Telko.id – Nvidia menjajaki investasi sekitar 4,5 miliar dolar AS atau Rp80,55 triliun untuk pusat data AI di Batam, Kepulauan Riau, seperti melansir dari Sindonews pada Senin, 19 Oktober 2026. Rencana itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta pada Kamis, 24 September 2026. Sebagaimana dikutip dari TopBusiness, investasi tersebut masih dalam tahap pembicaraan.
Kampus 360 MW untuk 170.000 Chip Nvidia
Proyek pusat data AI di Batam ini berupa pabrik AI berkapasitas 360 megawatt (MW) di Kabil Tech Park, yang digarap Firmus Technologies asal Australia dan DayOne asal Singapura bersama Nvidia. Satu kampus tersebut bakal menampung hingga 170.000 akselerator AI Nvidia, setara 65 persen jatah chip Nvidia untuk seluruh Korea Selatan. Chip keluarga Grace-Blackwell hingga Vera-Rubin dipasok sepanjang 2027-2028, dengan target operasi pada kuartal I 2027. Sebagaimana dikutip dari detikFinance, masa kemitraannya delapan tahun.
Model Bisnis Baru Nvidia
Menurut Sindonews, proyek ini memperlihatkan pergeseran cara Nvidia berbisnis: tidak hanya meraup pendapatan dari penjualan chip, tetapi juga dari layanan komputasi awan yang dijual ke perusahaan AI.
Baca Juga:
- Samsung Pakai Teknologi 3 nm TSMC untuk Chip AI Nvidia
- NVIDIA RTX AI PC DAY: Siapkan Mahasiswa UPH Jadi Builder AI
Mengutip dari Gokepri, fasilitas Batam mengusung konsep multi-penyewa untuk melayani perusahaan rintisan AI-native, berbeda dengan proyek Firmus di Australia yang menyasar perusahaan teknologi raksasa. Batam juga menjadi ekspansi perdana Firmus ke Indonesia karena lokasinya sangat dekat dengan Singapura.
Pandangan Pemerintah dan BP Batam
Airlangga menegaskan bahwa “kunci pengembangan pusat data terletak pada ketersediaan lahan, listrik, dan air,” sebagaimana dikutip TopBusiness. Ia menyebut investasi pusat data di Indonesia diperkirakan mencapai 15 hingga 20 miliar dolar AS, dengan kapasitas beroperasi 600-700 MW dan proyek dalam pipeline 1,3 gigawatt.
Dari sisi BP Batam, Wakil Kepala Li Claudia Chandra menyatakan, “Ini bukan sekadar investasi pusat data,” sebagaimana dilansir Demokratis, melainkan langkah strategis yang memperkuat posisi Batam dan Indonesia dalam rantai nilai ekonomi digital serta ekosistem AI dunia.
Dengan begitu, pusat data AI di Batam menjadi salah satu proyek yang paling disorot dalam perebutan chip AI global, ketika banyak negara berlomba mengamankan pasokan akselerator Nvidia.


