spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1595

SK Telecom dan Verizon Kolaborasi Kembangkan 5G

0

Telko.id – Era 5G memang masih 4 tahun lagi. Namun, setiap pemain di industri ini sudah ancang-ancang untuk menghadapinya karena di percaya akan membawa dampak yang sangat positif bagi perusahaan dan industri secara keseluruhan. Untuk menghadapi moment besar itu, SK Telecom yang merupakan operator seluler terbesar Korea Selatan, dan telco terbesar Amerika Serikat Verizon menjalin kerjasama.

“Verizon akan terus berkolaborasi dengan SK Telecom untuk mengembangkan teknologi 5G,” kata Roger Gurnani, Chief Information and Technology Architect Verizon menjelaskan, seperti yang dikutip dari Telecomasia.

Gurnani juga menambahkan bahwa penandatanganan MOU ini mencerminkan upaya gabungan untuk memajukan ekosistem 5G dan mendorong pengembangan teknis menuju komersialisasi global teknologi 5G.

Target kerjasama kedua oprator besar ini adalah untuk mengembangkan 5G spesifikasi secara teknis. Hal ini baru saja diumumkan oleh kedua perusahaan tersebut. Baik Verizon maupun SK Telecom juga akan melakukan studi bersama untuk mengidentifikasi 5G kasus penggunaan dan aplikasi.

Sebagai catatan, sebelum penandatanganan kerjasama ini, medio Februari lalu, kedua operator telekomunikasi dua ini, bersama-sama dengan perusahaan telekomunikasi Korea KT dan operator asal Jepang NTT DoCoMo, membentuk aliansi yang disebut 5G Open Trial Specification Alliance. Tujuannya adalah untuk menetapkan standar pengujian untuk teknologi jaringan generasi mendatang.

Berkenaan dengan kerjasama yang dilakukan oleh Verizon dan SK Telecom tersebut, kedua nya akan melakukan Open Computer Project (OCP). Proyek ini akan fokus dalam mendesain ulang teknologi perangkat keras untuk mendukung infrastruktur komputasi yang lebih baik, dan Mobile Central Office Rearchitected sebagai Datacenter (M-CORD).

Sebagai informasi, awal Juni lalu, SK Telecom dan Ericsson melakukan demonstrasi tentang program infrastruktur 5G di sebuah laboratorium di Korea Selatan. SK Telekom bersama Samsung juga sudah meluncurkan Internet of Things dengan network khusus secara nasional. (Icha)

Melirik Tantangan Dan Kesiapan IOT Indonesia

0

Telko.id – Perhelatan Asia IoT Business Platform 2016 resmi digelar. Bertempat di JW Marriot Hotel Jakarta, kegiatan yang berlangsung selama dua hari yakni pada tanggal 15-16 Agustus ini membahas tentang berbagai peluang serta tantangan dalam pengadopsian IoT di Indonesia.

Indonesia yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 235 juta jiwa dan 297 juta pelanggan seluler. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara keempat di dunia jika dilihat dari segi populasi. Dengan banyaknya penduduk, hadirnya IOT bisa menjadi sebuah solusi besar terhadap setiap permasalahan yang kerap terjadi di masyarakat seperti kemacetan lalu lintas, kriminalitas, hingga konektivitas.

Asia IoT Business Platform 2016 merupakan suatu perhelatan konferensi dan pameran tertutup, dan suatu platform bagi para pengambil keputusan, baik dari pihak penyedia layanan maupun perusahaan, untuk bertemu dan bertukar pikiran dalam rangka mendorong dan membangun solusi-solusi teknologi cerdas demi mengatasi tantangan bisnis dan masalah-masalah sosial.

Pertemuan ini diharapkan memberi dampak nyata bagi produktivitas dan pertumbuhan teknologi di ASEAN. Hal ini termasuk peningkatan produktivitas perusahaan-perusahaan swasta dan publik, serta pemanfaatan TIK dan jaringan untuk mengatasi permasalahan di kota-kota besar.

Oleh karena itu, pertemuan strategis ini akan berfokus pada perusahaan telekomunikasi lokal, lembaga pemerintahan, pelaku usaha, serta para pengguna akhir.

“IOT terlalu besar untuk selektif di beberapa sektor saja. Kita percaya, dengan menghadirkan IOT ke pada masyarakat, akan mampu meningkatkan digital ekonomi dan itu menjadi tujuan XL dalam menghadirkan IOT, ” ujar Arifa Febriyanti, Kepala Divisi IOT XL Axiata.

Sementara itu, Marina Kacaribu selaku VP Enterprise Digital Service Telkomsel mengungkapkan, smart city menjadi sebuah peluang, namun perlu diperhatikan juga bahwa setiap kota memiliki permasalahan yang berbeda. IOT merupakan sebuah peluang mulai dari productivity, solusi hingga smart city.

DSC_0194

Tantangan

Sementara berbicara mengenai tantangan, Hendra Sumiarsa selaku Head of M2M Indosat perwakilan Indosat Ooredoo menjelaskan bahwa tantangan mereka adalah bagaimana menemukan model bisnis yang tepat untuk IOT.

“Tantangan kami adalah bagaimana menemukan bisnis model yang tepat dan menemukan klien yang tepat. Kami harus kerja bersama dengan berbagai stakeholder dan berkolaborasi agar semuanya bersinergi,” ujar Hendra.

Sementara itu, Marina menegaskan, bahwa tantangan terbesar adalah merubah pola pikir dan bisnis model darti tiap perusahaan yang bermain di ranah IOT.

“Tantangan terbesar menurut kami adalah merubah pola pikir dan juga merubah bisnis model karena jika melihat bisnis model dari sektor telko, anda tidak hanya membeli sebuah volume, melainkan performance dari solusi yang anda gunakan,” ujar Marina.

Sementara bagi Arifa Febriyanti, Kepala Divisi IoT XL Axiata menekankan bahwa solusi Telco memainkan peran yang sangat penting dalam dunia IOT.

“Kita bisa menyediakan solusi untuk layanan IoT. Untuk pelanggan, tidak ada kerumitan bagi mereka saat menggunakan solusi IoT karena perusahaan telekomunikasi sebagai penyedia solusi untuk IoT telah menyediakan segala sesuatu mulai dari konektivitas, aplikasi dan perangkat, serta semua sensor yang menyediakan layanan secara total,” tambah Arifa

Sejak tahun 2015, Industri TIK di Indonesia masih di dominasi oleh sektor telekomunikasi, namun sejatinya TIK bukan hanya dari telko semata, melainkan juga banyak sektor seperti aplikasi dan industri kreatif dengan startup digital mereka. Kominfo sendiri selaku pihak regulator saat ini mereka tengah membentuk startup digital yang ada di berbagai sektor untuk menunjang IOT.

Produk

Indosat menyediakan produk horizontal seperti platform IOT, engine big data analitik, Cloud. Sementara produk vertical, mereka melihat growth nya dimana dan key sektornya dimana. Sampai dengan saat ini ada di sektor transportasi, utilitas dan konsumer. Sementara mengenai pertumbuhan, Indosat menargetkan pertumbuhan IOT diatas jasa layanan yang lain.

Sementara XL, mereka tengah membangun ekosistemnya, selain menyediakan vertical produk. Mereka membangun ekosistem ini secara berkesinambungan.

Sedangkan untuk Telkomsel, mereka juga sama seperti kedua operator tadi, namun mereka lebih menggali lebih dalam dengan para konsumer untuk mendeliver apa yang mereka inginkan.

“Kita percaya, potensi besar ada di Indonesia, tapi again, bagaimana kita bisa mengaggregasikannnya dan memberikan manfaat bagi para pelanggan,” ujar Marina.

28% Operator di Dunia Sudah Secara Komersial Tawarkan LTE-A

0

Telko.id – Penelitian terbaru dari asosiasi pemasok ponsel global, GSA, mengatakan bahwa 521 operator telah secara komersial meluncurkan jaringan LTE, LTE-Advanced atau LTE-Advanced Pro di seluruh dunia.

Menurut laporan Evolution GSA untuk LTE, harus ada 560 jaringan LTE yang diluncurkan secara komersial pada akhir 2016 dan lebih dari 28% dari operator LTE telah secara komersial meluncurkan jaringan LTE-Advanced. Meskipun untuk saat ini, pengembangan LTE-A menunjukkan bahwa operator tidak hanya duduk diam dalam menanti kedatangan 5G, melainkan membuat investasi tambahan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

LTE-A telah dipromosikan sebagai teknologi yang dapat memastikan video streaming lebih halus, meningkatkan layanan Voice-over-LTE HD dan meningkatkan kecepatan internet.

Menurut pemberitaan Telecoms, Senin (15/8), sebanyak 192 operator LTE, atau sekitar 37% sedang berada dalam proses penggelaran teknologi LTE-Advanced atau LTE-Advanced Pro di 84 negara, dari 147 operator, sekitar 28%, telah meluncurkan layanan broadband wireless LTE-Advanced atau LTE-Advanced Pro secara komersial di 69 pasar terpisah di seluruh dunia.

“LTE-Advanced itu mainstream. Lebih dari 100 jaringan LTE-Advanced saat ini kompatibel dengan smartphone Category 6 (151-300 Mbps downlink) dan perangkat pengguna lainnya,” kata Alan Hadden, VP, Research di GSA.

“Jumlah jaringan yang bisa Category 9 (301-450 Mbps) signifikan dan berkembang. Sistem Category 11 (hingga 600 Mbps) secara komersial diluncurkan, memimpin jalan untuk layanan Gigabit yang diperkenalkan pada akhir tahun.”

Meskipun LTE-A telah menjadi menjadi topik hangat di industri selama beberapa waktu, laporan menunjukkan bahwa teknologi ini kian dekat untuk menjadi proposisi komersial yang konsisten. Kecepatan dunia nyata dari LTE-A secara umum adalah dua sampai tiga kali lebih cepat dari LTE, dengan kualitas panggilan yang jauh lebih stabil.

Kebutuhan akan kecepatan terus menjadi tren di kalangan konsumen, meskipun statistik menunjukkan bahwa operator melakukan investasi untuk memastikan infrastruktur jaringan dapat sejalan dengan harapan konsumen.

Telenor Tawarkan 4G Gratis untuk Pengguna Pakistan

0

Telko.id – Setelah bulan lalu menggelar layanan 4G di Myanmar, Telenor kini melebarkan sayap ke Pakistan. Perusahaan asal Norwegia ini telah meluncurkan layanan 4G di beberapa kota besar pilihan di Pakistan.

Beberapa kota seperti Karachi, Lahore, Islamabad, Multan, Peshawar dan Swat, disebut Telenor telah dapat menikmati layanannya sejak pekan lalu.

Diungkapkan Telenor Pakistan, seperti dilansir Totaltele, Senin (15/8), penggunaan internet 4G gratis untuk semua pengguna, dalam waktu yang terbatas. Meskipun tidak diungkapkan hingga kapan. Perusahaan induk hanya mengatakan bahwa penawaran 4G yang menarik tengah disiapkan untuk pelanggan dengan pengumuman datang dalam waktu dekat.

Operator juga mendorong pengguna dengan smartphone yang kompatibel dengan 4G untuk mengakuisisi SIM 4G di salah satu pusat penjualan atau layanannya. Ini menunjukkan bahwa pengguna akan membutuhkan handset yang dapat menjalankan 4G pada pita 850 MHz, yang konon secara legal di Pakistan.

“Untuk Telenor Pakistan, ini merupakan lompatan besar dalam mewujudkan ambisi untuk membawa Internet ke semua orang dan memberdayakan Pakistan dengan teknologi digital,” kata operator.

Ke depan, perusahaan mengatakan akan meluncurkan layanan 4G ke berbagai kota lainnya di Pakistan.

Kecepatan Sprint Tembus 295 Mbps

0

Telko.id – Operator nirkabel Sprint mengungkapkan bahwa telah mencapai kecepatan puncak hingga 295 Mbps di tiga saluran carrier aggregation pada tes laboratorium menggunakan smartphone HTC 10.

Dilansir dari TelecomLead (14/5), HTC 10  merupakan perangkat asal Taiwan yang menjadi salah satu perangkat pertama di pasar nirkabel untuk mendukung fungsi tersebut.

Sprint, operator yang merupakan perusahaan yang dimiliki oleh SoftBank Jepang, sedang menguji agregasi tiga saluran di laboratorium untuk mengevaluasi kinerja, kecepatan, dan kehandalan yang sedang mempersiapkan diri untuk penyebaran jaringan LTE Plus.

Sekadar informasi, Sprint telah menawarkan 22 perangkat yang mendukung operator agregasi dua-channel pada perusahaan jaringan LTE Plus. Di laboratorium pada bulan Maret, Sprint menunjukkan kecepatan lebih dari 300 Mbps menggunakan operator agregasi tiga saluran pada Samsung Galaxy S7.

Sprint mengatakan carrier agreggation dengan tiga channel mampu bekerja pada smartphone seperti HTC 10, HTC 9, LG G5, Samsung Galaxy S7, dan Samsung Galaxy S7 Edge. Sprint dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin mengatakan perangkat lunak akan diperbarui pada perangkat ini dalam rangka untuk berbagi manfaat dari agregasi tiga channel berikut penyebaran jaringan di pasar nirkabel AS.

Cakupan LTE Sprint sendiri mencapai sekitar 300 juta orang atau lebih dari 90 persen populasi di Amerika Serikat. Dalam hal ini, Sprint berada diurutan ketiga dibawah dua operator besar yakni AT & T dan Verizon.

“LTE Plus menggunakan beberapa teknologi yang paling maju di nirkabel seperti carrier aggregation dan itu adalah bagian penting dari strategi Densifikasi dan Optimasi kami,” kata Gunther Ottendorfer, Sprint COO, Technology.

Dua-channel agregasi yang digunakan oleh Sprint saat ini memberikan kecepatan puncak lebih dari 100 Mbps di 237 pasar LTE Plus seluruh negeri yang menggunakan total 40MHz spektrum di sites sel 2.5GHz milik perusahaan. Dengan tiga saluran pembawa agregasi Sprint akan memanfaatkan 60MHz spektrum untuk memberikan kecepatan puncak lebih dari 200 Mbps pada perangkat yang kompatibel.

John Saw, CTO dari Sprint, mengatakan bahwa dengan kepemilikan lebih dari 160MHz spektrum, mereka memiliki kapasitas lebih banyak dari operator lain di Amerika Serikat. Hal ini yang menyebabkan banyak pelanggan yang beralih ke layanan mereka dan Sprint mengaku percaya diri untuk memenuhi permintaan pelanggan akan data, baik untuk sekarang atau masa depan.

ZTE Tekankan Pentingnya NFV Untuk Operator Indonesia

0

Telko.id – Perusahaan Telekomunikasi di Indonesia khususnya operator seluler tengah menyambut tren Internet Of Things (IOT) serta digitalisasi di Indonesia.

Hal ini tak lepas dari penggunaan teknologi Network Function Virtualization (NFV) untuk membantu kinerja pelayanan setiap operator dalam negeri.

ZTE sendiri sebagai vendor telekomunikasi telah menyajikan solusi NFV untuk membantu para operator Tanah Air dalam menjawab peluang di era IOT sekaligus untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi para pelanggan.

Berdasarkan keterangan pers yang diterima oleh tim Telko.id (13/8), ZTE memprediksi ada tiga hal penting yang akan hadir sebagai cakupan dari peningkatan konsumsi mobile broadband.

Pertama, peningkatan konsumsi internet para individu secara mobile akan membuat pengguna internet mobile mengambil alih para pengguna tetap menjadi pengguna utama dari internet.

Kedua, peningkatan konsumsi intranet para perusahaan secara mobile akan membuat Bring Your Own Device (BYOD) menjadi popular seiring peningkatan skala pengembangan LTE.

Ketiga, berkembangnya komunikasi data dari person-to-person menjadi person-to-machinedan machine-to-machine akan meningkatkan jumlah koneksi jaringan menjadi 50 sampai 10 miliar, dan mobile Internet of Everything (IoT) akan menjadi kenyataan.

“ZTE percaya bahwa kunci dari pengembangan jaringan telekomunikasi adalah mampu mengkonstruksikan lapisan jaringan secara horizontal, yang dapat mendukung kontrol yang terintegrasi dan manajemen yang selaras dengan memperkenalkan arsitektur Network Function Virtualization (NFV). Virtualisasi jaringan akan membuat jaringan yang dimiliki operator menjadi lebih cekatan, lebih terpercaya dan efisien,” kata Mo Li selaku Chief Architect dari ZTE CTO Group.

NFV sendiri merupakan bentuk migrasi peralatan telekomunikasi dari platform berdedikasi yang sudah ada menjadi server Commercial Off-The-Shelf (COTS). Jaringan telekomunikasi pada umumnya menggunakan perangkat keras dalam jumlah banyak, seperti router data jaringan, perangkat core network, dan server berperforma tinggi.

Saat beberapa peralatan ini tidak berinteraksi dengan baik, hal ini akan menyebabkan penurunan signifikan dalam efisiensi performa, juga biaya konstruksi yang tinggi bagi para operator telekomunikasi. Hasilnya, beberapa perangkat keras ini tidak dapat digunakan dalam beberapa pelayanan yang berbeda. Dengan demikian para operator membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengembangkan layanan yang baru. Lebih lagi, biaya operasional dan pemeliharaan akan meningkat dan menghamburkan energi dalam jumlah besar.

ZTE menjelaskan, Bagi Indonesia yang merupakan salah satu negara yang rawan bencana alam, NFV memiliki manfaat besar di mana para provider telekomunikasi tidak perlu mendatangkan back-up network dari luar apabila terjadi bencana karena selama jaringan tersedia, maka data dan aplikasinya masih tetap dapat diakses dari data center yang terletak di beberapa lokasi.

ZTE juga memprediksi bahwa selama beberapa tahun ke depan, level dari mobile traffic secara bertahap akan melebihi pesan suara/SMS dan akan menjadi sumber pendapatan utama bagi para operator telekomunikasi, membawa kinerja telekomunikasi memasuki tingkat pengembangan layanan digital.

Sekadar informasi, ZTE telah meneliti teknologi NFV sejak tahun 2012 dan selama bertahun–tahun, ZTE telah menciptakan langkah besar ke depan dalam mengembangkan solusi NFV dengan performa tinggi dan terpercaya, yang sesuai dengan kebutuhan bisnis telekomunikasi.

Dengan performa carrier-class, solusi NFV milik ZTE mendukung teknologi terbuka dan pemrograman aliran. Bahkan, pada tahun 2015 ZTE ditunjuk sebagai kontraktur tunggal dalam menyediakan solusi E2E berbasis NFV untuk platform RCS milik China Mobile. Platform tersebut nantinya akan menjadi platform RCS berbasis NFV terbesar di dunia yang mendukung penerapan jaringan dan peningkatan kapasitas yang lebih elastis, aman, dan stabil.

Ternyata XL Masih Rajin Bangun Jaringan Fiber Optik

0

Telko.id – Setelah beberapa kali XL melakukan penjualan BTS miliknya, ternyata XL masih punya proyek pembangunan jaringan. Namun, yang dibangun adalah jaringan fiber optik (FO). Pembangunan di tahun 2016 ini merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya yang masih dikerjakan di berbagi wilayah, termasuk di luar Jawa.

Sepanjang tahun, kami terus membangun jaringan FO di berbagai wilayah layanan XL. Tak pernah XL tidak membangun FO baru. Hal ini merupakan keharusan karena sebagai operator kami memiliki tanggung jawab kepada pelanggan dan pemerintah untuk tetap membangun FO disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan keuangan perusahaan. Dari Capex tahunan, lebih dari setengah kami alokasikan untuk mendukung pengembangan jaringan termasuk pembangunan jaringan fiber optik,” ujar Yessie D. Yosetya, Direktur/Chief Service Management Officer XL menjelaskan dalam pernyataan tertulisnya.

Menurut Yessie, tak mungkin sebagai operator XL tidak membangun FO. Meski bisa saja menyewa, namun tidak semua kebutuhan atas jaringan FO bisa diperoleh dengan menyewa. Pada 2016 ini, proyek pembangunan yang masih berjalan antara lain proyek yang berada di Kalimantan untuk jaringan backbone sepanjang 900 km, dan Hut Fiberisasi atau ekspansi FO backbone di Jawa 170 km.

Selain itu, masih berlangsung juga pembangunan FO untuk jaringan LTE di Jawa 153 km, Sumatera 37 km, serta di Bali-Lombok-Sumbawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Lalu ada juga pembangunan FO join construction 130 km di Kalimantan. Selain itu, juga ada pembangunan untuk keperluan modernisasi jaringan FO yang telah berusia belasan tahun, sepanjang kurang lebih 200 km di Jawa.

Sementara itu, FO yang paling baru beroperasi antara lain berupa FO backbone di Kalimantan sepanjang 846 km dan Bali 161 km. Selain itu juga FO untuk keperluan layanan LTE di 13 kota LTE, yaitu Madura, Mataram, Denpasar, Medan, Pekanbaru, Palembang, Batam, Manado, dan Banjarmasin, serta di Jawa, yaitu Tegal, Cirebon, Purwakarta dan Pekalongan.

Hingga saat ini, total panjang FO yang dimiliki sekitar 40 ribu km. Sekitar 12 % di antaranya merupakan FO yang berada di bawah laut. Proyek yang masih berjalan tahun ini antara lain ada di wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali-Lombok-Sumbawa, Sulawesi, dan Jawa.

Secara teknis, fungsi dari FO dalam korelasinya dengan layanan kepada pelanggan adalah sebagai jaringan utama backbone. Jaringan FO berfungsi membawa trafik berkapasitas besar dalam kecepatan tinggi. Jarinngan ini bisa di-upgrade sesuai dengan perkembangan teknologi, tanpa gangguan interferensi radio.

Keuntungan dari memiliki jaringan FO sendiri antara lain adalah bebas menggunakan alokasi core FO sesuai kebutuhan, selain juga pengelolaan secara preventive dan corrective maintenance tidak tergantung pihak lain. Pembangunan jaringan FO akan terus XL lakukan di tahun-tahun mendatang.

Meski demikian, XL juga memerlukan menyewa jaringan FO dari pihak lain dengan pertimbangan antara lain efisiensi biaya, proteksi untuk meningkatkan kinerja, serta reliabilitas sebagai jalur. Sampai saat ini, FO yang disewa XL dari pihak lain tersebar di sejumlah wilayah. Total panjang FO dengan model saling sewa dan membangun bersama adalah kira-kira 10% dari total panjang FO XL.

Di sejumlah wilayah, jaringan FO XL mendominasi dibandingkan jaringan milik operator lain. Wilayah tersebut antara lain Bangka, Belitung, Madura, Bali, dan Lombok. Jaringan FO milik XL juga menjangkau wilayah perbatasan dengan negara tetangga, antara lain di sekitar Batam – Dumai, berbatasan dengan Singapura dan Malaysia. Selain itu, XL juga memiliki jaringan FO yang terhubung langsung dengan jaringan internasional, yaitu di Batam-Dumai-Malaka (Malaysia), Batam-Singapura, Batam – Sungai Rengit – Kualalumpur (Malaysia). (Icha)

Tak Sampai Tujuan, Barang Kiriman Pelanggan Digondol Driver Go-Jek?

0

Telko.id – Setelah beberapa waktu lalu timbul kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah seorang armada Go-Jek terhadap pelanggannya, kini oknum ojek online yang berkantor di bilangan Kemang, Jakarta Selatan ini kembali berulah.

Adalah IF (33), orang yang kali ini menjadi korban atas ‘kenakalan’ oknum Go-Jek. Ida yang biasanya memanfaatkan layanan Go-Jek, baik sebagai alat transportasi maupun pengiriman barang (via Go-Send) berniat mengirimkan barang berupa smartphone Lenovo Vibe K5 Plus kepada rekannya di wilayah Condet, Jakarta Timur.

Namun nahas, sudah 6 jam sejak ia memanfaatkan layanan ini, barang tersebut belum juga sampai ke tangan penerima. Padahal jarak dari lokasi penjemputan barang ke lokasi penerima tidak terlalu jauh, yakni sekitar 8 KM, dari kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

“Jam 10.28 wib order Go-jek via Go-Send untuk kirim barang, berupa handphone, ke Cililitan dari Jalan Kramat Lubang Buaya. Sekitar pukul 10.30, driver Go-Jek bernama Efendi sampai ke lokasi, setelah sebelumnya sempat mengirim sms lewat nomor berbeda,” kata IF.

SMS tersebut, jelas IF, berbunyi permintaan untuk menunggu, sambil mengatakan bahwa Ia (sang driver Go-Jek), sedang dalam perjalanan.

“Dia sms, Siang … Dgn E (inisial) dari GO-Jek, di tunggu ya kak saya otw ke lokasi. Di sms yang keterima, tertulis waktu menunjukkan pukul 10:29 AM.”

Tidak lama kemudian, sang driver pun berangkat setelah sebelumnya memasukkan handphone yang dibungkus amplop coklat dan diletakkan di dalam tas bahan itu ke dalam bagasi motor. Saat itu, Ibu dari korban (IF) sempat mencatat nomor polisi dari motor si driver, yakni B31XX KJR.

Keanehan mulai terjadi sekitar 10 menit setelah keberangkatan. IF yang mencoba membuka kembali aplikasi Go-Jek, mendapati bahwa GPS si driver tidak bergerak dari tempat awal. Dan estimasi waktu barang itu tiba di tempat tujuan tetap sama seperti semula, 30 menit.

“Saya coba cek keberadaan Go-Jek agak bingung. Kok gpsnya ga jalan? Estimasi waktu tetep sama, 30 menit. Padahal itungannya dia sudah berjalan sekitar 10 menitan. Akhirnya saya minta si penerima barang untuk cek. Jam di aplikasi ‘WhatsApp’ menunjukkan pukul 10.40, pas saya kasih nomer lain si oknum Go-Jek itu ke penerima,” lanjut IF.

Pada pukul 11.11 WIB, si penerima barang mencoba menghubungi oknum Go-Jek yang dimaksud melalui pesan singkat dan driver tersebut menjawab dengan mengatakan bahwa Ia masih di jalan.

Sekitar pukul 11.25 wib, IF pun mencoba menghubungi oknum Go-Jek berinisial E tadi dan mendapat jawaban bahwa E berada di wilayah Cileungsi.

“11.25, gantian saya yang coba SMS. Si Go-Jek bilang, ini baru masuk cilengsi mba macet bgt mba. Cilengsi? Cililitan x, balas saya. Karena jelas-jelas pas mau jalan dia nanya, patokannya apa, dan saya bilang masuk nya dari PGC, arah masjid Al Hawi. Dia manggut, jadi saya asumsikan tau donk. Jadi Cilengsi saya anggap sebagai jawaban dia yang salah ngetik,” tambah Ida.

Pukul 11.45, Ida mencoba menghubungi Customer Service Go-Jek untuk melacak posisi driver. Namun, pihak Go-Jek menemui kendala serupa. Tidak bisa melacak keberadaan Efendi. Kedua nomor yang tercatat tidak aktif.

Ketika kembali dihubungi oleh korban, pihak Go-Jek juga mengatakan bahwa handphone-nya yang sudah lebih dari 8 jam di tangan Efendi itu tidak bisa diasumsikan hilang, karena masih dalam penanganan mereka. “Mereka bilang masih dicari, terus disuruh sabar nunggu. Sementara mengenai barangnya sendiri mereka bilang ngga mungkin ilang, karena semua driver ada datanya, jadi pasti bisa dilaacak dan ditemukan.”

Hingga berita ini diturunkan, IF mengaku masih diminta menunggu oleh pihak Go-Jek, namun tidak diberi kepastian sampai kapan.

Tim Telko.id mencoba mengklarifikasi kabar ini kepada pihak Go-Jek, namun belum mendapat jawaban.

Three Berikan Tambahan Roaming Terkait Brexit

0

Telko.id – Three telah mengumukan bahwa saat ini pelanggan mereka akan mendapatkan layanan bebas roaming di tambahan 24 negara pada September mendatang. Hal ini disinyalir sebagai salah satu siasat dari operator dalam menghadapi biaya roaming lebih akibat Brexit.

Salah satu permasalahan yang belum diklarifikasi setelah Brexit pada bulan lalu adalah bagaimana biaya roaming akan berdampak ke pelanggan Inggris. Meskipun Komisi Eropa telah secara efektif melarang biaya roaming, namun hal ini hanya berlaku untuk negara-negara yang berada di Uni Eropa.

Dilansir Telecoms (12/8), Inggris telah keluar dari Uni Eropa, dan hal ini berdampak pada tarif roaming operator. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang berapa banyak pelanggan Inggris akan dikenakan biaya oleh operator di Eropa.

“Saya bangga bahwa pelanggan kami lebih bersedia untuk merekomendasikan kami dibandingkan operator lain dan kami akan terus membangun bisnis mobile modern yang memberikan apa yang pelanggan butuhkan saat ini,” kata CEO Three Dave Dyson.

“Saya ingin terus memimpin industri pada penggunaan mobile data dan kehandalan jaringan, fokus langsung kami adalah mengamankan lebih banyak spektrum yang akan memungkinkan kita untuk mendapatkan skala lebih lanjut dan menjadi pengaruh kuat pada industri.” Tambah Dyson.

Pengumuman ini dibuat di samping hasil H1 mereka yang menunjukkan periode umumnya positif untuk bisnis. Total pendapatan untuk setengah tahun ini berada di angka £ 1,05 miliar, turun 2% secara year-on-year, meskipun pendapatan layanan pelanggan bersih memang meningkat sebesar 2%. kerugian dirasakan dalam ‘Pendapatan Handset’ mereka yang turun sekira 27% secara year-on-year, yang tampaknya merujuk pada kontrak yang meliputi handset bersubsidi.

Penurunan handset bersubsidi tidak dapat dilihat sebagai hal yang sangat mengejutkan, karena sebagian besar merek strategi pemasaran telah difokuskan pada kontrak SIM saja, dimana data adalah USP pusat. Industri secara keseluruhan mencoba untuk menjauh dari kontrak handset bersubsidi, meskipun Three tampaknya telah mengambil biaya di depan pesaingnya, dengan pertumbuhan 2% menunjukkan beberapa keberhasilan.

Kuartal terbaru juga menunjukkan kinerja positif terus dalam jumlah keluhan terhadap merek, yang sekali lagi datang di rata-rata industri di bawah ini. merek telah secara konsisten datang di bawah rata-rata industri selama 12 kuartal terakhir.

“Kami benar-benar berfokus untuk memberikan pelanggan kami yang terbaik, pengalaman mobile dan perluasan layanan Feel At Home mungkin akan mencakup lebih dari 80% dari perjalanan pelanggan,” kata CFO Richard Woodward.

“Akibatnya pelanggan kembali memilih layanan kami lagi, merekomendasikan kita untuk keluarga dan teman-teman mereka dan memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama kami,”

Tarif Interkoneksi Turun, Siapa yang Diuntungkan?

0

Telko.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersikukuh ingin menurunkan biaya  interkoneksi dari Rp 250 per menit menjadi Rp 204 per menit dengan pola simetris. Mereka berdalil penurunan dengan pola simetris akan membawa manfaat bagi industri telekomunikasi di Indonesia. Benarkah penurunan tersebut akan membawa manfaat bagi pertumbuhan industri telekomunikasi nasional?

Ekonom Leonardo Henry Gavaza CFA,
menjelaskan penurunan biaya interkoneksi yang dilakukan pemerintah tidak memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan industri telekomunikasi di Indonesia.

“Justru penurunan biaya interkoneksi ini akan membuat operator yang malas membangun infrastruktur menjadi lebih malas lagi membangun,” kata ekonom yang juga analis saham dari PT. Bahana Securities ini.

Selain hanya menguntungkan segelintir operator, penurunan biaya interkoneksi ini menurut Dr. Fahmy Radhi, MBA, Pengamat Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada (UGM) akan berpotensi menciptakan persaingan tidak sehat dan menghambat pertumbuhan pembangunan jaringan telekomunikasi.

Dengan biaya interkoneksi ditetapkan pemerintah di bawah harga pokok penjualan (HPP), operator pemilik jaringan akan dirugikan. Sedangkan, operator pengguna jaringan akan diuntungkan oleh kebijakan penurunan tarif interkoneksi tersebut.

Seharusnya dalam menetapkan HPP, pemilik jaringan biasanya menggunakan basis biaya (cost base ) yang memperhitungan pengeluaran investasi (Capital Expenditure) dan biaya operasional (Operational expenditure).

“Sedangkan, operator pengguna jaringan hanya mengeluarkan biaya interkoneksi yang ditetapkan pemerintah. Dan pada akhirnya akan mengakibatkan operator yang malas membangun akan semakin malas membangun,”terang Fahmy.

Aturan Kominfo mengenai penurunan biaya interkoneksi dinilai  Ketua Program Studi Telekomunikasi di Institut Teknologi Bandung, Dr.Ir. Ian Joseph Matheus Edward, MT. tidak masuk akal.

Selain prosedur yang tidak sesuai aturan, menurut Ian penetapan biaya interkoneksi tersebut tidak memiliki naskah akademis yang melandasi penetapan biaya interkoneksi menjadi Rp 204.

Dalam PP 52 tahun 2000 pasal 23 ditulis interkoneksi harus berdasarkan perhitungan yang transparan disepakati bersama dan adil. Ini artinya penetapan biaya interkoneksi harus transparan harus menggunakan perhitungan berbasis biaya (cost base) dan disepakati bersama oleh seluruh operator. Tanpa terkecuali.

“Jadi jika kita mengacu pada PP 52 tahun 2000 yang mengatakan biaya interkoneksi harus disepakati bersama, maka semua operator harus setuju. Jika ada salah satu operator yang tidak setuju, maka aturan tersebut harus batal demi hukum,”papar Ian.

Selain menggunakan metode perhitungan cost base seharusnya dalam penetapan biaya interkoneksi, pemerintah harus memasukan biaya pembangunan (CAPEX), unsur resiko, quality of service dan biaya operasional.

Foto : AK
Foto : AK

Namun, Hal berbeda justru diutarakan oleh Pakar Telekomunikasi yakni Hasnul Suhaimi. Ia berujar, pentingnya penurunan tarif interkoneksi agar tidak ada batasan bagi setiap orang untuk melakukan panggilan dari satu operator ke operator lainnya.

“Secara prinsip, interkoneksi itu diupayakan agar serendah mungkin supaya tidak ada batasan orang untuk menelpon dari satu operator ke operator lainnya. Sekarang kalau kita lihat, orang telpon ke sesama operator itu murah, tapi ketika ke operator lain mahalnya minta ampun,” ujar pria yang dulu kerap memegang peranan penting di industri telekomunikasi Indonesia.

Ia menambahkan, pentingnya penurunan tarif interkoneksi adalah agar menjadikan industri telekomunikasi di Indonesia menjadi sehat, karena tidak adanya subsidi silang antar operator ketika melakukan panggilan dengan operator lainnya.

Lebih lanjut, Pria asal Bukittinggi, Sumatera Barat ini memaparkan jika memang ada tarif tambahan ketika menelepon ke operator lainnya, setidaknya tidak terlampau jauh dibandingkan dengan sesama operator, agar lebih murah.

“Jika dilihat dari prinsipnya, semakin kecil tarif interkoneksi akan semakin baik sehingga tidak ada batas bagi seseorang untuk melakukan panggilan,” ucap Hasnul.

Hal senada juga diutarakan oleh Heru Sutadi selaku Pakar Telekomunikasi. Ia berujar bahwa interkoneksi perhitungannya berdasarkan data pemilik jaringan dan seharusnya tidak memberatkan operator.

“Apalagi metode nya masih pakai LRIC yang memperhitungkan legacy cost. Metode ini sudah obsulete karena terlalu menguntungkan pemilik dan jaringan dan menghambat persaingan. Harusnya sekarang pakai cost+ saja sebagaimana dipakai dibanyak negara. Selain itu teknologi circuit switch kan juga sudah usang dan diganti IP based, yang biayanya lebih murah,” ujarnya saat dihubungi oleh tim Telko.id.

Sementara itu, menurut General Manager Corporate Communication PT. XL Axiata Tbk, Tri Wahyuningsih saat dihubungi tim Telko.id menuturkan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi keputusan pemerintah atas penurunan tarif interkoneksi ini.

“Tentunya semakin besar penurunannya akan membawa industri semakin efisien lagi. Menurut kami baik operator maupun pelanggan akan diuntungkan dengan penurunan interkoneksi ini. Bagi operator, artinya biaya menjadi lebih kecil, sehingga efisiensi dapat terjadi,” paparnya ketika dihubungi tim Telko.id.

Dengan penurunan tarif interkoneksi artinya juga operator akan dapat menawarkan tarif offnet (telp ke operator lain) yg lebih kompetitif, dengan demikian akan lebih banyak operator yang dapat menawarkan layanannya di suatu daerah, dan akhirnya pelanggan akan mendapatkan tarif yang lebih murah sehingga tidak perlu lagi menggunakan nomor yang berbeda untuk memanggil nomor operator lain.

Dari sisi operator, sejatinya mereka pun dapat memberikan layanan yg lebih baik lagi untuk masyarakat.

Jika ditanya siapa yang diuntungkan dari penurunan tarif ini, sejatinya end user lah yang akan mendapatkan keuntungan paling besar. Pasalnya, dengan turunnya tarif interkoneksi tadi tentunya berimbas pada penurunan tarif retail ke konsumen. Untuk industri telekomunikasi, sejatinya penurunan ini akan memberikan persaingan yang lebih sehat, karena operator tidak melulu harus memberikan subsidi kepada para pelanggannya.