spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1560

Mahasiswa Gunadarma Jadi Runner-Up CanSat International Competition 2016

0

Telko.id – Prestasi yang cukup membanggakan untuk Indonesia diukir oleh mahasiswa Universitas Gunadarma yang tergabung dalam tim Garuda setelah berhasil menjuarai kompetisi CanSat International Competition 2016.

Kompetisi yang diselenggarakan pada 21-22 September 2016 di UlaanBaatar, Mongolia, ini diorganisir oleh Asia-Pasific Space Cooperation Organization (APSCO) yang bekerja sama dengan Information Technology, Post and Telecommunication Mongolia (ITPTA Mongolia).

Kompetisi CanSat ini merupakan kompetisi rancang bangun dan implementasi satelit kecil berukuran kaleng minuman standard Eropa. Kompetisi ini diikuti oleh Perguruan Tinggi dari berbagai negara termasuk Mongolia yang menjadi tuan rumah dari kompetisi ini.

Seperti dikutip dari situs LAPAN, Selasa (27/9/2016), Gunadarma merupakan salah satu dari dua belas Perguruan Tinggi yang dinominasikan oleh LAPAN untuk mengikuti kompetisi CanSat 2016.

Namun hanya Gunadarma yang menjadi tim yang terpilih untuk mengikuti kompetisi CanSat 2016 mewakili Indonesia. Sebelumnya, Universitas Gunadarma telah mengikuti kompetisi serupa dalam tingkat nasional.

Tim Garuda, yang beranggotakan tujuh mahasiswa universitas gunadarma yang diketuai oleh Dennis Aprilla Christie, telah mendapat pembekalan materi di Kantor Pusat Teknologi Satelit (Pusteksat) LAPAN, di Rancabungur, Bogor.

Selama dua hari, 7-8 September 2016, tim Garuda diberikan bimbingan teknis tentang ruang lingkup dari pengenalan hingga mensimulasikan satelit seperti desain, Assembly, Integration, and Test (AIT), dan operasi satelit.

Terdapat sepuluh tim yang terdaftar dan ikut serta dalam kompetisi CanSat 2016 ini. Setelah CanSat diluncurkan oleh roket, CanSat harus mampu mengambil data atmosfer, seperti ketinggian, temperatur, tekanan udara, kelembaban, dan lainnya, kemudian mengirimkannya ke ground station.

Lantas, Tim Garuda akan mengobservasi data yang diperoleh, mengolah serta menganalisanya, kemudian mempresentasikan model CanSat dan hasil analisa mereka di penghujung acara.

Tim Garuda juga menanamkan beberapa sensor dalam CanSat mereka sehingga mampu mengambil data atmosfer, seperti temperatur, tekanan udara, kelembaban.

Selain data atmosfer, tim Garuda juga mampu mengolah data sikap CanSat terhadap bumi, seperti posisi bujur, lintang, ketinggian, dan orientasi.

CanSat tim Garuda juga dilengkapi kamera untuk mengambil citra objek yang sebelumnya ditentukan panitia. Ini ditujukan agar peserta mampu menyimulasikan tugas satelit sesungguhnya yang mampu mengambil dan mengirimkan citra bagian bumi.

Setelah melalui proses penjururian, dewan juri memutuskan juara runner-up diberikan kepada tim Garuda Universitas Gunadarma, Indonesia.

Juara ketiga diraih oleh tim Sky Defender dari Military and Defence University, Mongolia. Sementara, juara pertama diraih oleh tim APIS dari Istanbul Technical University, Turki, yang hanya berbeda satu skor dari tim Garuda.

“Ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan bagi kami dan warga Indonesia pada umumnya, mengingat Gunadarma baru kali ini mengikuti ajang kompetisi CanSat tingkat internasional,” kata Purnawarman Musa, dosen pembimbing tim Garuda.

Argentina Bidik US$ 20 Miliar Investasi dari Reformasi Telekomunikasi

0

Telko.id – Dalam sebuah pernyataan yang diungkapkannya baru-baru ini, Menteri komunikasi Argentina mengatakan bahwa reformasi pada pasar telekomunikasi negara itu akan menarik setidaknya US$ 20 miliar investasi selama empat tahun ke depan.

Menteri Komunikasi Oscar Aguad mengatakan pada Reuters, bahwa termasuk Motorola dan AT&T telah menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Argentina, sementara Telecom Argentina dan Telefónica de Argentina telah lebih dulu mengumumkan investasinya dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut laporan GTB, Selasa (27/9), reformasi tersebut diumumkan tahun lalu dan akan memungkinkan perusahaan telekomunikasi untuk memasuki pasar TV kabel, yang secara tradisional telah didominasi oleh Cablevision. Pemerintah juga telah mengumumkan rencananya untuk mensponsori undang-undang komunikasi baru tahun lalu yang bertujuan untuk mendorong pengembangan dan persaingan di industri teknologi.

“Selama kita mampu mendikte norma dengan aturan yang jelas, saya pikir angka US$ 5 miliar per tahun adalah mungkin,” kata Aguad, seraya menambahkan bahwa investasi harus terus dilakukan selama empat tahun.

Telecom Argentina berjanji pada bulan Juli bahwa mereka akan menginvestasikan US$ 2.6 miliar antara sekarang dan 2018, sementara Telefónica dilaporkan telah menginvestasikan US$330 juta tahun ini. Awal tahun ini, Fintech membeli saham Telecom Italia di Telecom Argentina seharga US$960 juta.

India Siapkan Rp 2 Triliun untuk Proyek Kabel Bawah Laut Andaman

0

Telko.id – Perdana Menteri India telah setuju untuk merogoh kocek sebesar Rp 2 Triliun untuk kabel bawah laut yang menghubungkan daratan dan pulau-pulau Andaman, sebuah kelompok yang terisolasi dari beberapa ratus pulau di Teluk Benggala.

Kabel itu akan membentang dari kota Chennai ke Port Blair, ibukota dari kumpulan pulau itu, dan ke lima pulau-pulau terdekat.

Perdana Menteri Narendra Modi dan kabinetnya telah menyetujui proyek ini, yang diperkirakan akan menelan biaya sekitar Rs 11 miliar (Rp 2 Triliun) dan kemungkinan akan selesai pada Desember 2018. Jumlah tersebut termasuk biaya operasi selama lima tahun.

Dilaporkan GTB, Selasa (27/9), keputusan itu diambil sebagai bagian dari proyek pengembangan pulau-pulau, yang dipandang memiliki potensi pariwisata.

Kantor perdana menteri mengatakan kabel ini akan “melengkapi pulau Andaman & Nicobar dengan bandwidth dan konektivitas telekomunikasi yang sesuai untuk pelaksanaan inisiatif e-governance; pendirian perusahaan dan fasilitas e-commerce.”

“Ini juga akan memungkinkan penyediaan dukungan yang memadai untuk lembaga pendidikan untuk berbagi pengetahuan, ketersediaan lapangan kerja dan memenuhi visi Digital India,” lanjut kantor perdana menteri lagi.

Selama ini, pulau-pulau tersebut, yang memiliki penduduk hanya 340.000, terhubung ke India dan seluruh dunia hanya dengan satelit, dengan bandwidth terbatas.

Pulau-pulau yang akan dihubungkan ke Port Blair dan Chennai adalah Little Andaman, Car Nicobar, Havelock, Kamorta dan Great Nicobar.

“Penyediaan fasilitas telekomunikasi yang aman, handal, kuat, dan terjangkau di pulau-pulau ini sangat penting dari sudut pandang strategis untuk negara dan juga merupakan syarat penting bagi pembangunan sosial-ekonomi dari pulau-pulau,” kata kantor Modi.

Pemerintah India sejauh ini tidak memberi informasi tentang perusahaan mana yang akan terlibat dalam pembangunan.

FCC Denda AT&T Karena Penyalahgunaan Spektrum

0

Telko.id – Federal Communications Commission atau FCC sudah menjatuhkan sangsi pada AT&T karena melakukan penyalahgunaan spektrum. Untuk itu AT&T harus membayar $ 450,000, seperti dilansir dari Kaman RCR Wireless.

FCC mengaku sudah mulai melakukan penyelidiki masalah tersebut sejak 2012 lalu dan bersama operator pelapor pada 2014. Hasilnya, banyak ditemukan inkonsistensi antara parameter berlisensi dengan fasilitas microwave berdasarkan ijin lisensi yang diperoleh operator tersebut mulai dari 2009 sampai 2012.

Fasilitas tersebut yang dioperasikan oleh operator, anak perusahaan baru Cingular Wireless PCS and AT&T Mobility Puerto Rico. Akibatnya, FCC pun melakukan penyitaan aset AT&T berupa 250 stasiun dalam rangka penegakan hukum pada 2015 lalu.

AT&T pun mengatakan telah setuju untuk menerapkan kepatuhannya dan berencana untuk melakukan review pada site microwave stasiun yang compliments serta yang akan dibangun. FCC pun menerapkan wajib lapor bagi AT&T secara periodik tentang kemampuan atas upaya irritants dalam 60 hari ke depan.

“Kami berharap setiap orang atau perusahaan yang menerima lisensi dari Komisi akan beroperasi dalam parameter yang sesuai dengan otorisasinya,” kata Travis LeBlanc, Kepala Biro Penegakan Hukum FCC menjelaskan.

Travis juga menambahkan bahwa, “Setiap pemegang lisensi yang beroperasi di luar parameter akan mengancam integritas jaringan komunikasi, meningkatkan risiko gangguan yang membahayakan dan melanggar hukum.”

AT&T baru-baru ini juga harus mengirimkan sejumlah documen pada FCC guna diperiksa yang terindikasi sebagai pelanggaran. Pada Juli lalu pun, operator ini diharuskan membayar denda sebesar lebih dari $ 170,000 dan kompensasi, terkait dengan overcharges pada sebuah sekolah di distrik Florida. Hal tersebut berkait dengan program pemerintah e-Rate dan penyalahgunaan dari pelayanan dana subsidi.

Tak lama setelah itu, AT&T mengatakan akan memberikan $ 6.8 juta sebagai pengembalian dana dan membayar hampir $ 1 juta sebagai denda karena penagihan tidak sah ke pihak ketiga untuk bisnis operator telekomunikasi berbasis kabel. (Icha)

3UK Inginkan Regulator Inggris Pisahkan BT dan Openreach

0

Telko.id – 3UK pada minggu ini mulai bergabung dengan kampanye ‘Fix Britain’s Internet’, yang melobi regulator telekomunikasi Ofcom untuk pemisahan penuh antara BT dan Unit infrastruktur Openreach.

CEO 3UK, Dave Dyson menyerukan Ofcom untuk mengambil keputusan berani pada pemisahan BT  dan Openreach split, seperti dilaporkan TotalTelecom (27/9).

Seperti diketahui, Kampanye ini diluncurkan pada akhir Juli lalu yang diprakarsai oleh Sky, TalkTalk, Vodafone, dan Federation of Communication Service (FCS).

Fix Britain’s Internet mendesak konsumen untuk menanggapi konsultasi Ofcom mengenai rencana untuk membuat Openreach lebih mandiri dari induknya, rencana yang dalam bentuk saat ini adalah sepenuhnya membelah dua. Sejauh ini, telah terdapat 75.000 orang merespon.

“Keberhasilan lanjutan dari Internet mobile bergantung pada pasar infrastruktur broadband kompetitif yang menyediakan pilihan dan kebebasan. Namun, sistem yang sekarang tidak memberikan ini,” kata 3UK, dalam sebuah pernyataan pada hari Senin waktu setempat.

Operator seluler yang bermarkas di Hong Kong ini menyatakan bahwa secara struktural memisahkan BT dan Openreach merupakan satu-satunya ukuran yang akan memberikan kompetisi asli dan mencegah BT dari menguntungkan dirinya sendiri.

Merasa terganggu, BT baru-baru ini menanggapi kampanye tersebut dan bekerja sama dengan cableco Virgin Media untuk mempertahankan track record Openreach dalam berinvestasi di bidang infrastruktur, dan menuduh kampanye Fix Britain’s Internet menggambarkan pandangan yang tidak adil atas berkurangnya konektivitas di Inggris.

Sementara itu, CEO 3UK Dave Dyson tidak hanya menginginkan Ofcom memisahkan BT dan Openreach. Dia juga ingin pengawas untuk menghentikan perusahaan seperti BT dari penimbunan spektrum seluler, dan untuk mempermudah pelanggan dalam beralih provider.

“Konsumen menginginkan pilihan asli dan sangat penting mereka membuat ini jelas untuk Ofcom, sehingga dapat membuat keputusan yang berani pada isu-isu seperti Openreach, spektrum dan switching dalam menghadapi tekanan besar dari para pemain lama yang besar untuk menjaga status quo,” katanya.

Kejadian di Inggris ini sejatinya mirip dengan yang tengah dialami di Indonesia. Ketika tiga Operator besar Tanah Air berebut ‘kue’ yang selama ini dimiliki oleh satu operator saja melalui jalur Network Sharing. Well, kita tunggu saja.

Lelang Spektrum di Mesir Sepi Peminat?

0

Telko.id – Mesir nampaknya akan mengundang pemain internasional untuk mengambil bagian dalam lelang spektrum 4G, setelah tiga dari empat operator seluler di negara tersebut menolak lisensi yang ditawarkan kepada mereka oleh regulator.

Seperti dilaporkan TotalTelecom (26/9), dua operator di negeri Piramida yakni Vodafone dan Orange telah mengklaim bahwa spektrum yang ditawarkan pemerintah tidak cukup untuk menjalankan layanan 4G yang maksimal.

Vodafone dan Orange mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa kuantitas spektrum yang diusulkan oleh National Telecom Regulatory Authority (NTRA) dibawah ekspektasi mereka dan akan menghasilkan pengalaman pelanggan 4G yang tidak terlalu berbeda dengan 3G.

“Pihak regulator tidak menawarkan lisensi spektrum yang cukup untuk mengoperasikan layanan 4G secara efisien dan dengan cara yang akan memungkinkan pengguna Mesir untuk mengalami kecepatan lebih tinggi secara signifikan,” kata Vodafone.

Senada dengan Vodafone, Orange juga mengungkapkan bahwa kuantitas spektrum yang ditawarkan masih kurang dari harapan mereka.

“Orange Mesir menganggap bahwa kuantitas spektrum yang ditawarkan tidak cukup untuk menawarkan pelanggan Mesir kualitas layanan 4G yang layak untuk mereka,” kata Orange.

Lebih lanjut, selain dua operator tadi Reuters melaporkan pada pekan lalu bahwa Etisalat Mesir juga telah menolak untuk ikut dalam perburuan lisensi 4G; Namun rumor ini masih belum mendapatkan konfirmasi resmi dari Etisalat.

NTRA saat ini akan mempertimbangkan untuk melelang lisensi 4G dengan mengundang operator internasional untuk berpartisipasi. Tercatat ada beberapa operator internasional yang cukup tertarik. Seperti, China Telecom, Lebara Arab Saudi, Saudi Telecom, dan operator yang berbasis di Kuwait, Zain.

“Pilihan akan disampaikan kepada dewan direksi pada pertemuan berikutnya, pada awal Oktober,” kata NTRA, dalam laporan.

Sedangkan, operator Incumbent Telecom Mesir adalah satu-satunya operator yang menyetujui persyaratan dari NTRA pada akhir Agustus dan setuju untuk membayar 7,08 miliar pound Mesir untuk lisensi 4G.

Sekadar informasi, pemerintah Mesir memberikan izin lisensi kepada operator fixed-line ini untuk menggunakan 2×5 MHz spektrum 1800 MHz dan 2×10 MHz spektrum 700-MHz untuk 15 tahun ke depan.

Lintasarta Siap ‘Tampung’ Data Perusahaan Asing

0

Telko.id – Aplikanusa Lintasarta secara resmi mengumumkan fasilitas Data Center berstandar international yang bernama Lintasarta Technopark Data Center.

Dengan fasilitas barunya ini Lintasarta menyatakan siap mendukung Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2012 yang salah satunya mengharuskan pelaku industri perbankan dan finansial memiliki pusat data (data center) atau beralih ke layanan cloud di Indonesia.
Optimisme tersebut didukung oleh Lintasarta Technopark Data Center yang telah tersertifikasi Data Center Tier III untuk katagori Tier Certification for Constructed Facilities (TCCF) dari Uptime Institute. Sertifikasi ini melengkapi sertifikasi Data Center III katagori Tier Certification of Design Document (TCDD) yang telah diperoleh sebelumnya.

President Direktur Lintasarta, Arya Damar mengatakan bahwa “Fasilitas terbaik menjadi jaminan Lintasarta Technopark Data Center dalam memberikan keamanan dan kenyamana kepala pelaku bisnis dari berbagai sektor industri.”
“Terlebih, saat ini semakin banyak perusahaan yang ingin fokus terhadap core businessnya, sehingga untuk urusan data center diserahkan pada pihak lain,” sahut Arya menambahkan.

Sebagai pertimbangan lain adalah industri secara global saat ini sedang mengarah ke Cloud data center. Itu sebabnya, Lintasarta pun sudah siap dengan solusi end to end nya. Di mana, salah satunya adalah Lintasarta sudah siap memberikan layanan cloud service yang berbasis SDN atau Software Defined Networks dan Network function virtualization atau NFV.

Itu sebabnya, Lintasarta pun optimis bahwa hanya dalam waktu 2 tahun, fasilitas Data Center yang ada di kawasan BSD Tangerang akan penuh. Selanjutnya, Arya menambahkan bahw pada pertengahan 2017 sudah harus membangun Data Center baru. Bahkan, Lintasarta optimis mampu menguasai 15% dari pangsa pasar data center di Indonesia.

Selain itu, Lintasarta juga sudah merencanakan untuk pembangunan data center di luar Jawa. Hanya saja, untuk pembangunanya perlu hati-hati agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang akan disasar. “Kemungkinan untuk luar Jawa, kita hanya bangun data center tier I atau II saja”, ujar Arya menjelaskan.

Lintasarta mengklaim juga bahwa saat ini baru perusahannya yang sudah memiliki fasilitas data center Tier III Facilities.

Itu sebabnya, Lintasarta optimis bakal mampu menggaet pelaku industri. Terutama di sektor perbankan, asuransi, pemerintah, minyak dan gas, pertambangan, transportasi, dan kesehatan. Di mana semua bisnis tersebut menuntut layanan Data Center dengan tingkat availability yang tinggi. Hal ini untuk memastikan kegiatan operasional perusahaan dapat berjalan tanpa gangguan berarti.

Lintasarta Technopark Data Center sendiri memberikan jaminan kualitas layanan dengan beberapa keunggulan. Pertama, Hi-Tech, kecanggihan teknologi menjadi sebuah keunggulan dalam meningkatkan efisiensi.

Di mana, dengan luas 2.200 m2, mampu memberikan daya terus menerus dari teknologi Diesel Rotary Uninterrupted Power Supplies atau DRUPS dan sistem pendinginan yang berjalan terus menerus (continuous cooling) sehingga mampu mendukung komputasi berdensitas tinggi.

Keunggulan kedua adalah memiliki aspek keamanan yang tinggi dengan menerapkan sistem keamanan berlapis. Termasuk penjagaan ganda keamanan, kontrol akses biometrik, CCTV dan Man-Trap selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu.

Data center inipun dilengkapi dengan sistem proteksi kebakaran Very Early Smoke Detection (VESDA), smoked detector dan Novec 1230 Fire Suppression System yang membuat proses pencegahan dan pemadaman api berjalan cepat. (Icha)

LinkedIn Learning, Cara Baru LinkedIn Tingkatkan Kualitas Profesional

0

Telko.id – Sebuah platform bertajuk ‘LinkedIn Learning’ diperkenalkan LinkedIn baru-baru ini. Tak hanya memungkinkan tiap-tiap individu dan organisasi meraih berbagai tujuan dan aspirasi yang telah ditetapkan, platform pembelajaran online ini juga disebut-sebut dapat mengatasi berbagai tantangan yang disebabkan karena penurunan kualitas kemampuan.

LinkedIn Learning menggabungkan berbagai konten terdepan dalam industri yang ada pada Lynda.com – yang diakuisisi oleh LinkedIn pada 2015 lalu – dengan data dan jaringan profesional yang terdapat di LinkedIn untuk menciptakan rekomendasi yang telah disesuaikan dengan tiap-tiap personal. Lebih dari 9.000 pembelajaran digital yang diajarkan oleh para ahli di industri, yang mencakupi industri bisnis, kreatif, dan lain-lain ditawarkan di sini, dan bisa diikuti kapan pun dan di mana pun.

“Digital, sosial, dan mobile kini telah menjadi hal yang lumrah di wilayah Asia. Perubahan tersebut mampu membuat keahlian yang telah didapatkan saat ini mungkin akan melewati ‘masa pakainya’ di kemudian hari. Belum lagi dengan terjadinya disrupsi teknologi yang juga memperbesar kemungkinan itu terjadi,” kata Alexandra Roza, Head of APAC Sales di LinkedIn dalam keterangan resmi.

Ia menjelaskan, LinkedIn Learning mampu menjembatani jurang kesetaraan pembelajaran yang terjadi di dalam dunia profesional itu dengan menawarkan kemudahan mendapatkan bahan pembelajaran baru yang relevan dengan kebutuhan. Tak peduli kapan pun dan di mana pun.

Selain LinkedIn Learning, pembaruan lain yang juga diperkenalkan LinkedIn hari ini adalah terkait desain ulang tampilan LinkedIn versi desktop, yang kini telah memungkinkan pengguna mendapatkan pengalaman yang sama seperti yang dirasakan ketika mengakses aplikasi ini di mobile.

Menurut LinkedIn, ini merupakan pembaruan desain terbesar sejak awal jejaring sosial ini diperkenalkan. Dimana tampilan dan nuansa baru pada LinkedIn versi desktop menawarkan tampilan yang lebih bersih dan simpel, serta lebih intuitif bagi pengguna untuk dengan cepat mengakses informasi pekerjaan dan berbagai wawasan yang diperlukan.

Selain desain, LinkedIn juga melakukan pengembangan pada ekosistem konten, dengan meningkatkan kemampuan feed dengan memberikan berbagai pembaruan seperti fungsi pencarian yang baru, video dari para influencer, serta pengalaman penulisan formulir panjang yang baru.

Terakhir, LinkedIn juga meningkatkan kecerdaasan perpesanan, dengan peningkatan 240 persen dari tahun ke tahun dalam jumlah pesan yang dikirim melalui LinkedIn. LinkedIn telah memberikan pratinjau akan penambahan kemampuan ketika mengirimkan pesan kepada koneksi kapanpun pengguna bernavigasi pada website, ditambah dengan kemampuan untuk merencanakan sebuah pertemuan dan ruang pertemuan menggunakan teknologi bot.

Polisi dan Bank Bersatu Perangi Penipuan Telekomunikasi di China

0

Telko.id – Maraknya kasus penipuan telekomunikasi di China, yang beberapa waktu lalu bahkan sempat menewaskan tiga korbannya, mau tak mau membuat negara ini lebih sigap dalam menangani kasus serupa. Terbukti, polisi, bank dan regulator perbankan di negara tersebut kini mulai bekerja sama untuk melawan penipuan serupa dan melindungi hak-hak warga negara.

Kementerian Keamanan Publik dan Komisi Regulator Perbankan China telah bersama-sama mengeluarkan dokumen yang telah dibekukan dan mengembalikan uang yang terlibat dalam penipuan telekomunikasi dan online.

Tahun lalu, kementerian yang berwenang menugaskan polisi setempat di Beijing untuk membangun platform informasi untuk membantu dalam upaya melawan penipuan telekomunikasi dan online.

Menurut sumber kepolisian, sebagaimana dilaporkan chinadaily, Senin (26/9), platform tersebut telah digunakan oleh sektor perbankan untuk membekukan lebih dari 400.000 rekening bank terkait penipuan yang melibatkan lebih dari 1,1 miliar yuan atau sekitar US$ 165 juta.

Selain itu, banyak bank saat ini juga telah meningkatkan pelatihan terhadap stafnya untuk memungkinkan mereka mengidentifikasi dan mencegah transaksi yang mencurigakan.

Seorang petugas manajemen risiko penipuan di Industrial and Commercial Bank of China, Ma Xudong mengatakan bahwa bank bekerja sama dengan polisi dan bank lain untuk membuat blacklist rekening yang mencurigakan guna mengidentifikasi transaksi mencurigakan dengan cara yang lebih efektif.

“Sebagian besar transaksi yang melibatkan rekening yang masuk ke dalam daftar hitam dapat dikelola secara baik,” kata Ma, seraya menambahkan bahwa pada akhir bulan lalu, sistem itu telah membantu bank mencegah lebih dari 100.000 kasus pengiriman uang terkait penipuan, mencegah klien mereka dari kerugian senilai lebih dari 1,46 miliar yuan.

Kerjasama lebih lanjut antara kepolisian dan lembaga keuangan pun dijanjikan Chen Shiqu, selaku pejabat senior di biro investigasi kriminal kementerian demi melindungi hak-hak warga negara.

Operator India Didenda Lantaran Mengancam Konsumen

0

Telko.id – Sengketa berkepanjangan antara operator Airtel dan konsumennya, terkait ancaman dan pelecehan mental, akhirnya menemui babak akhir. Sebagai hukuman, operator India inipun dikenakan denda sebesar Rs 25.000 atau sekitar 5 juta sebagai ganti rugi atas pelecehan mental yang dialami pelapor dan keluarganya.

Kasus ini sendiri bermula pada tahun 2011 lalu, ketika seorang konsumen bernama Avantika Karkare, yang merupakan warga Pune, membeli kartu SIM dari operator selular itu. Kartu SIM tersebut telah dimasukkan ke dalam ponsel Blackberry konsumen yang bersangkutan. Namun pada bulan November 2011, Karkare tiba-tiba menerima tagihan sebesar Rs 8.654 atau sekitar Rp 1.7 juta, yang disebut perusahaan sebagai hasil dari penggunaan internet yang telah dimanfaatkan Karkare.

Karkare yang dibuat kaget dengan jumlah tagihan tersebut pun akhirnya meminta rincian penggunaan internetnya pada perusahaan. Namun siapa sangka, bukannya mendapatkan rincian yang diinginkan, Karkare malah menerima ancaman. Tak terima, Karkare dan keluarga pun akhirnya meminta bantuan pihak kepolisian dan mengajukan keluhan terhadap perusahaan.

Dalam balasannya, seperti dilansir dnaindia, Seni (26/9), perusahaan mengklaim bahwa jumlah tagihan sesungguhnya adalah Rs 16.778, karena perusahaan telah memberinya potongan 30% dari jumlah tagihan. Tapi jumlah tersebut pun tetap tidak dibayarkan.

Setelah melihat bukti-bukti yang ada, dalam hal ini terkait perilaku penyedia layanan seluler itu, pengadilan kemudian menghukum perusahaan untuk membayar denda atas pelecehan mental yang dialami konsumen. Pengadilan juga meminta perusahaan untuk membayar denda sebesar Rs 10.000 sebagai dana perlindungan konsumen.