spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1559

Telkom Indonesia Pilih Haud Untuk Kelola Firewall dan Layanan SS7

0

Telko.id – Telkom Indonesia telah memilih Haud untuk mengelola Application to Person atau A2P SMS dan Signalling System 7 atau SS7. Hal ini dilakukan agar Telkom tidak kehilangan sumber pendapatan. Bahkan menciptakan sumber baru dan meningkatkan pengalaman pelanggan.

Perjanjian manage service dengan Haud ini memastikan bahwa Telkom Indonesia tidak akan kehilangan setiap pendapatan A2P. Di sisi lain, pelanggan tetap dapat dilindungi dari spam maupun SMS penipuan. Melalui pendekatan Revenue-as-a-Service, Haud akan mengelola seluruh proses monetisasi A2P. Mulai dari identifikasi lalu lintas dan pemblokiran, untuk pengalihan lalu lintas ke monetisable saluran, tanpa memerlukan investasi awal dari mobile network operator.

Dengan lebih dari 157 juta pelanggan, Telkom Indonesia adalah mobile network operator terbesar ketujuh di dunia. Perjanjian tersebut merupakan kelanjutan dari uji coba yang pernah dilakukan Haud yang memberikan solusi firewall selama 24 jam selama 7 hari seminggu. Di mana, uji coba tersebut dilakukan lebih mendalam dengan memontioring lalu lintas SMS yang jumlahnya jutaan.

Solusi firewall milik Haud berupa modular dengan perlindungan 360 derajat terhadap SS7 yang rentan dalam keamanan, penipuan dan spam SMS. Dengan demikian, pesan berbahaya dapat dihindari dan akan meningkatkan pengalaman pelanggan. Dari sisi operator, tidak akan kehilangan pendapatan.

“Revenue-as-a-Service adalah pendekatan baru untuk membantu operator untuk membuat sebagian besar dari semua aliran pendapatan yang mungkin tersedia. Terutama dari pasar A2P SMS global bernilai miliaran. Sayang, tidak banyak operator yang melengkapi jaringannya dengan baik sehingga secara rutin kehilangan pendapatan dalam jumlah besar,” ujar Marten Björkman, Senior Vice President Asia Pacific HAUD menjelaskan.

Marten juga menambahkan bahwa “Bekerjasama dengan salah satu mobile network operator besar di dunia seperti Telkom Indonesia ini membuat Haud semakin percaya diri. Pengetahuan dan pengalaman global A2P dan penipuan yang dimiliki oleh Haud akan mampu mengendalikan jaringan Telkom dengan meminimalisir pengeluaran.

“Perjanjian dengan Haud sangat menarik. Bayangkan, solusi yang ditawarkan oleh Haud ini mampu memberikan hasil yang begitu cepat. Di mana, pendapatan kami dapat dimaksimalkan dan pemanfaatan jaringan pun meningkat. Dengan demikian, kami dapat lebih fokus lagi memberikan layanan yang lebih berkualitas dan modern sesuai dengan permintaan pelanggan,” ujar Michael Adiguna, Associate Vice President Sales Strategy Telkom Indonesia menjelaskan.

Michael juga menambahkan bahwa “Setiap hari, ada ratusan juga pesan yang dikirim melalui seluruh jaringan kami. Dan, kami mampu memastikan spam dan pesan SMS penipuan dapat diblokir, tentu hal ini menjadi sangat penting. Apalagi, Haud menjamin bahwa pesan dari maupun untuk pelanggan kami akan diterima asli, dan dari sumber yang dapat dipercaya”. (Icha)

Atlet PON XIX Tetap Terjamin Komunikasinya

0

Telko.id – Memasuki minggu akhir perhelatan event PON XIX 2016 di Jawa Barat, beberapa cabang olahraga (cabor) masih menyisakan sejumlah pertandingan fase akhir yang tetap menghadirkan kemeriahan dan keseruan rangkaian event PON XIX kali ini. Telkomsel sebagai salah satu Official ICT Partner PON XIX juga terus memastikan kenyamanan komunikasi seluruh insan yang terlibat dalam event olahraga nasional terbesar ini tetap terjaga, terutama dalam menjamin komunikasi para kontingen atlet dengan keluarga atau kerabat di daerahnya dapat tetap terjalin.

“Telkomsel mendukung event PON XIX 2016 secara menyeluruh, mulai dari memastikan jaringan prima di seluruh venue pertandingan dan fasilitas pendukung lainnya, hingga menghadirkan kartu prabayar simPATI edisi khusus PON XIX untuk kontingen atlet Jawa Barat dan relawan secara gratis serta kartu simPATI edisi khusus dengan kuota internet 6GB. Kami berharap semua layanan Telkomsel ini dapat memberikan kenyamanan bagi para kontingen atlet dari seluruh provinsi untuk tetap menjalin komunikasi dengan keluarga atau kerabatnya di di daerah masing-masing, sehingga dapat menambah semangat para atlet untuk mencipatkan prestasi tertinggi untuk provinsinya” ungkap General Manager ICT Operation Regional Jabar Telkomsel Ardhiono Trilaksono.

Dukungan fasilitas layanan yang prima dari Telkomsel ini juga dirasakan manfaatnya oleh sejumlah atlet, khususnya untuk kontingen atlet yang berasal dari provinsi di wilayah Indonesia Timur. Dengan layanan jaringan Telkomsel yang sudah menjangkau di hampir seluruh populasi masyarakat di wilayah Indonesia Timur, seperti Papua, Sulawesi, atau Maluku, kontingen atlet dari wilayah tersebut sangat terbantu untuk tetap berbagi kabar secara rutin dengan keluarga di sana.

Atlet cabor Voli Pantai Putri asal Papua Grailismith Mehue yang akrab dipanggil Graili mengatakan “Kalau mau bertanding, pasti saya sempatkan telpon dulu Ibu saya agar beliau memberikan doa dan dukungan untuk keselamatan dan kemenangan saya ketika bertandingan. Kalau sudah telpon tenang rasanya, dan saya bisa fokus memberikan yang terbaik dalam setiap pertandingan.”

Graili yang menggunakan layanan kartu prabayar simPATI ini menambahkan, selama di Jawa Barat, dia juga tetap nyaman berkomunikasi dan berkoordinasi dengan seluruh atlet dan official kontingen dari Papua menggunakan layanan Telkomsel, atau memanfaatkan jaringan broadband 4G LTE Telkomsel sekedar mengunduh foto selama di PON XIX di akun social media miliknya.

“Saya bersyukur layanan jaringan Telkomsel sudah menjangkau di tanah kelahirannya di Papua. Sehingga, dukungan dari keluarga atapun kerabatnya dari Papua tetap bisa dirasakan secara langsung, baik itu melalui telepon ataupun fasilitas chat dan video call. Graili berharap Telkomsel tetap konsisten memperluas layanan dan jaringan di wilayah Indonesia Timur, khususnya di Papua” tutup Graili. (Icha)

Huawei Buat Pabrik di India. Kok bukan di Indonesia?

0

Telko.,id – Bulan depan, perusahaan teknologi raksasa asal Asia, Huawei akan memulai pembuatan produk smartphone nya di India. Menurut Reuters, Huawei saat ini merupakan produsen smartphone ke tiga di dunia berdasarkan volume. Rencananya, akan melakukan kemitraan dengan produsen elektronik asal India yakni Flextronics International di India Selatan, Chennai.

Langkah yang dilakukan oleh Huawei ini, seperti menyiratkan bahwa Cina sudah tidak bersinar lagi. Terutama untuk menjadi lokasi pembuatan smartphone. Memang, India sendiri memiliki pangsa pasar yang tidak kecil sehingga Huawei pun mengambil keuntungan dengan melakukan langkah strategis ini untuk memenuhi permintaan smartphone di India.

Terlebih, India merupakan negara yang memiliki pertumbuhan tercepat untuk penetrasi smartphone. Dan, Huawei merupakan salah satu perusahaan diantara banyak perusahaan lain yang berbasis di Cina tetapi mencari peluang dengan agresif di India. Salah satunya dengan mencari kemitraan untuk produksi.

Bahkan Foxconn pun sudah merencanakan untuk melakukan investasi di pabrik-pabrik baru du India mulai tahun lalu. Padahal, Foxconn memiliki manufaktur besar di daratan Cina dan merupakan produsen smartphone yang mitra dari berbagai merek global. Termasuk untuk pembuatan smartphone Xiaomi.

Kondisi tersebut membuat para pejabat pemerintahan di Beijing sangat khawatir. Seperti yang dilaporkan oleh Hundustan Times dan beberapa media lokal menyatakan bahwa pergeseran industri tersebut akan merangsang pemutusan hubungan kerja atau PHK di Cina. Sekaligus juga akan terjadi persaingan ekonomi yang begitu ketat antara India dan Cina.

“Dalam beberapa tahun belakangan ini, tidak dapat dipungkiri, begitu banyak perusahaan Cina, bahkan tidak terhitung jumlahnya. Baik yang besar maupun kecil masuk dalam rantai produksi smartphone. Sulit menentukan secara akurat, seberapa banyak pekerja Cina yang terlihat dalam rantai produksi tersebut,” demikian yang dilaporkan oleh beberapa media lokal menyebutkan.

Namun jelas, bahwa semua pekerja yang berada dalam rantai produksi tersebut berpotensi untuk terkena PHK jika vendor smartphone memutuskan untuk memindahkan rantai industri smartphone secara keseluruhan dari Cina ke India.

Terlebih, Huawei dan Foxconn tidak hanya akan memindahkan produksi smartphone saja, tetapi disinyalir juga berbagai kit lainnya, termasuk sistem PC, tablet dan perangkat telekomunikasi akan dipindahkan.

Padahal, seperti diketahui, Huawei saat ini menjadi penyedia jaringan ke banyak provider hampir di seluruh dunia. Termasuk juga memasok server untuk penyedia layanan berskala besar.

Saat ini, rencana Huawei di India memang baru untuk memindahkan manufaktur smartphone saja untuk memenuhi kebutuhan lokal. Namun, bisa jadi, semua ini merupakan awal bahwa India akan mendominasi dan menjadi pusat manufaktur dunia.

“Kami yakin tentang potensi pertumbuhan dan masa depan India. Itu sebabnya, kami akan terus mencari peluang untuk meningkatkan kehadiran kami di sini,” kata Jay Chen, Chief Executive Huawei untuk India menjelaskan, berkenaan dengan langkah strategis Huawei tersebut.

Jay juga menambahkan bahwa “Bagi Huawei, India merupakan pasar yang sangat penting. Dan saat ini, perusahaan telah memperbaharui fokus bisnisnya ke India”.

Mengapa Huawei tidak memindahkan ke Indonesia? Pertama, untuk pangsa pasar smartphone, Indonesia masih kalah jauh dengan India. Kedua, di Indonesia, begitu banyak tuntutan dari karyawan atau buruh yang membuat enggan para pengusaha untuk investasi di Indonesia.

Ke tiga, untuk melakukan investasi terutama membuat pabrik di Indonesia tidak semudah di Cina atau India. Lihat saja Foxconn, yang sudah sejak dua tahun lalu berminat membuka pabrik di Indonesia masih belum terealisasi juga dengan berbagai masalahnya. Jadi, wajar saja, jika belum ada produsen smartphone yang memindahkan manufakturnya ke Indonesia. (Icha)

Raksasa Otomotif & Teknologi Bergabung Bentuk 5GAA

0

Telko.id – Sebuah asosiasi yang menggabungkan perusahaan otomotif dan perusahaan teknologi dibentuk baru-baru ini. Diberi nama 5G Automotive Association, atau Asosiasi Otomotif 5G, perkumpulan ini berisikan nama-nama beken seperti Audi, BMW, Daimler, Ericsson, Huawei, Intel, Nokia dan Qualcomm.

Asosiasi ini akan mengembangkan, menguji dan mempromosikan produk komunikasi, mendukung standarisasi dan mempercepat ketersediaan komersial serta penetrasi pasar global. Tujuannya sederhana, mengatasi mobilitas yang terhubung dan keselamatan jalan yang dibutuhkan masyarakat dengan aplikasi seperti kendaraan yang terhubung secara otomatis, akses menyeluruh untuk layanan dan integrasi ke kota cerdas dan transportasi cerdas.

Dilaporkan Telecompaper, Rabu (28/9), kegiatan utama dari asosiasi ini meliputi mendefinisikan dan harmonisasi kasus penggunaan, persyaratan teknis dan strategi implementasi; mendukung standarisasi dan badan pengawas, sertifikasi dan persetujuan proses; menangani kebutuhan teknologi kendaraan dalam segala aspek, seperti konektivitas nirkabel, keamanan, privasi, otentikasi, arsitektur awan yang terdistribusi dan banyak lagi, disamping menjalankan inovasi dan pengembangan proyek bersama yang mengarah ke produk yang terintegrasi, pengujian interoperabilitas, pilot skala besar dan penyebaran uji coba.

5G Automotive Association adalah sebuah asosiasi global dan menyambut lebih banyak mitra yang terlibat dalam industri otomotif, industri ICT atau ekosisem yang lebih luas dan value chain untuk sistem kendaraan dan angkutan jalan. Beberapa perusahaan telah menyatakan dukungan kuat untuk 5GAA dan menyatakan niat mereka untuk bergabung dengan asosiasi dalam waktu dekat.

Christoph Voigt ditunjuk sebagai ketua dewan perkumpulan ini, sementara Dino Flore akan menjadi direktur umum.

Ke depan, asosiasi ini akan mendukung dan bekerja sama erat dengan inisiatif nasional dan regional, seperti European Connected & Automated Driving Pre-Deployment Project.

 

Operator MTN Tepis Tuduhan Lakukan Praktek Ilegal

0

Telko.id – Raksasa telekomunikasi asal Afrika Selatan, MTN, baru-baru ini membantah tuduhan yang mengatakan bahwa perusahaan telah secara ilegal mentransfer uang sebesar US$13.92 miliar atau sekitar Rp 180 Triliun dari Nigeria. MTN menyebut tuduhan itu tidak berdasar.

Anggota parlemen di majelis tinggi parlemen Nigeria setuju untuk melakukan penyelidikan terkait tuduhan ini.

“Tuduhan yang alamatkan kepada MTN benar-benar tidak berdasar dan tidak seharusnya,” kata kepala eksekutif MTN Nigeria, Ferdi Moolman dalam sebuah pernyataan.

Tuduhan ini sendiri mengancam kembali memanasnya ketegangan antara Nigeria dan MTN yang baru tiga bulan menyelesaikan permasalahan dendanya terkait kartu SIM yang tidak terdaftar.

MTN adalah operator telepon seluler terbesar di Nigeria, yang menyumbang sekitar sepertiga dari pendapatan perusahaan. Sebelumnya, terkait kasus SIM yang tidak terdaftar, MTN juga sempat mengancam untuk keluar dari Nigeria.

Dilaporkan Reuters, Rabu (28/9), saham MTN turun lebih dari 3 persen menyusul tuduhan ini.

Salah Klik, Wanita Ini Tanpa Sengaja Bayar Tagihan Telepon Rp11 Juta

0

Telko.id – Apa yang Anda lakukan jika Anda tanpa sengaja membayar tagihan telepon dalam jumlah yang sangat besar? Dalam hal ini sekitar US$900 atau setara Rp 11 juta. Tentu saja, meminta agar kelebihan uang tersebut dikembalikan, bukan?

Itulah yang dilakukan seorang wanita asal San Diego, ketika tanpa sengaja memasukkan jumlah yang salah untuk membayar tagihan teleponnya kepada AT&T. Bukannya kurang, wanita ini malah membayar jumlah berlebih dengan nominal US$945 ketika ia menggunakan fitur tagihan online perusahaan.

Menurut Elizabeth Kozel, demikian nama wanita itu, hal itu adalah kesalahan yang mudah dibuat, namun tidak demikian ketika ia ingin mendapatkan kembali uangnya. Elizabeth mengatakan jumlah tagihannya yang sesungguhnya adalah sekitar US$ 50 sampai US$ 70 (Rp 600 ribu – Rp 900 ribu) untuk telepon rumahnya.

Awalnya, AT&T mengatakan bahwa prroses pengembalian uang akan memakan waktu seminggu. Namun yang terjadi kebalikannya.

“Ini namanya main-main dengan jumlah kredit seseorang, dengan tagihan seseorang, dengan mata pencaharian seseorang dan itu tidak benar,” kata Elizabeth seperti dilansir NBC, Rabu (28/9).

Elizabeth mengatakan AT&T tidak pernah mengatakan bahwa dia tidak akan mendapatkan kembali uangnya, namun perusahaan itu terus menunda pengembalian dana.

Menurut Elizabeth, AT&T membayar saldo tagihannya untuk bulan September dengan mengambil uang dari saldo kelebihan pembayaran Elizabeth.

“Saya butuh uang itu, itulah yang sangat saya butuhkan,” kata Elizabeth. “Saya butuh uang itu kembali untuk dapat melakukan pembayaran lainnya.”

Tak kunjung mendapat kejelas, Elizabeth pun memutuskan untuk memanggil NBC 7 Respond untuk bantuan.

Lima hari setelah NBC 7 Respond menghubungi AT&T, Elizabeth pun mendapatkan kembali uangnya.

Kantongi Izin Regulator, Dua Operator Nepal Siap Gelar 4G

0

Telko.id – Regulator telekomunikasi Nepal akan segera menyetujui dua dari tiga aplikasi yang diterimanya dari operator terkait pengoperasian layanan 4G.

Departemen Manajemen Frekuensi Otoritas Telekomunikasi Nepal (NTA) telah merekomendasikan bahwa regulator memungkinkan kedua operator tersebut, yakni Nepal Telecom dan Ncell untuk meluncurkan layanan 4G.

Namun, seperti dilaporkan Himalaya Times, departemen menolak proposal dari operator ketiga, yakni Smart Telecom, setelah menemukan bahwa operator tersebut gagal memenuhi prasyarat tertentu. Kelayakan sendiri ditentukan berdasarkan faktor layanan operator saat ini dan kinerjanya di bawah Unified Lisence yang dikeluarkan untuk itu.

Tak lama setelah NTA menyetujui rekomendasi itu, Nepal Telecom dan Ncell pun akan dapat meluncurkan layanan 4G, lapor Telecomasia, Rabu (28/9).

Baik Nepal Telecom maupun Ncell sendiri sebenarnya telah meminta untuk meluncurkan 4G sejak beberapa bulan lalu, dengan menggunakan spektrum 1800 MHz yang saat ini sedang digunakan untuk memberikan layanan 3G.

Tapi NTA tidak dapat menyetujui proposal sampai pemerintah mengeluarkan amandemen kebijakan frekuensi radio yang ada. Kementerian ICT sekarang telah mengesahkan amandemen kebijakan itu.

Menurut laporan yang sama, Nepal Telecom telah menegaskan bahwa perusahaan akan dapat meluncurkan layanan 4G dalam waktu dua bulan setelah menerima lisensi.

Inilah Prediksi Analis Tentang Network Sharing

0

Telko.id – Rencana pemerintah untuk mempercepat penyebaran layanan telekomunikasi hingga pelosok Indonesia melalui network sharing dalam revisi PP No. 52 dan No. 53/2000 mendapat tanggapan dari para analis.

Menurut Chief Economist Danareksa Research Institute, Kahlil Rowter, pemerintah harusnya bisa lebih bijak mengatur mekanisme pemberian kompensasi yang wajar sesuai dengan nilai ekonominya bagi operator yang telah lebih dulu membangun.

Dalam analisanya, kompensasi yang wajar sesuai dengan nilai keekonomian mutlak diperlukan agar keberlangsungan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia dapat terus terjaga.

“Jadi pemerintah tak bisa semena-mena menetapkan kewajiban network sharing dan penetapan biaya interkoneksi tanpa adanya kompensasi secara komersial kepada operator yang telah membangun jaringan,” ujar Kahlil di Jakarta, Selasa (27/9).

Penetapan berbagi jaringan melalui mekanisme komersial dinilai Kahlil perlu diberikan pemerintah kepada penyelenggara jaringan telekomunikasi yang telah lebih dulu bersusah payah membangun jaringan.

Jika tidak ada insentif dan kompensasi yang wajar sesuai dengan nilai ekonominya, maka bisa dipastikan tidak ada operator yang akan mau menambah dan memelihara jaringan telekomunikasi. Padahal, menurutnya, masih banyak wilayah di Indonesia yang belum terjangkau telekomunikasi.

Sementara itu, Perhitungan yang wajar menurut Leonardo Henry Gavaza CFA, analis saham Bahana Securities, yakni dengan menghitung nilai investasi yang telah dikeluarkan oleh operator penyelenggara jaringan ditambah dengan internal rate of return (IRR) atau economic rate of return (ERR).

Jika pemerintah tak memasukkan komponen IRR dalam penetapan network sharing, Leonardo menilai kebijakan itu justru akan mengganggu keberlangsungan pembangunan jaringan telekomunikasi.

Hal ini tentunya akan mengakibatkan operator yang telah lebih dulu membangun, jadi tak memiliki competitive advantage lagi dikarenakan mereka hanya dipaksa membangun infrastruktur jaringan telekomunikasi untuk operator lain.

Leonardo menambahkan, membangun infrastruktur telekomunikasi seperti backbone memiliki risiko yang tinggi, memakan investasi yang besar dengan imbal hasilnya yang sangat kecil.

“Dengan adanya kewajiban berbagi jaringan, biaya investasi atau capital expenditure yang biasanya dikeluarkan oleh operator dalam jumlah besar akan berkurang sangat signifikan,” sebut Leonardo.

Dengan adanya network sharing ini, operator lain juga bisa lebih fokus untuk mengembangkan jasa layanan telekomunikasi saja ketimbang repot-repot membangun jaringan infrastrktur.

Kondisi ini dinilai bisa memicu persaingan tidak sehat. Alih-alih bersaing membangun jaringan, operator yang baru masuk dengan cara hanya menumpang jaringan saja, bisa tiba-tiba merusak pasar dengan cara membanting harga.

“Kita sebagai analis pasar modal tak menyukai jika terjadi perang harga karena membuat margin perusahaan turun,” sambung Leonardo.

Sebagai analis pasar modal, Leonardo melihat adanya kewajiban berbagi jaringan ini berpotensi menggerus marjin Earnings Before Interest Depreciation and Amortization Taxes (EBITDA) PT. Telkom yang sebagian besar kepemilikan saham dimiliki oleh negara.

Prediksi Leonardo, EBITDA margin Telkom bisa terpangkas hingga 40%. Padahal EBITDA margin Telkom saat ini diatas 50%. Berapapun penurunan EBITDA margin akan berdampak kepada valuasi Telkom. Jika pendapatan Telkom turun, maka pajak dan deviden yang harus dibayarkan kepada pemerintah juga berpotensi tergerus.

Sekadar informasi, sebelumnya Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengaku telah menerima surat tembusan dari Menko Perekonomian terkait revisi PP No. 52/2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi dan perubahan terhadap PP No. 53/2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit.

Kedua PP ini merupakan turunan dari UU No. 36/1999 tentang Telekomunikasi. Pokok perubahan terhadap kedua PP tersebut intinya mengatur masalah backbone network (jaringan) sharing dan akses (spektrum) jaringan antar operator.

Revisi kedua PP ini kabarnya telah berada di Sekretariat Negara untuk dilakukan pemeriksaan terakhir sebelum diajukan ke Presiden Joko Widodo untuk ditandatangani.

Seperti dijelaskan Rudiantara, dalam surat tembusan itu menyatakan perlunya sharing atas infrastuktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang mencakup backbone dan jaringan.

Sharing atas backbone bersifat mandatory (wajib) sedangkan sharing atas jaringan telekomunikasi bersifat business to business (B2B) dalam keadaan tertentu yang didasarkan atas penciptaan persaingan usaha yang sehat, pencapaian efisiensi, dan perwujudan keberlanjutan penyelenggaraan jaringan.

Menteri yang akrab disapa Chief RA itu juga menjelaskan bahwa pemerintah akan menghitung nilai investasi dan nilai kompensasi atas pelaksanaan sharing per wilayah dan dalam pelaksanaan perhitungan dapat menugaskan auditor independen seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Aturan tersebut nantinya akan dituangkan ke dalam peraturan menteri,” kata Rudiantara usai rapat dengan Komisi I DPR RI di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta.

HiCore Siap Penuhi Aturan TKDN 30%

0

Telko.id – Masalah Tingkat Komponen Dalam Negeri untuk produk seluler memang menjadi aturan yang ngeri-ngeri sedap. Bukan hanya bagi pemain lokal, bagi pemain atau merek global pun bukan persoalan mudah untuk bisa menerapkan kandungan lokal 30% pada awal 2017 mendatang jika ingin tetap memasarkan produk 4G LTE nya di Indonesia. Namun, dengan adanya Peraturan Menteri Perindustiran (Permenperin) Nomor 65 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet, sekarang menjadi lebih jelas. Itu sebabnya, HiCore komitmen untuk mendukung aturan TKDN tersebut.

“Kami menyambut baik peraturan TKDN yang mewajibkan kandungan lokal hingga 30% dalam smartphone 4G. Kami juga yakin akan mampu memenuhi aturan tersebut pada awal 2017 mendatang,” ujar Herman Zhou, Presiden Direktur HiCore menyambut baik.

Dalam rangka pemenuhan kandungan lokal hingga 30% tersebut, HiCore sudah melakukannya penyesuaian secara bertahap dan menyesuaikan beberapa aspek yang dikembangkan agar sesuai. Mulai dari aspek manufaktur, pengembangan dan aspek aplikasi.

“Kami sudah siap memproduksi smartphone dengan teknologi 4G LTE. Untuk kapasitas produksi pabrik akan disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan permintaan smartphone HiCore di pasar,” kata Herman optimis.

Persiapan pembangunan pabrik ini sudah cukup lama dilakukan oleh HiCore. Bahkan sebelum meluncurkan produk perdananya. Bukan hanya lahan, gedung serta perangkat untuk produksi saja yang dipersiapkan. Karyawan pun menjadi perhatian bagi HiCore karena yang harus diproduksi oleh pabrik HiCore adalah produk yang berkualitas sehingga training terus menerus dilakukan secara berkesinambungan agar mampu menenuhi standar HiCore.

“Keberadaan pabrik ini tak hanya sekedar untuk memenuhi persyarataan TKDN saja, namun kami memang bertekad untuk mengurangi ketergantungan impor produk,” tegas Herman Zhou.

HiCore sangat yakin, pada akhirnya Indonesia akan mampu untuk memproduksi sendiri smartphone 4G. Tidak hanya 30% namun juga 100%. Baik dalam soal hardware maupun software. ”Asal semua berkomitmen. Baik dari pemerintah maupun pelaku industri. Semuanya harus bersinergi dengan baik. Dengan demikian, import smartphone dapat dikurangi,” tambah Herman.

Herman menambahkan juga bahwa “HiCore melihat ke depan, peraturan pemerintah sangat bagus karena akan merangsang tumbuhnya industri smartphone di Indonesia”.

Namun demikian HiCore berharap agar ekosistem industri di Indonesia dapat tumbuh juga dengan baik untuk mendukung produksi smartphone di Indonesia. Misalnya industri manufaktur dan juga aplikasi yang nantinya akan mengisi konten di smartphone dapat tumbuh dan berkembang juga. (Icha)

Thailand Tegaskan Rencananya untuk Perketat Pajak ICT

0

Telko.id – Pemerintah Thailand berencana untuk memperketat aturan pajak untuk perusahaan internet dan teknologi internasional, termasuk perusahaan mobile dan internet commerce.

Hal ini diungkapkan Kepala Departemen Pendapatan Thailand belum lama ini, yang mengatakan bahwa pemerintah telah membentuk sebuah komite yang bekerja untuk menemukan solusi untuk mengumpulkan pajak dari Google dan raksasa teknologi lainnya.

Menurut laporan Reuters, seperti disadur Telecomasia, Selasa (27/9), hukum dan peraturan yang belum diperbarui dalam 50 tahun ini bisa diubah untuk mengatasi ekonomi digital. Komisi yang bertugas ini diharapkan akan memberi laporan pada akhir tahun.

Thailand menjadi satu dari banyak negara-negara di Asia Tenggara yang semakin mengejar pajak yang lebih tinggi dari perusahaan internet dan teknologi besar, menyusul Indonesia yang mengejar perusahaan untuk pajaknya selama lima tahun ke belakang, dan Australia yang baru-baru ini semakin ketat pada perusahaan dengan pendapatan tahunan lebih dari A$ 100 juta atau setara US$76.4 juta.

Perusahaan multinasional besar telah membukukan keuntungan regionalnya di Singapura untuk mengambil keuntungan dari program tarif pajak dan insentif yang lebih rendah dari negara tersebut. Tapi kementerian keuangan Singapura baru-baru ini menyatakan bahwa negara tidak membenarkan pergeseran keuntungan buatan.