Kategori: 4G LTE

  • Ingin Smartphone Baru, Tunggu Flash Sale realme C3 Empat Hari Lagi!

    Ingin Smartphone Baru, Tunggu Flash Sale realme C3 Empat Hari Lagi!

    Telko.id – Ingin smartphone baru? Sabar, empat hari lagi ada flash sale realme C3 “Triple Camera, Game Monster”. Pada hari itu, tepatnya tanggal 25 Februari, smartphone anyar dari realme ini akan dijual dengan harga Rp. 1.549.000 dari harga normal Rp 1.699.000 untuk varian 3GB+32GB. Selain memberikan harga spesial, realme juga akan menyediakan berbagai program menarik untuk memeriahkan online flash sale realme C3.

    Online flash sale ini akan diadakan di platform mitra eksklusif realme, Lazada, Akulaku, dan realme.com/id.

    “realme C Series bisa dibilang telah meraih keberhasilannya yang luar biasa di industri smartphone dunia. Hingga saat ini, realme C Series telah terjual 10,2 juta unit secara global dan mendapatkan rating 4,9/5 dari Lazada Indonesia untuk kualitas produk yang baik dan pengalaman pengguna yang komprehensif,” ungkap Palson Yi – Marketing Director realme Indonesiamenjelaskan.

    realme C3 ini adalah superstar di 4 bidang utama atau disebut sebagai 4C – Prosesor Canggih, Kamera Cakep, Baterai Cadas dan Layar Cetar. Dengan pencapaian terjual habis hanya dalam 30 detik selama Hate-to-Wait Sale.

    Baca juga : Ini Dia realme X2 Pro Yang Bakal Ganggu Pasar Smartphone Premium

    Melihat kembali spesifikasi realme C3, dijuluki “Triple Camera Game Monster”, realme C3 adalah seri C baru yang mendefinisikan ulang segmen entry-level. realme C3 menghadirkan pengaturan kamera belakang 12MP + 2MP + 2MP. Kamera utama 12MP-nya memiliki aperture besar F/1.8 dan ukuran piksel 1,25μm yang besar.

    Konfigurasi kamera tersebut dapat melakukan zoom hingga 4X dan mendukung autofokus PDAF. Lensa super makro 4cm akan memberikan detail lebih banyak saat pengguna menangkap objek kecil dengan detil yang lebih banyak dan halus. Tiga kamera pada realme C3 juga mendukung efek bokeh lebih alami dan mampu membuat subjek terlihat lebih menonjol, baik itu tanaman, hewan, atau manusia.

    realme C3 dilengkapi layar terbesar di segmennya berukuran 6,5 inci beresolusi HD+ dengan mini-drop 30,9% lebih kecil dari dew-drop normal, membuat rasio screen-to-body mencapai 89,8%. Layar besar ini akan meningkatkan pengalaman menonton film, bermain game atau browsing media sosial.

    realme C3 adalah ponsel pertama di Indonesia dengan prosesor MediaTek Helio G70 yang terbaik di segmen entry-level dan memiliki MediaTek Gaming Technology untuk mengoptimalkan latensi jaringan.

    Helio G70 dibangun dari fabrikasi 12nm octa-core yang memiliki kecepatan hingga 2.0 GHz, menjadikannya salah satu yang tercepat di kategorinya. realme C3 sangat ideal untuk pengguna smartphone pada umumnya dan mobile gamer berkat GPU ARM Mali-G52 yang memiliki kinerja tinggi namun efisien. realme C3 memiliki skor benchmark AnTuTu lebih dari 145.000 yang memberikan kinerja terbaik dan jauh lebih tinggi daripada smartphone lainnya di segmen entry-level.

    Untuk mendukung aktivitas pengguna, realme C3 memiliki baterai 5.000 mAH yang sangat besar untuk menikmati hiburan yang lebih lama. Nikmati 727,7 jam waktu siaga, 19 jam mendengarkan musik favorit dan 20,8 jam menonton film di realme C3 tanpa gangguan. realme C3 juga mendukung reverse charging, yang dapat menjadi power bank untuk mengisi baterai perangkat lainnya.

    realme C3 adalah smartphone realme pertama di Indonesia yang dilengkapi dengan realme UI berbasis Android 10. realme UI dibangun dengan cermat untuk memberikan pengalaman Android yang ditingkatkan dan lebih dekat dengan Android Stock serta didasarkan pada konsep real design. realme UI dirancang untuk fokus pada 4 hal – warna sistem, ikon, wallpaper, dan animasi. Dalam hal warna, realme UI menggunakan warna saturasi tinggi dan kecerahan tinggi untuk membangun skema warna asli, menghadirkan rasa vitalitas dan kesegaran. (Icha)

  • Pakai Luna SIMO Bisa Internetan Tanpa Simcard Maupun WiFi

    Pakai Luna SIMO Bisa Internetan Tanpa Simcard Maupun WiFi

    Telko.id – Luna SIMO, baru saja hadir. Keunggulannya adalah sudah dilengkapi dengan teknologi Virtual Simcard. Teknologi ini memungkinkan Luna SIMO terhubung ke intenet tanpa perlu Simcard dan WiFi.

    Marketing Manager Luna Indonesia, Suryadi Willim menjelaskan “peluncuran produk ini untuk menandai tren baru smartphone di tahun 2020, dimana konsumen bisa internetan tanpa harus memasukkan kartu SIM ataupun terhubung dengan sinyal Wifi” ungkap Suryadi.

    “Saat ini pengguna smartphone tidak mungkin lepas dari koneksi intenet. Tetapi bila jaringan 4G atau WiFi tidak stabil pasti akan menjadi kendala tersendiri. Untuk memastikan jaringan internet yang terbaik dan stabil Luna mengusung teknologi Virtual SIM Card dengan mengandeng Skyroam SIMO, sebagai perusahaan solusi akses internet,” ungkap Suryadi.

    “Jadi, di dalamnya ini terdapat 3 IMEI. Pertama dan kedua untuk simcard biasa, dan yang ketiga adalah untuk SIMO yang embedded dalam chipset di smartphone Luna ini,” ungkap Wisnu Adhi,  Country Director Simo Indonesia.

    Virtual simcard dengan eSim yang mulai banyak digunakan adalah eSim embede didalam smartphone nya. Sedangkan virtual Simcard seperti SIMO ini embeded nya di chipset. Jadi, untuk menggunakan virtual simcard ini harus dilakukan ketika merancang smartphone di pabrik. Tidak bisa setelah keluar pabrik.

    Selain itu, dikarenakan Skyroam merupakan bagian dari Mediatek, maka hanya smartphone yang menggunakan chipset mediatek lah yang bisa memanfaatkan teknologi ini.

    Kenapa Luna menyematkan SIMO? Menurut Suryadi Willim, Marketing Manager Luna Indonesia, Luna ingin selalu hadir dengan teknologi terbaru. Virtual simcard ini merupakan teknologi terkini yang ke depannya, diproyeksikan akan tumbuh dan berkembang.

    “Kami ingin siap dahulu dengan teknologi virtual simcard ini, sebelum banyak yang menggunakan. Jadi, ketika nanti mulai ramai digunakan, kami sudah tahu apa dan bagaimana, jika ada persoalan. Kami juga yakin, virtual simcard ini juga akan berkembang dan akan digunakan oleh merek lain,” ungkapnya optimis.

    Cara kerja skyroam SIMO ini adalah dapat memilih layanan data dari operator disekitarnya yang paling kuat. Smartphone ini  akan secara otomatis mencari jaringan 4G paling stabil dan terbaik dimanapun lokasi pengguna berada  bahkan hingga 130 negara di dunia.

    Apalagi, ada benefit extra kepada konsumen, di mana, SIMO menyiapkan paket spesial untuk pengguna baru SIMO di smartphone Luna SIMO, ada gratis WhatsApp UNLIMITED selama 1 bulan dan pilihan kuota 2.000 GB seharga Rp.145.000,- atau kuota 4.000 GB seharga Rp.200.000,-. Paket ini sudah tersedia dan bisa dibeli di dalam aplikasi SIMO.

    Sehingga pengalaman berinternet dengan menggunakan Luna SIMO ini juga akan semakin menyenangkan dengan harga yang terjangkau?

    Kok bisa? Ya, karena SIMO sudah membeli bulk order layanan data dari semua operator di Indonesia, sehingga sistem di SIMO akan memilih yang terbaik saat pengguna Luna SIMO akan berselancar di dunia maya.

    Spesifikasi Luna SIMO

    Luna SIMO ini memiliki layar Full View 6.08 IPS dengan rasio 19.5:9, menjadikan smartphone ini terlihat kompak meskipun layarnya semakin lega. Selain itu informasi yang ditampilkan juga menjadi lebih luas seperti saat browsing, membaca e-book, menonton video, bermain games, menggunakan navigasi, hingga saat menjalankan dua aplikasi secara bersamaan atau Split Screen akan menjadi lebih nyaman.

    Dari sektor kamera Luna SIMO juga mampu menghasilkan foto yang tajam dan detail. Didukung dengan teknologi Al Kamera 13 MP SONY IMX 135 dan kamera depan 5 MP akurat. Pengguna juga bisa mengatur setting kamera yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi saat pengguna mengambil foto, seperti Auto-HDR, Auto-Flash, dan Mode Malam.

    Luna SIMO juga lebih mudah dan cepat dioperasikan dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya dengan RAM 3GB dan prosesor Helio P23 Octa Core. Rasakan streaming, tweeting, dan posting, lebih mulus dengan kecepatan 4G.

    Didukung kinerja lebih cepat dan pembaruan terkini dengan AndroidTM 9 Pie. Pengguna juga bisa menikmati kehandalan baterai untuk penggunaan sehari-hari  4100 mAh. Dengan kapasitas baterai sebasar itu, pengguna tak perlu khawatir akan kekurangan daya.

    Luna SIMO juga telah dilengkapi dengan teknologi face unlock pemindai wajah yang canggih untuk mendukung keamanan smartphone.

    “Hadirnya  Luna SIMO membuat kami optimis tahun 2020 produk kami akan bersaing dengan produk global lainnya.  Apalagi Luna SIMO dibanderol dengan harga sangat terjangkau, Rp. 1.399.000. ,” ungkap Suryadi. (Icha)

  • Kominfo Mulai Refarming Pita Frekuensi Radio 800 MHz dan 900 MHz

    Kominfo Mulai Refarming Pita Frekuensi Radio 800 MHz dan 900 MHz

    Telko.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika mulai melakukan penataan ulang (refarming) pita frekuensi radio 800 MHz dan 900 MHz secara resmi pada hari ini, Rabu (23/01/2019).  Pita frekuensi itu, saat ini digunakan untuk keperluan penyelenggaraan jaringan bergerak seluler, di antaranya PT Telekomunikasi Selular (TELKOMSEL) dan PT Indosat, Tbk. (INDOSAT).

    Penataan ulang akan diawali di sebagian cluster Kepulauan Riau. Selanjutnya secara bertahap dilanjutkan hingga selesai untuk semua jaringan TELKOMSEL dan INDOSAT di seluruh Indonesia.

    Sesuai data Direktorat Penataan Sumber Daya, Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, penataan ulang pita frekuensi radio 800 MHz dan 900 MHz ini akan melibatkan tidak kurang dari 42.000 titik Network Element atau Base Station. Penataan ulang ditargetkan selesai paling lama pada hari Kamis tanggal 21 Maret 2019.

    Jaringan Lebih Berkualitas

    Saat ini, dari seluruh pita frekuensi radio yang digunakan oleh penyelenggara jaringan bergerak seluler, masih terdapat penetapan pita frekuensi radio yang belum berdampingan (not contiguous), khususnya pita frekuensi radio 800 MHz dan 900 MHz yang digunakan TELKOMSEL.

    “Penataan ulang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan optimalisasi penggunaan pita frekuensi radio. Hasil yang diharapkan adalah diperolehnya penetapan pita frekuensi radio yang berdampingan (contiguous) untuk seluruh operator seluler,” kata Ferdinandus Setu, Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo dalam paparan tertulisnya .

    Manfaat dari penetapan pita frekuensi radio 900 MHz yang berdampingan adalah setiap operator seluler dapat lebih leluasa memilih dan fleksibel dalam meningkatkan teknologi seluler yang diimplementasikannya. Selain itu, operator seluler juga bisa memilih jenis pengkanalan jaringan yang paling sesuai dengan kondisi traffic layanan selulernya pada suatu wilayah.

    Pada akhirnya, masyarakat pengguna layanan seluler akan dapat menikmati kualitas yang lebih baik dan lebih stabil, khususnya pada wilayah kota-kota besar yang mengalami kepadatan jaringan (congestion).

    Selain itu, manfaat penataan ulang bagi operator seluler adalah dapat mengimplementasikan teknologi Mobile Broadband dengan lebih fleksibel. Fleksibilitas itu akan membuka kemungkinan lebih besar bagi operator seluler untuk meningkatkan teknologi yang digunakan saat ini, dari semula 2G menjadi 3G atau 4G sehingga dapat mempercepat perluasan cakupan wilayah layanan 4G (LTE) ke daerah-daerah yang saat ini belum menikmati layanan 4G.

    Harapannya, dengan kehadiran layanan Mobile Broadband di daerah tersebut dapat menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

    Rencana Penataan Ulang – Refarming

    Pelaksanaan penataan ulang pita frekuensi radio 800 MHz dan 900 MHz dilakukan berdasarkan dua payung hukum. Pertama, Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 998 Tahun 2018 tentang Penataan Ulang Pita Frekuensi Radio 800 MHz dan 900 MHz untuk Keperluan Penyelenggaran Jaringan Bergerak Seluler yang ditetapkan pada tanggal 19 Desember 2018.

    Kedua, Keputusan Direktur Jenderal SDPPI Nomor 29/DIRJEN/2019 tentang Petunjuk Teknis Penataan Ulang Pita Frekuensi Radio 800 MHz dan 900 MHz untuk Keperluan Penyelenggaran Jaringan Bergerak Seluler yang ditetapkan pada tanggal 11 Januari 2019.

    Berbeda dengan penataan ulang pita frekuensi radio 2.1 GHz yang berakhir bulan April tahun 2018 yang melibatkan tiga operator seluler, kali ini pengaturan ulang (re-tuning) penggunaan pita frekuensi radio 800 MHz dan 900 MHz hanya melibatkan dua operator seluler yaitu INDOSAT dan TELKOMSEL.

    Sebagai gambaran, kondisi pita frekuensi radio 900 MHz sebelum dan setelah proses penataan ulang (refarming) adalah sebagai berikut:

    Minimalkan Gangguan Layanan

    Penataan ulang di seluruh Indonesia dibagi ke dalam 42 cluster dengan jadwal yang sudah terencana dan telah dikaji secara teknis oleh kedua operator seluler yang terlibat (TELKOMSEL dan INDOSAT).

    Kajian teknis tersebut didasarkan pada pengalaman kesuksesan beberapa kali penataan ulang (refarming) di pita-pita frekuensi radio yang lain. Proses re-tuning di suatu cluster sengaja dipilih pada saat mayoritas kondisi data traffic rendah yaitu pukul 23.00 waktu setempat sampai pukul 02.00 keesokan harinya.

    Proses teknis re-tuning sendiri rata-rata hanya berjalan kurang lebih 1-2 jam. Berikutnya, sampai dengan pukul 18.00 keesokan harinya, dilakukan pemantauan kinerja jaringan oleh INDOSAT dan TELKOMSEL, antara lain melalui mekanisme drive test. Apabila kondisi kinerja jaringan pasca re-tuning dapat dipertahankan pada level yang memadai, maka proses re-tuning di cluster tersebut dapat dinyatakan selesai.

    Secara keseluruhan proses penataan ulang di suatu cluster dapat diselesaikan hanya dalam tempo kurang dari 24 jam. Saat proses re-tuning dilaksanakan di suatu cluster, masyarakat tetap dapat menikmati layanan seluler INDOSAT dan TELKOMSEL yakni dengan menggunakan pita frekuensi radio lain yang dipancarkan oleh jaringan keduanya. (Icha)

     

     

  • Unik! Net1 Bakal Perluas Jaringan Lewat Kompetisi

    Unik! Net1 Bakal Perluas Jaringan Lewat Kompetisi

    Telko.id – Ini cara yang unik dalam mengembangkan jaringan. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan masukan, di mana lokasi yang sesuai untuk ‘menanamkan’ jaringan barunya, Net1 menggelar kompetisi. Belum ada yang menggunakan cara ini.

    Aktivitas yang digelar secara digital tersebut diberi nama #MauAda4Gdimana dan akan diselenggarakan mulai dari 7 Mei hingga 7 Juli 2018.

    Aktivitas ini berupa kompetisi untuk memilih sejumlah lokasi di Indonesia untuk memperoleh jaringan 4G LTE. Uniknya, kompetisi ini mengajak masyarakat untuk berperan aktif agar sebuah lokasi bisa memperoleh akses data broadband yang akan diwujudkan oleh Net1 Indonesia.

    Selama ini masih banyak daerah di Indonesia yang belum terjangkau sama sekali oleh internet. Adanya akses data 4G yang memadai menjadi “barang” yang tak ternilai harganya. Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, hingga akhir 2017 telah terdapat 55 ribu eNodeB atau elemen jaringan radio Long Term Evolution (LTE) untuk menunjang cakupan sinyal 4G di Indonesia. Net1 Indonesia bertekad meningkatkan angka-angka ini, salah satunya dengan menggelar aktivitas #MauAda4Gdimana guna menidentifikasi prioritas pembangunan jaringan LTE.

    Sementara itu, data dari katadata.co.id menyebutkan sebanyak 73,53% provinsi di Indonesia atau 25 provinsi sudah dapat menikmati jaringan 4G (Generasi 4). Namun, baru 55,05% dari seluruh desa/kelurahan di Indonesia (45.811 desa/kelurahan) yang dapat dijangkau oleh layanan sinyal 4G. Berkaca pada data tersebut, Net1 Indonesia sebagai penyedia layanan data broadband berupaya menyediakan koneksi internet terutama di rural area dan pelosok-pelosok negeri.

    “Kampanye #MauAda4Gdimana ini merupakan inisiatif Net1 Indonesia untuk melibatkan masyarakat agar berperan serta dalam misi besar kami, yaitu memeratakan penyediaan akses data broadband di berbagai daerah di tanah air yang selama ini belum menikmati layanan 4G, tentunya mereka yang berada di underserved area, atau disebut rural/pelosok. Oleh karena itu kami akan mewujudkan usulan daerah-daerah yang seharusnya bisa menikmati layanan akses 4G LTE,” ujar Larry Ridwan, CEO Net1 Indonesia.

    Aktivitas kompetisi #MauAda4Gdimana ini terbuka untuk seluruh warga negara Indonesia yang berusia 18 tahun atau lebih. Sebagai syarat lanjutan, para peserta yang tertarik mengikuti kompetisi ini wajib memiliki akun Facebook yang aktif dan melakukan Like Fanpage Facebook Net1 Indonesia, mem-follow akun Instagram @net1_id dan Twitter @net1id.

    Mekanisme Kompetisi

    Peserta yang tertarik untuk mengikuti aktivitas #MauAda4Gdimana bisa membuka microsite www.mau4g.net1.co.id untuk memilih #MauAda4Gdimana. Selanjutnya peserta memilih lokasi yang dijagokan sebagai penerima jaringan 4G dari Net1 dengan cara memilih VOTE di pilihan yang telah disediakan.

    Sebelum bisa mengikuti kampanye #MauAda4Gdimana, peserta juga perlu melakukan registrasi dengan mengisi formulir data diri dan informasi yang ada secara lengkap terlebih dahulu. Setelahnya, peserta dapat melakukan login dengan nomor handphone. Agar sebuah lokasi bisa terpilih untuk mendapatkan akses 4G LTE dari Net1 Indonesia, maka para peserta dapat mengajak netizen melalui

    akun Facebook mereka untuk melakukan vote dengan menggunakan hashtag #MauAda4Gdimana. Kota-kota yang memperoleh vote terbanyak maka akan diprioritaskan untuk mendapatkan jaringan 4G LTE dari Net1 Indonesia.

    Net1 Indonesia akan memilih pemenang dari para voters dan berhak mendapatkan hadiah-hadiah berupa 9 unit perangkat MiFi Net1 Argo, 99 buah pulsa senilai Rp100.000, dan 999 buah pulsa senilai Rp 50.000. Pemenang akan diumumkan pada 14 Juli 2018 melalui www.mau4g.net1.co.id dan semua akun sosial media Net1 Indonesia di akhir periode kompetisi. Dalam menggelar kompetisi #MauAda4Gdimana ini, Net1 Indonesia tidak memungut biaya apapun terhadap para peserta.

    Kerjasama Net1 dengan Pemerintah Daerah

    Sejumlah Pemerintah Daerah mulai dari tingkat Kota, Kabupaten, hingga Provinsi di Indonesia juga telah bekerjama dengan Net1 Indonesia untuk menyediakan akses data broadband bagi masyarakat khususnya daerah suburban dan pelosok. Sejauh ini Kabupaten Musi Banyuasin (MuBa), Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kota Tual, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Kabupaten kepulauan Sangihe, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Kaimana telah meneken Memorandum of Understanding(MoU) untuk bersama-sama dengan Net1 membangun infrastruktur komunikasi berbasis  4G di Indonesia.

    Kerja sama dengan sejumlah Pemerintah Daerah yang telah dimulai sejak tahun 2017 ini menjadi langkah awal Net1 Indonesia untuk bisa memenuhi kebutuhan akses data bagi 260 juta penduduk Indonesia yang tersebar di lebih dari 140 ribu pulau. (Icha)

     

     

  • Masyarakat Indonesia Masih ‘Malas’ Tinggalkan 2G, Kenapa?

    Masyarakat Indonesia Masih ‘Malas’ Tinggalkan 2G, Kenapa?

    Telko.id – Setelah hampir 2 tahun 4G masuk ke Indonesia, ternyata belum banyak diminati oleh masyarakat. Ada sekitar 60 – 70% pengguna telekomunikasi masih enggan pindah dari 2G. Dari diskusi ‘Obrolan Telko’ yang berlangsung di Jakarta, ada beberapa penyebab.

    Menurut Nonot Harsono, Dosen PENS dan Pengamat Telekomunikasi, Mastel Institute, penyebab pertama, karena supply layanan 4G penetrasinya masih kecil, baik coveragemaupun kepemilikan handset 4G pada pengguna yang mungkin karena willingness to buy atau daya beli dari mayoritas lapisan masyarakat masih kurang.

    Kedua, kebutuhan masyarakat  akan layanan 4G memang belum tumbuh. Menurutnya, penyebab yang kedua masih lebih besar dari yang pertama, yakni kebutuhan masyarakat  akan layanan 4G memang belum tumbuh. Kalau disimak lebih cermat,  sebenarnya bagi pengguna, nilai tambah yang didapat dari 4G dibanding 3G adalah peningkatan kenyamanan dan kepuasan dari user experience (UX), atau biasa diistilahkan dengan “convenience and satisfaction”.

    Dikarenakan masih banyak menggunakan layanan 2G, maka permintaan akan device 2G pun masih sangat banyak. “Masih sekitar 70% masyarakat Indonesia membeli device 2G. Yang membeli device 4G masih diperkotaan. Belum sampai ke pinggiran,” ujar Djatmiko Wardoyo, Director of Marketing & Communications Erajaya.

    Perangkat 4G dengan harga terjangkau, bisa jadi merupakan solusi agar masyarakat Indonesia mau migrasi ke 4G. Idealnya, range harga ponsel 4G agar bisa diterima pasar menengah bawah berkisar USD 250. Karena daya beli rata-rata pengguna 2G yang kebanyakan dari kelas menengah bawah hanya maksimal mampu membeli handset seharga USD 125.

    Ponsel 4G murah di Indonesia bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Karena saat ini, beberapa vendor dan pabrikan ponsel telah mulai memproduksi ponsel 4G murah dengan kisaran harga Rp 500 ribu. Saat ponsel 4G sudah menjadi sangat terjangkau, maka akan bisa mengatasi keengganan pengguna 2G bermigrasi ke 4G karena alasan handset yang mahal.

    Itu sebabnya, Smartfren selalu mengeluarkan device 4G yang terjangkau. Namun, sebentar lagi, Smartfren juga akan meluncurkan device 4G yang bukan layar sentuh. “Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan, device dengan keypad 3×3 mash diminati. Keengganan untuk belajar lagi ke touch screen menjadi kendala juge bagi masyarakat untuk migrasi. Diharapkan, dengan adanya device 4G dengan keypad ini menjadi solusi untuk meningkatkan penetrasi 4G di Indonesia,” kata Hartadi Novianto, Head of Device Sourcing & Management Smartfren Telecom,

    Pengguna ponsel di Indonesia diharapkan dapat segera melakukan migrasi secepatnya ke 4G, sehingga tidak tertinggal jauh dari perkembangan teknologi di era digital saat ini. Namun harus diakui, melakukan perpindahan teknologi dari 2G ke 4G merupakan tantangan terbesar yang dihadapi oleh Indonesia untuk bisa melangkah ke tahapan teknologi berikutnya.

    Besarnya jumlah pengguna teknologi 2G juga merupakan salah satu penyebab terhambatnya Indonesia dalam hal tren teknologi. Padahal Indonesia bisa menjadi sebuah pasar yang memiliki peluang yang besar untuk bisa mencoba merasakan perubahan telekomunikasi yang cepat.

    Agar migrasi dari 2G ke 4G bisa berlangsung cepat, maka harus dilakukan edukasi bagi para pengguna 2G mengenai kelebihan perangkat dengan teknologi 4G. Tentunya ini akan dijalankan dengan bantuan dari para operator. Namun ini juga bukanlah sebuah proses yang gampang untuk dilakukan, khususnya apabila menghadapi pengguna dari pedesaan yang belum sanggup membeli ponsel 4G.

    Masyarat harus mendapat edukasi tentang beberapa kelebihan teknologi 4G yang ada di feature phone. Seperti misalnya baterainya lebih tahan lama jika dibanding smartphone. Kemudian bisa menggunakan aplikasi WhatsApp Call dan chattingmenjadi pengganti telpon dan SMS. Bisa menggunakan aplikasi jejaring sosial lebih cepat, seperti Facebook. Dan juga pengguna bisa menikmati video call lewat aplikasi WhatsApp.

    Di sisi lain, perlu adanya ketegasan dari pemerintah untuk membuat peraturan yang bisa membatasi atau menghentikan pemakaian frekuensi 2G. Jika kedua point diatas tersebut bisa dilaksanakan, maka proses migrasi dari 2G ke 4G diyakini bisa lebih cepat.

    Menurut Nonot, tantangan pemerintah dan para penyedia jaringan 4G adalah bagaimana menciptakan the real needs dari 4G yang bukan sekedar untuk convenience dan satisfaction; misalnya utk alat bantu dalam menjalankan bisnis. Bisa saja pemerintah membuat program pembinaan e-UKM yang lebih nyata dengan pelatihan literasi teknologi dan subsidi gadget. Konon ada lebih dari 100 ribu UKM yang bisa diprovokasi untuk menggunakan teknologi 4G hingga seramai demam batu akik.

    Berdasarkan riset yang dilakukan oleh GFK, penjualan ponsel di Indonesia sekarang ini sudah mencapai 60 persen, dimana sejumlah perangkat sudah memiliki kemampuan 4G. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa Indonesia akan mampu dengan cepat beralih ke teknologi 4G.

    Pada akhirnya, jika 2G akan dimatikan secara perlahan, maka kita akan mencapai kondisi telekomunikasi yang lebih baik. Apalagi jika sudah ada perangkat yang bisa menggantikan ponsel 2G murah yang ada sekarang. Dari sisi penyeberan jaringan juga akan lebih baik, karena semua wilayah yang selama ini hanya terjangkau jaringan 2G akan berubah menjadi jaringan 4G dengan daya tampung pengguna yang jauh lebih besar. (Icha)

     

  • Verizon Sudah Siap Berikan Layanan VoLTE

    Verizon Sudah Siap Berikan Layanan VoLTE

    Telko.id – Voice Over LTE atau VoLTE merupakan alternative komunikasi yang bakal ditawarkan oleh Verizon. Hal ini diumumkan pada minggu lalu. Operator ini mengklaim bahwa voice-over LTE bisa bekerja dijaringan LTE Cat M1 miliknya.

    Tentu dengan adanya layanan ini akan memberikan kesempatan para pengguna jasa operator ini untuk menggunakan perintah suara saat mengaktifkan perangkatnya. Menurut Verizon, LTE X+Cat M1 ini adalah varian daya rendah teknologi LTE yang mendukung jaringan IoT yang baru diluncurkan Verizon.

    “Dengan membuktikan bahwa layanan suara dapat berjalan baik pada jaringan LTE Cat M1, artinya kami akan membuka jalan untuk jenis aplikasi dan layanan IoT yang baru,” kata Rosemary McNally, Vice President Corporate Technology Verizon.

    “Ruang IoT menawarkan layanan pendapatan baru untuk operator dan menambahkan kemampuan suara ke perangkat IoT menggunakan kasus seperti panel alarm dan sistem peringatan medis ke tingkat fungsionalitas berikutnya,” kata Eric Parsons, head of product line 4G and RAN mobile broadband Ericsson.

    Untuk uji coba LTE Cat M1 ini, Verizon menggunakan infrastruktur jaringan komersial Ericsson dan modem LTE MDM9206 Qualcomm, yang chipnya diaktifkan untuk platform pengembangan ThingSpace IoT Verizon. Qualcomm mengatakan bahwa modem LTE-nya dirancang untuk mendukung LTE Cat M1 dengan VoLTE sehingga operator dapat mengkomersilkan aplikasi dan layanan IoT yang memerlukan suara.

    “Memperluas teknologi VoLTE pada jaringan LTE Cat M1 nasional Verizon adalah langkah alami berikutnya dalam evolusi IoT,” kata McNally.

    Verizon telah meluncurkan VoLTE di jaringan 4G selama tiga tahun, walaupun banyak ponsel cerdas di semua jaringan operator A.S. masih kembali ke 3G untuk layanan suara. Begitu operator memindahkan sebagian besar pelanggannya ke VoLTE, baru Verizon akan mulai meningkatkan spektrum 3G nya ke LTE. (Icha)

     

  • Spektrum Microwave E-Band Solusi Terbaik Untuk 4G dan 4.5G di Indonesia

    Spektrum Microwave E-Band Solusi Terbaik Untuk 4G dan 4.5G di Indonesia

    Telko.id – Untuk pengembangan 4G dan 4.5G di Indonesia, diperlukan spektrum baru. Dan, berdasarkan diskusi yang dilakukan dalam forum Best Experience Bearer Network Summit di acara 3 rd Indonesia ICT Carnival, tercetus bahwa spektrum frekuensi radio microwave terbaru, khususnya E-Band (71-86GHz) adalah salah satu solusi yang terbaik untuk jaringan backhaul 4G/4.5G di Indonesia.

    Diskusi tersebut dilakukan oleh berbagai pelaku industri Teknologi Informatika dan Komunikasi, termasuk termasuk pemerintah, operator, vendor, dan pelanggan.

    Hal tersebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunan TIK di Indonesia. Untuk itu, diharapkan peresmian regulasi mengenai spektrum E-Band dengan harga yang terjangkau sangat dibutuhkan agar seluruh pelaku industri dapat mendukung upaya pemerintah tersebut.

    Saat ini, untuk melayani populasi masyarakat Indonesia yang mencapai 250 juta penduduk dan berada di ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, hampir semua jaringan mobile di Indonesia menggunakan sistem backhaul microwave dengan frekuensi microwave yang masih konvensional dan biaya yang cukup tinggi, sehingga menyulitkan operator untuk menyediakan jaringan dengan kapasitas serta kualitas yang tinggi kepada para pelanggan.

    “Huawei, sebagai penyedia solusi informasi dan komunikasi teknologi (TIK) global terkemuka di Indonesia memperkenalkan solusi yang evolusional untuk teknologi E-Band,” ungkap Hudson Liu, CEO Huawei Indonesia.

    Dibandingkan dengan peningkatan bandwidth melalui berbagai saluran pada pita konvensional atau
    mode modulasi yang lebih tinggi, penggabungan pita konvensional dan E-Band, yang biasa disebut dengan solusi Super Dual Band, dapat menyediakan kecepatan jaringan sebesar 10Gbps tanpa membutuhkan saluran spektrum berkapasitas besar.

    Terlebih, saat ini Indonesia tengah fokus pada Rencana Pita Lebar Indonesia (Indonesia Broadband Plan /IBP) sebagai salah satu tugas terpenting hingga tahun 2019. Sebagai bagian dari IBP, pengembangan pita lebar mobile akan bergantung pada upaya dari semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, vendor, dan berbagai mitra industri. Spektrum E-Band akan berperan penting dalam meminimalisir kesenjangan digital dan memperkaya kehidupan masyarakat Indonesia melalui komunikasi.

    Dalam sambutannya, Denny Setiawan, Kepala Sub Direktorat Penataan Frekuensi, Direktorat
    Frekuensi, Kementerian Komunikasi dan Informatika, mengulas studi kasus mengenai peraturan lisensi E-Band yang memudahkan pengembangan LTE di negara-negara bagian Eropa. Hal ini memberikan sinyal positif bahwa spektrum E-Band dapat diimplementasikan dengan biaya yang cukup rendah sehingga dapat mempercepat penyebaran serta meningkatkan kapasitas pita lebar mobile di Indonesia.

    “Saat ini pemerintah tengah berupaya untuk mengurangi biaya lisensi, termasuk E-Band,” sahut Denny menambahkan.

    Nugroho Widjihatmoko, General Manager Transport Network Hutchison 3 Indonesia, menyampaikan harapannya terkait spektrum frekuensi radio microwave terbaru ini. “Dengan ditetapkannya biaya lisensi yang lebih murah serta kebijakan yang mendukung, maka E-Band akan menjadi solusi yang tepat bagi LTE,” ujar Nugroho.

    Christian Gustiana, General Manager Strategic Technology Planning Telkomsel, juga menambahkan “E-Band dapat menjadi solusi untuk mempersingkat Time to Market (TTM), karena mampu menghadirkan kapasitas jaringan seperti yang disediakan oleh serat fiber dengan waktu penyebaran yang lebih cepat.

    Pernyataan ini juga diamini oleh Julian Bright, Senior Analyst OVUM, yang menyatakan “Dengan Laju Pertumbuhan Tahunan Gabungan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) sebesar 27% yang belum pernah terjadi sebelumnya, pelanggan pita lebar mobile di Indonesia memiliki pertumbuhan yang sangat pesat jika dibandingkan dengan negara lain. E-Band dengan biaya lisensi yang rendah dapat menyediakan jaringan berkapasitas tinggi dan solusi jangka pendek yang sangat ideal bagi mobile backhaul. (Icha)

  • LTE, Apa dan Bagaimana?

    LTE, Apa dan Bagaimana?

    Apa Itu LTE?

    LTE merupakan kependekan dari Long Term Evolution dan ini dimulai sebagai sebuah proyek pada tahun 2004 oleh sebuah badan telekomunikasi yang dikenal dengan sebutan Third Generation Partnership Project (3GPP). SAE (System Architecture Evolution) adalah evolusi dari jaringan inti GPRS/3G. Istilah LTE biasanya digunakan untuk mewakili baik LTE maupun SAE.

    LTE berevolusi dari sistem 3GPP sebelumnya yang dikenal sebagai Universal Mobile Telecommunication System (UMTS), yang pada gilirannya berevolusi dari Global System for Mobile Communications (GSM). Bahkan spesifikasi terkait secara resmi dikenal sebagai evolved UMTS Terrestrial Radio Access (E-UTRA) dan evolved UMTS Terrestrial Radio Access Network (E-UTRAN). Versi pertama dari LTE didokumentasikan di Release 8 spesifikasi 3GPP.

    Sebuah peningkatan pesat pada penggunaan mobile data dan munculnya aplikasi baru seperti konten streaming MMOG (Multimedia Online Gaming), mobile TV, Web 2.0, telah memotivasi 3rd Generation Partnership Project (3GPP) untuk menggarap Long-Term Evolution (LTE) dalam perjalanan menuju layanan mobile generasi keempat.

    Tujuan utama dari LTE adalah untuk menyediakan kecepatan akses data yang tinggi, latency rendah dan paket teknologi radio akses yang dioptimalkan untuk mendukung penyebaran bandwidth yang fleksibel. Pada saat yang sama arsitektur jaringan telah dirancang dengan tujuan untuk mendukung lalu lintas packet-switched dengan mobilitas yang mulus dan kualitas layanan yang mumpuni.

    Evolusi LTE

    Tahun

    Event

    Mar 2000 Release 99 – UMTS/WCDMA
    Mar 2002 Rel 5 – HSDPA
    Mar 2005 Rel 6 – HSUPA
    2007 Rel 7 – DL MIMO, IMS (IP Multimedia Subsystem)
    November 2004 Spesifikasi LTE digarap
    January 2008 Spesifikasi selesai dan disetujui dengan Release 8
    2010 Target penyebaran pertama

     

    10 Fakta tentang LTE

    • LTE bukan hanya teknologi penerus dari UMTS tetapi juga CDMA 2000.
    • LTE penting karena akan membawa hingga 50 kali peningkatan kinerja dan efisiensi spektrum yang lebih baik untuk jaringan selular.
    • LTE diperkenalkan untuk mendapatkan kecepatan akses data yang tinggi, downlink hingga 300Mbps dan uplink hingga 75 Mbps.
    • LTE adalah teknologi yang ideal untuk mendukung tingkat data yang tinggi untuk layanan seperti voice over IP (VOIP), streaming multimedia, konferensi video atau bahkan modem seluler berkecepatan tinggi.
    • LTE menggunakan baik mode Time Division Duplex (TDD) maupun Frequency Division Duplex (FDD). Dalam FDD, transmisi uplink dan downlink menggunakan frekuensi yang berbeda, sedangkan pada TDD uplink dan downlink menggunakan frekuensi yang sama dan dipisahkan oleh waktu.
    • LTE mendukung bandwidth operator fleksibel, dari 1,4 MHz hingga 20 MHz serta FDD dan TDD. LTE dirancang dengan bandwidth operator terukur dari 1,4 MHz hingga 20 MHz dimana bandwidth yang digunakan tergantung pada pita frekuensi dan jumlah spektrum yang tersedia dengan operator jaringan.
    • Semua perangkat LTE harus mendukung transmisi Multiple Input Multiple Output (MIMO), yang memungkinkan BTS untuk mengirimkan beberapa aliran data melalui frekuensi yang sama secara bersamaan.
    • Semua antarmuka antara node jaringan di LTE kini berdasarkan IP, termasuk koneksi backhaul ke basis stasiun radio. Ini adalah penyederhanaan besar dibandingkan dengan teknologi sebelumnya yang awalnya berdasarkan E1/T1, ATM dan frame relay link, dengan sebagian besar dari mereka menjadi narrowband dan mahal.
    • Mekanisme Quality of Service (QoS) telah distandarkan pada semua interface untuk memastikan bahwa persyaratan panggilan suara untuk penundaan konstan dan bandwidth, masih bisa bertemu ketika batas kapasitas tercapai.
    • Bekerja dengan sistem GSM/EDGE/UMTS memanfaatkan spektrum 2G dan 3G yang ada dan spektrum baru. Mendukung perpindahan dan roaming ke jaringan seluler yang ada.

    Keuntungan LTE

    • Throughput tinggi: Kecepatan data yang tinggi dapat dicapai baik downlink maupun uplink. Inilah yang menyebabkan throughput yang tinggi.
    • Latency rendah: Waktu yang dibutuhkan untuk terhubung ke jaringan berada dalam kisaran beberapa ratus milidetik dan keadaan hemat daya kini dapat masuk dan keluar dengan sangat cepat.
    • FDD dan TDD di platform yang sama: Frequency Division Duplex (FDD) dan Time Division Duplex (FDD), kedua skema ini dapat digunakan pada platform yang sama.
    • Pengalaman pengguna akhir yang unggul: Optimasi sinyal untuk pembentukan koneksi dan antarmuka udara serta prosedur manajemen mobilitas lainnya telah meningkatkan pengalaman pengguna. Mengurangi latency (menjadi 10 ms) untuk pengalaman pengguna yang lebih baik.
    • Koneksi mulus: LTE juga akan mendukung koneksi tanpa batas ke jaringan yang ada seperti GSM, CDMA dan WCDMA.
    • Plug and play: Pengguna tidak harus secara manual menginstal driver untuk perangkat. Sebaliknya sistem secara otomatis mengenali perangkat, load driver baru untuk hardware jika diperlukan, dan mulai bekerja dengan perangkat baru yang terhubung.
    • Arsitektur sederhana

    LTE – QoS

    Pada LTE, QoS diimplementasikan antara UE dan PDN Gateway dan diterapkan untuk menetapkan bearer. ‘Bearer’ sendiri pada dasarnya adalah konsep virtual dan sebuah konfigurasi jaringan untuk memberikan perlakuan khusus pada pengaturan lalu lintas, misalnya paket VoIP diprioritaskan oleh jaringan dibandingkan dengan lalu lintas web browser. Sama seperti Ethernet dan internet yang memiliki berbagai jenis QoS, berbagai level QoS juga dapat diterapkan pada lalu lintas LTE untuk aplikasi yang berbeda.

    Evolved Packet System (EPS) bearer menyediakan korespondensi one-to-one dengan radio bearer RLC dan memberikan dukungan untuk Traffic Flow Templates (TFT). Dalam hal ini, ada empat jenis bearer EPS, yang meliputi:

    GBR Bearer sumber daya secara permanen dialokasikan oleh kontrol masuk. Kontrol masuk sendiri bertugas untuk melakukan validasi dalam sistem komunikasi di mana sebuah pemeriksaan dilakukan sebelum sambungan dibuat untuk melihat apakah sumber daya saat ini cukup untuk koneksi yang diusulkan.

    Non-GBR Bearer tidak memiliki kontrol masuk

    Dedicated Bearer terkait dengan TFT tertentu (GBR atau non-GBR)

    Default Bearer Non GBR, dimaksudkan untuk mencakup banyak hal yang berbeda untuk lalu lintas yang belum ditetapkan

  • Parameter Dasar LTE

    Parameter Dasar LTE

    Parameter

    Deskripsi

    Kisaran Frekuensi Band UMTS FDD dan TDD ditetapkan pada 36.101(v860) Table 5.5.1, di bawah ini
    Duplexing FDD, TDD, half-duplex FDD
    Kanal coding Turbo code
    Mobilitas 350 km/h
    Kanal Bandwidth (MHz)
    • 1.4
    • 3
    • 5
    • 10
    • 15
    • 20
    Konfigurasi Transmisi Bandwidth NRB : (1 blok sumber = 180kHz in 1ms TTI )
    • 6
    • 15
    • 25
    • 50
    • 75
    • 100
    Skema Modulasi

    UL: QPSK, 16QAM, 64QAM(optional)


    DL: QPSK, 16QAM, 64QAM

    Skema Multiple Access

    UL: SC-FDMA (Single Carrier Frequency Division Multiple Access) mendukung 50Mbps+ (20MHz spectrum)


    DL: OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiple Access) mendukung 100Mbps+ (20MHz spectrum)

    Teknologi Multi-Antenna

    UL: Multi-user collaborative MIMO


    DL: TxAA, spatial multiplexing, CDD ,max 4×4 array

    Puncak kecepatan data di LTE

    UL: 75Mbps(20MHz bandwidth)


    DL: 150Mbps(UE Category 4, 2×2 MIMO, 20MHz bandwidth)


    DL: 300Mbps(UE category 5, 4×4 MIMO, 20MHz bandwidth)

    MIMO

    (Multiple Input Multiple Output)

    UL: 1 x 2, 1 x 4


    DL: 2 x 2, 4 x 2, 4 x 4

    Cakupan 5 – 100km dengan sedikit penurunan setelah 30km
    QoS E2E QOS memungkinkan prioritas dari layanan yang berbeda tingkatan
    Latensi Lantensi End-user < 10mS

     

    Band-band operasi E-UTRA

    Berikut ini adalah tabel untuk band-band operasi E-UTRA yang diambil dari spesifikasi LTE 36,101 (v860) Tabel 5.5.1:

    e_utra

  • Arsitektur Jaringan LTE

    Arsitektur Jaringan LTE

    Arsitektur Jaringan tinglat tinggi LTE terdiri dari tiga komponen utama, diantaranya:

    • User Equipment (UE).

    • Evolved UMTS Terrestrial Radio Access Network (E-UTRAN).

    • Evolved Packet Core (EPC).

      EPC atau Evolved Packet Core berkomunikasi dengan paket jaringan data di dunia luar seperti internet, jaringan perusahaan swasta atau subsistem IP multimedia. Antarmuka antara bagian-bagian yang berbeda dari sistem dilambangkan dalam Uu, S1 dan SGI seperti yang ditunjukkan di bawah ini:

    lte_architecture

    User Equipment (UE) atau Peralatan Pengguna

    Arsitektur internal dari user equipment untuk LTE identik dengan yang digunakan oleh UMTS dan GSM yang sebenarnya adalah sebuah Mobile Equipment (ME) atau peralatan mobile. Peralatan Mobile terdiri dari 3 modul penting, diantaranya Mobile Termination (MT), yang menangani semua fungsi komunikasi; Terminal Equipment (TE), yang mengakhiri aliran data; dan Universal Integrated Circuit Card (UICC), atau dikenal juga sebagai kartu SIM untuk peralatan LTE. Ini menjalankan aplikasi yang dikenal sebagai Universal Subscriber Identity Module (USIM).

    Sebuah USIM menyimpan data pengguna tertentu sama halnya dengan kartu SIM 3G. Kartu ini berisi informasi tentang nomor pengguna ponsel, identitas jaringan rumah, kunci keamanan dan lain-lain.

    E-UTRAN (Akses Jaringan)

    Arsitektur evolved UMTS Terrestrial Radio Access Network (E-UTRAN) telah diilustrasikan dalam gambar di bawah ini.

    lte_e_utran

    E-UTRAN menangani komunikasi radio antara ponsel dan evolved packet core dan hanya memiliki satu komponen, BTS evolved, yang disebut eNodeB atau eNB. Setiap eNB adalah BTS yang mengontrol ponsel dalam satu atau lebih sel. BTS yang berkomunikasi dengan ponsel dikenal sebagai eNB yang melayaninya.

    Ponsel LTE berkomunikasi hanya dengan satu BTS dan satu sel pada satu waktu dan berikut adalah dua fungsi utama yang didukung oleh eNB:

    • eBN mengirim dan menerima transmisi radio untuk semua ponsel menggunakan analog dan fungsi pemrosesan sinyal digital dari antarmuka udara LTE.

    • eNB mengontrol operasi tingkat rendah dari semua ponselnya, dengan mengirimkan sinyal pesan seperti perintah handover.

    Setiap eBN dihubungkan ke EPC dengan menggunakan antarmuka S1 dan ini juga dapat terhubung ke BTS terdekat dengan antarmuka X2, yang utamanya digunakan untuk pemberian isyarat dan melanjutkan paket selama handover.

    Sebuah home eNB (HeNB) adalah BTS yang telah dibeli oleh pengguna untuk menyediakan cakupan femtocell di dalam rumah. Sebuah home eNB dimiliki oleh sekelompok pelanggan tertutup (CSG) dan hanya dapat diakses oleh ponsel dengan USIM yang juga dimiliki oleh kelompok serupa.

    Evolved Packet Core (EPC)

    Arsitektur Evolved Packet Core (EPC) telah digambarkan di bawah ini. Ada beberapa komponen lagi yang belum ditampilkan dalam diagram untuk membuatnya tetap sederhana. Komponen ini seperti Sistem Peringatan Gempa Bumi dan Tsunami (Earthquake and Tsunami Warning System – ETWS), Equipment Identity Register (EIR) dan Policy Control and Charging Rules Function (PCRF).

    lte_epc

    Berikut adalah penjelasan singkat dari masing-masing komponen yang ditampilkan dalam arsitektur di atas:

    • Komponen Home Subscriber Server (HSS) telah diteruskan dari UMTS dan GSM dan merupakan database pusat yang berisi informasi tentang semua pelanggan operator jaringan.

    • Packet Data Network (PDN) Gateway (P-GW) berkomunikasi dengan dunia luar seperti jaringan paket data PDN, menggunakan antarmuka SGI. Setiap PDN diidentifikasi oleh acces point nama (APN). PDN gateway memiliki peran yang sama seperti GPRS support node (GGSN) dan serving GPRS support node (SGSN) dengan UMTS dan GSM.

    • Serving Gateway (S-GW) bertindak sebagai router, dan meneruskan data antara BTS dan PDN gateway.

    • Mobility Management Entity (MME) mengontrol operasi tingkat tinggi ponsel dengan cara memberikan pesan dan Home Subscriber Server (HSS).

    • Policy Control and Charging Rules Function (PCRF) adalah komponen yang tidak ditampilkan dalam diagram di atas tetapi bertanggung jawab untuk melakukan kontrol atas proses tertentu, serta menyediakan kebijakan pengaturan dan aliran keputusan untuk pembiayaan/charging.

    Antarmuka antara serving dan PDN gateway dikenal dengan S5/S8. Keduanya memiliki implementasi yang sedikit berbeda. Disebut S5 jika kedua perangkat berada dalam jaringan yang sama, dan S8 jika mereka berada di jaringan yang berbeda.

    Fungsi Pembagian antara E-UTRAN dan EPC

    Diagram berikut ini menunjukkan pembagian fungsi antara E-UTRAN dan EPC untuk jaringan LTE:

     

    lte_epc_eutran

    2G/3G Versus LTE

    Tabel berikut membandingkan berbagai protokol Network Elements & Signaling penting yang digunakan dalam 2G/3G dan LTE

    2G/3G

    LTE

    GERAN and UTRAN E-UTRAN
    SGSN/PDSN-FA S-GW
    GGSN/PDSN-HA PDN-GW
    HLR/AAA HSS
    VLR MME
    SS7-MAP/ANSI-41/RADIUS Diameter
    DiameterGTPc-v0 and v1 GTPc-v2
    MIP PMIP