spot_img
Latest Phone

5 Tips Seru Abadikan Ramadan & Idulfitri dengan Meta AI

Telko.id - Meta AI menghadirkan lima tips praktis bagi...

Garmin Luncurkan Pokémon Sleep Watch Face, Ini Manfaatnya!

Telko.id - Garmin Indonesia memperingati World Sleep Day dan...

HP Compact Flagship Makin Digemari di Indonesia, Ini Alasannya

Telko.id - Minat konsumen Indonesia terhadap smartphone flagship berukuran...

Garmin Venu X1 French Gray, Smartwatch Tipis Nan Mewah

Telko.id - Garmin Indonesia secara resmi memperkenalkan varian warna...

HONMA x HUAWEI WATCH GT 6 Pro Rilis, Smartwatch Golf Mewah Rp5 Jutaan

Telko.id - Huawei resmi menghadirkan HONMA x HUAWEI WATCH...
Beranda blog Halaman 1508

The NextDev Hadir Kembali Untuk Bangun Ekosistem Digital Indonesia

0

Telko.id – Telkomsel kembali menghadirkan NexDev. Untuk kali ini ada perbedaan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, The NexDev terbagi dua. Pertama The NextDev Academy dan kompetisi The NextDev 2017.

The NextDev Academy adalah sebuah ajang untuk mengasah dan mempertajam kualitas aplikasi yang diciptakan startup yang menjadi finalis The NextDev 2015 dan 2016. Dengan berpartisipasi dalam akademi yang berlangsung pada Juli hingga Oktober 2017 ini, para finalis The NextDev akan memperoleh insight yang tepat dan bermanfaat sehingga mampu mengembangkan aplikasinya secara lebih efektif, sekaligus turut berperan serta dalam menjaga keberlangsungan komunitas pengembang aplikasi dan ekosistem digital berbasis aplikasi.

Sebagai salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia, Indonesia adalah pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah transaksi di pasar digital di Indonesia meningkat sebesar 40% setiap tahunnya. Namun banyak startup atau pengembang aplikasi digital yang belum siap memanfaatkan potensi tersebut, karena kendala kemampuan yang kurang memadai, kurangnya akses ke pemerintah dan kalangan bisnis, kesulitan memperoleh fasilitas dan platform digital, serta kurangnya pengetahuan tentang cara benchmark internasional yang baik dan benar.

Sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang menghadirkan platform bagi anak muda Indonesia untuk mengembangkan aplikasi yang memiliki dampak sosial bagi masyarakat Indonesia secara berkesinambungan, Telkomsel berupaya mengatasi berbagai tantangan tersebut dengan menggelar The NextDev Academy.

“The NextDev Academy kami gelar untuk meningkatkan skalabilitas social technopreneurs melalui pengembangan diri dan peningkatan kemampuan di bidang research and customer development, design sprint, branding, product development, serta business model and bootstrapping. Melalui ajang ini, kami mengajak anak muda Indonesia untuk bergerak bersama melalui ide dan inovasi untuk memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat,” kata Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkomsel.

Selain The NextDev Academy, Telkomsel tetap mengadakan Kompetisi The NextDev 2017. Dalam kompetisi The NextDev 2017, kategori yang bisa dipilih oleh peserta sebagai dasar pengembangan solusi merefleksikan berbagai bidang yang menyentuh aspek kehidupan masyarakat secara langsung, di antaranya kesehatan, edukasi, agrikultur, dan transportasi.

“Kami berupaya mewadahi potensi generasi muda yang memanfaatkan teknologi secara tepat guna untuk berkreasi menghasilkan aplikasi digital yang mampu mengatasi masalah di masyarakat. The NextDev hadir untuk mendorong kontribusi positif generasi muda, di mana aplikasi digital yang dihasilkan akan mempermudah aktivitas seluruh elemen masyarakat,” jelas Ririek.

Di samping karya, para peserta kompetisi akan mendapatkan berbagai hadiah menarik yang disebut dengan 7M, yakni Market Access (akses pasar), Marketing (publisitas), Mentoring (pelatihan dan pendampingan), Management Trip (study visit ke pelaku industri telekomunikasi di luar negeri), Money (uang tunai), Monetizing (peluang besar untuk memperoleh pendapatan melalui kolaborasi dengan stakeholder terkait), dan Match Expert (perekrutan profesional sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan bisnis startup). (Icha)

Axiata dan iflix Kolaborasi Hadirkan Hiburan Untuk 125 Juta Pelanggan Axiata

0
Telko.id – Axiata Group Berhad (Axiata), salah satu grup telekomunikasi terbesar di Asia yang hadir di 10 negara di seluruh ASEAN dan Asia Selatan, bersama iflix, layanan Subscription Video on Demand (SVoD) terkemuka di dunia untuk pasar berkembang, mengumumkan penandatanganan nota kesepahaman tak mengikat terkait perluasan kolaborasi strategis dalam menghadirkan hiburan terbaik kepada lebih dari 125 juta pengguna Axiata di enam negara.

 

Dari dua kemitraan sukses dengan Celcom (Celcom Axiata Berhad) di Malaysia dan Dialog (Dialog Axiata PLC) di Sri Lanka, kolaborasi regional ini ditujukan untuk menjangkau para pengguna Axiata terutama XL (PT XL Axiata Tbk.) di Indonesia, Smart (Smart Axiata Co., Ltd.) di Kamboja, Robi (Robi Axiata Limited) di Bangladesh, dan Ncell (Ncell Private Limited) di Nepal.

Selain itu, iflix dan Axiata bertujuan untuk memproduksi konten yang dibuat khusus untuk pengguna Axiata di pasar yang tercakup dalam kolaborasi tersebut. Seluruh pengguna Axiata akan dapat menikmati katalog dan layanan kelas dunia iflix yang terdiri dari konten lokal, regional, dan barat yang beragam, menggunakan konektivitas terbaik dan teknologi terdepan Axiata di masing-masing wilayah.

“Axiata selalu membuktikan fokus yang kuat dalam inovasi dan pengalaman pengguna seiring kami memperkuat posisi kami dalam sumber nilai baru, khususnya produk hiburan digital dan platform distribusi konten digital di masing-masing wilayah, kata Dominic Arena, Group Chief Strategy & Marketing Officer Axiata.

Dominic juga menambahkan bahwa “Perluasan kolaborasi kami dengan iflix adalah bukti terhadap komitmen tersebut. Kami sangat gembira dapat menghadirkan konten dan layanan kelas dunia iflix kepada lebih dari 125 juta pengguna Axiata di Bangladesh, Indonesia, Kamboja, Malaysia, Nepal, dan Sri Lanka.”

“Kami sangat gembira dapat mempererat hubungan kami dengan Axiata, salah satu grup telekomunikasi terbesar di Asia, dan merasa rendah hati atas kepercayaan yang mereka berikan. Kami berkomitmen untuk memberikan akses tanpa batas ke acara TV dan film terbaik di dunia melalui pengalaman pengguna yang luar biasa dan layanan yang tak tertandingi kepada seluruh pengguna Axiata, yang sebelumnya telah dinikmati oleh pengguna Celcom dan Dialog”, kata Mark Britt, CEO iflix Group.

Mark juga menambahkan bahwa “Bersama dengan platform aplikasi Mobile Internet Fulfillment Exchange dari Axiata yang sangat inovatif dan memenangkan berbagai penghargaan, serta layanan musik Yonder, kami menantikan kolaborasi dengan Axiata untuk mendefinisikan ulang media dan hiburan lebih jauh lagi kepada para pengguna Axiata di Bangladesh, Indonesia, Kamboja, Malaysia, Nepal, dan Sri Lanka, dalam beberapa bulan mendatang.”

Kolaborasi antara Axiata dan iflix akan menetapkan standar baru dalam pengalaman hiburan bagi para pengguna di masing-masing wilayah. Integrasi yang lebih dalam tersebut merupakan bukti komitmen Axiata terhadap inovasi, menawarkan pengguna fitur dan layanan digital terbaik yang tersedia, memperkuat posisi telekomunikasi regional Axiata Group Berhad yang terdepan.

Kini dengan lebih dari 5 juta pengguna dan 5 miliar menit konten yang telah ditonton melalui streaming sejak pertama kali diluncurkan, menjadikan iflix sebagai pemimpin video streaming di pasar berkembang. Kini tersedia untuk lebih dari 1 miliar pengguna di 18 negara di seluruh Asia, Timur Tengah, dan Afrika Utara, iflix baru saja mengumumkan pembentukan iflix Afrika, untuk menghadirkan layanan revolusionernya di Afrika Sub-Sahara. (Icha)

Ericsson Meluncurkan Paket Network Services Plus Massive IoT

0

Telko.id – Saat Internet Of Things atau IoT booming, maka dibutuhkan solusi untuk dapat menangani perangkat dengan lebih mudah dan efisien. Ericsson yang merupakan salah satu perusahaan IT yang memiliki pengalaman sudah menyediakan solusi untuk mengatasinya.

Solusi yang ditawarkan adalah kemampuannya untuk menangani perangkat IoT yang tersebar keberadaannya dan mengoperasikan secara efisien dalam jaringan LTE. Dimana, software cellular IoT dan IoT Accelerator berada dalam satu set.
Solusi yang ditawarkan tersebut sudah mengakomodir teknologi Cat-M1 (juga disebut LTE-M) dan Narrow Band IoT (NB-IoT), layanan ini mencakup desain dan optimalisasi jaringan IoT, penerapan, operasi dan manajemen, dan didukung layanan baru lainnya yang diperluas.

“Langkah ini Kami melakukan untuk mengantisipasi perangkat IoT yang akan melampaui jumlah ponsel sebagai perangkat yang saling terhubung terbesar sejak tahun 2018 dan, menurut Laporan Mobilitas terbaru Ericsson, akan ada 18 miliar perangkat IoT yang terhubung pada tahun 2022. Serapan besar ini memerlukan pendekatan yang berbeda terhadap perencanaan jaringan, desain, pengoperasian dan kapabilitas nya dibandingkan dengan jaringan mobile broadband yang tradisional, “kata Peter Laurin, Head of Business Area Managed Services Ericsson.

Ericsson juga memperkenalkan perangkat lunak IoT dengan fitur baru, seperti dukungan Voice over LTE (VoLTE) untuk Cat-M1.

Fitur baru ini akan memungkinkan operator untuk mengeksplorasi kasus penggunaan baru yang dapat menguntungkan karena perangkat IoT sudah mendukung layanan suara. Hal tersebut membuka peluang untuk memperluas layanan perusahaan ke berbagai bidang seperti security alarm panels, remote first-aid kits, wearables, digital locks, disposable security garments, dan jenis aplikasi dan layanan IoT lainnya.

Desain dan optimalisasi jaringan pada era IoT ini akan berbeda dengan yang konvensional. Pasalnya, jaringan IoT lebih heterogen dan memiliki beragam kasus penggunaan dengan berbagai kebutuhan sehingga memerlukan pendekatan yang berbeda terhadap perencanaan dan perancangan jaringan.

Untuk mendukung hal ini, Ericsson memperkenalkan scenario assessment, network modelling, design development, dan developmental appraisal untuk jaringan IoT yang lebih massive.

Dari sisi pengoperasian dan pengelolaan jaringan, dibutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan manajemen dan pengoperasian jaringan operator. Untuk itu, Ericsson memperkenalkan automated machine learning pada Network Operations Centers (NOCs).

Alat ini akan membantu operator mengelola biaya pengiriman dan melakukan pendekatan proaktif terhadap manajemen event dan incident. Dalam sebuah percobaan, 80 persen dari semua insiden diidentifikasi dengan machine learning tanpa ada intervensi manusia – dan akar permasalahannya diidentifikasi dengan benar pada 77 persen kasus.

“Machine learning dan artificial intelligence bukan hanya kata kunci, tapi juga alat vital dan menarik yang digunakan oleh Ericsson dalam jaringan untuk membantu operator mengelola banyak perangkat baru yang akan mereka butuhkan di masa depan,” kata Jamie Moss, analis utama Consumer Technology dan IoT Ovum. (Icha)

Foxconn Siap Ekspor dari India ke Timur Tengah dan Afrika pada Desember

0

Telko.id – Foxconn saat ini sedang meningkatkan kapasitas produksinya dari pabrik yang berada di Sri City, Andhra Pradesh, India. Bahkan, masih menjadi lokasi baru untuk menambah jumlah produksi smartphone nya di India.

Targetnya, produsen ini akan mulai mengekspor produk nya ke negara-negara Timur Tengah dan Afrika pada bulan Desember. Foxconn sendiri Untuk mencapai targetnya tersebut sudah mulai berbicara dengan para pemasok, seperti yang dilansir dari Economic Times.

Pembuat telepon dan elektronika asal Taiwan ini selain memperluasan fasilitas manufakturnya di Sri City, Andhra Pradesh, saat ini juga mencari lokasi lain. Termasuk di Tirupati, negara bagian Tamil Nadu, Maharashtra dan Delhi NCR. Jika rencananya berhasil maka Foxconn akan berada jauh di atas target ekspor Samsung dari India pada 2020.

“Foxconn akan mulai mengekspor pada bulan Desember, bahkan bisa lebih awal karena mereka memiliki kapasitas ekspor yang masuk akal. Untuk mulai ekspor ke Timur Tengah dan Afrika,” kata seseorang yang mengetahui strategi perusahaan di India.

“Tahun depan, Foxconn bahkan sudah bicara dengan para supplier nya untuk membangun basis di India sehingga mampu menyuplai kebutuhan produksi smartphone untuk ekspor”.

Sebagian besar dari hasil produksi Foxconn merupakan permintaan dari Mukesh Ambani milik Reliance Jio. Di mana, Foxconn diminta Reliance Jio untuk membuat smartphone dengan fasilitas 4G Volte yang banyak ditunggu-tunggu di India. Jumlah smartphone yang dibutuhkan, kabarnya mencapai 18-20 juta.

Sayang, pihak Jio menolak memberikan komentar. Dalam sebuah pernyataan email, Foxconn mengatakan bahwa “mengikuti kebijakan perusahaan yang ketat untuk tidak berkomentar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pelanggan saat ini atau calon pelanggan, atau produk mereka.”

Selain itu, kabarnya juga sudah ada pemain baru yang melakukan pembicaraan dengan Foxconn untuk menyelesaikan pesanan 8-10 juta perangkat per bulan dari pabrik lokalnya.

“Kemampuan Foxconn untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan menjadikan nya perusahaan yang mayoritas produksinya di ekspor dan menjadi yang terbesar di India. Setidaknya, jumlah produksinya meningkatkan dua kali lipat menjadi 6 juta unit per bulan atau lebih dari 70 juta per tahun,” ungkap orang dalam itu.

Pada tingkat ini, Foxconn mungkin menjadi produsen telepon terbesar di India, mengalahkan Samsung. Samsung telah menjanjikan investasi hampir 4,915 crore selama tiga tahun ke depan untuk melipatgandakan kapasitas produksi lokal menjadi 12-13 juta per tahun, dengan tujuan mengekspor dari India pada tahun 2020.

Menurut orang dalam itu juga, Foxconn, yang membuat iPhone untuk Apple keluar dari China, akan mempercepat diskusi dengan beberapa pemasok komponen. Sekarang pemerintah India pun telah memberikan jaminan atau perlindungan terhadap manufaktur lokal melalui Bea cukai dasar sebesar 10% dan membuat roadmap untuk produksi komponen lokal ditambah dengan insentif serta tunjangan pajak.

Foxconn Technology Group mengatakan bahwa tidak akan berkomentar mengenai rencana perusahaan. “Ini sangat sensitive sehingga kami tidak dapat memberikan komentar”.

Foxconn, sejauh ini telah menginvestasikan lebih dari $ 600 juta ke India, termasuk investasinya ke platform e-commerce Snapdeal dan aplikasi messaging Hike. Jumlah ini tidak termasuk hampir $5 miliar dalam kemitraan dengan pemerintah Maharashtra yang dilakukan pada akhir 2015. (Icha)

ISS Indonesia Kerjasama Strategis Dengan Indosat Ooredoo 

0

Telko.id – Indosat Ooredoo melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk kerjasama strategis dengan PT ISS Indonesia (ISS Indonesia). Penandatangan ini menjadi awal pengembangan sinergi antara Indosat Ooredoo dan ISS Indonesia yang saling menguntungkan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Nota kesepahaman ini ditandatangani langsung oleh President Director & CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli dan EVP – Chief Finance Officer ISS Indonesia, Benny Joesoep.

“Sebagai salah satu operator telekomunikasi terbesar di Indonesia yang memiliki solusi telekomunikasi dan ICT untuk pelanggan bisnis yang lengkap, Indosat Ooredoo bangga dapat menjadi mitra strategis ISS Indonesia. Dengan kerjasama ini, kami akan akan menjadi mitra ISS Indonesia dalam memenuhi kebutuhan telekomunikasi dan ICT dalam mengembangkan bisnisnya dan juga bersama-sama mengembangkan solusi dan peluang bisnis bersama untuk kemajuan kedua belah pihak,” ujar Alexander Rusli.

“Komitmen ISS Indonesia dalam layanannya adalah mampu memberikan pelayanan fasilitas terintegrasi (Integrated Facility Services) yang lengkap bagi perusahaan sehingga pelanggan kami akan lebih efisien dan lebih mudah dalam hal pengelolaan dengan adanya fasilitas terintegrasi. Dengan demikian, dibutuhkan mitra bisnis yang handal yang bisa mendukung ISS memenuhi keunggulan ini ke klien-klien bisnis ISS dan secara operasional efisiensi bisa dicapai. Kami percaya Indosat Ooredoo adalah pilihan yang tepat” jelas Benny Joesoep, EVP – Chief Financial Officer ISS Indonesia.

Dengan jumlah karyawan ISS Indonesia yang sangat besar, yaitu mencapai lebih dari 60.000 orang karyawan, maka sistem operasi kami sudah tidak mungkin lagi dilakukan secara manual untuk mendukung kinerja yang baik. Dengan demikian, sistem operasi yang berbasiskan teknologi digital menjadi pilihan ISS Indonesia, untuk itu kami butuh mitra untuk mencapai tujuan tersebut,” tambahnya.

Sebagai langkah awal, Indosat Ooredoo akan memberikan solusi yang memudahkan para karyawan ISS Indonesia dalam berkomunikasi yaitu berupa bundling smartphone yang dilengkapi paket komunikasi bisnis. Dengan solusi ini, komunikasi dan koordinasi menjadi lebih mudah, lebih bebas dan lebih efesien sehingga produktifitas dapat meningkat. Langkah berikutnya adalah pengembangan solusi bersama antara Indosat Ooredoo dan ISS Indonesia dengan memanfaatkan keunggulan kedua pihak seperti solusi smart building dan product partnership lainnya.

Herfini Haryono, Director and Chief Wholesale & Enterprise Officer Indosat Ooredoo, mengatakan “Indosat Ooredoo Business selalu berupaya untuk menjadi mitra penyedia solusi ICT terdepan dan terpercaya bagi pelanggan bisnis dan korporasi. Penandatangan MoU ini adalah upaya kami untuk memudahkan operasi bisnis dan mendukung tranformasi digital para pelanggan korporasi”

Diharapkan melalui kerjasama ini efisiensi operasional ISS Indonesia sebagai partner Indosat Ooredoo akan meningkat, dan pelayanan kepada klien-klien bisnis ISS Indonesia pun menjadi lebih baik. (Icha)

Perangkat IoT Dual Mode Mulai Merangsek Ke Pasar

0

Telko.id – Bukan hanya smartphone yang memiliki dua standar atau lebih dikenal dengan dual mode. Perangkat IoT atau internet of Things pun sudah mulai menanamkan dual mode. Langkah yang cerdik ini dilakukan oleh Sierra Wireless dan U-Blox.

Kedua produsen IoT tersebut telah mengumumkan modul yang mendukung dua standar seluler yang berbeda untuk konektivitas di area dengan kekuatan rendah. Kedua perusahaan tersebut membawa solusi yang mendukung LTE Kategori M1 (Cat M1) dan narrowband IoT (NB-IoT).

LTE Cat M1 ini menggunakan 1,4 megahertz bandwidth sementara NB-IoT hanya menggunakan 200 kilohertz. Cat M1 menaikkan tingkat uplink dan downlink data pada 1 megabit per detik, dan NB-IoT mampu bekerja di kedua 1.4 megahertz maupun 200 kilohertz dengan kecepatan sekitar 0,2 megabit per detik.

Di Amerika Serikat, Verizon Wireless dan AT & T telah menambahkan teknologi LTE Cat M1 ke jaringan mereka, namun sejauh ini belum ada operator A.S. yang telah mengumumkan ketersediaan NB-IoT yang tersebar luas di jaringannya.

Sierra Wireless mengatakan bahwa modul AirPrime WP77 akan memungkinkan pelanggan untuk menggunakan perangkat yang sama dengan beberapa operator jaringan di seluruh dunia. Modul ini mendukung fallback 2G untuk area di mana cakupan LTE tidak tersedia secara luas.

U-Blox mengatakan modul SARA-R410M-02B-nya akan menawarkan konfigurabilitas berbasis perangkat lunak untuk semua band yang digunakan. Ini berarti pelanggan berpotensi berubah dari standar konektivitas ke standar lainnya tanpa menyentuh setiap titik akhir secara fisik. Hal ini penting karena dalam banyak penerapan IoT, karena titik akhir mungkin berada di lokasi terpencil.

U-Blox juga mengatakan bahwa SARA-R410M-02B juga akan mendukung fungsi suara melalui jaringan LTE menggunakan Cat M1, yang dapat digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan interaksi dengan manusia. Seperti yang dilakukan oleh Verizon Wireless pada akhir bulan lalu yang sedang menambahan dukungan VoLTE ke jaringan Cat M1-nya.

Apa yang dilakukan oleh Sierra Wireless dan U-Blox ini dengan memperoduksi perangkat IoT dengan kemampuan dual-mode yang menggunakan chip modern dan dapat bekerja di jaringan Cat M1 dan NB-IoT memang bukan yang pertama. Qualcomm dan pembuat chip Prancis, Sequans telah lebih dahulu memperkenalkan modem dual-mode. (Icha)

ZTE Test 5G NR Bareng China Unicom

0

Telko.id – Banyak pihak melakukan ujicoba 5G dengan menggunakan berbagai teknologi. Maklum saja, pasalnya belum ditentukan teknologi yang bakal dijadikan standar industry. Sebagai salah satu perusahaan teknologi, ZTE baru saja selesai melakukan ujicoba 5G NR (New Radio) pada pita 3.5 GHz termasuk juga penggunaan teknologi MIMO atau Multiple Input Multiple Output.

Ujicoba terbaru 5G NR, yang diselesaikan oleh vendor ZTE dan China Unicom ini fokus untuk menerapkan 5G pada spektrum sub-6 GHz, khususnya pita 3,5 GHz, seperti dilansir dari RCR Wireless.

Spesifikasi 5G NR ini memang sudah ditetapkan untuk disertakan dalam Release 15 dan masuk dalam penerapan standar-compliant dalam jangka waktu 2020. Hal ini telah disampaikan pada Awal tahun ini, pada sebuah rapat paripurna di Dubrovnik, Kroasia. Di mana, para anggota 3GPP sepakat untuk memperkenalkan spesifikasi intermediate, non-standalone 5G NR, untuk memfasilitasi penyebaran percobaan skala besar pada tahun 2019.

Menurut Lorenzo Casaccia, wakil presiden standar teknis untuk Qualcomm Technologies, menggambarkan varian non-standalone dan standalone dari spesifikasi 5G NR:

  • Non-Standalone (NSA) 5G NR akan memanfaatkan jaringan radio dan inti LTE yang ada sebagai jangkar untuk pengelolaan dan jangkauan mobilitas sambil menambahkan carrier 5G baru. Ini adalah konfigurasi yang akan menjadi target penyebaran awal 2019 (dalam terminologi 3GPP, ini adalah skenario penyebaran NSA 5G NR Opsi 3).
  • Standalone (SA) 5G NR menyiratkan kemampuan pesawat pengguna dan kontrol penuh untuk 5G NR, memanfaatkan arsitektur jaringan inti 5G yang baru yang juga sedang dilakukan di 3GPP.

China Unicom sendiri menggunakan perangkat pra-5G yang dimiliki oleh ZTE. Termasuk base station yang mendukung massive MIMO, walaupun masih belum menjadi teknologi standar tetapi paling banyak digunakan sebagai rujukan untuk rujukan konfigurasi transmit/receive antena 64 × 64, serta LDPC (low-density parity check).

Pengujian yang berbasis di Shenzhen ini menggunakan kanal 100 megahertz agar dapat mensimulasikan jaringan komersial yang sebenarnya, dan didasarkan pada pekerjaan yang dimulai tahun lalu di laboratorium 5G China Unicom. Tujuan akhir di sini adalah penerapan pra-standar pada tahun 2019 diikuti oleh “penyebaran skala besar pada tahun 2020,” menurut perusahaan tersebut.

Dengan ujicoba ini, ZTE berharap akan memperoleh peningkatan pendapatan dari penjualan peralatan standar 5G pada tahun 2019, seperti yang dikatakan oleh Alex Wang, Managing Director 5G solutions ZTE pada konferensi pers di Jepang beberapa waktu lalu.

Wang juga sempat menyampaikan bahwa perusahaan berharap memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dari penjualan peralatan terkait 5G mulai 2020 dan seterusnya. Walaupun semua itu akan tergantung pada roadmap operator seluler untuk peluncuran layanan 5G secara komersial.

Wang juga menambahkan bahwa ZTE bekerja sama dengan Qualcomm pembuat chip A.S. dan banyak operator untuk melakukan tes end-to-end.

“Sangat penting seluruh ekosistem bekerja sama, termasuk handset dan chipset. Pada 2019 dan 2020, kami yakin akan ada penawaran komersial dari handset, “kata Wang.

“Kami menganggap operator China dan Jepang akan mengikuti definisi berbasis 3GPP dengan lebih ketat,  dan akan diluncurkan sekitar tahun 2020. Jika ada yang melakukan peluncuran lebih awal, memang menjadi pilihan operator itu sendiri, namun kami tidak berpikir itu adalah standar yang sesuai 5G,” kata Wang. (Icha)

 

Xiaomi Akuisisi Aset Nokia Untuk Kembangkan IOT dan AI

0

Telko.id – Kolaborasi merupakan cara tercepat dan efisien untuk mengembangkan bisnis. Hal ini juga yang dianut oleh Nokia. Terlebih dalam pengembangan IOT perlu mitra yang sesuai agar mampu menghadapi deras nya permintaan.

Untuk itu Nokia menggandeng Xiaomi. Vendor asal Finlandia Nokia dan perusahaan Cina Xiaomi telah menandatangani perjanjian kerjasama bisnis dan perjanjian paten multi-tahun, termasuk lisensi silang dengan paten penting pada standar seluler yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan, dan bekerja sama dalam IOT, Artificial Intelligence (AI) dan data teknologi yang berhubungan dengan pusat.

Perusahaan Cina ini juga mengakuisisi aset paten dari Nokia sebagai bagian dari transaksi.

Menurut ketentuan perjanjian kerjasama, kedua perusahaan mengumumkan rencana untuk mencari peluang untuk bekerja sama dalam bidang-bidang seperti internet hal (IOT), ditambah dan virtual reality dan AI.

“Dengan adanya kolaborasi ini, kami juga berharap dapat bekerja sama dalam berbagai proyek strategis,” kata Rajeev Suri, Presiden dan CEO Nokia.

Nokia dan Xiaomi juga akan bekerja sama dalam solusi transportasi optik untuk datacenter interkoneksi, IP Routing berdasarkan prosesor jaringan FP4 yang baru saja diumumkan oleh Nokia, dan data center fabric solution.

Dengan kehadiran di lebih dari 30 negara dan wilayah, Xiaomi berfokus pada manufaktur smartphone serta di internet dalam ruangan. Mi, ekosistem platform IOT Xiaomi saat ini telah menghubungkan lebih dari 60 juta perangkat dan sekarang ada lebih dari 8 juta perangkat aktif harian terhubung pada Mi Platform ekosistem.

“Xiaomi berkomitmen untuk membangun berkelanjutan, kemitraan jangka panjang dengan para pemimpin teknologi global. Kolaborasi kami dengan Nokia akan memungkinkan kita untuk lebih cepat memimpin dalam industri, memiliki jaringan kinerja tinggi dan kekuatan yang tangguh dalam perangkat lunak dan layanan, sehingga kita mampu untuk menciptakan lebih banyak produk dan jasa serta memberikan pengalaman terbaik untuk fans Mi kami di seluruh dunia yang luar biasa, “kata Lei Jun, ketua dan CEO Xiaomi. (Icha)

Qualcomm Berusaha ‘Jegal’ Impor dan Penjualan Apple iPhone

0

Telko.id – Perselisihan antara Qualcomm dan Apple belum usai juga. Gugatan terbaru dari pembuat chipset asal Amerika terhadap Apple adalah Qualcomm meminta regulator perdagangan AS untuk tutup keran impor iPhone.

Dalam gugatannya tersebut, Apple telah diduga melanggar enam hak paten Qualcomm paten, termasuk teknologi yang meningkatkan masa pakai baterai iPhone dan Qualcomm ingin Apple membayar ganti rugi.

“Apple terus menggunakan teknologi Qualcomm tapi menolak untuk membayar untuk itu,” kata Don Rosenberg, Executive Vice President and General Counsel Qualcomm, seperti yang dilansir dari CNBC.

Qualcomm berharap regulator untuk menyelidiki ponsel yang menggunakan selular prosesor dari Qualcomm dan menghentikan penjualan iPhone yang melanggar paten.
Gugatan terbaru nya ini menjadi babak lanjutan dari pertempuran antara Apple dan Qualcomm.

Don juga menambahkan bahwa “Qualcomm telah mengajukan keluhan ke Pengadilan negeri Amerika untuk Southern District of California dan dengan Amerika Serikat Komisi perdagangan internasional. Kami tidak tahu persis berapa jumlah iPhone yang akan terpengaruh.

Namun, Apple berkilah. “Kami sangat percaya dalam nilai kekayaan intelektual tapi kami seharusnya tidak harus membayar mereka untuk terobosan teknologi mereka telah tidak ada hubungannya.

Apple dalam sanggahan nya juga mengatakan bahwa “Kami selalu bersedia untuk membayar secara adil untuk standar teknologi yang digunakan dalam produk kami dan karena mereka menolak untuk bernegosiasi wajar kami meminta Pengadilan untuk membantu.”

Sebelumnya, Apple pada bulan Januari menggugat Qualcomm untuk sekitar $ 1 miliar, mengklaim Qualcomm telah “mengklaim royalti untuk teknologi yang tidak ada hubungannya dengan.”

Perjuangan dengan Apple ini ‘membebani’ Qualcomm, terutama dari sisi finasial. Pasalnya, Apple menolak untuk melakukan pembayaran hingga sengketa ini sudah diputuskan oleh pengadilan. “Tanpa disepakati nya berapa banyak yang harus dibayar, kami telah menangguhkan pembayaran sampai jumlah sudah sesuai dan ditentukan oleh Pengadilan,” Apple mengatakan.

Padahal, produsen chipset ini sangat berharap dengan hadirnya standar data baru, seperti 5G, akan membuatnya dapat tetap menjadi yang di depan pesaing seperti Intel. Yang tentunya membutuhkan dukungan finansial yang bagus juga.

Qualcomm secara terpisah telah diselidiki oleh Komisi perdagangan Federal, yang diduga bahwa Qualcomm menggunakan hubungan eksklusif dengan Apple untuk menjaga persaingan dan semakin kuat. Namun, Qualcomm berdalih bahwa penyelidikan tersebut didasarkan pada “cacat teori hukum” dan “kurangnya dukungan ekonomi.” (Icha)

MyRepublic Bakal ‘Borong’ Pulsa Dari M1, Starhub atau Singtel

0

Telko.id – Mimpi besar MyRepublic untuk jadi operator fibre broadband di Singapura belum juga padam. Padahal, tahun lalu pernah gagal untuk memperoleh lisensi sebagai operator keempat di negeri Singa itu. Kalah oleh TPG, perusahaan telekomunikasi asal Australia.
Agar mimpinya bisa tercapai, MyRepublic mengumumkan rencananya untuk tetap meluncurkan layanan mobile pada awal Oktober tahun ini, seperti yang dilansir dari Straight Times.

Strategi yang dilakukan adalah dengan membeli pulsa dalam jumlah besar dari salah satu telcos dominan yang ada di Singapura. Bisa ke Singtel, StarHub atau M1, dibandingkan dengan membangun jaringan seluler fisiknya sendiri.

Strategi seperti yang akan dilakukan oleh MyRepublic ini dikenal sebagai operator jaringan virtual mobile (MVNO). Operator inipun sudah mengantongi lisensi bulan lalu (Juni). Life, merupakan salah satu contoh MVNO yang membeli airtime secara massal dari M1.

CEO MyRepublic Malcolm Rodrigues mengatakan akan menawarkan “data mobile yang murah” di Singapura. Tanpa memberikan rincian strateginya.

Bahkan, Rodrigues menambahkan bahwa beberapa hari setelah” TPG memenangkan lisensi telco keempat menerima telepon dari dua operator.

Sayang, Rodrigues yang juga mantan eksekutif di StarHub tidak mengatakan perusahaan telko mana yang akan diambil. “Tunggu pengumuman lebih lanjut tentang peluncuran layanan mobile kami,” ujar Rodrigues.

Sementara itu, StarHub mengaku sedang “dalam pembicaraan dengan pihak yang berkepentingan mengenai kemitraan MVNO” namun tidak disebutkan nama partai tersebut.

Namun, seorang juru bicara M1 mengatakan: “Kami tidak berdiskusi dengan MyRepublic atas tawaran MVNO manapun.”

Pada kesempatan yang sama, Rodrigues juga menampik tentang rumor yang menyatakan bahwa MyRepublic berencana membeli M1, dengan mengatakan: “Kami tidak mengejar penjualan M1.”

MyRepublic sendiri sudah sejak Mei melakukan penggalangan dana. Harapan nya adalah dapat mengumpulkan $ 100 juta untuk mendorong impian menjadi penguasa telco di Singapura dan tiga pasar lainnya – Australia, Selandia Baru dan Indonesia. Namun, rencana untuk beroperasi di Indonesia, Australia dan Selandia baru akan direncanakan Untuk tahun depan

Dana yang terkumpul, rencana nya akan digunakan untuk memasang infrastruktur serat optik di Indonesia dan untuk menumbuhkan basis pelanggan serat optiknya, yang saat ini sudah mencapai 100.000 pelanggan.

Di Singapura, MyRepublic memiliki 70.000 pelanggan serat optik. Perusahaan ini berharap bisa meraih pangsa pasar 5-6 persen di pasar ponsel Singapura dalam lima tahun.

Ini juga bertujuan untuk menjadi menguntungkan pada pertengahan tahun 2018, sebagai penawaran saham perdana (initial public offering / IPO) yang direncanakan pada akhir tahun 2018. Ini mengevaluasi apakah akan mencantumkan di Singapura, Hong Kong atau Australia.

Hasil dari IPO akan digunakan untuk membantu perusahaan berkembang di delapan pasar regional lainnya termasuk Malaysia, Filipina dan Thailand dalam lima tahun.

MyRepublic telah mengumpulkan total $ 120 juta sebelumnya dari para investor strategis termasuk dari perusahaan telekomunikasi terdepan di Brunei, DST Communications; Sunshine Network, Sinar Mas; dan miliarder Prancis Xavier Niel, yang mendirikan penyedia layanan mobile dan Internet Gratis di Prancis. (Icha)