spot_img
Latest Phone

Garmin dan PBESI Siapkan Timnas Menuju Asian Games 2026

Telko.id - Garmin melalui divisi ekosistem B2B, Garmin Health,...

POCO F9 Series Siap Meluncur 1 September, Ini Keunggulannya!

Telko.id - POCO siap memperkenalkan lini terbarunya, POCO F9...

POCO X8 Pro Series Siap Libas Semua Genre Game Berat

Telko.id - POCO X8 Pro Series resmi diposisikan sebagai...

Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Latihan Sesuai Kondisi Tubuh

Telko.id - Samsung resmi menghadirkan Galaxy Watch Ultra2 dan...

Asyik, Samsung Galaxy Watch8 Kini Dukung NFC Pay myBCA

Telko.id – Samsung resmi menghadirkan fitur NFC Pay di...

ARTIKEL TERKAIT

SpaceX Akuisisi Spektrum 800 MHz, Starlink Mobile Tantang Operator

Telko.id – SpaceX resmi mengumumkan kesepakatan akuisisi portofolio lisensi spektrum frekuensi rendah pada pita 800 MHz di Amerika Serikat.

Langkah ini menjadi sinyal serius bahwa Starlink Mobile tengah dipersiapkan untuk bersaing langsung dengan operator seluler konvensional di pasar global.

Pengumuman tersebut disampaikan pada 8 Oktober 2026, dengan SpaceX membeli portofolio lisensi spektrum dari Grain Management. Transaksi ini mencakup spektrum berpasangan hingga 14 MHz secara nasional di Amerika Serikat, dan masih menunggu persetujuan dari Federal Communications Commission (FCC) sebagai regulator telekomunikasi setempat.

Spektrum 800 MHz nantinya akan melengkapi kapasitas frekuensi 2 GHz yang sudah dimiliki Starlink Mobile. Kombinasi kedua pita frekuensi itu dirancang untuk meningkatkan kapasitas layanan sekaligus memperluas jangkauan sinyal ke area yang lebih luas.

Frekuensi rendah seperti 800 MHz dikenal punya karakteristik jangkauan jauh dan penetrasi sinyal yang lebih baik dalam menembus penghalang, termasuk dinding bangunan dan pepohonan. Karakter ini membuatnya cocok untuk mendukung layanan komunikasi langsung ke perangkat ponsel.

Dalam pengumuman resminya, SpaceX menyebut kombinasi jaringan satelit dan infrastruktur terestrial akan menjadi bagian dari pengembangan jaringan seluler Starlink Mobile di Amerika Serikat. Strategi itu memperlihatkan ambisi SpaceX memperluas peran di pasar seluler yang selama ini didominasi operator pemilik menara BTS.

Content image for article: SpaceX Akuisisi Spektrum 800 MHz, Starlink Mobile Tantang Operator

Selama ini Starlink yang dikenal di Indonesia menyediakan akses internet melalui jaringan satelit dan perangkat terminal yang dipasang pengguna. Sementara teknologi Direct-to-Cell memungkinkan satelit berkomunikasi langsung dengan ponsel yang kompatibel.

Dalam skema Direct-to-Cell, satelit dibekali teknologi yang fungsinya menyerupai menara seluler di orbit. Ponsel bisa terhubung lewat jaringan satelit tanpa bergantung pada BTS konvensional di lokasi pengguna.

Pendekatan ini dirancang membantu wilayah tanpa sinyal seluler, seperti kawasan terpencil, perairan, dan lokasi yang sulit dijangkau pembangunan infrastruktur telekomunikasi.

Starlink menjelaskan teknologi Direct-to-Cell dapat digunakan dengan ponsel LTE yang kompatibel tanpa perangkat keras satelit khusus.

Namun jenis layanan, dukungan perangkat, pita frekuensi, dan cakupan tetap bergantung pada implementasi serta persetujuan di masing-masing negara. Perkembangan ini sejalan dengan langkah Ekspansi Direct-to-Cell yang tengah diuji Starlink di sejumlah pasar.

Artinya, pengembangan Starlink Mobile bukan sekadar peningkatan layanan internet satelit biasa. Ini menjadi langkah menuju integrasi jaringan satelit dan komunikasi seluler dalam satu ekosistem.

Dampak bagi Operator Seluler Indonesia

Jika teknologi Direct-to-Cell berkembang dan memperoleh izin di Indonesia, ada sejumlah potensi dampak yang patut dicermati industri telekomunikasi nasional.

Pertama, persaingan konektivitas semakin luas. Operator seluler selama ini mengandalkan kombinasi BTS, jaringan serat optik, dan infrastruktur pendukung untuk memperluas cakupan.

Teknologi satelit berpotensi menjadi alternatif menjangkau area yang sulit dilayani jaringan terestrial. Kehadirannya bisa mendorong operator meningkatkan kualitas layanan sekaligus mengevaluasi strategi perluasan jaringan.

Meski begitu, satelit tidak serta-merta menggantikan seluruh jaringan seluler. Kapasitas, kebutuhan spektrum, karakteristik wilayah, dan biaya tetap menjadi pertimbangan penting dalam menentukan teknologi paling sesuai.

Kedua, peluang kerja sama dengan operator lokal. Persaingan tidak selalu berarti Starlink beroperasi sendiri dan berhadapan langsung dengan seluruh operator. Model kemitraan antara penyedia satelit dan operator justru sudah berkembang di sejumlah negara.

Di Jepang, KDDI mengumumkan kesepakatan dengan SpaceX untuk menghadirkan teknologi Starlink Mobile V2 melalui layanan au Starlink Direct. Sasaran layanan itu mencakup konektivitas broadband dan panggilan suara di wilayah di luar jangkauan terestrial pada akhir 2027.

Model serupa bisa menjadi referensi bagi pasar Indonesia, di mana operator lokal berpotensi bekerja sama dengan penyedia satelit untuk memperluas cakupan. Namun hingga kini belum ada kerja sama Direct-to-Cell antara Starlink dan operator Indonesia yang diumumkan resmi.

Ketiga, pemerataan akses internet di wilayah terpencil. Dampak paling relevan bagi Indonesia adalah peluang memperluas konektivitas di wilayah yang belum terjangkau jaringan seluler memadai. Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan pembangunan infrastruktur komunikasi di pulau-pulau kecil, wilayah perbatasan, kawasan pegunungan, dan jalur perairan.

Koneksi langsung dari satelit ke ponsel berpotensi membantu mengatasi sebagian kesenjangan tersebut, terutama untuk komunikasi dasar di area tanpa sinyal. Dalam kondisi tertentu, teknologi ini juga bisa mendukung komunikasi darurat ketika infrastruktur jaringan darat mengalami gangguan.

Efektivitasnya tetap bergantung pada cakupan satelit, dukungan perangkat, kondisi lingkungan, dan jenis layanan yang tersedia.

Kesiapan operator dalam menghadapi gangguan jaringan juga menjadi sorotan tersendiri. Sebagai gambaran, Telkomsel Pulihkan Layanan pasca banjir Sumatera menunjukkan betapa pentingnya ketahanan infrastruktur telekomunikasi di lapangan.

Meski perkembangan SpaceX patut diperhatikan, kesepakatan spektrum di Amerika Serikat tidak otomatis membuat Starlink Mobile bisa digunakan di Indonesia. Hak penggunaan frekuensi dan izin penyelenggaraan telekomunikasi mengikuti ketentuan masing-masing negara. Spektrum 800 MHz yang diperoleh SpaceX di AS bukan izin untuk menggunakan frekuensi tersebut di Indonesia.

Di dalam negeri, pemerintah tengah menyiapkan landasan kebijakan untuk teknologi komunikasi langsung dari satelit ke perangkat. Pada Oktober 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) membuka konsultasi publik mengenai kajian regulasi dan kebijakan teknologi Non-Terrestrial Network Direct-to-Device (NTN-D2D).

Kajian itu mencakup potensi pemanfaatan teknologi, pengelolaan spektrum frekuensi, model bisnis, dan skema kerja sama antaroperator. Perkembangan terbaru terlihat pada portal informasi publik Komdigi, di mana pada 27 September 2026 kementerian mencatat dokumen terkait proses pemilihan penyedia jasa konsultan untuk kajian NTN-D2D.

Dokumen pengadaan tersebut bukan pengumuman izin komersial atau jadwal peluncuran layanan Direct-to-Cell di Indonesia. Karena itu, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa penguatan Starlink Mobile di Amerika Serikat akan langsung mengubah layanan seluler yang tersedia bagi konsumen Indonesia dalam waktu dekat.

Peta persaingan di segmen ini juga semakin ramai. Sejumlah pemain lain mulai menyiapkan teknologi serupa, seperti yang terlihat dari langkah BlueBird 6 Tantang Starlink di pasar internet satelit langsung ke ponsel.

Langkah SpaceX memperkuat Starlink Mobile menandai perkembangan penting dalam persaingan teknologi komunikasi. Batas antara layanan satelit dan jaringan seluler semakin terbuka, terutama ketika satelit mulai dirancang untuk berkomunikasi langsung dengan ponsel yang digunakan masyarakat.

Bagi Indonesia, teknologi ini menawarkan peluang memperluas konektivitas di wilayah yang sulit dijangkau BTS. Namun implementasinya memerlukan kepastian regulasi, pengelolaan spektrum, model bisnis, dan kerja sama industri.

Operator seluler juga perlu mencermati perkembangan ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang, baik melalui peningkatan jaringan terestrial maupun potensi integrasi teknologi satelit.

Pada akhirnya, dampak Starlink Mobile di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologi SpaceX, tetapi juga oleh kesiapan regulasi, ekosistem operator, dan kebutuhan pasar lokal.

Untuk saat ini, fokus utama adalah memantau perkembangan Starlink Mobile di pasar global dan persiapan implementasi NTN-D2D di Indonesia. Keduanya akan menjadi faktor penting dalam menentukan bagaimana teknologi satelit dapat melengkapi sekaligus mengubah lanskap telekomunikasi nasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU