spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1712

Trend Smartphone 2016 di Indonesia

0

Telko.id – Dua tahun lalu, brand lokal atau sering disebut juga merek nasional, begitu gembar-gembor beriklan. Terutama di televisi. Namun, 2015, gegap gempita nya surut. Bahkan semakin ‘sepi’. Jika kita belajar dari Nexian, yang cukup singkat berada di posisi atas, merek lokal seperti Evercoss, Advan pun jika tidak hati-hati akan mengalami hal yang sama.

Merek lokal, memang tidak bisa diremehkan sumbangsih nya pada industri telekomunikasi di Indonesia. Mereka lah yang ‘berjibaku’ di segmen menengah bahkan bawah. Merek lokal lah yang mampu menjadi solusi ketika brand global ‘enggan’ berjualan smartphone murah. Terutama bagi konsumen yang ingin berpindah dari feature phone ke smartphone. Pasalnya, ketika ingin langsung ‘loncat’ ke brand global, kondisi keuangan tidak memungkinkan. Jadi, wajar, brand lokal menjadi pilihan.

Sayangnya, ternyata pilihan ke merek lokal itu tidak ‘sepanjang masa’. Artinya tidak loyal terhadap merek lokal. Jadi, konsumen sudah pernah merasakan pengalaman menggunakan smartphone pertama kali dan saat itu sesuai dengan kantong mereka, maka ketika akan ganti smartphone maka yang menjadi impian adalah merek global. “Konsumen juga ingin naik kelas. Itu sebabnya, brand global menjadi incaran,” ujar Tan Lie Pin, Direktur Utama Tiphone Mobile Indonesia menjelaskan. Hal itu yang membuat merek global tetap mendapatkan hati di masyarakat Indonesia.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh TiPhone, yang salah satu anak perusahaan nya adalah berkecimpung di distribusi device, global brand yang menjadi impian tetap Samsung. Brand asal Korea ini memang memiliki range produk yang sangat lebar sehingga banyak pilihan bagi konsumen ketika akan mengganti smartphone nya. Ini, salah satu keunggulan dan brand global.

Lalu, brand global lain yang masih ada peminat adalah Asus dan Lenovo. Namun, kedua merek ini tidak stabil permintaan pasarnya. Hanya akan terjadi lonjakan permintaan ketika sedang terjadi promo atau menurun harga. Namun, ketika sudah kembali normal, akan ditinggalkan dan konsumen akan kembali mencari Samsung.

Di luar itu, seperti BlackBerry, HTC dan Sony sudah sangat berat menghadapi kondisi persaingan yang begitu berat di device ini. Yang ada peluang cukup besar adalah Huawei. Hanya saja, perlu mengubah cara pandang pemasaran device yang akan dilakukan langsung ke pasar. Tidak lagi melalui operator yang memang ‘jago’ nya Huawei. Nah, jika tidak maka, akan sulit Huawei akan muncul di benak konsumen dan menjadi pilihan ketika akan mengganti smartphone nya.

Brand lokal semakin ‘terpuruk’ karena brand global pun mulai merangsek ke level smartphone murah. Ke level, di mana beberapa tahun belakangan ini menjadi lapangan bermain para brand lokal. Yakni, dilevel harga di bawah Rp.1 jutaan. Sebenarnya, kondisi ini sudah terjadi di 2015 lalu, tapi tahun ini pun masih akan terjadi.

Kondisi ini, tidak akan pernah selesai. Jadi, merek lokal harus terus berhitung dan berinvestasi agar mampu bertahan dalam ‘tekanan’ pasar tersebut. Sebab, ketika brand lokal sudah ‘kehabisan’ amunisi menjadi sangat fatal dan akan berbuntut pada kehancuran dari brand tersebut. (Icha)

 

 

Dapat lampu Hijau, BT Tinggal Selangkah Lagi ‘Genggam’ EE

0

Telko.id – Keinginan perusahaan telekomunikasi raksasa asal Inggris, British Telecom untuk mengakuisisi EE akhirnya kesampaian juga, setelah Regulator Persaingan dan Pasar atau Competition and Markets Authority (CMA) memberi lampu hijau atas niatannya. Prosos ini diperkirakan akan selesai pada 29 Januari mendatang.

CMA memberikan lampu hijau kepada BT – yang mengambil alih EE dengan £12.5 miliar – setelah penyelidikan panjang mengenai bagaimana perjanjian ini akan mempengaruhi lanskap kompetitif, yang berlangsung selama 10 bulan.

Niat BT untuk membeli EE sendiri dimulai pada awal tahun 2015 lalu, disusul penyelidikan CMA terkait apakah kesepakatan baru ini akan membahayakan persaingan di sektor ini atau tidak, yang berarti konsumen akan mendapatkan kesepakatan yang tidak adil.

Namun, disimpulkan bahwa sementara BT memang memiliki minat yang kecil sebagai penyedia mobile, dan memiliki peran yang kuat dalam transmisi sinyal untuk sejumlah jaringan, menjadi salah satu dari ‘empat besar’ jaringan selular di Inggris tidak akan memiliki dampak yang signifikan dalam peran ini.

Kesepakatan ini akan tuntas dalam beberapa minggu ke depan, dengan 29 Januari tercatat sebagai waktu penyelesaian kesepakatan, di mana CEO lama EE , Olaf Swantee akan mundur untuk digantikan oleh Marc Allera, COO saat ini.

Sebagai hasilnya, lanskap ponsel di Inggris juga akan berubah, dengan BT dalam posisi untuk menawarkan layanan digital yang lebih luas di seluruh broadband, TV dan mobile untuk lebih banyak paket ‘end-to-end’ kepada konsumen.

Singkat kata, segala sesuatunya akan berubah dalam ranah jaringan selular Inggris menyusul merger dan akuisisi ini, yang disinyalir dapat memberikan kekuatan lebih dalam menawarkan produk yang lebih baik kepada konsumen.

Di Inggris sendiri, saat ini yang akan menjadi pesaing BT/EE adalah tiga operator besar lainnya, yakni Tri, O2 dan Vodafone. Demikian diwartakan TechRadar, Senin (18/1).

 

Jika Tepat Sasaran, e-commerce Indonesia Bisa Capai USD 130 Miliar pada 2020

0

Telko.id – Kominfo, sebagai pihak regulator telah menetapkan roadmap e-commerce sebagai program nasional dari kementrian. Hal tersebut tergambar dari tiga keputusan yang ditetapkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian baru-baru ini. Adapun bunyi keputusan itu adalah sebagai berikut:

  1. Formalisasi petajalan (roadmap) e-commerce dan penetapannya menjadi program nasional yang akan diluncurkan akhir Januari 2016 ini.
  2. Penunjukan PMU (Program Management Unit) yang akan mengkoordinasikan kementerian/lembaga dalam implementasi petajalan dan memantau perkembangan (progress) dari masing-masing inisiatif di kementerian/lembaga lembaga terkait.
  3. Rencana peluncuran resmi Petajalan e-commerce Indonesia sebagai program Nasional di akhir bulan Januari 2016.

Keputusan itu merupakan hasil dari rapat koordinasi yang diadakan oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution dan dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara; Menteri PPN, Sofyan Djalil; Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro; Menteri Perdagangan, Thomas Lembong; Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf; dan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas. Rapat juga dihadiri oleh pejabat-pejabat eselon 1 dan eselon 2 dari kementerian/lembaga terkait serta wakil Asosiasi e-commerce Indonesia (idEA), PT. Pos Indonesia, dan Wakil Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Asperindo.

Formalisasi ini merupakan proses panjang yang telah dimulai sejak diinisiasi pada bulan Desember 2014 lalu. Petajalan e-commerce merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI agar Industri e-commerce di Indonesia dapat tumbuh dengan manfaat yang dapat menetap di Indonesia.

Inisiatif pembuatan petajalan ini sendiri merupakan arahan hasil Rapat Koordinasi Pertama  tanggal 6 Maret 2015, yang dipimpin oleh Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil.

Petajalan berbasis pemikiran bahwa e-commerce nasional akan maju apabila dilakukan inisiatif-inisiatif sebagaimana yang dilakukan oleh negara lain yang telah maju e-commerce-nya, seperti China dan Amerika Serikat. Petajalan e-commerce kemudian disiapkan dengan dibantu oleh konsultan kelas international terkemuka di dunia, yakni Ernst & Young, yang kemudian bekerja dengan sistematis dan komprehensif dalam memfasilitasi berbagai kementerian dan lembaga serta berbagai stakeholder terkait.

Fase-fase tersebut meliputi: Preliminary guideline kepada kementerian dan lembaga serta stakeholder terkait menjelaskan potensi e-commerce nasional dan bagaimana e-commerce dapat berkembang di negara lain.

Lokakarya e-commerce dilaksanakan pada tanggal 10 April 2015 untuk menggali potensi e-commerce ke depan. Hasil dari Lokakarya ini adalah kompilasi hal-hal yang menjadi inisiatif dan usulan-usulan untuk memajukan e-commerce nasional dari berbagai kementerian, lembaga dan stakeholder yang terkait.

Lokakarya tersebut mengembangkan 6 (enam) area atau problem yang bersifat cross-cutting (lintas stakeholder) secara fungsional, yaitu pendanaan (funding), perpajakan (tax), perlindungan konsumen (consumer protection), infrastruktur telekomunikasi (communication infrastructure), logistic, pendidikan dan sumber daya manusia.

Di samping itu pengembangan e-commerce juga menerapkan 5 (lima) prinsip dasar dalam implementasinya, yakni:

  1. Seluruh warga Indonesia harus diberi kesempatan untuk mengakses dan melakukan transaksi e-commerce.
  2. Seluruh warga Indonesia harus dilengkapi dengan keahlian dan kemampuan untuk memanfaatkan keuntungan dari ekonomi informasi.
  3. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) harus diminimisasi selama proses transisi menuju ekonomi internet dan tambahan lapangan pekerjaan bersih harus positif setelah dikurangi oleh dampak penghancuran kreatif (creative destruction).
  4. Kerangka hukum yang jelas harus diterapkan untuk menjamin industri E- Commerce yang aman dan terbuka, termasuk di dalamnya netralitas teknologi, transparansi, dan konsistensi internasional.
  5. Pemain nasional, terutama start-up dan UKM, harus dilindungi dengan sebaik- baiknya. Bisnis lokal dan pertumbuhan industri nasional harus menjadi prioritas utama.

Dari hasil eksplorasi berbagai stakeholder yang meliputi 6 (enam) area/problem dan menggunakan 5 (lima) prinsip dasar di atas, dihasilkan lah sebanyak 31 inisiatif yang bersifat crosscutting antar-kementerian, lembaga dan stakeholder lainnya.

Apabila ke-31 inisiatif tersebut diimplementasikan secara disiplin dan tepat waktu serta tepat sasaran, maka diperkirakan nilai transaksi akan mencapai USD 130 miliar pada tahun 2020 dengan syarat implementasi harus sudah dimulai akhir Januari 2016 ini. Demikian keterangan resmi dari Kominfo, Senin (16/1). [ak/if]

Thailand Segera Memulai Proyek Broadband Nasional

0

Telko.id – Pemerintah dan regulator Thailand akan segera memulai proyek broadband nasional, dan telah menetapkan tujuannya dengan menyediakan koneksi ke 70.000 desa di Thailand pada tahun 2016 ini.

Menurut laporan Nation, regulator NBTC dan kementrian ICT telah mengalokasikan anggaran awal untuk proyek ini mulai dari 38 miliar baht atau setara USD1.05 miliar.

Dari jumlah tersebut, sekitar 20 miliar baht akan disediakan oleh kementerian ICT, yang baru-baru ini mendapatkan keuntungan dari hasil lelang spektrum 4G. Sementara sisanya, yakni 18 miliar baht, akan diambil dari dana universal service obligation (USO) milik NBTC.

Dilansir dari Telecom Asia, Senin (18/1), jaringan ini akan terdiri dari akses poin nirkabel dan fixed broadband. Prioritas lain adalah untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kecepatan koneksi di 27.000 desa yang saat ini terjangkau internet.

Sebagai awalan, Kementrian akan  berfokus pada pelaksanaan akses fixed broadband dan nirkabel di 40.000 desa dan melaksanakan gateway internet baru.

Dalam lima tahun ke depan, jaringan akan diperluas ke lokasi kunci termasuk pusat kesehatan masyarakat, sekolah dan tempat pemerintah selama lima tahun ke depan.

Pemerintah Thailand tampaknya sudah sangat siap dalam menyelenggarakan layanan fixed broadband. Sama halnya dengan di Indonesia, dimana Menkominfo Rudiantara pun mengagendakan pembangunan fixed broadband pada tahun ini. [ak/if]

Tersandung Korupsi, ZTE Masuk Daftar Hitam Bank Norwegia

0

Telko.id – Vendor Telekomunikasi raksasa asal China menjadi perusahaan pertama yang masuk dalam daftar hitam Norges Bank. Hal ini tak lain dikarenakan kasus korupsi.

Manajemen Investasi Norges Bank, yang juga merupakan manajemen investasi milik negara yang terbesar di dunia, telah memutuskan untuk menjual sahamnya pada raksasa telekomunikasi China,  ZTE Corporation dan memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar hitam atau mem-blacklist-nya dari investasi masa depan karena korupsi. ZTE adalah perusahaan pertama yang masuk ke dalam daftar hitam oleh Norges Bank dengan alasan korupsi.

Dilansir dari IR Magazine, Senin (18/1), Manajer dari Norwegia telah menyelidiki ZTE dan memilih untuk tidak menggunakan hak kepemilikannya untuk menekan perubahan pada vendor jaringan ini. Sebaliknya, mereka justru menjual sahamnya yang bernilai USD 9.4 miliar yang merupakan 0,15 persen dari hak suara ZTE.

Norges Bank mencatat, sekitar puluhan perusahaan masuk ke dalam daftar hitam Norges Bank. Perusahaan tersebut memiliki masalah, seperti produksi tembakau, pelanggaran hak-hak individu, produksi ranjau darat dan alasan lainnya. Dalam daftar hitam kali ini,  ZTE menciptakan sub kategori baru untuk ‘korupsi kotor’ yang datang di bawah tindakan atau kelalaian yang merupakan risiko yang tidak dapat diterima.

Norges Bank telah memutuskan untuk membuat pengecualian terhadap ZTE Corporation, dari semua investasi, termasuk Dana Pensiun Pemerintah global. Hal ini dikarenakan perusahaan dianggap telah melakukan korupsi yang parah dan dapat merugikan pihak lainnya.

Penyelidikan ZTE mengungkapkan bahwa perusahaan menghadapi tuduhan korupsi di 18 negara, termasuk Filipina, Myanmar dan Nigeria, dan kini sedang diselidiki setidaknya di 10 negara, menurut pernyataan dari dewan Norges Bank. ZTE dilarang mengikuti tender publik dan didenda di Aljazair untuk dugaan korupsi.

Dalam hubungannya dengan kasus korupsi sebelumnya dan fakta bahwa perusahaan beroperasi di sektor dan di banyak negara terkait dengan risiko tinggi korupsi, temuan ini menunjukkan bahwa ada risiko yang tidak dapat diterima bahwa perusahaan mungkin sekali lagi terlibat dalam korupsi kotor.

ZTE sendiri merupakan perusahaan jaringan yang cukup berkembang di berbagai negara, khususnya Asia. Di Indonesia sendiri, ZTE beberapa waktu lalu menggelar pembicaraan mengenai 5G serta menghadirkan beberapa alat penunjang 5G. Namun hal ini belum ditanggapi serius oleh beberapa stakeholder di Indonesia, karena dianggap masih terlalu dini. [ak/if]

Di Eropa, Perusahaan Bisa Pecat Karyawan karena Yahoo Messenger

0

 

Telko.id – Kabar buruk bagi karyawan yang suka mengisi waktu dengan ber-chatting ria via Yahoo Messenger, khususnya mereka yang tinggal di Eropa. Pasalnya, Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) telah memutuskan bahwa perusahaan diperbolehkan untuk memantau aktivitas Internet karyawan, termasuk chatting online, asalkan mereka telah diperingatkan sebelumnya bahwa penggunaan sumber daya perusahaan untuk kepentingan pribadi dilarang.

Ini adalah hasil dari kasus yang dibawa oleh seorang insinyur Rumania, Bogdan Bărbulescu, yang dipecat karena menggunakan akun Yahoo Messenger perusahaan untuk chatting dengan tunangan dan saudaranya.

Bărbulescu yang merasa keputusan pemecatan ini tidak adil, dan telah mencederai haknya untuk berkorespondensi dan memiliki kehidupan pribadi membawa kasus ini ke ECHR, setelah pengadilan domestik Rumania dianggap telah gagal dalam melindungi haknya.

Insinyur ini berargumen bahwa “perangkat lunak Yahoo Messenger pada dasarnya dirancang untuk penggunaan pribadi dan bahwa sifat layanan pesan instan ini telah memberinya hak untuk berharap bahwa komunikasinya akan bersifat pribadi. Jika ia tidak mengharapkan privasi, ia akan menahan diri dari mengungkapkan informasi intim.”

Namun, ECHR mencatat dalam keputusannya bahwa larangan untuk menggunakan komputer perusahaan dan sumber daya untuk keperluan pribadi telah diberikan oleh perusahaan. Selain itu, pengadilan menemukan bahwa “sah-sah saja bagi perusahaan untuk memastikan bahwa karyawan menyelesaikan tugas-tugas profesional mereka selama jam kerja.”

Fakta bahwa karyawan telah diberitahu bahwa ia tidak diizinkan untuk menggunakan sumber daya perusahaan untuk keperluan pribadi memainkan peran besar dalam keputusan ini. Itu berarti, Bărbulescu tidak bisa mengklaim itu adalah pelanggaran hak asasi manusia ketika perusahaan memeriksa apa yang dia lakukan. Selain itu, bukti menunjukkan bahwa ia sebenarnya telah menggunakan akun Yahoo Messenger perusahaan untuk hal-hal pribadi, melanggar peraturan internal perusahaan, yang membuat pemecatannya sah.

Elemen kunci di sini tampaknya adalah peringatan sebelumnya bahwa penggunaan pribadi dari sumber daya perusahaan tidak diizinkan. Setelah itu disampaikan, perusahaan kemudian dapat memonitor setiap sumber daya tersebut untuk memeriksa bahwa karyawan tidak melanggar aturan.

Mengingat keputusan ini telah dikeluarkan oleh ECHR, yang tak lain merupakan pengadilan hak asasi manusia tertinggi di Eropa, maka putusan ini bukannya tidak mungkin dapat mempengaruhi hampir setiap negara di Eropa (kecuali Belarusia dan Kosovo). Demikian dilaporkan Ars technica, Senin (18/1).

Huawei Bawa 4.5G ke Singapura

0

Telko.id – Operator M1 dan Huawei Singapura telah mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kecepatan puncak untuk download di jaringan 4G melebihi 1Gbps selama pengujian di lab uji LTE-A M1.

Pada demo ini juga tercatat bahwa kecepatan puncak untuk upload mencapai lebih dari 130Mbps. Hal ini sekaligus menandai pertama kalinya Huawei dan mitranya, yakni operator telah mencapai kesuksesan dalam hal kecepatan download dan upload dalam pengujian tersebut.

Dilansir dari Telecom Asia, pengujian ini dilakukan dengan menggunakan hardware komersial dari Huawei serta prototipe perangkat 4G LTE-A  CAT14.

Dalam pengujian ini juga, perusahaan terintegrasi oleh empat teknologi jaringan canggih, diantaranya tiga komponen carier agreggation, dua komponen carrier uplink aggregation, 4×4 MIMO dan modulasi yang lebih tinggi dari modulasi 256 quadrature amplitude modulation (QAM).

Sementara itu, CTO M1, Denis Seek menyebutkan bahwa demonstrasi ini menunjukkan bahwa industri akan dapat lebih mengembangkan kemampuan teknologi 4G sebelum munculnya 5G.

“Dengan lebih banyak pelanggan meng-upload dan berbagi konten di media sosial dan saluran lain, adalah hal yang sama pentingnya bagi kami untuk dapat memberikan kecepatan upload lebih tinggi. Untuk alasan ini, kami juga menguji teknologi guna memberikan kecepatan upload seluler yang meningkat. Tujuannya tentu saja agar memastikan bahwa kami dapat memenuhi harapan mereka,” katanya.

Presiden jaringan LTE Huawei, Wan Juni menambahkan bahwa kegiatan ini menandai awal dari era 4.5G di Singapura. [ak/if]

Perluas Jejak di Asia, Axiata Group Rekrut 3 Bos Baru

0

Telko.id – Axiata Group belum lama ini menunjuk tiga eksekutif senior untuk memperkuat tim manajemen mereka. Hal tersebut dikarenakan mereka ingin memperluas jejak di Asia dan juga sebagai sebuah upaya untuk meningkatkan efisiensi di seluruh Group.

Hans Wijayasuriya, CEO Dialog di Sri Lanka, mengambil peran tambahan sebagai CEO regional untuk Axiata Group karena perusahaan ingin memperluas ‘kekuasaan’ di seluruh Asia Selatan. Operasinya mencakup wilayah Dialog, Robi di Bangladesh, Idea di India dan Ncell di Nepal.

Nama berikutnya adalah Dominic Arena, sebelumnya Arena menjabat sebagai direktur Penasehat AEC. Dia di sini menggantikan René Werner, yang telah memegang peran ganda sebagai petugas strategi utama untuk Axiata Group dan untuk Celcom di Malaysia dan kini akan fokus sepenuhnya pada Celcom.

Nama ketiga adalah Mohd Asri Hassan yang diangkat menjadi kepala kelompok operasi bisnis dengan fokus pada peningkatan kinerja unit bisnis baru Axiata, yakni Qorus Alliance. Selain itu, ia juga akan mengelola operasi kinerja perusahaan dan mengkoordinasikan upaya perluasan Group.

Sekedar informasi, Wijayasuriya bergabung sebagai pendiri tim manajemen Dialog pada tahun 1994 dan telah menjadi CEO Dialog sejak tahun 1997. Dia juga menjabat sebagai CEO dan founder untuk Layanan Digital Axiata pada 2012-2014 dan terus melayani dewan unit bisnis dan beberapa anak perusahaan ventura digital mereka.

Sementara Arena memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di industri telekomunikasi. Sebelum AEC, Ia sempat menjabat sebagai seorang managing partner di sebuah perusahaan penasehat strategis dan perusahaan yang berbasis di Singapura. Ia juga sempat menjadi direktur di KPMG Advisory.

Nama terakhir, yakni Hassan sebelumnya memegang peran sebagai mitra strategis Capital Partners, yakni sebuah perusahaan ekuitas swasta yang didirikan di Asia Selatan. Dia memiliki pengalaman lebih dari 27 tahun di ranah IT dan industri telekomunikasi dan sempat menjabat sebagai country president Motorola Malaysia pada periode 2006-2008.

Dilansir dari Mobile World Live, Senin (17/1), CEO Axiata Group, Jamaludin Ibrahim mengklaim bahwa saat ini hampir satu dekade pembangunan kepemimpinan di Axiata Group. Ia pun menyebut, bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk merekrut para profesional industri berkaliber tinggi untuk mengemban posisi pimpinan di Axiata Group.

Jika di Axiata Group terjadi perombakan kepemimpinan, bagaimana dengan anak perusahaan mereka di Indonesia? Well, kita tunggu saja perubahan apa lagi yang dihadirkan Axiata Group di anak perusahaannya di Indonesia. [ak/if]

Amankan IoT dari Penjahat Siber, Ini Cara WISeKey & Kaspersky Lab

0

Telko.id – Salah satu perusahaan keamanan internet, yakni WISeKey, hari ini mengumumkan kerjasamanya dengan Kaspersky Lab untuk memerangi penjahat siber di wearable devices. Kemitraan baru ini akan memberikan perlindungan ekstra bagi wearable devices yang diprediksi akan banyak digunakan sebagai bentuk pembayaran mobile dan nirkontak.

Dengan jam tangan pintar, pelacak kesehatan (fitness tracker) dan gelang pembayaran (payment wristbands) diprediksi menjadi salah satu satu dari lima metode transaksi pembayaran mobile pada tahun 2020 – sekitar US$500 juta per tahun – maka tidak bisa dihindari jika mereka akan menjadi target yang berkembang untuk serangan siber.

“Kerjasama antara WISeKey dan Kaspersky Lab merupakan terobosan baru di bidang keamanan siber bagi IoT. Kombinasi kepercayaan dan kenyamanan yang nantinya ditanamkan pada wearable devices akan menjadi pembuka pintu bagi implementasi di sektor lain, di mana pendekatan yang sama dapat mendukung berbagai aplikasi IoT lainnya,” ungkap Carlos Moreira, CEO WISeKey.

Kedua perusahaan mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan teknologi yang akan menggabungkan otentikasi serta enkripsi data ke dalam wearable devices sehingga memungkinkan peralatan ini untuk terhubung, berkomunikasi dan bertukar data keuangan dengan aman.

Interaksi antar perangkat dipastikan akan mengubah lanskap bisnis dan konsumen. Pasar bagi wearable device yang terkoneksi sendiri diperkirakan akan tumbuh sebesar 35 persen per tahun. Namun, yang mengkhawatirkan adalah masih banyaknya perangkat terkoneksi serta lalu lintas data pada perangkat ini yang tidak terlindungi, dan hal ini menjadi permasalahan yang cukup serius mengingat kebanyakan dari mereka digunakan untuk melakukan pembayaran.

Produsen jam tangan premium, seperti Bulgari, bahkan sudah mengintegrasikan perangkat lunak keamanan milik WISeKey yang sudah dipatenkan, WIS.WATCH ke dalam jam tangan pintarnya. Hal ini memungkinkan pelanggan dapat dengan aman mengidentifikasi dan mengotentikasi perangkat mereka, sehingga dapat menghubungkannya ke perangkat lain seperti smartphone serta untuk mengakses aplikasi, data pribadi dan penyimpanan awan yang aman.

Dengan kemitraan baru ini, teknologi software development kit (SDK) untuk perangkat mobile dari Kaspersky Lab akan disertakan ke dalam solusi ini, menambahkan lapisan keamanan ekstra dan menjadi pelopor pembayaran mobile yang aman.

“Kita hidup di dunia yang benar-benar terkoneksi. Tapi karena jumlah perangkat terkoneksi ini terus bertumbuh, begitu juga jumlah ancaman. Dan sayangnya ada jutaan perangkat terkoneksi, yang aktif digunakan saat ini, memang tidak dirancang untuk menjadi aman,” sambung Eugene Kaspersky, CEO Kaspersky Lab

Ia menambahkan, seharusnya, segi keamanan juga dibangun sejak awal. “Ada kebutuhan mendesak untuk membangun dan menerapkan tingkat keamanan yang lebih tinggi untuk perangkat IoT, dan kami merasa senang bisa bekerja sama dengan WISeKey dalam pengembangan solusi tersebut,” pungkasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (15/1).

Solusi kolaboratif ini akan berdasarkan ‘Cryptographic Root of Trust for IoT’ dan teknologi NFCTrusted milik WISeKey. Dengan keduanya, teknologi ini menjamin keaslian, kerahasiaan dan integritas transaksi online.Cryptographic Root of Trust for IoT telah dipasang di lebih dari 2,6 miliar desktop, browser, perangkat mobile, sertifikat SSL dan perangkat terkoneksi.

Trikomsel Masih Jadi Raja Retail

0

 

Telko.id – Trikomsel setelah beberapa tahun belakangan ini begitu cemerlang nama nya, tersandung masalah keuangan. Awal Januari 2016, akhirnya saham perusahaan ini di suspen atau dihentikan sementara perdagangannya mulai Rabu (6/1/2016)

Kepala Penilaian Perusahaan BEI Kristian Manullang menuturkan, suspensi dilakukan untuk menghindari perdagangan yang tidak wajar atas efek Perseroan. Suspensi dilakukan mulai sesi pertama perdagangan saham Rabu pekan ini hingga pengumuman lebih lanjut.

Suspensi juga dilakukan mempertimbangkan Surat PT Trikomsel Oke Tbk Nomor 110/CST-TRIO/2015 pada 28 Desember 2015 soal Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Trikomsel Oke Tbk dan Surat Perseroan Nomor 001/CST-TRIO/2016 pada 4 Januari 2016 perihal penyampaian penjelasan terkait PKPU.

Kondisi yang dialami oleh Trikomsel ini diharapkan tidak terus berkelanjutan. Pasalnya, jika sampai terjadi hal terburuk, misalnya, tutup maka secara industri telekomunikasi juga akan terganggu. Bagaimana tidak, Trikomsel memiliki asset yang sangat dibutuhkan oleh industri telekomunikasi yakni retail shop yang cukup banyak. Terakhir, jumlah retail shop dengan brand Oke shop dan Global Teleshop masih berada di angka 700 outlet. Saat ini, tidak ada distributor yang memiliki jumlah retail shop dengan jumlah yang ratusan. Tentu hal ini akan mengganggu aliran ponsel di Indonesia.

Saat ini, memang Trikomsel tidak memiliki kerjasama secara langsung dengan vendor ponsel. Tetapi dengan jumlah retail yang begitu besar menjadi jalur distribusi bagi para distributor lain untuk menyalurkan ponsel ke seluruh pelosok Indonesia. Hal ini, yang kemudian coba terus dijalankan oleh Trikomsel dalam kondisi sulit ini. “Pokoknya jumlah pengambilan ponsel tidak banyak. Cukup saja untuk stok di toko,” ujar salah satu pegawai Oke Shop yang tidak mau disebutkan namanya menjelaskan.

Menurut Susanto susilo, pengamat industri telekomunikasi, satu-satunya jalan keluar agar Trikomsel ‘selamat’ adalah dengan mencari investor baru. Apakah investor dari dalam negeri? Rasanya tidak karena dana yang dibutuhkan oleh Trikomsel cukup besar. Setidaknya, agar mampu berjalan dengan baik lagi, Trikomsel membutuhkan dana setengah dari hutang yang dimilikinya.

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan ke BEI, PT Trikomsel Tbk mencatatkan liabilitas jangka pendek mencapai Rp 3,8 triliun pada 30 September 2015 dari periode 31 Desember 2014 sebesar Rp 3,26 triliun. Utang jangka panjang mencapai Rp 3,67 triliun pada 30 September 2015.

Utang bank jangka pendek perseroan antara lain pinjaman ke PT Bank Negara Indonesia Tbk mencapai Rp 1,08 triliun dan PT Bank Mandiri sebesar Rp 476,28 miliar.

Lebih lanjut Susanto juga menjelaskan bahwa saat ini jika bicara tentang Raja Voucher, Telesindo rajanya. Erajaya adalah Raja Distribusi sedangkan Trikomsel masih menjadi Raja Retail Shop. Tidak ada distributor lain yang memiliki asset retail shop sebanyak Trikomsel. Itu sebabnya, Susanto yakin bahwa Trikomsel akan tetap bisa survive. (Icha)