spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1637

Kerjasama Nokia Dengan Operator di Seluruh Dunia Pekan Ini

0

Telko.id – Raksasa jaringan asal Finlandia yakni Nokia telah bekerja sama dengan operator Amerika Serikat Sprint untuk menunjukkan siaran streaming video 4K   di sebuah acara di Silicon Valley.

Acara berlangsung di Stadion Levi, rumah dari San Francisco 49ers, lebih tepatnya di Sprint experience zone. Ujicoba ini menggunakan sistem gelombang milimeter hidup yang berjalan pada 73GHz yang mendukung beam steering, dengan dukungan kecepatan hingga 2,3 Gbps dengan bandwidth spektral sebesar 1GHz dan tingkat latency mencapai 1ms.

“Kami sangat senang bahwa Sprint telah menghadirkan 5G, inovasi ini sekaligus menggaris bawahi komitmen Amerika Serikat untuk ambil bagian dalam kepemimpinan revolusi komunikasi penting ini,” kata Ricky Corker, head of North America for Nokia.

Ia menambahkan, Sebagai yang terdepan dalam pengimplementasian 5G, Nokia bekerja untuk memajukan solusi end-to-end global untuk 5G. Mereka juga telah menjadi mitra lama untuk Sprint, dan sekarang kedua perusahaan ini akan bekerjasama untuk memberikan solusi komersial yang siap dan sejalan dengan rencana mereka.

“Demonstrasi kemampuan 5G adalah salah satu dari beberapa langkah yang kami ambil untuk membawa kemampuan 5G dalam uji coba lapangan. Kami berharap dapat memanfaatkan pengalaman penyebaran kami dan bekerja sama dengan Nokia untuk memperluas penggunaan 2,5 GHz dan pita spektrum yang lebih tinggi seperti halnya berevolusi untuk 5G.” Ujar John Saw, CTO Sprint, seperti dilaporkan Telecoms (7/5).

Bukan hanya operator seluler saja, Di sisi fixed broadband Nokia telah membantu perusahaan telko asal Estonia yakni Starman. Mereka bahkan mengklaim menjadi penyedia kabel pertama di Eropa yang menyediakan layanan internet komersial berkecepatan 10 Gbps untuk perumahan.

“Ketika berinvestasi dalam layanan Internet yang kami bawa ke rumah pelanggan, kami memastikan bahwa teknologi ini merupakan portofolio penting, Hari ini kita memilih solusi yang dapat memungkinkan untuk koneksi simetris lebih besar dari 1Gbps, memungkinkan kita untuk melewati beberapa perkembangan teknologi saat ini dan mengambil tempat duduk di kereta berkecepatan tinggi 10Gbps yang baru.” Ucap Starman Group Technology Director, Jaanus Erlemann.

Sementara itu, pihak Nokia yang diwakili oleh Federico Guillèn, President Fixed Networks business group Nokia mengungkapkan bahwa selain kasus bisnis, operator kabel harus mempertimbangkan evolusi cepat dari perilaku konsumen, serta kualitas pengalaman pengguna. Ia menambahkan, “Pilihan Starman ini sekaligus mengakui nilai produk serat Nokia untuk mendukung evolusi kapasitas, bandwidth dan layanan di jaringan mereka.”

Di tempat lain Nokia telah membantu Vodacom Tanzania untuk memulai jaringan 4G, khususnya peluncuran 4G di Dar es Salaam baru-baru ini.

“Kami telah bermitra dengan Nokia untuk menggelar jaringan 4G tercepat di Tanzania, dengan semua situs yang terhubung ke jaringan serat metropolitan kami,” kata Ian Ferrao, Vodacom TZ MD.

Demikianlah beberapa proyek kerjasama Nokia dengan beberapa operator di Dunia, baik itu mobile maupun fixed broadband.

Ini Strategi China Mobile Untuk Perangi OTT

0

Telko.id – ZTE telah mengumumkan bahwa China Mobile telah resmi memulai komersialisasi jaringan untuk layanan Rich Communication Suite (RCS), dan mengklaim menjadi pemilik jaringan NFV IMS terbesar di dunia saat ini.

Sebagai mitra strategis, ZTE bekerja bersama tim di China Mobile untuk mengembangkan proyek RCS berdasarkan Virtual IP multimedia subsystem (VIMS). Proyek ini awalnya dilaporkan pada tahun lalu oleh China Mobile yang tampaknya mencari peluang untuk memerangi ancaman OTT yang meningkat, terutama meningkatnya popularitas WeChat di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Dilaporkan Telecoms (7/6), RCS milik ZTE memusatkan layanan sistem komunikasi untuk mendefinisi ulang layanan komunikasi dasar yang memungkinkan China Mobile dapat membangun layanan panggilan, pesan dan kontak service.

Gong Dehua, VP dari lini produk Core network ZTE mengungkapkan, “Hal ini juga memungkinkan peningkatan pengalaman suara dan layanan pesan tradisional, mewujudkan platform layanan informasi baru dengan membuka kapabilitas dan saluran,” ungkapnya.

Setelah menjalankan berbagai uji coba antara 550.000 karyawan, China Mobile berani mengklaim bahwa kapasitas awal yang direncanakan berada di angka 100 juta pelanggan, dan mendukung layanan RCS termasuk pesan multimedia, network voice calling, panggilan video dan kemampuan pengalamatan. Sebagai perbandingan, WeChat diperkirakan memiliki hampir 700 juta pengguna (jika berkaca pada Q4 2015), menghasilkan pendapatan melalui Moments iklan, iklan berdasarkan lokasi dan kerjasama brand. Pemilik WeChat yakni Tencent baru-baru ini melaporkan pendapatan tahunan berada diangka USD 15,8 miliar, atau meningkat 30% dari periode sebelumnya. Bisa dibayangkan, jika RCS yang dimiliki oleh China Mobile ini berjalan mulus, maka mereka akan memperoleh pendapatan lebih dari layanan itu, sekaligus dapat memperkecil pendapatan dari WeChat itu sendiri.

Sekadar informasi, China Mobile telah lama melakukan upaya untuk bersaing dengan OTT, setelah menjadi salah satu yang pertama dalam memanfaatkan platform seperti layanan Fetion SMS berbasis internet miliknya. Ketika layanan ini yang awalnya menjadi populer, platform yang lebih kecil dan lebih gesit seperti WeChat dan Youku mampu menciptakan penawaran yang lebih fleksibel untuk penyedia konten dan platform yang lebih relevan bagi pengguna. Fetion akhirnya pensiun setelah jumlah pengguna mereka menurun pada 30 Juni lalu.

Diharapkan, hadirnya RCS ini dapat menjadi pesaing kuat bahkan ‘membunuh’ para OTT yang hadir di China, sekaligus dapat menumbuhkan pemasukan baru mereka.

Mungkin strategi seperti ini dapat diadopsi oleh operator-operator di Indonesia, untuk setidaknya menghentikan dominasi OTT asing, sembari menunggu sepak terjang dari OTT lokal yang masih menjadi minoritas.

Operator Italia Ini Gandeng Ericsson Untuk Ciptakan R&D 5G

0

Telko.id – Sebuah inisiatif baru yang dirancang untuk menciptakan ekosistem open 5G melalui R&D telah diluncurkan di Italia oleh perusahaan jaringan Ericsson dan operator yang TIM.

Program ‘5G for Italy’ akan bertujuan untuk bersama-sama mengajak masyarakat, organisasi swasta dan akademik untuk tidak hanya mengembangkan teknologi tetapi juga menguji proyek 5G dan jasa serta contoh perilaku untuk inisiatif seperti kota pintar, IOT dan Industri 4.0.

“Program ini memungkinkan kita untuk mengembangkan jaringan baru secara bersamaan untuk layanan-layanan dan aplikasi yang dalam waktu dekat akan diaktifkan ketika jaringan 5G hadir, program ini ditujukan untuk kebutuhan transformasi digital perusahaan Italia dan pengembangan komunikasi multi-media baru bagi konsumen,” kata Mario di Mauro, Kepala Strategi & Inovasi di TIM, seperti dilaporkan Telecoms (7/6).

Lebih lanjut, Mauro juga menyebutkan bahwa langkah ini merupakan tonggak penting yang akan mengubah masyarakat dengan model bisnis baru dan akan memungkinkan warga dan bisnis untuk memanfaatkan potensi 5G.

Sementara itu, Nunzio Mirtillo, Head of Region Mediterranean Ericsson menuturkan bahwa kedua perusahaan akan bekerja sama dengan industri untuk memahami kebutuhan jaringan tertentu dalam rangka mewujudkan manfaat penuh dari teknologi 5G.

“Dengan memperluas program untuk mitra kunci, TIM dan Ericsson dapat menguji dan memberikan prioritas kepada layanan dan fitur mereka yang akan menjadi bagian dari jaringan 5G dalam waktu dekat, penting untuk mempercepat digitalisasi di Italy, agar dapat menghasilkan manfaat bagi warga negara, bisnis dan masyarakat,” ungkap Mirtillo.

Di tempat lain, Ericsson juga telah mengumumkan kesepakatan dengan Fox Networks Timur Tengah untuk memberikan pemutaran pada tiga saluran HD TV terbaru yakni Fox Action Movies, Fox Family Movies dan FX.

Belgia Bebaskan Spektrum untuk Uji Coba 5G

0

Telko.id – Lampu hijau telah diberikan Pemerintah Belgia kepada regulator telekomunikasi di negara tersebut, untuk membuka spektrum high-bandwidth bagi perusahaan yang ingin melakukan uji coba teknologi mobile 5G.

Selain itu, pemerintah juga menginstruksikan regulator untuk menyediakan lisensi sementara bagi para peneliti 5G.

Alexander De Croo, menteri telekomunikasi dan agenda digital Belgia mengkonfirmasi kabar ini kepada koran Belgia L’Echo, mengatakan bahwa negara menginstruksikan Belgian Institute for Postal services and Telecommunications (BIPT) untuk menemukan spektrum yang untuk sementara bisa dialokasikan untuk pusat bisnis dan penelitian untuk melakukan uji coba 5G.

BIPT sudah bekerja dengan Ericsson untuk menganalisa pita frekuensi terbaik untuk 5G, berkonsentrasi terutama pada pita spektrum yang tinggi, lapor Totaltelecom, Senin (6/6).

Negara juga telah menetapkan sejumlah ketentuan yang mengatur izin sementara, termasuk mengharuskan peneliti Belgia atau start-up terlibat dalam setiap proyek.

Belum ada ketetapan mengenai bagaimana investasi di 5G akan dilakukan, tetapi metode ada guna menghindari seluruh beban jatuh pada operator.

5G sendiri, sebagai teknologi terbaru dalam teknologi mobile direncanakan akan meluncur secara komersial sebelum 2020. Dengan beberapa negara seperti Rysia dan Korea Selatan mengklaim akan menjadi yang pertama menggelarnya.
b

Rampungkan Survey, Advan Siap Hadirkan Smartphone Unggulan

0

Telko.id – Advan yang belum lama ini melakukan riset bersama dengan lembaga riset MARS telah merampungkan riset mereka terkait pilihan smartphone unggulan yang diinginkan oleh masyarakat Indonesia.

Hasnul Suhaimi, selaku kepala project dari riset tersebut menjelaskan, “saat ini masyarakat lebih melihat kualitas, kalau kualitas bagus, maka Brand akan ikut menyusul. Tantangan kita adalah dengan permintaan yang tinggi ini sanggupkah kita menyediakan handset dengan harga yang cocok,” ujarnya pada saat jumpa media di Jakarta (6/5).

Bekerjasa dengan Samsung dan Mediatek, Advan nampaknya akan menggunakan kualitas kamera serta prosesor yang mumpuni besutan dua vendor raksasa ini.

Pada kesempatan yang sama, MARS selaku lembaga riset yang dipilih oleh Advan untuk project ini memaparkan bahwa hasil riset yang meliputi 209 responden di Jakarta dan sekitarnya ini menghadirkan beberapa hasil seperti, daya tahan baterai yang mumpuni, kapasitas RAM dan memori internal yang lega, kamera yang mendukung serta kemampuan prosesor yang mumpuni dan tambahan fitur fast charging.

Riset tersebut juga menjelaskan, sekitar 31% responden mencari smartphone untuk mendapatkan sesuatu yang baru, dan 80% pengguna mengganti smartphone mereka dalam kurun waktu dua tahun.

Lebih dalam, sekitar 86% responden lebih menginginkan OS Android, dengan 50% responden menginginkan RAM sebesar 2 GB. Sementara untuk kecepatan prosesor, sekitar 50 persen pengguna lebih menyukai smartphone dengan kecepatan 2GHz. Hasil mengejutkan terjadi pada sisi konektivitas, dengan konektivitas 4G tidak terlalu diinginkan oleh responden dan hanya 1 persen saja dari responden yang menginginkan hadirnya konektivitas 4G. Meskipun konektivitas 4G hanya 1 persen saja, namun Advan tetap akan menghadirkan layanan 4G pada smartphone terbaru mereka.

Berbicara mengenai Brand, lebih dari 50% responden menyukai brand asal Indonesia, dengan branding dan desain yang lebih Indonesia. Responden juga menginginkan aplikasi lokal sudah tertanam pada smartphone.

Secara keseluruhan, beberapa aspek yang perlu diperhatikan seperti daya tahan baterai, Operating System (OS), resolusi kamera (8 MP untuk belakang dan 5 MP untuk depan), sensitivitas layar serta kapasitas memori menjadi fokus dari pengembangan ini dengan diharapkan beberapa aspek tadi bisa hadir dengan spesifikasi mumpuni namun tetap memiliki harga yang bersahabat.

Andi Gusena, Brand Director Advan mengaku bahwa mereka juga melakukan riset secara internal mengenai smartphone unggulan yang harus dihadirkan oleh Advan.

“Selain riset dari MARS, kami juga sudah melakukan internal research, dengan mencoba melihat fitur-fitur yang tidak terlalu diperlukan oleh pengguna untuk tidak dibenamkan kedalam smartphone Advan agar bisa memotong cost, Advan juga akan berfokus pada kualitas dan user experience dari para pengguna,”

Andi juga tidak tanggung-tanggung untuk memperkenalkan nama dari smartphone yang digadang-gadang akan memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia ini dan nama Smartphone ini adalah Advan Gold 1(G1).

Andi menuturkan, nantinya Advan G1 akan menggunakan Megapiksel kamera yang tidak terlalu besar namun optimal layaknya Iphone serta kemudahan untuk selfie, berbahan metal, full Unibody, finger print, speaker berbahan metal agar menghasilkan suara yang berkualitas, Advan juga akan menggunakan desain yang lebih Indonesia pada User Interface mereka.

Disinggung mengenai harga dan ketersediaan, Andi mengungkapkan bahwa smartphone ini rencananya akan dibanderol dengan harga 2 juta rupiah. Namun, untuk ketersediaan di market, Andi belum bisa memastikan kapan smartphone anyar ini akan selesai dibuat. Pasalnya, mereka harus menunggu kesiapan dari MediaTek sekaligus Samsung sebagai pemasok komponen.

Pajak Komponen Berpotensi Jadi Kendala

Peraturan TKDN yang diberlakukan oleh pemerintah memang cukup menjadi kendala dari setiap vendor smartphone untuk bermanuver di pasar Indonesia. Aturan TKDN juga memaksa para vendor smartphone khususnya 4G untuk setidaknya merakit smartphone mereka di Indonesia, sedangkan komponen-komponen inti masih belum tersedia disini. Selain harus impor, komponen tersebut nyatanya juga dibebankan pajak komponen. Sedangkan, untuk vendor yang mengimpor langsung produk smartphone tanpa perlu merakit disini tidak dikenakan pajak. Hal inilah yang tentu cukup menyulitkan para vendor yang ingin menaati peraturan TKDN.

Mengenai hal ini, Hasnul mengungkapkan bahwa itu merupakan sebuah tantangan lain bagi Advan. Ia mengunkapkan, “salah satu strategi untuk mengatasi hal ini adalah dengan menghadirkan smartphone yang dari segi spek tidak terlalu maksimum, tapi cukup optimal sehingga bisa menekan jumlah tax yang timbul,” ujar Hasnul pada sesi doorstep.

Dengan vendor smartphone yang dituntut untuk memenuhi TKDN, akan lebih baik jika pajak komponen ikut dihapuskan, karena pajak ini akan menyulitkan para vendor untuk memenuhi TKDN, minimal untuk merakit smartphone di Indonesia.

Revenue 4G Lampaui 3G di 2016, Koneksi Capai 1.9 Miliar

Telko.id – Menurut laporan terbaru dari Strategy Analytics, pendapatan yang dihasilkan oleh langganan 4G akan melampaui apa yang dihasilkan 3G untuk pertama kalinya pada tahun 2016.

Diperkirakan juga, total pendapatan layanan nirkabel (tidak termasuk M2M) akan mencapai puncaknya pada tahun 2019 dengan US$ 882 miliar dan setelah itu mulai menurun. Pertumbuhan ini sudah cukup datar, dengan angka di 2019 yang hanya 3% naik dibanding 2015 dengan tekanan persaingan dan peraturan membatasi peluang pertumbuhan.

Jumlah koneksi 4G global diperkirakan akan meningkat dari 1.1 miliar menjadi 1.9 miliar selama tahun ini dan mencapai 5,6 miliar pada akhir 2022.

Di saat yang bersamaan, GSA juga secara kebetulan mengumumkan hasil penelitiannya hari ini mengatakan bahwa jumlah total jaringan 4G global telah mencapai 500 lebih.

“Pasar maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan akan melihat sebagian besar pendapatan mereka berasal dari layanan LTE 4G tahun ini, meskipun China juga akan memberikan kontribusi yang signifikan,” kata analis SA, Phil Kendall seperti dilansir Telecoms, Senin (6/6).

Ia menambahkan, dengan menyalip Amerika Serikat untuk menjadi pasar 4G terbesar di dunia pada Q3 2015, China akan membuat iri pasar berkembang lainnya dengan lebih dari setengah dari pendapatan 2016-nya diproyeksikan berasal dari 4G LTE.

“Layanan 5G komersial akan dimulai di beberapa pasar pada tahun 2020, terutama di Amerika Serikat dan pasar Asia yang maju,” kata Susan Welsh de Grimaldo dari SA.

Ia memperkirakan pengguna yang terkoneksi dengan 5G akan tumbuh dari 2 juta pada tahun 2020 menjadi 116 juta pada tahun 2022, dengan modem dan router mendorong adopsi awal.

Lewat grafik yang dibuatnya, SA juga menunjukkan bahwa butuh waktu dua tahun bagi 4G untuk berjalan dan kemudian lebih lanjut empat tahun untuk menjadi generator pendapatan utama. SA menilai proses yang sama juga akan terulang pada 5G, mulai dari tahun 2020.

SA-service-revenue-chart

Nokia dan FiberStar Kerjasama Hubungkan Jawa dan Bali

0

Telko.id – Nokia dan FiberStar bekerjasama untuk menyediakan kapasitas backbone baru di wilayah-wilayah ‘greenfield’ di Jawa dan Bali. Nokia akan menggelar teknologi DWDM terbarunya, yang memungkinkan kecepatan hingga 100G per wavelength untuk mendukung FiberStar dalam menyediakan jaringan quad play dengan layanan telekomunikasi triple-play yang canggih.

Pemilihan pulau Jawa dan Bali oleh kedua perusahaan juga bukannya tanpa sebab. Pulau Jawa dipilih lantaran berkembang dengan cepat sebagai pusat kegiatan ekonomi di Indonesia, sementara Bali merupakan tujuan wisata yang terdepan.

Menurut FiberStar, menghubungkan kedua pulau tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperluas cakupan fiber optik di lebih banyak kota di Indonesia sampai 2019.

“Dengan penggelaran fiber optik ini kami ingin membantu konsumen dan mempercepat adopsi ICT untuk meningkatkan perekonomian di berbagai daerah di Indonesia,” kata Thomas Dragono, Commercial Director, FiberStar, melalui keterangan resmi, Senin (6/6).

Ia menambahkan, dengan pemahaman pasar yang komprehensif dan keahlian yang dikombinasikan dengan teknologi Nokia yang telah terbukti, FiberStar akan dapat menawarkan solusi terbaik untuk mengatasi kebutuhan telekomunikasi saat ini, khususnya di seluruh wilayah Jawa dan Bali.

Teknologi Nokia akan membantu FiberStar dalam mengoptimalkan jaringan untuk kapasitas tertinggi dengan biaya terendah per bit. Proyek ini juga mencakup kontrak pemeliharaan layanan selama lima tahun untuk menjamin kinerja jaringan terbaik.

“Eksistensi kuat kami di Indonesia dan rekam jejak produk yang bagus memberikan FiberStar sarana untuk memberikan bandwith tertinggi dan mempercepat penyediaan layanan baru. FiberStar dapat menggunakan penggunaan ini sebagai titik awal dengan teknologi 100G yang dapat ditingkatkan kedepannya menjadi 400G dan seterusnya,” tambah Robert Cattanach, head of Indonesia, Nokia.

Nokia sendiri hadir pertama kali di pasar dengan single carrier koheren 100G komersial pada tahun 2010; dan antarmuka 100G/200G pertama yang bisa diprogram pada tahun 2013.

Berhasil, Right Issue XL Direspon Positif Para Investor

0

Telko.id – Operator XL Axiata mengumumkan keberhasilannya dalam menerbitkan saham baru senilai USD500 juta yang didukung penuh oleh pemegang saham dan diminati oleh investor yang terlihat dari kelebihan pemesanan (oversubscription) saham tambahan yang diajukan sebelum penjatahan terakhir.

Terkait dukungan ini, Presiden Direktur dan CEO XL, Dian Siswarini mengurai rasa terima kasihnya. Inisiatif strategis ini diakuinya sejalan dengan strategi balance sheet management, dimana perusahaan senantiasa berupaya untuk memperkuat posisi keuangan XL dan meminimalisir eksposur valuta asing.

“Dana bersih yang diperoleh dari penawaran umum terbatas II ini akan digunakan untuk pembayaran kembali atas seluruh hutang kepada pemegang saham senilai USD500 juta yang diberikan Axiata Group Berhad,” kata Dian melalui keterangan tertulis, Senin (6/6).

Setelah dilaksanakannya penawaran umum terbatas II dan pembayaran kembali atas seluruh hutang kepada pemegang saham senilai USD500 juta, XL akan melakukan lindung nilai atas seluruh sisa hutang XL dalam denominasi dolar Amerika Serikat sampai dengan tanggal jatuh tempo.

Pelunasan hutang tersebut akan mengurangi rasio hutang terhadap ekuitas XL dari 1,8x pada tanggal 31 Maret 2016 menjadi 0,9x, berdasarkan laporan proforma setelah penawaran umum terbatas II.

TCASH TAP Jadi Pelengkap Bandung Smart City

0

Telko.id – Telkomsel TCASH TAP merupakan cara bayar baru dengan teknologi Near Field Communication (NFC) yang bisa digunakan untuk semua pelanggan Telkomsel dan semua jenis handphone. Ekspansi layanan TCASH TAP dilakukan ke kota Bandung dengan menggandeng banyak merchant, serta mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia dan pemerintah setempat. Peluncuran TCASH TAP di Bandung juga disaksikan langsung oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil.

Direktur Planning & Transformation Telkomsel, Edward Ying mengatakan, “TCASH memberikan banyak kemudahan dan pengalaman unik kepada pelanggan dalam melakukan transaksi non tunai. Dengan hadirnya layanan TCASH TAP di Bandung, diharapkan layanan keuangan digital semakin diadopsi untuk mendukung gaya hidup masyarakat dalam bertransaksi secara non tunai dan dalam rangka pemberdayaan masyarakat dengan layanan keuangan inklusif.”

Edward lebih lanjut menjelaskan bahwa hadirnya layanan TCASH TAP di Bandung ini selain merupakan upaya Telkomsel dalam mendukung terciptanya less-cash society di Bandung, namun juga untuk berkembangnya UKM lokal, melalui layanan pembayaran elektronik. Pada kesempatan ini, Telkomsel juga menyelenggarakan event TAP Market yang seru di Trans Studio Mall, dengan menggandeng 40 pengusaha kuliner muda.

Telkomsel juga bekerja sama dengan komunitas Daarut Tauhiid dalam mengembangkan cash-less ecosystem di lingkungan pesantren/sekolah. Sebelumnya telah dilakukan uji coba berupa pembayaran honor santri karya dan belanja para santri di lingkungan Daruut Tauhiid melalui TCASH. Ke depannya, layanan ini berpotensi untuk dikembangkan di 3.000 pesantren di Indonesia. Selain itu Telkomsel juga menjajaki kerja sama lanjutan dengan pemerintah kota Bandung untuk bersama-sama mengembangkan cash-less dan innovative transactions di Bandung.

Walikota Bandung, Ridwan Kamil mengatakan, “Kami berterima kasih atas upaya Telkomsel untuk mendigitalisasi bisnis dan wirausahawan UKM yang ada di Bandung melalui layanan keuangan digital. Kami berharap semakin banyak masyarakat Bandung yang menggunakan layanan digital untuk aktivitas sehari-hari, dan dimudahkan dalam membayar layanan-layanan publik dengan uang elektronik pada pengembangan selanjutnya. Tentunya hal ini sejalan dengan upaya kami dalam membangun Bandung Smart City.”

Aplikasi Pembayaran Berbasis NFC Pertama di Indonesia

Bertepatan dengan peluncuran ini, Telkomsel memperkenalkan pertama kali di Indonesia, aplikasi pembayaran berbasis NFC di T-Wallet untuk smartphone android yang memiliki fitur NFC. Pengguna cukup mengunduh T-Wallet dari application store dan mengaktifkan fitur NFC TCASH TAP.

Adapun TCASH TCAP dengan NFC, pertama kali diluncurkan Telkomsel di area Jabodetabek pada bulan Oktober 2015, dan saat ini telah digunakan oleh lebih dari 500.000 pengguna. Penggunaan layanan ini amat mudah, cukup dengan mengaktifkan dan menempelkan sticker NFC TCASH ke ponsel, pelanggan dapat melakukan ‘TAP’ di mesin EDC NFC yang tersebar di outlet merchant. Transaksi TCASH pun sangat aman karena menggunakan PIN.

Saat ini, TCASH TAP dapat digunakan di lebih dari 80 merchant ternama dengan lebih dari 6,000 outlet di antaranya adalah McDonald’s, Coffee Bean, Baskin Robbins, Wendy’s, 7Eleven, Bakmi GM, Indomaret, Coldstone, Krispy Kreme, Urban Kitchen, Amazon, dan Cinema XXI. Di Bandung, Telkomsel mendukung berkembangannya bisnis lokal dengan bekerja sama dengan beberapa merchant lokal Bandung dan memberikan banyaknya manfaat dari sistem pembayaran elektronik menggunakan TCASH.

TCASH juga bekerja sama dengan pemerintah pada pra uji-coba pemanfaatan TCASH sebagai alternatif solusi mekanisme penyaluran bantuan sosial non-tunai bersama Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) untuk studi kelayakan penggunaan uang elektronik TCASH untuk distribusi dana bantuan pemerintah. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan distribusi bantuan sosial secara non-tunai menjadi lebih tepat sasaran, tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat administrasi.

“TCASH dapat menjadi media yang efektif, terutama karena jaringan pelanggan, jaringan distribusi, dan jangkauan network yang dimiliki Telkomsel. Dengan jumlah pengguna yang mencapai 153 juta pelanggan dan jaringan distribusi yang tersebar di lebih dari 400,000 jaringan, hal ini diharapkan dapat mewujudkan percepatan inklusi layanan keuangan digital untuk semua masyarakat Indonesia”, jelas Edward.

Melihat masih tingginya angka populasi masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan (unbanked), Telkomsel juga bekerjasama dengan BTPN menghadirkan layanan keuangan terbaru berupa layanan ketersambungan antara uang elektronik TCASH dengan tabungan BTPN Wow! Layanan ini hadir untuk memberikan kemudahan bertransaksi dan menabung melalui ponsel. (Icha)

Keamanan Harus Menjadi Dasar dari Digital Distruption

Telko.id – Perusahaan telekomunikasi telah melihat digital distruption lebih sebagai peluang bisnis ketimbang sebuah ancaman bagi mata pencaharian mereka, namun mereka sejatinya mengambil keuntungan dari sebuah kesempatan yang memerlukan sebuah keamanan sebagai landasan dari transformasi digital mereka.

Itu adalah tema kunci yang muncul dari panel paripurna di CommunicAsia 2016 Summit Kamis tentang digital distruption. Ketika panel ditanya bagaimana untuk membawa tren digital ke dalam inti atau bisnis mereka, jawaban dari panel adalah fitur keamanan.

“Hal utama adalah keamanan. Anda tidak dapat melakukan dialog bisnis yang kredibel tanpa itu, “kata Robert Le Busque, MD strategy and planning for APAC, EMEA and LATAM at Verizon Enterprise, seperti dilaporkan TelecomAsia (6/6).

Lebih lanjut, Ia menambahkan bahwa security merupakan sebuah dialog yang harus terjadi, karena lanskap ancaman sangat terfragmentasi, dengan motivasi yang kompleks.

“Ketika kita berbicara tentang lanskap IOT dalam lima atau sepuluh tahun, kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terlihat, tapi itu adalah kesempatan besar bagi para aktor yang buruk untuk memanfaatkan hal tersebut dan merugikan kita,” tambah Le Busque. “Ini adalah area yang sulit untuk membuka, tapi itu percakapan pertama saya dengan pelanggan.”

Sementara itu, Wing K Lee, CEO dari YTL Communications, mengatakan bahwa itu adalah masalah kepercayaan.

“Setelah kepercayaan telah dilanggar, Anda tidak bisa kembali, dan memiliki efek yang berpengaruh untuk seluruh ekosistem. Sebagai contoh, video terbaru di YouTube dari orang-orang yang meretas connected cars dan menutupnya ketika sedang berada di jalan? video tersebut menjadi sebuah viral dan saat ini semua orang takut mengendarai Connected Car, ” ujar Lee.

Lee menambahkan bahwa hal ini menciptakan sebuah kesempatan bagi perusahaan telekomunikasi. “karena kita tahu bagaimana cara untuk menjalankan jaringan yang aman, dan kami memiliki tingkat kepercayaan dengan pelanggan kami. Tapi kita harus selalu ingat bahwa kita membutuhkan sebuah landasan yang aman,”

Selain itu, Fermin Fautsch, VP global enterprise, Telekom Malaysia, mengungkapkan hal senada, namun mencatat bahwa perusahaan telekomunikasi bukan satu-satunya dalam ekosistem yang membutuhkan pendekatan dasar untuk keamanan.

“Keamanan merupakan masalah besar, tapi kami memberitahu pelanggan kami bahwa Anda harus menerapkannya juga. Kami melihat cerita dari bank hacked dan menyalahkan penyedia pembayaran. Setiap orang harus menganggap mereka akan diserang, bahkan jika mereka bukan menjadi target utama,” tukasnya.