Kategori: 4G LTE

  • XL Axiata Terapkan Teknologi Smart Massive MIMO

    XL Axiata Terapkan Teknologi Smart Massive MIMO

    Telko.id –  XL Axiata terapkan teknologi Smart Massive MIMO. Teknologi diyakini mampu mampu meningkatkan kapasitas jaringan hingga beberapa kali lipat lebih besar. Bahkan dapat meningkatkan efisiensi spektrum pada jaringan.

    Dengan demikian, mampu mengurangi operasional jaringan operator ini. Langkah strategis ini dilakukan oleh XL Axiata bekerja sama dengan Huawei karena kebutuhan pelanggan atas layanan data dan internet terus meningkat. Itu sebabnya, operator harus mengimbangi dengan kapasitas jaringan yang memadai.

    ”Trafik penggunaan yang meningkat harus diimbangi dengan kapasitas jaringan yang memadai agar kualitas layanan tidak menurun. Untuk itulah, kami menggandeng Huawei untuk menerapkan teknologi Smart Massive MIMO ini di area-area yang membutuhkan penambahan kapasitas jaringan,” ujar I Gede Darmayusa, Direktur & Chief Teknologi Officer XL Axiata.

    Teknologi Smart Massive MIMO merupakan teknologi yang menggunakan konsep multiple-input dan multiple-output radio yang dapat meningkatkan kapasitas jaringan dan efisiensi spektrum. Smart Massive MIMO memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas jaringan dengan memanfaatkan teknik massive antenna array dan feature beamforming.

    Selain itu, dari sisi  operasional jaringan, teknologi ini dapat memperbesar efisiensi spektrum pada jaringan, sehingga membantu mengurangi beban operasional jaringan.

    “Teknologi ini merupakan evolusi teknologi di era 5G. Huawei Smart Massive MIMO juga merupakan sarana penting untuk mengatasi pertumbuhan trafik jaringan yang cepat,” ungkap Andy Ma, CEO of Huawei Indonesia Carrier Business menjelaskan.

    Saat ini, teknologi Huawei Smart Massive MIMO telah dikomersialkan di lebih dari 60 jaringan operator di seluruh dunia untuk meningkatkan kinerja dan daya saing jaringan mereka.”

    Teknologi Smart Massive MIMO dari Huawei ini diimplementasikan untuk menjawab permasalahan pada area yang memiliki jumlah pengguna yang banyak dengan konsumsi trafik data yang tinggi.

    Dengan menerapkan teknologi ini, XL Axiata akan mampu menjaga kenyamanan pelanggan dalam menggunakan layanan data meskipun menggunakan platform atau aplikasi digital yang memerlukan kapasitas besar seperti antara lain, video conference, video streaming, webinar, dan video call.

    Oleh XL Axiata, penerapan teknologi ini akan dilakukan dengan berfokus pada area dengan trafik penggunaan layanan data dan internet yang tinggi, seperti di lingkungan padat penduduk, perkantoran, tempat wisata, hingga pusat perbelanjaan.

    Selain itu juga sangat berguna untuk menjaga kualitas layanan di pusat layanan transportasi seperti bandara, pelabuhan dan terminal, atau juga di tempat penyelenggaraan event besar yang berpotensi terjadi lonjakan trafik.

    XL Axiata juga akan menerapkan teknologi Smart Massive MIMO ini pada jaringan 5G. Selain dapat mendukung jaringan 5G, teknologi ini juga akan mampu meningkatkan kapasitas jaringan sekitar enam hingga sembilan kali lipat pada jaringan 5G dan juga efisien dalam penggunaan spektrum yang ada.

    Kenaikan trafik data di Mandalika

    XL Axiata juga telah mengimplementasikan teknologi Smart Massive MIMO ini untuk meningkatkan kapasitas jaringan di Sirkuit Mandalika dan sekitarnya. Sedikitnya ada sembilan BTS yang menjangkau area sirkuit yang sudah menggunakan teknologi ini.

    Penerapannya di lokasi ini diharapkan akan mampu membantu menjaga kualitas jaringan saat berlangsung event balap dunia, yaitu WSBK pada bulan ini dan MotoGP di tahun depan. Kedua ajang balap internasional tersebut berpotensi menciptakan lonjakan trafik data yang sangat tinggi karena akan dikunjungi oleh puluhan ribu penonton yang akan hadir baik dari dalam maupun luar negeri.

    Hasil pemantauan oleh pusat monitoring Customer Experience & Service Operation Center (CESOC) XL Axiata, terlihat adanya kenaikan trafik yang signifikan di seputar pelaksanaan ajang balap WSBK bulan ini.

    Pada periode 15-21 November 2021, terjadi kenaikan trafik secara rata-rata sebesar 53% dibandingkan hari biasa di awal bulan saat keramaian terkait balapan belum terjadi di Mandalika. Trafik tertinggi terjadi pada tanggal 21 November 2021, yaitu sebesar 120%. Ajang balap WSBK sendiri berlangsung pada 19-21 November 2021.

    Kenaikan trafik tersebut tentunya dipicu terutama oleh masukkan pelanggan dari luar Mandalika ke area tersebut. Data dari pusat monitoring menunjukkan bertambahnya pelanggan yang berada di Mandalika hingga 198% dibandingkan sebulan sebelum ada acara balap. Banyak di antara pelanggan yang masuk ke Mandalika berasal dari luar Lombok.  

    Selain di Mandalika, trafik data juga meningkat di hampir semua area tujuan wisata di Lombok, seperti Mataram, Senggigi, Desa Sade, hingga Sembalun. Hal yang sama juga terjadi di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid dan Pelabuhan Lembar.

    Kenaikan trafik secara rata-rata sebesar 14% dibandingkan rata-rata di hari biasa pada Oktober 2021. Kenaikan trafik ini menunjukkan mulai ramainya dunia pariwisata Lombok setelah hampir dua tahun terdampak pandemi.

    Saat ini jaringan XL Axiata untuk area seluruh NTB ditopang lebih dari 5.700 BTS, termasuk lebih dari 2.200 BTS 4G. Jaringan 4G LTE XL Axiata juga terus diperluas, dan XL Axiata terus berinvestasi untuk jaringan fiber, transmisi, backhaul, modernisasi jaringan, dan berbagai upgrade jaringan lainnya untuk meningkatkan stabilitas, kapasitas jaringan, dan kualitas layanan seiring dengan terus meningkatnya trafik layanan data. (Icha)

  • Jaringan 4G XL Axiata Sudah Jangkau 901 Desa/Kelurahan di Kalbar

    Jaringan 4G XL Axiata Sudah Jangkau 901 Desa/Kelurahan di Kalbar

    Telko.id – Jaringan 4G XL Axiata dalam kurun waktu satu tahun terakhir terus diperluas. Termasuk juga di Kalimantan Barat. Sampai saat ini sudah lebih dari 260 BTS 4G yang dibangun, hingga ke wilayah pelosok-pelosok pedesaan yang sebelumnya belum terjangkau.

    Region Group Head XL Axiata Jabodetabek dan Kalimantan yang juga membawahi area Kalbar, Rd. Sofia Purbayanti, mengatakan, “Trafik data di seluruh Kalbar meningkat hingga 215% dalam dua tahun terakhir. Karena itu, kami harus terus membangun jaringan 4G, baik untuk meningkatkan kualitas layanan, maupun untuk perluasan ke area-area yang memang baru dan memiliki potensi besar. Seiring dengan pembangunan jaringan, kami juga terus melakukan fiberisasi jaringan untuk meningkatkan kapasitas, agar kenyamanan pelanggan juga semakin meningkat.”

    Menurut Sofia, saat ini jaringan 4G XL Axiata di seluruh Provinsi Kalbar sudah menjangkau 75% kecamatan yang ada atau 129 kecamatan, yang meliputi total 901 kelurahan/desa, dengan lebih dari 418 ribu pelanggan. Untuk menopang layanan di seluruh provinsi Kalbar ini, XL Axiata mengoperasikan lebih dari 1.000 BTS 4G. 

    Sofia menambahkan, keberadaan jaringan 4G di wilayah Kalbar ini juga merupakan implementasi atas komitmen XL Axiata untuk turut mendorong peningkatan literasi digital bagi masyarakat yang bermukim hingga pelosok pedesaan. Tersedianya jaringan internet yang berkualitas dan literasi digital yang terus meningkat akan mendorong produktivitas serta membantu masyarakat beradaptasi dengan berbagai sarana ekonomi digital.

    Di seluruh Kalbar, XL Axiata memiliki BTS 4G terbanyak di Kota Pontianak, yaitu 200 BTS 4G. Kemudian diikuti wilayah Kabupaten Kubu Raya, lebih dari 130 BTS 4G. Selanjutnya Kabupaten Sambas lebih dari 130 BTS 4G. Untuk area Kabupaten Sintang, sekitar 100 BTS 4G, Kabupaten Sanggau, sekitar 90 BTS 4G, dan Kota Singkawang dengan sekitar 80 BTS 4G.

    Selain fokus melakukan pembangunan jaringan 4G, XL Axiata juga memperkuat layanan data dengan memperluas pembangunan jaringan fiber optik atau fiberisasi yang jalurnya masuk hingga ke BTS-BTS di pelosok Kalbar. Jaringan 4G yang akan terkoneksi dengan jaringan fiber optik di seluruh Kalbar akan terus bertambah mengingat kebutuhan untuk meningkatkan kualitas layanan data seiring dengan peningkatan trafik data yang signifikan.

    XL Axiata berharap dengan terhubungnya setiap BTS dengan kabel fiber optik dapat lebih meningkatkan kualitas jaringan dan tentunya secara otomatis akan memberikan kenyamanan lebih kepada pengguna layanan data.

    Sementara itu, dalam upaya mendukung program pemerintah dalam penyediaan layanan dan jaringan 4G di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), khusus di wilayah Kalbar, sejak tahun 2017 XL Axiata telah mengoperasikan jaringan melalui skema Universal Service Obligation (USO) yang dikoordinasi oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI). 

    Hingga saat ini, terdapat 57 BTS USO 4G di Kalbar yang tersebar di sembilan Kabupaten, yakni di Kabupaten Bengkayang, Ketapang, Landak, Kayong Utara, Sambas, Kapuas Hulu, Melawi, Sanggau, Sekadau, dan yang terbanyak di Kabupaten Sintang sebanyak 22 BTS USO 4G.

    Ragam pilihan produk XL Axiata

    Selain membangun jaringan 4G, XL Axiata juga telah menyiapkan sejumlah pilihan produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat di Provinsi Kalbar untuk mendukung produktivitas mereka.

    Saat ini tersedia promo produk yang bisa dimanfaatkan oleh pelanggan dan masyarakat di Kalbar untuk mengakses layanan data di jaringan 4G, yaitu kartu perdana internet XL Xtra Combo Lite 40GB 30 hari dengan harga spesial Rp 58 ribu dan juga kartu perdana internet AXIS Bronet 2GB 60 hari dengan harga mulai dari Rp 7 ribu yang tersedia di toko pulsa yang tersebar di wilayah Kota Pontianak, Kota Singkawang dan Kabupaten Kubu Raya. Promo berlaku hingga akhir November 2021.

    Untuk memastikan masyarakat dan pelanggan mudah mendapatkan produk XL Axiata, baik XL maupun AXIS, saat ini di Provinsi Kalbar terdapat lebih dari 2.700 toko pulsa yang menyediakan produk XL Axiata. Toko-toko tersebut tersebar hingga ke wilayah kecamatan dan desa-desa yang sudah terjangkau layanan XL Axiata.

    Melalui toko-toko jaringan distribusi tersebut, pelanggan juga bisa mendapatkan informasi dan juga menyampaikan keluhan, di mana selanjutnya pengelola toko akan meneruskannya ke layanan pelanggan XL Axiata, atau pelanggan juga bisa datang ke XL Center yang beralamat di jalan Gusti Hamzah No. 4, Kota Pontianak. (Icha)

  • Pariwisata Bali Dibuka, Jaringan 4G XL Axiata Sudah Siap 100%

    Pariwisata Bali Dibuka, Jaringan 4G XL Axiata Sudah Siap 100%

    Telko.id – Pariwisata Bali mulai dibuka. Jaringan 4G XL Axiata pun sudah dipastikan dalam kondisi prima dan siap menyambut pembukaan kembali pariwisata Bali setelah hampir dua tahun terimbas pandemi.

    Hingga saat ini, jaringan 4G XL Axiata di wilayah Bali terus mengalami peningkatan. Meskipun dalam kondisi pandemi, XL Axiata terus membangun jaringan di seluruh penjuru Bali, baik untuk peningkatan kualitas layanan data dan suara di wilayah perkotaan, maupun perluasan ke area-area yang sebelumnya memang belum terjangkau.

    Sebanyak 716 desa/kelurahan di 57 kecamatan dan 9 kabupaten/kota di Bali kini telah terlayani oleh layanan 4G XL Axiata. Selain itu, kami juga mulai memperkenalkan jaringan 5G kepada masyarakat di Bali.

    “Sama seperti yang dirasakan seluruh masyarakat dan pelaku industri wisata Bali, kami di XL Axiata juga sangat antusias dengan rencana pembukaan kembali pariwisata. Untuk itu, jaringan XL Axiata sudah kami siapkan guna menyambut segala keperluan mendukung kembalinya para wisatawan baik domestik maupun manca negara,” ungkap I Gede Darmayusa, Direktur Teknologi & Chief Teknologi Officer XL Axiata menjelaskan.

    Kini, di seluruh Bali kami mengoperasionalkan lebih dari 6.600 BTS, di mana 2.400 di antaranya merupakan BTS 4G. Jumlah BTS 4G tersebut masih akan terus meningkat karena operator ini juga masih melakukan perluasan di semua kabupaten yang ada di Bali.

    Keberadaan jaringan 4G di seluruh desa/kelurahan di Bali ini juga merupakan implementasi atas komitmen XL Axiata untuk  turut mendorong peningkatan literasi digital bagi masyarakat yang bermukim hingga pelosok pedesaan. Menurut I Gede Darmayusa, tersedianya jaringan internet yang berkualitas dan literasi digital yang terus meningkat akan mendorong produktivitas serta membantu masyarakat beradaptasi dengan berbagai sarana ekonomi digital.

    I Gede Darmayusa menambahkan, selain perluasan dan penambahan BTS, XL Axiata juga terus melakukan penambahan kapasitas jaringan 4G baik dari sisi radio maupun transmisi, serta melalui fiberisasi. Kini sebagian besar BTS di Bali telah terfiberisasi dan akan terus meningkat.

    Sementara itu, sejak awal tahun 2021 hingga saat ini sekitar 497 BTS telah ditingkatkan kapasitasnya. Sebagai destinasi wisata kategori super prioritas sesuai penetapan pemerintah, XL Axiata juga akan memprioritaskan Bali untuk peningkatan infrastruktur. Apalagi, Bali juga akan kembali menjadi lokasi penyelenggaraan KTT G20 di tahun 2022 mendatang sehingga dipastikan perlu dukungan jaringan yang terbaik.

    Selama setahun terakhir di dalam bayang-bayang pandemi, trafik data XL Axiata di Bali tetap mengalami peningkatan sekitar 16%, dengan kenaikan trafik tertinggi ada di Singaraja dan Denpasar sebagai ibukota provinsi. Demikian juga sejak Bali dibuka kembali untuk wisatawan domestik pada awal Agustus 2021 lalu, trafik layanan data di jaringan 4G XL Axiata juga terlihat naik dan terus meningkat hingga saat ini.

    Untuk itu, di sejumlah kawasan wisata paling popular di Bali, XL Axiata juga secara khusus memastikan kualitas jaringan data. XL Axiata telah menyiapkan jaringan 4G di Sanur 22 BTS, Kuta 13 BTS, Nusa Dua 39 BTS, Ubud 13 BTS, Kintamani 12, Seminyak 18, Jumbaran 19, Canggu 15, dan Nusa Penida 9 BTS. Untuk menopang kebutuhan Denpasar sebagai kota terbesar dan teramai, XL Axiata mengoperasikan 331 BTS.

    Sementara itu, untuk Bandara Internasional Ngurah Rai, XL Axiata telah siap dengan 11 BTS 4G, Pelabuhan Tanjung Benoa 4 BTS 4G, dan Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk 3 BTS 4G.

    Semua desa wisata yang popular sebagai tujuan pelancong juga sudah terlayani oleh jaringan 4G XL Axiata, termasuk Desa Penglipuran, Kelurahan Kubu (Kabupaten Bangli), Desa Tigawasa, Kecamatan Banjar (Kabupaten Buleleng), Desa Sidatapa, di Kecamatan Banjar (Kabupaten Buleleng), Desa Cempaga di Kecamatan Banjar (Kabupaten Buleleng), serta Desa Tenganan di Kecamatan Manggis (Kabupaten Karangasem).

    Dengan kapasitas dan infrastruktur yang tersedia, XL Axiata optimis akan bisa memberikan layanan telekomunikasi dan data secara maksimal di area-area wisata tersebut.

    “Hampir semua wilayah Bali menjadi destinasi wisata, dan XL Axiata juga berupaya memastikan semua area wisata yang ada di sana terlayani jaringan data dengan kualitas baik. Karena itu, di mana pun wisatawan ingin melakukan kunjungan, jaringan kami siap melayani mereka. Selain dari sisi jaringan,untuk memberikan layanan yang end to end kepada pelanggan kami juga memiliki sejumlah pilihan produk yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, baik untuk bekerja ataupun liburan. Begitu juga dengan pusat layanan pelanggan, di Bali juga tersedia XL Center yang siap melayani kebutuhan pelanggan,” lanjut Gede. (Icha)

  • Pembangunan Jaringan 4G/LTE Harus Bisa Dipercepat Dengan Adanya Konsolidasi Operator

    Pembangunan Jaringan 4G/LTE Harus Bisa Dipercepat Dengan Adanya Konsolidasi Operator

    Telko.id – Konsolidasi operator Indosat Ooredoo dengan Hutchison 3 Indonesia memberi angin segar bagi proses transformasi digital di Indonesia. Terutama dalam hal pemerataan jaringan 4G/LTE yang merupakan persyaratan mutlak untuk akses internet yang dibutuhkan dalam transformasi digital.

    Tugas dan pekerjaan pemerintah menyediakan jaringan 4G/LTE khususnya di daerah yang selama ini tak terjangkau, diharapkan akan terbantu oleh aksi korporasi berupa konsolidasi operator. Hingga tahun 2023 mendatang pemerintah tengah menggenjot pembangunan infrastruktur guna pemerataan jaringan 4G/LTE hingga pelosok daerah yang selama ini belum terjangkau sinyal operator.

    Permintaan akses 4G/LTE terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurut Dr. Ir. Ian Joseph Matheus Edward, Dosen ITB sekaligus Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB), permintaan akan akses internet meningkat pesat, dan hal itu terjadi saat pandemic Covid-19.

    “Baik untuk bersilaturahmi, mempererat ikatan keluarga, pendidikan, dan pembelajaran, perdagangan maupun hiburan,” ujarnya dalam diskusi terbatas telekomunikasi yang digelar oleh Indonesia Technology Forum pada Rabu, 13 Oktober 2021.  

    Data dari APJII memperlihatkan peningkatan pemakaian akses internet untuk belanja online, hiburan, hingga permainan (games). Catatan World Bank tahun 2021 menunjukkan Indonesia merupakan urutan ke-5 paling aktif di dunia maya (internet), di bawah Filipina, Brazil, Thailand dan Kolombia.

    Lantas bagaimana dengan penetrasi akses 4G/LTE itu sendiri?

    Ian, begitu sapaan akrab pakar telekomunikasi ini, menyebutkan penetrasinya telah mencapai 98 persen. Angka ini melebihi Malaysia, Brunei, Vietnam, dan Filipina. Dengan modal seperti ini seharusnya operator lebih mudah untuk melakukan ekspansi jaringan 4G/LTE.

    Kehadiran jaringan 4G/LTE bukan sekadar sebagai penghubung sebuah daerah dengan wilayah lain yang lebih luas, tapi juga dapat meningkatkan taraf hidup dan perekonomian. Sehingga konsolidasi ini dapat mempercepat pemerataan pembangunan, khususnya di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

    Ian mencermati Indosat Ooredoo dan Tri memiliki prestasi dalam hal penyediaan akses internet yang sangat baik dibandingkan dengan operator lain selain Telkomsel. Ada tiga pengukuran yaitu kecepatan download, kecepatan upload san tingat latensi. Capaian Indosat Ooredoo jika dirata-rata berada di posisi kedua setelah Telkomsel. Sementara capaian Tri bila dirata-rata berada di posisi ketiga.

    “Dengan kekuatan konsolidasi ini diharapkan bisa mendekati Telkomsel,” kata Ian.

    Kalaupun ada tantangan, sebenarnya karena coverage area Indosat Ooredoo dan Tri belum seluas dan semasif Telkomsel. Selama ini, baik Indosat Ooredoo maupun Tri umumnya baru memenuhi seputaran Indonesia bagian Barat dan sedikit Indonesia Tengah. 

    Salah satu bentuk konsolidasi terkait pembangunan untuk pemerataan jaringan 4G/LTE, menurut Ian adalah dengan melakukan relokasi BTS 4G/LTE. Namun tidak hanya sekadar memindahkan. “Tetapi juga sambal mempelajari karakter di daerah yang akan diekspansi,” ujar Ian.

    Mempelajari karakter yang dimaksud adalah agar skala ekonomi, bisnis dan penggunaannya benar-benar memberi manfaat. Konsolidasi dapat mendorong efisiensi dan efektifitas sumber daya yang dimilki keduanya sehingga mampu membangun dengan cakupan yang lebih luas.

    “Salah satu prasyarat merger adalah harus bersedia melakukan ekspansi ke daerah lain. Pemerintah harus menagih secara rinci pelaksanaan perluasan layanan mereka. Karena lisensi penyelenggaraan telekomunikasi khususnya linsensi selular 4G/LTE adalah lisensi nasional, sehingga layaknya semua operator menyediakan jaringan di seluruh Indonesia,” tambahnya.

    Namun pemerintah juga harus menyiapkan ekosistem yang mendukung pemakaian jaringan 4G/LTE. Ekosistem yang dimaksud di antaranya ketersediaan pasokan bahan bakar atau listrik, pemberdayaan sektor bisnis masyarakat dan UMKM, pengoperasian logistik dan transportasi, dan berbagai hal lainnya. Bila ekosistemnya mendukung, Ian menjamin pemanfaatan 4G/LTE tak akan sia-sia.

    Selain pemerataan jaringan 4G/LTE, tantangan bagi operator konsolidasi adalah merancang skema tarif baru yang tepat dan terjangkau guna memperoleh pelanggan yang setia. Service level aggrement (SLA) yang ditingkatkan termasuk pengembangan teknologi adalah bagian lain yang harus dijamin kepada pelanggan.  

    Konsolidasi ini harus benar-benar dijaga oleh pemerintah, jangan sampai ada yang dirugikan. Tarif baru seharusnya dapat terjangkau masyarakat tapi juga tidak merugikan operator. Sehingga asas utama telekomunikasi adalah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dapat tercapai.

    Hal-hal di atas adalah satu sisi di mana masyarakat memperoleh manfaat. Lantas, manfaat apa lagi dengan jaringan 4G/LTE yang merata?

    Ian punya pengalaman memanfaatkan jaringan tersebut dan memberdayakan Internet of Things (IoT) untuk pengembangan budidaya rumput laut di Maluku. Utilisasi 4G/LTE dipakai sebagai jaringan yang mengirimkan data dengan kontrol penuh berupa informasi kadar oksigen, pola arus laut, dan data-data klimatologi dan biologi lain.

    Hasilnya berupa solusi-solusi yang lebih tepat dan terukur untuk pembudidayaan, mulai dari penanaman dan pemanenan. “Produktivitasnya naik empat kali lipat dibandingkan yang tradisinonal,” kata Ian. (Icha)

  • Capex Merger Minimal Sama Demi Pemerataan Jaringan

    Capex Merger Minimal Sama Demi Pemerataan Jaringan

    Telko.id – Capex merger Indosat dan Tri, diharapkan oleh para pengamat adalah sama atau bahkan lebih besar ketimbang ketika masih sendiri-sendiri. Demikian yang disampaikan oleh pengamat Ian Joseph Matheus Edward, Dosen ITB sekaligus Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB).

    Ian demikian kerap dipanggil, menyebutkan bahwa Capex merger dari operator yang berkonsolidasi harus sama atau bahkan lebih. Jadi misalnya Indosat Ooredoo tahun ini memiliki Capex Rp.7 Triliun dan Tri Indonesia memiliki Capex Rp.5 Triliun, maka paling tidak usai konsolidasi menjadi Indosat Ooredoo Hutchinson, memiliki Rp.12 Triliun.

    Dengan demikian, niatan kolaborasi untuk mendukung pemerintah dalam pemerataan jaringan 4G LTE atau penerapan teknologi baru tetap dapat berjalan.

    “Apalagi, permintaan akan akses internet meningkat pesat, dan hal itu terjadi saat pandemic Covid-19. Baik untuk bersilatirahmi, mempererat ikatan keluarga, pendidikan, dan pembelajaran, perdagangan maupun hiburan,” ungkap Ian menjelaskan dalam sebuah diskusi virtual, Rabu (13/10/2021).

    Baca juga : Merger Indosat dan Tri, Apa Manfaat Bagi Pelanggan?

    Ian juga menyebutkan bahwa dengan Capex merger yang sama atau lebih itu juga dapat digunakan untuk memanfaatkan frekuensi sebagai sumber daya yang terbatas sebesar-besar nya untuk masyarakat. Bukan hanya untuk korporasi saja. Jadi, sangat penting Capex itu sama atau bahkan lebih besar. Dengan demikian, frekuensi yang ada pun dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

    “Salah satu prasyarat merger adalah harus bersedia melakukan ekspansi ke daerah lain. Pemerintah harus menagih secara rinci pelaksanaan perluasan layanan mereka. Karena lisensi penyelenggaraan telekomunikasi khususnya linsensi selular 4G LTE adalah lisensi nasional, sehingga layaknya semua operator menyediakan jaringan di seluruh Indonesia,” tambahnya.

    Selain pemerataan jaringan 4G LTE, tantangan bagi operator konsolidasi adalah merancang skema tarif baru yang tepat dan terjangkau guna memperoleh pelanggan yang setia. Service Level Agreement (SLA) yang ditingkatkan termasuk pengembangan teknologi adalah bagian lain yang harus dijamin kepada pelanggan.  

    Konsolidasi ini harus benar-benar dijaga oleh pemerintah, jangan sampai ada yang dirugikan. Tarif baru seharusnya dapat terjangkau masyarakat tapi juga tidak merugikan operator. Sehingga asas utama telekomunikasi adalah memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dapat tercapai.

    Hal-hal di atas adalah satu sisi di mana masyarakat memperoleh manfaat. Lantas, manfaat apa lagi dengan jaringan 4G LTE yang merata?

    Ian punya pengalaman memanfaatkan jaringan tersebut dan memberdayakan Internet of Things (IoT) untuk pengembangan budidaya rumput laut di Maluku. Utilisasi 4G/LTE dipakai sebagai jaringan yang mengirimkan data dengan kontrol penuh  berupa informasi kadar oksigen, pola arus laut, dan data-data klimatologi dan biologi lain.

    Hasilnya berupa solusi-solusi yang lebih tepat dan terukur untuk pembudidayaan, mulai dari penanaman dan pemanenan. “Produktivitasnya naik empat kali lipat dibandingkan yang tradisinonal,” kata Ian. (Icha)

  • 3 Indonesia Perluas Jaringan 4G di 70 Desa Terpencil

    3 Indonesia Perluas Jaringan 4G di 70 Desa Terpencil

    Telko.id – 3 Indonesia perluas jaringan dan menyelesaikan penyebaran BTS 4G di 70 desa terpencil lebih cepat dari yang telah ditargetkan pada tahun 2021. Desa-desa tersebut tersebar di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

    3 Indonesia perluas jaringan BTS 4G di daerah-daerah terpencil ini menunjukkan komitmen 3 Indonesia dalam mendukung program pemerintah untuk menyediakan konektivitas mobile broadband 4G di seluruh penjuru Indonesia.

    Didukung oleh jaringan 3 Indonesia yang luas dan kuat, masyarakat di pelosok desa-desa kini dapat menikmati konektivitas internet yang menghubungkan dengan dunia digital. Hal ini akan memungkinkan penduduk desa untuk mengakses informasi berlimpah yang tersedia di internet dan meningkatkan literasi digital masyarakat di wilayah tersebut.

    3 Indonesi perluas jaringan 4G nya ini maka dapat membuka lebih banyak peluang untuk menciptakan dan mengembangkan potensi ekonomi desa melalui ekonomi digital yang nantinya akan meningkatkan pendapatan desa.

    “3 Indonesia telah menyelesaikan pembangunan BTS 4G di 70 desa terpencil lebih cepat dari target kami pada tahun 2021. Kami akan terus menghadirkan jaringan 4G di lebih dari 300 desa terpencil lainnya pada tahun 2022. Hal ini akan membantu mempercepat transformasi digital untuk memberdayakan bangsa dan meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat di pedesaan,” ungkap Desmond Cheung, Chief Technical Officer 3 Indonesia menjelaskan.

    3 Indonesia perluas jaringan 4G di Kabupaten Sanggau di Kalimantan Barat dan Kabupaten Tapanuli Selatan di Sumatera Utara termasuk di antara kabupaten yang desa nya saat ini telah terhubung ke jaringan broadband 4G dari 3 Indonesia yang mencakup lebih dari 37.000 desa di seluruh Indonesia.

    Jumlah 70 Desa terpencil yang kini terjangkau jaringan 4G 3 Indonesia di 7 provinsi:

    Aceh                      : 4 Kelurahan / Desa

    Kalimantan Barat    : 30 Kelurahan / Desa

    Kalimantan Selatan : 6 Kelurahan / Desa

    Kalimantan Tengah : 13 Kelurahan / Desa

    Kalimantan Timur   : 4 Kelurahan / Desa

    Kalimantan Utara    : 1 Kelurahan / Desa

    Sumatera Utara      : 12 Kelurahan / Desa

    (Icha)

  • Telkomsel Siap Gelar 7.772 BTS USO 4G Baru Di Wilayah 3T

    Telkomsel Siap Gelar 7.772 BTS USO 4G Baru Di Wilayah 3T

    Telko.id – Telkomsel siap gelar 7.772 BTS USO 4G baru di wilayah 3T. Hal ini dilakukan atas dasar Surat Penetapan Nomor 827/KOMINFO/BAKTI.31/KS.1/10/2021 terkait penetapan Telkomsel yang terpilih sebagai Mitra Kerja Sama Operasional (KSO) dalam Program Penyediaan Layanan Seluler 4G/LTE di Wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) pada Area Paket Kerja Sama 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9.

    Melalui amanat ini, Telkomsel berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi bersama BAKTI Kominfo untuk menggelar infrastruktur BTS Universal Service Obligation (USO) 4G/LTE di 7.772 titik Desa di wilayah 3T, yang belum mendapatkan akses jaringan telekomunikasi broadband.

    “Kami mengapresiasi keputusan Kemkominfo RI yang telah memberikan kepercayaan kepada Telkomsel untuk melanjutkan pemerataan akses broadband di wilayah 3T,” ungkap Hendri Mulya Syam, Direktur Utama Telkomsel.

    Menurut Hendry, Komitmen tersebut akan diwujudkan melalui langkah konkret Telkomsel dalam menjalankan perannya sebagai connectivity enabler yang secara aktif terus menghadirkan pemerataan akses jaringan broadband di Indonesia guna memastikan setiap masyarakat, baik di wilayah perkotaan, pedesaan, hingga wilayah 3T, yang dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk terus terhubung dan memaksimalkan berbagai aktivitas digital yang dibutuhkan.

    Hingga semester dua 2021 lalu, Telkomsel bersama BAKTI telah menggelar 1.158 BTS USO yang seluruhnya telah terhubung teknologi jaringan broadband terdepan 4G/LTE. Pengembangan BTS USO 4G tersebut menjadi bagian dari komitmen Telkomsel untuk memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh pelanggan yang berada di wilayah 3T dan daerah perbatasan Indonesia.

    Kedepannya, BAKTI dan Telkomsel menargetkan dapat membangun 7.772 BTS USO 4G/LTE dengan detil alokasi wilayah Area 2 (Nusa Tenggara), Area 3 (Kalimantan), Area 4 (Sulawesi), Area 5 (Maluku) Area 6 (Papua Barat), Area 7 Papua Tengah Barat), Area 8 (Papua Tengah Utara), dan Area 9 (Papua Timur Selatan), yang kemudian akan dirampungkan seluruhnya pada Desember 2022.

    “Kami meyakini bahwa dengan semakin banyaknya pembangunan BTS USO 4G/LTE di wilayah 3T, dapat membuka jalan bagi Telkomsel sebagai pintu gerbang solusi digital dan penyedia konektivitas berkualitas yang merata dan setara, untuk terus memperkuat kolaborasi bersama pemerintah sekaligus mendukung upaya penyediaan jaringan 4G/LTE di seluruh desa,” ungkap Hendry menambahkan.

    Telkomsel juga berharap dukungan dari para pemangku kepentingan lainnya seperti penyedia perangkat mobile dan aplikasi berbasis digital untuk bersama membangun ekosistem gaya hidup digital yang inklusif di seluruh wilayah 3T yang menjadi target pembangunan BTS USO yang baru nantinya, guna mengoptimalkan beragam potensi seluruh daerah dalam rangka menumbuhkan ekonomi digital melalui pemanfaatan teknologi tepat guna, tutup Hendri. (Icha)

  • BTS 4G pun Kini Sudah On Air di Papua Barat!

    BTS 4G pun Kini Sudah On Air di Papua Barat!

    Telko.id – BTS 4G pun kini sudah on air di Papua Barat. Ada tiga lokasi di wilayah tersebut yagn diresmikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate hari ini. Peresmian ini sekaligus mewakili dimulainya layanan BTS 4G yang dibangun Kementerian Kominfo melalui BAKTI sebanyak 4.200 lokasi pada tahun 2021 ini, yang akan on air secara bertahap.

    Ketiga BTS yang diresmikan tersebut terletak di Desa Isiren, Kec. Rumberpon, Kab. Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat; Desa Siresi, Kec. Soug Jaya, Kab. Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat; dan Desa Kasi Indah, Kec. Kasi, Kab. Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Ketiganya berada di daerah “kepala burung” Papua Barat. Karena letak geografisnya, ketiga BTS mengaryakan link transmisi melalui satelit (VSAT).

    Seremoni peresmian dilakukan melalui konferensi video antara Manokwari dengan para perangkat dari ketiga desa di mana lokasi BTS berada. Konferensi video peresmian ini dilangsungkan dalam rangkaian acara rapat koordinasi “Percepatan Pembangunan Akses Telekomunikasi dan Peresmian BTS di Provinsi Papua Barat” antara Kementerian Komunikasi RI dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat di Manokwari.

    Rakor dihadiri oleh Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan; Bupati Teluk Wondama, Hendrik S Mambor; Bupati Tambrauw, Gabriel Asem; serta segenap jajaran Pemerintah Provinsi  Papua Barat dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Papua Barat. Menkominfo didampingi oleh Direktur Utama BAKTI Kominfo, Anang Latif; serta jajaran pimpinan Konsorsium Lintasarta-Huawei-SEI sebagai mitra pembangunan.

    “Pemanfaatan infrastruktur telekomunikasi seperti ini harus dimaksimalkan agar lebih efisien dan produktif. Caranya adalah dengan, Pertama, kerja bersama dengan pemprov maupun pemkab/pemkot agar pembangunan infrastruktur sesuai tata kota. Kedua, harus dijaga bersama-sama. Ketiga, harus dimanfaatkan dengan cara positif, dari hulu sampai hilir,” jelas Johnny.

    Selain infrastruktur, Kominfo juga menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia dalam bidang digital. Berkolaborasi dengan 116 lembaga dan komunitas pegiat literasi digital, Kominfo juga menyelenggarakan penguatan literasi digital masyarakat.

    “Khusus untuk Provinsi Papua Barat, target peserta pendidikan literasi digital sepanjang tahun 2021 adalah 42.236 orang peserta. Namun sampai dengan 5 Oktober ini pencapaiannya justru melebihi target dan telah melibatkan 45.794 orang peserta,” tutur Johnny menambahkan.

    Johnny juga menjelaskan bahwa Kominfo memiliki Program Digital Talent Scholarship (DTS) yang merupakan rangkaian pelatihan intensif selama rata-rata 1-2 bulan yang dilaksanakan secara tatap muka maupun online dengan hasil akhir sertifikasi kompetensi untuk menyiapkan sumber daya manusia bidang digital Indonesia menuju Revolusi Industri 4.0 di Provinsi Papua Barat.

    “Dari target 100.000 peserta pada tahun 2021 ini, sudah berpartisipasi 102.732 peserta sampai 5 Oktober ini. Melebihi target yang ditetapkan,” ungkap Johnny.

    Menurut Johnny juga bahwa kecepatan dalam menghadirkan BTS 4G on air itu penting mengingat Indonesia sedang benar-benar menggenjot percepatan transformasi digital. Terlebih masyarakat Papua dalam program percepatan tranformasi digital nasional ini mendapatkan fokus secara khusus karena pertimbangan wilayah dan tingkat digitalisasinya.

    “Kuantitas BTS 4G yang dibangun pun jumlahnya tidak main-main. Di seluruh Papua rencananya akan dibangun tambahan BTS 4G sebanyak 5.204 lokasi dalam dua tahun ini. Sedangkan untuk seluruh Indonesia, seluruh BTS 4G yang akan dibangun dalam dua tahun ini totalnya ada 7.904 lokasi. Itu berarti sekitar 65% dari total keseluruhan pembangunan BTS 4G nasional berada di Papua,” papar Anang Latif.

    “Jumlah 5.204 lokasi BTS 4G tersebut melengkapi ratusan BTS yang telah dibangun sebelumnya. Tahun 2015 sampai dengan tahun 2020 di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat telah dibangun sebanyak 437 lokasi. Terdiri dari 224 lokasi BTS di Papua Barat dan 213 lokasi BTS di Papua,” rinci Anang.

    Rincian Jumlah BTS 4G Yang Akan Dibangun Di Papua dan Papua Barat

    “Ini merupakan catatan sejarah bagi Papua khususnya Provinsi Papua Barat. Untuk pertama kalinya kami mendapatkan komitmen pembangunan BTS 4G dalam jumlah yang masif dan dibangun dalam waktu singkat. Tahun 2021 ini kami mendapat alokasi 824 titik BTS 4G di seluruh kabupaten dan kota. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui BLU BAKTI,” tutur Gubernur Papua Barat.

    Sebagai informasi, dari 83.218 desa/kelurahan yang ada di Indonesia, masih terdapat 12.548 desa/kelurahan yang belum mendapatkan layanan akses sinyal 4G. Dari 12.548 desa/kelurahan tersebut, 9.113 desa/kelurahan masuk dalam wilayah 3T dan 3.435 desa/kelurahan masuk dalam wilayah Non-3T.

    Dari 9.113 desa/kelurahan yang masuk dalam kategori daerah 3T, 1.209 desa/kelurahan di antaranya sudah terdapat BTS dengan teknologi 2G atau 3G yang perlu diupgrade menjadi teknologi 4G.

    Sejumlah 904 desa/kelurahan di antaranya adalah merupakan BTS yang telah dibangun oleh BAKTI dan saat ini sudah selesai di-upgrade menjadi BTS 4G. Sedangkan 119 desa/kelurahan sudah terdapat BTS yang dibangun oleh operator telekomunikasi yang saat ini dalam proses upgrade ke 4G.

    Jadi, sampai dengan Triwulan I 2021 masih ada 7.904 desa/kelurahan yang belum mendapatkan akses ayanan 4G (unserved 4G). 7.904 desa/kelurahan 3T unserved 4G ini akan dibangun BTS 4G oleh Kementerian Kominfo melalui BAKTI. Sedangkan 3.435 desa/kelurahan Non-3T akan dibangun BTS 4G oleh operator telekomunikasi. (Icha)

  • XL Axiata Terpilih Kelola Jaringan 4G USO di Sumatera

    XL Axiata Terpilih Kelola Jaringan 4G USO di Sumatera

    Telko.id – XL Axiata terpilih kelola jaringan 4G USO di Sumatera. Menurut pengumuman Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo), program ini merupakan bagian dari realisasi jaringan 4G Universal Service Obligation (USO) yang dikoordinasi oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI).

    Bagi XL Axiata, partisipasi dalam program ini merupakan bagian dari komitmen XL Axiata memasuki usia 25 tahun dalam upaya “Membangun Indonesia Digital”.

    ”Total ada 132 titik desa kategori 3T yang berada di tujuh provinsi yang akan kami kelola melalui program USO ini. Semua titik tersebut berada di area yang benar-benar terpencil, bahkan hampir semuanya berada di perbatasan wilayah NKRI dengan wilayah negara tetangga atau perairan internasional,” ungkap I Gede Darmayusa, Direktur Teknologi & Chief Teknologi Officer XL Axiata menjelaskan.

    XL Axiata tentu merasa terhormat mendapatkan kepercayaan dari pemerintah untuk mengelola jaringan dan layanan 4G di titik-titik terpencil tersebut, karena ini tidak hanya bicara tentang bisnis, tetapi juga menyangkut bagaimana operator ini terpanggil untuk turut memperkuat kedaulatan wilayah Republik Indonesia. 

    Menurut Gede, dalam program ini, XL Axiata bertugas untuk mengintegrasikan infrastruktur jaringan 4G USO yang disediakan oleh BAKTI dengan jaringan core dan billing milik XL Axiata, termasuk memberikan layanan pelanggan secara end to end. Penetapan setiap titik lokasi ditetapkan oleh pemerintah. BAKTI sebagai penanggung jawab penyedia infrastruktur radio dan backhaul sampai ke titik point of integration dengan operator seluler.

    Dari daftar titik-titik lokasi jaringan 4G USO yang akan dikelola oleh XL Axiata tersebut, beberapa di antaranya berada di Samudera Hindia seperti Mentawai (Sumatera Barat), Nias (Sumatera Utara), serta Pulau Banyak dan Pulau Aceh (Aceh). Lalu ada juga Natuna dan Anambas (Kepulauan Riau) yang jauh di Laut Cina Selatan.

    Selanjutnya di perairan Selat Malaka ada antara lain Pulau Jemur, Rupat Utama, dan Kepulauan Meranti yang masuk Provinsi Riau. Titik lainnya berada di desa-desa terpencil yang tersebar di Pelalawan (Riau), Singkil (Aceh), Bintan (Kepulauan Riau), Seluma (Bengkulu), dan Pesisir Barat (Lampung).    

    “Semua jaringan yang dibangun dalam program ini merupakan jaringan 4G dan akan menggunakan koneksi vsat dan terestrial. Semua aspek teknis pembangunan infrastruktur jaringan radio dan transport sampai ke titik interkoneksi dengan operator, akan ditangani oleh BAKTI,” lanjut Gede.

    Untuk operasionalnya, XL Axiata masih perlu menunggu hingga pembangunan infrastruktur ini selesai. Dan nantinya akan diintegrasikan dengan jaringan core, billing serta system layanan pelanggan nya.

    Berdasarkan informasi, pembangunan di sejumlah titik lokasi sudah akan dilaksanakan sebelum akhir tahun, selebihnya di tahun depan.

    Komitmen membangun jaringan 4G

    Terpilihnya XL Axiata dalam tender pengelolaan jaringan 4G USO di Sumatera ini semakin memperkuat komitmen perseroan untuk turut membangun jaringan 4G ke daerah terpencil.

    Di luar program USO ini, XL Axiata juga sudah menegaskan komitmen kepada pemerintah untuk membangun jaringan 4G ke 861 desa terpencil.

    Selain itu, pada tender program USO sebelumnya, XL Axiata juga terpilih untuk mengelola ratusan titik desa terpencil yang tersebar di berbagai provinsi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua dan Papua Barat.

    Manajemen XL Axiata berharap, keikutsertaan pihaknya dalam menyediakan jaringan 4G, baik melalui program USO maupun perluasan jaringan secara mandiri, akan mampu ikut menghapus kesenjangan akses internet di area-area terpencil di berbagai daerah.

    Dengan tersedianya layanan data pita lebar ini, semoga akan memacu roda perekonomian masyarakat setempat. Selain itu, keberadaan layanan seluler 4G XL Axiata akan bisa menjembatani masyarakat sekitar dalam mengakses informasi yang setara dengan daerah lain. (Icha)

  • XL Axiata Gunakan Huawei RuralStar Pro Bangun Jaringan 4G di Area Terpencil

    XL Axiata Gunakan Huawei RuralStar Pro Bangun Jaringan 4G di Area Terpencil

    Telko.id – XL Axiata gunakan Huawei RuralStar Pro untuk membangun jaringan 4G di area terpencil. Langkah ini merupakan upaya operator ini untuk terus berupaya untuk membangun jaringan 4G dan menyediakan layanan internet cepat hingga ke area-area terpencil di berbagai provinsi Indonesia.

    Upaya tersebut juga bagian dari implementasi komitmen XL Axiata memasuki usia 25 tahun dalam upaya “Membangun Indonesia Digital”.

    Salah satu yang terbaru, bekerja sama dengan Huawei Indonesia, XL Axiata telah melakukan uji coba solusi broadband nirkabel bernama “Huawei RuralStar Pro” dengan salah satu fitur utamanya yaitu LTE for backhaul.

    Uji coba telah dilakukan di Kalimantan dan terbukti dapat menjadi solusi untuk memperluas koneksi broadband ke daerah-daerah terpencil, di mana selama ini sering terkendala dengan persoalan terkait akses backhaul yang terbatas.

    “Solusi Huawei RuralStar Pro ini sukses kami uji cobakan di salah satu area terpencil di Kalimantan. Teknologi ini akan menjadi alternatif solusi bagi kami untuk memperluas jaringan 4G ke daerah-daerah terpencil, di mana selama ini kami sering menghadapi persoalan terkait dengan akses backhaul yang terbatas, yang pada akhirnya menjadi salah satu faktor penghambat perluasan jaringan di daerah-daerah terpencil,” ungkap I Gede Darmayusa, Direktur Teknologi & Chief Teknologi Officer XL Axiata menjelaskan.

    Gede menambahkan, setelah proses instalasi RuralStar Pro selesai dilakukan, backhaul LTE dapat terhubung secara otomatis ke situs host. Selama uji coba, jarak antara stasiun relay dengan lokasi host sekitar 31 kilometer. Bandwidth transmisi downlink mendukung hingga 106 Mbit/detik, yang memenuhi persyaratan bandwidth L900.

    Huawei RuralStar Pro, lanjut Gede, menghadirkan terobosan pada desain radio base station dengan kemampuan mengintegrasikan baseband, perangkat pemancar radio, dan sekaligus LTE for backhaul nirkabel, pada satu modul.

    Dengan konsep LTE for backhaul ini spektrum operator yang biasanya hanya digunakan untuk keperluan akses radio perangkat pengguna atau radio akses dapat digunakan juga untuk menyediakan akses antar radio base station (backhaul). Fitur ini mampu menekan biaya sewa transmisi yang mahal yang sebelumnya perlu dikeluarkan operator seperti pada penggunaan microwave dan satelit.

    “Hingga saat ini, Huawei telah lebih dari 21 tahun berkiprah di Indonesia. Kami memiliki komitmen jangka panjang untuk berkolaborasi dengan mitra kami di Indonesia, yaitu XL Axiata, guna mempercepat inklusi digital untuk menghubungkan masyarakat yang selama ini masih sulit terjangkau layanan internet, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil.

    “Implementasi teknologi Huawei RuralStar Pro ini merupakan dukungan nyata atas upaya tidak kenal lelah dari XL Axiata untuk membantu pemerintah dalam menyediakan jaringan 4G di wilayah Indonesia yang sangat luas. Serta mempercepat inklusi digital untuk menghubungkan masyarakat yang selama ini masih sulit terjangkau layanan internet, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil,” ujar , Catherine Guan, Account Director of Huawei Indonesia XL Account.

    Catherine menambahkan, RuralStar telah diterapkan di lebih dari 60 negara, dan mampu membantu menyediakan konektivitas bagi lebih dari 50 juta orang di komunitas pedesaan. Seri RuralStar Pro ini telah mendapatkan pengakuan sebagai Best Mobile Innovation for Emerging Markets di ajang bergengsi Mobile World Congress (MWC) 2021 yang berlangsung di Barcelona, ​​Spanyol.

    Huawei Indonesia berharap solusi ini akan mempermudah upaya XL Axiata menyediakan jaringan 4G di daerah terpencil untuk membantu menjembatani kesenjangan digital, termasuk dalam upaya menyediakan kemudahan akses internet cepat selama masa pandemi COVID-19.

    Dengan tersedianya akses internet cepat, maka berbagai layanan digital untuk masyarakat di area terpencil bisa tersedia, termasuk mendukung pembelajaran online untuk sekolah serta memfasilitasi komunikasi di antara klinik kesehatan di sana. (Icha)