Kategori: IoT

  • Startup Bangun Data Center AI di Tengah Laut

    Startup Bangun Data Center AI di Tengah Laut

    Telko.id – Kebutuhan infrastruktur AI yang terus meningkat mulai mendorong munculnya konsep pusat data generasi baru. Salah satunya datang dari startup bernama Panthalassa, yang mengembangkan data center AI di tengah laut dengan memanfaatkan tenaga ombak sebagai sumber listrik utama.

    Energi laut lepas dan komputasi lepas pantai akan berkembang lebih cepat daripada pusat data di darat membuat perusahaan ini berhasil mengantongi pendanaan Seri B sebesar US$140 juta (sekitar Rp 2,2 triliun). Dana ini akan digunakan untuk mengubah prototipe mereka menjadi perangkat keras komersial perdana.

    Panthalassa menghadirkan konsep pusat data terapung yang bekerja secara mandiri di laut lepas. Sistem ini menggunakan platform khusus bernama nodes, yaitu struktur baja besar yang bergerak mengikuti gelombang laut untuk menghasilkan energi listrik.

    Energi tersebut kemudian langsung digunakan untuk menjalankan chip dan server AI di dalam kapsul komputasi yang tertutup rapat.

    Menariknya, listrik yang dihasilkan tidak dialirkan ke darat. Seluruh energi dipakai langsung di lokasi untuk menjalankan proses komputasi AI, sementara hasil pengolahan data dikirim melalui koneksi internet satelit seperti Starlink.

    Baca Juga:

    Pendekatan ini dianggap lebih efisien karena mengurangi kebutuhan transmisi listrik jarak jauh yang selama ini menjadi tantangan proyek energi laut.

    Selain memanfaatkan ombak sebagai sumber energi, laut juga digunakan sebagai sistem pendingin alami bagi server AI.

    Pendinginan menjadi salah satu tantangan terbesar data center modern karena beban kerja AI menghasilkan panas yang sangat tinggi.

    Dengan memanfaatkan suhu laut yang stabil, perusahaan mengklaim konsumsi energi pendingin bisa ditekan sekaligus membantu memperpanjang umur perangkat keras.

    “Salah satu wawasan utama yang kami miliki adalah sangat penting untuk menggunakan listrik di tempat,” ungkap CEO dan salah satu pendiri Panthalassa, Garth Sheldon-Coulson. “Kami tidak akan pernah mentransmisikan listrik kembali ke pantai. Itulah yang membuat kami sangat berbeda dari semua proyek energi laut yang pernah dicoba di masa lalu.”

    Suntikan dana segar ini akan digunakan untuk menyelesaikan fasilitas manufaktur percontohan di dekat Portland, Oregon. Proyek ambisius ini turut menarik perhatian sejumlah investor kelas kakap, termasuk Peter Thiel, Marc Benioff (TIME Ventures), dan Max Levchin (SciFi Ventures).

    Setelah sukses menguji prototipe awal (Ocean-1, Ocean-2, dan Wavehopper), Panthalassa kini bersiap meluncurkan seri Ocean-3 di Pasifik Utara mulai tahun 2026, dengan target ekspansi komersial pada tahun 2027.

    Sheldon-Coulson, yang juga mantan peneliti energi dan AI, meyakini bahwa ombak pada dasarnya adalah bentuk energi matahari yang tersimpan.

    “Ombak diciptakan oleh angin, dan angin diciptakan oleh panas dari matahari. Jadi ombak adalah sinar matahari yang terkonsentrasi dua kali lipat, dan mereka terus bergerak bahkan saat angin berhenti. Ombak seperti baterai untuk sinar matahari, dan kita bisa memanfaatkannya 24/7,” pungkasnya, dikutip dari Financial Times, Kamis (7/5/2026).

    Jika konsep ini berhasil diterapkan dalam skala besar, data center masa depan kemungkinan tidak lagi sepenuhnya dibangun di daratan.

    Infrastruktur AI bisa mulai bergerak ke laut demi mendapatkan sumber energi yang lebih stabil, pendinginan alami, dan efisiensi operasional yang lebih tinggi.

  • Rokid AI Glasses Resmi Masuk RI, Ini Kemampuan dan Harganya!

    Rokid AI Glasses Resmi Masuk RI, Ini Kemampuan dan Harganya!

    Telko.id – Perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan semakin berkembang di Indonesia dengan hadirnya Rokid AI Glasses.

    Rokid, Produsen perangkat wearable asal China, memboyong produk kacamata pintar terbarunya ke Indonesia.

    Melansir dari detikINET, Wiranata Mulya, Brand Manager of Rokid Indonesia mengatakan produk ini hadir menawarkan fungsi yang menggabungkan beberapa perangkat sekaligus seperti wireless earbuds, action camera, perekam suara, dan lain-lain dalam satu produk.

    “Rokid AI Glasses ini adalah kacamata yang memungkinkan kita mengakses informasi secara langsung tanpa perlu tambahan layar,” kata Wiranata dalam peluncuran produk terbaru Rokid di Jakarta, Senin (27/4/2026).

    “Tanpa takut terdistraksi, tanpa kita perlu repot mengambil device dari kantung celana atau mengambil device dari dalam tas. Jadi kacamata Rokid menggabungkan AI dan wearable technology dalam satu ekosistem,” sambungnya.

    Baca Juga:

    Dari sisi desain, Rokid AI Glasses tampil seperti kacamata biasa dengan bobot ringan sekitar 38–49 gram, sehingga tetap nyaman digunakan dalam waktu lama.

    Namun di balik bentuknya yang sederhana, perangkat ini dibekali berbagai teknologi canggih, termasuk kamera 12 MP yang mengandalkan sensor Sony IMX681, speaker terintegrasi, serta dukungan perintah suara untuk interaksi yang lebih praktis tanpa perlu menyentuh perangkat lain.

    Keunggulan utama perangkat ini terletak pada fitur AI yang terintegrasi langsung. Pengguna dapat memanfaatkan asisten virtual, penerjemah bahasa real-time, hingga pengenalan objek secara langsung dari pandangan mata.

    Selain itu, kacamata ini juga mampu menampilkan informasi melalui layar micro-LED di lensa, seperti notifikasi, navigasi, hingga teks, sehingga berfungsi layaknya heads-up display dalam kehidupan sehari-hari.

    Seluruh fiturnya dapat diakses di aplikasi mobile Hi Rokid menggunakan konektivitas via Bluetooth 5.3.

    Kacamata pintar ini menjalankan sistem operasi YodaOS-Master dan diotaki chipset Snapdragon AR1 Gen 1. Terbuat dari material titanium polimer TR90 dan baterai 210 mAh yang dapat bertahan hingga 8-10 jam untuk penggunaan harian.

    Rokid AI Glasses sudah tersedia di Indonesia lewat mitra dealer resmi Rokid di Tokopedia, Shopee, Blibli, Erafone, DOSS, dan masih banyak lagi. Kacamata pintar ini dibanderol dengan harga Rp 11.649.000.

    Selain AI Glasses, Rokid juga memperkenalkan AI Glasses Neo Style yang hadir tanpa display dan kacamata augmented reality Rokid Max 2 di Indonesia. Harga dan ketersediaan dua perangkat ini akan diumumkan secara terpisah.

    Kehadiran kacamata pintar seperti ini menunjukkan arah baru dalam evolusi perangkat digital. AI tidak lagi hanya hadir di smartphone atau laptop, tetapi mulai menyatu langsung dengan perangkat yang dipakai di tubuh.

    Jika adopsinya terus berkembang, perangkat seperti Rokid AI Glasses berpotensi menjadi asisten pribadi yang selalu aktif, membantu komunikasi, navigasi, hingga pekerjaan secara real-time tanpa perlu bergantung penuh pada layar ponsel.

  • Chery Jual Robot Humanoid Mornine M1 ke Publik

    Chery Jual Robot Humanoid Mornine M1 ke Publik

    Telko.id – Produsen otomotif asal China, Chery, mulai memasarkan robot humanoid buatannya ke publik, menandai langkah baru industri otomotif yang mulai merambah ke teknologi robotika berbasis AI.

    Robot ini tidak lagi sekadar konsep, tetapi sudah ditawarkan secara komersial dengan harga mencapai ratusan juta rupiah.

    Dilansir dari Carnewschina, Kamis (16/4), robot manusia tersebut diberi nama Mornine M1. Penjualan dibuka secara daring melalui toko resmi ‘AiMoga Intelligent Robot’ di JD.com mulai bulan ini.

    Robot humanoid Chery dirancang untuk dapat berinteraksi langsung dengan manusia, termasuk berjalan, mengenali suara, serta merespons perintah sederhana.

    Robot ini juga dibekali sistem kecerdasan buatan yang memungkinkan adaptasi terhadap lingkungan sekitar, sehingga bisa digunakan dalam berbagai skenario, mulai dari layanan pelanggan hingga asisten pribadi.

    Baca Juga:

    Mornine M1 dibanderol 285.800 yuan atau sekira Rp 716 jutaan. Menurut rencana, unitnya baru tersedia mulai akhir bulan depan. Selain robot humanoid, AiMoga juga menawarkan robot anjing Argos X1 dengan harga 15.800 yuan atau Rp 39 jutaan.

    Mornine M1 punya ukuran penuh. Tingginya 167 cm dengan bobot 70 kg dan memiliki 40 derajat kebebasan gerak di seluruh tubuh. Robot ini mampu berjalan hingga 1 m/s dan membawa beban di ujung lengan hingga 1,5 kg. Sumber dayanya berasal dari baterai 0,7 kWh yang bisa digunakan selama dua jam dalam kondisi penuh.

    Untuk mendukung kemampuan navigasi dan interaksi, M1 dibekali sensor lengkap seperti 3D LiDAR, dua kamera depth, satu kamera wide-angle, serta empat radar ultrasonik.

    Laporan TrendForce bahkan menyebut industri robot humanoid global akan memasuki fase komersialisasi penting pada paruh kedua 2026.

    China diprediksi menjadi pemain dominan dengan lonjakan produksi hingga 94% secara tahunan. Beberapa nama seperti Unitree Robotics dan Zhiyuan Robotics disebut bakal menguasai sebagian besar pasar.

    Namun, langkah Chery ini menunjukkan tren yang semakin jelas di industri teknologi, di mana batas antara otomotif, AI, dan robotika mulai semakin kabur.

    Perusahaan otomotif tidak lagi hanya fokus pada kendaraan, tetapi juga mulai mengembangkan ekosistem teknologi cerdas yang mencakup robot dan perangkat AI lainnya.

    Kehadiran robot humanoid komersial ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan teknologi di kehidupan sehari-hari, meski adopsinya kemungkinan masih terbatas dalam waktu dekat karena faktor harga dan kemampuan yang masih berkembang.

  • China Uji Robot Terintegrasi di Metro Berbasis AI

    China Uji Robot Terintegrasi di Metro Berbasis AI

    Telko.id – Kota Hefei di China mulai menguji sistem robotik terintegrasi di jaringan metro sebagai bagian dari transformasi transportasi berbasis AI. Sistem ini disebut sebagai salah satu implementasi pertama “robot cluster” penuh (full-space) di transportasi publik, di mana berbagai jenis robot bekerja secara terkoordinasi dalam satu platform terpusat.

    Sistem ini melibatkan penggunaan robot anjing, drone, hingga robot humanoid yang kini ditempatkan di jaringan metro untuk meningkatkan efisiensi operasional. Inisiatif ini menandai perkembangan penting dalam otomatisasi layanan publik di sektor perkeretaapian perkotaan.

    Dilansir dari eWeek, inovasi futuristik ini sedang diterapkan dalam tahap uji coba di sistem metro Kota Hefei. Kota Hefei sendiri merupakan bagian dari Provinsi Anhui di China yang menjadi lokasi percontohan proyek ini.

    Uji coba tersebut secara spesifik dilaksanakan pada hari Rabu (8/4/2026) untuk mengukur kapabilitas robot dalam lingkungan operasional nyata. Fokus utama pengujian adalah melihat bagaimana robot dapat berinteraksi dengan staf manusia.

    Baca Juga:

    Dalam implementasinya, sistem ini tidak hanya mengandalkan satu jenis robot, tetapi menggabungkan beberapa perangkat sekaligus seperti robot humanoid, robot anjing (quadruped), drone, hingga robot inspeksi bawah kereta.

    Semua robot tersebut dikendalikan melalui satu sistem dispatch berbasis AI yang mampu mengatur tugas secara real-time di seluruh area metro, mulai dari stasiun, jalur rel, hingga terowongan.

    Secara fungsi, tiap robot memiliki peran berbeda. Robot humanoid digunakan untuk melayani penumpang, seperti memberikan informasi arah dan membantu navigasi di dalam stasiun. Sementara itu, robot anjing bertugas melakukan patroli keamanan di area peron, dan drone digunakan untuk memantau kondisi di area yang sulit dijangkau.

    Di sisi lain, robot inspeksi khusus dapat masuk ke bagian bawah kereta untuk melakukan pengecekan teknis menggunakan sensor dan kamera beresolusi tinggi, sehingga mampu mendeteksi kerusakan lebih cepat dibanding metode manual.

    “China mulai menguji sistem transportasi masa depan dengan menghadirkan robot anjing, drone, hingga robot humanoid di jaringan metro,” demikian dikutip dari laporan tersebut mengenai implementasi teknologi baru ini.

    Lebih lanjut, laporan tersebut menegaskan klaim penting mengenai terobosan teknologi ini. “Teknologi ini bahkan diklaim sebagai sistem robot cluster pertama yang mampu bekerja di seluruh area stasiun dan jalur kereta,” ujar sumber berita tersebut.

    Meski sudah diuji dalam kondisi nyata, sistem ini masih dalam tahap pengembangan lanjutan. Ke depan, pemerintah setempat berencana menambahkan model AI yang lebih canggih agar robot dapat memahami situasi kompleks dan merespons kondisi darurat secara lebih akurat.

  • Pabrik Robot Humanoi d di China, Produksi Hanya Butuh 30 Menit!!

    Pabrik Robot Humanoi d di China, Produksi Hanya Butuh 30 Menit!!

    China kembali menunjukkan ambisinya di industri robotika dengan mengoperasikan pabrik yang mampu memproduksi robot humanoid hanya dalam waktu sekitar 30 menit per unit. Fasilitas ini berlokasi di Guangdong dan menjadi salah satu lini produksi robot humanoid paling efisien di dunia saat ini.

    Pabrik robot humanoid pertama di China ini memiliki kapasitas produksi besar, hingga 10.000 robot humanoid per tahun. Pabrik ini dibuat hasil kerja sama antara perusahaan robot Leju Robotics dengan Dongfang Precision Science and Technology ini.

    Bagi Leju Robotics, kemampuan memproduksi hingga 10.000 unit robot menjadi nilai penting untuk menarik investor sekaligus membuktikan bahwa bisnis mereka layak dan serius dikembangkan.

    Untuk merakit robot humanoid, pabrik ini mengintegrasikan 24 tahap perakitan dan 77 titik inspeksi. Dengan dukungan tersebut, pabrik ini mampu mencetak satu robot dalam 30 menit, 50 persen lebih efisien ketimbang metode perakitan konvensional.

    Baca Juga:

    Sebelum meninggalkan jalur produksi, setiap robot juga menjalani 41 uji simulasi kondisi kerja, guna memastikan bahwa setiap robot humanoid mampu bergerak melampaui demonstrasi dan masuk ke operasi industri.

    Tren ini juga terlihat pada perusahaan robotika China lainnya yang sama-sama mengejar skala produksi besar. Agibot, misalnya, baru saja mengumumkan robot humanoid ke-10.000 mereka.

    Sementara itu, Unitree Robotics tengah mencari pendanaan sekitar 580 juta dollar AS untuk mendukung pembangunan pabrik dengan kapasitas produksi hingga 75.000 unit per tahun.
    Di sisi lain, UBTech Robotics menargetkan produksi 5.000 unit robot per tahun dengan tujuan menekan harga agar bisa di bawah 20.000 dollar AS per unit.a

    Ini menunjukkan bahwa tantangan industri robot humanoid saat ini bukan hanya soal produksi massal, tetapi juga memastikan kemampuan AI dan software di dalam robot benar-benar matang.

    Perkembangan ini menegaskan bahwa China sedang mendorong percepatan besar di sektor robot humanoid, dengan fokus pada produksi massal dan efisiensi biaya.
    Jika tren ini berlanjut, robot humanoid berpotensi menjadi lebih terjangkau dan mulai digunakan secara luas di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga layanan.

  • Perusahaan Mulai Tinggalkan Chatbot, Beralih ke AI Agent

    Perusahaan Mulai Tinggalkan Chatbot, Beralih ke AI Agent

    Telko.id – Perusahaan kini mulai meninggalkan penggunaan chatbot tanya jawab sederhana yang hanya bisa merespons pertanyaan biasa dan mulai beralih ke AI agent kontekstual yang jauh lebih pintar dan mampu mengeksekusi tugas secara nyata.

    Melansir dari Republika, tren ini muncul karena tuntutan layanan digital yang semakin cepat, akurat, dan terintegrasi, di mana pelanggan atau pengguna bisnis mengharapkan AI yang bisa memahami konteks percakapan, menyusun rangkaian langkah, dan menyelesaikan tugas tanpa banyak campur tangan manual.

    AI agent seperti ini tidak hanya sekadar memberikan jawaban, tetapi juga bisa memproses kebutuhan pengguna secara berjenjang, misalnya memahami intent pelanggan, menarik data dari berbagai sistem internal, serta menjalankan tindakan secara otomatis untuk mencapai tujuan tertentu — kemampuan yang jauh melampaui fungsi chatbot tradisional.

    Perbedaan paling jelas antara keduanya terletak pada kemampuan kontekstual dan eksekusi tugas. Chatbot generasi lama pada dasarnya dibangun untuk menjawab pertanyaan yang sudah diprogram atau yang sesuai dengan pola tertentu, sehingga fungsinya terbatas pada dialog reaktif saja.

    Baca juga:

    Sebaliknya, AI agent kontekstual memanfaatkan model bahasa besar (large language models) yang dilengkapi dengan memori konteks, kemampuan reasoning, dan integrasi alat/layanan lain, sehingga bisa melakukan tugas yang lebih kompleks seperti lead qualification, penjadwalan otomatis, atau integrasi dengan sistem manajemen pelanggan.

    Di sektor e-commerce dan layanan digital, kebutuhan seperti refund instan dan penjadwalan ulang logistik menuntut sistem yang mampu bekerja lintas platform tanpa adanya intervensi manual.

    Dalam konteks tersebut, Terralogiq mengintegrasikan model AI Gemini 3.1 Pro dari GoogleCloud untuk membangun AI Agent yang terhubung dengan sistem back-end perusahaan. Teknologi ini dirancang untuk memahami konteks permintaan sekaligus menjalankan prosedur bisnis secara otomatis.

    Berbeda dengan chatbot konvensional, AI Agent mampu membaca keinginan pengguna dan memproses tahapan berjenjang. Dalam kasus refund, sistem dapat memverifikasi identitas, mengecek kelayakan sesuai aturan bisnis, mengeksekusi pengembalian dana melalui sistem internal, dan mengirim notifikasi kepada pelanggan dalam satu alur terpadu.

    Chief Technology Officer Terralogiq, Farry Argoebie mengatakan, peralihan dari chatbot sederhana ke AI Agent cerdas adalah lompatan besar bagi organisasi di Indonesia.

    Dia menjelaskan, Gemini 3.1 Pro terbaru dari Google Cloud menyediakan kemampuan yang bukan hanya memahami permintaan, tetapi juga membuat keputusan yang tepat dalam konteks bisnis. “Ini membuka peluang baru dalam automasi operasi, pengurangan biaya, dan kualitas layanan pelanggan yang lebih tinggi,” katanya dalam siaran pers, Senin (2/3/2026).

    Transformasi dari chatbot ke AI agent kontekstual ini akan terus berkembang seiring kecanggihan teknologi yang semakin tinggi dan kebutuhan bisnis yang makin kompleks.

    Dalam beberapa tahun ke depan, kemungkinan besar banyak perusahaan akan semakin memprioritaskan AI agent dalam operasi digital mereka, terutama di area yang membutuhkan pemahaman konteks, integrasi data, serta eksekusi tugas otomatis yang tidak bisa dipenuhi oleh chatbot tradisional.

  • Xiaomi Luncurkan Watch 5 dan Ekosistem AIoT Terbarunya, Apa Saja?

    Xiaomi Luncurkan Watch 5 dan Ekosistem AIoT Terbarunya, Apa Saja?

    Telko.id – Xiaomi Indonesia secara resmi memperkenalkan rangkaian produk ekosistem AIoT terbaru mereka di Jakarta, pada 3 Maret 2026.

    Peluncuran ini mencakup empat perangkat unggulan yakni Xiaomi Watch 5, Xiaomi UltraThin Magnetic Power Bank 5000 15W, Xiaomi Tag, dan REDMI Buds 8 Pro, yang dirancang untuk mendukung produktivitas serta gaya hidup modern melalui konektivitas yang mulus.

    Kehadiran keempat produk ini menegaskan komitmen perusahaan dalam menghadirkan teknologi yang relevan dengan rutinitas harian pengguna.

    Andi Renreng, Marketing Director Xiaomi Indonesia, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan konsumen yang terus berkembang.

    Ia menekankan pentingnya integrasi antarperangkat dalam strategi besar perusahaan untuk meningkatkan kualitas hidup pengguna lewat ekosistem cerdas yang mereka bangun.

    “Setiap inovasi Xiaomi selalu hadir dari kebutuhan konsumen. Maka dari itu, setiap perangkat AIoT Xiaomi dirancang agar relevan dengan rutinitas pengguna, khususnya di tengah gaya hidup modern yang terus berkembang,” ujar Andi.

    Ia menambahkan bahwa strategi Human X Car X Home menjadi landasan utama dalam menciptakan koneksi yang lebih terintegrasi pada lebih dari 1 juta perangkat yang kini terhubung dalam ekosistem Xiaomi.

    Xiaomi Watch 5 dengan Wear OS 6 dan Google Gemini

    Bintang utama dalam peluncuran kali ini adalah Xiaomi Watch 5, sebuah smartwatch flagship yang telah dibekali dengan sistem operasi terbaru Wear OS by Google™ (Wear OS 6).

    Perangkat ini menawarkan integrasi mendalam dengan layanan Google, memungkinkan pengguna mengakses Google Calendar, Maps, dan Play Store langsung dari pergelangan tangan.

    Salah satu fitur yang paling menonjol adalah kehadiran Google Gemini, menjadikan ini smartwatch Xiaomi pertama yang memiliki asisten AI canggih untuk memberikan informasi tanpa perlu membuka smartphone.

    Dari sisi performa, jam tangan pintar ini ditenagai oleh arsitektur dual-chip Snapdragon® W5 Gen 1 yang dipadukan dengan co-processor hemat daya BES2800.

    Kombinasi ini, ditambah dengan baterai 930 mAh berteknologi silikon-karbon dan Xiaomi Surge Battery, membuat perangkat mampu bertahan hingga 6 hari dalam mode pintar atau 18 hari dalam mode hemat daya.

    Untuk konektivitas yang lebih luas, pengguna dapat memanfaatkan fitur Xiaomi HyperConnect yang sejalan dengan pengembangan fitur HyperOS terbaru.

    Desain Xiaomi Watch 5 tampil premium dengan rangka stainless steel dan layar 1,54 inci yang dilindungi kaca safir di bagian depan maupun belakang.

    Fitur kesehatan juga menjadi prioritas dengan adanya one-tap health check serta dukungan dual-band GNSS untuk pelacakan aktivitas luar ruangan yang presisi. Pengguna juga dimanjakan dengan kontrol gestur intuitif untuk menjawab panggilan atau mengontrol kamera hanya dengan jentikan jari.

    Power Bank Magnetik Tipis dan Pelacak Pintar

    Selain jam tangan pintar, Xiaomi juga merilis Xiaomi UltraThin Magnetic Power Bank 5000 15W. Perangkat ini menonjolkan desain super ringkas dengan ketebalan hanya 6 mm dan bobot 98 gram, menjadikannya sangat mudah dibawa saat bepergian.

    Meskipun tipis, power bank ini memiliki kapasitas 5.000 mAh dengan dukungan pengisian nirkabel 15W dan kabel USB-C yang dapat digunakan bersamaan.

    Produk selanjutnya adalah Xiaomi Tag, solusi pelacakan barang yang kompatibel dengan ekosistem Apple Find My dan Google Android Find Hub.

    Dengan bobot hanya 10 gram dan sertifikasi tahan air IP67, perangkat ini dirancang untuk digantungkan pada kunci atau tas. Fitur keamanan privasi juga disematkan untuk mencegah pelacakan yang tidak , serta mode collaborative finding untuk mempercepat pencarian barang hilang.

    Audio Premium dengan REDMI Buds 8 Pro

    Melengkapi jajaran produk baru, REDMI Buds 8 Pro hadir menawarkan pengalaman audio kelas atas. TWS ini menggunakan konfigurasi coaxial triple-driver dan mendukung Dolby Audio untuk suara yang lebih imersif.

    Content image for article: Xiaomi Watch 5 dan Ekosistem AIoT Baru Resmi Meluncur di Indonesia

    Fitur active noise cancellation (ANC) pada perangkat ini mampu meredam kebisingan hingga 55 dB, didukung algoritma adaptif yang menyesuaikan peredaman secara real-time.

    Daya tahan baterai menjadi salah satu keunggulan utama, dengan kemampuan pemutaran hingga 8 jam nonstop atau total 33 jam dengan casing pengisi daya.

    Fitur pengisian cepat memungkinkan penggunaan selama dua jam hanya dengan pengisian 5 menit. Ketersediaan produk-produk ini diharapkan dapat segera ditemukan di berbagai gerai Xiaomi di seluruh Indonesia, memberikan opsi lengkap bagi konsumen yang menginginkan gaya hidup cerdas yang terintegrasi. (Icha)

  • Penjualan Ray-Ban Meta Naik 3 Kali Lipat di 2025

    Penjualan Ray-Ban Meta Naik 3 Kali Lipat di 2025

    Telko.id – Penjualan kacamata pintar Ray‑Ban Meta menorehkan penampilan signifikan pada tahun 2025, tumbuh hingga tiga kali lipat dibandingkan total penjualan pada periode sebelumnya sejak debutnya.

    Data yang dirilis oleh EssilorLuxottica , mitra produksi Meta dalam lini kacamata pintar, mencatat bahwa lebih dari 7 juta unit kacamata pintar berhasil terjual sepanjang tahun lalu, angka yang jauh melampaui sekitar 2 juta unit yang dicapai dalam rentang 2023–2024.

    EssilorLuxottica sendiri merupakan konglomerat kacamata asal Prancis-Italia yang telah bekerja sama dengan Meta sejak peluncuran kacamata pintar Ray-Ban Stories generasi pertama pada 2021.

    Dalam laporannya, EssilorLuxottica menyebut penjualan kacamata pintar Meta sepanjang 2025 meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan laporan sebelumnya. Adapun lonjakan penjualan tersebut tidak lepas dari ambisi Meta dan EssilorLuxottica dalam merilis berbagai model kacamata pintar sepanjang 2025.

    Selain menghadirkan pembaruan perangkat keras untuk kacamata Ray-Ban Meta, kedua perusahaan itu juga memperluas portofolio produknya lewat peluncuran Oakley Meta HSTN dan Oakley Meta Vanguard.

    Tak hanya itu, Meta dan EssilorLuxottica juga memperkenalkan perangkat kacamata pintar lain, yaitu Meta Ray-Ban Display yang dipasarkan seharga US$800 (atau sekitar Rp 13,4 jutaan).

    Fenomena ini menunjukkan bahwa kacamata pintar kini tidak lagi menjadi gadget eksperimental belaka, tetapi mulai menarik perhatian konsumen luas.

    Kolaborasi Meta dengan EssilorLuxottica, yang menghasilkan berbagai versi Ray-Ban Meta dari generasi awal hingga model dengan fitur canggih seperti head-up display , telah memperluas daya tarik produk ini di segmen teknologi wearable.

    Secara teknis, kacamata pintar ini menggabungkan sejumlah kemampuan seperti kamera untuk foto/video, konektivitas nirkabel, pemrosesan kecerdasan buatan ringan, serta pada versi terbaru, tampilan digital di bidang pandang pengguna yang memungkinkan notifikasi, petunjuk arah, dan informasi lain muncul di lensa kaca secara real-time.

    Baca juga:

    Mengingat perangkat ini masih jauh berbeda dari kacamata AR/VR penuh, keberhasilannya lebih banyak dipicu oleh kombinasi antara gaya Ray-Ban yang populer dan fungsi teknologi yang mulai terasa relevan bagi pengguna sehari-hari.

    Peningkatan penjualan ini juga mencerminkan perubahan selera konsumen terhadap perangkat wearable : dari sekadar tren futuristik ke arah fungsi yang terasa berguna dalam kehidupan nyata —seperti perekaman cepat, bantuan AI ringan, dan integrasi sosial/komunikasi—yang membuat kacamata pintar semakin dicari. Produk seperti Ray-Ban Meta berhasil menarik pembeli karena tampil sebagai wearable yang “lebih dekat dengan kacamata sehari-hari” dibandingkan headset berat.

    Meski begitu, tantangan masih ada. Kacamata pintar umumnya masih berharga premium, dan alasan teknis seperti durasi baterai, kenyamanan desain, serta kekhawatiran tentang privasi menjadi hambatan bagi adopsi massal.

    Namun tiga kali lipatnya angka penjualan membuktikan bahwa pasar wearable AR/AI sudah bergerak dari niche ke arah mainstream —membuka peluang kompetisi teknologi yang lebih luas, termasuk dari Google, Samsung, dan Apple di masa mendatang.

  • Robot Humanoid China Mulai Patroli Perbatasan

    Robot Humanoid China Mulai Patroli Perbatasan

    Telko.id – China mulai mengoperasikan robot humanoid untuk membantu tugas patroli di wilayah perbatasannya dengan Vietnam, sebuah langkah yang menunjukkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan kini benar-benar diterapkan di lapangan. Robot yang digunakan adalah Walker S2, dikembangkan oleh perusahaan robotik asal China, UBTech Robotics.

    Robot ini dirancang menyerupai manusia, mampu berjalan secara mandiri, serta dilengkapi sensor visual dan sistem AI untuk mengenali lingkungan sekitar. Salah satu keunggulan teknisnya adalah kemampuan mengganti baterai secara otomatis, memungkinkan operasional hampir 24 jam tanpa perlu campur tangan manusia secara langsung.

    Melansir dari DetikInet, dalam implementasinya, robot humanoid ini tidak menggantikan petugas keamanan, melainkan berperan sebagai asisten untuk tugas-tugas rutin seperti membantu pengaturan antrean, memantau area publik, hingga memberikan informasi dasar kepada pengunjung.

    Secara teknologi, Walker S2 menggabungkan sistem navigasi berbasis sensor, pemrosesan data real-time, serta algoritma kecerdasan buatan untuk merespons situasi di sekitarnya. Hal ini menunjukkan perkembangan robot humanoid yang kini tak lagi sebatas demonstrasi teknologi, melainkan mulai masuk ke infrastruktur operasional resmi.

    Baca juga:

    Meskipun proyek ini terjadi di Asia, ide yang sama juga mulai menarik perhatian di Eropa, terutama di tengah tekanan migrasi yang terus meningkat.

    Menurut Komisaris Pemerintah Hungaria untuk Kecerdasan Buatan, László Palkovics, teknologi robot humanoid kini telah mencapai titik produksi massal menjadi realistis.

    Ia menjelaskan bahwa teknologi ini sudah melewati fase eksperimental dan siap diproduksi massal, terutama dengan keterlibatan sektor otomotif yang kuat di Hungaria. “Teknologi ini sekarang telah melewati fase eksperimental dan siap untuk produksi massal,” kata Palkovics, dikutip dari Hungarian Conservative, Senin (16/2/2026).

    Langkah China ini sekaligus memperlihatkan arah pengembangan AI dan robotik yang semakin agresif di sektor publik. Bagi masyarakat luas, penerapan robot humanoid di perbatasan menjadi sinyal bahwa otomatisasi berbasis AI akan semakin sering ditemui di ruang-ruang publik, terutama untuk meningkatkan efisiensi, konsistensi kerja, dan dukungan operasional jangka panjang.

  • Pasar IoT Indonesia Tembus Rp673 Triliun, Faizal Rochmad Pimpin ASIOTI

    Pasar IoT Indonesia Tembus Rp673 Triliun, Faizal Rochmad Pimpin ASIOTI

    Telko.id – Industri Internet of Things (IoT) di Tanah Air menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat agresif dengan proyeksi nilai pasar mencapai US$40 miliar atau setara Rp673 triliun pada tahun 2025.

    Momentum strategis ini beriringan dengan penetapan Dr. Faizal Rochmad Djoemadi, M.Sc sebagai Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI) periode 2026–2029, menggantikan Teguh Prasetya yang telah menyelesaikan masa baktinya.

    Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Musyawarah Nasional (Munas) III ASIOTI di Jakarta, jumlah perangkat IoT yang beredar di Indonesia diperkirakan mencapai 678 juta unit.

    Angka ini diprediksi akan terus melonjak seiring dengan adopsi teknologi digital yang masif di segmen konsumen maupun korporasi.

    Ketua ASIOTI periode 2022–2025, Teguh Prasetya, mengungkapkan bahwa industri IoT nasional diproyeksikan tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 14,7%.

    Potensi peningkatan jumlah perangkat bahkan diperkirakan mampu menembus angka 800 juta unit dalam beberapa tahun mendatang. Pertumbuhan ini menuntut adanya regulasi yang kuat dan standar teknis yang memadai.

    Teguh menegaskan bahwa sejak awal asosiasi berkomitmen mendorong kedaulatan digital. Hal ini dilakukan melalui penyusunan standar SNI IoT, penguatan regulasi IoT, serta penyusunan best practice pemanfaatan teknologi tersebut.

    Hingga saat ini, ASIOTI telah berkontribusi dalam mencetak 11.800 engineer IoT bersertifikasi yang diakui secara regional.

    Content image for article: Pasar IoT Indonesia Tembus Rp673 Triliun, Faizal Rochmad Pimpin ASIOTI

    “Pengembangan solusi IoT nasional menjadi kebutuhan mendesak seiring masifnya pertumbuhan perangkat di Indonesia,” ujar Teguh dalam Munas III ASIOTI yang digelar pada Kamis (12/2/2026).

    Ia juga menyoroti bahwa tantangan utama saat ini terletak pada pemerataan jaringan yang belum sepenuhnya menjangkau seluruh pelosok negeri, meskipun upaya pemanfaatan jaringan unlicensed pada frekuensi 433 dan 920 MHz terus digalakkan.

    Transformasi Kepemimpinan dan Visi Baru

    Dalam agenda Munas III tersebut, Dr. Faizal Rochmad Djoemadi, M.Sc resmi terpilih sebagai nahkoda baru ASIOTI untuk tiga tahun ke depan. Faizal bukanlah sosok baru dalam industri teknologi nasional.

    Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur IT & Digital PT Telkom Indonesia, di mana ia memimpin strategi digitalisasi perusahaan serta pengembangan solusi berbasis kecerdasan buatan (AI).

    Dengan latar belakang pendidikan Master of Science dari University of Saskatchewan, Kanada, dan gelar Doktor dari Universitas Brawijaya, Faizal dinilai memiliki kombinasi kepemimpinan strategis dan kapabilitas teknis yang mumpuni.

    Di bawah kepemimpinannya, ASIOTI menargetkan penguatan standardisasi, tata kelola IoT, serta perluasan kolaborasi lintas sektor.

    Struktur kepengurusan baru ini juga diperkuat dengan kehadiran Dr. Ir. Ismail, M.T sebagai Dewan Pengawas. Ismail yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), diharapkan dapat memperkuat sinergi antara asosiasi dan pemerintah.

    Keberadaannya dinilai krusial untuk memastikan pengembangan IoT berjalan selaras dengan kebijakan nasional, termasuk dalam aspek kedaulatan data dan infrastruktur digital.

    Dukungan Pemerintah dan Tantangan Industri

    Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Reza, dalam sambutannya menyampaikan bahwa negara-negara global kini tengah berlomba memanfaatkan digitalisasi. Indonesia sendiri memiliki nilai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara yang mencapai US$130 miliar. Menurutnya, adopsi IoT menjadi faktor kunci dalam mendongkrak daya saing industri nasional.

    Namun, Faisol memberikan catatan kritis bahwa Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pasar. Ketergantungan pada impor komponen inti seperti microcontroller dan mikroprosesor masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk mencapai kemandirian industri.

    Senada dengan hal tersebut, Direktur Kebijakan dan Strategi Infrastruktur Digital Komdigi, Denny Setiawan, mengingatkan bahwa pengembangan IoT bukan sekadar masalah teknologi.

    Aspek tata kelola, mulai dari perizinan investasi, harmonisasi regulasi, hingga kesiapan data center, memegang peranan vital dalam menjamin kecepatan pemrosesan data dan kedaulatan informasi.

    Inovasi Konektivitas dan Solusi Cerdas

    Dalam sesi talkshow bertema “IoT Indonesia 2026: Dari Konektivitas ke Kecerdasan Kolektif”, General Manager Network Digitalization and Service Innovation Telkomsel, Bowon Baskoro, memaparkan kesiapan infrastruktur operator seluler tersebut.

    Telkomsel saat ini mengoperasikan lebih dari 272 ribu BTS, yang terdiri dari 221 ribu BTS 4G dan lebih dari 2.500 BTS 5G.

    Bowon menjelaskan bahwa cakupan 4G telah mencapai 97% populasi, sementara fixed coverage mencakup 98% wilayah. Konektivitas 5G secara khusus diarahkan untuk mempercepat adopsi IoT di sektor strategis seperti smart mining, smart warehouse, dan smart manufacturing.

    “Melalui jaringan yang andal, latensi rendah, dan skalabilitas tinggi, Telkomsel mendorong implementasi solusi berbasis otomatisasi, kecerdasan buatan, hingga pemantauan real-time guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri,” ujar Bowon.

    Peluang ekspansi dinilai masih sangat besar mengingat penetrasi fixed broadband di Indonesia baru berada di angka 4,82 pelanggan per 100 penduduk.

    Dari sisi penyedia solusi, Founder PT Myeco Inovasi Indonesia (myECO), Maulana Derifato A, membagikan keberhasilan implementasi solusi efisiensi energi berbasis AI dan IoT.

    Solusi yang mengintegrasikan software, firmware, dan hardware ini telah digunakan oleh lebih dari 55.000 perangkat. Salah satu implementasi sukses di Grup Astra (AGEn) mencatat penghematan biaya operasional hingga Rp368 miliar dan efisiensi energi sebesar 3.136 terajoule.

    Sementara itu, Tribe Leader Telkom Regional Solution Antares Telkom Indonesia, Ibnu Alinursafa, menambahkan bahwa pemanfaatan IoT terus meluas ke berbagai use case seperti smart city, pertanian, hingga pelacakan aset. CEO PT Indo Code Technology, Eng Tjong, turut memperkenalkan inovasi sistem peringatan dini bencana dan penghitungan kerumunan orang sebagai bentuk implementasi nyata teknologi ini.

    Ancaman Siber Mengintai

    Di tengah pesatnya digitalisasi, aspek keamanan menjadi sorotan utama. Sandiman Muda Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Energi dan Sumber Daya Alam BSSN RI, Agus Winarno, mengingatkan bahwa ancaman pelanggaran data dan serangan siber terus meningkat. Potensi kerugian global akibat serangan ini bahkan diprediksi mencapai triliunan dolar AS.

    Lonjakan penggunaan cloud dan perangkat terhubung secara langsung memperluas permukaan serangan, termasuk risiko DDoS dan ransomware.

    Agus menegaskan bahwa penguatan sistem keamanan, enkripsi data, serta kesiapan SDM adalah syarat mutlak agar percepatan digitalisasi tidak berujung pada risiko kebocoran data yang merugikan.

    Peluncuran white paper “Tren Teknologi dan Bisnis TIK Indonesia 2026” dalam acara ini menjadi simbol langkah strategis pengembangan bisnis IoT di Tanah Air.

    Dokumen ini diharapkan menjadi panduan bagi para pemangku kepentingan dalam memetakan proyeksi permintaan dan arah bisnis teknologi di masa depan, seiring dengan makin terbukanya peluang AI dan IoT dalam ekosistem digital Indonesia. (Icha)