spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1750

‘Duit Besar’ Ketika IoT Kawin Dengan Industri otomotif

0

Sepanjang pabrikan mobil masih memproduksi, maka jumlah kendaraan pun akan terus bertambah. Jumlah yang ratusan juta itu menjadi potensi ‘uang’ masuk bagi para developer yang memanfaatkan teknologi Internet Of Things. Menghubungkan antara Cloud ke wireless Technology, smart chips, onboard computer, mobile apps, yang akan mendorong jenis bisnis model baru.

Konektifitas selama perjalanan yang berkaitan dengan penyimpanan data yang besar sudah menjadi kebutuhan. Bahkan, McKinsey & Company (2014) dalam laporannya menyatakan bahwa lebih dari seperempat dari pembeli mobil mengatakan bahwa konektivitas internet lebih penting daripada fitur seperti tenaga mesin dan efisiensi bahan bakar. Menurut perkiraan Gartner, dalam lima tahun ke depan, jumlah mobil yang terhubung dapat melebihi seperempat miliar di seluruh dunia.

Mobil terhubung awan masa depan di sini hari ini – dan tumbuh di nomor. Ini adalah tren didorong sebagian besar oleh permintaan konsumen. Dalam 2014 laporan McKinsey & Company, lebih dari seperempat dari pembeli mobil mengatakan bahwa konektivitas internet lebih penting daripada fitur seperti tenaga mesin dan efisiensi bahan bakar. Dalam lima tahun ke depan, jumlah mobil yang terhubung dapat melebihi seperempat miliar di seluruh dunia, menurut perkiraan Gartner.

Yang dibutuhkan, bukan hanya kecepatan dalam konektifitas saja, tetapi juga stabil. Di indutsri otomotif sendiri sudah mulai merambah ke koneksi nirkable 4G yang diimplementasikan dalam kendaraan produksi terbarunya. Bahkan sudah mulai ada yang membuatnya menjadi standar. Terutama untuk model-model yang akan diproduksi pada tahun 2010.

Teknologi yang digunakan adalah kombinasi WiFi dan teknologi IoT. Kedua teknologi tersebut membuka jalan untuk membangun aplikasi yang dibutuhkan oleh pengemudi maupun penumpang. Seperti Navigasi, info lalu lintas yang realtime, informasi parkir, streaming infotainment dan integrasi antara dashboard, smartphone dan perangkat. Baik berkaitan dengan health tracking dan jam pintar.

Sumber Pendapatan Baru

Industri otomotif yang dikaitkan dengan Big Data akan menggeser pengalaman kita selama berkendara. Tentu ini akan menjadi pengalaman baru, baik bagi pabrikan mobil, penyedia layanan maupun industri lain yang terkait. Termasuk juga industri travel atau wisata.

Pendapatan dari jasa mobil yang sudah memanfaatkan teknologi IoT ini di lima tahun kedepan akan mencapai $ 40 miliar, seperti yang disampaikan oleh SNS Research beberapa waktu lalu. Bahkan, di dalamnya juga termasuk industry keuangan sebagai penjamin kredit mobil dengan mudah melakukan penagihan yang fleksibel. Baik dalam pembayaran di muka, langganan maupun skema pembayaran lainnya.

Semua kegiatan financial tersebut dapat dimanfaatkan oleh perusahaan telekomunikasi sebagai penyedia jaringan IoT sehingga mampu menambah pos-pos pendapatan yang baru. Hal yang sama juga dapat dimanfaatkan oleh para perusahaan pengembang aplikasi.

Layanan yang berkenaan dengan industry otomotis ini sudah dilakukan oleh Ford melalui SYNC dan EnForm dari Lexus. Produsen ini sudah menawarkan berbagai layanan tambahan bagi para konsumen nya yang berbasis Cloud. Seperti Always –On Access, layanan saat darurat, Roadside Assistance, Teen-driver monitoring dan advanced voice control.

Layanan tersebut diberikan secara berlangganan. Artinya, ada pemasukan yang regular bagi para penyedia jaringan maupun pengembang aplikasi. Dari sisi pelanggan, layanan tersebut menambah benefit dan memberikan pengalaman baru yang sungguh sangat diperlukan saat berkendara. Hubungan antara produsen dengan konsumen pun semakin erat, sehingga akan memudahkan ketika akan membuat loyality program. Dan hubungan ini pun akan menjadi lebih lama. Tidak sekedar beli saja. Ada entertain terhadap konsumen dan tentunya, nanti nya jika puas akan terjadi penjualan unit saat keluar unit baru.

Peluang Besar

Dilihat dari contoh di atas, maka layanan otomotif berbasis Cloud berpontensi sangat besar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan ketika unit baru atau tipe baru dari sebuah merek mobil dipasarkan. Tapi jangan salah, potensi pun dapat merambah pada kendaraan second.

Seperti yang dilakukan oleh Verizon di Amerika dan Kanada. Pada musim panas lalu meluncurkan layanan HUM, layanan baru untuk purna jual. Untuk $14.99, pelanggannya dapat terhubung dengan Cloud. Layanannya berupa alert accident, system diagnostic dan stolen vehicle locator service untuk mobil yang bukan baru. Semua ini dilakukan dengan memasang Port Onboard Diagnostic (OBD) di samping setir mobil. Port ODB inilah yang menjadi entry point dari aplikasi mobile yang terhubung dengan Cloud, khusus untuk kendaraan bermotor.

Smart Connected Cars

Saat ini, ketika Anda berkendaraan sangat memungkinkan berinterasi dengan sekeliling, bahkan dengan dunia sekalipun. Semua itu dapat dilakukan berkat Cloud Based System yang menggunakan IoT innovations seperti sensor jarak dan Predictive Intelligence. Seperti yang ada pada model Mercedes-Benz yang terbaru. Saat berkendara, Anda dapat terhubung langsung ke Nest, IoT powered smart home system, mengaktifkan control suhu di rumah sebelum Anda sampai di rumah. Sungguh mengasyikan. Setelah lelah bekerja, disambut oleh suhu yang nyaman di rumah.

Potensi koneksi lain yang dapat dilakukan dalam jarak jauh tentu menjadi bisnis model baru di masa depan. Bahkan dengan mudah menginformasikan pada rekan meeting Anda ketika jalanan macet dan akan terlambat datang meeting. Lalu, mampu mengkonfirmasi janji, melakukan reservasi tempat untuk makan malam hingga menu yang diinginkan.

Selain itu, Anda juga dapat pesan tiket film, membayar bensin dan parkir. Semua dilakukan secara mandiri tanpa ada yang ikut campur. Tentu, layanan tersebut membutuhkan mekanisme penagihan secara berlanggan atau berbasis penggunaan. Hal ini harus mulai dipikirkan oleh para service provider. Sehingga ketika datang waktunya, sudah siap dengan skema yang tepat.

Tiga Model Bisnis Potensial

Ada standar monetization, ada tiga model bisnis  yang mungkin dihadapi ketika IoT kawin dengan industri otomotif.

Pertama, Car Sharing. Ke depan, trend Car sharing akan semakin disukai oleh masyarakat. Sebenarnya, seperti model bisnis yang dilakukan oleh Uber. Diperkirakan pada 2030 mendatang, ada sekitar 650 miliar orang seluruh dunia akan menggunakan model Car-Sharing ini, seperti yang disampaikan oleh ABI Research. Contoh bisnis lainnya adalah agen rental mobile maupun pengoperasian kendaraan perusahaan. Bahkan pabrikan pun melihat tren tersebut menjadi cara yang cerdas yang akan meningkatkan jumlah penjualan tradisional.

Kedua, Pay Per Use. Bayar sesuai dengan penggunaan. Ini model bisnis yang menarik. Di mana, ketika semua sudah berjalan, Anda tidak perlu lagi membeli kendaraan dengan harga mahal. Cukup membayar sesuai dengan waktu Anda menggunakan kendaraan tersebut. Biaya perbulan akan dipatok sesuai dengan penggunaan. Tentu, hal ini dapat dijadikan model bisnis yang menarik karena akan sesuaikan dengan jarak tempuh dan sangat menarik bagi masyarakat yang tinggal di Negara berkembang. Hal ini sudah dilakukan oleh Citroen, Pabrikan asal Eropa sejak tahun 2014. Namun, dengan adanya teknologi IoT maka model bisnis ini pasti akan lebih menarik lagi. Tidak saja bagi pengguna kendaraan, pabrikan dan industri pembiayaan.

Ketiga, Direct-To-Consumer Sales. Penjualan langsung ke konsumen sudah dilakukan oleh Tesla Motors. Di mana perusahaan ini menjual IoT Infused. Jadi, Tesla dapat melakukan hubungan langsung dengan para pelanggannya kapan pun dan di mana pun konsumen nya berada. Perusahaan ini dapat secara proaktif melakukan upgrade, pemeliharaan, menambahkan fitur baru dan secara intensif memasukan model terbaru langsung ke setiap dashboard konsumennya.

Dulu, inovasi dari Tesla Motors ini sempat di larang oleh beberapa Negara dan ditekan oleh lobi yang kuat dari para dealers. Namun, di sisi lain, Federal Trande Commission (FTC) sangat mendukung layanan ini.

Maju Terus Pantang Mundur

Inovasi teknologi akan terus berlanjut. Tentu akan mempengaruhi harga atau yang dibayarkan untuk sebuah mobil. Baik untuk kendaraan yang memiliki layanan digital, asuransi mobil dan peralatan serta layanan lainnya. Diproyeksikan, tidak akan sampai 10 tahun, semua layanan tersebut sudah banyak digunakan oleh masyarakat. Nanti akan banyak layanan transportasi yang dijalankan secara pintar dari Cloud.

Satu hal yang tidak dapat dipastikan adalah bagaimana inovasi teknologi di kemudian hari akan menjadi tren. Tetapi yang pasti, dalam sebuah bisnis perlu ada cara yang strategis untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar lagi. Dan peluang itu, akan hadir dengan menggabungkan antara mobil dengan internet. (Icha)

Di Masa Depan, IoT akan Pengaruhi Strategi Pemasaran

0

Jakarta – Ada setidaknya 50 miliar benda, dimana masing-masing memiliki sistem komputasi sendiri yang tertanam didalamnya dan mampu berinteraksi dengan infrastruktur internet yang ada, yang diperkirakan akan menjadi bagian dari Internet of Things (IoT) pada tahun 2020 nanti.

Permasalahannya adalah, laju pembangunan untuk IoT lebih cepat dibandingkan dengan kemajuan yang dibuat dalam bidang perangkat elektronik saat ini, terutama karena pembangunan perangkat elektronik secara global telah mendekati batas maksimum.

Dari segi bisnis, beberapa implikasi pemasaran harus diciptakan guna mengikuti perkembangan teknologi IoT yang sedang berjalan dan terus berkembang.

Strategi Pemasaran IoT

Konsumen akan merespon jauh lebih baik produk yang menawarkan daya tarik. Semua ini mempromosikan loyalitas dan komitmen untuk nama merek tertentu, dan ini tepatnya semacam efek yang selalu diinginkan pemasar untuk dicapai. Di masa depan, tren ini akan ditekankan dan dikembangkan lebih lanjut untuk mendorong hubungan yang lebih erat antara konsumen dan penjual.

Penjual juga akan lebih tepat sasaran dalam menawarkan produk mereka kepada konsumen dengan menggunakan big data analitik. Hal ini terasa perlu untuk memberikan informasi yang tepat kepada calon pelanggan yang paling mungkin untuk melakukan pembelian.

Ini akan membutuhkan investasi yang lebih besar dalam produksi iklan, serta penelitian yang lebih baik untuk mengidentifikasi kelompok konsumen yang tepat untuk menyampaikan pesan.

Layanan nilai tambah dari suatu produk akan menjadi lebih penting dan lebih ditekankan pada era Internet of Things. Sebagai contoh,  jam tangan biasa yang akan bertransformasi menjadi smartwatch, dengan terkoneksi pada jaringan data atau nirkabel, kemudian blender dapur akan digantikan oleh blender dapur pintar, dan jenis strategi akan mulai menembus semua pengembangan produk dan strategi pemasaran.

Steve Reed, VP Development Client, Elevation Market mengungkapkan, “Kita berada pada titik puncak perubahan teknologi secara revolusioner, Nilai yang melekat dari Internet of Things adalah menghubungkan perangkat ke sistem cloud dimanapun lokasi Anda berada saat ini, dengan kemajuan IoT akan membuat setiap industri dapat menikmati banyak peluang untuk memasarkan produk kepada pembeli potensial dan menargetkan pelanggan sehingga mencapai hasil yang instan dan maksimal.”

 

Pemasaran dan periklanan akan diberikan dengan lebih spesifik dan efektif lagi karena banyak perangkat pintar yang akan dipasang di seluruh negara yang dapat menyediakan data penggunaan yang sangat besar. Hal ini akan memungkinkan perusahaan untuk mengembangkan lebih banyak cara mengenai strategi, dan meningkatkan laba atas investasi untuk masa depan penjualan. Kesempatan yang cepat untuk modifikasi dan perbaikan strategi juga menjadi salah satu keuntungan perusahaan apabila perangkat pintar tadi tidak memberikan hasil yang real.

Perubahan juga terjadi dari sisi Customer Relationship Management (CRM), yang akan berbentuk sebuah aplikasi, sehingga perusahaan akan lebih banyak mendapatkan data pengguna dan mempermudah mereka untuk mendapatkan insight pengguna. CRM pun berguna untuk menganalisis dan mengumpulkan data pelanggan, sehingga perusahaan dapat mengambil tindakan cerdas mengenai basis konsumennya.

Kecepatan Broadband di Uni Eropa Tak Sesuai yang Dijanjikan

0

Jakarta – Pelanggan broadband di Uni Eropa hanya mendapatkan 75 persen dari kecepatan download yang diiklankan, meskipun harga broadband terus menurun di seluruh benua. Ini hanya dua dari tiga temuan studi pada kecepatan broadband, harga dan cakupan yang diterbitkan oleh Komisi Eropa belum lama ini.

Menurut Telecompaper, Jumat (23/10), laporan pertama untuk kecepatan broadband di semua negara Uni Eropa ditambah Islandia dan Norwegia meliputi angka yang diperbarui untuk Oktober 2014. Di sini ditunjukkan bahwa rata-rata kecepatan broadband di Eropa tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan, dengan angka 75 persen sama seperti yang diposting di 2013. Meskipun investasi di jaringan broadband dilakukan terus menerus, yang menaikkan rata-rata kecepatan download yang sebenarnya secara signifikan dari 30 Mbps di 2013 menjadi 38 Mbps pada tahun 2014.

Studi ini juga menunjukkan bahwa perbedaan lebih kecil di kabel (86,5 persen dari headline kecepatan download yang diiklankan) dan FTTx (83 persen) dibandingkan DSL (63,3 persen). Selain itu, kecepatan download yang sebenarnya di Eropa tetap lebih tinggi daripada di AS, dengan layanan xDSL rata-rata 8.27 Mbps di Eropa dan 7.67 Mbps di AS. Sementara untuk layanan kabel dan FTTx, di Eropa rata-rata 66,57 Mbps dan 53,09 Mbps, di AS 25,48 Mbps dan 41,35 Mbps.

Studi kedua, terkait harga eceran broadband hingga Februari 2015, ditemukan bahwa harga broadband di EU28 turun sekitar 12 persen antara tahun 2012 dan 2015, dengan tawaran harga masuk akal untuk kecepatan 12 hingga 30 Mbps.

Namun, laporan ini menunjukkan bahwa harga secara signifikan bervariasi dan bisa sampai 300 persen lebih tinggi untuk layanan serupa tergantung pada lokasi. Secara umum, negara-negara Uni Eropa lebih murah daripada AS untuk broadband di atas 12 Mbps, sementara Korea Selatan dan Jepang lebih murah daripada EU28 untuk broadband di atas 30 Mbps.

Studi pada cakupan broadband juga menemukan bahwa lebih dari 216 juta rumah tangga di Uni Eropa (99,4 persen dari total) memiliki akses ke setidaknya satu teknologi broadband tetap atau mobile pada akhir 2014 (tidak termasuk satelit).

Penetrasi broadband mobile 4G kecepatan tinggi meningkat dari 59,1 persen pada 2013 menjadi 79,4 persen pada tahun 2014. Teknologi Next Generation Access (NGA) – mampu memberikan setidaknya 30 Mbps – tersedia di 68,1 persen rumah, naik dari 61,9 persen tahun lalu.

Begini Implementasi Internet of Things di Industri Hiburan

0

Jakarta – Internet of Things, tak bisa dipungkiri lagi telah menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah sektor industri di luar sana. Tak hanya mereka yang berkutat dalam industri teknologi saja yang ingin mengimplementasinya dalam kehidupan nyata, tetapi juga fashion dan hiburan.

WME-IMG, misalnya, perusahaan entertainment yang berbasis di Amerika Serikat ini bahkan mengumumkan usaha patungannya dengan AGT Internasional untuk mengembangkan pengalaman fisik berbasis aplikasi untuk peserta dari banyak acara live yang mereka hasilkan.

“Internet of Things” digambarkan sebagai harmonisasi digital dari segala sesuatu yang disentuh, sebagai contoh sebuah perangkat yang mampu menyalakan oven saat pengguna sedang bekerja, membersihkan lantai si pengguna, mengunci pintu dari lokasi terpencil,  mengendarai kendaraan mereka dan banyak lagi.

Kemitraan baru AGT ini akan menawarkan platform yang terhubung dengan konsumen pada sebelum, selama dan setelah acara berlangsung.

Dilansir dari Thewrap (23/10), sebuah tweet akan memberitahu pengguna seberapa cepat jantungnya berdenyut sebelum ia mulai memasuki arena konser. Data tersebut memungkinkan pihak penyelenggara untuk memberikan promosi dan hadiah sesuai keadaan yang ada.

Bukan hanya itu, para penghibur di panggung juga akan mengetahui kapan kiranya para penonton akan ke kamar mandi, dan kapan waktu yang tepat bagi mereka untuk beristirahat.

“Perusahaan consumer dan hiburan telah mengumpulkan wawasan selama bertahun-tahun, tetapi sangat sedikit dari klien dan mitra kami memiliki akses ke analisis data yang memungkinkan mereka untuk bertindak tepat dalam memberikan konten yang relevan dan pengalaman yang lebih baik untuk penonton mereka,” ungkap Ariel Emanuel, Co-CEO WME-IMG.

Ia juga menambahkan bahwa kerjasama dengan AGT ini menandai pergeseran sebuah paradigma yang mengakui bahwa teknologi IoT dan ilmu data fundamental akan mengubah cara orang dalam menikmati acara live, serta bagaimana mereka mengkonsumsi berbagi konten yang penting bagi mereka.

Sebagai permulaan, implementasi dari teknologi ini akan dimulai pada kanal olahraga, fashion dan acara kuliner tahun ini. [AK/IF]

China Unicom Terus Ditinggalkan Pelanggannya

0

Jakarta – Penurunan jumlah pelanggan tampaknya tak hanya dialami oleh operator dalam negeri. Di China, China Unicom juga dikabarkan mengalami nasib serupa. Operator seluler terbesar kedua di China ini kehilangan 287.000 pelanggan selulernya bulan lalu.

Jumlah itu turun dari lebih dari setengah juta kehilangan di bulan Agustus dan puncaknya 2,82 juta di bulan Februari. Pertumbuhan basis pelanggan terjadi terakhir kali pada bulan Januari.

Pada akhir September, China Unicom memiliki 287.57 juta pelanggan mobile, turun dari 299 juta pada awal 2015.

Menurut laporan Total Telecom, Jumat (23/10), 172.46 juta dari total pelanggan adalah pelanggan 3G dan 4G, yang naik dari 149 juta pada awal tahun. Namun, perusahaan telekomunikasi yang mengoperasikan layanan 4G penuh lewat teknologi FDD LTE ini enggan membagi angka pasti terkait jumlah pelanggan 4G-nya.

Sebaliknya, sang pesaing utama, China Mobile – yang mampu meluncurkan 4G pada akhir 2013 – memiliki 247.62 juta pelanggan 4G pada akhir kuartal ketiga. Dengan total basis pengguna mobile hampir 823 juta, meningkat lebih dari 16 juta selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Dalam konteks revenue, China Unicom menghasilkan pendapatan sebesar CNY211.9 juta atau sekitar Rp 400 miliar, dalam sembilan bulan pertama tahun ini, turun 1,6% pada periode yang sama tahun 2014. Sementara pendapatan layanan turun 3,8% menjadi CNY179.8 miliar.

Hal yang tak jauh berbeda tampak pada laba perusahaan, yang tergelincir sebesar 22,6% menjadi CNY8.18 miliar.

Reformasi PPN di China, dalam hal ini disebut-sebut menjadi pemicu terpukulnya industri telekomunikasi di negeri tirai bambu itu. Paling tidak selama beberapa kuartal terakhir.

China Unicom mengatakan bahwa kebijakan data mobile yang baru-baru ini diumumkan akan berdampak pada angka di Q4.

Sk Telecoms dan Ericsson Tunjukan Terobosan 5G

0

Jakarta – SK Telecom Ericsson telah bersama-sama menunjukkan teknologi jaringan 5G pada pusat penelitian dan pengembangan telekomunikasi di Bundang, Korea Selatan.

Kedua perusahaan merintis teknik baru guna menciptakan jaringan virtual yang berbeda untuk berbagai layanan yang mencakup Super multi-view, Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR), IOT dan sistem perusahaan.

Demonstrasi tersebut membuktikan bahwa mereka dapat mengisolasi dan melindungi  jaringan virtual ini satu sama lain, yang telah menjadi salah satu tantangan terbesar ketika membagi satu jaringan fisik ke beberapa jaringan virtual.

Dilansir dari Telecoms (23/20), meskipun belum disahkan oleh beberapa badan seperti 3GPP dan ITU, namun setidaknya demo tersebut bisa memberikan patokan bagi para operator global, penyedia peralatan dan penyedia layanan untuk bekerja pada saat mereka mengembangkan strategi dalam mendukung layanan 5G yang beragam.

Alex Jinsung Choi, Chief Technology Officer di SK Telecom, “demonstrasi yang sukses dari teknologi jaringan ini merupakan langkah kedepan yang signifikan untuk mencapai penyebaran komersial dari 5G pertama di dunia.”

Kegiatan demo ini merupakan bentuk kerjasama yang pertama antara kedua perusahaan ini. Sebagai informasi, baik SK Telecoms ataupun Ericsson menandatangani MOU pada bulan Juli lalu untuk pengembangan jaringan 5G.

Sebagai bentuk dari kolaborasi ini, kedua perusahaan juga membangun sebuah pusat data yang mereka namakan Hyper-scale Datacenter System (HDS) yang terintegrasi dengan cloud untuk 5G dan akan dibuka pada awal 2016. [AK/IF]

 

Kunjungi Silicon Valley, Rudiantara Ingin Dalami E-commerce

0

Jakarta – Presiden Joko Widodo dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara dijadwalkan untuk bertolak ke Amerika Serikat pada 24 Oktober esok. Dalam kunjungan tersebut, keduanya akan menyempatkan diri untuk singgah ke kawasan berkumpulnya perusahaan teknologi raksasa di California, yakni Silicon Valley.

Menkominfo mengungkapkan bahwa salah satu agenda kunjungan kenegaraan ini adalah bertukar pikiran dan belajar mengenai pembinaan startup dan e-commerce. Seperti diketahui, e-commerce adalah salah satu bagian dari ekosistem 4G yang di galang oleh Kominfo.

Pada laman resmi Kominfo, Chief RA mengungkapkan, “Diharapkan akan ada kerja sama lebih lanjut mengenai e-commerce ke depannya serta bertukar informasi tentang sistem pendanaan, logistik, hingga proteksi konsumen pada startup di sana.”

Fokus kepada e-commerce ini sesuai dengan Roadmap e-commerce dan Visi Seribu Digital Technopreneur pada 2020.

Dalam kunjungan ini, Menkominfo Rudiantara juga turut membawa serta sejumlah technopreneur tanah air, seperti founder Gojek, Nadiem Makarim; CEO Tokopedia, William Tanuwijaya; dan Andrew Darwis sebagai Taipan Kaskus.

Disana rombongan akan mengunjungi berbagai perusahaan teknologi besar seperti Google dan Facebook untuk bertukar pikiran dan belajar mengenai pembinaan startup dan e-commerce.

Rudiantara juga menginginkan agar Indonesia bisa menjadi kawasan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Untuk sektor e-commerce, ia juga menargetkan bisnis ini dapat mencapai USD 130 miliar di Indonesia pada 2020.

“Maka itu, kita  akan lihat di sana seperti apa, berapa technoprenuer, area, dan lainnya yang diperlukan,” jelas Menkominfo. [AK/IF]

XL Dukung Kerajinan Nusantara Go Digital

0

Untuk memperluas pasar, tidak bisa menggunakan cara-cara tradisional. Harus lebih modern yang tidak lagi mengenal batas ruang dan waktu. Yang paling tepat adalah digital. Cara ini pun sudah mulai harus dijalani oleh para pengrajin nusantara. Jika tidak maka akan kalah bersaing di dunia internasional. Padahal, kerajinan Nusantara itu sangat indah dan bernial tinggi.

Sayangnya, masih banyak para pengrajin ini yang tidak mengerti tentang internet. Untuk itu perlu ada langkah stragis yakni harus sosialisasi dan edukasi. Targetnya adalah para pengrajin juga dapat dikenal jauh lebih luas lagi.

Dengan layanan internet dan digital, maka dengan mudah para pengrajin untuk lebih dikenal lebih luas lagi. Kesepakatan ini, Seperti yang dipandang perlu sebagai sarana yang strategis untuk promosi produk kerajinan nasional agar bisa lebih dikenal oleh pasar yang lebih luas, termasuk secara global. Ketua Harian Dekranas, Hj. dr. Erni Tjahjo Kumolo dan Presiden Direktur XL, Dian Siswarini, menandatangani nota kesepahaman di Jakarta, Kamis (22/10).

Mufidah Jusuf Kalla, Ketua Umum Dekranas, menyambut baik kerjasama ini, “Apresiasi atas kerjasama untuk pembelajaran, promosi dan pemasaran e-commerce bagi para perajin, dengan memanfaatkan internet dan teknologi bergerak (internet & mobile technology) dari mitra Sisternet dan Elevenia. Pada era saat ini, pemanfaatan internet sangat diperlukan, karena dengan internet dan telekomunikasi digital para perajin dapat langsung mempromosikan dan memasarkan produk kerajinannya, tidak hanya dalam negeri tetapi juga ke luar negeri.”

Sementara itu, Dian siswarini menandaskan, dengan visi pemerintah ke depan, XL telah berkomitmen kuat untuk ikut menyiapkan masyarakat menuju era digital. Kerjasama ini merupakan salah satu implementasi dari visi tersebut, di mana XL dan Elevenia siap untuk memfasilitasi para perajin di berbagai wilayah Nusantara dalam mengenalkan produknya ke pasar yang lebih luas, termasuk agar dikenal hingga ke manca negara.”

Secara lebih detail, kerjasama ini mencakup penyediaan website www.dekranas.id , sosialisasi dan edukasi mengenai e-commerce atau pemasaran secara digital, pemasaran produk kerajinan melalui Elevenia, serta promosi melalui layanan mobile advertising dari XL.

Website www.dekranas.id akan menjadi portal informasi mengenai organisasi Dekranas sendiri, serta berbagai data mengenai perajin serta produk kerajinan yang diproduksi. Dengan adanya website yang lengkap dari sisi informasi, maka masyarakat luas Indonesia dan internasional akan bisa dengan mudah mendapatkan rujukan yang memadai mengenai produk kerajinan asli Indonesia yang berasal dari berbagai daerah. Website www.dekranas.id sudah bisa dimanfaatkan mulai saat ini dalam versi desktop dan mobile.

Selain sebagai wadah informasi, pada website tersebut perajin akan mendapatkan akses untuk mendaftarkan diri dan memamerkan produknya dalam halaman profil para perajin. Halaman ini dapat selalu di-update dan menjadi semacam etalase bagi masing-masing perajin. Dengan demikian, masyarakat akan mendapat informasi mengenai produk kerajinan sekaligus pembuatnya. Selain itu, akan tersedia pula daftar pemasok bahan sehingga memudahkan perajin menghubungi pemasok bahan bakunya.

Sementara itu, program sosialisasi dan edukasi pemasaran digital akan mendapatkan dukungan dari Elevenia dan Sisternet. Agenda dan materi pelatihan yang juga akan bisa diakses di website www.dekranas.id. Dengan demiakian, perajin dari berbagai pelosok daerah akan tetap bisa mendapatkan manfaat edukasi melalui website ini.

Rencana untuk program sosialisasi dan edukasi dimulai di tahun 2016 mengikuti program kerja Dekranas/Dekranas Daerah yang disinkronisasi dengan agenda Elevenia dan program Sisternet. Elevenia akan ikut memberikan pelatihan mengenai pemanfaatan e-commerce sebagai wadah berjualan. Bahkan, perajin sudah bisa mendaftarkan diri menjadi penjual di Elevenia dengan mendaftar melalui situs www.elevenia.co.id. (Icha)

 

Indosat Dukung Daerah Menuju Smart Region

0

Jakarta – Indonesia kini tengah bersiap untuk memajukan daerah dengan membangun infrastruktur ICT yang mumpuni. Dengan kondisi kepulauan di Indonesia, maka jika infratruktur ICT terbangun dengan baik maka setiap daaerah akan saling terhubung. Bukan hanya antara wilayah Indonesia, tetapi juga dengan Dunia. Yang akhirnya, tentu akan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kesejahteraan masyarakatnya.

Indosat adalah salah satu provider yang berkomitmen untuk terus memajukan Indonesia. Yang baru saja dilakukan oleh Indosat sebagai anggota Group Ooredoo adalah berkomitmen untuk turut mendukung kesiapan infrstruktur ICT daerah menuju Smart Region. Dukungan tersebut akan diberikan pada 45 daerah, baik setingkat provinsi, kabupaten dan kota yang menjadi peraih nominasi Indonesia Smart Nation Award (ISNA) 2015.

Dukungan yang diberikan adalah berupa penyediaan IT Services, yaitu Cloud dan Big Data Analysis, serta M2M Solutions. Selain itu, Indosat akan menjadi business partner Citiasia pada ISNA 2015 yang akan memberikan fasilitas paket layanan Close User Group (CUG) dan fasilitas layanan online Pemerintah Daerah melalui internet.org. Layanan CUG akan diberikan gratis selama satu tahun kepada 9 daerah peraih Gold Thropy ISNA 2015 dan Fasilitas layanan online Pemerintah Daerah akan diberikan kepada 45 daerah nominasi ISNA 2015. Melalui internet.org, pemerintah daerah akan mendapatkan beberapa aplikasi yang mendukung pelaksanaan Smart Region secara cuma-cuma.

Group Head Major & Strategic Account Indosat, Feby Sallyanto mengatakan, “Indosat selalu mendukung terwujudnya smart nation yang diawali dengan smart region melalui aset dan teknologi yang kami miliki. Kami berharap fasilitas yang Indosat berikan dapat mempermudah kerja birokrasi dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.”

Kegiatan ini, merupakan komitmen bersama yang dilakuan Indosat bersama dengan Datacomm Diangraha dan Citiasia, Inc. sebagai inisiator Gerakan Indonesia Smart Nation untuk bersama-sama bersinergi membangun daerah percontohan Smart Region (Smart City) di Indonesia.

Berikut adalah daftar wilayah yang akan didukung oleh Indosat untuk membangun infrasruktur ICT dengan tujuan membangun Smart Region:

Kategori kabupaten berukuran kecil

  1. Bintan
  2. 
Muko-muko
  3. Lampung Barat
  4. Tungkup
  5. Polwano

Kategori kabupaten berukuran sedang

  1. Bantul
  2. Badung
  3. Semarang
  4. Gianyar
  5. Boyolali

Kategori kabupaten berukuran besar

  1. Bogor
  2. Sleman
  3. Tangerang
  4. Banyuwangi
  5. Kabupaten Bandung

Kategori kota berukuran kecil

  1. Batu
  2. Pasuruan
  3. Madiun
  4. Blitar
  5. Bontang

Kategori kota berukuran sedang

  1. Surakarta
  2. Yogyakarta
  3. Cimahi
  4. Cirebon
  5. Balikpapan

Kategori kota berukuran besar

  1. Surabaya
  2. Bandung
  3. Semarang
  4. Bekasi
  5. Depok

Kategori provinsi berukuran kecil

  1. Kepulauan Riau
  2. Gorontalo
  3. Kepulauan Bangka Belitung
  4. Bengkulu
  5. Maluku

Kategori provinsi berukuran sedang

  1. Bali
  2. Yogyakarta
  3. Nusa Tenggara Barat
  4. Aceh
  5. Kalimantan Selatan

Kategori provinsi berukuran besar

  1. Jawa Barat
  2. Jawa Timur
  3. DKI Jakarta
  4. Jawa Tengah
  5. Banten  (Icha)

Acumatica Hadirkan Solusi ERP Untuk Indonesia

0

Jakarta – Lewat sebuah tur bertajuk Solution Tour, perusahaan penyedia software ERP, Acumatica mengembangkan sayapnya ke Indonesia.

Di sini, solusi ERP dari Acumatica telah merambah sejumlah sektor, diantaranya bisnis retail, manufaktur serta intelegent bisnis.

Laurent Dedenis, President International Acumatica menyebutkan, “Bisnis di Asia tumbuh dan berkembang dengan pesat di luar wilayah mereka, untuk itu kami hadir memberikan solusi bisnis dan management kelas dunia yang mudah digunakan dan sesuai dengan standar global.”

Lebih lanjut, saat ditemui pada acara konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/10), ia menambahkan bahwa Acumatica juga menawarkan solusi yang fleksibel dan memungkinkan pengguna untuk bekerja dimanapun dan kapanpun.

Sebagai informasi, sejak tahun 2008 Acumatica telah menyediakan solusi manajemen bisnis yang inovatif untuk membantu para vendor software independen lokal untuk membangun dan menciptakan solusi dari permasalahan bisnis yang dihadapi oleh para pelanggan.

Laurent menambahkan, alasan mereka merambah pasar Indonesia adalah karena di Indonesia bisnis sedsng bertumbuh serta banyaknya startup disini yang tentunya memerlukan solusi ERP.

Terkait dengan IoT, mereka mengungkapkan bahwa software Acumatica memang didesain untuk mendukung tren Internet of Things di Indonesia, terkait dengan baiknya kualitas jaringan serta tren yang ada sekarang.

Hal ini dibuktikan dengan memberikan kemudahan bagi para pengguna untuk mengakses software mereka secara lintas platform yakni, peramban desktop, Android apps serta iOS apps.

Mengenai keamanan, pihak Acumatica juga mengklaim dapat memberikan akses yang aman bagi para pengguna dengan mengganti VPN pada browser mereka.

Sementara dalam konteks penyimpanan, meski tidak menyediakan sebuah software khusus bagi para penggunanya, namun Acumatica dapat terintegrasi dengan berbagai layanan cloud seperti private cloud, public cloud ataupun hybrid cloud.