spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1708

Oracle Bawa Solusi di Indonesia

0

Telko.id – Bersamaan dengan perkenalan Country Managing Director untuk Indonesia yang baru, Oracle juga memperkenalkan strategi solusi cloud computing untuk segala industri di Indonesia. berkaca dari komentar Country Managing Director mereka, Erwin Sukiato yang menyebut,  “Ke depannya, perusahaan-perusahaan akan beralih menggunakan cloud, untuk keperluan menyimpan data secara aman. Kita bisa mengakses kapan dan di mana saja, selama masih tetap terhubung dengan internet,” ucapnya.

Berdasarkan hasil riset yang dimiliki Oracle, 80 persen aplikasi produksi pada cloud, tetapi baru sekitar 25 persen yang terpenuhi. Sebanyak 100 persen pengembangan perangkat lunak/usaha pengujian akan dilakukan dalam cloud. Dan, semua data perusahaan akan disimpan secara virtual melalui komputasi awan.

Saat ini, Oracle mengklaim sebagai satu-satunya penyedia solusi bagi korporasi, selain yang dilakukan oleh Microsoft. Oracle menawarkan tiga area layanan komputasi awan, yakni software as a service (SaaS), platform as a service (PaaS), dan infrastructure as a service (IaaS).

Guna membantu pelanggannya dalam menerapkan cloud, Oracle pun menghadirkan enam rumus desain yang terdiri atas rendah biaya, reliabilitas, kinerja, desain berbasis standar, kompatibilitas lengkap, dan keamanan yang selalu ada.

Oracle juga memiliki solusi yang menjadi keunggulan mereka berbasis cloud. Solusi tersebut adalah Oracle Ennterprise Resource Planning (ERP) Cloud. Solusi ini merupakan solusi cloud paling komprehensif untuk perusahaan global. Solusi-solusi untuk Enterprise Performance Management, Governance Risk dan Compliance, Supply Chain Management, serta integrasi dengan portfolio Oracle SaaS lainnya untuk Human Capital Management dan Customer Experience memungkinkan pelanggan untuk melakukan proses pengadopsian yang cepat, praktis, dan didorong oleh bisnis.

Oracle ERP Cloud memberian beberapa fitur seperti

Oracle Financials Cloud

Oracle Financials Cloud didesainuntukmengontroloperasidanaksesinformasi yang cepat,dengankemampuananalitik yang sudah tertempel langsung. Cash positioning dan forecasting yang komprehensif memberikan kontrol likuiditas jangka pendek melalui perencanaan dan penyeimbangan transfer tunai atau pembayaran.

Financial Reporting Center yang ditingkatkan memberikan model distribusi laporan yang aman dan kolaboratif, ditujukan untuk pengguna bisnis dan keuangan, menyediakan titik akses yang tunggal dan konsisten untuk semua kebutuhan pelaporan standar dan kustom kepada pelanggan.

Oracle Procurement Cloud

Oracle Procurement Cloud kini menambah kedalaman melalui dukungan bahan langsung untuk manufaktur dan orkestrasi rantai suplai, yang memungkinkan pelanggan di industri produk untuk mengadopsi cloud.

Direct Materials Support meliputi bahan dan layanan tidak langsung untuk mendukung proses manufaktur dan bahan langsung, termasuk barang yang dikonfigurasi, pengapalan barang, dan pemesanan back-to-back.

Integrasi Oracle Sourcing dengan Oracle PPM Cloud telah menyederhanakan manajemen dan pelacakan kegiatan negosiasi yang rumit.

Oracle Project Portfolio Management (PPM) Cloud

Oracle PPM Cloud didesain untuk pekerja proyek modern, dengan analitik yang sudah menempel di pelaporan dan dashboard yang interaktif. Oracle PPM Cloud telah memperluas integrasinya di solusi cloud danon-premise.

Dashboard yang real-time, mudah untuk digunakan, dan menyatu untuk manajemen keuangan proyek dan eksekusi proyek, menyediakan wawasan proyek yang ditingkatkan dengan analitik kinerja untuk proyek yang dimonitor sendiri.

PPM Cloud kini terintegrasi dengan Oracle Sourcing Cloud untuk mengatur negosiasi dan telah memperluas kemampuan untuk proses pengembangan produk dengan integrasi ke Innovation Management Cloud.

Oracle Supply Chain Management (SCM) Cloud

Oracle SCM Cloud memungkinkan perusahaan untuk berinovasi dan eksekusi dengan cepat, serta menskalakan rantai suplai mereka. Pelanggan dapat menerapkan fungsionalitas manajemen rantai suplai Oracle dengan risiko rendah, biayakecil, dan fleksibilitas tinggi, baik sebagai bagian dari transformasi ERP ke cloud, atau sebagai layanan berbasis cloud untuk fungsi rantai suplai tertentu. Selain dukungan yang sudah ada di cloud untuk inventarisasi, costing, Product Master Data Management, Product Lifecycle Management, Transportation and Global Trade Management, Oracle Supply Chain Management kini termasuk juga:

Oracle Order Management – Pengisian dan manajemen pemesanan multi-channel, ditambah fiturcapture, pricing, dan konfigurasi pemesanan yang terintegrasi.

Oracle Planning Central – Perencanaan suplai dan permintaan yang terintegrasi, didesain untuk merampingkan proses perencanaan dari analisis, optimisasi, hingga eksekusi.

Manufacturing – Dukungan yang terintegrasi untuk berbagai metode manufaktur (Build to Stock, Build to Order, CTO, Outsourced) dari inovasi produk, produksi, hingga manajemen biaya.

Inilah Country Managing Director terbaru Oracle Untuk Indonesia

0

Telko.id – Penyedia solusi layanan berbasis Cloud, Oracle akhirnya menunjuk Country Managing director untuk Indonesia. Pada Jumpa Pers di salah satu Hotel di Kawasan Senayan, Jakarta (27/1) Oracle menunjuk Seorang Erwin Sukiato sebagai bos baru mereka untuk Indonesia.

Erwin merupakan seorang veteran di industri Teknologi Informasi dengan lebih dari 20 tahun pengalaman, ia pernah menduduki peran pemimpin strategis dan taktis di sejumlah perusahaan. Sejatinya, Erwin bukanlah muka baru di perusahaan solusi ini, Ia juga pernah bekerja di Oracle dari tahun 1996 sampai 1998, dengan posisi terakhirnya adalah sebagai Sales Director untuk Sektor Publik, Energi dan Telekomunikasi.

Penasaran dengan Country Managing Director terbaru Oracle ini, berikut tim Telko.id merangkum rekam jejaknya di Industri IT Indonesia.

Erwin memulai karirnya di perusahaan outsourcing TI di Auckland, Selandia Baru, kemudian kembali ke Indonesia dan menjabat sebagai konsultan di perusahaan perangkat lunak pertambangan. Di tahun 1994, ia mulai terjun ke bidang manajemen TI, pengembangan penjualan dan bisnis. Bersamaan dengan itu, Erwin mendirikan perusahaannya sendiri di tahun 1998, dan sempat masuk bursa saham di tahun 2001.

Pria yang telah menikah dan memiliki lima orang anak ini kemudian melanjutkan pertualangannya di industri IT Indonesia. Padatahun 2003, ia menjual sahamnya di perusahaan tersebut dan bergabung dengan IBM sebagai ASEAN Business Unit Executive untuk Channel Business.

Erwin adalah salah satu dari sekian banyak profesional IT yang mengecap pendidikan diluar negeri. Ia merupakan lulusan dari Waikato Technical Institute. Pada tahun 2008, Erwin meninggalkan IBM untuk bergabung dengan SAS, di mana ia menghabiskan 4,5 tahun berkarir disana, Ia juga sempat merasakan bekerja untuk VeriFone Sebelum akhirnya “pulang kampung” dan bergabung kembali dengan Oracle.

Sekedar informasi, sebelumnya Oracle menujuk seorang Uday Matkhar sebelum akhirnya posisi tesebut digantikan oleh Erwin. Pada saat Jumpa Pers, Erwin juga mengungkapkan mengenai fenomena cloud computing yang mulai bemunculan di setiap bisnis di Indonesia.

Perangkat Pendukung Small Cell Jenis Baru ala Nokia

Telko.id – Small Cell adalah salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan kapasitas koneksi di wilayah padat. Yang sangat cocok untuk di dalam gedung atau indoor. Wajar jika para pengusaha teknologi seperti Nokia pun giat meluncurkan produk untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ada beberapa perangkat pendukung small cell yang diluncurkan oleh Nokia, antara lain Nokia Flexi Zone Mini-Macro Base Station.

“Kami sangat fokus untuk mendorong evolusi jaringan kearah Ultra Dense, Multi koneksi HetNets yang akan sangat mudah untuk dibangun dan juga dapat memenuhi kebutuhan pengalaman pelanggan para operator,” ujar Randy Cox, head of Small Cells Product Management Nokia menjelaskan.

Selanjutnya, Randy juga menambahkan bahwa dengan inovasi solusi Flexi Zona small cell ini membuat daya RF yang belum pernah terjadi sebelumnya ditingkatkan kemampuan jangkauannya. Produk SC ini merupakan jalan baru bagi operator untuk menggunakan teknologi small cell untuk memenuhi kebutuhan atas coverage dan capacity yang dibutuhkan oleh para pelanggan operator yang terus bertumbuh terutama yang berada di daerah perkotaan, perumahan dan pedesaan.

Nokia Flexi Mini-Macro Base Station ini sangat kompak dan mudah untuk dipasang seperti small cell. Namun, mampu mengirim 2 x 20W daya yang membuat operator dengan cepat dan biaya yang efektif untuk memenuhi kebutuhan seluruh coverage nya. Inovasi ini diperkenalkan oleh Nokia pada ajang Mobile World Congress 2016 di Barcelona, Amerika.

flexizone_mini_macro_bts_d817536_copy_original

Pada kesempatan tu, Nokia juga memperkenalkan LTE-Advanced Pro LWA yang dapat diintegrasikan dengan small cells. Yang dapat digunakan pada unlicensed spectrum dalam pengiriman data yang besar dengan cepat kepada pelanggan. Dan merupakan pilihan sinkronisasi baru yang memberikan penurunan biaya secara signifikan dalam penyembaran small cell.

Selain itu, Nokia juga memperkenalkan Nokia Flexi Zona multiband BTS G2. Sebuah perangkat yang pertama dengan kemampuan mendukung LWA 80MHz small cell secara terpadu dengan LTE-Advanced standar Pro. Perangkat ini memungkinkan operator memberikan layanan yang unggul karena mampu menggunakan WiFi pada spektrum tak berlisensi tetapi tetap memberikan kecepatan data yang tinggi pada pelanggan. Paling tidak, hingga kecepatan tertinggi lebih dari 1Gbps.

Produk sejenis sudah diluncurkan tahun lalu namun sudah ditingkatkan kemampuannya dengan kemampuan multiband. Lalu, produk yang baru ini mampu mendukung juga teknologi akses tiga radio dalam satu unit.

Nokia juga melakukan demostrasi inovasi teknologi interference mitigation yakni Flexi Zone Controller. Perangkat ini mampu melakukan penjadwalan untuk downlink dan uplink Coordinated Multi-Point atau (CoMP) yang akan meningkatkan performance sampai ujung jaringan lebih dari 150%. Manajemen interfernsi inter-cell yang otomatis membuat teknologi ini dapat dibangun dengan menekan biaya karena kebutuhan akan indoor radio network dapat dikurangi dan bahkan pengurangan pada rencana ke depannya.

Nokia juga memperkenalkan SCORE (Site Certified for Overall Relative Efficiency) yang berguna untuk mencari lokasi terbaik dalam penyebaran small cell. Nokia menggunakan data GIS dan alat lokasi Geo yang memenuhi syarat untuk menilai site dan menentukan biaya pembangunan, kinerja jaringan dan biaya pemeliharaan, serta menentukan nilai relatif dari satu ke 100. Hal ini memungkinkan operator untuk membandingkan site dengan mudah dan mempercepat pembangunan. Tentu nya dengan biaya terendah. Nokia sendiri memiliki database lebih dari 1 juta site berkualitas yang dapat dijadikan acuan bagi operator. (Icha)

Setelah Johannesburg, Gameloft Ekspansi Lagi ke Nigeria

0

Telko.id – Afrika adalah wilayah yang paling dinamis dalam industry telekomunikasi selular. Di pasar global, Afika berada diurutan ketiga dalam hal jumlah pelanggan.

Gameloft sendiri sudah hadir di Johannesburg sejak 2012. Dan terus berkembang dengan kenaikan pendapatan sebesar 536% selama empat tahun terakhir. Perkembangan yang eksponansial ini yang membuat Gameloft membuka kantor perdagangan baru di Nigeria. Harapannya, Gameloft akan dapat memperkuat kehadirannya di pasar telekomunikasi selular yang tumbuh cepat di Afrika.

Pertumbuhan yang begitu tinggi disebabkan karena sejumlah kemitraan dengan operator lokal dan produsen untuk wilayah tersebut. Sebagai informasi, di sepanjang 2013 – 2014, aliran smartphone entry-level baru dan model tablet touchscreen (Android dan Windows) yang tersedia membuka kesempatan bagi Gameloft untuk memperbesar skala usaha nya dan pangsa pasarnya di wilayah ini.

“Pembukaan kantor perdagangan baru kami di Afrika akan memungkinkan kami untuk mengambil keuntungan dari potensi yang cukup besar dari pasar yang sudah mencakup lebih dari 367 juta pengguna,” kata Vincent Brezillon, Direktur Penjualan Gameloft Afrika menjelaskan.

Lebih lanjut, Vincent juga menyebutkan bahwa keberhasilannya di Afrika sejak pembukaan akntor di Johannesburg dan melonjaknya penjualan di Afrika selama dua tahun terakhir, membuat Gameloft memantapkan membuka anak perusahaan di Nigeria, yang merupakan perekonomian terkuat Afrika. Selain itu, kehadiran ini akan memfasilitasi interaksi dengan mitra lokal yang sudah terjalin saat ini dan di masa depan.

Saat ini, Gameloft sudah bekerja dengan sejumlah operator seluler bergengsi Afrika, seperti MTN, Orange, Vodafone, Safaricom, Ooredoo, dan Etisalat, yang memungkinkan perusahaan untuk saat ini menikmati kehadiran di sebagian besar negara di Afrika (Afrika Selatan, Nigeria, Mesir, Ghana , Pantai Gading, Maroko, Aljazair, dll). Sejumlah kerjasama kemitraan sebagai kunci distribusi di Negara ini pun akan dilakukan segera yang akan memperluas jangkauan Gameloft untuk negara-negara Afrika lainnya seperti Ethiopia dan Tanzania. (Icha)

Finalis NexDev Di ‘Suruh’ Pulang Kampung Sebagai Inspirasi

0

 

Telko.id – NexDev adalah program dari Telkomsel yang bertujuan untuk membangun ekosistem digital yang berkelanjutan di Indonesia, dimana salah satunya melalui pengenalan digipreneurship atau kewirausahaan di bidang digital. Ekosistem yang terbentuk tentu diharapkan, bukan hanya berpusat di major city saja, tetapi juga merata di seluruh Indonesia. Itu sebabnya, Telkomsel ‘menggiring’ 20 finalis NexDev pulang kampung.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi para calon developer muda Indonesia di berbagai daerah, serta menjembatani kolaborasi antara duta NextDev dengan pemerintah kota setempat dalam mencari solusi yang tepat untuk kota tersebut,” ujar , Adita Irawati, Vice President Corporate Communications Telkomsel menjelaskan.

Dalam rangka “NextDev Pulang Kampung” ini, para finalis akan kembali ke 10 kota asalnya yakni ke Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Denpasar, Malang, Pontianak, Makassar dan Gorontalo.

NextDev Pulang Kampung berlangsung selama dua hari di masing-masing kota. Pada hari pertama, akan diadakan ekhibisi karya para duta NextDev, dimana mereka akan berbagi pengalaman, melakukan sosialiasi ide dan hasil karya mereka kepada masyarakat luas. Selain itu ada pula seminar “Smart City for Smart Generation” dengan topik seperti e-Tourism, e-Government, e-Education, e-Transportation dan/atau e-SME.

Sedangkan di hari kedua, akan diadakan workshop dan simulasi untuk para calon developer maupun developer lokal, dengan topik lengkap dan menyeluruh seputar digipreneurship yang terdiri dari pengembangan aplikasi digital, perencanaan finansial, dan perumusan pemasaran. Seminar dan workshop NextDev Pulang Kampung akan menghadirkan pembicara berpengalaman di bidangnya yang merupakan para ahli keuangan, developer, sampai dengan para diginopreneur.

Program ini akan dimulai pada tanggal 3 Februari 2016, dengan Pontianak sebagai kota pertama yang dikunjungi oleh para pemenang serta finalis The NextDev 2015 dari kota yang bersangkutan. (Icha)

KT dan Nokia Lakukan Ujicoba eMTC Pertama di Dunia Pada Jaringan LTE

0

Telko.id – KT, salah satu operator terkemuka di Korea bersama dengan Nokia melakukan ujicoba eMTC atau Enhanced Machine Type Communication. Teknologi radio yang memungkinkan penanganan kasus konektivitas Internet of Things dengan tingkat data menengah. Sebagai gambaran, pada tahun 2025 akan ada 50 miliar perangkat yang saling terhubung.

Ini adalah ujicoba pertama kalinya di dunia dan menawarkan sebuah platform solid untuk mempromosikan aplikasi layanan-layanan yang telah tersebar luas yang ditenagai oleh teknologi IoT dengan cara mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang menghambat penyebaran serta jangkauannya. “Bersama dengan Nokia, kami akan memainkan peran penting dalam merintis kemunculan IoT sebagai teknologi pilihan utama di Korea serta negara-negara lainnya,” ujar Chang Seok Seo, Wakil Presiden Senior dan Pimpinan Network Strategy Unit, KT menjelaskan.

“Dengan ujicoba ini, kami telah sukses mendemonstrasikan kapabilitas LTE sebagai backbone yang sesungguhnya untuk kasus-kasus penggunaan IoT yang jumlah terus meningkat,” ujar Andrew Cope, Pimpinan Nokia Korea menjelaskan.

Ujicoba ini dilakukan pada jaringan LTE milik KT dengan menggunakan Flexi Multiradio 10 Base Station milik Nokia. Di mana eMTC hanya menggunakan 1,4 MHz dari keseluruhan 20 MHz sistem LTE, sehingga spektrum yang tersisa bebas digunakan untuk lalu lintas normal LTE. Ujicoba ini merupakan tonggak penting dalam Internet of Things karena memungkinkan konsistensi dengan jaringan LTE yang telah ada seraya menyediakan jangkauan lebih luas.

eMTC, yang juga dirujuk sebagai LTE-M dengan bandwidth 1,4 MHz, adalah sebuah fitur yang akan sepenuhnya distandarisasi dengan 3 GPP Release 13, adalah langkah evolusi pertama dari LTE-Advanced menuju LTE-Advanced Pro.

eMTC akan menyediakan tingkat data hingga 1 Mbps dengan jangkauan empat kali lebih luas, yang juga akan menurunkan kompleksitas perangkat hingga 80%, dibandingkan dengan LTE konvensional. Hal ini memungkin konektivitas hemat biaya untuk sensor-sensor yang menggunakan lebih banyak data, seperti monitoring lingkungan atau pemantauan gedung, pada jaringan-jaringan LTE yang berlokasi di area-area pedesaan dan gedung-gedung. (Icha)

Atas Nama Penghematan, Sprint Corp Pangkas 2.500 Pekerja

0

Telko.id -Perlambatan ekonomi yang terjadi di hampir seluruh negara di dunia tampaknya mulai menunjukkan dampak di sektor telekomunikasi. Operator seluler asal AS, Sprint, dalam hal ini adalah salah satunya.

Menurut laporan Reuters, Rabu (27/1), Sprint Corp baru-baru ini telah memangkas setidaknya 2.500 pekerjaan dan menutup enam pusat layanan pelanggannya, yang berlokasi di New Mexico, Tennessee, Texas, Virginia dan Colorado.

sprint

Pemutusan Hubungan Kerja di Sprint sebagian besar terjadi di layanan pelanggan (customer service), yakni sekitar 2.000 pekerjaan. Sisanya, sekitar 574 posisi berasal dari markas besar Sprint di Overland Park, Kansas. Pekerjaan-pekerjaan itu termasuk mereka yang berada di area jaringan, teknologi, marketing, IT dan pekerjaan lain yang cenderung berbayaran tinggi.

Sprint mengirimkan email ke karyawannya minggu lalu, untuk memberitahu mereka mengenai penutupan call center yang akan merumahkan sekitar 2.000 karyawan itu. Sementara email terpisah ditujukan untuk mereka yang berada di kantor pusat.

Senior vice president of customer care Sprint, Marci Carris, seperti dilansir dari Kansascity, mengatakan bahwa semua karyawan yang terkena PHK akan mendapatkan pesangon, plus tambahan uang sebesar USD 1.000.

Keputusan Sprint untuk merumahkan pekerja ini sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Dalam dua tahun terakhir, dengan alasan penghematan, Sprint juga telah merumahkan 1.700 pekerjanya pada musim gugur 2014 lalu.

ITU: Perlu Aturan Tentang ‘Privacy dan Security’ di Era Internet of Things

Telko.id – Era Internet of Things yang akan menghubungkan satu perangkat terhubung dengan perangkat lain dan melahirkan banyak kemudahan bagi manusia sangat ditunggu-tunggu. Pada era itu, berbagai industry akan saling terhubung dan begitu banyak data yang lalu lalang. Lalu bagaimana dengan keamanan data-data tersebut dan tentu saja interoperability antar perangkat? Hal ini menjadi perhatian International Telecommunication Union atau ITU.

ITU meliris laporan “Harnessing the Internet of Things for Global Development,” yang merupakan hasil kerjasama dengan Cysco Sytem. Pada laporan tersebut terlihat bahwa dengan menggunakan teknologi Internet of Things (IOT) untuk memecahkan berbagai masalah yang mendesak di Negara berkembang. Seperti masalah pertanian, pengelolaan ternak, deteksi dan pencegahan bencana alam dan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih efisien sehingga mampu meningkatkan pelayanan.

Menurut laporan itu, ada sejumlah definisi dari IOT. ITU Mendefinisikan sebagai “infrastruktur global untuk informasi masyarakat yang memungkinkan dilayani secara canggih dengan menggunakan interkoneksi, baik secara physical maupun virtual. Dan berdasarkan interoperability teknologi informasi dan komunikasi yang sudah ada maupun yang akan dikembangkan.

IOT dapat digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti monitoring pemberian vaksin dan penyimpanan secara real time dengan menggunakan thermometer, kamera maupun sensor yang terhubung dengan smartphone dan tablet yang dimiliki oleh petugas. Dengan demikian petugas pun mampu melakukan diagnosis jarak jauh dan menentukan tindakan yang akan dilakukan.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa IOT ini dapat digunakan untuk mencerminkan kondisi masyarakat di suatu daerah dengan menggunakan social media. Hal ini akan mempercepat penanganan ketika ada wabah atau potensi kekerasan yang mungkin akan timbul.

Di sisi lain, dengan infrastruktur yang sama di mana setiap orang membuat, menyimpan dan berbagai informasi terdapat celah yang membahayakan untuk privasi dan keamanan masyarakat. Apalagi, kita bicara tentang data dalam jumlah besar dan banyak.

Untuk itu, dalam pengembangan IoT ini diperlukan peraturan, termasuk perijinan, standard, keamanan dan privasi. Menurut laporan tersebut, strategi untuk melindungi privasi adalah wajib memperhitungkan berbagai risiko dari berbagai sumber yang berbeda serta beradaptasi dengan peraturan daerah. (Icha)

Akuisisi Altair, Sony Berambisi Kembangkan LTE dan IoT

0

Telko.id – Januari sepertinya menjadi bulan yang sibuk bagi raksasa elektronik Jepang, Sony. Setelah membentuk Sony Interactive Entertainment (SIE) dari semua unit kontribusi untuk Playstation, hardware, software, dan jaringan, perusahaan asal Jepang itu kini membuat langkah besar untuk meningkatkan kemampuan LTE. Sony berambisi menaklukkan pasar IoT dengan mengakuisisi pembuat chip asal Israel, Altair Semiconductor.

Menurut laporan Telecom, Rabu (27/1), Sony akan membayar USD 212 juta untuk kesepakatan yang diharapkan selesai dalam beberapa minggu ini.

Altair mengkhususkan diri dalam modem LTE dan baru-baru ini berkolaborasi dengan Ericsson dan AT&T untuk mengembangkan ‘mode hemat daya’ khusus untuk LTE, yang dirancang khusus dengan Internet of Things. Sebuah fitur penting yang tertanam dalam modul IoT LTE akan memiliki konsumsi daya yang rendah, dengan daya tahan baterai mencapai tahunan atau bahkan puluhan tahun.

“Dengan akuisisi Altair, Sony bertujuan untuk tidak hanya mengembangkan bisnis Altair yang ada, tetapi juga untuk bergerak maju dengan penelitian dan pengembangan teknologi penginderaan baru,” kata Sony dalam sebuah pengumuman baru-baru ini.

Dengan menggabungkan teknologi penginderaan Sony – seperti GNSS (Global Navigation Satellite System) dan sensor gambar – dengan teknologi chip Altair yang memiliki kinerja tinggi, hemat daya dan berharga kompetitif, serta dengan lebih lanjut mengembangkan keduanya, Sony akan berusaha untuk mengembangkan perangkat penginderaan yang terhubung seluler.

Sebelumnya, Sony juga telah membeli anak usaha Toshiba yang bermain di sensor gambar, yang merupakan bagian dari rencana strategis yang sama, yakni menjadi produsen utama chip dan sensor IoT.

Perkuat Pijakan di Sektor IoT, SK Telecom Gandeng Cisco

0

Telko.id – Banyak cara dilakukan SK Telecom untuk membangun pijakan yang kuat di sektor Internet of Things. Salah satunya adalah dengan menggandeng beberapa partner global. Jika sebelumnya nama Qualcomm dan Ericsson telah lebih dulu hadir, kini giliran perusahaan telekomunikasi yang berbasis di San Fransisco, Cisco, yang menjadi partner mereka.

Menurut laporan Korea Herald, baik SK Telecom maupun Cisco akan bersama-sama mengembangkan produk baru Internet of Things (IoT), dan telah sepakat untuk menggabungkan kemampuan platform ThingPlug IoT milik SK Telecom dengan solusi Fog Computing milik Cisco.

ThingPlug didasarkan pada standar OneM2M terbuka, yang dirancang untuk merangsang pertumbuhan ekosistem IoT dengan memungkinkan siapa saja mengembangkan layanan ini, sementara Fog Computing Cisco meliputi node jaringan yang disebar lebih dekat ke perangkat IoT. Node menganalisis data yang masuk dari perangkat ini sebelum akhirnya mengirim ke awan. Hal ini disebut-sebut akan meminimalisasi latency dan mengurangi lalu lintas jaringan.

SK Telecom dan Cisco berencana untuk bersama-sama mengembangkan aplikasi mobile baru dan sensor yang kompatibel dengan kedua solusi tersebut.

Kemitraan SK Telecom dengan Cisco ini datang tak lama setelah perusahaan berhasil menunjukkan interworking antara dua standar IoT yang berbeda, yakni oneM2M dan Open Internet Consortium (OIC).

Standar oneM2M dirancang untuk mendukung komunikasi antara perangkat yang jaraknya berjauhan, sementara OIC ditujukan untuk menghubungkan perangkat yang dekat satu sama lain.