spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

ARTIKEL TERKAIT

Diblokir Pemerintah China, Meta Gagal Akuisisi Startup AI Manus

Telko.id – Ambisi Meta Platforms untuk memperkuat posisinya di bidang kecerdasan buatan mengalami hambatan besar setelah pemerintah China memblokir akuisisi startup AI Manus AI senilai sekitar US$ 2 miliar.

Keputusan ini diambil oleh regulator China yang menilai transaksi tersebut tidak sesuai dengan aturan investasi asing di sektor teknologi strategis.

Meta mengumumkan akuisisi Manus pada Desember 2025. Namun, Komisi Pengembangan dan Reformasi Nasional China (NDRC) baru saja memerintahkan agar akuisisi tersebut dibatalkan.

Dalam sebuah pernyataan resmi, badan perencanaan ekonomi China mengatakan keputusan untuk melarang investasi asing di Manus dibuat sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, dan meminta semua pihak yang terlibat untuk membatalkan transaksi akuisisi.

Meta ingin memanfaatkan teknologi Manus untuk memperkuat pengembangan AI agent, yaitu sistem AI yang mampu menjalankan tugas kompleks secara mandiri seperti riset, coding, hingga analisis data.

Baca Juga:

Namun, meskipun Manus telah memindahkan basis operasinya ke Singapura, pemerintah China tetap menganggap perusahaan tersebut sebagai bagian dari ekosistem teknologi domestik yang perlu dilindungi.

Pemblokiran ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan teknologi antara China dan Amerika Serikat. Kedua negara sama-sama memperketat aturan terkait investasi dan transfer teknologi, terutama di bidang AI yang kini dianggap sebagai sektor strategis.

China sendiri berupaya mencegah teknologi dan talenta AI lokal berpindah ke perusahaan asing, sementara AS juga membatasi investasi ke perusahaan AI China.

Kasus ini juga menyoroti praktik yang dikenal sebagai “Singapore-washing”, di mana perusahaan asal China memindahkan kantor pusat ke negara lain untuk menghindari regulasi ketat dan menghindari perhatian dari pemerintah China dan AS.

Namun langkah tersebut ternyata tidak sepenuhnya efektif, karena regulator China tetap bisa melakukan intervensi jika teknologi atau sumber daya manusia perusahaan dianggap berasal dari dalam negeri.

Mengutip dari CNBC, Rabu (29/4/2026), Manus sendiri didirikan di China sebelum pindah ke Singapura. Startup ini mengembangkan agen AI yang dapat menyelesaikan tugas rumit seperti riset pasar, coding, dan analisis data.

Ketika Meta mengakuisisi Manus tahun lalu, perusahaan besutan Mark Zuckerberg ini mengatakan upaya ini merupakan bagian dari langkahnya untuk mempercepat inovasi AI untuk bisnis dan mengintegrasikan otomatisasi di produknya, termasuk Meta AI.

Namun pada bulan Januari, Kementerian Perdagangan China mengatakan keputusan untuk mereka akan menyelidiki apakah akuisisi tersebut sudah sesuai dengan undang-undang dan regulasi terkait kontrol ekspor, ekspor dan impor teknologi, serta investasi luar negeri.

Ke depan, situasi seperti ini berpotensi membuat kolaborasi internasional di bidang AI menjadi lebih rumit. Perusahaan teknologi kemungkinan harus lebih berhati-hati dalam melakukan akuisisi atau investasi, terutama jika melibatkan teknologi yang dianggap sensitif oleh pemerintah suatu negara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

ARTIKEL TERBARU