerja untuk project otomotif dan diberi nama ‘Titan.

    Kemungkinan besar, base camp ‘Titan’ ini nantinya akan berada perusahaan otomotif i3 yang memproduksi mobil listrik. Namun, hingga saat ini, ke dua perusahaan tersebut belum ada deal yang nyata.

    Project ‘Titan’ ini sebenarnya sudah di approved oleh Tim Cook, CEO Apple beberapa tahun lalu. Kemudian dikerjakan oleh Steve Zadesky, Vice President Apple. Sejak itulah, Apple merekrut 600 karyawan yang dimasukan dalam tim. Ke depan, jumlah nya akan menjadi tiga kali lipat.

    Apple Wearable

    Apple juga fokus mengembangkan sesuatu yang dapat dipakai dengan IoT. Salah yang sudah diciptakan adalah smart watches. Produk ini memberikan pengalaman baru bagi konsumennya dalam mengirim informasi dan tracking kesehatan secara individual. Ke depan, Smart watches ini akan menjadi identitas bagi seseorang, sebagai dompet, bahkan pemantau yang akan bekerja 24 jam selama seminggu tanpa jeda.

    Saat ini, menurut BI Inteligent, Smart watch Apple sudah leading. Dan pada 4 tahun ke depan akan menjadi pemain utama di Smart Watch.

    Dan, bukan hanya smart watch saja yang dikembangkan oleh Apple. Peralatan lain yang berada di di rumah, mobil, rumah sakit dan lainnya akan terus hadir sehingga IoT pun menjadi pemandangan biasa nantinya. (Icha)

  • ‘Duit Besar’ Ketika IoT Kawin Dengan Industri otomotif

    ‘Duit Besar’ Ketika IoT Kawin Dengan Industri otomotif

    Sepanjang pabrikan mobil masih memproduksi, maka jumlah kendaraan pun akan terus bertambah. Jumlah yang ratusan juta itu menjadi potensi ‘uang’ masuk bagi para developer yang memanfaatkan teknologi Internet Of Things. Menghubungkan antara Cloud ke wireless Technology, smart chips, onboard computer, mobile apps, yang akan mendorong jenis bisnis model baru.

    Konektifitas selama perjalanan yang berkaitan dengan penyimpanan data yang besar sudah menjadi kebutuhan. Bahkan, McKinsey & Company (2014) dalam laporannya menyatakan bahwa lebih dari seperempat dari pembeli mobil mengatakan bahwa konektivitas internet lebih penting daripada fitur seperti tenaga mesin dan efisiensi bahan bakar. Menurut perkiraan Gartner, dalam lima tahun ke depan, jumlah mobil yang terhubung dapat melebihi seperempat miliar di seluruh dunia.

    Mobil terhubung awan masa depan di sini hari ini – dan tumbuh di nomor. Ini adalah tren didorong sebagian besar oleh permintaan konsumen. Dalam 2014 laporan McKinsey & Company, lebih dari seperempat dari pembeli mobil mengatakan bahwa konektivitas internet lebih penting daripada fitur seperti tenaga mesin dan efisiensi bahan bakar. Dalam lima tahun ke depan, jumlah mobil yang terhubung dapat melebihi seperempat miliar di seluruh dunia, menurut perkiraan Gartner.

    Yang dibutuhkan, bukan hanya kecepatan dalam konektifitas saja, tetapi juga stabil. Di indutsri otomotif sendiri sudah mulai merambah ke koneksi nirkable 4G yang diimplementasikan dalam kendaraan produksi terbarunya. Bahkan sudah mulai ada yang membuatnya menjadi standar. Terutama untuk model-model yang akan diproduksi pada tahun 2010.

    Teknologi yang digunakan adalah kombinasi WiFi dan teknologi IoT. Kedua teknologi tersebut membuka jalan untuk membangun aplikasi yang dibutuhkan oleh pengemudi maupun penumpang. Seperti Navigasi, info lalu lintas yang realtime, informasi parkir, streaming infotainment dan integrasi antara dashboard, smartphone dan perangkat. Baik berkaitan dengan health tracking dan jam pintar.

    Sumber Pendapatan Baru

    Industri otomotif yang dikaitkan dengan Big Data akan menggeser pengalaman kita selama berkendara. Tentu ini akan menjadi pengalaman baru, baik bagi pabrikan mobil, penyedia layanan maupun industri lain yang terkait. Termasuk juga industri travel atau wisata.

    Pendapatan dari jasa mobil yang sudah memanfaatkan teknologi IoT ini di lima tahun kedepan akan mencapai $ 40 miliar, seperti yang disampaikan oleh SNS Research beberapa waktu lalu. Bahkan, di dalamnya juga termasuk industry keuangan sebagai penjamin kredit mobil dengan mudah melakukan penagihan yang fleksibel. Baik dalam pembayaran di muka, langganan maupun skema pembayaran lainnya.

    Semua kegiatan financial tersebut dapat dimanfaatkan oleh perusahaan telekomunikasi sebagai penyedia jaringan IoT sehingga mampu menambah pos-pos pendapatan yang baru. Hal yang sama juga dapat dimanfaatkan oleh para perusahaan pengembang aplikasi.

    Layanan yang berkenaan dengan industry otomotis ini sudah dilakukan oleh Ford melalui SYNC dan EnForm dari Lexus. Produsen ini sudah menawarkan berbagai layanan tambahan bagi para konsumen nya yang berbasis Cloud. Seperti Always –On Access, layanan saat darurat, Roadside Assistance, Teen-driver monitoring dan advanced voice control.

    Layanan tersebut diberikan secara berlangganan. Artinya, ada pemasukan yang regular bagi para penyedia jaringan maupun pengembang aplikasi. Dari sisi pelanggan, layanan tersebut menambah benefit dan memberikan pengalaman baru yang sungguh sangat diperlukan saat berkendara. Hubungan antara produsen dengan konsumen pun semakin erat, sehingga akan memudahkan ketika akan membuat loyality program. Dan hubungan ini pun akan menjadi lebih lama. Tidak sekedar beli saja. Ada entertain terhadap konsumen dan tentunya, nanti nya jika puas akan terjadi penjualan unit saat keluar unit baru.

    Peluang Besar

    Dilihat dari contoh di atas, maka layanan otomotif berbasis Cloud berpontensi sangat besar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan ketika unit baru atau tipe baru dari sebuah merek mobil dipasarkan. Tapi jangan salah, potensi pun dapat merambah pada kendaraan second.

    Seperti yang dilakukan oleh Verizon di Amerika dan Kanada. Pada musim panas lalu meluncurkan layanan HUM, layanan baru untuk purna jual. Untuk $14.99, pelanggannya dapat terhubung dengan Cloud. Layanannya berupa alert accident, system diagnostic dan stolen vehicle locator service untuk mobil yang bukan baru. Semua ini dilakukan dengan memasang Port Onboard Diagnostic (OBD) di samping setir mobil. Port ODB inilah yang menjadi entry point dari aplikasi mobile yang terhubung dengan Cloud, khusus untuk kendaraan bermotor.

    Smart Connected Cars

    Saat ini, ketika Anda berkendaraan sangat memungkinkan berinterasi dengan sekeliling, bahkan dengan dunia sekalipun. Semua itu dapat dilakukan berkat Cloud Based System yang menggunakan IoT innovations seperti sensor jarak dan Predictive Intelligence. Seperti yang ada pada model Mercedes-Benz yang terbaru. Saat berkendara, Anda dapat terhubung langsung ke Nest, IoT powered smart home system, mengaktifkan control suhu di rumah sebelum Anda sampai di rumah. Sungguh mengasyikan. Setelah lelah bekerja, disambut oleh suhu yang nyaman di rumah.

    Potensi koneksi lain yang dapat dilakukan dalam jarak jauh tentu menjadi bisnis model baru di masa depan. Bahkan dengan mudah menginformasikan pada rekan meeting Anda ketika jalanan macet dan akan terlambat datang meeting. Lalu, mampu mengkonfirmasi janji, melakukan reservasi tempat untuk makan malam hingga menu yang diinginkan.

    Selain itu, Anda juga dapat pesan tiket film, membayar bensin dan parkir. Semua dilakukan secara mandiri tanpa ada yang ikut campur. Tentu, layanan tersebut membutuhkan mekanisme penagihan secara berlanggan atau berbasis penggunaan. Hal ini harus mulai dipikirkan oleh para service provider. Sehingga ketika datang waktunya, sudah siap dengan skema yang tepat.

    Tiga Model Bisnis Potensial

    Ada standar monetization, ada tiga model bisnis  yang mungkin dihadapi ketika IoT kawin dengan industri otomotif.

    Pertama, Car Sharing. Ke depan, trend Car sharing akan semakin disukai oleh masyarakat. Sebenarnya, seperti model bisnis yang dilakukan oleh Uber. Diperkirakan pada 2030 mendatang, ada sekitar 650 miliar orang seluruh dunia akan menggunakan model Car-Sharing ini, seperti yang disampaikan oleh ABI Research. Contoh bisnis lainnya adalah agen rental mobile maupun pengoperasian kendaraan perusahaan. Bahkan pabrikan pun melihat tren tersebut menjadi cara yang cerdas yang akan meningkatkan jumlah penjualan tradisional.

    Kedua, Pay Per Use. Bayar sesuai dengan penggunaan. Ini model bisnis yang menarik. Di mana, ketika semua sudah berjalan, Anda tidak perlu lagi membeli kendaraan dengan harga mahal. Cukup membayar sesuai dengan waktu Anda menggunakan kendaraan tersebut. Biaya perbulan akan dipatok sesuai dengan penggunaan. Tentu, hal ini dapat dijadikan model bisnis yang menarik karena akan sesuaikan dengan jarak tempuh dan sangat menarik bagi masyarakat yang tinggal di Negara berkembang. Hal ini sudah dilakukan oleh Citroen, Pabrikan asal Eropa sejak tahun 2014. Namun, dengan adanya teknologi IoT maka model bisnis ini pasti akan lebih menarik lagi. Tidak saja bagi pengguna kendaraan, pabrikan dan industri pembiayaan.

    Ketiga, Direct-To-Consumer Sales. Penjualan langsung ke konsumen sudah dilakukan oleh Tesla Motors. Di mana perusahaan ini menjual IoT Infused. Jadi, Tesla dapat melakukan hubungan langsung dengan para pelanggannya kapan pun dan di mana pun konsumen nya berada. Perusahaan ini dapat secara proaktif melakukan upgrade, pemeliharaan, menambahkan fitur baru dan secara intensif memasukan model terbaru langsung ke setiap dashboard konsumennya.

    Dulu, inovasi dari Tesla Motors ini sempat di larang oleh beberapa Negara dan ditekan oleh lobi yang kuat dari para dealers. Namun, di sisi lain, Federal Trande Commission (FTC) sangat mendukung layanan ini.

    Maju Terus Pantang Mundur

    Inovasi teknologi akan terus berlanjut. Tentu akan mempengaruhi harga atau yang dibayarkan untuk sebuah mobil. Baik untuk kendaraan yang memiliki layanan digital, asuransi mobil dan peralatan serta layanan lainnya. Diproyeksikan, tidak akan sampai 10 tahun, semua layanan tersebut sudah banyak digunakan oleh masyarakat. Nanti akan banyak layanan transportasi yang dijalankan secara pintar dari Cloud.

    Satu hal yang tidak dapat dipastikan adalah bagaimana inovasi teknologi di kemudian hari akan menjadi tren. Tetapi yang pasti, dalam sebuah bisnis perlu ada cara yang strategis untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar lagi. Dan peluang itu, akan hadir dengan menggabungkan antara mobil dengan internet. (Icha)

  • Internet of Thing ala Microsoft

    Internet of Thing ala Microsoft

    Perhatian Microsoft terhadap IoT memang sangat tinggi. Maklum saja, IoT ini memang sebuah masa depan yang menjanjikan. Baik dari sisi hubungan social maupun ekonomi bagi para pebisnis.

    Microsoft sendiri sudah mendalami IoT ini sejak lama. Mulai dari Windows CE untuk BizTalk server ke Azure yang baru-baru ini diperkenalkan. Microsoft selalu memiliki cara agar sebuah platform mampu terintegrasi dengan baik ke perangkat maupun system backend. Melihat peluang yang aduhai itulah, Microsof setelah meluncurkan Windows 10 pada tahun ini, mulai memperbesar investasi Azure untuk membuat platform terbaik bagi perusahaan.

    Sekitar seminggu sebelum Amazon mengeluarkan AWS re, Microsoft memperkenalkan AzureCon yang merupakan langkah strategis terkait IoT yakni Azure IoT Suite dan Azure IoT Hub. Kedua layanan ini menjadikan Microsoft lebih dipehitungkan lagi dalam pasar IoT dunia.

    Seperti apa Microsoft melihat IoT dan apa langkah strategis yang sudah dan akan dilakukan?

    Windows 10

    Dengan Windows 10, Anda dapat mudah mengerjakan berbagai jenis kegiatan. Tidak peduli device apa yang digunakan. Bahkan operating system ini dapat berjalan di PC yang berbentuk seperti kartu kredit seperti Rasbberry Pi 2 dan Minnowboroad Max. Begitu juga ketika Windows 10 ini dibawa ke lingkungan industry. Tetap dapat dimaksimalkan untuk menjalankan berbagai perangkat produksi. Itu sebabnya, Windows 10 ini menjadi landasan strategi Microsoft dalam mengembangkan IoT.

    Azure IOT Suite

    Sejak diluncurkan pada tahun 2010, Azure mampu menjadi penyelaras berbagai kasus yang ditemukan dalam sebuah perusahaan. Microsoft pun secara terus menerus melakukan penambahan kemampuan IoT untuk Azure sehingga dapat menjadi platform yang layak dipilih.

    Beberapa waktu lalu, Microsoft pun meluncurkan Azure IoT Suite. Sebuah blue print yang akan menjadi acuan sebuah perusahaan jika akan memulai mengaplikasikan IoT di perusahaannya. Anda dapat menggunakan Azure IoT Suite untuk manajemen aset dan skenario pemantauan jarak jauh. Di belakang layar, Microsoft menyediakan Cloud akan akan berfungsi sebagai penyimpanan dan layanan data.

    Sedangkan Azure IoT Hub adalah pintu gerbang untuk menghubungkan perangkat ke Cloud. Layanan ini menggunakan protokol AMQP dan HTTP untuk komunikasi dari perangkat ke Cloud maupun sebaliknya. Azure IoT Hub pun akan menjadi pemulus bagai semua hubungan yang terintegrasi.

    Cortana Analytics Suite

    Microsoft Big Data stack adalah sebuah platform yang begitu komplek dengan banyak komponen. Untuk memanfaatkan dengan maksimal diperlukan keahlian untuk menghubungan berbagai titik sehingga dapat terbangun solusi yang dibutuhkan secara vertical. Nah, Cortana Analytics Suite merupakan upaya untuk menyederhanakan Big Data dengan memberikan solusi vertikal yang menangani kasus penggunaan tertentu. Kasus penggunaan utama seperti deteksi penipuan, manajemen risiko, peramalan permintaan, atau optimasi rantai pasokan. Semua disediakan dalam blue print Microsoft IoT tersebut.

    Azure IoT Suite menjadikan Cortana Analytics Suite menjadi sebuah layanan tertinggi dari Microsoft yang ada sekarang. Dengan menawarkan arsitektur dalam membangun atau mempelajari tentang manajemen dan consumer dengan memanfaatkan analisis dari Big Data dengan lebih cepat.

    Office 365 dan Power BI

    Untuk banyak pelanggan. Microsoft Office melanjutkan kisah suksesnya. Microsoft Excel pun menjadi tool favorit untuk slicing dan dicing datasets. Microsoft pun akan membangun tool yang dapat menghubungkan antara Excel dan Big Data. Misalnya, pelanggan ingin menggunakan Hive ODBC connector untuk pull data dari HDInsifgty ke Excel.

    Meskipun Power BI merupakan bagian dari Cortana Analitics Suite, tetap dapat digunakan secara mandiri untuk visualisasi. Langkah Microsoft decoupling dari Office 365 sudah benar. Dengan demikian, aplikasi Power BI dapat digunakan juga di desktop, Web, Windows Phone, iOs dan Android. Data IoT sensor yang masuk ke Azure melalui Envent Hubs dapat di channelized Power BI melalui Streaming Analytics. Kombinasi teknologi ini membentuk platform yang kuat untuk memberikan solusi end-to-end IOT.

    Kesimpulannya, Microsoft sudah memiliki strategi IoT yang baik untuk perusahaan. Track record pengiriman beberapa versi Windows Embedded selama dua dekade terakhir ini memposisikan Microsoft sebagai pemain yang perlu diperhitungkan. Strategi yang dilakukan pun sudah bergerak pada arah yang benar dengan Azure. Azure IoT Suite dan Cortana Analytics Suite memungkinkan perusahaan untuk jumpstart strategi IoT mereka dengan Microsoft.