Telko.id – Hayomoto Photography Community merayakan perjalanan sembilan tahunnya melalui Hayomoto 9th Anniversary 2026 yang berlangsung pada 6–8 November 2026 di Roemah Umara Veteran, Jakarta Selatan.
Perayaan tiga hari ini dirancang bukan sekadar ruang berkumpul komunitas fotografi, tetapi juga menjadi titik temu antara fotografer, videografer, content creator, profesional kreatif, brand, pelaku usaha, komunitas, institusi, hingga media.
Rangkaian acara terdiri dari Photography Talks & Opening Ceremony pada hari pertama, Hayomoto Community Gathering dan workshops pada hari kedua, serta Shutterace 2026 sebagai puncak rangkaian pada hari ketiga.
Sepanjang acara juga berlangsung Hayomoto Market – Pasar Kamera Hayomoto yang membuka ruang bagi brand fotografi, produk nonfotografi, pelaku kreatif, dan UMKM.
Tahun ini, perayaan Hayomoto didukung BNI sebagai Main Sponsor, Roemah Umara sebagai venue dan collaboration partner, dukungan dari ekosistem ekonomi kreatif, berbagai brand dan pelaku usaha, serta National Geographic Indonesia sebagai Media Partner. Semangat “From Image to Impact” menjadi benang merah seluruh rangkaian anniversary tahun ini.
Dari Profesi Fotografer Menuju Ruang untuk Tumbuh Bersama
Perjalanan Hayomoto tidak terlepas dari sosok Martha Suherman, professional photographer sekaligus Founder Hayomoto. Martha mengawali karier profesionalnya sebagai freelance graphic designer saat menempuh pendidikan Graphic Design di Universitas Trisakti.
Sejak 2007, ia memfokuskan karier pada corporate dan commercial photography, kemudian berkembang mengerjakan berbagai kebutuhan portrait, beauty, lifestyle, cultural hingga underwater photography untuk perusahaan dan brand nasional maupun internasional.
Salah satu proyeknya adalah kolaborasi bersama Disney Indonesia untuk kampanye peluncuran film live-action The Little Mermaid di Indonesia melalui underwater photography.
Ia juga mengembangkan sejumlah proyek visual yang mengangkat keberagaman budaya Indonesia. Selain menjalani profesi fotografer, Martha aktif berbagi pengalaman melalui kelas, workshop, mentorship, serta keterlibatannya sebagai speaker dan juri di berbagai kegiatan fotografi.
“Buat saya, memilih fotografi sebagai profesi bukan hanya tentang menghasilkan gambar yang bagus. Fotografi memberi saya kesempatan untuk terus belajar, bertemu begitu banyak orang, masuk ke berbagai industri, dan melihat banyak cerita yang mungkin tidak akan saya temui kalau saya berada di bidang lain. Kamera akhirnya menjadi alat untuk saya berkomunikasi, bekerja, sekaligus terus memperluas cara saya melihat dunia,” ujar Martha Suherman, Founder Hayomoto & Professional Photographer.
Semangat belajar dan berbagi tersebut menjadi salah satu fondasi Hayomoto. Sebagai komunitas yang bersifat brand-neutral, Hayomoto sejak awal dibangun untuk tidak membatasi anggotanya berdasarkan merek kamera, genre fotografi, wilayah, profesi, usia, maupun tingkat pengalaman.
Komunitas ini mempertemukan fotografer profesional, penghobi, videografer, content creator, mahasiswa, pekerja, entrepreneur, akademisi, dan berbagai latar belakang lainnya.
Berbeda dari banyak komunitas fotografi yang secara alami terbentuk berdasarkan kesamaan wilayah, penggunaan brand tertentu, atau ketertarikan pada genre tertentu, Hayomoto memilih pendekatan yang lebih terbuka.
Keberagaman tersebut memungkinkan seorang fotografer street bertemu dengan fotografer portrait, pengguna kamera dari brand yang berbeda saling berbagi pengalaman, hingga anggota dari berbagai daerah dan profesi membangun jejaring dalam satu komunitas.
Baca Juga:
“Sejak awal saya ingin Hayomoto menjadi rumah yang cukup luas untuk banyak orang. Di dunia fotografi ada komunitas yang tumbuh karena berada di wilayah yang sama, menggunakan brand yang sama, atau menyukai genre yang sama, dan semuanya punya kekuatan masing-masing. Hayomoto memilih untuk mempertemukan semuanya. Kami tidak ingin teman-teman merasa harus memakai kamera tertentu, tinggal di kota tertentu, atau hanya menyukai satu genre untuk bisa menjadi bagian dari komunitas ini,” jelas Martha.
Menurut Martha, keberagaman tersebut justru menjadi salah satu sumber pembelajaran di dalam Hayomoto. “Ketika fotografer dengan genre, brand, profesi, usia, dan pengalaman yang berbeda bertemu, percakapannya menjadi jauh lebih luas. Orang bisa mendapatkan perspektif yang mungkin tidak ditemukan kalau hanya berada di lingkaran yang sama terus-menerus. Buat saya, kekuatan Hayomoto ada di situ: bukan membuat semua orang menjadi sama, tetapi menyediakan ruang supaya perbedaan itu bisa saling memperkaya,” tambahnya.
Saat ini Hayomoto memiliki lebih dari 600 active members dan lebih dari 19,4 ribu pengikut di Instagram, dengan jaringan anggota yang tidak hanya tersebar di berbagai wilayah Indonesia, tetapi juga telah menjangkau komunitas di luar negeri, termasuk Jepang, Austria, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Jangkauan lintas negara ini memperlihatkan bahwa pendekatan terbuka yang diusung komunitas mampu menarik minat fotografer dari berbagai latar belakang.
Shutterace Kembali untuk Tahun Kedua
Salah satu program utama dalam anniversary tahun ini adalah Shutterace 2026, on-the-spot photography challenge yang memasuki tahun kedua penyelenggaraannya. Shutterace mengajak peserta untuk merespons sebuah situasi atau tema secara langsung dan menerjemahkannya menjadi karya visual dalam waktu terbatas.
Pada tahun ini, peserta akan menghadapi 9 challenges di 8 lokasi, sebelum melanjutkan ke proses editing, submission, judging, dan pengumuman pemenang.
Namun bagi Hayomoto, Shutterace tidak semata-mata dirancang untuk mencari gambar terbaik. Challenge tersebut juga menjadi cara untuk melatih fotografer agar lebih peka terhadap manusia, lingkungan, ruang, dan berbagai peristiwa di sekitarnya. Pendekatan ini sejalan dengan semangat “From Image to Impact” yang diusung pada perayaan tahun kesembilan.
“Hayomoto sejak awal tidak dibentuk sebagai komunitas yang hanya berkumpul karena memakai kamera yang sama. Saya ingin orang dengan brand, profesi, usia, genre, dan pengalaman yang berbeda bisa saling belajar dan membuka perspektif satu sama lain. Shutterace kami hadirkan kembali karena kami ingin teman-teman fotografer tidak hanya berlomba membuat foto yang indah, tetapi juga belajar melihat lebih dalam. Kalau sebuah foto bisa membuat orang berhenti, melihat, berpikir, lalu mulai peduli, di situlah fotografi mulai punya impact,” tutur Martha.
Format on-the-spot challenge seperti Shutterace menuntut peserta mengambil keputusan kreatif secara cepat di lapangan. Dalam konteks industri kreatif, kemampuan merespons situasi secara langsung menjadi salah satu keterampilan yang kian relevan, terutama ketika content creator dituntut menghasilkan karya visual secara sigap di berbagai kondisi. Ekosistem perangkat yang terus berkembang, seperti yang tampak pada kamera 200MP, turut memberi ruang bagi fotografer untuk mengeksplorasi kemampuan teknis di lapangan.
Perayaan sembilan tahun Hayomoto juga menjadi cermin bagaimana komunitas fotografi di Indonesia bergerak melampaui batas genre dan merek. Dukungan dari ekosistem ekonomi kreatif, termasuk keterlibatan brand dan pelaku usaha, memperlihatkan bahwa kolaborasi lintas industri kreatif menjadi salah satu kunci keberlanjutan komunitas.
Sejumlah inisiatif berbasis komunitas lain, seperti aksi penyu-lamat, menunjukkan pola serupa ketika komunitas dan institusi bergerak bersama untuk tujuan yang lebih luas.
Dalam konteks yang lebih luas, industri fotografi terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, mulai dari perangkat hingga model bisnis baru. Bahkan wacana pemanfaatan teknologi finansial untuk fotografer, seperti yang pernah muncul lewat KodakCoin, memperlihatkan bahwa profesi ini terus mencari cara baru untuk tumbuh. Hayomoto memilih jalur berbeda: memperkuat komunitas, membuka ruang belajar, dan merawat kolaborasi lintas latar belakang.
Dengan rangkaian Photography Talks, workshop, community gathering, Hayomoto Market, hingga Shutterace 2026, Hayomoto 9th Anniversary 2026 menempatkan perayaan sebagai titik temu antara perjalanan sembilan tahun dan arah komunitas ke depan.


