spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1650

Ericsson-LG Demonstrasi 5G Di Korea Selatan

0

Telko.id – Para vendor jaringan saat ini gencar melakukan uji coba 5G. Maklum saja, jika tidak uji coba, maka kemungkinan teknologi dibeli oleh operator juga kecil. Ericsson-LG adalah salah satu yang melakukan uji coba 5G di Korea Selatan. Seperti yang dilaporkan oleh Kora Herald.

Ericsson LG ini merupakan perusahaan joint venture yang dibuat oleh Ericsson, perusahaan yang memproduksi peralatan jaringan asal Swedia dan produsen elektronik LG Electronics pada Juli 2010 lalu di Seoul. Ericsson memegang saham 75 persen, dan LGE memiliki sisa saham 25 persen di perusahaan.

Hasil uji coba ini cukup menggembirakan karena untuk melakukan download di jaringan 5G, bisa mencapai 26,3 Gbps. Demonstrasi ini sendiri dilakukan di pusat R&D Anyang.

Menurut Patrick Johansson, CEO Ericsson-LG, Ericsson-LG berencana untuk bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi Korea untuk lebih mempromosikan penggunaan teknologi jaringan 5G. Ericsson-LG saat ini sedang mempersiapkan untuk menggunakan sistem jaringan 5G untuk KT dan SK Telecom. Sistem jaringan 5G ini diharapkan dapat diuji coba selama Olimpiade Musim Dingin 2018 Pyeongchang.

Juga pada tanggal 12 Mei, Ericsson-LG memamerkan 5G teknologi pelacakan beam dirancang untuk memungkinkan sistem jaringan untuk melacak dan mengirim sinyal untuk perangkat mobile tertentu. sistem jaringan perusahaan dapat mengirim sinyal telekomunikasi untuk mengemudi kendaraan tak berawak tertentu di jalan dan membantu mobil berkomunikasi dengan pengguna atau mobil lain secara real time.

Berdasarkan beberapa pengguna multi-input dan teknologi multi-output, layanan tracking beam 5G ini memungkinkan untuk melakukan transmisi data yang cukup besar, seperti untuk virtual reality, hologram, dan video UHD. (Icha)

Telkom ‘Ngirit’ 1 Triliun Rupiah Karena Terapkan Green ICT

0

Telko.id – Salah satu cara dalam mengendalikan sebuah perusahaan agar tetap eksis di industri adalah dengan melakukan beberapa efisiensi. Telkom, walaupu merupakan BUMN yang cukup memiliki keuntungan besar di Indonesia, juga tetap melakukan efisiensi. Salah satunya adalah dengan mengimplementasikan Green ICT.

Beberapa waktu lalu, Telkom melakukan pemadaman (shutdown) STO (Sentral Telepon Otomat) ke-84 di Makassar, Sulawesi Selatan. Tepatnya, Rabu, 11 Mei 2016 lalu. Hal ini merupakan bagian dari rangkaian implementasi Green Information and Communications Technology (ICT) di lingkungan Telkom.

Pada tahun 2016 Telkom secara umum memiliki setidaknya 4 program untuk mensukseskan implementasi Green ICT, yaitu Shutdown STO, Rehosting, Scrap Cable dan penerapan Always-On Cloud. “Keseluruhan aktivitas implementasi Green ICT Telkom memberikan benefit efisiensi konsumsi energi dan penghematan biaya secara signifikan mencapai triliunan rupiah,” ujar Abdus Somad, Direktur Network IT & Solution Telkom Indonesia menjelaskan.

Abdus Somad menambahkan bahwa program shutdown STO adalah pemadaman sentral telekomunikasi yang merupakan lokasi beroperasinya kebanyakan perangkat sentral berbasis TDM (Time-Division Multiplexing). “Perkembangan layanan telekomunikasi dalam beberapa dekade terakhir mendorong penyesuaian teknologi. Seperti yang telah diketahui bahwa pada era 1990-an layanan telephony mendominasi dunia telekomunikasi namun semenjak 2010-an trend ini bergeser kepada layanan IP (Internet Protocol) di mana telephony sudah semakin menurun,” jelas Abdus Somad Arief.

Pemadaman STO memberikan dampak luar biasa baik dari sisi efisiensi energi, beban electricity atau listrik, maupun pembebasan idle space atau ruang lahan. Berdasarkan data eksekusi program di Triwulan I-2016 saja, telah dilakukan pemadaman terhadap 9 STO di Pulau Jawa. Program ini terus bergulir, pada awal April 2016 Telkom melakukan pemadaman 10 STO dengan kapasitas lebih kecil di Sumatera, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara, serta Sulawesi. Rencananya pada tahun 2016 ini sebanyak 71 STO akan dipadamkan.

Program kedua adalah Rehosting yang merupakan proses re-engineering atau rekayasa terhadap komponen host sentral TDM di STO melalui migrasi ataupun pemindahan host atau induk. Rehosting ini masih berkaitan erat dengan program Shutdown STO, karena dengan pemindahan induk tersebut, maka induk yang ditinggalkan dapat dinon-aktifkan dan dipadamkan. Tahun lalu Telkom berhasil meraih efisiensi cukup signifikan dari program Rehosting dan Downgrade 15 host yang dilakukan pada Triwulan IV-2015.

Adapun Scrap Cable merupakan program ketiga yang dilakukan dalam rangka implementasi Green ICT Telkom. Scrap Cable sendirimerupakan dampak dari pemindahan jaringan akses tembaga menjadi kabel serat optik maupun pemadaman sentral TDM. Akibat pemindahan jaringan tersebut maka terdapat residu kabel tembaga yang tidak tergunakan yang sering disebut sebagai scrap copper cable.

Program keempat wujud implementasi Green ICT Telkom 2016 adalah Always-On Cloud, yaitu layanan penyediaan resource/sumber daya yang disediakan melalui jaringan data ataupun Internet, di antaranya Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS) dan Infrastructure as a Service (IaaS). Konsep layanan yang disediakan adalah sistem yang selalu online setiap saat dan siap digunakan senantiasa selama 7×24 jam.

Ditegaskan Abdus Somad Arief, pelaksanaan empat Program Green ICT tersebut, Telkom secara akumulatif telah sukses meraih cost leadership yang signifikan di tahun 2015, yakni sebesar Rp 766 miliar. Sementara di tahun 2016, hingga bulan April saja Telkom telah meraih cost leadership sebesar Rp 319,22 miliar. “Angka itu diproyeksikan mampu mencapai Rp 1,018 triliun hingga penghujung tahun 2016 dengan asumsi seluruh program akan terlaksana tepat waktu dan seluruh target tercapai sesuai rencana,” pungkasnya. (Icha)

Telkom & SK Telecom Bikin Usaha Patungan di Bidang IoT?

0

Telko.id – PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) sepakat untuk bekerjasama dengan operator asal Korea Selatan, SK Telecom. Kedua perusahaan akan berkolaborasi pada peluang baru di IoT, media, produk cerdas dan rangkaian Lifeware SK Telecom untuk perangkat pintar yang difokuskan pada konsumen.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, SK akan memperkenalkan platform ThingPlug IoT-nya kepada Telkom untuk berbagi pengalaman dalam menyebarkan dan mengoperasikan jaringan LoRa untuk mengembangkan peluang dan layanan IoT yang disesuaikan untuk pasar Indonesia. Selain itu, SK Telecom juga mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kedua perusahaan juga akan membahas gagasan untuk membangun perusahaan patungan untuk bisnis IoT mereka dalam dua tahun ke depan.

Mengenai kemungkinan membuat usaha patungan yang terkait IoT, SK dan Telkom Indonesia juga akan menggunakan solusi media Cloud Streaming untuk membantu mengembangkan solusi TV berbasis cloud untuk pelanggan akhir.

Menurut SK, seperti dilansir Telecom, Jumat (13/5), Cloud Streaming meningkatkan kecepatan transmisi konten dengan menggunakan server berbasis cloud untuk menangani dan memberikan data.

“Melalui MOU ini, SK Telecom akan bekerja sama dengan Telkom untuk mengembangkan peluang bisnis yang saling menguntungkan di berbagai bidang termasuk IoT, kota cerdas dan media,” kata Lee Eung-sang, Executive Vice President dan Head of Global Business Divisi SK Telecom.

Ia menambahkan, dengan kemitraan ini, kedua perusahaan akan terus melakukan upaya bersama untuk memperluas kehadiran mereka di luar pasar Indonesia.

Sebelumnya, Telkom dan SK Telecom juga telah bekerjasama untuk mendirikan usaha patungan di bidang penyediaan konten digital. Kerjasama yang terjadi pada 2010 ini dianggap sangat penting bagi Telkom yang kala itu sedang mengembangkan bisnis TIME (Telecommunication, Information, Multimedia dan Edutainment).

Pasar BTS Akan Menurun, Benarkah?

0

Telko.id – Pasar basestation global memberikan tantangan ke vendor jaringan telekomunikasi seperti Ericsson, Huawei, Nokia, dan ZTE karena operator seluler akan menghabiskan lebih sedikit BTS di tahun-tahun mendatang.

Ini adalah berita buruk bagi semua vendor infrastruktur telekomunikasi – terutama Ericsson karena vendor jaringan telekomunikasi yang berbasis di Stockholm adalah pemimpin pasar di segmen basestation global pada tahun lalu.

Dilaporkan TelecomLead (13/5), tanda pertama yang terlihat adalah bahwa belanja macrocell basestation akan turun 2 persen menjadi USD 48 miliar pada tahun 2016, hal ini dikarenakan operator telekomunikasi mencoba untuk mengefisiensikan Capex mereka.

Penurunan belanja basestation di seluruh dunia akan berada di dua digit setiap tahun setelah penurunan 2 persen pada 2016, ujar laporan ABI Research.

Penurunan belanja basestation berarti bahwa setiap operator telekomunikasi global akan menggeser anggaran Capex untuk solusi yang memerlukan modal sedikit, seperti small cell, DAS, dan untuk memadatkan jaringan WiFi.

Sementara itu, India yang memiliki lebih dari 900 juta pelanggan mobile, akan mendominasi belanja di Asia Pasifik selama beberapa tahun ke depan.

Laporan penelitian telekomunikasi mencatat bahwa cakupan 4G di Amerika Utara hampir lengkap karena kawasan ini mempersiapkan untuk 5G bersama dengan Jepang dan Korea Selatan. Amerika Utara akan memperlihatkan penurunan terbesar sebagai bentuk dari penyebaran untuk cakupan LTE yang berkurang.

kawasan Asia Pasifik masih merupakan pasar basestation terbesar pada tahun 2016, tapi turun dari puncaknya 2015 sebagai Cina melengkapi peluncuran LTE, kata ABI Research.

Sekadar informasi, Ericsson adalah pemimpin di pasar basestation keseluruhan pada tahun 2015. Huawei, Nokia Networks, Alcatel-Lucent dan ZTE adalah vendor basestation top lainnya berdasarkan pendapatan. Tetapi perusahaan-perusahaan jaringan telekomunikasi ini akan menghadapi tantangan di bulan depan.

ABI Research mengatakan sebagai siklus teknologi 5G akan berlangsung, vendor basestation termasuk Ericsson, Huawei, dan Nokia akan menghadapi tantangan untuk menggantikan pendapatan yang hilang dalam jangka pendek. Sementara itu, komersialisasi 5G di awal mungkin akan membantu untuk menggantikan pendapatan yang hilang ini, tidak sampai setelah 2020 bahwa kontribusi ini menjadi bermakna.

ABI Research menunjukkan Ericsson, Huawei, dan Nokia perlu mencari alternatif aliran pendapatan untuk menebus pendapatan yang hilang dari basestations. Kedua vendor baik Ericsson dan Huawei sudah terhuyung-huyung di bawah tekanan karena penurunan penjualan keseluruhan di sebagian besar wilayah yang biasanya mereka kuasai.

Nokia dan STC Selesaikan Ujicoba Pada Frekuensi Unlicensed

0

Telko.id – Vendor infrastruktur jaringan Nokia telah bekerja sama dengan perusahaan telko asal Arab Saudi, STC untuk menguji teknologi LTE unlicensed, teknologi yang dinamakan MulteFire ini diklaim mampu memberikan lebar cakupan 50% lebih baik dibandingkan dengan wifi.

Berdasarkan keterangan pers yang diterima tim Telko.id, teknologi MulteFire akan memungkinkan operator menyederhanakan pengiriman layanan broadband selular berkecepatan tinggi, kualitas tinggi serta menawarkan pengalaman selular tanpa hambatan di lokasi-lokasi publik dan pribadi kepada lebih banyak pelanggan.

Ujicoba di Arab Saudi dirancang untuk menunjukkan bagaimana MulteFire dapat berdampingan dengan wifi untuk memberikan jaringan LTE di lingkungan padat penduduk. MulteFire memungkinkan operator untuk memenuhi tuntutan konektivitas yang meningkat dari kota pintar di masa depan serta kebutuhan IoT pada umumnya. Selain itu, MulteFire melengkapi jaringan-jaringan heterogen (HetNet), yang menggunakan gabungan dari radio small cell dan makro cell.

“Kami adalah operator pertama di dunia yang telah berhasil melakukan uji teknologi MulteFire dengan Nokia,” kata Nasser Al-Nasser, SVP of Technology dan Operations di STC. Ia menambahkan, “Tes ini mendasari komitmen kami untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi teknologi terbaru yang dapat lebih meningkatkan pengalaman layanan secara keseluruhan untuk pelanggan kami bahkan karena permintaan terus tumbuh. MulteFire akan memungkinkan kami untuk memberikan kinerja LTE dengan penyebaran yang disederhanakan,”ucapnya.

Sementara itu, Waseem Al-Marzogi, Pimpinan Bisnis Grup STC, Nokia, mengatakan, “Sebagai salah satu anggota pendiri MulteFire Alliance, Nokia terus mendorong pengembangan spesifikasi teknis global, dan ujicoba ini adalah sebuah langkah penting menuju komersialisasi teknologi ini. Dengan berkolaborasi dengan operator seperti STC, kami dapat mengembangkan cara-cara baru penggunaan spektrum seperti misalnya 5 GHz untuk memenuhi kebutuhan jaringan saat ini dan esok.”

Lebih lanjut mengenai ujiciba ini, setidaknya Nokia melakukan tiga ujicoba seperti,  Ujicoba Neutral Host, yang mana MulteFire memungkinkan pengiriman layanan kecepatan tinggi ke beberapa perangkat end user terlepas dari operator selular mereka, memungkinkan siapapun yang menggunakan perangkat MulteFire dapat mengakses data melalui sebuah titik akses MulteFire. Ujicoba tersebut menunjukkan total throughput download dan upload hingga 120 Mbps.

Ujicoba berikutnya adalah Koeksistensi, ujicoba ini menunjukkan bagaimana MulteFire dapat tetap eksis secara harmonis dengan Wi-Fi ketika Wi-Fi diaktifkan pada frekwensi yang sama dan diletakkan sangat dekat dengan sebuah titik akses MulteFire.

Sementara ujicoba terakhir adalah peningkatan dalam hal coverage, dalam ujicoba ini, menunjukkan range 50% lebih baik dan coverage 2 kali lebih baik dibandingkan dengan Wi-Fi.

Ujicoba ini hanya beberapa hari setelah Qualcomm menerima izin dari FCC untuk menguji LTE-U dalam kemitraan dengan TMUS. Sekadar informasi, pengumuman ini juga merupakan pengumuman kedua dari Nokia di Timur Tengah bulan ini, setelah mendapatkan kesepakatan perluasan jaringan dengan Ooredoo Qatar sebelumnya.

China Unicom Pilih Ericsson Untuk Hadirkan 5G

0

Telko.id – China Unicom telah menandatangani perjanjian dengan Ericsson untuk berkolaborasi pada arsitektur jaringan, 5G, cloud serta IOT.

Dengan perjanjian kedua perusahaan ini sejatinya bertujuan untuk mempercepat percepatan standardisasi jaringan generasi mendatang dan kematangan terhadap infrastruktur jaringan. Kerjasama ini juga bertujuan untuk membangun ekosistem lintas-industri untuk bidang teknologi jaringan.

Dilaporkan TelecomAsia (13/5), kolaborasi ini akan berfokus pada beberapa bidang termasuk kerjasama standardisasi 5G, penelitian teknologi kunci untuk pengujian standar, serta studi mengenai visualisasi jaringan dan memetakan jaringan 5G.

Bukan hanya itu, China Unicom dan Ericsson juga berencana untuk berkolaborasi pada promosi bersama proyek SDN pada kelompok standardisasi, layanan jaringan IOT selular dan perkembangan arsitektur jaringan untuk penggabungan antara  fixed broadband dengan mobile broadband.

“Ericsson adalah mitra strategis jangka panjang dari China Unicom. Sebagai transformasi menuju pendekatan jaringan generasi berikutnya, kami berharap untuk memperkuat kemitraan dengan Ericsson, sebagai perusahaan terkemuka dunia, teknologi dan pengembangan bisnis terutama di 5G, IOT dan cloud berguna untuk memenangkan persaingan di masa depan, ” ujar wakil presiden China Unicom, Guanglu Shao.

Gunakan Frekuensi 1800MHz, XL Tingkatkan Kualitas 4G di Yogya

0

Telko.id – Operator seluler XL Axiata meningkatkan kualitas layanan dan memperluas cakupan layanan 4G untuk area Yogyakarta dan sekitarnya. Jika sebelumnya perusahaan memanfaatkan frekuensi 900MHz untuk melayani pelanggan 4G di wilayah tersebut, kini kualitas layanan ditingkatkan dengan mempergunakan frekuensi 1800MHz, yang juga telah digunakan secara global.

Peningkatan kualitas layanan di Yogyakarta sendiri, diakui Presiden Direktur sekaligus CEO XL, Dian Siswarini, tak hanya semata karena Yogya dianggap sebagai pasar bagi XL, tetapi juga tempat di mana XL bisa menunjukkan seperti apa seharusnya suatu perusahaan penyedia layanan telekomunikasi dan data mampu melayani masyarakat Indonesia.

“Apalagi Yogya juga merupakan salah satu basis industri kreatif di Indonesia, sekaligus sebagai Kota Budaya dan Pendidikan. Koneksi internet yang berkualitas adalah kebutuhan yang urgent untuk mendukung aktivitas masyarakat Yogya,” kata Dian dalam sebuah resepsi di halaman Candi Prambanan, Kamis (12/5).

Dian menambahkan, dengan memanfaatkan frekuensi 1800MHz, nantinya kecepatan layanan internet XL tak hanya bisa ditingkatkan hingga 100Mbps, tetapi juga lebih stabil.

Sementara itu, dari sisi ekosistem, layanan pada frekuensi 1800MHz juga akan lebih memudahkan pelanggan dan masyarakat Yogya dalam mendapatkan ponsel 4G di pasar.

Yogyakarta berkesempatan menikmati layanan 4G Xl di frekuensi 900MHz, bersama Medan dan Bogor sejak akhir 2014. Saat itu, pemerintah memang baru memberikan izin penggunaan frekuensi 900MHz untuk layanan 4G. Setelah kemudian pemerintah melakukan penataan ulang frekuensi 1800MHz dan memberikan izin penggunaan frekuensi tersebut untuk layanan 4G LTE (sekitar Oktober 2015), XL hanya mengembangkan 4G LTE dengan menggunakan frekuensi 1800MHz.

Saat ini sudah tersedia lebih dari 200 BTS 4G yang tersebar di berbagai area di Yogyakarta dan sekitarnya. Infrastruktur tersebut akan menopang layanan untuk sekitar 627 ribu pelanggan data, yang diperkirakan akan terus meningkat secara cepat. Saat ini, total pelanggan XL di Yogyakarta sekitar 1,9 juta, yang merupakan pelanggan potensial untuk berpindah ke layanan 4G.

Layanan 4G LTE di Yoyakarta kini akan meng-cover wilayah yang lebih luas dari sebelumnya. Selain area-area di dalam wilayah Kota Yogyakarta, pelanggan dan masyarakat juga bisa memanfaatkan 4G LTE di sekitar wilayah Mlati, Depok, Sewon, Kotagede, Gamping, Kaliurang, Sedayu, dan Pathuk, dimana di area tersebut terdapat kampus, pusat perbelanjaan, pusat bisnis, dan lokasi wisata.

Komisi Eropa Turun Tangan, Hutchison Batal Akuisisi O2

0

Telko.id – Jalan terjal Hutchison untuk menggaet O2 akhirnya berakhir sudah, dengan keluarnya keputusan dari Komisi Eropa yang memblokir rencana akuisisi tersebut.

Kesepakatan yang diusulkan pada bulan Januari tahun lalu ini dilaporkan bernilai lebih dari US$15 miliar. Dan terpaksa batal. “Komisi telah memblokir rencana akuisisi O2 oleh Hutchison di bawah Peraturan Merger Uni Eropa,” kata seorang juru bicara Komisi Eropa seperti dilansir Theverge, Kamis (12/5).

Keputusan ini diambil menyusul kekhawatiran regulator bahwa pelanggan seluler di Inggris akan memiliki lebih sedikit pilihan dan membayar harga yang lebih tinggi sebagai akibat dari proses merger, yang juga akan mengurangi inovasi di sektor mobile yang penting.

Komisi mencatat bahwa kemunculan Hutchison di pasar Inggris telah menciptakan harga yang kompetitif untuk diikuti jaringan lain. Akibatnya, persaingan di pasar ponsel Inggris kian sengit, menurunkan biaya dan meningkatkan keuntungan bagi konsumen.

Sebelumnya, Hutchison berusaha untuk menawarkan konsesi untuk mengamankan akuisisi O2, tetapi sepertinya mereka tidak bisa meyakinkan penyidik.

Pasalnya, ketimbang efisien, komisi sepertinya lebih melihat merger ini sebagai hal yang akan merugikan bagi konsumen.

Dengan adanya pemblokiran ini, Telefonica, sebagai pemilik O2 konon telah memikirkan dua opsi, berusaha untuk menemukan pembeli lain atau menjadikan O2 sebagai perusahaan publik.

Opsi pertama memungkinkan mengingat Virgin Media, selaku pemilik Liberty global telah menunjukkan minatnya untuk memiliki O2.

Pasal Small Cell Bakal Jadi US$ 6 Miliar di 2020

Telko.id – World Summit Small Cell baru saja dibuka. Banyak harapan yang bermunculan dalam ajang pertemuan dunia ini. Ketua Small Cell Forum, Alan Law dalam pembukaan nya mengharapkan ada pertumbuhan sebesar 41% dan mencapai angka US$ 6 miliar hingga 2020 untuk bisnis small cell ini.

Mengutip analis dari Mobile Expert, Law menyebutkan bahwa pengiriman di pasar enterprise akan tumbuh 61% dan 185 ribu unit sudah dikirim pada kuartal pertama tahun ini.

“Saat ini, sudah ada total pengiriman sebanyak 14 juta unit dengan nilai pendapatan sekitar US$ 1 miliar dalam satu tahun. Dan kini akan tumbuh semakin kuat, terutama di pasar enterprise di seluruh unia,” ujar Law saat konferensi, seperti dikutip dari RCR wireless.

Law menambahkan bahwa secara global, pertumbuhan small cell sangat baik walaupun dibeberapa wilayah ada penurunan. Seperti di Latin Amerika dan Eropa, segmen enterprise meningkat sekitar 200% year on year. Begitu juga di Amerika Utara yang terlihat akan meningkat tajam. Dalam 12 bulan terakhir saja terjadi peningkatan 280%. Law juga menyatakan bahwa Indian menjadi pasar yang menjanjikan, apalagi Reliance Jio akan membangun 150 ribu small cell pada tahun ini saja.

Pada kesempatan yang sama, Law juga menyebutkan bahwa Small Cell Forum menerbitkan HetNet Foundations. Hal tersebut untuk dapat menggambarkan peran small cell dalam lingkungan yang heterogen di sisi jaringan. Law pun menambahkan bahwa pada 2020 mendatang, small cell akan bertanggungjawab terhadap 85% dari trafik di jaringan global. (Icha)

Tower Bersama Akan Bangun Tower Di Jakabaring

0

Salah satu penyedia tower provider sinyal, PT Tower Bersama, akan kembali membangun tower microcell dan fiber optic di Kawasan Olahraga Jakabaring Sport City (JSC) untuk mendukung pelaksanaan Asian Games 2018 mendatang.

Hal ini disampaikan langsung oleh Area Partnership Development National PT Tower Bersama, Anjas Jaya Kusuma yang menyebutkan bahwa mereka akan membangun tower di kawasan ini untuk menjaga cakupan serta kapasitas di wilayah tersebut. Namun, pihaknya masih harus menjalani proses penjajakan dan perizinan terlebih dahulu dengan Pemprov Sumsel.

“Apabila ada rekomendasi dari Gubernur kami lanjutkan. Akan ada penentuan titik dengan dilakukan survey bersama pihak pemerintah,” ucap Anjas seperti dilaporkan Solopos (12/5).

Ia juga menuturkan hadirnya tower baru tersebut akan mampu mengcover cakupan jaringan yang tidak tercapai oleh sinyal makro serta untuk memberikan penambahan kapasitas data seluler di wilayah tersebut.

Nantinya, akan ada 20 titik tiang pembangunan tower yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sinyal, menambah kapasitas sinyal, serta menambah kerapatan cakupan jaringan sinyal.

Hal ini dilakukan guna menghadapi perhelatan Asian Games di tahun 2018 mendatang yang tentunya akan banyak orang yang mengakses data, akan ada tumpang tindih sinyal sehingga kualitas jaringan berkurang. Dengan adanya tower ini diharapkan dapat menghilangkan hambatan tersebut.

Alasan lain dari pemasangan tower ini juga dikarenakan sudah ada permintaan dari pihak provider layanan agar bisa memperkuat jaringan mereka di Kawasan Jakabaring, meski Ia urung menyebutkan operator mana yang meminta hal tersebut.

Lebih lanjut, ketika pelaksanaan Asian Games akan memberikan kontribusi penghuni dan mempermudah para peserta dan pengunjung untuk bisa menggunakan teleponnya dan mengakses data tanpa hambatan.

Seperti diketahui,  Tower Bersama Group merupakan penyedia tower yang sudah hadir di Indonesia sejak tahun 2003 silam.

Dengan memiliki banyak perusahaan yang tergabung dalam Tower Bersama Group adalah PT Tower Bersama, PT United Towerindo, PT Telenet Internusa, PT Batavia Towerindo, PT Bali Telekom, PT Prima Media Selaras dan PT Triaka Bersama, Infrastruktur dari TBIG telah menjangkau pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Batam. Mereka juga tengah memperluas jangkauan layanan ke wilayah Kalimantan dan Sulawesi.