Telko.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (BEI: GOTO) kembali mencatatkan laba bersih pada kuartal II-2026.
Ini menandai dua kuartal berturut-turut emiten teknologi ini berhasil membukukan profitabilitas positif setelah sebelumnya meraih laba bersih pada kuartal I-2026.
Pada periode April hingga Juni 2026, GoTo membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar. Angka ini melanjutkan tren positif setelah pada kuartal sebelumnya perseroan mencatat laba bersih Rp171 miliar.
Pertumbuhan bisnis pun mengalami akselerasi signifikan. GTV inti melonjak 83% year-on-year (YoY) menjadi Rp164 triliun, sementara pendapatan bersih meningkat 31% YoY menjadi Rp5,7 triliun.
Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, mengatakan pencapaian ini menunjukkan kekuatan fundamental bisnis perseroan.
“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya,” ujar Hans dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).
Ia menambahkan, bisnis Fintech (GoPay) kini menjadi motor utama profitabilitas. “Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” jelasnya.
Baca Juga:
Kinerja Keuangan yang Solid
Secara rinci, pendapatan bersih GoTo naik 31% YoY menjadi Rp5,7 triliun. EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat 137% YoY, melampaui Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya.
Pengguna bertransaksi tahunan (ATUs) tumbuh 19% YoY menjadi 71 juta. Sementara GTV inti tumbuh 83% YoY menjadi Rp164 triliun.
Perseroan juga mengumumkan rencana untuk membatalkan lebih dari 32 miliar saham tresuri atau setara dengan kurang lebih 2,7% dari total saham beredar.
Langkah ini akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar setelah persiapan selesai.
Dampak Aturan Komisi Baru GoRide
Pada 1 Juli 2026, struktur komisi baru mulai diberlakukan sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Aturan ini mematok komisi aplikasi maksimal 8% untuk layanan transportasi roda dua Gojek. Bisnis transportasi roda dua menyumbang sekitar 7% dari pendapatan bersih Grup.
“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya. Karena itu, kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun,” tegas Hans.
Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil. Perseroan memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar.
Sejalan dengan itu, perseroan merevisi pedoman kinerja. Pedoman kinerja Fintech ditingkatkan menjadi Rp1,7-1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4-1,5 triliun.
Sementara pedoman kinerja On-demand Services diturunkan menjadi Rp1,4-1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7-1,8 triliun.
Kinerja Bisnis On-demand Services (Gojek)
Segmen On-demand Services mencatat EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp464 miliar, meningkat 41% YoY. Pendapatan bersih segmen ini mencapai Rp3,6 triliun. Jumlah pesanan yang sudah selesai tumbuh sebesar 3% YoY dan 8% QoQ, sementara GTV naik lebih lambat sebesar 2% YoY menjadi Rp16,7 triliun.
Kinerja di segmen Delivery tetap kuat dengan peningkatan margin menjadi 2,1% dari 1,8% di tahun sebelumnya. Sementara itu di segmen Mobility, margin meningkat menjadi 5,0% dari 3,0% di tahun sebelumnya.
Pelanggan affluent menjadi pendorong utama kinerja, didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dengan tingkat pengeluaran sangat tinggi sebesar 21% dibanding tahun lalu.
Kinerja Bisnis Fintech (GoPay)
Segmen Fintech mencatatkan kinerja gemilang. EBITDA yang disesuaikan naik 447% YoY, mencapai Rp481 miliar. Pendapatan bersih naik 53% YoY menjadi lebih dari Rp2,0 triliun. Jumlah Pengguna yang Bertransaksi Bulanan (MTU) mencapai 28,8 juta, naik 29% dibandingkan tahun lalu.
Jumlah transaksi tumbuh 91% dibandingkan tahun lalu menjadi 2,4 miliar, menunjukkan pengguna semakin aktif. GTV inti, di luar transaksi merchant payment gateway, naik 91% dibandingkan tahun lalu menjadi Rp157 triliun. Nilai buku pinjaman tumbuh 58% dibandingkan tahun lalu, menjadi Rp11 triliun, dengan kualitas pinjaman tetap terjaga.
“Seiring dengan berkembangnya ekosistem, kami terus berinvestasi untuk mendukung pelanggan kami, termasuk mendukung Mitra Driver Gojek, di antaranya melalui perluasan Program Apresiasi Mitra, mulai dari BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, Beasiswa, hingga Umrah gratis,” tutup Hans.
Pencapaian ini sejalan dengan tren positif di industri teknologi Indonesia. Sebelumnya, Indosat juga membukukan pendapatan yang solid, sementara Telkom menyiapkan strategi untuk menghadapi tantangan bisnis ke depan.


