spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1721

Netflix Mulai menindak tegas Pengguna Proxy dan VPN

0

Telko.id – Layanan Streaming Netflix nampaknya sudah mulai geram dengan para pengguna VPN di seluruh Dunia. Perangkat VPN biasanya digunakan untuk membuka berbagai situs yang dilarang oleh pemerintah penyiaran di suatu negara. VPN sejatinya dapat meng unblock batasan akses yang diberikan oleh suatu negara terhadap para masyarakat di negara tersebut.

Di Netflix, biasanya para pengguna menggunakan perangkat seperti Proxy, VPN, dan sejenisnya agar dapat mengakses konten Netflix yang diblokir di negara mereka. Hal ini tentunya akan menghilangkan control yang ada pada pelanggan dan mereka dapat menyaksikan film yang tidak lolos sensor di negara mereka.

Namun, saat ini raksasa streaming itu akan melarang pengguna mereka untuk mengakses layanan Netflix menggunakan proxy ataupun VPN tadi.

Dilansir dari postingan blog, sejatinya layanan mereka kini telah tersedia di banyak negara, hal ini sejatinya para pengguna tidak perlu lagi menggunakan VPN ataupun layanan sejenis.

David Fullagar, VP content delivery architecture Netflix menyebut, “Saat ini konten kami sudah tersedia secara global, maka tak ada lagi alasan untuk menggunakan proxy ataupun unblocker,”

Sekedar informasi, saat ini layanan streaming Netflix sudah menjangkau di lebih dari 130 negara, termasuk Indonesia. Namun tidak semua konten yang tersedia di layanan streaming ini bisa diakses di semua negara.

Contohnya konten yang ada di Netflix Indonesia tentu tak sama dengan konten yang ada di Netflix Amerika Serikat ataupun Inggris. Namun Netflix menjanjikan bahwa mereka berusaha untuk mengatasi hal tersebut.

Juru bicara Netflix juga mengungkapkan kepada reuters bahwa tujuan utamanya adalah untuk memberikan layanan yang hampir sama di seluruh dunia. Menggunakan VPN atau proxy untuk melewati batas secara virtual itu menyalahi aturan penggunaan Netflix karena adanya batasan lisensi serial TV dan Film.

Untuk urusan VPN dan Proxy, sejatinya Netflix tergolong lambat melakukan tindakan. Berbeda dengan layanan sejenis seperti Hulu yang sudah memblokir penggunaan VPN sejak tahun 2014 untuk menghindari adanya pembajakan dari luar Amerika Serikat.

Berbicara mengenai konten yang mereka produksi sendiri, sejatinya Netflix memang secara langsung menyediakan konten tersebut di katalog untuk semua negara. Namun tidak untuk film lain yang tidak memiliki lisensi dan sensor dari suatu negara.

Namun, Netflix belum menjelaskan mengenai skema apa yang akan mereka gunakan untuk menghentikan para pengunjung ‘bandel’ yang masih menggunakan VPN dan Proxy.

Demi Broadband Pedesaan, Gigaclear Sediakan Rp 370 Miliar

0

Telko.id – Salah satu penyedia jaringan broadband tercepat dan paling dapat diandalkan di Inggris, Gigaclear, baru-baru ini mengumumkan bahwa perusahaan telah mendapatkan pinjaman sebesar € 25 juta atau sekitar Rp 370 miliar dari European Investment Bank (EIB) atau Bank Investasi Eropa yang akan digunakan untuk mendanai rencana untuk menggelar serat broadband di 40.000 properti di Inggris tahun ini.

Dilaporkan Totaltele, Jumat (15/1), Gigaclear mengatakan dana tersebut akan mencakup sekitar sepertiga dari investasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek tersebut.

Gigaclear telah menginstal serat untuk 15.000 properti di wilayah pedesaan di Oxfordshire, Essex, Northamptonshire, Berkshire dan Gloucestershire, dan telah mulai mengerjakan 10.000 tambahan lagi. Dikatakan, proyek ini bertujuan untuk mencapai setidaknya 40.000 properti baru selama 2016, namun tidak menentukan lokasinya.

“Ini adalah tingkat dukungan yang luar biasa bagi Gigaclear sebagai sebuah bisnis. EIB jelas memiliki keyakinan terhadap model dan visi kami,” kata pendiri dan kepala eksekutif Gigaclear, Matthew Hare, dalam sebuah pernyataan.

Ia menambahkan, pihaknya telah memperkirakan bahwa 1,5 juta properti di Inggris bisa mendapatkan keuntungan dari layanan perusahaannya dan mereka ingin menjangkau orang-orang secepat mungkin. “Tapi kami bisnis yang padat modal. Jadi pinjaman ini adalah saat yang penting bagi kami dan langkah penting berikutnya dalam strategi ekspansi kami,” tambah Hare.

Gigaclear mengatakan bahwa pinjaman ini adalah salah satu yang terbesar dari jenisnya yang diberikan kepada sebuah perusahaan Inggris.

“Selama lima tahun terakhir Bank Investasi Eropa telah memberikan hampir €12 miliar untuk meningkatkan broadband dan telekomunikasi di seluruh Eropa,” kata Jonathan Taylor, wakil presiden Bank Investasi Eropa.

“Kami sangat senang untuk mendukung kegiatan Gigaclear dalam mendukung target pertama kami untuk komunikasi pedesaan di Inggris,” tambahnya.

Ericsson dan Huawei Perpanjang Paten Lisensi

0

Telko.id – Ericsson dan Huawei telah memperpanjang perjanjian lisensi paten  silang global mereka yang meliputi teknologi nirkabel termasuk GSM, UMTS dan paten LTE  standar.

Sebagai bagian dari perjanjian baru tersebut, Huawei akan membuat pembayaran royalti secara langsung kepada Ericsson berdasarkan penjualan aktual dari 2016 dan seterusnya. Istilah komersial ini belum diungkapkan.

“Kami sangat senang untuk memperpanjang perjanjian lisensi silang global kami dengan Ericsson,” ucap Jianxin Ding selaku kepala global kekayaan intelektual Huawei.

Dilansir dari Telecom Asia, perjanjian baru ini mencerminkan pandangan kedua perusahaan terkemuka tersebut bahwa inovasi dan hak kekayaan intelektual harus dilindungi, dan diberikan kompensasi yang wajar karena pelaksanaan hak kekayaan intelektual sangat penting untuk mempromosikan inovasi teknologi, berbagi dan teknologi standardisasi, mendrive serta mempercepat evolusi industri.

Sementara itu, vendor lainnya yakni Nokia telah menyelesaikan hari pertama operasi gabungan dengan Alcatel-Lucent setelah menyelesaikan merger antara perusahaan. Perusahaan ini telah mengumumkan komposisi dari papan pertama perusahaan gabungan direksi, yang akan melayani ketua Risto Siilasmaa.

Perusahaan juga menegaskan, bahwa tim baru ini termasuk presiden dan CEO Rajeev Suri.

Nantinya, Rajeev Suri akan memberikan posisi presiden jaringan mobile untuk Samih Elhage, presiden jaringan tetap Federico Guillen, presiden IP / jaringan optik Basil Alwan, presiden aplikasi dan teknologi Bhaskar Gorti dan presiden Nokia Teknologi Ramzi Haidamus.

Tahun 2020, Vodafone Australia Hadirkan 5G

0

Telko.id – Vodafone Australia berencana untuk meluncurkan layanan 5G untuk tahap komersialisasi teknologi di tahun 2020, dan berencana untuk membuat awalan dari teknologi ini dan memprioritaskan peluncuran pada tahun depan.

Dalam sebuah wawancara dengan Fairfax Media, CEO Vodafone Hutchison Australia Inaki Berroeta mengatakan prioritas inti perusahaan lain akan meningkatkan kepuasan pelanggan dan meluncurkan rencana ponsel disesuaikan.

Dilansir dari Telecom Asia, rencana peluncuran pada tahun 2020 telah disetujui oleh pemilik bersama Vodafone dan Hutchison Whampoa, dan berencana untuk mempertahankan fokus pada upgrade teknologi dan meningkatkan infrastruktur di Australia.

Prioritas pribadi Berroeta ini termasuk mengurangi tingkat keluhan pelanggan dengan meningkatkan otomatisasi dan mempersiapkan untuk adopsi massa dari National Broadband Network (NBN).

Dia mengharapkan tahun 2018 mendatang menjadi titik balik bagi pasar broadband di Australia sebagai NBN dan mencapai sekitar 10 juta rumah tangga di negaranya.

Vodafone juga sejatinya masih membuka kemungkinan bermitra dengan TPG Telecom yang sudah menyediakan serat untuk menara seluler operator. Jika terjadi, kemitraan ini bertujuan untuk menyediakan layanan broadband melalui jaringan TPG.

Sekedar informasi, beberapa operator besar akan mulai melakukan ujicoba layanan 5G pada 2018 mendatang, seperti beberapa operator di China yang didukung penuh oleh Pemerintahnya. Beberapa operator yang sudah pasti akan menggelar layanan 5G adalah MTS Rusia, SK Telecom Korea, dan bahkan Amerika Serikat yang ‘katanya’ akan mempelopori jaringan generasi kelima ini.

Bagaimana dengan Indonesia, sejatinya di Negara kita belum akan melakukan proses pengimplementasian dan penelitian untuk teknologi jaringan ini. Pasalnya, beberapa operator di Indonesia saja baru menggelar layanan 4G dan masih berfokus pada layanan serta coverage mereka.

Belum lagi permasalahan handset 4G yang ketersediaannya masih sedikit, jika dilihat dari keterjangkauan harga. Serta, Pemerintah masih ingin mengembangkan ekosistem lain berupa Application guna mendukung jaringan 4G. Setidaknya, sebelum tahun 2020, Indonesia belum akan menggelar layanan 5G.

Telkomsel Ragu Network Sharing Berikan Manfaat Bagi Pelanggan

0

Telko.id – Belum juga diterapkan, namun konsep network sharing sepertinya telah lebih dulu dipertanyakan oleh operator. Salah satunya adalah Telkomsel. Raksasa operator Indonesia ini secara tidak langsung mengurai ketidaksepahamannya dengan kebijakan network sharing yang sedang digodok Pemerintah.

Dalam diskusi Percepatan Pita Lebar Indonesia yang Efisien Melalui Kebijakan network sharing, Vice President 4G Telkomsel, Ivan Permana, mengungkapkan bahwasanya pertimbangan ini kurang memberikan manfaat bagi para pelanggan.

“Semakin banyak sharing, kontrolnya akan semakin berkurang. Contohnya, jika ada satu komponen yang rusak, maka coverage sinyal suatu wilayah akan menghilang begitu saja serta SLI ke pelanggan akan semakin sulit di kontrol,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan, terdapat banyak kendala apabila menerapkan network sharing untuk industri telekomunikasi Indonesia.

Bukan hanya itu, keamanan jaringan juga harus dibagi, belum lagi dengan kompleksitas operasional. Namun, Ivan tidak menampik adanya keuntungan dari network sharing, yaitu peningkatan efisiensi dari segi biaya.

Sementara itu, Ivan juga menghimbau para operator agar tidak menurunkan nilai investasi mereka. Pasalnya, dana dari hasil efisiensi ini bisa dialihkan untuk mempercepat proyek pita lebar di Indonesia.

Sekedar informasi, saat ini saja beban pelanggan per BTS di Telkomsel sebanyak 1665 user. Sementara untuk operator di negara-negara maju seperti NTT docomo di Jepang saja hanya melayani 724 user dan sebanyak 573 pelanggan per BTS untuk SK Telecom di Korea Selatan.

“Kalau mempercepat broadband, perlu percepatan pembangunan BTS demi menyamai pelayanan di negara maju,” tambahnya.

Dari sisi regulator, Ivan mengharapkan adanya aturan yang bisa memastikan para pelaku industri terkait, termasuk operator dan vendor infrastruktur. Selain itu, ia juga menginginkan adanya penambahan pembangunan BTS dari operator lain jika kebijakannetwork sharing ini memang benar-benar diterapkan, yang tentunya bertujuan untuk percepatan pita lebar di Indonesia. [ak/if]

Giliran Medan Yang Jadi Sasaran Telkomsel untuk Push Pelanggan 4G

0

Telko.id –  Agar 4G berhasil di Indonesia, memang dibutuhkan terbangunnya ekosistem. Sehingga, investasi yang ditanamkan oleh operator untuk menggelar jaringan berbasis 4G pun tidak percuma. Hanya saja, saat ini masih perlu dilakukan edukasi lebih gencar dan handset yang sesuai agar masyarakat Indonesia mau menggunakan layanan ini. Itu sebabnya, Telkomsel rajin menggelar program di daerah untuk melakukan edukasi ini. Program ini disebut dengan DIGILIFE Festival.

Kali ini, masyarakat Medan yang menjadi ‘sasaran’ Telkomsel. Ajang kreasi digital ini dilakukan untuk memperkenalkan layanan digital lifestyle terkini dan dilakukan sejak Kamis (14/1) hingga Minggu (17/1) di Plaza Medan Fair. Pada event tersebut, dihadirkan berbagai inovasi teknologi terbaru dan keseruan dunia digital Telkomsel.

General Manager Sales Regional Sumbagut Telkomsel, Nurcahyo Priyadi, mengatakan “DIGILIFE Festival kami gelar di Medan, untuk memperkenalkan layanan digital terbaru Telkomsel kepada masyarakat kota Medan. Kami melihat Medan sebagai salah satu kota yang yang aktif menggunakan layanan digital, dan dapat terlihat dari banyaknya gamers dan developers.”

Nurcahyo juga menambahkan bahwa dengan telah beroperasinya layanan Telkomsel 4G LTE di Medan yang menawarkan kecepatan dan kestabilan mobile broadband yang lebih baik, maka hal ini akan membuat pengalaman pelanggan dalam menikmati berbagai layanan digital lifestyle menjadi lebih maksimal. Ke depannya diharapkan tercipta ekonomi digital yang terintegrasi, dimana masyarakat digital Medan mampu benar-benar memanfaatkan layanan digital dari Telkomsel.

Saat ini secara nasional, layanan digital Telkomsel tumbuh sebesar 39% pada kuartal III 2015 jika dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini juga diiringi dengan peningkatan penggunaan layanan data yang naik dengan sangat signifikan yaitu lebih dari 119% dibandingkan tahun 2014.

Adapun pelanggan yang mengunjungi DIGILIFE Festival dapat mencoba sederetan layanan digital Telkomsel, seperti TCASH, LangitMusik, Moovigo, eKado, hingga layanan M2M (Machine to Machine) Telkomsel T-Drive.

Bagi pengunjung yang merasa kreatif dan punya bakat di bidang entertainment, ada berbagai games dan kompetisi menarik, seperti di booth My NSP, dimana pengunjung bisa menciptakan nada sambung pribadi versi sendiri dan bahkan dijual secara komersial. Ada juga Stand Up Comedy & Beat Box competition untuk menunjukkan bakat sekaligus menghibur banyak orang.

Penggemar fotografi atau yang punya cita-cita menjadi reporter, dapat mengikuti Digifest Journal dan Digifest Moment Hunter yang berhadiah smartphone dan kamera. Di Digifest Journal, peserta bisa meliput keseruan yang ada di event Digifest melalui livetweet.

Sedangkan di Digifest Moment Hunter, peserta ditantang untuk memotret momen seru di sepanjang acara.

Di acara ini para gamers bisa membuktikan skill dan strateginya di berbagai kompetisi games yang sedang hits saat ini, seperti Duel Otak, Line Getrich, dan Dota 2 & Point Blank dengan banyak hadiah seru.

Bagi para penggemar otomotif, dapat mencoba teknologi terbaru T-Bike dan T-Drive yang akan memudahkan pelanggan untuk melacak dan mendeteksi kondisi mesin kendaraan. Pengunjung acara juga dapat menjelajahi dunia virtual di booth Oculus dan Mindwave.  Ada juga booth Ekado dan T-Loker yang sangat bermanfaat dimana penggunanya bisa mendapatkan berbagai kupon belanja serta informasi lowongan pekerjaan terbaru.

Selain itu bagi pelanggan yang mengaktifkan layanan digital dengan menghubungi *500*81# dengan melakukan pembelian layanan digital seperti Nada Sambung Pribadi (NSP), voucher games dan LangitMusik MP3 berkesempatan memenangkan hadiah. Untuk setiap pembelian yang dilakukan pelanggan akan mendapatkan kupon yang akan diundi untuk dapat memenangkan hadiah 1 unit Samsung Galaxy S6 Edge, 1 unit Kamera Fuji Film XM1, 4 unit Samsung Galaxy A5, 3 unit Xiaomi Mi4 dan hadiah utama 1 unit Datsun Go. Program UMB Digifest ditujukan bagi pelanggan area Sumatera dan berlangsung hingga 11 April 2016.

Telkomsel DIGILIFE Festival kali ini juga didukung dan melibatkan berbagai komunitas digital dan kreatif di Medan, seperti diantaranya komunitas gamers, photography, video, pendidikan dan automotif. Acara ini juga menghadirkan talkshow dengan judul ‘Peluang Bisnis di Dunia Digital’ dengan pembicara General Manager Digital Lifestyle Marketing Telkomsel Aris Sudewo. (Icha)

Telkomsel Keberatan Infrastruktur Sharing. Kenapa?

0

 

Telko.id – Dari semua operator yang ada di Indonesia, Telkomsel adalah operator yang sangat agresif menggelar jaringan. Maklum saja, dana yang dimiliki banyak dan dengan mudah untuk membangun. Berbeda dengan operator lainnya. Tak heran, Telkomsel merasa keberatan jika infrastruktur sharing ini diberlakukan. Apakah hanya itu? Apa pertimbangan lain sehingga operator nomor satu ini ‘keberatan’.

Menurut Ivan C Purnama, VP Technology & System Telkomsel dalam Focus Group Discussion yang Digelar Kamis, 14 Januari 2016. Dari 10 Negara pengguna selular terbesar, hanya 2 negara yang melakukanActive Network Sharing yakni Brasil dan Rusia. Jika dilihat dari market share di kedua Negara tersebut, tidak ada operator yang dominan. Dan Active Network Sharing tersebut dilakukan antar operator dengan market share yang setara.

Telkomsel juga melihat bahwa tidak ada Negara yang memberlakukan Active Network Sharing di Negara-negara yang memiliki operator yang dominan. “Jadi, tidak ada benchmark yang memadai untuk Indonesia melakukan langkah ini,” ujar Ivan lebih lanjut.

Bahkan, Telkomsel melihat bahwa Active Network Sharing ini tidak memberikan manfaat lebih kepada pelanggan dan Operator. Padahal, untuk mendukung program percepatan pita lebar, efisiensi biaya dari Active Network Sharing harus dialokasi kepada percepatan penggelaran jaringan.

Dalam Rencana Pita Lebar Indonesia (RPI), perlu adanya percepatan pembangunan BTS. Setidaknya dapat menyamai layanan pitalebar seperti di negara-negara maju. Jika dibandingkan dengan Negara lain, di Indonesia atau di Telkomsel satu BTS itu menanggung beban 1665 pelanggan. Sedangkan di Airtel India menanggung beban 1520. Di China Mobile menanggung 984 pelanggan. Di NTT DoCoMo Jepang menanggung sebanyak 724 pelanggan. Dan yang paling longgar adalah di SK Telecom Korea sebanyak 573 pelanggan.

Pada tahun 2019, diharapkan Indonesia untuk Prasarana Perkotaan dapat memenuhi kebutuhan Pitalebar Akses Tetap dapat melayani 71% dengan kecepatan 20 Mbps, di gedung-gedung sudah 100% di cover dengan kecepatan 1 Gbps dan 30% penduduk sudah mampu menikmati layanan pitalebar ini. Untuk Pitalebar akses bergerak sudah mampu melayani 100% dari populasi dengan kecepatan 10 Mbps.

Sedangkan untuk prasarana pedesaan, diharapkan pada tahun 2019 sudah mampu melayani 49% pelanggan rumah tangga dengan kecepatan 10 Mbps dan 6% dari populasi. Untuk Pitalebar akses bergerak, diharapkan sudah dapat dinikmati oleh 52% populasi dengan kecepatan 1 Mbps.

Selanjutnya, Ivan juga menyatakan bahwa Active Network Sharing tidak menjamin kesetaraan dan keseimbangan pembangunan jaringan. Alasannya?

  1. UU RI 36/ 1999 Tentang Telekomunikasi menimbang Point b : bahwa penyelenggaraan telekomunikasi mempunyai arti strategis dalam upaya memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, memperlancar kegiatan pemerintahan, mendukung terciptanya tujuan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, serta meningkatkan hubungan antar bangsa.
  1. Lisensi 3G yang diberikan bersama-sama pada tahun 2006 tidak disertai dengan komitmen pembangunan yang sama untuk semua operator sehingga beberapa operator hanya membangun di daerah-daerah yang menguntungkan saja. Hal ini bertentangan dengan semangat pemerataan pembangunan yang diamanatkan UU. Terlihat adanya kelemahan pada reward dan punishement.

Kebijakan network sharing harus memperhatikan komitmen pembangunan yang merata dan seimbang bukan hanya sekedar efisiensi biaya usaha.

Telkomsel juga melihat bahwa langkah untuk melakukan Active Network Sharing ini hanya berpotensi menghemat devisase besar 0.13-0.27% dari total Impor Indonesia. Sehingga kebijakan Active Network Sharing dengan tujuan menghemat Devisa bertentangan dengan keinginan untuk melakukan percepatan pembangunan pitalebar di Indonesia, di mana saat ini pembangunan BTS Indonesia perlu ditingkatkan.

Sebagai gambaran, untuk total impor komponen network adalah 2,288 juta USD. Sebesar 70% adalah belanja untuk network Telko atau sebesar 1,601.6 juta USD yang digunakan untuk Impor komponen BTS. Sedangkan untuk Network Sharing akan memberikan saving sebesar 30% dari impor komponen BTS atau sebesar 480.5 juta USD.

Namun, jika pun pemerintah tetap mengambil langkah untuk melakukan Active Network Sharing, Telkomsel menyarankan beberapa point agar strategi pemerintah tersebut dapat mencapai Rencana Pitalebar Indonesia atau RPI.

  1. Active Network Sharing tidak ditujukan untuk efisiensi biaya operator dan penghematan devisa, namun harus ditujukan untuk percepatan pembangunan BTS di seluruh pelosok Indonesia dalam bentuk komitmen pembangunan.
  2. Komitmen operator untuk membangun lebih banyak, lebih merata dan seimbang harus seiring dengan efisiensi yang didapatkan.
  3. Penyempurnaan dan pelaksanaan system reward and punishment sehingga operator yang melampaui komitmen mendapatkan insentif lebih.

Menanggapi keberatan dari Telkomsel, pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia tetap akan menjalankan langkah infrastruktur sharing ini. “Jika operator besar ikut maka efisiensi yang diharapkan pemerintah demi manfaat yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia akan lebih cepat. Tapi jika pun tidak, tetap akan tercapai tapi pasti waktunya lebih lama”.

Lebih lanjut, Rudiantara yang sering dipanggil dengan Chief RA tersebut juga mengatakan bahwa Infrastruktur sharing ini nanti nya akan diserahkan pada industry dalam pelaksanannya. Jadi tetap akan mengedepankan aspek bisnis atau B to B. (Icha)

UU Baru Bisa Paksa Apple dan Google Sediakan Akses Backdoor

0

Telko.id -BlackBerry sepertinya tidak akan menjadi satu-satunya perusahaan yang dibuat pusing oleh ulah pemerintah (dalam hal ini Pakistan) yang menginginkan akses backdoor ke informasi pelanggan dan perangkatnya. Dua perusahaan teknoloi asal AS, yakni Apple dan Google, yang sejauh ini telah berhasil memerangi pemerintah dalam hal menolak akses backdoor pun tampaknya harus menuai nasib serupa. Sebuah RUU baru yang sedang diusulkan di New York kemungkinan akan memaksa mereka mengubah pendirian.

Penolakan yang dilakukan Apple dan Google ini sendiri juga sebenarnya bukan tanpa sebab. Ini bukan tentang masalah mereka kooperatif atau tidak dengan pemerintah, melainkan lebih kepada bagaimana akses backdoor pemerintah juga berpotensi menjadi cara bagi orang-orang jahat untuk masuk.

Dilaporkan Ubergizmo, Kamis (14/1), RUU ini pada dasarnya, jika diberlakukan, akan membuat semua perusahaan teknologi wajib memberikan akses backdoor ke perangkat kepada lembaga penegak hukum, serta kemampuan untuk mendekripsi informasi yang mereka cari.

Rancangan undang-undang ini berbunyi bahwa “setiap smartphone yang diproduksi pada atau setelah tanggal 1 Januari 2016, dan dijual atau disewakan di New York, harus bisa didekripsi dan dibuka oleh produsen atau penyedia sistem operasi.” Jika perusahaan atau pembuat ponsel tidak menuruti, maka mereka bisa didenda sampai USD2.500 per perangkat yang melanggar.

Hmm… PR besar tentunya bagi perusahaan sekelas Apple, yang menjual ponsel dalam jumlah jutaan.

Sebelumnya, proposal serupa telah banyak dibuat di negara-negara seperti Inggris dan China. Sementara pemerintah Belanda, justru memilih rute sebaliknya, yakni menginginkan enkripsi yang lebih kuat.

Saat ini undang-undang tersebut baru sebatas rancangan dan belum diberlakukan, sehingga selalu ada kemungkinan bahwa hal ini mungkin saja tidak akan pernah terjadi.

Brazil Terus Alami Penurunan Jumlah Pelanggan Ponsel

0

Telko. id – Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, Brazil tak bisa dipungkiri lagi telah sejak bertahun-tahun lalu menjadi negara dengan potensi pasar yang sangat besar, khususnya di sektor telekomunikasi. Pada akhir tahun 2008 saja, jumlah pengguna ponsel di negara tersebut telah menembus angka 150 juta, meningkat 24,52 persen dibandingkan dengan akhir tahun 2007. Sementara pada akhir Juni 2009, jumlah pengguna mencapai hampir 160 juta. Nah, bagaimana dengan sekarang?

Menurut angka yang diterbitkan oleh Badan telekomunikasi Nasional (Anatel), Brazil mengakhiri November 2015 lalu dengan 269.59 juta pengguna selular aktif dan tingkat penetrasi 131,5 persen. Ini merupakan penurunan 1,53 persen dari bulan Oktober dan 3,87 persen dibanding bulan November 2014.

Dilansir dari Telecompaper, Kamis (14/), ini adalah bulan keenam berturut-turut negara tersebut mengalami penurunan dalam jumlah pengguna ponsel. Alasannya adalah, banyak operator telah memperketat kebijakan kredit mereka dan memutus pengguna tidak aktif atau mereka yang tidak membayar.

Dari total pelanggan, 196.61 juta adalah pelanggan prabayar (72,93%) dan 72.98 juta adalah pasca bayar (27,07%). Vivo (Telefonica Brasil), dalam hal ini tetap bertahan sebagai pemimpin pasar dengan 79.49 juta pelanggan atau 29,49 persen dari total (dibandingkan dengan 29% pada bulan Oktober). Di posisi kedua, TIM Brasil unjuk gigi dengan 69.3 juta dan 25,7 persen pangsa pasar (26,26%). Diikuti oleh Claro (kelompok America Movil) yang memiliki jumlah pelanggan 67.37 juta dan 24,99 persen pangsa (25,2%), Oi dengan jumlah pelanggan 49.2 juta dan 18,25 persen pangsa, serta Nextel yang memiliki 2,5 juta pelanggan dan 0,93 persen pangsa pasar (0,9%).

Dalam hal teknologi akses, 2G/GSM turun dari 77,0 juta pengguna pada bulan Oktober menjadi 76.26 juta pada bulan November; 3G juga turun dari 159.4 juta pengguna pada bulan Oktober menjadi 156.4 juta pada bulan November; sedangkan 4G/LTE tumbuh dari 20.45 juta pengguna pada bulan Oktober menjadi 22.58 juta pada bulan November.