Kategori: Fintech

  • Bayar dan Top-up “Ojol” Grab Bisa Pakai Dompet Digital OVO

    Bayar dan Top-up “Ojol” Grab Bisa Pakai Dompet Digital OVO

    Telko.id, Jakarta – OVO bertekad menjadi aplikasi dompet digital universal di Indonesia dengan menggandeng sejumlah mitra strategis empat perusahaan ternama yakni Bank Mandiri, Grab, Alfamart dan Moka.

    Kerjasama tersebut menyambung kemitraan yang sudah ada sebelumnya dengan jaringan Lippo yang memiliki banyak perusahaan yang berberak diberbagai bidang.

    Presiden Direktur OVO Adrian Suherman optimistis kerjasama ini bisa membuat OVO menjadi platform pembayaran dengan penerimaan terluas di Indonesia. Ini didasarkan perkembangan aplikasi dompet digital ini dalam kurun waktu kurang dari satu tahun bisa mendapat sekitar 5 juta pengguna aktif.

    “Dengan kerjasama ini OVO akan menjadi dompet digital yang universal di Indonesia. Sebentar lagi OVO tersedia di 350 ribu gerai di 212 kota, mengungguli perusahaan dompet digital lainnya,”ujar Adrian dalam acara peluncuran kemitraan strategis dengan Bank Mandiri, Alfamart, Grab dan Moka di Jakarta, Kamis (5/7/2018).

    Menurut Adrian, saat ini OVO merupakan satu-satunya dompet digital yang diterima secara nasional di gerai fisik dan online. Tingkat penerimaan OVO diklaim mencapai lebih dari 90 persen pusat perbelanjaan di Indonesia, yang termasuk hypermarket, department store, coffee shop, bioskop, penyedia parkir dan jaringan rumah sakit terkemuka di Indonesia.

    Dengan kemitraan ini, lanjut dia, pengguna dapat melakukan pengisian ulang alias top up di OVO wallet melalui ATM Mandiri, Jaringan Alfamart dan pengemudi Grab di seluruh Indonesia.

    Selain itu, OVO juga berencana memperluas jangkauan teknologi QR code pada OVO wallet untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diseluruh penjuru negeri.

    “Kami bekerjasama dengan mitra untuk menciptakan kepercayaan akan transaksi non tunai bagi konsumen Indonesia dan membantu mempercepat transformasi Indonesia menuju ekonomi digital,”kata Adrian.

    Managing Director Grab Rizki Kramadibrata menyambut baik kerjasama tersebut karena dapat meningkatkan benefit bagi kedua perusahaan. Konsumen OVO bisa menggunakan dompet digitalnya untuk membayar layanan Grab dimana saja sekaligus melakukan top up.

    Dari sisi perusahaan, OVO juga mendapat benefit dari adanya potensi tambahan jutaan pelanggan dan driver Grab.

    “Semua driver Grab akan bisa diminta untuk melakukan top up saldo OVO dimana saja. Saat ini belum semua bisa melakukan, karena ini kami sedang terus melakukan pelatihan untuk para mitra kami,” tukas dia.

    Sumber : Telset.id

  • Gaet Bank Mandiri, OVO Pastikan Tak Rebutan Pelanggan

    Gaet Bank Mandiri, OVO Pastikan Tak Rebutan Pelanggan

    Telko.id, JakartaPlatform pembayaran OVO menggaet Bank Mandiri untuk memperluas jaringan kemitraan dan cakupan layanan mereka di Indonesia. Langkah ini dinilai berpotensi akan bisa menimbulkan gesekan alias rebutan pelanggan antar sesama pemain Fintech (Financial Technology).

    Gesekan antara kedua perusahaan dianggap bisa saja terjadi, mengingat kedua perusahaan berbeda sektor ini sama-sama memiliki layanan dompet digital, dimana Mandiri juga memiliki layanan e-money. Namun dugaan akan terjadi gesekan itu dibantah oleh pihak OVO.

    Presiden Direktur OVO Adrian Suherman menyatakan kerjasama dengan Bank Mandiri itu adalah cross transaction alias transaksi silang yang justru saling menguntungkan.

    Pasalnya pengguna OVO bisa melakukan transaksi dengan mitra pedagang alias merchant bank plat merah itu. Disisi lain, nasabah e-money Bank Mandiri otomatis akan bisa melakukan transaksi di seluruh gerai mitra OVO.

    “Kami tidak lihat sesama pemain fintech sebagai kompetitor, justeru sama-sama ingin membuat orang menggunakan dompet digital. Potensinya masih sangat besar di Indonesia,” ujar Adrian dalam acara peluncuran kemitraan OVO dengan Bank Mandiri, Alfamart, Grab dan Moka di Jakarta (5/7/2018).

    Baca juga: Bank dan Fintech: Teman atau Musuh?

    Menurut Adrian, saat ini jumlah orang Indonesia yang mempergunakan dompet digital masih sangat kecil karena 90 persen masih menggunakan metode digital alias memakai uang tunai.

    Dengan begitu, kerjasama antara sesama pemain fintech diharapkan bisa memperluas jaringan gerai mitra yang akan menarik minat masyarakat menggunakan dompet digital.

    Selain Bank Mandiri, Grab juga memiliki layanan dompet digital Grab Pay. Namun pasca kerjasama ini, fitur pembayaran transportasi online ini sudah berganti dengan logo “O” yang merupakan simbol OVO.

    Managing Director Grab Rizki Kramadibrata juga tidak memberikan komentar mengenai hilangnya fitur pembayaran tersebut. Rizki mengatakan Grab dan OVO sama-sama memiliki misi yang sama mewujudkan inklusi keuangan dan digital.

    Selain itu, kerjasama ini membuat pelanggan Grab mendapat berbagai keuntungan seperti bisa bertansaksi di berbagai gerai mitra OVO dan tidak perlu membawa banyak uang tunai, khususnya untuk perempuan.

    Baca juga: Bayar “Ojol” Grab Bisa Pakai Dompet Digital OVO

    “Ini pilihan sangat logis untuk pelanggan karena meningkatkan pengalaman dengan Grab dan menghindari membawa uang dalam jumlah besar, sehingga lebih aman juga,” tukas dia.

    Dengan kerjasama tersebut, Adrian optimistis OVO bisa digunakan oleh lebih dari 60 juta pengguna ponsel di Indonesia karena juga menggandeng MOKA, sistem point of sale (POS) alias kasir digital yang terintegrasi sistem pembayaran berbasis komputasi awan (cloud) terkemuka.

    Platform MOKA tersedia di hampir 200 kota dan telah membantu lebih dari 10.000 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di seluruh tanah air menerima pembayaran digital pertama kalinya. [WS/HBS]

    Sumber : Telset.id

  • Ini Dia Solusi Wakaf Digital Pertama di Indonesia

    Ini Dia Solusi Wakaf Digital Pertama di Indonesia

    Telko.id – Ammana Fintek Syariah menjadi yang pertama sebagai perusahaan teknologi finansial (Fintech) penyedia platform investasi peer-to-peer (P2P) lending Syariah pertama di Indonesia. Setelah diresmikan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada tanggal 23 Desember 2017 yang lalu, Ammana Fintek Syariah efektif beroperasi menawarkan solusi keuangan bagi pelaku Usaha Keuangan Menengah (UKM) serta mengajak masyarakat selaku Shahibul Maal menjadi mata rantai kebaikan dan menjauhkan pelaku usaha dari bahaya Riba.

    Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah populasi beragama Islam terbesar di dunia, menyimpan jumlah potensi wakaf besar yang tersebar di penjuru negara sehingga dapat dikembangkan ke arah sektor produktif. Besarnya potensi wakaf di Indonesia yang belum dikelola dan diberadayakan secara profesional dan maksimal masih memerlukan perhatian banyak pihak, tidak hanya dari pemerintah, namun juga dari seluruh lembaga yang bergerak di sektor pengembangan ekonomi syariah.

    Kehadiran Ammana Fintek Syariah di tengah-tengah masyarakat Indonesia diharapkan dapat menjadi solusi berwakaf yang lebih mudah dan terpercaya karena seluruh kegiatannya dilaksanakan dalam platform digital. Targetnya, Ammana dapat memberi kemudahan bagi pemodal dan agar masyarakat dapat mengambil bagian dalam investasi dunia yang berkah akhirat.

    Dalam kesempatan soft-launching dari Ammana di bilangan Tb. Simatupang, Jakarta hari ini, Lutfi Adhiansyah selaku CEO dari Ammana Fintek Syariah

    mengatakan bahwa Ammana memiliki visi untuk memberi kemudahan bagi pemodal dan agar masyarakat dapat mengambil bagian dalam investasi dunia yang berkah akhirat.

    “Ammana hadir untuk memudahkan kolaborasi pendanaan usaha secara digital yang menguntungkan dan berkah bagi masyarakat, terutama di Indonesia,” jelas Lutfi Adhiansyah, CEO dari Ammana Fintek Syariah saat soft launching di Jakarta (14/05).

    Sejak empat belas tahun yang lalu, Pemerintah telah menaruh perhatian lebih tentang kondisi wakaf di Indonesia melalui dibentuknya Badan Wakaf Indonesia (BWI). BWI diberikan mandate melakukan pembinaan terhadap nazir dalam mengelola dan mengembangkan harta wakaf sehingga bisa dimanfaatkan menjadi produktif.

    Untuk memfokuskan wakaf ke arah yang lebih produktif, BWI meluncurkan Forum Wakaf Produktif (WFP) yang beranggotakan lembaga-lembaga dan organisasi non-pemerintahan yang diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia tentang wakaf serta mendorong wakaf untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi negara.

    Ammana Fintek Syariah ini mendapatkan dukungan penuh dari BWI dan FWP, serta lembaga-lembaga syariah di Indonesia sebagai inovasi platform fintek syariah.

    “Kami mengapresiasi kehadiran Ammana di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Dunia perwakafan diharapkan akan semakin berkah dan kesejahteraan masyarakat lokal maupun global dapat meningkat,“ kata Moeldoko, Wakil Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah dalam kesempatan yang sama.

    Sejak efektif beroperasi hingga saat ini Ammana telah menjangkau lebih dari lebih dari seribu pengguna organic (organic users) dan 420 investor dengan perputaran uang mencapai lebih dari 1 miliar rupiah. Meski masih tergolong baru, namun Ammana optimis akan perhatian dan animo yang diberikan masyarakat islam di Indonesia untuk dapat berwakaf dan membantu sesama melalui Ammana dengan lebih mudah lagi.

    “Insya Allah, melalui Ammana mudah-mudahan lebih banyak lagi masyarakat yang merasa terbantukan, dan ibadah wakaf dapat dilaksanakan dengan lebih baik,” tutup Lutfi.

     

     

  • Target Transformasi Digital Pegadaian Jadi Financial Company

    Target Transformasi Digital Pegadaian Jadi Financial Company

    Telko.id – Transfromasi digital menjadi sebuah seharuskan bagi perusahaan untuk dapat  bertahan diindustri. Hanya saja, memang membutuhkan kehati-hatian agar semua nya dapat berjalan dengan mulus. Pegadaian pun, diusia 117 bersiap melakukan transfromasi digital. Targetnya adalah menjadi financial company dan berencana mulai melantai dibursa pada 2020 mendatang.

    Untuk itu, Pegadaian memulai proses transfromasi dengan strategi  G-5Star Generation, ditandai dengan peluncuran Pegadaian Digital Service (PDS) untuk memperbesar target pasarnya hingga ke generasi milenial.

    “Saat kami sedang menyiapkan semua prosesnya (4D), dari mulai squad organization dan project management, selanjutnya masuk ke tahapan design dan delivere sehingga dapat melantai di bursa pada 2020,” kata Sunarso, Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) disela-sela acara puncak HUT Pegadaian ke 117, Minggu (1/4), di Jakarta.

    Sunarso yang baru sekitar 5 bulan memimpin Pegadaian menjelaskan bahwa goal-nya menciptakan values company dengan strategi G-5Star Generation yang merupakan program transformasi yang mulai dilakukan di perusahaan. Dengan 5G’s ini perseroan akan menumbuhkan bisnis yang ada sekarang (Grow Core), menangkap peluang baru (Grab New), mengembangkan talent internal (Groom Talent), menciptakan teknologi generasi terkini (Gen-Z Tech) dan membangun budaya yang kuat (Great Culture).

    Menurut Sunarso, investasi Pegadaian pada tahun ini cukup agresif dengan Capex Rp1,2 triliun. “Kami akan lari jarak jauh, oleh sebab itu Capex yang kami sediakan cukup besar karena kami akan going global. Dari mulai mengoperasionalkan Pegadaian Digital Services, dan agresif mengajak kerjasama agen serta memperluas produk layanan. Akhirnya Pegadaian akan memiliki jasa gadai, fidusia dan fintech (financial company).”

    Dengan strategi G-5Star Generation, Sunarso optimis, jumlah nasabah yang berusia produktif akan terus meningkat. Karena saat ini saja sekitar 68% nasabah Pegadaian rata-rata usianya di bawah 45 tahun, sehingga perseroan akan terus melakukan  peningkatan kualitas layanan digital dan memperbanyak jaringan agen, serta gadai tanah syariah, dan layanan berbasis financial technology. Direktur Produk Haryanto Widodo menjelaskan untuk memperluas agen pergadaian caranya dengan menggandeng badan usaha yang sudah melakukan kerjasama dengan Pegadaian dan didukung dengan penggunaan teknologi informasi.

    Dia menambahkan Pegadaian akan terus mendigitalisasi business process, meningkatkan kenyamanan layanan di outlet, revitalisasi gudang & logistik, serta pelayanan prima kepada nasabah. Selain itu juga menambah produk baru, gadai tanpa bunga  yang besaran pinjaman maksimal Rp500.000 dengan tenor dua bulan dan ditargetkan satu juta nasabah.

    Seperti Apa PDS itu?

    Sunarso menjelaskan, Pegadaian Digital Service (PDS) merupakan layanan digital dari Pegadaian dalam bentuk aplikasi yang berbasis web dan mobile. PDS akan melayani nasabah dan calon nasabah yang ingin mendapatkan informasi produk-produk Pegadaian.

    Keunggulan dari PDS ini adalah dari segi kecepatannya nasabah mendapatkan pelayanan setara dengan yang diberikan oleh pelayanan di outlet Pegadaian konvensional.

    “Nantinya nasabah Pegadaian cukup meluangkan beberapa menit saja untuk mengisi informasi di PDS dan mereka bisa melakukan pengajuan gadai atau pengajuan kredit mikro, sesuai dengan kebutuhan nasabah,“  tambahnya.

    Selain itu PDS juga melayani nasabah yang ingin membuka tabungan emas, membayar angsuran, melakukan top-up tabungan emas, hingga melayani masyarakat yang ingin bergabung menjadi agen Pegadaian. Diharapkan kehadiran PDS semakin menguatkan minat generasi milenial untuk bisa lebih dekat dengan produk-produk Pegadaian.

    Target Pendapatan 2018 Naik 19% 

    Sunarso menjelaskan, tahun ini perseroan menargetkan 11,5 juta nasabah dan OSL sebesar Rp45,4 triliun dan pendapatan usaha Rp12,5 triliun, meningkat sekitar 19% persen dibandingkan pendapatan tahun lalu Rp10,5 triliun.

    “Performa keuangan perusahaan tahun 2018 diperkirakan akan terus tumbuh positif seiring dengan berlanjutnya pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan 5,4 persen,” ujar Sunarso.

    Menurut Sunarso, pada saat yang bersamaan Pegadaian menargetkan laba bersih pada 2018 sebesar Rp2,7 triliun, melonjak 7,14 persen dari tahun lalu yang diperkirakan mencapai Rp2,52 triliun.

    Di sisi lain, Pegadaian sebagai BUMN harus memenuhi aspirasi pemegang saham (pemerintah) untuk selalu meningkatkan perannya dalam inklusi keuangan yang diukur dengan banyaknya jumlah nasabah yang dapat dilayani perseroan. Pegadaian pada 2017 memberikan kontribusi kepada pemegang saham berupa dividen sebsar Rp1,02 triliun dan setoran pajak sebesar Rp1,6 triliun.

    Sunarso menjelaskan untuk kebutuhan pendanaan sepanjang tahun ini, Perseroan menerbitkan obligasi berkelanjutan III tahap II dengan nilai total emisi Rp3,5 triliun yang akan digunakan untuk keperluan refinancing obligasi, modal kerja dan pelunasan SUP yang jatuh tempo, serta mengejar target OSL periode 2018.

    Selain itu juga, Pegadaian berencana akan menerbitkan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) senilai Rp500 miliar yang digunakan untuk restrukturisasi pinjaman dalam rangka perbaikan cost of fund pinjaman syariah. (Icha)

     

     

     

     

  • Bank Danamon Bareng DOKU Hadirkan Layanan Dompet Digital

    Bank Danamon Bareng DOKU Hadirkan Layanan Dompet Digital

    Telko.id – Bank Danamon Indonesia menghadirkan D-Wallet, yang merupakan jasa layanan elektronik berbasis server, melalui kerjasama co-branding dengan Nusa Satu Inti Artha (DOKU). Dengan adanya D-Wallet, nasabah maupun non-nasabah Bank Danamon memiliki “dompet digital” dalam bentuk aplikasi smartphone yang dapat digunakan untuk melakukan belanja atau pembayaran online maupun offline. D-Wallet juga memungkinkan transaksi online seperti belanja melalui situs e-commerce bagi yang tidak memiliki rekening bank maupun kartu kredit.

    “Layanan D-Wallet menjawab lifestyle masyarakat saat ini yang lebih memilih berbelanja dan melakukan transaksi secara digital. Dengan D-Wallet, masyarakat lebih leluasa dan nyaman dalam melakukan pembelian dan pembayaran elektronik, termasuk mereka yang tidak punya rekening perbankan atau kartu kredit,” kata Michellina Triwardhany, Direktur SME, Consumer Banking dan Branch Network Bank Danamon.

    Michellina menambahkan bahwa kemudahan adalah bagian dari komitmen Bank Danamon untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus memberikan nilai tambah bagi nasabah maupun masyarakat luas. Inisiatif ini juga mendukung gerakan non-tunai yang ditetapkan Pemerintah serta menambahkan akses terhadap layanan perbankan bagi yang belum mendapatkannya.

    Melalui aplikasi D-Wallet, pengguna diantaranya dapat melakukan pembelian voucher kuliner, produk investasi, serta pembelian di seluruh merchant-merchant online yang telah bekerjasama dengan DOKU seperti AliExpress, Lazada dan lain-lain. D-Wallet dapat digunakan untuk pembelian secara offline serta melayani tarik tunai atau cash-out melalui gerai-gerai minimarket seperti Alfamart, Alfamidi, Lawson serta Dan+Dan. Pemegang D-Wallet juga dapat melakukan pembayaran berbagai tagihan seperti BPJS dan PDAM.

    Selain pembelian dan pembayaran, D-Wallet memiliki fitur transfer dana ke pengguna D-Wallet lainnya serta transfer dana ke rekening Bank Danamon atau bank lainnya. Saldo D-Wallet dapat di-isi atau di top-up non tunai melalui jaringan layanan Bank Danamon (ATM & Mobile banking), atau top up tunai melalui gerai -gerai Alfamart, Alfamidi, Lawson, dan Dan+Dan.

    “Selain memberikan kemudahan dalam bentuk transaksi tanpa tunai melalui aplikasi, D-Wallet juga aman digunakan karena tidak perlu mengirimkan informasi rekening perbankan ataupun kartu kredit  ketika melakukan transaksi di merchant. Untuk belanja dan tarik tunai  atau cash-out di gerai-gerai minimarket seperti Alfamart, Alfamidi, Lawson serta Dan+Dan, pengguna D-Wallet cukup melakukan permintaan token (generate token).  Setiap transaksi yang dilakukan melalui D-Wallet juga harus menggunakan PIN,” tambah Djamin Nainggolan, Consumer Lending and E- Channel Head, Bank Danamon.

    Terdapat 2 (dua) jenis pengguna D-Wallet yaitu pengguna regular  dan pengguna premium dimana masing-masing pengguna  memiliki batas maksimal saldo sebesar Rp 1 juta bagi pengguna regular dan batas maksimal saldo sebesar Rp 10 juta bagi pengguna premium. Selain dari batas saldo yang lebih besar, pengguna premium  dapat melakukan transfer dana ke rekening Bank Danamon atau bank lainnya . Untuk menjadi pengguna premium, mudah karena dapat dilakukan secara langsung melalui aplikasi D-Wallet dan proses verifikasinya online.

    “Kerja sama ini merupakan salah satu upaya DOKU untuk semakin memperluas implementasi pembayaran non-tunai lintas komunitas di Indonesia. Setelah sebelumnya DOKU melakukan co-brand dengan komunitas edukasi dan otomotif, hari ini DOKU kembali bekerjasama untuk memperkuat komunitas perbankan melalui peluncuran D-Wallet,” ungkap Ricky Richmond, Senior Vice President of Consumer Product DOKU.

    Harapannya, kolaborasi ini dapat semakin memperkuat lini produk dan pilihan layanan Bank Danamon kepada para nasabah, dan juga membantu Bank Danamon untuk memperluas jangkauan konsumen, terutama konsumen yang belum memliki rekening bank maupun kartu kredit untuk bertransaksi online maupun offline.

    Ricky menambahkan, berdasarkan data statistik Bank Indonesia, jumlah uang elektronik yang sudah beredar hingga akhir 2017 mencapai 113 juta instrumen, termasuk e-money dan e-wallet. Jumlah ini meningkat signifikan dari posisi awal 2017 yang hanya 52 juta instrumen uang elektronik.

    Untuk mendapatkan aplikasi D-Wallet, cukup dengan mengunduh aplikasi D-Wallet di App Store untuk pengguna iOS dan Play Store untuk pengguna Android, serta mengisi informasi pribadi dan melakukan top-up perdana. (Icha)

     

     

  • Startup Fintech P2P Lending Bukan Rentenir Digital?

    Startup Fintech P2P Lending Bukan Rentenir Digital?

    Telko.id – Pertumbuhan startup fintech yang bergerak dalam bidang peer to peer (P2P) lending di Indonesia disebut masih memiliki lahan yang luas untuk bergerak. Data Otoritas Jasa Keungan (OJK) mengungkap bahwa kebutuhan kredit nasional mencapai Rp1.700 triliun per tahun. Namun, hanya Rp700 triliun investasi terpenuhi.

    Di sisi lain, ada opini yang menyatakan bahwa financial techonology ini merupakan bentuk lain dari rentenir digital.

    Menurut, Freenyan Liwang, Komisaris perusahaan startup lokal P2P untuk properti Gradana, Menurutnya, baik Gradana maupun perusahaan fintech lainnya yang bergerak dalam bidang pembayaran atau pembiayaan UMKM justru menjadi bagian dari solusi untuk merealisasikan program pemerintah tentang inklusi keuangan.

    “Dengan adanya model bisnis seperti ini, maka seluruh lapisan masyarakat bisa mengakses lembaga keuangan dengan lebih mudah melalui saluran-saluran pembiayaan khusus yang saat ini belum dapat difasilitasi oleh institusi keuangan konvesional,” kata Freenyan menjelaskan.

    “Dengan adanya fungsi teknologi, segala bentuk persyaratan administrasi atau pelengkap bisa dilakukan secara online dan bisa diakses kapan pun, bahkan tidak hanya pada jam kerja kantor saja. Untuk Gradana sendiri, kami juga tetap melakukan due diligence dan pengecekan terhadap calon debitur atau peminjam mengingat para konsumen kami nanti juga akan melanjutkan KPR ke bank-bank umum setelah cicilan DP mereka selesai,” tuturnya.

    Mantan Direktur Bank Sinarmas ini juga menegaskan bahwa saat ini inklusi keuangan belum optimal di Indonesia sehingga pemerintah menggalakkannya dengan lebih giat lagi terutama saat kunjungan Ratu Maxima beberapa waktu yang lalu. Tujuan inklusi keuangan agar setiap orang bisa mengakses sektor keuangan secara sederhana dan cepat, salah satunya melalui industri fintek. Hal yang serupa juga kembali diutarakan oleh Menteri Kominfo Bapak Rudiantara dalam pembukaan acara NextIcorn pada hari Rabu, (7/3)

    Menurut Freenyan, istilah rentenir digital yang akhir-akhir ini marak mengacu kepada beberapa fintech yang menawarkan payday loans di mana calon peminjam bisa mendapatkan uang secara cepat tanpa banyak persyaratan maupun verifikasi. Bunga yang dikenakan jauh lebih tinggi daripada perbankan karena  sesuai dengan besaran resikonya.

    “Semakin tinggi resiko tentu saja bunga yang diterapkan lebih tinggi. Contohnya adalah Kredit Tanpa Anggunan atau KTA. Tanpa jaminan sama sekali, namun resikonya besar bagi pemberi pinjaman. Tidak heran kalau bunganya mencapai 30 hingga 51 persen per tahun,” ujar Freenyan menjelaskan.

    Nah, untuk jenis payday loan tentunya akan dikenakan bunga lebih tinggi lagi karena kecepatan proses verifikasi diminimalisir.  Bandingkan dengan produk GraSewa yang hanya 16 persen. Malah kalau menggunakan GraDP hanya sekitar 10-12 persen dan nilai ini sudah masuk ke nilai cicilan DP di pengembang rekanan kami. Nilai tersebut sudah fixed tanpa harus mengkhawatirkan perubahan suku bunga yang mendadak atau tiba-tiba. Ini mirip dengan sistem syariah.”

    Setelah selesai menyicil DP, nantinya konsumen dapat melanjutkan melalui proses KPR dengan mengikut standar yang berlaku di bank yang menawarkan KPR tersebut. Saat ini kisaran bunga KPR ada di  sekitar 13 persen pertahun.

    Apa yang membedakan Gradana dengan jenis produk “payday loans” adalah adanya jaminan dalam bentuk sertifikat ataupun kesepakatan buyback  atau refund dengan pengembang apabila terjadi kegagalan pembayaran.

    Untuk Fintech P2P lending sendiri sudah diatur dalam POJK  Nomor 77/POJK.01/2016 di mana salah satu aspek yang ditonjolkan adalah para penyelenggara P2P tidak boleh melakukan “balance-sheet” lending di mana uang yang dipinjamkan berasal dari dana penyelanggara P2P itu sendiri. Dalam peraturan tersebut disampaikan bahwa tugas penyelenggara hanya sebagai platform yang mempertemukan calon pemberi pinjaman / pendana dengan calon peminjam.

    Tentunya sebagai platform, terutama para platform yang telah terdaftar di OJK, bertanggung jawab dan mempunyai kewajiban untuk menyampaikan informasi sebenar-benarnya.  Sebagai industri yang baru berkembang di Indonesia, teknologi finansial masih membutuhkan edukasi yang lebih massif lagi ke target konsumen. Saat ini Otoritas Jasa Keuangan sendiri telah mengeluarkan izin kepada beberapa fintek untuk beroperasi di Indonesia.

    “Pernyataan dari Ketua OJK mengenai rentenir tersebut harus disikapi dengan bijak. Tentu bukan berarti OJK sebagai lembaga ingin menghambat pertumbuhan industri ini ke depan. Justru OJK ingin agar masyarakat terlindungi dari pembiayaan yang merugikan. Buktinya Gradana sendiri mendapatkan izin dan sejauh ini berjalan lancar.  Kita siap untuk mengadopsi apapun regulasi yang dikeluarkan OJK agar masyarakat teredukasi dan tetap bisa mengambil manfaat dari keberadaan kami,” tegasnya.

     

     

  • Lewat Fintech, Pesan Tiket Bus Semudah Menjentikkan Jari

    Lewat Fintech, Pesan Tiket Bus Semudah Menjentikkan Jari

    Jakarta, 5 Maret 2018 – DOKU, penyedia solusi pembayaran elektronik lokal pertama di Indonesia, kembali memperluas ekosistem cashless di sektor transportasi dengan mengintegrasikan payment gateway dan DOKU e-Wallet ke dalam aplikasi serta layanan pemesanan tiket bus online, www.bosbis.com. Melalui integrasi ini, penumpang Bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) maupun Bus Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) bisa lebih mudah dalam melakukan pemesanan dan pembayaran tiket secara online.  Sosialisasi perdana untuk layanan pesan tiket online yang didukung sepenuhnya oleh Kementerian Perhubungan bersama dengan Organda ini dilakukan bersamaan dengan peluncuran program ‘Touch Click and GO’ di Car Free Day, Minggu (04/03/2018).

    “Kami sangat bangga dapat terlibat dalam proyek kolaborasi e-ticketing yang digagas oleh Kementerian Perhubungan ini. Kami berharap dengan adanya layanan dan aplikasi Bosbis para penumpang bus dapat lebih leluasa mengakses informasi dan mudah melakukan pembelian tiket bus darimana dan kapan saja, tak perlu repot pergi ke stasiun dan antri di loket. Selain itu DOKU juga memberikan opsi metode pembayaran beragam, sehingga calon penumpang dapat memilih metode pembayaran yang paling nyaman untuk mereka,” Jelas Himelda Renuat, Chief Marketing Officer DOKU.

    Demi kenyamanan penumpang, selain pesan dan bayar tiket bus secara online, para calon penumpang juga memiliki opsi untuk membayar tiket yang sudah dipesan melalui gerai Alfamart yang tersebar di seluruh Indonsia atau beli tiket langsung di beberapa terminal percontohan melalui vending machine tiket.

    Penumpang bus akan lebih mudah dalam melakukan pemesanan tiket, karena layanan dan aplikasi Bosbis sudah terkoneksi ke Bus Integration System (B.I.S) yang digunakan oleh Perusahaan Otobus (PO) untuk melakukan manajemen armada, harga, penjatahan kursi, keagenan tiket dan lain-lain. Sehingga, penumpang bisa memesan tiket, memilih kursi, dan membayar hanya dalam hitungan detik. Tidak perlu pergi ke stasiun dan antri di loket. Cukup mengakses www.bosbis.com ataupun aplikasi Bosbis untuk memesan tiket bus dengan lebih dari 300 operator perusahaan otobus dan penyedia jasa transportasi shuttle maupun travel yang telah bergabung di dalamnya.

    Selain itu, DOKU juga memberikan potongan senilai Rp 30 ribu untuk 1500 orang pertama yang melakukan pemesanan tiket melalui situs dan aplikasi Bosbis dengan nilai pemesanan minimum Rp 200 ribu. Untuk pengguna aplikasi e-wallet DOKU, promo Bosbis bisa dilihat pada tab promo. Selanjutnya pengguna akan diarahkan ke www.bosbis.com untuk melakukan pembelian tiket secara online.

    “Integrasi DOKU-Bosbis adalah bentuk komitmen kami dalam upaya mendukung GNNT (Gerakan Nasional Non Tunai) yang digalakkan pemerintah dan Bank Indonesia, sekaligus upaya untuk memperluas ekosistem cashless di sektor transportasi. Sebelumnya, sistem pembayaran DOKU juga sudah digunakan untuk moda transportasi udara, kereta, ride sharing, dan juga laut,” pungkas Himelda.

  • Kodak Luncurkan KodakCoin, Cryptocurrency Khusus Fotografer

    Kodak Luncurkan KodakCoin, Cryptocurrency Khusus Fotografer

    Telko.id – Kodak punya strategi unik yang cukup mengagetkan. Pasalnya, produsen yang sangat terkenal di industry fotografi ini tiba-tiba meluncurkan bisnis barunya yang masuk ke cryptocurrency. Mata uang digital yang kini sedang trend. Peluncuran KodakCoin cryptocurrency dan KodakOne sebagai platform ini merupakan hasil kerjasama dengan WENN Digital.

    Apa sebenarnya yang mendasari Kodak meluncurkan mata uang digital ini? Alasan yang dikemukakan oleh Kodak dalam siaran pers tertulisnya adalah ingin memberdayakan fotografer dan agensi foto untuk dapat berperan lebih besar dalam pengelolaan hak gambar.

    Semua itu memanfaatkan teknologi blockchain. Di mana, platform KODAKOne akan membuat buku yang berisikan hak cipta digital bagi para fotografer untuk mendaftarkan pekerjaan baru dan arsip yang kemudian dapat mereka lisensi di dalam platform. Dengan KODAKCoin, fotografer yang menjadi anggotad dapat mengambil bagian dalam ekonomi baru untuk fotografi. Termasuk dalam menerima pembayaran untuk melisensikan pekerjaan mereka segera setelah penjualan, dan baik untuk fotografer profesional maupun fotografer amatir, menjual karya mereka dengan percaya diri di platform blockchain yang aman.

    Selain itu, platform KODAKOne juga menyediakan fasilitas untuk melakukan pengecekan web secara terus menerus untuk memantau dan melindungi IP gambar yang terdaftar di sistem KODAKOne. Bila penggunaan gambar yang tidak berlisensi terdeteksi, platform KODAKOne dapat secara efisien mengelola proses pasca lisensi untuk memberi penghargaan kepada fotografer.

    “Bagi banyak orang di industri teknologi, ‘blockchain’ dan ‘cryptocurrency’ adalah kata kunci yang cepat, namun bagi fotografer yang telah lama berjuang untuk menegaskan kontrol atas pekerjaan mereka dan bagaimana penggunaannya, kata kunci ini adalah kunci untuk memecahkan apa yang terasa tidak terpecahkan. masalah,” kata CEO Kodak Jeff Clarke.

    Clarke juga menambahkan bahwa “Kodak selalu berusaha untuk mendemokratisasi fotografi dan membuat perizinan menjadi adil bagi para seniman. Teknologi ini memberi komunitas fotografi cara inovatif dan mudah untuk melakukan hal itu. ”

    “Terlibat dengan platform baru, fotografer penting tahu pekerjaan mereka dan pendapatan mereka ditangani dengan aman dan dengan kepercayaan, itulah yang kami lakukan dengan KODAKCoin,” kata CEO WENN Digital Jan Denecke.

    Jan juga menyakinkan bahwa “KODAKCoin menjamin kesesuaian dengan standar kepatuhan tertinggi terutama dalam hal membayar fotografer secara adil dan memberi fotografer kesempatan untuk masuk ke sebuah ekonomi baru yang disesuaikan untuk mereka, dengan pengelolaan hak aset yang aman yang dibangun tepat di dalamnya.”

    Penawaran koin awal akan dibuka pada tanggal 31 Januari 2018 dan terbuka untuk investor terakreditasi dari A.S., Inggris, Kanada dan negara-negara pilihan lainnya. Penawaran Koin awal ini diterbitkan dengan pedoman SEC sebagai token keamanan berdasarkan Peraturan 506 (c) sebagai penawaran yang dikecualikan. (Icha)

  • Kolaborasi Atau Ko-inovasi Dengan Fintech Jalan Terbaik Baik Bagi Perbankan

    Kolaborasi Atau Ko-inovasi Dengan Fintech Jalan Terbaik Baik Bagi Perbankan

    Telko.id – Masuk nya era digital membuat banyak pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan mulai terkikis sedikit demi sedikit. Ini memang seperti buah simalakama. Mempertahankan karyawan atau beradaptasi dengan teknologi agar bisnis tetap berkembang. Tapi, transformasi digitalisasi adalah sebuah keharusan. Termasuk juga bagi perbankan.

    Itu sebabnya, gelombang perubahan dalam teknologi digital berdampak terhadap dunia bisnis dan gaya hidup konsumen. Revolusi digital yang dimotori oleh pemanfaatan data, kecerdasan buatan, dan machine learning memunculkan teknologi baru yang mampu mengubah cara hidup masyarakat.

    Teknologi menimbulkan guncangan di semua sektor, tidak terkecuali finansial. Kabar ini menjadi sinyal buruk bagi bank konvensional. Perbankan tidak lagi memonopoli layanan simpan, pinjam, investasi, dan produk perbankan lain. Kini bermuculan lembaga-lembaga keuangan baru yang memanfaatkan teknologi digital yang disebut financial technology (fintech).

    Perkembangan fintech tidak lepas dari situasi krisis ekonomi pada 2008. Di tengah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, fintech memberikan warna baru di sektor finansial. Pada saat itu, bank fokus mengatasi regulasi dan krisis yang sedang terjadi, sedangkan fintechmenghadirkan produk yang sesuai dengan perkembangan gaya hidup.

    Daya Tarik Fintech

    Fintech memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan bank konvensional. Memiliki struktur organisasi yang lebih ramping dan daya penetrasinya yang dinamis, membuat fintech bergerak lebih cepat dan lincah dibandingkan bank konvensional. Fintech dapat menawarkan produk-produk baru yang dibutuhkan masyarakat sejalan dengan gaya hidup digital.

    “Diprediksi setidaknya 30 persen jenis pekerjaan di sektor perbankan akan menghilang dalam lima tahun ke depan. Mau tak mau, perbankan konvensional mesti menyesuaikan diri dengan tren fintech ini,” kata Leonardo Koesmanto, Head of Digital Banking Bank DBS Indonesia menjelaskan.

    Lalu, apa yang harus dilakukan oleh perbankan konvensional? Ada beberapa korporasi finansial besar yang mulai berinvestasi dan bekerja sama dengan fintech untuk meningkatkan kemampuan teknologi digitalnya.

    Kolaborasi atau ko-inovasi dengan fintech merupakan jalan terbaik bagi bank untuk mempertahankan pertumbuhannya. Artinya, bank konvensional harus mengubah model dan strategi bisnis untuk melebarkan pasarnya. Di sisi lain, fintech juga akan mendapatkan keuntungan modal, data, pasar, dan dukungan regulasi dari perbankan.

    Kecenderungan masyarakat menginginkan bentuk layanan cepat, mudah, dan praktis dalam aktivitas sehari-hari. Perilaku berbelanja misalnya, yang tadinya melalui gerai toko di mal maupun pasar dapat dilakukan dengan sekali klik di depan komputer atau gawai telepon seluler (ponsel). Begitu pula transaksi perbankan, berbagai jenis pembayaran tagihan dan investasi dapat dilakukan melalui aplikasi dalam ponsel pintar.

    Laporan Klynveld Peat Marwick Goerdeler, sebuah lembaga auditor internasional, menyebutkan ada tiga lapisan perubahan dalam industri perbankan. Pertama adalah model bisnis dengan mengawinkan berbagai layanan berbasis teknologi. Kedua, perubahan produk menjadi lebih fleksibel serta pelanggan sentris. Lapisan terakhir adalah memberikan cara baru dalam mengoperasikan infrastruktur transaksional perbankan.

    Fintech Mampu Hadirkan Fitur Cerdas

    Memiliki fokus untuk menciptakan produk yang berbasis layanan, membuat fintech sangat menarik di mata konsumen. Teknologi fintech yang paling banyak diminati adalah kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk memberikan layanan asisten virtual yang berbasis pengalaman konsumen (consumer experience).

    Asisten virtual merupakan terobosan dalam dunia perbankan. Layanan interaktif, realtime, dan bisa dipersonalisasi sesuai keinginan masing-masing konsumen akan mentransformasi pelayanan pelanggan.

    Virtual asisten ini hadir dalam bentuk chatbot pintar yang akan menjawab permintaan konsumen dari jendela yang muncul ketika nasabah membuka aplikasi bank mereka. Dari pertanyaan terkait aktivitas perbankan hingga melakukan transaksi bisa dilakukan melalui bantuan chatbot ini.

    Bank DBS Indonesia melalui aplikasi “digibank” merupakan salah satu bank yang memberikan layanan asisten virtual di Indonesia. Melalui aplikasi ini, nasabah dengan mudah membuat rekening baru tanpa harus datang ke kantor cabang. Selain itu, nasabah juga dapat berinteraksi setiap saat dengan robot asisten untuk kebutuhan transaksi harian mereka.

    Di India, layanan ini telah menarik 1,5 juta nasabah baru sejak di luncurkan perdana pada 2016 yang lalu. Sedangkan di Indonesia, sejak Agustus 2017 tercatat sekitar 15 ribu nasabah sudah mengunduh aplikasi ini. DBS menargetkan akan memiliki 3,5 juta nasabah baru digibank dalam lima tahun ke depan. (Icha)

     

     

     

  • iGo eWallet Asal Singapura Yang Mempermudah Beli Tiket Konser

    iGo eWallet Asal Singapura Yang Mempermudah Beli Tiket Konser

    Telko.id – Kaum milenial Indonesia cukup sering ‘terbang’ ke Singapura hanya untuk nonton konser artis pujaannya. Untuk mengakomodir kebutuhan tersebut, SDP Asia meluncurkan solusi iGo.

    Solusi ticketing atau eWallet Cashless seperti ini diklaim merupakan yang pertama kalinya di Asia Tenggara. iGo yang berbasis di Singapura ini mengumumkan peluncuran cara pembayaran QR-to-QR bersamaan dengan solusi RFID (gelang / kartu). Hal ini tentu memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen untuk melakukan pembayaran cashless.

    iGo ini baru saja diluncurkan ke publik pada acara WHISKEY LIVE tahun ini yang diselenggarakan di Singapura akhir pekan lalu.

    Bagi penduduk lokal dan turis yang ingin menghadiri acara berskala besar, akan dipermudah dengan mendownload aplikasi, membeli tiket, menyiapkan kredit, dan memiliki kebebasan untuk menggunakan keseimbangan dalam sejumlah kegiatan di sekitar Singapura.

    Aplikasi yang tersedia untuk operating sistem iOS ini memiliki fitur Daftar Acara & Tempat, e-Ticketing (aplikasi web & seluler), Mobile eWallet untuk pembelian F&B dan Newsfeeds.

    Semua pembayaran tiket untuk acara seperti festival, malam gala dinner, pameran, atau acara amal,semuanya dapat dilakukan menggunakan iGo. Cukup dengan sekali sentuh karena solusi ini menggunakan gateway pembayaran mobile dan hanya membutuhkan waktu dalam hitungan detik.

    “Kami tidak merasa pengunjung acara harus dibatasi dengan mendownload aplikasi tanpa uang sebagai satu-satunya pilihan mereka dalam acara, membuat transaksi tanpa tunai pada acara besar dengan gelang atau kartu RFID memberikan solusi untuk massa,” kata
    James Kane, Managing Director SDP Asia menjelaskan.

    Kane menambahkan “Kami menciptakan aplikasi iGo sebagai perpanjangan layanan RFID Cashless yang disederhanakan, sedangkan iGo memungkinkan pelanggan untuk mempertahankannya, ditambah dengan menambahkan saldo di akun iGo untuk acara baru, belanja F&B, sekaligus menjaga tetap up-to-date. dengan segala sesuatu yang terjadi di Singapura”.

    Yang penting bagi penyelenggara event adalah iGo menyediakan solusi end-to-end saat aplikasi dimulai dalam proses ticketing dengan mengakuisisi pelanggan sebagai pengguna baru, melayani di acara atau tempat, dan tetap memiliki saldo tidak terpakai pasca acara di iGo platform eWallet.

    “Hal itu membuat ikatan antara penyelenggara dan konsumen dapat berlangsung secara jangka panjang. Bahkan, dapat dimaksimalkan juga untuk menawarkan tambahan ‘pengalaman’ dengan merek, diskon, loyalitas, gerai F & B, layanan dan banyak lagi, “tambah Kane.

    Rencana perluasan wilayah pun sudah mulai berjalan, dan aplikasi iGo akan diluncurkan di Thailand pada awal 2018.

    Menurut Laporan Mobilitas Ericsson 2016, Singapura memimpin dalam grafik regional penetrasi populasi smartphone dan mobile broadband dengan jumlah lebih dari 100 persen. Dorongan untuk masa depan transaksi tanpa tunai akan menjadi langkah maju dalam kemajuan teknologi untuk mempertahankan posisi negara-kota sebagai jantung keuangan Asia. (Icha)