Telko.id – Penyedia layanan cloud asal Prancis, Scaleway, mengumumkan rencana membangun superkomputer AI di Swedia menggunakan akselerator AMD Instinct MI355X.
Pengumuman ini disampaikan dalam konferensi AI Scaleway di Paris pada 13 Oktober. Proyek tersebut diklaim akan menjadi superkomputer AI komersial berbasis AMD yang pertama di Eropa.
Infrastruktur ini nantinya dapat digunakan oleh startup, perusahaan AI, dan bisnis di kawasan Eropa. Sistem tersebut dirancang untuk memberikan alternatif terhadap infrastruktur berbasis Nvidia yang selama ini mendominasi komputasi AI.
Salah satu pembeda penting antara kedua pemain adalah ekosistem perangkat lunak. AMD mengandalkan ROCm yang bersifat open source, sedangkan CUDA milik Nvidia merupakan platform proprietary. Perbedaan ini dapat memengaruhi fleksibilitas pengembang dalam memilih perangkat keras.
Langkah Scaleway ini menjadi sinyal bahwa persaingan AI kini meluas ke infrastruktur komputasi, bukan hanya model dan aplikasi. Startup membutuhkan alternatif untuk memperoleh kapasitas komputasi dengan biaya yang sesuai, dan pilihan perangkat keras yang lebih beragam berpotensi mengurangi ketergantungan pada satu pemasok.
Baca Juga:
Peta Persaingan Infrastruktur AI Eropa
Selama beberapa tahun terakhir, Nvidia memang menguasai pasar akselerator AI global. Hampir semua penyedia cloud besar dan pengembang model AI bergantung pada chip buatan perusahaan asal Amerika Serikat itu. Dominasi tersebut tidak lepas dari ekosistem CUDA yang sudah matang dan luas digunakan.
Namun, ketergantungan pada satu pemasok menyimpan risiko tersendiri. Kelangkaan pasokan, harga yang tinggi, hingga ketidakpastian geopolitik menjadi pertimbangan bagi banyak perusahaan. Kondisi inilah yang membuka ruang bagi pemain alternatif seperti AMD untuk masuk ke pasar komputasi AI.
Pilihan AMD yang mengusung ROCm sebagai platform open source bisa menjadi daya tarik tersendiri. Pengembang yang ingin menghindari keterikatan pada satu vendor kini memiliki opsi untuk mengevaluasi perangkat keras dengan ekosistem yang lebih terbuka. Meski demikian, adopsi ROCm masih tertinggal dibanding CUDA dari sisi kematangan dan komunitas.
Langkah Scaleway membangun superkomputer di Swedia juga tidak bisa dilepaskan dari konteks kedaulatan teknologi Eropa. Kawasan tersebut tengah berupaya mengurangi ketergantungan pada infrastruktur komputasi dari luar benua. Kehadiran superkomputer komersial berbasis AMD menjadi salah satu wujud upaya itu.
Dari sisi bisnis, keberadaan alternatif perangkat keras dapat memengaruhi struktur biaya layanan AI. Selama ini, biaya komputasi menjadi salah satu komponen terbesar dalam pengembangan produk berbasis kecerdasan buatan. Jika ada lebih banyak pilihan chip, harga kapasitas komputasi berpotensi lebih kompetitif.
Pasar semikonduktor sendiri tengah menghadapi dinamika harga yang cukup signifikan. Sejumlah produsen chip dilaporkan menyesuaikan harga seiring meningkatnya permintaan global, seperti yang terlihat pada langkah Qualcomm Naikkan Harga untuk lini produknya. Tren ini memperkuat urgensi diversifikasi pemasok di mata pelaku industri.
Di sisi lain, efisiensi komputasi AI juga menjadi perhatian utama. Sejumlah pemain cloud mulai mengembangkan layanan yang lebih hemat daya, misalnya lewat pendekatan Layanan AI Token yang diklaim mampu menekan konsumsi sumber daya. Inovasi semacam ini menunjukkan bahwa persaingan tidak hanya soal performa mentah, tetapi juga efisiensi.
Implikasi bagi Ekosistem AI Indonesia
Bagi Indonesia, perkembangan infrastruktur AMD di Eropa dapat menjadi referensi bagi perusahaan yang tengah mengevaluasi alternatif perangkat keras untuk komputasi AI. Indonesia sedang mengembangkan ekosistem pusat data dan layanan AI, sehingga pilihan teknologi yang tersedia turut menentukan arah pertumbuhan sektor ini.
Namun, pilihan chip tidak hanya ditentukan harga. Kompatibilitas perangkat lunak, efisiensi energi, ketersediaan perangkat, dukungan teknis, dan biaya operasional juga menentukan kelayakannya. Faktor-faktor ini menjadi pertimbangan penting bagi operator maupun perusahaan yang ingin membangun kapasitas komputasi sendiri.
Sejumlah operator di Tanah Air sudah mulai menjajaki kemitraan untuk memperkuat infrastruktur AI. Langkah Indosat dan NVIDIA misalnya, menunjukkan bahwa kolaborasi lintas pemain menjadi salah satu jalur yang ditempuh untuk mempercepat adopsi teknologi ini.
Di sisi lain, kehadiran lebih banyak opsi perangkat keras juga berdampak pada lanskap keamanan siber. Seiring meningkatnya kapasitas komputasi, ancaman berbasis AI seperti Deepfake Realtime menjadi semakin sulit dideteksi. Hal ini menuntut kesiapan ekosistem dari hulu ke hilir, bukan hanya dari sisi penyedia infrastruktur.
Yang jelas, langkah Scaleway menambah daftar panjang inisiatif infrastruktur AI di berbagai kawasan. Persaingan antara AMD dan Nvidia di segmen ini akan menentukan bagaimana kapasitas komputasi AI terdistribusi secara global, termasuk dampaknya bagi negara-negara yang sedang membangun ekosistem digitalnya seperti Indonesia.

