Kategori: Fintech

  • Menteri BUMN, Goyangkan HP Untuk Uji Coba Bayar KRL Pakai LinkAja

    Menteri BUMN, Goyangkan HP Untuk Uji Coba Bayar KRL Pakai LinkAja

    Telko.id – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini M. Soemarno mendorong BUMN untuk terus bersinergi untuk meningkatkan kualitas pelayanan ke masyarakat terutama bagi para pengguna moda transportasi Kereta Api. Hal ini diungkapkan Menteri Rini saat meninjau langsung aktivitas pelayanan di Stasiun Juanda pada Selasa (01/10/2019).

    “Saya menyambut baik sinergi seperti ini, bagaimana BUMN terus saya dorong untuk meningkatkan pelayanan yang terbaik buat masyarakat terutama pengguna jasa transportasi Kereta Api. Kita sudah punya LinkAja, dan ini yang kita sinergikan untuk menjadikan ini sebagai sarana pembayaran baru bagi pengguna KRL,” ungkap Menteri Rini.

    Pilihan layanan transaksi tiket bagi pengguna KRL Commuter Line semakin beragam dan inovatif. Pada 1 Oktober 2019 ini, PT Kereta Commuter Indonesia dan LinkAja mengadakan uji coba layanan pembayaran tiket Commuter Line dengan menggunakan aplikasi LinkAja. Layanan ini nantinya dapat digunakan di seluruh stasiun KRL Commuter Line.

    Sampai dengan saat ini, secara teknis telah tersedia 200 gate elektronik di 80 stasiun yang telah dilengkapi dengan scanner milik KCI untuk menerima transaksi LinkAja. Selanjutnya, KCI akan terus menambah jumlah gate elektronik ini hingga mencapai 400 gate.

    Para pengguna KRL Commuter Line ke depannya akan sangat dimudahkan dalam penggunaan layanan pembayaran menggunakan LinkAja. Para pengguna KRL yang hendak melakukan perjalanannya harus memastikan saldo LinkAja nya tidak kurang dari Rp 13.000 (biaya jarak terjauh).

    Pelanggan hanya perlu melakukan scan kode tiket pengguna yang muncul ketika menggoyangkan HP (dalam kondisi aplikasi LinkAja terbuka) di Stasiun keberangkatan dan kembali melakukan hal yang sama di Stasiun kedatangan. Saldo LinkAja akan terpotong sesuai dengan jarak tempuh yang dilalui pengguna, dan sisa biaya perjalanan tersebut akan kembali ke saldo yang bersangkutan.

    Layanan transaksi dengan LinkAja ini diujicobakan di Stasiun Juanda secara langsung oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, bersama dengan Direktur Utama Kereta Api Indonesia (Persero) Edi Sukmoro, Dirut KCI Wiwik Widayanti, dan Direktur Utama LinkAja Danu Wicaksana.

    Dalam kesempatan ini Direktur Utama KAI Edi Sukmoro mengatakan, “Hadirnya pembayaran dengan LinkAja ini bertujuan untuk semakin mempermudah pengguna KRL. Sinergi BUMN melalui LinkAja ini penting untuk memajukan bangsa, dimana sesama BUMN saling bersatu untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.”

    Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia, Wiwik Widayanti menuturkan, opsi pembayaran dengan LinkAja merupakan bentuk peningkatan layanan kami dalam memenuhi kebutuhan para pengguna KRL yang semakin banyak bertransaksi non tunai.

    “Dengan hadirnya LinkAja, pengguna KRL tentu memiliki semakin banyak pilihan. Ini juga merupakan inovasi teknologi terkini dari sistem tiket elektronik KRL Commuter Line, setelah dapat menerima Kartu Multi Trip (KMT), kini sistem e-ticketing kami juga dapat diakses dengan scan tiket pengguna langsung dari aplikasi LinkAja.

    Danu Wicaksana, selaku Direktur Utama LinkAja mengatakan, penggunaan LinkAja di moda transportasi publik merupakan inovasi terbaru kami dalam memberikan pelayanan terbaik kepada para pengguna setia.

    “Hari ini kami senang sekali karena berhasil melakukan penggunaan uji coba di KRL Commuter Line dengan lancar. Secara paralel kami akan terus berkonsultasi dengan Bank Indonesia selaku regulator, untuk memastikan solusi inovatif ini dapat segera digunakan oleh masyarakat luas, tentunya dalam koridor peraturan yang berlaku.” (Icha)

     

  • LinkAja Giat Lakukan Digitalisasi Di daerah, Kali ini Giliran Banyuwangi

    LinkAja Giat Lakukan Digitalisasi Di daerah, Kali ini Giliran Banyuwangi

    Telko.id – Transformasi digital kini sedang banyak dilakukan oleh para pemerintah daerah. Begitu juga dengan Banyuwangi. Untuk itu, LinkAja menandatangani nota kesepahaman bersama Pemkab Banyuwangi, yang diadakan bertepatan dengan penutupan acara International Tour De Banyuwangi Ijen 2019.

    Banyuwangi ini merupakan salah satu dari 10 besar kabupaten dengan indeks pariwisata tertinggi, beberapa waktu lalu dinobatkan menjadi satu kabupaten terbaik dalam bidang inovasi. Dan, menjadi salah satu pilot project pengembangan transaksi nontunai di lingkungan pemda ini terus berupaya mengembangangkan potensinya, terutama di bidang elektronifikasi transaksi di lingkungan pemerintah.

    Ada beberapa potensi kerja sama strategis dalam usaha peningkatan pelayanan dan juga pemanfaatan uang elektronik di lingkungan Pemkab Banyuwangi dengan LinkAja. Diantaranya, sosialisasi dan juga penerapan pembayaran nontunai di berbagai acara atau kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemkab Banyuwangi, sosialisasi dan edukasi serta penerapan pembayaran pendapatan daerah yang meliputi pembayaran pajak dan retribusi daerah, serta upaya mendorong kegiatan penggunaan uang elektronik di lingkungan Pemkab Banyuwangi.

    “Kehadiran LinkAja dalam bentuk digitalisasi transaksi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi merupakan upaya kami untuk turut meningkatkan akses, transparansi, dan kemudahan transaksi di Banyuwangi,” ujar Haryati Lawidjaja, Direktur Operasi LinkAja.

    Langkah strategis LinkAja ini tidak akan berhenti disini saja. Ke depan, perusahaan financial technology yang berasal dari gabungan beberapa BUMN ini akan terus berkomitmen untuk melakukan pengembangan digitalisasi di berbagai daerah lain di Indonesia.

    Sampai saat ini, LinkAja sebagai uang elektronik nasional yang telah memiliki pelanggan terdaftar sebanyak 32 juta di seluruh Indonesia. (Icha)

  • Luar Biasa! Hanya 3 Tahun Saja, Agen Fintech Sudah Capai 5 Juta

    Luar Biasa! Hanya 3 Tahun Saja, Agen Fintech Sudah Capai 5 Juta

    Telko.id – Inklusi keuangan di Indonesia memang sudah tumbuh baik. Namun, keberadaan Financial Technology bakal lebih mendorong lagi. Terlihat dari data yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution ketika memberikan keynote speech dalam Indonesia Fintech Summit & Expo 2019, di Assembly Hall-Jakarta Convention Center, Senin (23/09/2019), hanya butuh 3 tahun saja, agen Fintech sudah mencapai 5 juta.

    “Sekitar70% dari mereka memberikan layanan kepada populasi yang belum tersentuh akses perbankan. Sehingga, kami percaya bahwa fintech dan agennya dapat berkontribusi terhadap pencapaian keuangan inklusif,” ungkap Menko Darmin menambahkan.

    Darmin pun menyampaikan harapannya untuk industri fintech di nusantara ini, yakni fintech dapat menyediakan optimisme baru yang dapat memperlancar proses inklusi keuangan, khususnya kepada populasi yang masih belum tersentuh inklusi keuangan, jadi dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

    Tak hanya itu, Darmin juga mengingatkan agar terciptanya sebuah usaha untuk makin meningkatkan potensi fintech dan agennya dapat bekerja bersama agen bank untuk menyediakan layanan keuangan yang terjangkau, mudah, aman dan cepat. Perusahaan fintech juga harus memperhatikan manajemen risiko, edukasi dan perlindungan konsumen, selain hanya memikirkan profit saja.

    “Untuk menambah keuntungan maksimal, perusahaan fintech harus mempunyai hubungan dengan sektor riil, jadi mampu menciptakan ekosistem ekonomi digital. Saya juga menganjurkan adanya kolaborasi antar stakeholders di bidang keuangan atau perbankan untuk mengatasi tantangan yang masih ada, seperti kesiapan infrastruktur teknologi, informasi dan komunikasi (TIK), literasi keuangan, tata kelola data digital, dan kerangka peraturan,” papar Darmin.

    Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengamini perlunya pembangunan infrastruktur TIK yang mumpuni untuk semakin memajukan ekonomi digital di Indonesia. Pasalnya, hal ini akan berpengaruh terhadap kesiapan masyarakat untuk mengambil manfaat dari fintech itu sendiri, karena masih banyak juga daerah di Indonesia yang belum tersentuh digitalisasi.

    “Selain itu, kami pun selalu membuka dialog dengan industri agara dapat menciptakan rezim perpajakan yang tepat untuk perusahaan digital dan nondigital, baik untuk Indonesia maupun rest of the world. Sebab, saat ini banyak transaksi yang sudah borderless,” jelas Menkeu Sri.

    Sebagai informasi, saat ini Inklusi keuangan di Indonesia telah tumbuh baik. Berdasarkan Global Findex (2017), proporsi populasi orang dewasa Indonesia yang mempunyai rekening bank meningkat menjadi 48,9% dari jumlah 36,1% di 2014. Sementara, survei dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2016 juga memperlihatkan sebanyak 68,7% populasi orang dewasa telah memiliki akses terhadap berbagai layanan keuangan formal.

    Namun, hasil kedua survei tersebut memperlihatkan masih terdapat sisa persentase yang besar dari orang dewasa yang belum memiliki rekening bank ataupun akses ke layanan keuangan lainnya. Untuk itu, masih diperlukan layanan keuangan yang lebih aman, mudah dan terjangkau, yang dapat dipenuhi dengan adanya teknologi dan inovasi yang dilakukan oleh perusahaan fintech.

    Dalam beberapa tahun ke belakang, jumlah perusahaan fintech khususnya yang bergerak di bidang pembayaran dan pinjaman terus meningkat signifikan. Hal tersebut menumbuhkan agen fintech yang lebih banyak lagi. (Icha)

  • Pakai LinkAja Bisa Bayar PBB DKI Jakarta Di Mana Saja

    Pakai LinkAja Bisa Bayar PBB DKI Jakarta Di Mana Saja

    Telko.id – Malas keluar rumah? Tapi belum bayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)? Sekarang bisa gunakan LinkAja.

    Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) wajib dilakukan setiap tahunnya dan harus dilunasi paling lambat enam bulan sejak tanggal diterimanya Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) oleh wajib pajak. Salah satu kendala yang kerap muncul di kota besar seperti Jakarta adalah keterlambatan pembayaran PBB karena faktor kesibukan, yang menyebabkan optimalisasi penerimaan pajak menjadi terhambat.

    Bekerja sama dengan Bank DKI, Badan Pajak dan Retribusi Daerah DKI (BPRD DKI), Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD), dan PT Mitracomm Ekasarana, LinkAja memberikan kemudahan transaksi pembayaran pajak nontunai kepada para wajib pajak DKI Jakarta. Melalui menu layanan terbaru ini, para wajib pajak dapat dengan mudah melakukan pembayaran PBB tanpa harus mengantre di loket pembayaran.

    Tujuan utama LinkAja adalah untuk menghadirkan layanan keuangan elektronik yang lebih baik dan lengkap, dengan memperkaya offering use case di seluruh sendi kehidupan masyarakat. Dengan hadirnya layanan pembayaran PBB DKI Jakarta, akan memudahkan wajib pajak DKI Jakarta dalam membayar pajak secara lebih praktis.

    “Kami harap kemudahan ini dapat menjadi cara edukasi dan sosialisasi transaksi nontunai di tengah masyarakat, sehingga dapat meningkatkan indeks inklusi keuangan Indonesia,” ungkap Danu Wicaksana, Direktur Utama LinkAja.

    Adapun tahapan pembayaran PBB DKI Jakarta meliputi:
    1. Buka aplikasi LinkAja dan pastikan aplikasi LinkAja sudah diupdate ke versi terbaru yaitu 3.5.0 untuk iOS dan 3.5.1 untuk android
    2. Pilih “Lainnya”
    3. Klik Icon “Pajak” dalam menu Pajak dan Retribusi
    4. Pilih PBB DKI JAKARTA
    5. Masukkan NOP (nomor objek pajak) dan Tahun pembayaran Pajak.
    6. Konfirmasi data yang muncul pada aplikasi
    7. Jika data sudah sesuai, klik konfirmasi dan masukkan PIN.

    Asyiknya, untuk setiap pembayaran PBB melalui LinkAja, pengguna akan dikenakan biaya admin sebesar Rp. 5,000.
    Sejak layanan ini beroperasi sampai dengan 30 September 2019, LinkAja juga menghadirkan promo untuk pembayaran PBB DKI JAKARTA dengan minimal nominal pembayaran Rp. 200,000 yang akan mendapatkan cashback sebesar Rp. 50,000. (Icha)

  • Permata Bank Luncurkan Super Aps Syariah, Apa Kelebihannya?

    Permata Bank Luncurkan Super Aps Syariah, Apa Kelebihannya?

    Telko.id – Saat ini belum ada bank syariah yang mengeluarkan sebuah aplikasi guna memudahkan para nasabahnya. Bank Permata pun mengklaim sebagai yang pertama di Indonesia. Namanya PermataMobile X.Apa kelebihannya dibandingkan dengan aplikasi perbankan lainnya?

    Yang pertama, biasanya aplikasi perbankan yang ada, satu bank bisa memiliki beberapa aplikasi untuk bisa melayani nasabahnya. Ada yang buat tabungan biasa, kredit atau yang lainnya. “Di PermataMobile X, semua nya sudah menjadi satu aplikasi. Itu sebabnya kami sebut dengan super aps PermataMobile X,” ungkap Abdy D. Salimin – Direktur Teknologi dan Operasional Bank Permata.

    Selain itu, di aplikasi ini, menurut Abdy, sudah menggabungkan antara rekening nasabah yang syariah maupun yang konvensional. Bahkan, untuk melihat kredit yang sedang diambil nasabah maupun data-data lain, selama masih di Bank Permata, bisa diakses melalui aplikasi ini.

    Kehadiran dari aplikasi ini, diharapkan oleh Ridha DM Wirakusumah, Direktur Utama Permata Bank mampu menarik perhatian dari masyarakat untuk menjadi nasabah.

    “Shariah Mobile Banking Super App dalam PermataMobile X yang kami hadirkan ini untuk memfasilitasi gaya hidup modern masyarakat urban dalam melakukan aktivitas perbankan yang berbasis syariah. Kami melihat adanya kebutuhan yang tinggi dari pengguna dan peminat layanan perbankan syariah terhadap sebuah super app yang canggih dan modern,” ungkapnya saat peluncuran PermataMobile X.

    Ridha menambahkan bahwa inovasi berbasis syariah yang memiliki fitur lengkap dan teknologi canggih serta kekinian yang dapat mendukung gaya hidup masyarakat Indonesia yang modern namun mudah untuk diakses dan digunakan. “Pastinya apa yang ada di dalam PermataMobile X untuk Sharia Banking ini telah dirancang secara khusus dan kami harap dapat memberikan customer experience yang optimal,” ungkapnya.

    Aplikasi super tersebut didukung oleh fitur lengkap yang dapat mempercepat dan memudahkan nasabah serta calon nasabah dalam melakukan seluruh kebutuhan transaksi perbankan sehari-hari. Selain itu, juga dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat modern yang tetap berbasis syariah, sehingga dapat memfasilitasi seluruh kalangan dalam melakukan aktivitas perbankan.

    Ridha juga sangat optimis bahwa masa depan bank syariah akan sangat menjanjikan. Hal ini dilihat dari Indonesia yang termasuk salah satu negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, dimana lebih dari 84% dari total penduduk di Indonesia adalah umat Islam.

    Namun, tingginya jumlah penduduk muslim tidak seimbang dengan pangsa pasar perbankan Islam di Indonesia yang hanya 5,7%. Persentase tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan negara-negara muslim lainnya.

    Selain itu, berdasar pada Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemahaman masyarakat terhadap bank berbasis syariah juga masih relatif rendah jika dibandingkan dengan bank konvensional, hal tersebut yang membuat pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia sangat kecil.

    Faktor manfaat, fitur, accessibility dan kenyamanan seringkali menjadi pertimbangan bagi masyarakat urban untuk menggunakan jasa perbankan. (Icha)

  • Lewat Fintech Kini Bisa Jual Beli Emas dan Perhiasan lho!

    Lewat Fintech Kini Bisa Jual Beli Emas dan Perhiasan lho!

    Telko.id – pengertian tentang financial technology kini semakin luas. Bukan hanya yang terkait dengan uang digital saja. Tetapi perpaduan antara uang digital dan emas pun sudah ada. Salah satunya adalah Lakuemas. Sebuah cara baru dalam dunia fintech yang menawarkan beli dan jual emas secara digital di Indonesia (dapat diakses melalui website, e-commerce & aplikasi mobile).

    Menariknya karena ini adalah digital maka konsumen dimana konsumen dapat melakukan pembelian, penjualan, pengiriman dan penarikan emas tanpa adanya biaya penyimpanan serta mendapatkan keuntungan tambahan berupa kemudahan dalam menarik emas fisik di hampir 100 toko perhiasan yang ada di hampir semua kota besar di Indonesia. Selain itu, konsumen juga bisa menukarkan emas menjadi perhiasan di toko-toko tersebut.

    “Kami melihat bahwa kaum millennials juga harus diingatkan kembali untuk mempunyai simpanan emas dan perhiasan, seperti halnya generasi kakek nenek dan orang tua kita yang menjadikan emas dan perhiasan sebagai alat investasi,” ungkap Junior Sambyanto, Business Development Director Lakuemas.

    Apalagi, saat ini mayoritas dari penduduk Indonesia dengan usia produktif merupakan kaum millennials. Dalam kesehariannya produk-produk digital sangat erat dengan generasi ini. Lewat Lakuemas, mereka diperkenalkan kemudahan dalam membeli emas dan perhiasan.

    Menurut hasil penelitian dari Jakpat mengenai tren investasi yang dilakukan millennials pada tahun 2018, menunjukan bahwa investasi dalam bentuk emas merupakan tren investasi terbesar kedua setelah tabungan konvensional.

    Menanggapi tingginya permintaan akan jenis investasi ini, Lakuemas hadir untuk memahami generasi millennialsyang technology savvy. Melalui pengembangan aplikasi O2O (Online to Offline) yang mengakomodasi kebutuhan jual, beli, transfer dan juga penukaran fisik dari emas digital menjadi logam mulia dan perhiasan.

    Untuk memperkenalkan kemudahan untuk investasi ini pada milenials, ada dua event yang digelar. Pertama pameran perhiasan Dazzling Jewelry Festival yang berlokasi di Atrium Mal Kelapa Gading 3 Jakarta, mulai tanggal 28 Agustus – 8 September 2019 bekerja sama dengan The Palace. Kedua, Purwokerto Wedding Festival yang berlokasi di Rita Supermall Purwokerto tanggal 4 – 8 September 2019 bekerja sama dengan Sembada Gold.

    Pengunjung bisa mendapatkan penawaran menarik berupa Goldback 50% melalui fitur Laku Tukar. Melalui fitur ini, konsumen dapat menukarkan saldo emas digitalnya dengan perhiasan di toko-toko yang bekerja sama dengan Lakuemas. Penawaran spesial ini hanya berlaku selama pameran berlangsung.

    Yang menarik, dalam pameran ini juga akan ada beragam aktivitas menyenangkan lainnya, seperti pengalaman membeli emas fisik melalui ATM Lakuemas (vending machine) dan Lakuemas Gold Bar Challenge yang merupakan kompetisi angkat emas batangan sebesar 10 kilogram. Bagi pemenang yang berhasil mengeluarkan emas batangan tersebut akan mendapatkan hadiah berupa 10 gram emas dari Lakuemas.

    Sebagai sebuah perusahaan fintech, Lakuemas berdiri dibawah group PT Central Mega Kencana yang merupakan salah satu ritel perhiasan terbesar di Indonesia yang sudah berdiri sejak hampir 30 tahun yang lalu. PT Central Mega Kencana juga merupakan satu-satunya produsen perhiasan emas dan berlian di Indonesia yang sudah memiliki Sertifikat SNI Kadar Pas 13-3487-2005.

    Selain itu Lakuemas juga sudah terdaftar dalam Asosiasi Fintech Indonesia dan keberadaannya sudah sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keungan Nomor 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital. (Icha)

  • Fintech ‘Wajib’ Lindungi Data Pribadi Penggunanya

    Fintech ‘Wajib’ Lindungi Data Pribadi Penggunanya

    Telko.id – Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang jatuh pada 10 Agustus 2019, perkembangan fintech lokal menjadi salah satu topik yang patut disorot, terutama dengan tingginya antusiasme masyarakat Indonesia akan layanan serta produk keuangan yang semakin inovatif dan memudahkan sebagai penunjang kehidupan sehari-hari.

    Terbukti, saat ini OJK mencatat bahwa sudah ada 113 perusahaan fintechyang terdaftar dan berizin. Jumlah masyarakat yang paham tentang fintechpun mengalami kenaikan yang signifikan dari 26,34% pada 2016 menjadi 70,63% pada 2018 (Fintech Report 2018).

    Tingginya perkembangan dan penetrasi fintech nampaknya menimbulkan tantangan baru, baik bagi masyarakat, pelaku industri, dan pemerintah, yaitu terkait kekhawatiran terhadap perlindungan data pribadi.

    Survey Global Ipsos-Centre for International Governance Innovation(GICI) mencatat sebanyak 8 dari 10 warganet global sudah mengkhawatirkan keamanan privasi mereka lebih banyak dibandingkan tahun lalu.

    Kekhawatiran itu terutama muncul pada warganet di negara berkembang, dimana Indonesia menempati posisi ketujuh dengan jumlah warganet yang khawatir terkait keamanan sebesar 86%.

    “Perlindungan data pribadi konsumen di berbagai layanan berbasis teknologi di Indonesia menjadi salah satu fokus yang harus kita cermati bersama. Meningkatnya inovasi serta digitalisasi di era teknologi saat ini tentu harus diimbangi dengan sikap yang bijaksana dan mawas diri. Teknologi mampu membawa dampak positif yang signifikan bagi kehidupan sehari-hari kita, namun pada saat yang sama juga mampu memberikan dampak yang merugikan jika tidak dimanfaatkan secara bijak,” ungkap Alie Tan, CTO & Co-Founder Kredivo, salah satu platform kartu kredit digital yang pertama kali terdaftar resmi di OJK sejak 2018 lalu.

    Data dalam industri fintechmemiliki peranan penting guna menghadirkan layanan inovatif bagi masyarakat. Menurut Alie, analisis terhadap data membantu para pelaku di industri fintechuntuk mampu memahami konsumen, memberikan layanan serta produk terbaik.

    “Di Kredivo, data science membantu kami dalam proses mengenal nasabah secara virtual atau electronicKnow Your Customer(e-KYC) serta dalam menentukan nilai kemampuan kredit pengguna sehingga pemberian kredit diberikan secara tepat sasaran,” pungkas Alie.

    Namun di satu sisi, perlindungan data pribadi pengguna juga menjadi hak para pengguna dan kewajiban pelaku industri untuk turut berkomitmen atas hal tersebut.

    Lebih lanjut, sebagai seorang CTO, Alie tentu dituntut untuk paham akan keamanan data pribadi para pengguna sesuai dengan regulasi yang diatur OJK.

    “Kategori dan batasan data pribadi itu sangat luas. Misalnya mulai dari data kependudukan, hingga jejak pesan singkat dan riwayat belanja online seseorang di ponselnya, itu berbeda-beda pengkategoriannya, ada yang mengkategorikannya sebagai data pribadi, ada yang tidak. Kredivo, sebagai layanan keuangan yang diawasi dan terdaftar di OJK tentu selalu merujuk pada regulasi OJK terkait batasan lingkup data pribadi para pengguna, tentang apa yang diperbolehkan untuk diakses, dan apa yang tidak diperbolehkan,” ungkap Alie.

    Dirinya juga menambahkan bahwa Kredivo sangat membatasi akses data pribadi pengguna mereka secara ketat. Bahkan pembatasan akses data pribadi pengguna juga berlaku bagi berlaku bagi  karyawan internal dan tim engineer Kredivo yang ia nakhodai.

    “Di internal perusahaan, kami pun menerapkan akses yang sangat ketat dan terbatas terhadap data pribadi pengguna. Semua data pengguna, kami enkripsi dan tidak dapat diakses oleh pihak luar maupun dalam dengan mudah. Termasuk kami investasi pada teknologi yang melindungi dari serangan hack. Data yang kami analisa pun bukanlah tentang identitas pribadi mereka, melainkan lebih kepada pola perilaku konsumsi pengguna,” jelas Alie.

    Alie juga memberikan contoh serupa bahwa di negara-negara Uni Eropa, perlindungan data pribadi menjadi hal krusial dan telah diatur dalam GDPR (General Data Protection Regulation), yang merupakan regulasi hukum Uni Eropa dan mengatur secara lebih rinci mengenai praktik penggunaan data pribadi milik warga Uni Eropa beserta dengan sanksi pelanggarannya.

    Merumuskan dasar perlindungan data pribadi memang menjadi pekerjaan rumah semua pemangku kepentingan terkait. Bahkan, Uni Eropa melakukan pembahasan mengenai peraturan tersebut selama 4 tahun lamanya hingga kemudian mulai diberlakukan pada Mei 2018.

    Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna internet aktif terbanyak di dunia pun dapat melakukan hal serupa, guna menciptakan ekosistem digital yang aman dan lebih kondusif.

    Tips Cerdas Manfaatkan Fintech

    Sebagai masyarakat, pengguna layanan dan jasa fintechatau aplikasi berbasis teknologi lainnya dituntut semakin cerdas dan bijaksana dalam mengelola serta melindungi data pribadinya. Berikut beberapa hal yang patut diperhatikan oleh masyarakat ketika hendak membagikan data pribadinya dalam platform fintech atau pinjaman online:

    Pastikan termasuk dalam daftar resmi OJK

    Masyarakat harus mencari informasi lebih lanjut mengenai layanan atau platform pinjaman yang akan digunakan dalam bertransaksi. Perhatikan kembali apakah perusahaan tersebut sudah masuk di dalam daftar resmi OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

    Teliti kembali izin akses aplikasi

    Masyarakat juga perlu dengan seksama seluruh persetujuan dan data apa saja yang hendak diakses aplikasi dari smartphone, jangan terlalu cepat mengklik “allow” sebelum menggunakan aplikasi tersebut, karena pihak yang tidak bertanggung jawab bisa dengan mudah mengakses seluruh data pribadi yang ada dalam smartphone.

    Aktifkan fitur keamanan di platform

    Setiap platform pinjaman yang sudah secara resmi terdaftar di OJK pasti memiliki fitur keamanan yang berfungsi memberikan rasa aman kepada para penggunanya, baik berupa blokir akun, verifikasi, gembok akun dan mode privasi. Pastikan Anda telah mengaktifkan fitur tersebut sebelum melakukan transaksi lebih lanjut.

    Unduh aplikasi dari sumber resmi

    Pastikan Anda mengunduh aplikasi pinjaman hanya dari dari Play Store (untuk ponsel Android) dan App Store (untuk ponsel iOS), karena jika aplikasi yang diunduh berasal dari sumber tidak resmi akan berpotensi memberikan akses pada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengambil data pribadi Anda melalui berbagai malware hingga adware.

    “Pada dasarnya, kesadaran dan kebijaksanaan semua pihak dalam menginformasikan atau menggunakan data pribadi menjadi kunci dalam membangun digital society. Bagi para pelaku industri, sudah selayaknya untuk tidak selalu berorientasi pada keuntungan pribadi, namun lebih kepada kontribusi untuk turut menciptakan ekosistem digital yang aman dan lebih kondusif di Indonesia,” tutupAlie. (Icha)

     

  • Kuartal I, DANA Mampu Gaet Lebih Dari 15 Juta Pengguna

    Kuartal I, DANA Mampu Gaet Lebih Dari 15 Juta Pengguna

    Telko.id – Espay Debit Indonesia Koe, sebagai penerbit dompet digital DANA mengaku perkembangan bisnisnya cukup baik. Perusahaan yang memiliki platform dompet digital DANA tersebut baru me-launching platformnya pada Oktober tahun lalu dan mendapat sambutan hangat.

    Chrisma Albandjar, Chief Communications Officer DANA menyebut pertumbuhan pengguna sampai kuartal I bertumbuh cukup baik. Pasalnya, DANA merupakan pemain baru yang menyemarakkan industri keuangan digital nasional.

    “Sampai kuartal I, kuartal II belum kami keluarin (datanya). Sampai kuartal I kami sudah di atas 15 juta user dengan 1,5 juta transaksi per harinya,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Pertumbuhan terjadi seiring dengan ekspansi perusahaan untuk berkolaborasi dengan platform lain dan juga menambah merchant. Seperti diketahui, DANA berkolaborasi dengan Bukalapak yang membuat penetrasi pengguna semakin luas.

    “Pertumbuhan merchant kami sudah banyak sekali, terutama para pengguna point of sale (POS). Beberapa POS kan sudah terima DANA, kemudian merchant-merchant besar maupun UMKM sudah pakai, kami punya untuk UMKM saja sudah ratusan ribu jadi sudah banyak,” lanjutnya.

    Selain itu, cara yang dilakukan perusahaan untuk bisa meningkatkan jumlah pengguna adalah dengan memberikan promo yang relevan. Hal ini menjadi salah satu strategi yang paling efektif dalam upaya melakukan akuisisi pelanggan.

    “Kami ingin orang mencoba untuk gunakan promo makan, karena mereka biasa makan sekali seminggu atau seminggu dua kali itu biasa. Kami punya promo juga untuk bayar tagihan sehingga terbiasa dengan (pembayaran) digital,” tutupnya. (Icha)

     

     

  • LinkAja Dukung Pemkab Bayuwangi Siap Go Digital!

    LinkAja Dukung Pemkab Bayuwangi Siap Go Digital!

    Telko.id – untuk meningkatkan inklusi keuangan, pemerintah tidak bisa sendiri. Semua pihak terkait harus saling mendukung. LinkAja, sebagai produk uang elektronik pun turut mendukung upaya pemerintah tersebut. Kali ini, bekerjasama dengan pemeritah kabupaten Banyuwangi, siap mendigitalisasi wilayah ujung Jawa tersebut. Terumaya dalam pembayaran.

    “Kerja sama digitalisasi pembayaran dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi merupakan bentuk nyata dari misi kami untuk memberikan akses layanan keuangan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam rangka mendorong peningkatan inklusi keuangan dan suksesnya Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT),” ungkap Danu Wicaksana, Chief Executive Officer (CEO) LinkAja.

    Dana menambahkan, “Harapannya, LinkAja dapat membantu mitra usaha untuk menerapkan inovasi ekonomi digital, sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan preferensi masyarakat Banyuwangi untuk berpindah menggunakan layanan uang elektronik dalam bertransaksi sehari-hari”.

    Kali ini dukungan untuk memperkenalkan pembayaran elektronik kepada masyarakat datang dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi. Bertepatan dengan acara penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) di Kabupaten Banyuwangi yang disaksikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, LinkAja turut serta hadir dalam memberikan layanan pembayaran di usaha para debitur KUR.

    Lebih jauh, LinkAja saat ini juga tengah menjajaki kerjasama strategis dengan pihak Pemkab Banyuwangi khususnya dalam bidang digitalisasi pembayaran pendapatan daerah dan juga pemasangan layanan pembayaran digital di beberapa ekosistem merchant di dalam wilayah Pemkab Banyuwangi.

    Melalui insiatif ini, diharapkan LinkAja mampu membantu Pemkab Banyuwangi dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik ke masyarakat Banyuwangi.

    Selain digitalisasi pembayaran pendapatan daerah dan juga di sisi merchant ̧ ke depannya LinkAja yang saat ini sudah memiliki sekitar 100 agen pelayanan di Kabupaten banyuwangi dan sekitarnya juga akan membangun lebih banyak lagi agen pelayanan LinkAja dengan menggandeng berbagai UMKM lokal seperti pedagang kelontong, outlet pulsa, dsb. guna menunjang kebutuhan transaksi digital di wilayah ini.

    Dalam acara penyaluran KUR Himbara, LinkAja berperan sebagai alat pembayaran di beragam booth Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang tersedia seperti booth kerajinan khas Banyuwangi hingga pembayaran retribusi menggunakan teknologi QR milik LinkAja.

    Tak ketinggalan, LinkAja juga menghadirkan booth untuk memperkenalkan beragam fitur dan layanan LinkAja yang dapat digunakan untuk kebutuhan esensial masyarakat. Dengan adanya booth ini diharapkan masyarakat akan lebih memahami dan merasakan kemudahan bertransaksi menggunakan LinkAja. (Icha)