spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 26

Penjualan Ray-Ban Meta Naik 3 Kali Lipat di 2025

Telko.id – Penjualan kacamata pintar Ray‑Ban Meta menorehkan penampilan signifikan pada tahun 2025, tumbuh hingga tiga kali lipat dibandingkan total penjualan pada periode sebelumnya sejak debutnya.

Data yang dirilis oleh EssilorLuxottica , mitra produksi Meta dalam lini kacamata pintar, mencatat bahwa lebih dari 7 juta unit kacamata pintar berhasil terjual sepanjang tahun lalu, angka yang jauh melampaui sekitar 2 juta unit yang dicapai dalam rentang 2023–2024.

EssilorLuxottica sendiri merupakan konglomerat kacamata asal Prancis-Italia yang telah bekerja sama dengan Meta sejak peluncuran kacamata pintar Ray-Ban Stories generasi pertama pada 2021.

Dalam laporannya, EssilorLuxottica menyebut penjualan kacamata pintar Meta sepanjang 2025 meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan laporan sebelumnya. Adapun lonjakan penjualan tersebut tidak lepas dari ambisi Meta dan EssilorLuxottica dalam merilis berbagai model kacamata pintar sepanjang 2025.

Selain menghadirkan pembaruan perangkat keras untuk kacamata Ray-Ban Meta, kedua perusahaan itu juga memperluas portofolio produknya lewat peluncuran Oakley Meta HSTN dan Oakley Meta Vanguard.

Tak hanya itu, Meta dan EssilorLuxottica juga memperkenalkan perangkat kacamata pintar lain, yaitu Meta Ray-Ban Display yang dipasarkan seharga US$800 (atau sekitar Rp 13,4 jutaan).

Fenomena ini menunjukkan bahwa kacamata pintar kini tidak lagi menjadi gadget eksperimental belaka, tetapi mulai menarik perhatian konsumen luas.

Kolaborasi Meta dengan EssilorLuxottica, yang menghasilkan berbagai versi Ray-Ban Meta dari generasi awal hingga model dengan fitur canggih seperti head-up display , telah memperluas daya tarik produk ini di segmen teknologi wearable.

Secara teknis, kacamata pintar ini menggabungkan sejumlah kemampuan seperti kamera untuk foto/video, konektivitas nirkabel, pemrosesan kecerdasan buatan ringan, serta pada versi terbaru, tampilan digital di bidang pandang pengguna yang memungkinkan notifikasi, petunjuk arah, dan informasi lain muncul di lensa kaca secara real-time.

Baca juga:

Mengingat perangkat ini masih jauh berbeda dari kacamata AR/VR penuh, keberhasilannya lebih banyak dipicu oleh kombinasi antara gaya Ray-Ban yang populer dan fungsi teknologi yang mulai terasa relevan bagi pengguna sehari-hari.

Peningkatan penjualan ini juga mencerminkan perubahan selera konsumen terhadap perangkat wearable : dari sekadar tren futuristik ke arah fungsi yang terasa berguna dalam kehidupan nyata —seperti perekaman cepat, bantuan AI ringan, dan integrasi sosial/komunikasi—yang membuat kacamata pintar semakin dicari. Produk seperti Ray-Ban Meta berhasil menarik pembeli karena tampil sebagai wearable yang “lebih dekat dengan kacamata sehari-hari” dibandingkan headset berat.

Meski begitu, tantangan masih ada. Kacamata pintar umumnya masih berharga premium, dan alasan teknis seperti durasi baterai, kenyamanan desain, serta kekhawatiran tentang privasi menjadi hambatan bagi adopsi massal.

Namun tiga kali lipatnya angka penjualan membuktikan bahwa pasar wearable AR/AI sudah bergerak dari niche ke arah mainstream —membuka peluang kompetisi teknologi yang lebih luas, termasuk dari Google, Samsung, dan Apple di masa mendatang.

Bocoran Vivo V70 FE Terungkap, Bawa Kamera 200MP dan Desain Elegan

0

Telko.id – Vivo dilaporkan tengah mempersiapkan amunisi terbaru untuk pasar ponsel pintar global melalui model Vivo V70 FE. Bocoran mengenai desain dan spesifikasi perangkat ini mulai mencuat ke permukaan, memberikan gambaran awal bagi para penggemar teknologi mengenai arah pengembangan seri V milik produsen asal Tiongkok tersebut. Fokus utama yang menjadi perbincangan hangat adalah kehadiran sensor kamera belakang yang dikabarkan mencapai resolusi 200MP, sebuah lompatan signifikan bagi lini produk kelas menengah atas.

Munculnya informasi mengenai Vivo V70 FE ini menandakan langkah agresif perusahaan dalam memperkuat portofolio produknya di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Kabar ini pertama kali menyebar melalui platform komunitas dan laporan rantai pasokan yang mengindikasikan adanya pembaruan besar dari sisi visual maupun kemampuan teknis. Meskipun belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen, detail yang bocor memberikan indikasi kuat bahwa Vivo ingin memberikan standar baru pada aspek fotografi seluler di kelasnya.

Kamera 200MP yang disematkan pada bodi belakang menjadi sorotan utama karena teknologi ini biasanya hanya ditemukan pada perangkat flagship atau seri khusus yang mengedepankan kemampuan optik. Jika bocoran ini akurat, Vivo V70 FE akan menjadi pesaing serius bagi perangkat lain yang juga mulai mengadopsi resolusi tinggi. Kehadiran sensor besar ini diharapkan mampu memberikan detail gambar yang lebih tajam, kemampuan zoom digital yang lebih baik, serta performa mumpuni dalam kondisi minim cahaya, yang selama ini menjadi fokus pengembangan riset internal mereka.

Selain sektor kamera, aspek estetika juga mendapatkan perhatian besar dalam laporan bocoran tersebut. Desain Vivo V70 FE disebut-sebut akan mengusung bahasa visual yang lebih segar dibandingkan pendahulunya. Penggunaan material premium dan modul kamera yang dirancang secara ergonomis diprediksi menjadi daya tarik utama bagi konsumen yang memprioritaskan penampilan perangkat. Langkah ini sejalan dengan strategi Vivo yang konsisten meluncurkan produk dengan desain tipis dan elegan, seperti yang terlihat pada peluncuran Vivo S50 beberapa waktu lalu.

Kehadiran Vivo V70 FE di pasar nantinya tentu akan berhadapan langsung dengan kompetitor yang sudah lebih dulu memperkenalkan teknologi serupa. Sebagai contoh, pasar saat ini sudah diramaikan oleh kehadiran REDMI Note 15 yang juga mengedepankan resolusi kamera tinggi sebagai nilai jual utama. Persaingan ini memaksa para produsen untuk tidak hanya fokus pada angka megapiksel, tetapi juga pada pengolahan citra dan kecerdasan buatan yang mampu memaksimalkan hasil tangkapan sensor tersebut.

Strategi Pasar dan Inovasi Teknologi Vivo

Langkah Vivo menyematkan embel-embel “FE” pada model terbarunya ini memicu spekulasi mengenai target pasar yang ingin disasar. Dalam industri smartphone, kode tersebut sering kali dikaitkan dengan edisi yang merangkum fitur-fitur favorit pengguna namun dengan penyesuaian harga yang lebih kompetitif. Strategi ini sangat krusial mengingat kondisi pasar global yang cukup dinamis. Berdasarkan data dari lembaga riset, angka Pengiriman Smartphone sempat mengalami fluktuasi yang menuntut brand untuk lebih kreatif dalam menyajikan nilai tambah bagi konsumen.

Inovasi pada sektor kamera belakang 200MP bukan sekadar tren, melainkan respons terhadap kebutuhan konten kreator yang semakin meningkat. Vivo menyadari bahwa kualitas visual menjadi faktor penentu bagi pengguna dalam memilih perangkat baru. Selain itu, integrasi desain yang bocor menunjukkan bahwa perusahaan tetap mempertahankan ciri khasnya dalam menciptakan perangkat yang nyaman digenggam namun tetap terlihat mewah. Hal ini sangat kontras dengan beberapa konsep eksperimental lain di industri, seperti Samsung Galaxy yang mulai mengeksplorasi bentuk layar lipat tiga.

Persaingan di segmen ini juga dipengaruhi oleh bagaimana produsen lain mengemas fitur unggulan mereka. Misalnya, kompetitor terdekat seperti OPPO Reno15 memilih untuk memperkuat sektor kamera depan dengan sudut pandang lebar. Vivo V70 FE, dengan fokus pada kamera belakang 200MP, tampaknya ingin mengambil ceruk pasar yang berbeda, yakni mereka yang lebih banyak melakukan aktivitas fotografi menggunakan kamera utama untuk hasil profesional.

Dampak Bocoran Terhadap Antusiasme Konsumen

Munculnya bocoran spesifikasi ini biasanya menjadi indikator bahwa waktu peluncuran resmi sudah semakin dekat. Bagi konsumen, informasi ini sangat berguna untuk menentukan keputusan pembelian di masa mendatang. Keberanian Vivo untuk menghadirkan sensor 200MP pada seri V70 FE menunjukkan komitmen mereka dalam mendemokratisasi teknologi tinggi agar bisa dinikmati oleh lebih banyak kalangan, tidak terbatas pada pengguna seri flagship saja.

Selain spesifikasi teknis, bocoran desain yang menunjukkan tampilan modern juga memberikan sinyal bahwa Vivo terus melakukan riset mendalam mengenai preferensi gaya hidup penggunanya. Penggunaan modul kamera yang menonjol namun tetap estetis sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi desainer industri, dan Vivo V70 FE tampaknya berhasil menemukan keseimbangan tersebut. Detail-detail kecil seperti penempatan tombol dan tekstur bodi belakang juga menjadi poin yang banyak dibahas dalam forum-forum teknologi.

Ke depannya, industri akan memantau bagaimana implementasi nyata dari sensor 200MP ini pada Vivo V70 FE. Tantangan utama bagi Vivo adalah memastikan bahwa perangkat lunak mereka mampu mengimbangi perangkat keras yang sangat bertenaga tersebut. Optimalisasi algoritma pemrosesan gambar akan menjadi kunci apakah resolusi tinggi ini benar-benar memberikan perbedaan kualitas yang signifikan atau sekadar angka di atas kertas. Dengan rekam jejak Vivo yang kuat dalam inovasi kamera, ekspektasi publik terhadap perangkat ini tetap berada pada level yang tinggi.

Secara keseluruhan, bocoran mengenai Vivo V70 FE memberikan angin segar bagi pasar smartphone yang terus berkembang. Kombinasi antara kamera resolusi tinggi dan desain yang diperbarui menempatkan perangkat ini sebagai salah satu produk yang paling dinantikan kehadirannya. Meskipun rincian lebih lanjut mengenai harga dan ketersediaan di pasar Indonesia masih harus menunggu konfirmasi resmi, data awal ini sudah cukup untuk memposisikan Vivo V70 FE sebagai pemain kuat di kategorinya.

Google Pixel 11 Siapkan Fitur Face Unlock Canggih Setara iPhone

0

Telko.id – Google dikabarkan tengah mengembangkan teknologi pengenalan wajah terbaru yang akan disematkan pada seri Google Pixel 11. Raksasa teknologi asal Mountain View ini berambisi menghadirkan sistem keamanan biometrik yang mampu menyaingi keandalan Face ID milik Apple.

Langkah ini menandai upaya serius Google untuk meningkatkan standar keamanan serta kenyamanan pengguna dalam ekosistem Android yang selama ini sering tertinggal dalam aspek pemindaian wajah 3D dibandingkan kompetitor utamanya.

Berdasarkan informasi yang beredar, teknologi ini tidak hanya sekadar pembaruan perangkat lunak, melainkan melibatkan integrasi perangkat keras yang signifikan.

Google dilaporkan sedang bereksperimen dengan kamera inframerah di bawah layar (under-display infrared camera) yang memungkinkan pemindaian wajah tetap akurat tanpa memerlukan “poni” atau notch lebar seperti pada generasi iPhone lama. Jika terealisasi, ini akan menjadi lompatan besar bagi lini ponsel Pixel di masa depan.

Sistem ini dirancang untuk bekerja secara sinergis dengan chipset kustom Google generasi mendatang, yang kemungkinan besar adalah Tensor G6.

Prosesor sinyal gambar (ISP) pada chipset tersebut akan memegang peranan vital dalam mengolah data biometrik, memastikan proses pembukaan kunci layar berjalan instan namun tetap aman untuk autentikasi pembayaran digital.

Fokus Google pada sektor ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi biometrik antara Android dan iOS akan semakin ketat pada tahun 2026 mendatang.

Teknologi Inframerah di Bawah Layar

Kunci utama dari terobosan yang disiapkan untuk Pixel 11 terletak pada penempatan sensor. Google berencana memindahkan komponen kamera inframerah ke bagian bawah panel layar.

Teknologi ini memungkinkan perangkat memiliki rasio layar-ke-bodi yang lebih luas tanpa mengorbankan fitur keamanan tingkat tinggi.

Berbeda dengan sistem berbasis kamera depan biasa yang hanya mengandalkan pencocokan gambar 2D, sistem inframerah mampu memetakan kontur wajah secara tiga dimensi, sehingga jauh lebih sulit untuk dikelabui menggunakan foto atau topeng.

Tantangan terbesar dalam pengembangan teknologi ini adalah interferensi cahaya yang disebabkan oleh lapisan layar di atas sensor. Namun, Google tampaknya telah menemukan solusi melalui pengembangan algoritma canggih pada ISP Tensor G6.

Algoritma ini bertugas membersihkan noise dan menjernihkan sinyal inframerah yang menembus layar, sehingga akurasi pembacaan wajah tetap terjaga meski dalam kondisi minim cahaya sekalipun. Hal ini mengingatkan pada inovasi hardware kamera yang terus didorong oleh berbagai vendor global.

Langkah ini juga dipandang sebagai respons Google terhadap kritik mengenai inkonsistensi fitur Face Unlock pada seri Pixel sebelumnya. Meskipun Pixel 4 sempat hadir dengan sensor radar Soli yang canggih, fitur tersebut memakan tempat yang cukup besar di bezel atas.

Sementara itu, Pixel 7 dan 8 menggunakan metode berbasis kamera yang sangat bergantung pada pencahayaan lingkungan. Dengan teknologi baru di Pixel 11, Google ingin menggabungkan keamanan setara Soli dengan estetika layar penuh yang modern.

Dukungan Tensor G6 dan Efisiensi Energi

Selain aspek keamanan, penggunaan Tensor G6 pada Pixel 11 diharapkan membawa peningkatan efisiensi energi yang signifikan saat fitur pemindaian wajah aktif. Sistem under-display camera biasanya membutuhkan daya komputasi tinggi untuk memproses gambar secara real-time agar bebas dari distorsi.

Google merancang arsitektur chip terbarunya untuk menangani beban kerja AI (Artificial Intelligence) ini dengan konsumsi daya yang lebih rendah, atau yang dikenal dengan istilah “Lite mode” pada subsistem pemrosesan gambar.

Kemampuan ini sangat krusial mengingat pengguna smartphone modern menuntut daya tahan baterai yang prima. Dengan mengoptimalkan jalur pemrosesan data biometrik, Pixel 11 tidak hanya akan membuka kunci lebih cepat tetapi juga lebih hemat daya dibandingkan pendahulunya.

Peningkatan ini juga berpotensi memperluas kegunaan Face Unlock, tidak hanya untuk membuka layar, tetapi juga untuk verifikasi aplikasi perbankan yang selama ini lebih mempercayai sensor sidik jari.

Inovasi ini menempatkan Google pada posisi strategis untuk menarik pengguna yang memprioritaskan privasi dan keamanan data.

Jika Google berhasil mengeksekusi rencana ini dengan mulus, Pixel 11 bisa menjadi standar baru bagi ponsel Android premium, bahkan berpotensi mengganggu dominasi bocoran iPhone yang selama ini memegang predikat emas dalam keamanan biometrik wajah.

Pengembangan Pixel 11 masih berada dalam tahap awal, dan peluncurannya diprediksi baru akan terjadi pada tahun 2026. Namun, bocoran mengenai fokus Google pada teknologi under-display inframerah memberikan gambaran jelas mengenai arah masa depan perangkat keras mereka.

Integrasi antara hardware kamera canggih dan kecerdasan buatan Tensor G6 akan menjadi senjata utama Google dalam merebut pangsa pasar premium global.

Xiaomi 17 Ultra Siap Rilis Global dengan Nama Baru, Ini Bocorannya

0

Telko.id – Xiaomi tampaknya semakin dekat untuk membawa perangkat flagship terbarunya ke panggung internasional. Ponsel yang selama ini dikenal sebagai Xiaomi 17 Ultra Leica Edition di pasar domestik China, dilaporkan akan segera meluncur ke pasar global dengan identitas yang sedikit berbeda.

Langkah ini menandai babak baru bagi lini premium Xiaomi yang mengedepankan kemampuan fotografi.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa raksasa teknologi asal China tersebut berencana melakukan penyesuaian nama untuk audiens di luar negara asalnya.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai nama final yang akan digunakan, strategi rebranding semacam ini kerap dilakukan untuk menyederhanakan pemasaran dan memperkuat daya ingat konsumen global terhadap produk unggulan mereka.

Kabar mengenai peluncuran internasional ini semakin kuat dengan munculnya berbagai jejak digital di lembaga sertifikasi. Sebelumnya, perangkat ini telah terpantau mendapatkan Sertifikasi NBTC, yang menjadi indikator kuat bahwa distribusi ke wilayah Asia Tenggara dan pasar global lainnya sedang dipersiapkan secara matang.

Kehadiran sertifikasi ini memastikan bahwa perangkat telah memenuhi standar telekomunikasi yang diperlukan untuk beroperasi di berbagai negara.

Selain perubahan nama, spesifikasi teknis dari perangkat ini tetap menjadi sorotan utama. Xiaomi 17 Ultra diprediksi akan membawa standar baru dalam fotografi seluler. Berdasarkan bocoran yang beredar, ponsel ini akan dilengkapi dengan Kamera 200MP serta teknologi zoom mutakhir, hasil kolaborasi mendalam dengan pabrikan kamera legendaris, Leica.

Fitur ini diharapkan mampu memberikan pengalaman fotografi tingkat profesional dalam genggaman tangan.

Kesiapan perangkat ini untuk pasar Amerika dan Eropa juga telah terkonfirmasi melalui dokumen regulasi. Federal Communications Commission (FCC) baru-baru ini telah meloloskan Versi Global dari smartphone ini, yang menjamin kompatibilitas jaringan dan keamanan perangkat.

Validasi dari berbagai lembaga internasional ini menegaskan bahwa Xiaomi 17 Ultra siap bersaing dengan kompetitor kelas atas lainnya di pasar global.

Meskipun nama resminya mungkin berubah saat mendarat di toko-toko internasional, esensi dari perangkat ini sebagai “camera phone” premium tidak akan berkurang. Konsumen kini menantikan pengumuman resmi terkait tanggal peluncuran dan harga ritel yang akan ditawarkan, seiring dengan semakin banyaknya sertifikasi yang dikantongi oleh Xiaomi untuk perangkat andalannya ini.

Google Hadirkan Dukungan AirDrop di Quick Share Seri Pixel 9

0

Telko.id – Google secara mengejutkan mulai menggulirkan pembaruan signifikan yang memungkinkan integrasi dukungan AirDrop ke dalam fitur Quick Share, yang secara khusus hadir pertama kali untuk jajaran seri Pixel 9.

Langkah strategis ini menjawab keluhan lama pengguna mengenai sulitnya melakukan transfer data lintas platform secara instan tanpa bantuan aplikasi pihak ketiga, sekaligus menandai era baru konektivitas antara ekosistem Android dan iOS yang selama ini terpisah.

Pembaruan ini memungkinkan perangkat Google Pixel 9 untuk mendeteksi dan mengirim file secara langsung ke perangkat Apple yang mengaktifkan fitur penerimaan AirDrop.

Terobosan ini memanfaatkan protokol komunikasi nirkabel yang dioptimalkan, sehingga pengguna tidak perlu lagi bergantung pada metode konvensional seperti pengiriman via email atau aplikasi pesan instan yang sering kali menurunkan kualitas media. Inisiatif ini sejalan dengan visi Google untuk menciptakan ekosistem yang lebih terbuka dan inklusif bagi semua pengguna teknologi seluler.

Kehadiran fitur ini pada seri Pixel 9 menegaskan posisi Google yang semakin agresif dalam memimpin inovasi perangkat lunak. Sebelumnya, pengguna Android sering kali merasa terisolasi ketika berada di lingkungan yang didominasi pengguna iPhone, terutama dalam hal berbagi dokumen atau foto beresolusi tinggi.

Dengan adanya pembaruan pada integrasi sistem berbagi file ini, batasan tersebut perlahan mulai runtuh, memberikan fleksibilitas yang jauh lebih tinggi bagi konsumen.

Evolusi Quick Share dan Interoperabilitas

Sejarah berbagi file di Android telah mengalami perjalanan panjang sebelum mencapai titik ini. Awalnya, Google mengandalkan Android Beam yang berbasis NFC, kemudian beralih ke Nearby Share, dan akhirnya melakukan rebranding serta penyatuan teknologi dengan Samsung menjadi Quick Share.

Transformasi ini bertujuan untuk menyederhanakan pengalaman pengguna yang sebelumnya terfragmentasi antar merek ponsel Android. Kini, dengan masuknya dukungan protokol yang kompatibel dengan AirDrop, Quick Share bertransformasi menjadi alat transfer universal yang sangat kuat.

Mekanisme kerja fitur baru di Pixel 9 ini kemungkinan besar melibatkan penggunaan kombinasi Bluetooth Low Energy (BLE) untuk penemuan perangkat dan Wi-Fi Direct untuk transfer data berkecepatan tinggi.

Hal ini memastikan bahwa kecepatan pengiriman file tetap optimal meskipun terjadi antar sistem operasi yang berbeda. Bagi pengguna yang terbiasa dengan ekosistem tertutup, kemudahan ini menawarkan pengalaman transfer iPhone yang mulus tanpa perlu proses pairing yang rumit atau pengaturan jaringan yang membingungkan.

Penting untuk dicatat bahwa implementasi ini tidak hanya sekadar penambahan fitur kosmetik. Google tampaknya telah bekerja keras untuk memastikan keamanan dan privasi data tetap terjaga selama proses transfer lintas platform.

Protokol enkripsi yang digunakan dalam Quick Share ditingkatkan untuk menyesuaikan standar keamanan yang diterapkan oleh Apple pada AirDrop, sehingga pengguna tidak perlu khawatir mengenai potensi kebocoran data saat bertukar file di tempat umum.

Bagi pengguna yang baru beralih ke seri Pixel 9, fitur ini akan muncul secara otomatis dalam menu berbagi standar Android. Antarmuka pengguna telah dirancang ulang agar ikon perangkat penerima, baik itu sesama Android maupun perangkat iOS, muncul dalam satu daftar yang mudah diakses.

Kemudahan ini mirip dengan tips transfer yang biasa ditemukan pada perangkat Samsung, namun dengan cakupan kompatibilitas yang jauh lebih luas.

Dampak bagi Ekosistem Smartphone Global

Langkah Google untuk membuka gerbang komunikasi dengan AirDrop melalui Pixel 9 dapat memicu tren baru di industri smartphone global. Selama bertahun-tahun, eksklusivitas fitur seperti AirDrop dan iMessage menjadi faktor pengunci (lock-in) utama yang membuat pengguna enggan beralih dari iOS ke Android.

Dengan menghilangkan salah satu hambatan terbesar ini, Google secara efektif menurunkan barikade tersebut, membuat seri Pixel menjadi opsi yang jauh lebih menarik bagi pengguna yang hidup dalam lingkungan perangkat campuran (mixed-device households).

Selain itu, fitur ini juga meningkatkan produktivitas bagi para profesional yang sering bekerja menggunakan berbagai jenis perangkat. Fotografer, videografer, dan konten kreator yang sering memindahkan file besar antara tablet, laptop, dan ponsel kini dapat bekerja lebih efisien.

Tidak adanya kompresi file yang biasanya terjadi saat mengirim via WhatsApp atau Telegram menjadi nilai tambah utama. Pengguna juga disarankan untuk memahami cara berbagi aman guna memaksimalkan fitur ini tanpa mengorbankan privasi.

Meski saat ini baru tersedia secara eksklusif untuk seri Pixel 9, besar kemungkinan teknologi ini akan diadopsi oleh OEM Android lainnya di masa depan, mengingat basis kode Quick Share yang kini menjadi standar Android.

Jika hal ini terjadi, maka fragmentasi fitur berbagi file yang selama satu dekade terakhir menjadi masalah klasik di dunia teknologi seluler akan segera berakhir.

Ini juga menjadi sinyal bagi produsen chipset untuk terus meningkatkan kemampuan konektivitas nirkabel mereka, meskipun ada tantangan seperti krisis memori atau pasokan komponen yang kadang melanda industri.

Penerapan dukungan AirDrop di Quick Share pada Pixel 9 merupakan bukti nyata bahwa batasan perangkat lunak dapat diatasi demi kenyamanan pengguna. Google tidak hanya menjual perangkat keras, tetapi juga menawarkan solusi atas masalah interoperabilitas yang nyata.

Ke depannya, konsumen dapat berharap adanya pembaruan lebih lanjut yang mungkin memperluas kemampuan ini ke perangkat laptop berbasis Windows atau ChromeOS dengan tingkat kemudahan yang setara.

Apple Kembangkan Kacamata Pintar dan AirPods Berkamera, Tantang Meta?

0

Telko.id – Raksasa teknologi asal Cupertino, Apple, dilaporkan tengah memperluas portofolio produknya secara agresif dengan mengembangkan serangkaian perangkat wearable baru.

Laporan terbaru mengungkap bahwa perusahaan sedang mengerjakan kacamata pintar Apple, liontin berbasis kecerdasan buatan (AI), serta AirPods yang dilengkapi dengan kamera terintegrasi.

Langkah strategis ini menandakan ambisi Apple untuk menghadirkan teknologi Visual Intelligence ke lebih banyak perangkat di luar iPhone dan headset Vision Pro.

Berdasarkan informasi dari jurnalis teknologi Mark Gurman, inisiatif ini bertujuan untuk mengejar ketertinggalan dari pesaing utamanya, Meta, yang telah sukses mencuri perhatian pasar melalui kolaborasi kacamata pintar Ray-Ban Meta.

Eksplorasi ini dilakukan setelah tim internal Apple melakukan studi mendalam mengenai potensi pasar perangkat wearable masa depan.

Perusahaan ingin memastikan bahwa ekosistem Apple Intelligence dapat diakses dengan lebih mudah dan praktis oleh pengguna tanpa harus selalu bergantung pada layar ponsel pintar.

Eksplorasi Kacamata Pintar Pesaing Ray-Ban

Fokus utama dari laporan tersebut adalah pengembangan kacamata pintar yang konsepnya mirip dengan produk Amazon Echo Frames atau Ray-Ban Meta.

Perangkat ini tidak dirancang sebagai kacamata Augmented Reality (AR) penuh seperti Vision Pro yang memiliki layar visual kompleks. Sebaliknya, kacamata ini akan berfungsi sebagai pendamping audio pintar yang dilengkapi dengan kamera dan sensor canggih.

Apple dikabarkan telah memulai inisiatif internal dengan kode nama “Project Atlas”. Dalam proyek ini, tim produk mengumpulkan umpan balik dari karyawan mengenai kacamata pintar yang sudah ada di pasaran saat ini.

Tujuannya adalah untuk memahami fitur apa yang paling disukai pengguna dan kelemahan apa yang harus diperbaiki dalam versi Apple nantinya.

Langkah ini mirip dengan strategi yang dilakukan pesaing. Misalnya, Lenovo AI Glasses yang menawarkan solusi serupa untuk produktivitas.

Apple tampaknya ingin mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati namun mematikan, memastikan produk mereka memiliki integrasi ekosistem yang jauh lebih mulus dibandingkan kompetitor.

AirPods dengan Kamera dan Liontin AI

Selain kacamata, Apple juga sedang menjajaki ide untuk menyematkan kamera pada jajaran AirPods mereka. Konsep ini memungkinkan earbud nirkabel tersebut untuk “melihat” lingkungan sekitar pengguna.

Data visual yang ditangkap kemudian akan diproses oleh AI untuk memberikan informasi kontekstual secara audio kepada pengguna.

Teknologi ini berkaitan erat dengan fitur Visual Intelligence yang baru saja diperkenalkan pada seri iPhone 16. Dengan memindahkan sensor kamera ke telinga atau wajah, pengguna bisa mendapatkan bantuan AI secara hands-free, mulai dari menerjemahkan teks di dunia nyata hingga mengidentifikasi objek di sekitar mereka.

Laporan tersebut juga menyebutkan perangkat berbentuk liontin atau klip yang tidak memiliki layar. Perangkat ini kemungkinan besar akan berfungsi sebagai asisten AI murni yang dapat dipasang di pakaian.

Konsep ini mengingatkan pada perangkat Humane AI Pin yang sempat ramai diperbincangkan. Anda bisa membaca lebih lanjut mengenai konsep serupa di artikel Wearable AI Apple yang pernah kami bahas sebelumnya.

Tantangan dan Strategi Masa Depan

Meskipun inovasi ini terdengar menjanjikan, Apple menghadapi tantangan besar dalam hal privasi dan penerimaan sosial. Menambahkan kamera pada perangkat kecil yang tidak mencolok seperti AirPods atau kacamata sering kali memicu kekhawatiran privasi bagi orang-orang di sekitar pengguna.

Namun, CEO Apple Tim Cook tampaknya optimis dengan arah perusahaan.

Dalam sebuah pernyataan terpisah, pimpinan Apple tersebut pernah menegaskan komitmen inovasi mereka. Seperti yang pernah dilaporkan, Tim Cook meyakinkan investor bahwa Apple selalu memiliki kejutan teknologi yang sedang dipersiapkan di laboratorium mereka.

Penting juga bagi pengguna untuk mengingat aspek kebersihan saat menggunakan perangkat wearable yang menempel langsung di tubuh. Mengingat perangkat seperti AirPods dan kacamata pintar akan sering digunakan di luar ruangan, menjaga kebersihannya sama pentingnya dengan merawat ponsel.

Faktanya, Ponsel Lebih Kotor dari yang kita bayangkan, dan hal yang sama bisa berlaku untuk perangkat wearable baru ini.

Hingga saat ini, belum ada jadwal rilis resmi untuk ketiga perangkat tersebut. Namun, dengan intensitas riset yang dilakukan Apple, pasar teknologi global dapat mengharapkan kehadiran salah satu dari inovasi ini dalam beberapa tahun mendatang, kemungkinan besar dimulai pada tahun 2027. (Icha)

Infinix Note 60 Series Resmi Diungkap: Bawa Vapor Chamber dan Baterai 6.000 mAh

0

Telko.id – Infinix kembali membuat gebrakan di pasar smartphone global dengan mengungkap kehadiran seri terbarunya, Infinix Note 60 dan Note 60 Pro.

Dalam pengumuman terbarunya, perusahaan teknologi ini menyoroti dua peningkatan spesifikasi utama yang menjadi nilai jual seri ini, yakni sistem pendingin berbasis vapor chamber dan kapasitas baterai masif yang melampaui angka 6.000 mAh.

Langkah ini menandakan keseriusan Infinix dalam menghadirkan perangkat dengan daya tahan tinggi dan manajemen suhu optimal untuk pengguna kelas menengah.

Peluncuran ini menarik perhatian banyak pengamat teknologi karena kombinasi fitur yang ditawarkan jarang ditemukan pada segmen harganya.

Penggunaan baterai berkapasitas di atas 6.000 mAh menjanjikan durasi penggunaan yang jauh lebih panjang dibandingkan standar industri saat ini yang umumnya masih berkutat di angka 5.000 mAh.

Peningkatan kapasitas ini dinilai sebagai respons langsung terhadap kebutuhan konsumen yang semakin intens dalam penggunaan perangkat seluler, mulai dari produktivitas hingga hiburan.

Selain sektor daya, sorotan utama tertuju pada integrasi teknologi pendingin vapor chamber pada kedua model tersebut. Fitur ini biasanya menjadi andalan pada smartphone flagship atau perangkat yang dikhususkan untuk gaming berat.

Kehadiran sistem pendingin canggih ini mengindikasikan bahwa Infinix Note 60 dan Note 60 Pro dirancang untuk menangani beban kerja tinggi tanpa mengalami penurunan performa akibat panas berlebih atau throttling.

Hal ini tentu menjadi peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan generasi pendahulunya seperti Infinix Note 10 yang masih menggunakan sistem pendingin konvensional.

Strategi Infinix untuk menyematkan baterai super besar dan sistem pendingin mutakhir ini sejalan dengan tren pasar yang menuntut perangkat serba bisa.

Pengguna tidak hanya menginginkan performa cepat, tetapi juga ketahanan daya yang mampu menunjang aktivitas seharian penuh tanpa perlu sering mengisi ulang daya.

Dengan bekal baterai lebih dari 6.000 mAh, seri Note 60 diprediksi mampu mengakomodasi kebutuhan tersebut dengan sangat baik.

Manajemen Suhu dengan Vapor Chamber

Implementasi vapor chamber pada Infinix Note 60 dan Note 60 Pro merupakan langkah strategis untuk meningkatkan stabilitas performa. Mekanisme pendinginan ini bekerja dengan cara menyebarkan panas secara lebih merata ke seluruh permukaan perangkat, sehingga mencegah penumpukan panas di satu titik, terutama di area prosesor.

Teknologi ini sangat krusial, terutama jika mengingat adanya spekulasi bahwa seri ini mungkin mengadopsi Chipset Snapdragon yang membutuhkan manajemen termal yang efisien untuk mengeluarkan potensi maksimalnya.

Sistem pendingin yang mumpuni tidak hanya berdampak pada kenyamanan genggaman saat ponsel digunakan dalam waktu lama, tetapi juga memperpanjang umur komponen internal.

Panas yang terkontrol dengan baik akan menjaga kesehatan baterai dan komponen vital lainnya dalam jangka panjang.

Dengan demikian, keputusan Infinix menyematkan fitur ini pada seri Note terbaru menunjukkan komitmen mereka terhadap durabilitas perangkat.

Standar Baru Kapasitas Baterai

Beralih ke sektor daya, keputusan untuk menanamkan baterai berkapasitas lebih dari 6.000 mAh menempatkan Infinix Note 60 series di posisi yang sangat kompetitif. Di tengah gempuran smartphone dengan desain tipis namun mengorbankan kapasitas baterai, Infinix justru menawarkan solusi bagi pengguna yang memprioritaskan screen-on-time.

Kapasitas Baterai Jumbo ini memungkinkan pengguna untuk melakukan aktivitas berat seperti streaming video resolusi tinggi, bermain game, atau navigasi GPS dalam durasi yang lebih lama.

Selain itu, kapasitas baterai yang besar juga relevan dengan integrasi teknologi modern lainnya yang mungkin hadir di masa depan, seperti pemrosesan AI yang intensif.

Berbicara mengenai teknologi cerdas, Infinix juga terus berinovasi dalam aspek proteksi data, seperti kerja sama baru-baru ini untuk menghadirkan solusi Keamanan Siber berbasis AI di perangkat mereka.

Kombinasi antara daya tahan baterai yang kuat dan sistem keamanan yang andal akan menjadikan seri Note 60 sebagai pilihan menarik bagi profesional muda maupun pelajar.

Peluncuran Infinix Note 60 dan Note 60 Pro ini mempertegas posisi perusahaan dalam menghadirkan inovasi teknologi yang relevan dengan kebutuhan pasar massal.

Dengan fokus pada manajemen suhu melalui vapor chamber dan ketahanan daya melalui baterai 6.000+ mAh, Infinix tampaknya siap kembali mendominasi segmen pasar menengah yang kompetitif. (Icha)

Xiaomi Pimpin Pasar Smartphone Indonesia 2025, Market Share 19%

0

Telko.id – Xiaomi Indonesia kembali menorehkan prestasi gemilang dalam industri teknologi tanah air. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset independen Omdia, perusahaan teknologi raksasa ini sukses mengukuhkan posisinya sebagai vendor smartphone nomor satu di Indonesia sepanjang tahun 2025.

Data tersebut mencatat bahwa Xiaomi berhasil menguasai pangsa pasar (market share) sebesar 19%, sebuah angka yang merefleksikan dominasi kuat di tengah persaingan industri yang semakin ketat.

Keberhasilan Xiaomi memuncaki klasemen penjualan ponsel pintar ini tidak lepas dari strategi perusahaan yang konsisten menghadirkan teknologi premium yang relevan bagi berbagai segmen konsumen.

Selain lini utama Xiaomi, performa sub-brand POCO juga memberikan kontribusi signifikan. Dengan proposisi “The True Flagship”, POCO sukses mengamankan ceruk pasar high-performance dan menjadi pilihan utama bagi komunitas penggemar mobile gaming di Indonesia.

Country Director Xiaomi Indonesia, Wentao Zhao, menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme konsumen tanah air. Menurutnya, pencapaian ini membuktikan bahwa strategi inovasi Xiaomi yang inklusif dapat diterima dengan baik oleh pasar.

Ia menilai masyarakat Indonesia kini semakin cerdas dalam memilih perangkat, tidak hanya tergiur oleh spesifikasi di atas kertas, tetapi juga mempertimbangkan ekosistem yang dapat meningkatkan kualitas hidup penggunanya.

“Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan besar yang diberikan oleh seluruh konsumen di Indonesia. Pencapaian ini adalah buah dari komitmen kami untuk menghadirkan inovasi yang inklusif.

Kepercayaan inilah yang menjadi energi bagi Xiaomi untuk melangkah ke fase yang lebih ambisius di tahun 2026,” ungkap Wentao Zhao dalam keterangan resminya.

Visi Ekosistem Human x Car x Home

Momentum kesuksesan di tahun 2025 ini dijadikan landasan kuat bagi Xiaomi untuk memperluas cakupan teknologinya. Memasuki tahun 2026, perusahaan berencana mentransformasi peran smartphone dari sekadar alat komunikasi menjadi pusat kendali kehidupan digital.

Hal ini sejalan dengan visi global baru perusahaan, yakni “Human x Car x Home”, yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan konektivitas tanpa batas (seamless connectivity).

Dalam skenario ekosistem ini, smartphone Xiaomi diposisikan sebagai gerbang utama (gateway). Perangkat tersebut akan menghubungkan berbagai aspek kehidupan pengguna, mulai dari mobilitas pribadi, sistem transportasi, hingga perangkat rumah tangga pintar.

Integrasi ini memungkinkan pengguna untuk mengontrol berbagai perangkat AIoT dan elemen gaya hidup lainnya dalam satu harmoni teknologi yang terpadu.

Wentao menekankan bahwa fokus utama perusahaan di tahun 2026 adalah memastikan teknologi bekerja secara intuitif. Kompleksitas fitur tidak lagi menjadi tolak ukur utama, melainkan seberapa alami interaksi teknologi tersebut dengan rutinitas harian pengguna.

Xiaomi ingin teknologinya hadir sebagai pendukung produktivitas yang bekerja efektif di balik layar, namun memberikan dampak nyata yang memudahkan aktivitas masyarakat.

Peran Xiaomi HyperOS 3

Guna merealisasikan visi ekosistem yang ambisius tersebut, Xiaomi mengandalkan Xiaomi HyperOS 3 sebagai fondasi utamanya. Sistem operasi ini didapuk sebagai “The Great Connector” yang bertugas menyatukan seluruh perangkat dalam ekosistem Xiaomi ke dalam satu platform yang solid.

Kehadiran sistem operasi ini sangat krusial, terutama bagi pengguna yang memiliki berbagai perangkat pintar, mulai dari smartphone hingga smart audio glasses.

Xiaomi HyperOS 3 tidak hanya sekadar sistem operasi, melainkan platform yang telah diperkuat dengan kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini dirancang untuk memahami pola gaya hidup dinamis masyarakat Indonesia, memastikan transisi antar perangkat berjalan mulus tanpa hambatan.

Hal ini memberikan kendali penuh kepada pengguna untuk menciptakan lingkungan hidup yang benar-benar cerdas dan terintegrasi.

Menutup pernyataannya, Wentao menegaskan kembali janji perusahaan untuk terus mendengarkan aspirasi pasar. Xiaomi berkomitmen untuk menghadirkan solusi yang memecahkan kendala sehari-hari, bukan sekadar pamer teknologi.

Dengan dukungan layanan purna jual yang kuat dan inovasi berkelanjutan, Xiaomi siap menemani perjalanan konsumen Indonesia menuju masa depan digital yang lebih cerdas. (Icha)

Telkom Akses Luncurkan LENSA Invoice Material untuk Efisiensi

0

Telko.id – PT Telkom Akses (Telkom Akses), anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, resmi meresmikan implementasi LENSA Invoice Material sebagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola berbasis digital.

Sistem inovatif ini dirancang menggunakan teknologi Robotic Process Automation (RPA) dan Optical Character Recognition (OCR) guna mempercepat seluruh rangkaian administrasi penagihan bagi mitra material proyek.

Peluncuran yang berlangsung pada 18 Februari 2026 ini menandai babak baru dalam transformasi digital perusahaan yang bertujuan mendorong efisiensi operasional sekaligus mempercepat arus kas mitra secara akuntabel dan terstandarisasi.

LENSA Invoice Material, yang merupakan kependekan dari Intelligent Vendor Input Document & Disbursement, hadir sebagai solusi terintegrasi untuk mentransformasi proses penagihan yang sebelumnya bersifat konvensional.

Melalui sistem ini, Telkom Akses berupaya menghilangkan hambatan manual yang selama ini rentan terhadap kesalahan manusia, serta mengalihkan seluruh alur kerja menjadi proses digital yang paperless dan otomatis.

Langkah ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung agenda besar transformasi digital TelkomGroup melalui penguatan tata kelola bisnis yang berbasis pada teknologi terkini.

Direktur Keuangan dan Management Risiko Telkom Akses, Hery Sofiaji, menyampaikan bahwa pengembangan sistem LENSA Invoice Material tidak sekadar mengejar aspek efisiensi semata, melainkan juga berfokus pada penguatan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi yang berlaku.

Hery menekankan bahwa digitalisasi ini memastikan setiap tahapan verifikasi hingga pembayaran berjalan dengan transparansi tinggi. Dengan memanfaatkan teknologi canggih, perusahaan dapat Integrasikan AI dan otomasi untuk menjawab tantangan akurasi dalam pengelolaan dokumen finansial yang masif.

Sebelum implementasi sistem digital ini, seluruh proses administrasi proyek di lingkungan Telkom Akses masih sangat bergantung pada penggunaan dokumen fisik. Alur kerja lama tersebut melibatkan penggunaan tanda tangan basah serta mekanisme verifikasi berlapis yang harus melewati berbagai tingkatan, mulai dari unit di area hingga ke kantor pusat.

Kondisi ini sering kali memicu terjadinya inefisiensi sumber daya manusia, peningkatan biaya operasional yang signifikan, serta munculnya keluhan dari pihak mitra akibat durasi proses pembayaran yang tidak menentu.

Transformasi Digital Melalui Teknologi RPA dan OCR

Penerapan LENSA Invoice Material membawa perubahan fundamental dengan mengalihkan seluruh proses penagihan ke dalam skema digital automation.

Sistem ini bekerja mulai dari tahap penerbitan purchase order, verifikasi dokumen pendukung, hingga eksekusi pembayaran kepada mitra. Penggunaan teknologi Robotic Process Automation (RPA) memungkinkan sistem untuk menjalankan tugas-tugas rutin tanpa memerlukan intervensi fisik dari staf administrasi, sehingga risiko kesalahan input dapat diminimalisir secara drastis.

Selain RPA, teknologi Optical Character Recognition (OCR) juga menjadi pilar utama dalam sistem ini. OCR berfungsi untuk membaca, mengenali, dan memvalidasi setiap data yang tertera dalam dokumen digital secara otomatis.

Dengan kemampuan ini, proses pencocokan data antara tagihan mitra dengan catatan internal perusahaan dapat dilakukan dalam waktu singkat namun tetap memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan terus melakukan Efisiensi Operasional demi menjaga kesehatan finansial dan ekosistem bisnis secara keseluruhan.

Dampak nyata dari implementasi sistem LENSA Invoice Material ini sangat terukur, terutama dalam hal penghematan biaya operasional. Telkom Akses memproyeksikan penghematan hingga ratusan juta rupiah per tahun yang berasal dari pengurangan biaya cetak dokumen dan biaya distribusi fisik.

Selain itu, penggunaan tanda tangan digital dan e-meterai telah mempercepat sirkulasi penandatanganan dokumen hingga mencapai standar 3 x 24 jam. Kecepatan ini sangat kontras jika dibandingkan dengan metode manual yang memakan waktu jauh lebih lama.

Dari sisi sumber daya manusia, digitalisasi ini mendorong peningkatan produktivitas yang signifikan. Karyawan yang sebelumnya terbebani oleh pekerjaan administratif repetitif kini dapat dialokasikan untuk menangani aktivitas yang bersifat lebih strategis bagi pertumbuhan perusahaan.

Proses pembayaran yang kini menjadi lebih cepat dan terprediksi juga secara langsung memperbaiki arus kas para mitra material. Hal ini menjadi faktor kunci dalam meningkatkan Index Partnership Satisfaction, yang merupakan fondasi penting bagi hubungan bisnis jangka panjang yang berkelanjutan.

Memperkuat Kemitraan Melalui Standarisasi Proses

Direktur Business & Strategy Telkom Akses, Djoko Srie Handono, memandang bahwa LENSA Invoice Material merupakan instrumen vital dalam mempercepat siklus bisnis perusahaan. Dalam perspektif manajemen vendor, sistem ini menciptakan standar baru dalam proses pengadaan dan penagihan yang lebih transparan dan akuntabel.

Dengan adanya kepastian proses, mitra material dapat lebih fokus pada kualitas pengerjaan proyek dan kecepatan eksekusi di lapangan tanpa perlu khawatir akan kendala administrasi yang berulang. Penguatan sistem ini serupa dengan upaya global dalam mengoptimalkan Supply Chain melalui teknologi digital.

Sistem LENSA Invoice Material ini tidak muncul secara instan, melainkan telah melalui tahap piloting yang komprehensif sejak Januari 2025. Setelah melalui proses evaluasi yang ketat selama satu tahun, sistem ini akhirnya resmi diterapkan secara nasional kepada 102 mitra material mulai minggu kedua Januari 2026.

Keberhasilan peluncuran ini merupakan hasil kolaborasi lintas fungsi yang melibatkan Unit IT, Procurement, Inventory, hingga Finance, dengan dukungan penuh dari jajaran Board of Directors serta senior leaders di lingkungan TelkomGroup.

Implementasi teknologi ini juga dipandang sebagai sebuah Lompatan Besar dalam adopsi otomasi cerdas di industri telekomunikasi Indonesia. Telkom Akses menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menghadirkan solusi digital bagi kepentingan internal, tetapi juga untuk membangun ekosistem tata kelola yang efisien bagi seluruh pemangku kepentingan.

Ke depannya, perusahaan berencana untuk terus mengembangkan kapabilitas digital berbasis teknologi otomasi sebagai bagian dari strategi jangka panjang guna menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi TelkomGroup dan para mitranya.

Dengan hadirnya LENSA Invoice Material, Telkom Akses kini memiliki alat kontrol yang lebih kuat dalam memonitor setiap transaksi material proyek secara real-time.

Transparansi yang ditawarkan oleh sistem digital ini memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan dapat dipertanggungjawabkan dengan data yang akurat. Hal ini diharapkan dapat meminimalisir potensi penyimpangan dan memperkuat integritas perusahaan dalam menjalankan operasional bisnisnya di seluruh wilayah Indonesia. (Icha)

.

Pendaftaran OPPO Hyper Legend Cup Dibuka, Rebut Total Hadiah USD 100.000

0

Telko.id – OPPO bersama pengembang gim Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) secara resmi membuka pendaftaran untuk turnamen esports OPPO Hyper Legend Cup x MLBB Campus Series 2026.

Kompetisi tingkat universitas ini kembali hadir untuk menjaring talenta muda berbakat dari kalangan mahasiswa di seluruh Indonesia dengan menawarkan total hadiah yang sangat besar mencapai USD 100.000.

Turnamen ini merupakan evolusi dari ajang sebelumnya, Smooth Legends Cup, yang kini bertransformasi menjadi era Hyper Legend dengan skala kompetisi yang jauh lebih luas.

Tidak hanya bersaing di tingkat nasional, mahasiswa terbaik dari Indonesia nantinya akan dipertemukan dengan tim-tim unggulan dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina dalam sebuah persaingan regional yang ketat.

Kolaborasi antara raksasa teknologi dan pengembang gim ini menegaskan komitmen kedua belah pihak dalam mendukung ekosistem esports di Asia Tenggara.

Melalui kolaborasi strategis ini, OPPO menyediakan wadah bagi generasi juara baru untuk membawa semangat kampus mereka menuju panggung internasional.

Jadwal Lengkap Kualifikasi hingga Final Regional

Bagi mahasiswa yang ingin berpartisipasi, periode pendaftaran telah dibuka mulai tanggal 16 hingga 25 Februari 2026. Setelah proses registrasi ditutup, rangkaian kompetisi akan segera dimulai dengan babak kualifikasi dan eliminasi yang diselenggarakan secara daring (online) pada tanggal 28 Februari dan 1 Maret 2026.

Tahap ini akan menjadi saringan awal untuk menentukan tim mana yang memiliki strategi dan kekompakan terbaik.

Sebanyak delapan tim terbaik dari babak kualifikasi online akan melaju ke babak Final Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Maret 2026. Pertandingan di tahap ini diprediksi akan berjalan sangat sengit karena hanya dua tim terkuat yang berhak mewakili Indonesia ke jenjang selanjutnya.

Puncak dari rangkaian turnamen ini adalah Final Lintas Negara yang akan digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 16–19 April 2026. Di ajang turnamen multinasional tersebut, dua tim perwakilan Indonesia akan berhadapan dengan dua tim terbaik dari masing-masing negara peserta lainnya.

Persaingan bergengsi tingkat Asia Tenggara ini akan menentukan satu tim yang layak menyandang gelar juara regional Hyper Legend.

Dukungan Performa Tinggi OPPO Reno15 Series

Kompetisi tahun ini didukung penuh oleh perangkat OPPO Reno15 Series yang diklaim mampu memberikan pengalaman gaming maksimal.

Smartphone ini menghadirkan kemampuan visual hingga 120FPS yang mulus, memastikan pergerakan hero terasa presisi dan animasi skill terlihat halus, terutama pada momen-momen krusial pertempuran di Land of Dawn.

Content image for article: Pendaftaran OPPO Hyper Legend Cup Dibuka, Rebut Total Hadiah USD 100.000

Selain visual, ketahanan daya menjadi sorotan utama. Reno15 Series dibekali baterai berkapasitas besar hingga 7.000mAh yang didukung teknologi pengisian daya cepat 80W SUPERVOOC Flash Charge.

Kombinasi ini memungkinkan para atlet esports kampus untuk bertanding tanpa henti tanpa rasa khawatir kehabisan daya di tengah pertandingan.

Berdasarkan pengujian internal, perangkat ini mampu digunakan untuk bermain MLBB selama lebih dari 8 jam secara stabil dengan manajemen suhu yang tetap terjaga.

Fitur lain yang tak kalah penting adalah teknologi AI LinkBoost 3.0, yang berfungsi menjaga koneksi internet tetap responsif meskipun kondisi jaringan sedang tidak optimal, sebuah fitur vital dalam ranah kompetitif.

Rincian Hadiah Fantastis

OPPO Hyper Legend Cup x MLBB Campus Series 2026 menyiapkan struktur hadiah yang sangat menggiurkan bagi para peserta. Total hadiah keseluruhan mencapai USD 100.000, yang terbagi ke dalam fase Final Nasional dan Final Lintas Negara, ditambah dengan berbagai reward eksklusif lainnya.

Pada Final Nasional, total hadiah yang diperebutkan adalah USD 8.000 beserta ribuan Diamond MLBB. Berikut adalah rincian hadiah untuk para pemenang di tingkat nasional:

  • Juara 1: USD 3.000, 5 Gold Skin Card, dan 25.000 Diamond.
  • Peringkat 2: USD 2.000, 5 Gold Skin Card, dan 20.000 Diamond.
  • Peringkat 3: USD 1.500, 5 Gold Skin Card, dan 15.000 Diamond.
  • Peringkat 4: USD 1.000, 5 Gold Skin Card, dan 10.000 Diamond.
  • Peringkat 5: USD 500, 5 Gold Skin Card, dan 10.000 Diamond.

Sementara itu, pada tahap Final Lintas Negara di Kuala Lumpur, total hadiah melonjak menjadi USD 80.000. Sang juara regional akan membawa pulang hadiah utama sebesar USD 32.000. Peringkat kedua akan mendapatkan USD 20.000, disusul peringkat ketiga dengan USD 12.000, dan peringkat keempat sebesar USD 8.000.

Tim yang menempati peringkat kelima dan keenam masing-masing akan memperoleh USD 3.000, sedangkan peringkat ketujuh dan kedelapan masing-masing mendapatkan USD 1.000.

Selain uang tunai, tim yang berhasil melaju ke tahap akhir juga berkesempatan mendapatkan total 1.200.000 Diamond MLBB, unit smartphone OPPO Reno15 Series, serta merchandise eksklusif.

Turnamen ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian skill, tetapi juga kesempatan emas bagi mahasiswa untuk merasakan atmosfer kompetisi profesional. Mirip dengan kompetisi serupa yang pernah diadakan, ajang ini menuntut strategi matang dan mental juara.

Mahasiswa yang berminat dapat mendaftarkan timnya segera melalui situs resmi OPPO Indonesia. Setelah registrasi berhasil, kapten tim akan dihubungi pihak penyelenggara untuk detail teknis pertandingan selanjutnya. (Icha)