spot_img
Latest Phone

Garmin Hybrid Lab: Ubah Data Biometrik Jadi Strategi Juara Hybrid Race

Telko.id - Garmin Indonesia meluncurkan Garmin Hybrid Lab, sebuah...

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...
Beranda blog Halaman 1574

Kabel Laut Google Janjikan Transfer Data 26 Tbps Untuk Pelanggan Asia

0

Telko.id – Jumlah pengguna data yang kian meningkat membuat semua perusahaan yang berkaitan dengan data memperkuat aksesnya. Termasuk juga dengan Google. Beberapa waktu lalu, Google membangun link baru antara Jepang dan Taiwan. Sekarang ‘jalur’ tersebut sudah dapat digunakan.
Jalur baru yang dibuat oleh Google ini menggunakan kabel bawah laut yang tersambung dari pantai barat Amerika Serikat ke Singapuran dan seterusnya. Dengan jalur terebut, Google menjanjikan dapat memberikan akses layanan data hingga 26 terabit per detik.

Kabel bawah laut yang dimaksudkan oleh Google itu merupakan extention dari kable trans Pasific sepanjang 5,600 mile yang sebenarnya sudah mulai online pada bulan Juni lalu. Dengan menggunakan jalur tersebut, akan ada koneksi ke pusat data milik Google yang berada di Taiwan. Rencananya, jalur tersebut akan digunakan oleh Google untuk melayani pelanggan yang cukup banyak di Asia.
Dalam sebuah postingan di blog, kemampuan transfer data yang dimiliki oleh Google tersebut yakni 26 terabit per detik setara dengan 138 miliar selfie setiap hari. Artinya, dengan kapasitas yang dimiliki oleh Google ini akan mampu melayani setiap orang di Taiwan untuk mengirim selfie ke Jepang setiap 15 detik.

Secara teoritis, pengguna Google di Asia akan merasakan kecepatan yang meningkat akibat kabel baru yang dimiliki Google ini ketika melakukan aktifitas menggunakan spreadsheet Google Docs, maupun Google Driveuploads, dan sejenisnya. Semua kegiatan tersebut akan lebih cepat. Namun, apakah semua konsumen benar-benar akan merasakan perbedaannya? Sebenarnya, tergantung pada penyedia layanan internet yang digunakan konsumen juga. Di Korea dan Singapura, yang sudah memiliki penyedia layanan internet lebih baik dari negara lain, tentu akan merasakan peningkatan yang lebih nyata dan akan memberikan pengalaman yang lebih baik.

Kabel Trans Pasific itu sendiri terbentang dari Oregon ke dua titik pendaratan di Jepang. Diklaim bahwa kemampuan transfer data dari kabel tersebut adalah 60 terabit per detik dari bandwidth. Hal tersebut setara dengan sekitar 10 juta kali lebih cepat dari rata-rata modem kabel yang ada. Investasi untuk pembangunan jaringan bawah laut ini sebesar $ 300 juta yang dibangun oleh sebuah konsorsium perusahaan teknologi, termasuk di dalamnya adalah Google. Fiber optik yang dibangun tersebut merupakan yang tercepat saat ini untuk di dunia.

Dengan adanya link Jepang-Taiwan yang baru tersebut memperpanjang koneksi ke hub West Coast utama AS, termasuk Los Angeles, Bay Area San Francisco, Portland, dan Seattle. (Icha)

Dell Technologies Berencana PHK 3000 Karyawan Di Akhir 2016

0

Telko.id – Tidak dapat dipungkiri, saat ini sedang terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam industri teknologi. Tentu semua itu mengikuti dari perkembangan teknologi itu sendiri. Itu sebabnya, banyak perusahan IT yang mencoba bertahan dengan melakukan berbagai langkah strategis. Seperti yang dilakukan oleh Dell Technologies yang berencana akan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan 2000 karyawan. Langkah ini dilakukan setelah usai mengakusisi EMC Corp. Hal ini diperoleh berdasarkan informasi dari sumber yang dekat dengan perusahaan, seperti yang dilansir dari Bloomberg.

Langkah pengurangan karyawan yang akan dilakukan oleh Dell tersebut, rencananya akan dilaksanakan pada akhir tahun. Yang paling banyak terkena dampak adalah karyawan Dell yang berada di Amerika. Terlebih lagi adalah posisi yang berada di suply chain dan posisi yang umum. Posisi administrasi juga akan terkena dampak, seperti marketing. Dell saat ini memiliki 140.000 karyawan diseluruh dunia.

Usai pembelian EMC Corp, Dell harus melakukan penghematan biaya yang cukup besar. Setidaknya harus menghemat hingga US $ 1,7 miliar hanya pada 18 bulan pertama. Strateginya adalah melakukan beberapa kesepakatan yang memberikan dampak pada peningkatan jumlah penjualan hingga beberapa kali jumlahnya dibandingkan dengan yang terjadi sebelumnya.

Namun, langkah pemutusan hubungan kerja tidak dapat dihindari. “Seperti biasa dalam penggabungan dua perusahaan besar, maka akan terjadi tumpang tindih posisi, jadi kami perlu mengelola dan salah satunya cara adalah melakukan pengurangan karyawan. Walau demikian, kami akan melakukan segala cara untuk menimalkan dampak pada pekerja,” ujar Dave Farmer, juru bicara Dell yang menjawab melalui email, seperti yang dilansir dari Bloomberg.

Dave juga menambahkan, “Harapan Dell adalah kenaikan pendapatan akan lebih besar daripada penghematan biaya apapun, dan pertumbuhan pendapatan tersebut dapat mendorong pertumbuhan lapangan kerja.”

Akuisisi EMC Corp oleh Dell Technologies ini bernilai sekitar $ 67 Miliar seperti yang diumumkan pertama kali, sekitar setahun lalu. Langkah tersebut tentu memberikan dampak yang luar biasa bagi kedua perusahaan maupun peta perindustrian secara keseluruhan. Pasalnya, langkah strategi tersebut adalah menyatukan penyedia produk data storage dan perodusen server serta personal komputer terkemuka dunia. Tentu, hal ini juga dapat meningkatkan daya saing dengan para kompetitornya seperti Amazon.com Inc, Microsoft Corp dan Alphabet Inc Google yang juga bermain di ranah yang sama yakni layanan Cloud.

Jadi, inti dari kesepakatan Dell dan EMC Corp ini adalah untuk meningkatkan pendapatan. Michael Dell menyebutkan bahwa ada beberapa posisi yang tumpang tindih fungsi dan bukan merupakan bagian penting sehingga ada beberapa yang harus dilakukan pemangkasan. Namun, Michael sendiri menolak memberikan estimasi atas pengurangan pekerjaan tersebut. (Icha)

Riset: Jaringan 2G akan Tetap Hidup Berkat M2M

0

Telko.id – LTE boleh saja akan menjadi penyedia terbesar layanan mesin-ke-mesin pada 2021, namun bukan berarti jaringan 2G akan mati. Sebaliknya, koneksi jaringan ini disebut-sebut akan sama banyaknya dengan koneksi 4G.

Akan ada lebih dari 700 juta sambungan (M2M) jaringan mesin-ke-mesin menggunakan industri seluler pada 2021, dan mereka akan mendapatkan industri $ 67000000000 setahun pendapatan.

Laporan terbaru dari Ovum mengatakan bahwa LTE akan mendominasi, dengan 212 juta koneksi pada 2021, namun jaringan 2G juga akan memiliki koneksi yang sama banyaknya, dan akan ada sekitar 172 juta koneksi menggunakan 3G.

“Kelompok operator besar dengan bisnis M2M maju tidak akan berusaha untuk mematikan 2G hingga 2020 – dan untuk beberapa ini tidak akan terjadi sampai tahun 2025,” kata Pauline Trotter, pemimpin praktek untuk Ovum.

Namun, ia menambahkan, keputusan ini bukan hanya untuk kepentingan dukungan peninggalan: koneksi 2G M2M akan terus ditambah, karena 2G masih merupakan bentuk cakupan yang paling terjangkau dan tersedia secara internasional.

Menurut laporan GTB, Kamis (8/9), total koneksi M2M seluler akan mencapai 733 juta, kata Ovum. Pasar Asia dan Oceania akan bernilai US$ 22 miliar; pasar Amerika Utara US$ 16 miliar dan pasar Eropa Barat US$ 14 miliar.

Baik teknologi 2G dan 3G akan berada dalam taraf tanpa kemajuan dalam hal koneksi M2M pada 2021, tetapi M2M akan menjaga mereka hidup sampai LTE mengambil alih.

Pendapatan e-commerce Asia Tenggara Lampaui Rp 32 Triliun di 2020

0

Telko.id – Menurut laporan terbaru dari Frost & Sullivan, pendapatan e-commerce di Asia Tenggara kemungkinkan akan mencapai lebih dari US$ 25 miliar pada 2020, atau setara Rp 32 Triliun.

Ini lebih dari dua kali lipat dari apa yang dihasilkan pada tahun 2015, di pendapatan e-commerce tercatat sebesar US$ 11 miliar atau sekitar Rp 14 Triliun. Menurut Frost and Sullivan, jumlah tersebut berhasil dicapai setelah melalui banyak kejadian seperti akuisisi, keluar pasar dan pengecer berjuang dengan profitabilitas.

Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa pertumbuhan akan terus berlanjut seiring dengan industri yang berkembang.

Pada 2015, Malaysia dan Thailand tercatat sebagai pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara, dengan menghasilkan pendapatan sebesar US$ 2.3 miliar dan US$ 2.1 miliar, masing-masing.

Namun, penelitian Frost & Sullivan mencatat bahwa kedua pasar ini diharapkan akan dikalahkan oleh negara-negara berkembang di Asia Tenggara, termasuk Vietnam dan Indonesia.

Sementara itu, total pendapatan dari bisnis-ke-konsumen (B2C) e-commerce di enam negara Asia Tenggara terbesar – Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam – diproyeksikan meningkat pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 17,7%.

“Meskipun relatif muda, pasar e-commerce di Asia Tenggara berkembang dengan cepat, berkat tingkat adopsi digital yang mencengangkan di wilayah ini,” kata Cris Duy Tran, konsultan utama dalam e-commerce dan transformasi digital Frost & Sullivan Asia Pacific seperti dilansir TelecomAsia, Kamis (8/9).

Dia menjelaskan, bahwa meskipun dengan pemain yang lebih sedikit di pasar, perusahaan e-commerce mulai bersaing di luar poin harga dan logistik dan pindah ke daerah-daerah baru seperti e-commerce online-to-Offline (o2o) dan program loyalitas.

Sementara itu, layanan seperti Carousell, Tokopedia, dan Shopee secara agresif mengejar strategi ‘mobile first’, dan Frost & Sullivan mengharapkan untuk melihat lebih banyak layanan spesifik lainnya di bidang-bidang seperti perjalanan, pengiriman makanan, dan barang-barang mewah.

Tantangan yang berlaku tetap sama, yakni kepemilikan kartu kredit yang masih rendah (kurang dari 7% di semua pasar Asia Tenggara, kecuali Singapura dan Malaysia).

Di beberapa negara, lebih dari 50% populasi tidak memiliki rekening bank, menjadikan pembayaran sebagai tantangan terbesar bagi perusahaan e-commerce di wilayah tersebut. Menyusul itu, masih ada juga masalah logistik yang menghantui, terutama di daerah dengan geografis yang kompleks seperti Indonesia dan Filipina.

Lewat Permenperin No 65 Tahun 2016, Aturan TKDN Resmi Diberlakukan

0

Telko.id – Setelah melalui sekian banyak polemik, pemerintah melalui Kemenperin akhirnya resmi memberlakukan peraturan terkait Ketentuan Dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk produk telepon seluler, komputer genggam (Handheld), dan komputer tablet. Prosedur mengenai hal tersebut tertulis pada Peraturan Menteri Perindustiran (Permenperin) Nomor 65 tahun 2016.

Aturan TKDN sendiri, yang merupakan kesepatkan antara Kemenperin, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika.pada dasarnya merupakan upaya pemerintah untuk mendorong Indonesia agar tak sekadar menjadi pasar, melainkan pemain dalam momentum 4G saat ini.

Berdasarkan aturan ini, para produsen ponsel yang ingin berjualan perangkat 4G mereka di Indonesia harus memenuhi syarat TKDN 30 persen pada 1 January 2017.

Kini aturan tersebut telah diumumkan dan dapat diunggah di situs resmi Kemenperin. Para vendor cukup memilih jalur yang diinginkan untuk memenuhi TKDN pada perangkat genggam 4G buatan mereka.

Total ada tiga skema yang ditawarkan oleh pemerintah pada para vendor. Pertama, sesuai dengan Pasal 4 yang merinci bahwa vendor harus memenuhi aspek manufaktur, 70 persen; aspek riset dan pengembangan, 20 persen; serta aspek aplikasi, 10 persen.

Aspek aplikasi tersebut, kemudian dirinci lagi dengan syarat pemenuhan sebagai berikut:

  • Nilai TKDN untuk riset dan pengembangan minimal 8 persen
  • Aplikasi pre load ke ponsel, komputer genggam, atau komputer tablet
  • Minimal pre load 2 aplikasi atau 4 games lokal
  • Minimal jumlah pengguna aktif aplikasi lokal 250.000 orang
  • Injeksi software di dalam negeri
  • Server di dalam negeri
  • Memiliki toko aplikasi online lokal

Kedua, pemenuhan TKDN dapat disesuaikan dengan cara yang terdapat dalam Pasal 23 ayat (1), yaitu aspek manufaktur, 10 persen; aspek riset dan pengembangan, 20 persen; dan aspek aplikasi, 70 persen.

Aspek aplikasi pada Pasal 23 ayat (1) ini dirinci lagi dengan syarat pemenuhan meliputi:

  • Nilai TKDN untuk aspek riset dan pengembangan minimal 8 persen
  • Aplikasi pre load ke ponsel, komputer genggam, dan komputer tablet
  • Minimal pre load 7 aplikasi atau 14 game lokal
  • Minimal aplikasi lokal memiliki pengguna aktif 1.000.000 orang
  • Injeksi software dilakukan di dalam negeri
  • Server di dalam negeri
  • Memiliki toko aplikasi online lokal
  • Harga Cost, Insurance, and Freight (ClF) minimal senilai Rp 6 juta

Ketiga, dalam Pasal 25, dimuat penjelasan mengenai pemenuhan TKDN melalui komitmen dan realisasi investasi.

Perhitungan TKDN berbasis nilai investasi ini hanya berlaku untuk investasi baru, dilaksanakan berdasarkan proposal investasi yang diajukan pemohon dan mendapatkan nilai TKDN sesuai total nilai investasi.

Investasi itu juga harus dilakukan dalam jangka waktu paling lama tiga tahun. Tata caranya, pada tahun pertama vendor mesti merealisasikan 40 persen dari total investasi yang disepakati, sementara sisanya dipenuhi pada tahun-tahun berikutnya.

Vendor juga harus menyertakan detail mengenai investasi yang dilakukan tiap tahun, serta mencantumkan tipe produk yang akan menggunakan skema penghitungan TKDN berdasarkan nilai investasi.

Adapun rincian nilai investasi tersebut adalah 20 persen untk total mulai dari Rp 250 miliar sampai Rp 400 miliar; 25 persen untuk total di atas Rp 400 miliar sampai Rp 550 miliar; 30 persen untuk total di atas Rp 550 miliar sampai Rp 700 miliar; dan 40 persen untuk investasi total lebih dari Rp 1 triliun.

Telkom ‘Tunjuk’ NEC Untuk Garap Kabel Laut Senilai US$195 Juta

0

Telko.id – Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau membuat jaringan kabel laut sebagi backbone sebuah keharusan. Telkom sebagai provider besar di Indonesia pun telah menunjuk NEC untuk mengerjakan proyek terbarunya.

Hal ini dilansir dari Asia Nikkei yang menyebutkan bahwa perusahaan asal Jepang, NEC telah menerima pesanan senilai sekitar 20 miliar yen atau sekitar US $ 196 juta dari Telekomunikasi Indonesia, atau Telkom. Tujuan dari pemasangan kabel komunikasi bawah laut ini adalah membantu Telkom untuk memperluas kapasitas sehingga nanti mampu mengakomodir kebutuhan komunikasi karena pengguna mobile phone dan internet yang terus tumbuh.

NEC akan menginstal 5,300km kabel dengan kapasitas 32 terabit per detik. Proyek Telkom ini juga akan menghubungkan sembilan kota besar yang tersebar di seluruh nusantara serta Singapura. Rencananya, instalasi kabel laut ini akan selesai di paruh pertama 2018.

Jaringan yang dibangun Telkom tersebut juga akan menghubungkan dua kabel yang sudah ada sebelumnya yang menghubungkan Indonesia dengan AS dan dengan Eropa. Seperti yang dilansir dari Nikkei, penunjukan ini, salah satunya karena keberhasilan NEC dengan proyek kabel-instalasi Telkom lainnya di Indonesia.

Sebagai informasi, untuk pasar kabel bawah laut secara global sendiri ada dikuasai oleh tiga pemain besar yakni NEC, perusahaan Amerika TE SubCom dan Alcatel-Lucent asal Perancis.

Persaingan di pasar kabel bawah laut kini semakin sengit karena adanya permintaan yang meningkat di kawasan Asia-Pasifik dalam beberapa tahun terakhir ini. (Icha)

Nokia Hadirkan Solusi Baru Untuk Transformasi 5G

0

Telko.id – Nokia telah meluncurkan layanan baru yang dirancang untuk membantu operator dalam mengembangkan rencana untuk transformasi mereka menuju 5G.

Dilaporkan TelecomAsia (8/9), solusi terbaru dari Nokia ini akan membantu operator melaksanakan bisnis yang diperlukan, jaringan dan transformasi operasional untuk mempersiapkan program 5G di dunia.

Nantinya, setiap operator akan dapat mengembangkan penyesuaian rencana transformasi, mempersiapkan dan merancang multi-vendor jaringan 5G dan menentukan laju investasi dan adopsi teknologi baru.

Layanan yang diberinama Nokia 5G Accelertion Service ini akan mencakup lokakarya kolaboratif pelanggan, analisis teknis dan ekonomi, penilaian spektrum 5G, workshop teknologi dan dukungan desain radio Access Network.

Sementara itu, direktur riset IDC untuk EMEA Telekomunikasi berkomentar bahwa adopsi industri 5G akan mengambil jalan yang berbeda dibandingkan dengan 4G.

“Untuk satu hal, saat ini kasus penggunaan berkembang menjelang standar teknis. Itu sehat untuk industri, tetapi juga akan membutuhkan jaringan untuk mendukung akses internet yang sangat cepat, “katanya.

Ia menambahkan, setip operator harus memastikan bahwa rencana evolusi 5G mereka telah menggabungkan dua hal penting yakni upgrade jaringan dan kemajuan mereka dalam kemampuan operasional. Jika mereka dapat mulai untuk menguangkan kasus penggunaan yang baru sembari bermigrasi ke arah 5G, itu menjadi hal yang baik.

Rayakan Hari Pelanggan Nasional, Mataharimall.com Hadirkan Fitur Baru

0

Telko.id – Dalam rangka merayakan Hari Pelanggan Nasional, CEO MatahariMall.com Hadi Wenas membagikan balon serta hadiah kejutan kepada para pengunjung. Selain sebagai bentuk apresiasi kepada para pelanggan setia mereka, pada kesempatan ini juga Mataharimall.com memperkenalkan sebuah fitur baru.

Di kesempatan ini, Hadi Wenas memperkenalkan fitur eKiosk, salah satu perwujuduan sistem belanja Online-to-Offline (O2O) yang memang dimiliki oleh MatahariMall.com, dimana pelanggan dapat membayar, mengambil, dan mengembalikan barang pesanannya.

Berdasarkan keterangan pers yang diterima oleh tim Telko.id, Melalui layanan eKiosk, pelanggan akan diberikan kemudahan, kenyamanan, dan rasa aman dalam berbelanja online karena mereka dapat mengatur sendiri lokasi dan waktu pengambilan barang.

Sekadar informasi, saat ini eKiosk sudah tersebar di lebih dari 44 titik di seluruh Indonesia dan terus bertambah jumlahnya.

“eKiosk merupakan salah satu solusi tambahan yang kami berikan kepada para pelanggan untuk memperkuat strategi online-to-offline MatahariMall.com. Dengan kehadiran eKiosk kami harap bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pelanggan, terutama yang berasal dari luar Jabodetabek,” ujar Hadi Wenas, CEO MatahariMall.com.

Ia juga menambahkan bahwa kehadiran eKiosk ditujukan untuk menjadi sarana edukasi cara berbelanja online di MatahariMall.com karena selalu ada staff MatahariMall.com yang siap sedia memandu para pelanggan.

Selain itu, penggunaan eKiosk juga sangat mudah. Pada saat berbelanja di MatahariMall, para pelanggan dapat memilih opsi membayar atau mengambil barang di eKiosk. Ketika barang sudah siap diambil, pihak MatahariMall akan mengirimkan SMS berisi kode yang diperlukan untuk ditukarkan di eKiosk terdekat. eKiosk diharapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang tertarik mencoba berbelanja online.

APJATEL Sayangkan Penundaan Implementasi Tarif Interkoneksi Baru

0

Telko.id – Keputusan Pemerintah untuk menunda pemberlakuan tarif baru interkoneksi disayangkan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL).

APJATEL melihat tarif interkoneksi baru akan memberikan lebih banyak keleluasaan bagi operator untuk memberikan harga yang lebih terjangkau sehingga dapat menyediakan pelayanan yang lebih baik bagi konsumen.

Hal ini, diakui APJATEL, sejalan dengan hak konsumen akan kenyamanan, seperti  yang terdapat pada UU Perlindungan Konsumen No. 8 tahun 1999, pasal 4, huruf a yang menyatakan, hak konsumen adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.

Penurunan tarif interkoneksi diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi konsumen untuk menggunakan layanan telekomunikasi.

“Interkoneksi adalah keniscayaan dalam era multi operator sesuai dengan perundangan yang berlaku. Dengan menurunkan biaya interkoneksi, pemerintah dapat membantu operator telekomunikasi dalam menyediakan layanan yang lebih terjangkau. Keterjangkauan biaya membuat layanan komunikasi akan lebih banyak diakses oleh konsumen sehingga layanan telekomunikasi akan lebih menjangkau masyarakat secara keseluruhan”, kata Lukman Adjam, Ketua APJATEL melalui keterangan resmi.

Biaya interkoneksi sendiri, seperti diketahui, merupakan biaya yang mengalir dari operator untuk melakukan koneksi antar jaringan. Operator memasukkan biaya ini ke dalam komponen biaya produksi untuk menentukan tarif ke konsumen.

Saat ini, pemerintah memiliki rumusan baru untuk menghitung biaya interkoneksi yang memperhitungkan efisiensi serta keberlangsungan penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia. Penurunan tarif interkoneksi yang direncanakan pemerintah adalah sebesar 26 % sehingga menurunkan biaya interkoneksi mobile dari Rp 250 menjadi Rp 204.

APJATEL mengusulkan prinsip berbasis biaya (cost based) yang dianggap wajar bagi para operator telekomunikasi untuk tarif baru. Metode yang diusulkan adalah half-circuit, sehingga kisaran harganya bisa ditekan hingga Rp 60-70 per menit.

“Pemerintah tidak perlu ragu-ragu dalam menetapkan tarif interkoneksi yang terjangkau. APJATEL menghimbau semua pihak untuk bekerja lebih keras lagi dalam rangka pemerataan layanan telekomunikasi ke seluruh pelosok Indonesia sehingga dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan daya saing bangsa,” tambah Ade Tjendra Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga (Eksternal) APJATEL.

APJATEL percaya penurunan tarif diharapkan akan memberi sinyal positif bagi pembangunan merata infrastruktur komunikasi di seluruh Indonesia.

Link Net Optimis Pasar OTT Bakal Meningkat Setiap Tahun

0

Telko.id – Jumlah pengguna internet di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya, hal ini dikuatkan oleh hasil riset lembaga riset international eMarketer memproyeksi jumlah pengguna internet di Indonesia sekitar 102,8 juta jiwa di tahun 2016 dan akan mengalami peningkatan sekitar 123 juta jiwa di tahun 2018.

Kami sangat optimis bahwa pasar layanan Over-The Top (OTT) di Indonesia akan terus mengalami peningkatkan untuk memenuhi kebutuhan generasi millenial yang haus dengan konten-konten informatif. Ekonomi dan infrastruktur menjadi dua faktor utama pendukung pertumbuhan layanan OTT,” sahut Desmond Poon, CTO, PT Link Net Tbk. (First Media) dalam Indonesia ICT Summit 2016 di Jakarta Internasional Expo Kemayoran beberapa waktu lalu.

Desmond juga menambahkan bahwa menurut Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2016 diproyeksikan meningkat 5,2% – 5,6% dan peningkatan ini akan terus berlanjut hingga tahun 2017 – 2019 di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami peningkatan sebesar 6,0% sampai 6,5%.

Dari segi infrastruktur, pembangunan infrastruktur di Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Saat ini masyarakat Indonesia tidak hanya bisa merasakan jaringan 3G, namun sudah bisa merasakan internet super cepat di jaringan 4G. Selain itu, para operator memperluas cakupan layanan broadband, dan hadirnya layanan internet Unlimited seperti BOLT! memberikan pelanggan pengalaman lebih baik dalam menikmati layanan OTT.

Untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen yang terus meningkat akan konten media dan hiburan terutama saat dalam perjalanan, para operator harus terus melakukan inovasi dalam hal teknologi. Salah satu strateginya adalah dengan berinvestasi dalam teknologi baru OTT dan Internet of Things (IoT) yang akan melengkapi layanan TV saat ini.

First Media, sebagai penyedia layanan internet dan TV berbayar, menawarkan paket bundling TV berbayar, OTT dan layanan broadband untuk memberikan pengalaman generasi berikut yang lengkap bagi para pelanggan, baik saat mereka di rumah atau pun saat dalam perjalanan.“Kekuatan kami terletak pada kemampuan kami untuk menyediakan layanan yang terintegrasi bagi para pelanggan,” ujar Desmond menambahkan.

Selain memperkaya layanan TV tradisional dengan menawarkan layanan Personal Video Recorder (PVR), Video on Demand (VOD) dan Catch-up TV, First Media juga menyediakan layanan OTT seperti aplikasi berbasis Android, termasuk YouTube, aplikasi Google, games dan pencarian melalui suara dengan menggunakan set-top box yang sama. Ada juga layanan First Media X, TV Anywhere OTT yang memungkinkan pelanggannya untuk menikmati konten hiburan dan tayangan televisi melalui perangkat mobile.

Aplikasi First Media X menyediakan lebih dari 100 linear channels dan lebih dari 80 Catch-up TV channels. Sejak diluncurkan bulan Juni lalu, kami menerima respon yang positif dari pelanggan yang menikmati konten hiburan dan tayangan televisi dengan lebih baik kapan saja dan dimana saja,” ujar Desmond Poon.

Dengan persaingan di pasar layanan video OTT yang cukup ketat, operator harus lebih cepat dalam mengamati tren baru, memahami dan menganalisis kebiasaan menonton konsumen dan pilihan gadget mereka agar dapat tetap berada dalam barisan terdepan dan meraih kesuksesan dalam layanan multiplatform. Desmond Poon yakin peningkatan investasi dalan infrastruktur dan konektivitas akan mendukung pertumbuhan layanan video OTT. (Icha)